group discussion
topic:
Buku & Membaca >
Ada yang pernah baca buku tentang TELEKINESIS dan TELEPATI ?
Comments
(showing 1-41)
post a comment »
date
newest »
newest »
yg seri Teori Kuantum dikatakan gokil karena... hehe... boleh spoiler gak seh? ;)gpp yah? bukan novel inih...
pas proses penemuan Kaidah Schrodinger... hehe... :D
emang, serial ituh pada keren2 bukunapalagi yg seri Newton, Einstein, Semiotika (pas ngambil kuliah ini, saya jadikan bukunya sbg referensi :D), Evolusi, Hawking, Quantum Theory, dll. pokonya semuanya deh
saia belom punya yg seri Internetnya ung... T_T
oh ini mantep ya ... nanti cari versi bhs indonesianya deh. ;-)Aku punya versi indonesia untuk yg Chaos Theory, juga mantep tuh.
yah masih lama yah?coba deh, baca buku inih
sejauh ini, buku ini (menurut saia), adalah pengantar mekanika kuantum terbaik, tergokil, terunik, terlucu, dan paling mudah dipahami ;)
@ Qui (#32):Kaya'nya nggak usah nunggu deh. Aku tadi malam mulai baca, tapi ya masih mumet-mumet nih.
Tapi buku itu memang lengkap sih. pokoknya sejarah mekanika kuantum sampai tahun 1979. Semua yg kamu sebut di atas itu, ada semua.
Target selesai mbacanya nanti di ultahku ke-39 (yen Gusti Allah maringi umur) hehe ... mbacanya soalnya pelan2 aja. :-)
QuiGenusHumanumIngenioSuperavit wrote: "Makanya kalo liat rak buku saia, kebanyakan bukunya bergenre popular science ;)..."Rakyat mengharapkan bukti foto. (Siapa tahu ada judul menarik, hehe.)
hehe... Swen lek tuh yg si berbi kan?kalo blek swen tuh yg kayak naisbitt kan?
*hasil ngintip numpang baca di toko buku*
tu buku kan cuma ramalan duang. bukan telepati. bener gak seh?
eehh.. gw jadi inget tentang Black Swan.Black Swan namanya Odil
White Swan namanya Odette
Swan Lake story..
itulah masalahnya, saia bukan anak MIPA. asli teknik. padahal kan yg namanya teknik gak semua ilmunya murni sains. yg penting cocok dg di lapangan, dipake rumusnya. gak perlu ada penurunan rumus panjang lebar. makanya rumusnya tuh suka pake pangkat yg aneh2 :(saia cuma baca dr buku ajah. dan kebetulan tertarik ma Fisika Modern. Makanya kalo liat rak buku saia, kebanyakan bukunya bergenre popular science ;)
*dikit pamer*
gara-gara tulsiannya Qui, jadi inget punya buku yang belum kebaca, menjelaskan fisika dgn bhs yg lebih mudah (tapi tetep ribet sih): The Dancing Wu Li Masters (An Overview of the New Physics) nya Gary Zukav. Ah mulai baca lagi deh ... kan sudah ada pengantarnya dari Qui ... ;-)
hehe... saia gak dtg k wbd coz ujian hr Sabtunya. ga da sodara jg d Jkt (tadinya dah janjian ma temen yg d Jkt buat nginep sehari d rumah dia. apa daya, da ujian, dia jg ga pulang XD)upss... lupa... saya... :D
padahal tulisan saia masih pake istilah tknis fisika lho. tdnya saia mu pake sedikit mngkin istilah fisika, tapi malah binun nyari kata penggntinya...upps... gak pake EYD lagih... ya sutralah :D
semakin beraaaatt.... bacaan yang mengasikkan. mubgkin kl qui bisa menjabarkan ini lebih simpel daripada jurnal2 di perpustakaan.
EYD : saya.
