group discussion
note: This topic has been closed to new comments.
topic:
Klub Buku GRI >
Baca Buku Puisi Bareng Bulan Mei---"Aku Ingin Jadi Peluru"
date
newest »
newest »
Derita Sudah Naik Seleher (hal.171)
kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku menjadi gelap
kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras
kaupaksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak
darah sudah kauteteskan
dari bibirku
luka sudah kaubilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kaurampas
dari biji mataku
derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas
17 november 96
(Tanpa Judul) (hal.172)
kuterima kabar dari kampung
rumahku kalian geledah
buku-bukuku kalian jarah
tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan
sendiri
pada anak-anakku
kalian telah mengajar anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini
ini tak diajarkan di sekolahan
tapi rezim sekarang ini memperkenalkan
kepada semua kita
setiap hari dimana-mana
sambil nenteng-nenteng senapan
kekejaman kalian
adalah bukti pelajaran
yang tidak pernah ditulis
indonesia, 11 agustus 96
Rumput Ilalang (hal.173-174)
hijau hijau
tumbuh lagi
walau kaubabat berulang kali
walau kabakar berulang kali
hijau hijau
tumbuh lagi
sudah seratus kali kaucabut
kausemburkan api kerusuhan
hijau hijau
tumbuh lagi
harapanku
menaklukkan
ketakutan
yang kauternakkan
lewat pidato
dan laras senapan
aku melihat ilalang
o siasialah
kekuasaan memasang
palang penghalang
ilalang
tetaplah tumbuh
dan menang
walau seratus kali digaru
15 januari 97
Buron (hal.175)
baju lain
celana lain
potongan rambut lain
buku yang dibaca lain
bahan percakapan lain
nama lain
identitas lain
ekspresi lain
menjadi
diri
sendiri
adalah tindakan
subversi
di negeri ini
maka
selalu siaga
polisi
tentara
hukum dan penjara
bagi siapa saja
yang menolak
menjadi
orang lain
20 september 96
Terus Terang Saja (hal.176-177)
apakah aku ini tepung terigu atau gumpalan kapas
atau cabe busuk yang merosot harganya sehingga harus
ditolong
atau kayu gelondongan bahan baku plywood kwalitas
eksport
dari hutan-hutan
yang kini botak
karena hph dan gergaji mesin pembangunan keadilan
berkemakmuran
dan kemakmuran berkeadilan
siapakah aku ini
kaki kursikah
atau botol kosong
atau rakyat lebak yang harus bekerja bakti mencabuti
rumput
halaman kadipaten
karena tuan pejabat gupermen mau lewat
apakah aku ini rakyat yang berdebar-debar di sekitar hari
proklamasi
menyimak pidato soekarno
apakah aku ini si bagero yang sudah merdeka?
ataukah tetep jugun aianfu yang tak henti-henti diperkosa
perusahaan
multinasional
yang menuntut kenaikan upah
ditangkap
dan dijebloskan
ke dalam penjara?
apakah aku ini cuma angka-angka
yang menarik untuk bahan disertasi
dan meraih gelar doktor
yang tidak berotak
tidak bermulut
yang secara rutin dilaporkan kepada bank dunia
sebagai jaminan utang
dan landasan
tinggal landas?
sekarang demokrasi sudah 100%
bulat
tanpa debat
tapi aku belum menjadi sejati
karena aku dibungkam oleh demokrasi 100%
yang tidak bisa salah
namun aku sangsi
karena kemelaratan belum dilumpuhkan
aku sangsi pada yang 100% benar
terus terang saja!
2 oktober 96
Puisi Sikap (hal.178)
maunya mulutmu bicara terus
tapi tuli telingamu tak mau mendengar
maumu aku ini jadi pendengar terus
bisu
kamu memang punya tank
tapi salah besar kamu
kalau karena itu
aku lantas manut
andai benar
ada kehidupan lagi nanti
setelah kehidupan ini
maka akan kuceritakan kepada semua makhluk
bahwa sepanjang umurku dulu
telah kuletakkan rasa takut itu ditumitku
dan kuhabiskan hidupku
untuk menentangmu
hei penguasa zalim
24 januari 97
Riwayat (hal.179-180)
--untuk r
sungai ini merah dulu airnya
oleh genangan darah
kakek nenek kami
sungai ini berbuncah dulu
oleh perlawanan
disambut letusan peluru
bangkai-bangkai mengapung
hanyut dibawa arus hilir
bangkai kakek nenek kami
bangkai-bangkai jepang mengambang
dibabat parang kakek nenek kami
demi hutan tanah air
ibu bumi kami
gagah berani
kakek nenek kami
menyerahkan riwayatnya
pada batang-batang pohon
sebesar seratus dekapan
pada sampan-sampan lincah
dari hulu ke hilir
memburu dada penjajah
bukan siapa-siapa
kakek nenek kamilah
yang merebut tanah air
tanyakan kepada yang mampu membaca
tanyakan kepada yang tak berpura-pura buta
siapa
sekarang
saat aku berdiri di tepi sungaiku
yang mahaluas ini
kusaksikan hutan-hutan roboh
dan kayu-kayu gelondang berkapal-kapal itu
akan diangkut ke mana
siapa punya
riwayat kita pahit di mulut
getir diucap buram di mata
akankah berhenti riwayat sampai disini
1997
Malam di Kota Khatulistiwa (hal.181-182)
bulan membayang di pelabuhan yang tak capek-capek.di dermaga
mesin kapal gemetar mempermainkan sinar lampu
warna-warni
berkelok-kelok di kilatan lidah sungai kapuas. sebentar
lagi bau ikan segar akan beredar. dari keranjang di
gudang kapal daratan
dijunjung punggung kuli-kuli ke tenda-tenda pasar.
