group discussion
topic:
Kupas Karya PAT >
Arok Dedes
Comments
(showing 1-6)
post a comment »
date
newest »
newest »
novel arok dedes, sekali lagi, menjadi jejak nyata betapa PAT selain seorang novelis adalah juga seorang sejarahwan...dalam novel arok dedes kita dibuat geleng-geleng kepala bagaimana PAT mampu menjelaskan dengan begitu detail ritual-ritual dalam agama Hindu..jelas itu diperlukan riset yang mendalam...ruaaarrr biasa
cerita lain tentang 'penggelapan,perampasan serta pelecehan' kaum perempuan muda Indonesia, judulnya ....Perawan disarang..(apa ya lupa pastinya, udah lama sih bacanya)
Buku ini mampu membawa suasana emosi masa lalu 'bagaimana para orang tua yang tidak mampu menolak 'paksaan' Jepang saat 'mengambil' anak perempuan mereka dihadapan mereka tanpa mampu membayangkan apakah dapat kembali kerumah atau tidak'.
Keganasan suasana yang di bungkus dengan tipuan Jepang juga memunculkan sakit hati pembaca...Buku ini juga memberi gambaran pulau Buru yang 'menyakitkan' ....
Mambaca Arok Dedes, terasa sangat 'hidup', dan keseluruhan langsung terasa sebenarnya 'politik' yang terjadi saat ini sebenarnya tidak jauh polanya dengan masa lalu.
Bagaimana kaum brahmana membangun 'gerakan' yang memunculkan Arok..yang juga begitu 'aktif'nya membangun jaringan - bawah tanah.
Juga , cantik sekali , bagaimana 'menjerumuskan Kebo Ijo'.....mambacanya, tak imit-imit...sayang kalau langsung selesai.
ini salah satu karya PAT yang tersukses selain Tetralogi Buru dan Arus Balik. cara PAT dalam menggambarkan kisah Arok dan Dedes begitu mencengangkan jauh dari kesan mistis yang seringkali mewarnai cerita2 ini sebelumnya.
Aku baru selesai membaca arok dedes. Pertama-tama, yang ada di pikiran adalah lokasi geografis tumapel karena aku lahir dan tinggal di malang. Kedua, tergelitik oleh tingkah laku kaum brahmana yang hanya berani mengecam pemerintah tapi belum berbuat apa-apa sampai munculnya arok dan penculikan dedes; jadi tergelitik untuk memahami peran dan posisi Gereja dan tokoh-tokohnya pada paruh waktu 1965-1998 (tentunya hingga sekarang).
Arok Dedes ditulis Pramoedya tahun 1999. Ia bicara tentang suksesi pertama di Jawa, yang kemudian seperti memiliki benang merah dengan suksesi kepemimpinan Indonesia hingga hari ini.
Menarik untuk jadi obrolan sembari melihat pola suksesi kepemimpinan Indonesia yang akan ramai di bulan Juli 2009 nanti.