dunia paralel adalah konsekuensi dr salahsatu cabang teori kuantum terutama yg berkaitan dg masalah String Theory (teori dawai kata salah satu penerjemah). teori string inih secara sukses membuktikan eksestensi subpartikel dan meramalkan berbagai fenomena kelakuan berbagai subpartikel (bahan2 yang menyusun partikel, ini memang sedikit membingungkan karena selama ini kita telah terbiasa untuk menyebut benda atom yang dianggap sebagai benda terkecil, sebagai partikel, padahal atom ituh disusun oleh sesuatu, sesuatu ituh disusun sesuatu, sasuatu disusun sesuatu, dan sesuatu ith juga disusun sesuatu juga)Sayangnya, teori string inih hanya sukses menjelaskan dengan mengasumsikan ruang yang dihuni itu bukanlah dunia ruang 3 dimensi sebagaimana yag kita kenal. (normalnya, kita hidup di dunia 4 dimensi, 3 dimensi ruang, satu dimensi waktu). Bahkan tak tanggung-tanggung, 'ruang' yang diasumsikan teori string bahkan sampa memiliki dimensi....20! tak heran banyak yg menentang teori string ini. Bagi para pendukungnya, kemungkinan banyaknya dimensi (kata ruang sudah tidak berlaku lagi) ituh bisa dijadikan indikasi bahwa dunia yang dihuni tidaklah mutlak satu, yaitu dunia tempat kita berada. kemungkinan ada dunia lain. bahkan istilahnya, Alam Semesta yang lain... memikirkannya saja saia dah pusing ^ ^
Yg di Subtle Knife itu ada paragraf (argghh.. saia lupa lagi bagian yg mana) yang menjelaskan... pas adegan si peri yang pengiring Will dan Lyra, menjelaskan cara mereka berkomunikasi dg Lord Asriel meski berbeda dunia. pokoknya pake prinsip lokalitas ituh :)
*menjura pada Qui* Terima kasih atas jerih payahnya. Semoga tidak sampai kepayahan menulisnya. Ataupun jeri. Trilogi His Dark Material bukannya diarahkan ke dunia paralel? Dan Pullman sih--uhh, spoiler deng. Nggak jadi.
Terus, kalau mengakui adanya kecepatan superluminal itu juga bakal bikin efek domino ke berbagai penjelasan ilmiah, ya? (Jadi ingat satu episode Star Trek Voyager; Voyager menembus 10x kecepatan cahaya sehingga melebihi dimensi ruang dan waktu; berada di mana-mana; dan kemudian mengulangi evolusi dari reptil menjadi manusia--bagian terakhir ini yang bikin aku teriak malam-malam, "Apaan siiiiih?")
iya neh, tangan mpe keriting ngetiknya, mana bolak-balik buka banyak buku takut salah ngetik. Tadinya mu diketik dg EYD yg rapi, tp, well, gak ada dosen Tata Karya Tulis kan? XDoyah sedikit ralat, percobaan yang di Dublin ituh bukan 'menyalahkan' teorema Bell, hanya mengungkapkan bahwa teorema Bell belumlah sempurna. masih ada kekurangannya. Artinya pertarungan Einstein vs All belum final hasilnya. kayaknya untuk menyelesaikan masalah pelik inih, perlu lahir generasi The Titan yang baru. Kebayang kan, 10 ilmuwan fisika terbesar sepanjang masa (di luar Hawking, Newton, Maxwell, dan Faraday) bertemu bersama untuk merumuskan teori paling mengguncang sepanjang masa... wuih...
Oyah, masalah di atas sekali lagi belom final... berbagai riset paling mutakhir berusaha membuktikan teori2 terkini yang tak kalah mutakhir. Jika dianggap teori kuantum dan relativitas telah berhasil mengguncang dunia sains, bersiaplah, ada teori ketiga yang tak kalah mengguncangnya... dan di sinilah nama Hawking yang legendaris ituh muncul ke permukaan. Teorinya sedemikian mengguncang sehingga Hawking dianggap sebagai fisikawan terbesar setelah Einstein dan dia menjadi legenda hidup abad 20...
(mau lanjut neh tulisannya, ato cukup sampai si Bell tadi? tp saia gak menjamin bakal ngatri coz bakal banyak istilah fisikanya, belom saia sendiri juga gak ngatri2 amat wakakak XD)
@Indrie, yup, saia juga penasaran bgt yg namanya fisika modern. soalnya, beda dg kimia ato ekonomi, fisika modern tak sebatas ilmu saja. ada konsekuensi lebih lainnya. dan tak tanggung2, sarat dg muatan filosofis. Ini yang membuat saia terpana, kagum, sekaligus merinding. Karena, implikasi teori2 akbar ituh adalah membuktikan bahwa apa yang telah diperdebatkan manusia sepanjang 3 milenium terakhir mulai dari Thales, Plato, Aristoteles, hingga Hegel, Sartre, dan raksasa filsuf lainnya tak lebih dari sekedar hitungan matematis belaka....
