group discussion
note: This topic has been closed to new comments.
topic:
Klub Buku GRI >
Baca Buku Puisi Bareng Bulan Mei---"Aku Ingin Jadi Peluru"
Hai Temans,
Ketemu lagi, pada kangen gak baca bareng buku puisi? hehehehehe. Setelah mengalami kevakuman...*halah* untuk bulan Mei sampai Juni kita baca bareng Buku Puisinya Wiji Thukul yang berjudul Aku Ingin Jadi Peluru.
Nah untuk pengetikannya Roos akan dibantu Mas Ronny dan buat teman-teman yang mempunyai bukunya boleh membantu sesuai urutan halamannya yah.Untuk semuanya sebelumnya Roos ucapkan terima kasih.
Ohya, buat yang mempunyai informasi tentang apa dan siapa Wiji Thukul boleh di share disini yah temans.
Terima kasih,
Roos
Oke untuk yang pertama sepatah kata dari penulis dulu yah.
Dari Wiji Thukul (hal.XVII)
Penyair haruslah berjiwa 'bebas dan aktif'. bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya. maka belajar terus-menerus adalah mutlak, memperluas wawasan dan cakrawala pemikiran akan sangat menunjang kebebasan jiwanya dalam berkarya. dan fanatik gaya atau tema bisa dihindarkan sehingga proses kreatif tak terganggu. belajar tidak harus di bangku kampus atau sekolah tetapi bisa dimana-mana dan kapan saja: di perpustakaan atau membaca gelagat lingkungan atau apa sajalah pokoknya yang bisa mempertajam kepekaan penyair terhadap gerak hidup dirinya dan hidup di luar dirinya juga.
Dalam penciptaan puisi sesungguhnya penyair hanya tergantung kepada diri sendiri. mungkin kritikus ada juga fungsinya. tetapi kritikus nomer empat urutannya. pokoknya persis seperti ketika coblosan pemilu itulah. kita berdiri didepan gambar kontestan dan bebas sepenuhnya memilih mana yang kita pilih. tidak ditekan, tidak tertekan, tidak dipilihkan, tapi memilih sendiri.
salam saya,
Wiji Thukul
Buku 1: Lingkungan Kita Si Mulut Besar
Pulanglah Nang (hal.3)
pulanglah nang
jangan dolanan sama si kuncung
si kuncung memang nakal
nanti bajumu kotor lagi
disirami air selokan
pulanglah nang
nanti kamu menangis lagi
jangan dolanan sama anaknya pak kerto
si bejo memang mbeling
kukunya hitam panjang-panjang
kalau makan tidak cuci tangan
nanti kamu ketularan cacingan
pulang nang
kamu kan punya mobil-mobilan
kapal terbang bikinan taiwan
senapan atom bikinan jepang
kamu kan punya robot yang bisa
jalan sendiri
pulanglah nang
nanti kamu digebugi mamimu lagi
kamu pasti belum tidur siang
pulanglah nang
jangan sama anaknya mbok sukiyem
mbok sukiyem memang keterlaluan
si slamet sudah besar tapi belum disekolahkan
pulanglah nang
pasti papimu nanti marah lagi
kamu pasti belum bikin PR
belajar yang rajin
biar nanti jadi dokter
solo, september 86
Yoa Gieb...tahu khan buku wajib kita...hehehehe. Lanjut yah...
Monumen Bambu Runcing (hal.5)
monumen bambu runcing
ditengah kota
menuding dan berteriak merdeka
dikakinya tak jemu juga
pedagang kaki lima berderet-deret
walau berulang-ulang
dihalau petugas ketertiban
semarang, 1 maret 86
duh... saia nyari2 bukuna gak nemu2. asyik ada yg mu nulisin gretongan disini*gelar tiker nunggu yg saweran para begawan dalam berpuisi*
Riwayat (hal.6)
seperti tanah lempung
pinggir kampung
masalaluku kuaduk-aduk
kubikin bentuk-bentuk
patung peringatan
berkali-kali
kuhancurkan
kubentuk lagi
kuhancurkan
kubentuk lagi
patungku tak jadi-jadi
aku ingin sempurna
patungku tak jadi-jadi
lihat!
diriku makin belepotan
dalam penciptaan
Kalangan, Oktober 87
wuaaaaaaaaaaah sepatah katanya keren! aq vote itu aja boleh? eh, bukan utk vote yah? hahaha...Geser lad, g mo ikutan nongkrong juga akh'
*duduk maniez setelah menggeser Yipyip*
Siap, kalo bisa yang panjang-panjang bagian Mas Ronny deh...*niat curang*...hehehehe. Maklum gatek...lebih bisa manual.