"jangan lewatkan malam dingin sendirian abang..."
disudut-sudut deretan toko-toko tutup. warung-warung gelap
menyediakan kopi pangku, bir dan bau bedak.
seorang reserse mabuk
sepatunya mengkilat mulutnya basah. ada losmen di dekat
situ, pilih mana suka. yang rok mini atau tanpa beha -
yang gemuk hangat langsing sintal atau susunya besar.
"cuma sepuluh ribu abang..."
wilayah ini tak tercantumkan di buku-buku panduan untuk
turis. peta kota kita sangat indah. kota kita
terdiri dari jalan raya
gereja mesjid kelenteng vihara kantor gubernur taman
kota toko-toko souvenir restoran masakan tradisional
museum air terjun dan
taman makam pahlawan. kota kita sangat inda dan lebih
indah. "ayolah seteguk lagi abang..."
ayolah, sebelum toko-toko buka sebelum hari baru.
sebelum bau nangka
durian sawi tahu tempe ikan asin dan petai dan rebung
bambu dan
belacan dan tempoyak menguasai pasar ini. sebelum kota
ini ganti baju kehormatan dan hukum yang lain.
"tanggalkan celanamu abang!"
28 desember 96
Hayati (hal.183-184)
anak kecil
perempuan -2 tahun
pulas berpeluk bapak mamak
tidur berdinding bangku miring
berlampu minyak
disebuli angin berkabut
rumahmu kedai kopi
mandimu air kali
sahabatmu bapak ibu tani
bergurau di kedai
selepas panen harum durian
nanas manis
dari hutan
satu jam
perjalanan kaki
hayati
bapak mamak ingin bawa kau
ke madura
tanah bapaknya bapakmu
tanah mamaknya mamakmu
tapi kapal-kapal sudah berangkat hayati
dari pontianak
ke maduraratusan kali
pulang pergi
tapi kapal-kapal sudah berangkat hayati
karena beaya
selalu tertunda-tunda
karena beaya hayati
lebaran sepuluh hari lagi
6 januari 97
Aku Berkelana di Udara (hal.185-186)
aku berkelana di udara
singgah di gelombang-gelombang radio
diudara kalian tak bisa mendusta
gelombang radio tak bisa dibungkam
dengan senjata
di udara tak ada pembredelan
di sana menteri luar negeri
menteri penerangan dan presiden
tak bisa ngomong seenaknya
di udara seribu suara berbicara
kalian tak bisa menyeragamkannya
ketika meletus peluru laras senapan
gemanya menyebar ke sudut-sudut benua
kekejaman dikabarkan kepada berjuta warga dunia
kebusukan menyebar siapa bisa menguburnya?
di udara penguasa seperti Raja Telanjang*)
tua tambun dan menggelikan
12 november 96
*)Raja Telanjang adalah dongeng tersohor buah pena pengarang kaliber dunia HC Andersen. Hasil karya raja dongeng ini tidak hanya disukai oleh anak-anak tetapi juga orang-orang dewasa, karena di samping menghibur juga mengajak pembacanya belajar menertawai kekerdilan diri sendiri. Raja Telanjang juga bercerita tentang seorang raja yang ditipu oleh penenun sakti, sang penenun itu konon bisa membuat baju ajaib. Yang bisa melihat pakaian itu hanya orang-orang yang berilmu tinggi. Setelah membayar mahal kepada penipu itu, raja pun segera 'mengenakan' pakaian ajaib. Kemana pun pergi ia selalu mengenakan pakaian ajaib tersebut. Semua tertawa geli namun cuma dalam hati. Orang pintar dan para menteri yang mengelilinginya tak ada yang berani menegurnya. bahkan mereka memuji pakaian yang dikenakan baginda adalah pakaian yang sangat bagus dan hebat. Sampai pada suatu hari seorang bocah ingusan melihatnya dan ditegurnya raja. "Lho kok peler baginda gandul-gandul. Baginda ini kok telanjang sih?"