Makanya saia begitu tertarik bgt ma yg namanya fisika modern, mulai dr serial for beginners, for dummies, hingga serial advance-nya (sayang, yg versi ini saia gak banyak ngatri) saia baca bukunya. makanya dulu sangat ingin sekali masuk jurusan fisika....
haa..h..cape Qui bacanya sambil rada ga ngatri keburu perih matanya..:), thanks jerih payahnya, perlu pijat refleksi bwt tanganmu ? :D
great writing y!p. sebenarnya saya juga tertarik dengan ilmu fisika dan kelanjutannya kayak gini, dulu sering dibahas ma teman2 sma, waktu itu byk tulisan ilmiah di kompas. apa daya kuliah gw tidak membahas itu, lebih ke makrokosmos ruang, hubungan manusia budaya dan ruang.
penciptaan partikel terkecil sendiri apakah masih ada pertentangan dengan sisi agama, seperti d angel n demon. satu sisi kita menerima keilmuan teori penciptaan bumi, dari tidak ada menjadi ada melalui proses. satu sisi lagi kita percaya dengan adanya Tuhan, yang membuat kita ada hanya dengan kehendak-Nya.
Hehehe terima kasih Pak Qui, lumayan sudah dibaca cepat. nanti diulang dengan lebih tenang. Teori kuantum itu teori paling menyebalkan karena aneh, dan agak nggak bisa dimengerti. Selama ini baru baca yg ditulis Crichton di Timeline hehe.
Yang ini sepertinya lebih lengkap ... thanks ....
belom beres (yg tadi belom diedit :D, jd yg inih save lagih yah :))Ini ada yang lebih menggairahkan lagih.... Fisika memang gak ada matinya...
Meski berbagai penemuan mengukuhkan Tafsiran Kopenhagen, bukan berarti bahwa Einstein dan paradoks EPR-nya salah! Soalnya ada percobaan di Dublin yang justru membuktikan bahwa teorema Bell juga keliru....
Artinya, keputusan mana yang salah, ituh belum final! John Archibald Wheler, sampai mengaku stres hanya untuk memutuskan mana diantara kedua teori ini yang keliru. Ini juga bisa dijadikan pernyataan yang menggelitik, apakah intuisi Einstein yang mencengangkan ituh bisa salah?
Dan, saat ini kajian untuk tori kuantum berkutat pada dua hal. Pertama, pencarian partikel super dasar. Kebanyakan orang menganggap bahwa atom adalah bagian terkecil, padahal atom masih bisa dipecah jadi elektron, proton, netron, dan ratusan partikel lain yang bahkan ilmuwan fisika pun gak ada yang bisa menghafalnya saking banyaknya, jumlahnya ratusan lho. Dan tiap partikel ituh bisa dibelah lagi menjadi kuark. terus kuark terdiri dari parikel Higgs yang konon merupakan partikel elementer pertama yang tercipta saat alam semesta terbentuk.... Bagi yang sudah membaca novel The Angel and Demon (ato coba nonton pelemnya, mumpung masih diputar di bioskop) dijelaskan kalau lembaga riset terbesar di dunia, CERN sedang intensif meneliti masalah ini.
Kedua... yah, berusaha menjelaskan mana diantara Tafsiran Kopenhagen atau Einstein yang benar? soalnya bukan hanya sekedar benar atau salah, konsekuansi pembenaran salah satu teori ini sedemikian besarnya karena bisa menjawab teka-teki kaum filsuf sejak dulu kala, apakah kesadaran ituh? dan pertanyaan menohok tentang Kausa Prima, apakah Tuhan ada?
Btw, saia baru ngeh kalo dalam novel fantasi His Dark Material, terutama di buku kedua, "The Subtle Knife" disinggung mengenai penjelasan teori paradoks EPR inih lho..... bener2 jenius si Pullman.. padahal tuh buku fantasi... ckk.ccckk...
BUKAAAAAAAAAAAAAAAAN!!!
*teriak mahasiswa gank kabel di sudut kelas*
hehehe thx qui. disave dulu. bacanya ntar kalo lowong wkatunya
Teorema Bell adalah sebuah bukti matematis. berpijak dari asumsi bahwa prediksi2 statistik mekanika kuantum selalu benar, bell menunjukkan kepada kita bahwa sebagian ide2 kita tentang dunia yang masuk akal adalah keliru, bahkan sampai pada tingkat yang makroskopis.singkatnya Bell menunjukkan dengan perumusan matematikanya, bahwa salah satu harus salah. prediksi statistik teori kuantum atau prinsip sebab2 lokal.
