group discussion
topic:
Komunitas Goodreads Indonesia >
Baca itu Seru! Nulis itu...Perlu!!!
Comments
(showing 914-963)
post a comment »
@fia, seperti kata ugit itu blum bisa emang, mereka yang mau komen juga harus klik 'vote' dulu baru bisa komen. aku sih blum pernah ngeklik itu buat ngebales komen temen2 :D
@speakercoret: buku tulis bekas barack obama boleh, yang isinya strategi politik, atau buku bekas andrea hirata saat merangkai alur laskar pelangi, Paulo Coelho-pun tak mengapa.. Ayo kemarikan mba (benerkan?).. hehehe.. ^_^@mba mia: aku udah coba, terimakasih infonya..
kalo fia ke profil goodreadsmu, di atas group dan di bawah quote ada writing nah fia bisa bikin satu folder khusus puisi dan satu puisi per chapter, di sini udah ada berapa tuh hehe. jadi deh semacam buku puisimu versi online :D
Nenangs wrote: "muthe...mo sayfifah mo syafifah teuteup juga salah.Yg bener Syafiyah. yang ada dua "y"-nya bukan "f"-nya.
tomopedia mode on*"
betul tul tul... mas/mba speakercoret salah niihh.. denda satu buku! hehe
@fia, udah bisa disatukan nih puisi2mu di fasilitas writingnya goodreads :D
@mute, sliwer yah haha sama suka begitu juga :p
tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq wrote: "ah Mute... salah mulu XDdah diedit, teuteup ajah salah :D"
lo juga gak engeh kan... kalo gw masih salah :p
muthe...mo sayfifah mo syafifah teuteup juga salah.
Yg bener Syafiyah. yang ada dua "y"-nya bukan "f"-nya.
tomopedia mode on*
Speakercoret wrote: "@ sayfifah: suka banget tuh yg #943... bagus.... :D"btw, namaku syafiyah hehe.. panggil aja fia. ^_^
Lama lara melampirkan kelam di wajah sendu membisuku. Sejumput rasa malu pada-Mu adalah tikaman pisau beracun abu. Meremas paru. Tuhan, tolong berikan aku koma. Sebelum tiba pada titik. Yang belum kutahu, kisah apa yang harus kuguratkan pada setapak jalanku. Dan dengan wajah apa kuharus memandang-Mu saat titik berseru.*setelah hujan berkilat, di puncak
Pra wrote: "nulis berita boleh gak?he..he..he..."
hahahaha pra, blum puas nulis ndek radar toh. monggo wae lah aku yo pengen baca :D
keajaiban ibu
aku berlari pulang yang kucari hanya ibu
ibu yang menciumku
maka sakitku hilang
ibu yang memelukku
maka lelahku sirna
ibu yang mengajarkan bentuk
hingga ku tahu itu huruf dan angka
ibu yang menatap
tapi ku paham ia marah dan aku bersalah
ibu yang berbinar
padanya kuceritakan segalanya
kini aku seorang ibu
dan tahu apa rasa mencium, memeluk,
mengajari, menatap, berbinar...
memaknai lebih dari itu semua
bahagia dalam bangga
itulah ajaib
untuk ibu, dan calon ibu dimana saja
selamat hari ibu
boleh.. in one condition: nama yg di belakang .bang. nya itu harus nama saya. jadi.. jangan panggil saya bang malih. hehe.. @mastomo: hehe.. sori bisnis konten dadakan. mau brp persen share profitnya mas?
bang gimana?jadi pingin nyanyi abang tukang baso mari-mari sini.. (lupa lanjutannya apa) menyedihkan sekali anak-anak zaman sekarang, lagu anak-anaknya gak polos lagi ^^
Ina wrote: "tulis,,,tulis,,,"jadi teringat bang Saut Sitompul!
Jangan terlalu dipusingkan bagaimana menulis puisi/ Cukup berjongkok di taman/ dengan pena di tangan/ Ada daun jatuh tulis!
tak bisa berkata. Pujian itu hampir mematahkan punggunggku. Hampir.Ah, tega, orang lain lebih mengetahui karakterku dibanding diriku sendiri.
Segunung terimakasih, mas gieb.
Kapaan bisa secerdas itu...
Mmm.. mba/mas ugit.. (maaf aku sama sekali tidak tauuu apakah mba atau mas...)
Ehem, mba/mas.. aku gak ikutan Kitomobodo. Tapi Ugitobodoyanglagibobodanmasabodosukamaintendo hihi..
Punya mas/mba ugit puisinya aku suka..
Syafiyah wrote: "gundah aku kini. Ada banyak hal yang ingin kucoretkan. menyimpulkan sajak-sajak, bermain guratan, diatas putih dengan hitam. tentang pertemanan, tentang contekan, ibunda guru dan kekuatan. tentang ..."syafiyah, penyair muda dengan diksi-diksi yang sederhana tapi cemerlang. membangun dugaan peristiwa sehari-hari menjadi sebuah tempat kontemplasi yang ciamik plus mencengangkan. makan hati, makan nasi. sama saja. kebutuhan!. larik yang telak dan melantakkan teori hitam freud. keren.
puisi lahir dari ketajaman sang penyair menangkap jiwa dari kelebatan kata yang jatuh dari kegamangan pikir sang penyair. syafiyah dalam puisinya selalu berhasil memadupadankan itu semua tanpa cela. membuat kejut yang bikin otak berkerenyut kemudian menganggukkan kepada tanda setuju.
larik yang tegas dan pedas. tapi mengena tepat di pikir khalayak. tak mudah membuat kondisi semacam itu. pun oleh para penyair besar itu. keren syafifah. tuang. tuang. tuang. usir kemapanan para penyair dengan syairmu yang gemilang dan pedas itu.