Hari Ini Aku Akan Bersiul-siul (hal.187-188)
pada hari coblosan nanti
aku akan masuk ke dapur
akan kujumlah gelas dan sendokku
apakah jumlahnya bertambah
setelah pemilu bubar?
pemilu o pilu pilu
bila hari coblosan tiba nanti
aku tak akan pergi kemana-mana
aku ingin di rumah saja
mengisi jambangan
atau menanak nasi
pemilu o pilu pilu
nanti akan kuceritakan kepadamu
apakah jadi penuh karung beras
minyak tanah
gula
atau bumbu masak
setelah suaramu dihitung
dan pesta demokrasi dinyatakan selesai
nanti akan kuceritakan kepadamu
pemilu o pilu pilu
bila tiba harinya
hari coblosan
aku tak akan ikut berbondong-bondong
ke tempat pemungutan suara
aku tidak akan datang
aku tidak akan menyerahkan suaraku
aku tidak akan ikutan masuk
ke dalam kotak suara itu
pemilu
o pilu pilu
aku akan bersiul-siul
memproklamasikan kemerdekaanku
aku akan mandi
dan bernyanyi sekeras-kerasnya
pemilu o pilu pilu
hari itu aku akan mengibarkan hakku
tinggi-tinggi
akan kurayakan dengan nasi hangat
sambel bawang dan ikan asin
pemilu
o pilu pilu
sambel bawang dan ikan asin
10 november 96
Gue banget nih...
8 Juli nanti
aku akan bangun pagi
mandi dan bernyanyi
kerja seperti kemarin lagi
mungkin akan ada omelan dari bos
mungkin juga akan menggosip dengan bos
mungkin juga akan diusir cepat-cepat dari rumah bos
8 Juli nanti
yang jelas aku tidak nyoblos
karena gak tahu mana yang dicoblos
selain rasa males dengan urusan mencoblos
mungkin pulang cepat terus ngemol
sekedar jajan pismol
atau pulang ke rumah
tiduran di kasur sambil denger berita
Penting gak sih?
hehehehehe...maaf...jadi curcol.
Lanjuuuut yah temans...
Merontokkan Pidato (hal.189-190)
berminggu-minggu ratusan jam
aku dipaksa
akrab denga sudut-sudut kamar
lobang-lobang udara
lalat semut dan kecoa
tapi catatlah
mereka gagal memaksaku
aku tak akan mengakui kesalahanku
karena berpikir merdeka bukanlah kesalahan
bukan dosa bukan aib bukan cacat
yang harus disembunyikan
kubaca koran
kucari apa yang tidak tertulis
kutonton televisi
kulihat apa yang tidak diperlihatkan
kukibas-kibaskan pidatomu itu
dalam kepalaku hingga rontok
maka terang benderanglah
:ucapan penguasa selalu dibenarkan
laras senapan!
tapi dengarlah
aku tak akan minta ampun
pada kemerdekaan ini
11 september 96
Momok Hiyong* (hal.191-192)
momok hiyong si biang kerok
paling jago bikin ricuh
kalau situai keruh
jingkrakjingkrak ia
bikin kacau dia ahlinya
akalnya bulus siasatnya ular
kejamnya sebanding nero
sefasis hitler sefeodal raja kethoprak
luar biasa cerdasnya
di luar batas culasnya
demokrasi dijadikan bola mainan
hak asasi ditafsir semau gue
emas doyan hutan doyan
kursi doyan nyawa doyan
luar biasa
tanah air digadaikan
masa depan rakyat digelapkan
dijadikan jaminan hutan
momok hiyong momok hiyong
apakah ia abadi
dan tak bisa mati?
momok hiyong momok hiyong
berapa ember lagi
darah yang ingin kau minum?
30 september 96
*momok hiyong konon adalah nama sebangsa hantu dari Jawa. Biasa didongengkan oleh para orangtua buat menkuti anak-anak yang tidak mau atau susah tidur.
Puisi Menolak patuh (hal193-194)
walau penguasa menyatakan keadaan darurat
dan memberlakukan jam malam
kegembiraanku tak akan berubah
seperti kupu-kupu
sayapnya tetap akan indah
meski air kali keruh
pertarungan para jenderal
tak ada sangkut pautnya
dengan kebahagiaanku
seperti cuaca yang kacau
hujan angin kencang serta terik panas
tidak akan mempersempit atau memperluas langit
lapar tetap lapar
tentara di jalan-jalan raya
pidato kenegaraan atau siaran pemerintah
tentang kenaikan pendapatan rakyat
tidak akan mengubah lapar
dan terbitnya kata-kata dalam diriku
tak bisa dicegah
bagaimana kau akan membungkamku?