lalu pada tahun 1972, John Clauser dan Stuart Freedman di Lawrence Berkeley Laboratory melakukan eksperimen terkait dengan teorema Bell. ternyata eksperimennya menunjukkan bahwa prediksi statistik teori kuantum itu benar! jadi prinsip sebab2 lokal pasti salah! lalu bagaimana caranya partikel2 yang terpisah jauh bisa saling mengirimkan sinyal satu sama lain melebihi kecepatan cahaya? apakah partikel2 itu memiliki kesadaran yang sama tanpa perlu berkomunikasi? terdengar seperti definisi TELEPATI kan?
tiga tahun setelahnya muncul fisikawan bernama Jack Sarfatti yang membedakan konsep sinyal dengan konsep komunikasi. suatu sinyal menggambarkan transfer momentum atau energi melalui ruang waktu. sedangkan komunikasi menggambarkan informasinya. dengan membedakan dua hal ini, Sarfatti mengatakan bahwa komunikasi berada pada realitas yang lebih tinggi dari sinyal. sinyal dibatasi oleh kecepatan cahaya sementara komunikasi tidak. ini adalah suatu lompatan yang radikal dalam fisika.
tapi tunggu dulu. kecepatan superluminal (melebihi kecepatan cahaya) bukanlah satu2nya penjelasan yang mungkin dalam kasus ini. kita sudah tahu bahwa prinsip sebab2 lokal salah. kita bisa berpijak dari sana.
ada 2 asumsi penting dalam prinsip sebab2 lokal. yang pertama adalah kita memiliki sebuah pilihan (kehendak bebas) untuk melakukan eksperimen. selain itu prinsip2 sebab2 lokal mengasumsikan bahwa jika kita melakukan eksperimen dengan cara yang berbeda dengan eksperimen yang satu, kita akan memperoleh sebagian hasil yang definitif. kedua asumsi ini sering disebut sebagai kepastian kontrafaktual "contrafactual definiteness"
jadi sekarang kita dihadapkan pada tiga pilihan. yang pertama, kita harus menerima eksistensi kecepatan superluminal dalam komunikasi antar partikel. yang kedua, kita harus menolak asumsi bahwa kita memiliki kehendak bebas dalam melakukan eksperimen. dan yang ketiga, kita harus menolak asumsi keadaan2 faktual yang terjadi pada saat kita melakukan eksperimen yang lain.
implikasinya sangat mengejutkan. pilihan pertama kita akan membawa kita kepada eksistensi kecapatan superluminal seperti yang udah awa jelaskan. pilihan kedua akan membawa kita kepada determinisme absolut. dan pilihan yang ketiga membawa kita kepada teori interpretasi multi dunia.
determinisme absolut menyatakan bahwa setelah keadaan awal suatu sistem telah terbentuk, maka apapun yang terjadi kemudian berjalan sesuai hukum sebab akibat yang pasti. segala sesuatu yang terjadi pada suatu saat merupakan satu2nya kemungkinan yang bisa terjadi pada saat itu. selain itu, tidak mungkin bagi kita untuk mengubah keadaan awal.
sedangkan interpretasi multi dunia lebih dikenal banyak orang sebagai teori dunia paralel. teori ini mengatakan bahwa terdapat bermacam2 realitas yang terbentuk pada saat suatu fungsi gelombang yang menyatakan perilaku suatu partikel runtuh. atau dalam bahasa singkatnya, pada saat potensialitas berubah menjadi aktualitas. jadi siapa yang bilang bahwa dunia paralel hanya sekedar fiksi ilmiah?
gitu deh kira2 ceritanya..
sori kalo awa gak menjelaskan sesingkat mungkin
tapi bisa dimengerti kan? ato malah jadi tambah bingung?
buat awa sendiri, saat ini awa lebih menyukai kecepatan superluminal karena dalam teori itu terdapat makna filosofis yang sesuai dengan yang awa pikirkan. awa suka memikirkan keseluruhan sistem alam semesta adalah suatu kesatuan. dengan kata lain, setiap partikel dalam tubuh kita memiliki hubungan dengan setiap partikel di alam semesta ini. semua materi yang ada di semesta terkoneksi dengan cara yang tidak ketahui.
kenapa teori superluminal bisa mengatakan seperti itu? bisa. asal dengan asumsi bahwa teori big bang memang benar. jika big bang benar2 terjadi, maka setiap partikel dalam alam semesta bisa dipandang sebagai satu sistem pada masa lampau. sama saja dengan percobaan EPR di atas.
dan pandangan ini tidak membedakan benda hidup dan benda mati. toh benda hidup dan benda mati memiliki partikel2 yang sama. makanya awa suka mikir, kadang2 apa yang kita sebut sebagai benda mati, juga memiliki "kehidupan".
jadi, kehidupan memenuhi semesta ini. indah bukan?