Suara dari Rumah-Rumah Miring (hal.7)
di sini kamu bisa menikmati cicit tikus
di dalam rumah miring ini
kami mencium selokan dan sampan
bagi kami setiap hari adalah kebisingan
di sini kami berdesak-desakan dan berkeringat
bersama tumpukan gombal-gombal
dan piring-piring
di sini kami bersetubuh dan melahirkan
anak-anak kami
di dalam rumah miring ini
kami melihat matahari menyelinap
dari atap ke atap
meloncati selokan
seperti pencuri
radio dari segenap penjuru
tak henti-hentinya membujuk kami
merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran
sandiwara obat-obatan
dan berita-berita yang meragukan
kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak
tapi bersama hari-hari pengap yang
menggelinding
kami harus angkat kaki
karena kami adalah gelandangan
solo, oktober 87
Catatan Malam (hlm. 8)anjing nyalak
lampuku padam
aku nelentang
sendirian
kepala di bantal
pikiran mengawang
membayang pernikahan
(pacarku buruh
harganya tak lebih
dua ratus rupiah per jam)
kukibaskan pikiran
tapi dalam gelap makin lekat
aku ini penyair miskin
tapi kekasihku cinta
cinta menuntun kami ke masa depan
solo-kalangan, 23 februari 88
Nyanyian Akar Rumput (hlm. 9)jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!
juli 1988
Catatan (hlm. 10)udara ac asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual
terkemuka
tetapi harganya
o aku ternganga
musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami
uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu
gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu
solo, 87-88
*pasang ikat ke kepala. pakai jaket lusuh. jeans belel. ambil megaphone. menuju bunderan HI. siap demo.
Ucapkan Kata-Katamu (hlm. 11)jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan
jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan apa maumu
terampas
kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput
atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian
jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu
jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perbudakan
kemasan-kentingan-sorogenen
Sajak Bapak Tua (hlm. 12)bapak tua
kulitnya coklat dibakar matahari kota
jidatnya berlipat-lipat seperti
sobekan luka
pipinya gosong disapu angin panas
tenaganya dikuras
di jalan raya siang tadi
sekarang bapak mendengkur
dan ketika bayangan esok pagi datang
di dalam kepalaku
bis tingkat itu tiba-tiba berubah
jadi ikan kakap raksasa
becak-becak jadi ikan teri
yang tak berdaya
solo, juni 1987
Whoaaaaaaaaaa...senangnya berbagiiii...huhuhuhu...*jadi terharu*
pada share koment yah...itu yang kita tunggu.
Sajak Bagong (hlm. 13)bagong namanya
tantanglah berkelahi
kepalamu pasti dikepruk batu
bawalah whisky
bahumu pasti ditepuk-tepuk gembira
ajaklah omong
tapi jangan khotbah
ia akan kentut
bagong namanya
malam begadang
subuh tidur bangun siang
sore parkir untuk makan
awas jangan ngebut di depan matanya
engkau bisa dipukuli
lalu ditinggal pergi
ya, ya bagong namanya
pemilu kemarin besar jasanya
bagong ya bagong
tapi bagong sudah mati
pada suatu pagi
mayatnya ditemukan orang
di tepi rel kereta api
setahun yang lalu
ya, ya setahun yang lalu
ih, saia dah baca yg sajak bagong mah di.... lupa lageh :D*taunya pusisi Tukul cuma dr kumpulan manuskrip dan fragmen majalah :)*
puisi Wiji pertama kali saya baca tak sengaja. dari sebuah majalah Hai lama yang saya baca ulang di rumah seorang kawan. puisinya manis dan sarat perenungan. disandingkan bersama puisi remaja lainnya. Saya kira Widji adalah bagian dari remaja metropol pembaca majalah Hai.Ketika membeli bukunya, saya teringat tiga puisinya. Pulanglah Nang, di awal buku. Puisi yang bercerita ia berbagi ikan dengan kucing yang merebut ikannya di tengah buku. Dan puisi baju bekas yang diingin dihadiahkan untuk istrinya.
Itu lanskap sederhana saya tentang buku ini. Citra Wiji yang peka lingkungan, humanis (bahkan kucingis), juga romantis. :D
Jenderal Nanto pasti sudah bosan dengan buku Widji itu. Bakal sayah sajah yah :D <ngarep>
Lanjut teman2. <duduk sambil mangap2 terpesona>
Lanjut teman2. <duduk sambil mangap2 terpesona>
ho ho ho jenderal james. bisa diatur itu. yang edisi baru aja yah.. kalo balik nanti saya kabari. yang lama sayang euy
Wah udah mulai lg nih baca puisi..sik asiik !* geser dong ikutan leyeh2,sambil bw kacang rebus :D
Qui bw tambahan tiker dong !