penjara sekalipun
tak bakal mampu
mendidikku dengan patuh
17 januari 97
Harimau (hal.195-197)
aku pernah menyaksikan
banyak orang mendirikan kandang
untuk memelihara harimau
yang mereka hidupkan dari ketakutan
sehingga harimau itu pun
baranak-pinak
di dalam tempurung kepalanya
tapi aku
ogah
memelihara
aku telah membakarnya
dulu
waktu aku bosan
dan tak mau lagi
ditakut-takuti
karena geli
dan hari ini
aku semakin geli
melihat orang-orang kebingungan
karena harimau itu
tak mampu mengaum lagi
mungkin karena capek
sebagai gantinya
di mana-mana
sekarang aku mendengar semakin banyak
suara tawa
tapi
penguasa
risi rupanya
karena itu orang yang berani tertawa
diancam dengan undang-undang subversi
dan hukuman mati
tapi
meskipun para terdakwa
sudah dimasukkan bui
dan diadili
suara tawa itu tak kunjung berhenti
meskipun surat kabar radio dan televisi
telah menyiarkan ke seluruh sudut negeri
bahwa tertawa terbahak-bahak
itu liberal
bertentangan dengan budaya nasional
dan merongrong stabilitas negara
karena itu
orang yang berbicara
tertawa
berpendapat
dan berserikat
harus mencantumkan apa azasnya
kalau nekat
tembak ditempat
sekarang
hanya hakimlah yang kelihatannya tak berpura-pura
karena kalau ia ikutan tertawa
akan punahlah harimau
yang tinggal satu-satunya
karena itu
harus ada yang didakwa
dan dipersalahkan
agar tuntutan jaksa
nampak serius
dan tak menggelikan
sebab
kalau seluruh rakyat tertawa
dan buruh-buruh mogok kerja apa jadinya?
27 januari 97
Tujuan Kita Satu Ibu (hal198-199)
kutundukkan kepalaku
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
a luta contina
kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncang
kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-ibu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu
tapi bukan cuma anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu
kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu: pembebasan!
kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
4 juli 1997
Whoaaaaaaaaaaa...nyampe di Posisi favoriteku nih, Temans....bentar-bentar tarik nafas dulu....huhuhu. Oke...
Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa (hal 200)
aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat
penguasa
puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk-tusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka
kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
kau masih hidup
aku masih utuh
dan kata-kata belum binasa
18 juni 1997
Wiiiiiiiiiiihhhhiiiiiiiii...puisi terakhir nih...hehehe.
Baju Loak Sobek Pundaknya (hal.201-202)
siang tadi aku beli baju
harganya murah
harganya murah bojoku
di pedagang loak
di pedagang loak bojoku
pundaknya sedikit sobek
sedikit sobek bojoku
bisa dijahit tapi
nanti akan kubeli benang
akan kubeli jarum
untuk menjahit bajumu bojoku
untukmu bojoku
baju itu untukmu
tadi siang kucuci baju itu
kucuci bojoku
tapi aku bimbang
aku bimbang bojoku
kutitip ke kawan
atau kubawa sendiri
nanti kalau aku pulang
kalau aku pulang bojoku
karena sekarang aku buron
diburu penguasa
karena aku berorganisasi
karena berorganisasi bojoku
baju itu kulipat bojoku
dibawah bantal
tak ada setrika bojoku
tak ada setrika
agar tak lusuh
agar tak lusuh
karena baju ini untukmu bojoku
22 januari 96
Huhuhuhu....Puisi terakhir mengharu biru...sedih terharu gimanaaaaaaaaaaa gitu yah...
Oke sudah Selesai temans...silahkan direview yah! Terima kasih buat Mas Ronny, Thata, Ratri dan Mas Nanto yang telah bantuin mengetik.
Dan buat temans semua terima kasih atas perhatiannya.
penuh haru. penuh semangat. penuh pemberontakan. penuh lawan. penuh peluru. bravo. tunggu aku di surga, wiji thukul.
Masih banyak tanggungan dosa soale....hehehehe. Mandi di kali dulu gih...biar bersih jadi bisa langsung geber ke surga deh....
busyeet.. belom beres2 nih ?.. udah 2 bulan.. mei-juni.. bukan karena gw gak suka puisi2nya mas wiji, tapi emang gw berat banget utk menikmatinya.. jadi cuma intip sesekali.. yg bisa nikmati ya dinikmati.. sambil berharap segera usai.. ;-)
-andri-
'a rite of passage'
@Andri: semua puisi sih sudah selesai di posting...jadi silakan untuk mereview.
Dan untuk Buku Puisi berikutnya tunggu aja tanggal 5 yah...
wah.. dah selesei yah...gak ada kata pidato penutupannya sih. kirain masih banyak
tengkyu pd semua yg telah bersedia mengetik ulang satu buku penuh. moga jadi amal. amin :D