Paradoks EPR ini muncul sebagai tindak lanjut atas klaim ketidaksukaan Einstein terhadap teori kuantum. Walaupun Einstein ini juga bisa disebut sebagai salah satu pendiri teori ini, dia tidak begitu suka dengan implikasi yang muncul dari teori kuantum itu sendiri. Terutama sejak Heisenberg muncul dengan prinsip ketidakpastiannya. Tahu dong kata2 Einstein yang terkenal, "Tuhan tidak bermain dadu". Ketidaksukaan ini tidak hanya dimiliki oleh Einstein saja kok. Marie Curie juga berpendapat sama. Mereka berpikir bahwa teori kuantum hanyalah teori sesaat (temporer), yang hanya akan menjelaskan berbagai macam fenomena sampai munculnya teori baru yang lebih solid dan kuat. Berbeda halnya dengan Schroedinger yang berniat menghancurkan teori kuantum, tetapi dari dalam.Menurut Einstein, adanya ketidaktahuan manusia itu terbatas pada keterbatasan informasi saja. Einstein sendiri yakin bahwa dengan informasi yang cukup dan eksak, segala hasil pengukuran dapat diperoleh secara eksak pula. Begitu pula dengan hasil interpretasi Kopenhagen yang meng-klaim bahwa realitas itu hanya muncul jika kita melakukan pengukuran. Einstein sangat terusik dengan hal2 ini dan dia melakukan rencana balas dendam. (Ini sih hiperbolis)
Nah kemudian pada tahun 1935, Albert Einstein, Boris Podolsky, dan Rosen mempublikasikan eksperimen berpikir mereka dalam sebuah makalah, yang berjudul “Can Quantum-Mechanical Description of Physical Reality be Considered Complete?” Intinya adalah mereka mengatakan bahwa teori kuantum bukanlah teori yang lengkap karena dianggap tidak mendeskripsikan aspek2 penting dari realitas yang nyata secara fisik walaupun tidak teramati.
Misalnya, kita akan menggunakan sebuah alat yang dinamakan sebagai alat Stern-Gerlach yang memiliki medan magnet yang dapat membelah pancaran elektron yang dilewatkan menjadi dua pancaran kecil yang sama ukurannya. Nah, setiap pancaran elektron haruslah mengkompensasi spin pancaran elektron satunya. Jadi, jika yang satu spinnya naik, yang satu pasti turun.
Kemudian, kita ubah sumbu alat Stern-Gerlach ini untuk menggerakkan partikel2 spin ke kanan atau ke kiri. Sekarang kita letakkan alat kita di salah satu lintasan elektron yang sebelumnya telah terpisah dari satu sistem. Sesuai interpretasi mekanika kuantum Kopenhagen, sebuah realitas hanya mungkin terjadi pada saat pengamat melakukan percobaan. Intinya, sebelum kita mengukur ‘sesuatu’ yang disebut elektron, maka elektron itu hanyalah ilusi.
Nah, pada saat kita mengukur spin salah satu pancaran elektron yang telah melewati alat Stern-Gerlach ini, kita tahu spin elektron tersebut. Secara otomatis, kita akan tahu juga bahwa spin elektron pecahan satunya akan memiliki spin yang berlawanan. Yang jadi masalah adalah, kita mengubah spin elektron tersebut setelah elektron itu terpecah dari satu sistem. Jadi kita gak tahu spin atau keadaan elektron sebelum memasuki alat Stern-Gerlach ini. Nah setelah medan magnet alat kita mengubah spin elektron yang satu, entah bagaimana caranya, partikel yang satunya lagi akan mengetahui bahwa kembarannya memiliki spin ke kanan. Dengan kata lain, apa yang kita lakukan di A dengan mengubah sumbu medan magnet dengan serta merta akan mempengaruhi apa yang terjadi di B. Fenomena ini dikenal sebagai efek EPR (Einstein Podolsky Rosen).
Masalahnya berlanjut jika kita menjauhkan jarak partikel2 tersebut. Sesuai teori Einstein, ‘the velocity of light acts as an infinite velocity’. Lalu bagaimana bisa si partikel itu saling berkomunikasi dengan sangat cepat jika jaraknya berjauhan? Inilah contoh ilmiah pertama tentang kecepatan superluminal yang sering disebut secara kasar sebagai TELEPATI.