ampon, makin gak da harepan buat dapet jatah duduk di tiker T.Tjongkok di sudut di bawah naungan pohon pisang. sambil manyun*
Sajak Ibu (hal.14)
ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
ketabahan ibuku
mengubah rasa sayur murah
jadi sedap
ibu menangis ketika aku mendapat susah
ibu menangis ketika aku bahagia
ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
ibu menangis ketika adikku keluar dari penjara
ibu adalah hati yang rela menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun
kasih sayang ibu
adala sinar kegaiban tuhan
membangkitkan haru insan
dengan kebajikan
ibu mengenalkan aku kepada tuhan
solo,1986
Sajak kepada Bung Dadi (hal.15)
ini tanahmu juga
rumah-rumah yang berdesakan
manusia dan nestapa
kampung halaman gadis-gadis muda
buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
dengan gaji tak pantas
kampung orang-orang kecil
yang dibikin bingung
oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
dibikin tunduk mengangguk
bungkuk
ini tanah airmu
di sini kita bukan turis
solo-sorogenen, malam pemilu 87
Suka SAJAK IBU.. mommy, i love you. Jadi inget dulu mommy selalu membagi rambutan dengan adil biar anak-anaknya kebagian semua.. :D
Lanjut yah temans, suka banget nih ma puisi ini, sepertinya bulan september punya arti khusus buat Wiji Thukul...
Catatan 88 (hal.16)
saban malam
dendam di pendam
protes diam-diam
dibungkus gurauan
saban malam
menyanyi menyabarkan diri
bau tembakau dan keringat di badan
campur aduk dengan kegelisahan
saban malam
mencoba bertahan menghadapi kebosanan
menegakkan diri dengan harapan-harapan
dan senyum rawan
saban malam
rencana-rencana menumpuk jadi kuburan
solo-sorogenen, 1 september 88
Nah kalo yang ini punya kenangan tersendiri buatku...jalan sejarah...huehuehuehue.
Jalan Slamet Riyadi Solo (hal.17)
dulu kanan dan kiri jalan ini
pohon-pohon asam besar melulu
saban lebaran dengan teman sekampung
jalan berombongan
ke taman sriwedari nonton gajah
banyak yang berubah kini
ada holland bakery
ada diskotik ada taksi
gajahnya juga sudah dipindah
loteng-loteng arsitektur cina
kepangkas jadi gedung tegak lurus
hanya kereta api itu
masih hitam legam
dan terus mengerang
memberi peringatan pak-pak becak
yang nekat motong jalan
"hei hati-hati
cepat menepi ada polisi
banmu digembos lagi nanti!"
solo, mei-juni 1991
waaah sempet gak mantengin beberapa hari dateng2 udah banyak dan keren2 :D @gieb dan mas aldo, buku ini di tbk ndak ada nanti coba aku cariin lagi yah
Batas Panggung (hal.18)
kepada para pelaku
ini daerah kekuasaan kami
jangan lewati batas itu
jangan campuri apa yang terjadi disini
karena kalian penonton
kalian adalah orang luar
jangan rubah cerita yang telah kami susun
jangan belokkan jalan cerita yang telah
kami rencanakan
karena kalian adalah penonton
kalian adalah
orang luar
kalian harus diam
panggung seluas ini hanya untuk kami
apa yang terjadi di sini
jangan ditawar-tawar lagi
panggung seluas ini hanya untuk kami
jangan coba bawa pertanyaan-pertanyaan berbahaya
ke dalam permainan ini
panggung seluas ini hanya untuk kami
kalian harus bayar kami
untuk membiayai apa yang kami kerjakan di sini
biarkan kami menjalankan kekuasaan kami
tontonlah
tempatmu di situ
solo, 21 november 91
Ceritakanlah Ini kepada Siapa Pun (hal.19)
panas campur debu
terbawa angin kemana-mana
koran hari ini memberitakan
kedungombo menyusut kekeringan
korban pembangunan dam
muncul kembali ke permukaan
tanah-tanah bengkah
pohon-pohon besar malang-melintang
makam-makam bangkit dari ingatan
mereka yang dulu diam
kali ini
cerita itu siapa akan membantah
dasar waduk ini dulu dusun rumah-rumah
waktu juga yang menyingkap
retorika penguasa
walau senjata ditodongkan kepadamu
walau sepatu diatas kepalamu
di atas kepalaku
diatas kepala kita
ceritakanlah ini kepada siapa pun
sebab itu cerita belum tamat
solo, 30 agustus 1991
Tetangga Sebelahku (hal.20)
tetangga sebelahku
pintar bikin suling bambu
dan memainkan banyak lagu
tetangga sebelahku
kerap pinjam gitar
nyanyi sama-sama anaknya
kuping sebelahnya rusak
dipopor senapan
tetangga sebelahku
hidup bagai dalam benteng
melongok-longok selalu
membaca bahaya
tetangga sebelahku
diteror masa lalu
kalangan-solo, november 1991