Akhirnya pendapat ini menjadi prinsip sebab2 lokal. Prinsip ini menyebutkan bahwa apa yang terjadi di sebuah tempat tidak dipengaruhi oleh variabel2 yang dikendalikan seorang pelaku eksperimen di tempat yang jauh terpisah meruang (space-like). Einstein mengatakan demikian, "Anda bisa berpaling dari kesimpulan ini (teori kuantum tidak lengkap) hanya dengan mengasumsikan bahwa pengukuran S1 (secara telepatis) mengubah keadaan nyata S2 atau dengan menolak keadaan2 nyata dan independen terhadap benda2 yang saling terpisah secara spasial. Kedua alternatif tersebut bagi saya sama sekali tidak bisa diterima."
Tetapi, naas bagi Einstein, pada tahun 1964 seorang ilmuwan bernama J.S. Bell mengemukakan teoremanya yang terkenal. Pada akhir pertandingan, Bohr menang, Einstein kalah. Teorema Bell sering digunakan untuk menjelaskan paradoks EPR ini, dan menunjukkan bahwa prinsip sebab2 lokal, serasional apapun, secara matematis tidak sesuai dengan asumsi bahwa prediksi2 teori kuantum itu sahih.
Gitu sih kira2
--bersambung--
hehe...ceritana agak panjang neh dan sedikit jelimet *saia juga paham dikit, bukan jurusan fisika seh :D*
dicuba dikit yah.. Eh, tp buat neranginnya, harus flashback k belakang neh, gpp kan?
Pada dekade 90-an, ilmu Fisika mengalami perkembangan yg nyaris seperti 'meledak' dimana berbagai teori besar dan agung bermunculan. tidak hanya karena teori2 ituh berguna dan banyak menjelaskan fenomena alam, tapi juga karena implikasi/konsekuansinya dalam revolusi mengubah cara pandang manusia terhadap dunia(saia lebih suka menyebutnya kudeta :))
Di bidang kosmologi, Einstein secara dramatis mengenalkan teori Realtivitasnya (Umum dan Khusus) yang termasyhur itu. Bahkan secara mengejutkan, teori gravitasi agung Newton, nyaris menjadi terlihat usang
Tetapi, teori itu hanya berlaku di dunia makrokosmos saja (hanya berlaku untuk rentang pengukuran ribuan hingga jutaan kilometer aliar dunia kosmologi). tapi tidak bisa menjelaskan fenomena dunia mikrokosmos (rentang pengamatan kurang dari seperjutaan centimeter alias rentang dunia atom)
Berkembangnya pengetahuan manusia tentang atom (mulai dari penemuan partikel elektron dan radiasi panas) membuat teori-teori klasik menjadi tidak bisa lagi diaplikasikan.
Untuk dunia atom tadi, revolusi ituh dimulai dg penjelasan Neils Bohr ttg sifat atom hidrogen. Tetapi penjelasan-penjelasan Bohr malah menuntut penjelasan2 lain yang tak kalah rumitnya, maka lahirlah apa yang dinamakan teori fisika kuantum (sering juga disebut mekanika kuantum), maka munculah nama-nama ilmuwan fisika terbesar sepanjang masa (geng ini disebut The Titan saking betapa hebatnya pengaruh mereka) semacam Einstein (Einstein dapet Nobel bukan utk teori relativitas lho, tp buat efek fotolistrik kuantum), Planck, Bohr, Pauli, Schrodinger, Heisenberg, Dirac, Werner, dan Broglie
Ajaibnya, teori kuantum ituh tidak tunggal. metode yang beda tetapi hasil sama misal, prinsip dualitas cahaya yang bisa berlaku sebagai partikel [anggap bola:] sekaligus gelombang [anggap tali:], dapat diamati dengan rumus2 yg diturunkan baik oleh Schrodinger maupun Broglie. hasilnya pun tepat sama. Di bidang sains, adanya perbedaan metode ini dengan asumsi yang saling bertolak belakang, jelas menyiratkan bahwa harus ada satu yg benar, maka dimulailah perang kejeniusan.
Dan, puncaknya, para ilmuwan tadi mengadakan pertemuan yang melegenda di Kopenhagen (tahunnya lupa lagi, silakan tanya si Mbah Gugel) untuk merumuskan kembali konsep teori kuantum secara terpadu dan konsisten. Kelak hasil pertemuan itu dinamakan Tafsiran Kopenhagen, dan dijadikan acuan untuk pengajaran fisika kuantum dewasa ini (ajaibnya, setelah kematian para the Titan ituh, kemajuan di bidang ini sangat melambat)
Nah, masalah muncul saat Einstein secara mengejutkan, berani beda dengan para leluhur jenius lain, menolak tafsiran Kopenhagen. Dia terutama menolak tentang prinsip Ketidakpastian Heisenberg. Menurut Heisenberg, kita tidak dapat mengamati posisi partikel dan kecepatannya sekaligus karena tidak ada kepastian dalam pengamatan (bukti teknisnya terlalu fisika, jadi percaya ajah yah? ^ ^)
Implikasi logis pernyataan ini yang bikin Einstein keberatan (dan sampai sekarang masih banyak yang memperdebatkannya). Konsekuensi prinsip ketidakpastian adalah pernyataan bahwa segala kejadian ini bersifat probabilitas, tidak ada yang pasti sampai dilakukan pengukuran. Artinya, alam semesta terjadi dan bekerja secara acak berdasarkan kebetulan belaka
supaya bisa dimengerti, saya kasih contoh. menurut interpretasi kuantum kopenhagen, posisi suatu elektron dinyatakan sebagai fungsi probabilitas. kita tidak bisa menentukan secara pasti posisi suatu elektron tanpa kehilangan kepastian pengukuran momentumnya (prinsip ketidakpastian heisenberg). lagipula, menurut interpretasi kopenhagen, tidak ada yang namanya elektron sampai dia diukur. sedangkan einstein berpendapat bahwa elektron itu memang ada di sana walaupun kita tidak melakukan pengukuran. bahkan yang lebih aneh lagi, kita sebagai pengamat dapat memilih realitas yang ingin diukur. kita bisa memilih mau menganggap elektron sebagai partikel atau sebagai gelombang. di sini, kita, sebagai manusia, berlaku sebagai pengamat yang bahkan dapat memilih realitas.
Implikasi ini yang mengusik Einstein. dia berpendapat alam seharusnya berlaku mutlak sebagaimana hukum-hukum yang mengaturnya. (Einstein, meski bukan seorang relijius, dia sangat percaya terhadap tuhan yang dia sebut The Old One). Maka bersama koleganya, Podolski, dan Rosen, dia mengeluarkan tantangan terhadap penafsiran kopenhagen yang bernama Paradoks EPR (siangkatan ini sesuai nama penciptanya)
--bersambung--
@ Kang Isman di msg 10, nambahin dikit. fenomena angsa hitam itu dalam epistemologi disebut falsifikasi yang dicetuskan oleh Karl R. Poper. salah satu operasionalisasi falsifikasi dalam metode penelitian adalah hipotesis null karena yang diproposisikan adalah yang sebaliknya. bila metode konfirmasi akan mencari bukti Proposisi A di lapangan, metode falsifikasi akan mencari A' (a aksen) dari Proposisi A.
dulu di radio Rase FM bandung ada dialog metafisik setiap malam jumat. salah satu pengasuhnya kalau tidak salah dari fisikan ITB (dosen elo kali qui). salah satu topiknya waktu itu adalah soal santet dan sejenisnya. Dibahas juga soal pindah tempat kayak di film star trek. apa itu ada penjelasan teoritisnya?
dia menjelaskan sih pake teori fisika gitu. kayak pergerakan atom yang cepat akan memungkinkan perpindahan itu dengan perubahan materi dulu.
dalam santet, perubahan kecepatan atom itu terjadi karena ada faktor jin. nah ini yang menarik, orang fisika yang cenderung materialistik mengakui ontologi "jin". santet dalam kajian tele-transporting menjadi menarik buat saya sambil mengisi waktu insomnia.
kaidah ilmu alam yang dualistik (positifistik) memungkinkan hal ini. ada subjek dan objek. ada kajian yang mungkin secara teoritik, mungkin diciptakan (diaplikasikan), dan setelah muncul manajemen Fordism ada istilah marketable.
begitu yah yang saya numpang dengernya. CMMIIW lah.
Ayo dong Qui, jelasin dong tentang prinsip non-lokalitas Teorema Bell (mekanika kuantum) itu.
Masa cuma namanya aja, kita perlu overview nya, paling enggak lah, hehe....
Mohon pencerahannya ya...
*mode sotoy : on*saia udah sering nonton pelem dokumenter NG ato DC, banyak tuh yg nerangin telepati. bahkan sering diceritain ada org yg kemampuan telepatinya mampu melacak kejahatan..bla..bla,,,bla..
bukannya prinsip non-lokalitas-nya Teorema Bell (mekanika kuantum) dapat menjadi "penjelasan ilmiah" dr fenomena telepati?
*mode sotoy : off*
Wirotomo wrote: "kalau telepati kaya'nya baru ada di film2 science fiction ya? belum pernah ada buktinya ... sepengetahuank..."Sekadar menambahkan, kalau-kalau ada yang salah memaknai kata-kata Mas Wirotomo, ketiadaan bukti akan sesuatu hal tidak niscaya menunjukkan ketiadaan hal tersebut. Pesan ini ditekankan berulang kali dalam buku The Black Swan The Impact of the Highly Improbable oleh Nassim Nicholas Taleb.
Nassim menggunakan ilustrasi angsa hitam untuk menunjukkan pesannya. Selama beratus-ratus tahun, bangsa Eropa berasumsi bahwa semua angsa berwarna putih, hanya karena tidak pernah ada bukti bahwa angsa berwarna selain itu. Karena itu, saat angsa hitam ditemukan di Australia, mereka geger.
Jadi yang ingin disampaikan Mas Wirotomo adalah bahwa keberadaan telepati belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Bisa berarti tiga hal:
1) Memang tidak ada
2) Ada, dan suatu saat bisa dibuktikan secara ilmiah
3) Ada, hanya tidak bisa dibuktikan secara ilmiah (minimal dengan paradigma keilmiahan saat ini).
Wuryanano wrote: "Dear ALL...Ada yg pernah baca buku-buku TELEKINESIS dan TELEPATI ?"
Pak Nano, saya kemarin sudah sampaikan referensi bukunya lewat pikiran. Tapi saya dapatnya pesan, "Pikiran yang Anda hubungi sedang sibuk..." :p
Kembali serius, Pak Nano tertarik mengetahui apanya mengenai Telekinesis (dalam dunia akademik disebutnya Psychokinesis/PK) dan telepati? Karena kedua ini masih termasuk domain metafisik--kita bisa menemukan jumlah referensi yang sebanding antara yang mengatakan dengan yakin bahwa keduanya benar-benar ada (bahkan sampai yang mengajarkan cara-caranya) dan yang mengatakan sebaliknya (keberadaan kedua hal itu belum bisa dibuktikan secara ilmiah).
Kalau sekadar dari sisi ilmiah, bisa lihat publikasi di sini
http://www.princeton.edu/~pear/publicati...
Walaupun perlu ada peringatan: isinya makalah dan laporan penelitian, jadi sarat jargon akademik.
Dari entri Wikipedia juga ada sejumlah tautan pada berbagai publikasi mengenai PK.
http://en.wikipedia.org/wiki/Psychokines...
Ini lebih mending untuk bacaan, nggak bikin keriting.
telekinesis bukannya bakat ya bisa memindahkan atau menggerakkan objek tanpa menyentuhnya.kalau telepati kaya'nya baru ada di film2 science fiction ya? belum pernah ada buktinya ... sepengetahuanku lho.
@ Qui:
kalau yang di Paris, Eiffel. Eh yang di kasus korupsinya Al Amin juga Eiffel namanya. hehe
:Dberarti saia lebih hebat dung. soale saia bisa matiin lampu menara eifel yg di Paris. tinggal bilang mati..maka ntar siang bakal mati lampuna
*ngasal yg penting lebih hebat drpd mangggil remot*
wooww.. gw bisa tuh telekinesis.. begini contohnya :situasi :
Lagi nonton tivi. trus gw teriak 'woi, remote dong'
trus tau2 tu remote ada di tangan gw.. hebat nggak..
Lagi di kantin kampus. 'jang, gw teh botol ya!!'
trus tu teh botol ada di depan meja gw..
memindahkan barang tanpa lewat tangan gw gitu..
saia pernah baca buku ttg gituan. tp kagak mudeng. mesti tapabrata dolo di gunung antah-berantah dolo keknya biar mudeng.ada yg bersedia jd guru? :D
mohon petuahnya kisanak ;)
Apa iya kalo gak pernah baca buku2 telekinesis dan telepati lantas dikategorikan pembaca novel fiksi saja? Logikanya bagaimana ya itu?
Dear ALL...
Ada yg pernah baca buku-buku TELEKINESIS dan TELEPATI ?
Jika ada, mungkin bisa diberikan resensinya lewat GRI ini. Thanks.
http://wuryanano.wordpress.com/
unread topics | mark unread