Dahlia wrote: "MuslimMagrib, 2 Muhararram 1431 H
Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
...
...
Loh, aku Mualaf?!
Astagfirullah, apa yang kupikirkan yah?
...
...
Sujud syukur sajal..."
dalam teks ini penyair membuat puisi menjadi sebuah pencapaian bukan sebagai sebuah perayaan. pencapaian pribadi sang penyair yang meletupkan teks-teks yang menggugah tanya bagi yang membaca.
sayangnya, penyair masih terjebak dalam semiotika tanda-tanda. teks syahadat menjadi penanda yang ingin dicapai oleh sang penyair. seperti merefleksikan sekian perjalanan dari keyakinan yang selama ini akrab dalam kehidupan penyair. capaian syahadat belum menyentuh sebuah jawaban rasional tentang sebuah pencapaian spiritualitas. sujud syukur menjadi slogan kaum jabariyah yang meletakkan semua persoalan kepada takdir.
tetapi sang penyair memulai perjalanan baru dengan momen yang pas. tahun baru. embel-embel islam menjelma penanda yang kuat untuk sebuah keinginan ikhtiar tanpa menyerah.
seharusnya, begitulah puisi. yang bergerak mengayun-ayunkan bahasa untuk sebuah pencapaian tinggi dari pola pikir sang penyair. tak hanya sekedar pencapaian identitas tapi juga sebuah laku dari identitas yang bersangkutan. sesuai dengan judul puisi: muslim (yang berserah diri).
berserah diri bukan sebuah kata benda yang mati. tapi sebuah kata sifat yang memiliki banyak parameter. ciri-ciri orang yang berserah diri, salah satunya adalah: hidup mencari nafkah dengan mencari kayu bakar itu lebih baik daripada mencari orang yang minta-minta; orang yang berserah diri itu orang yang tetangganya aman dari lidah dan perbuatannya. itulah muslim sesungguhnya yang akan menemukan surga saat hidup. mencapai surga ini diperlukan sikap hidup yang toleran dan semangat yang keras untuk memuliakan kehidupan.
surga yang ditawarkan kepada 'yang berserah', jelas bukan surga antah berantah. surga yang ditawarkan jelas bukan surga di alam mimpi yang tak ada kenyataannya. jika surga hanya bisa diraih dengan ritual semata, tak diperlukan kehadiran Kanjeng Nabi Muhammad, yang jelas-jelas disuruh oleh Tuhan untuk membangun makarim al akhlaq (budi pekerti yang mulia).
eniwei, puisinya keren. lanjuttt...
fia sedang gundah? gelisah? jangan biarkan berlarut2 .. dapatkan solusi dari masalah anda cukup dengan ketik REG(SPASI)KITOMOBODO kirim ke 4663
gundah aku kini. Ada banyak hal yang ingin kucoretkan. menyimpulkan sajak-sajak, bermain guratan, diatas putih dengan hitam. tentang pertemanan, tentang contekan, ibunda guru dan kekuatan. tentang bianglala, tentang masa depan, tentan lantunan nada, realita dan cerita remaja dan kesekian kali.. lagi-lagi tentang cinta.gundah aku kini. yang mana dulu? hari ini tak lebih dari 24 jam. tidur kurang dari 6 jam. makan ibadah dan cinta, 18 jam. aku ingin bergulingan dari atas langit biru dan jatuh kehamparan hijau rerumputan. tapi tak ada waktu yang rela berhenti barang sedetik.
kini aku gundah. prioritas yang utama entah apa. kuleburkan saja dibawah tumpukan buku. agar masuk bagai cerita, dan menjadi masa lalu yang tak tercipta. lari-lari. roda-roda. enyah, murka, marah. apa saja kuungkapkan. sia-sia. tak ada suara. lebih baik aku makan saja. makan hati, makan nasi. sama saja. kebutuhan!
katanya masalah jangan dihindari, itu untuk mengembangkan jiwa. jadi aku terima. itu saja.
*fia*
MuslimMagrib, 2 Muhararram 1431 H
Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
...
...
Loh, aku Mualaf?!
Astagfirullah, apa yang kupikirkan yah?
...
...
Sujud syukur sajalah
Sekali lagi... merona.terima kasih kakak2 semua, mas-mas, mba-mba.. atas supportnya hihi..
Maaf tidak sering-sering mampir bercuap.. ;p
Pemburu. Memainkan panah pada asa berlarian. Terbahak tawa di tepi jurang peradaban. Dendangkan lagu kebinasahan dengan permai mematikan. Disudut jemari tangan, ukiran kata beruntaian. Seperti penyair bertasbih pada lantunan. Membiuskan. Mematikan. Berhala pujaan, sembunyikan muka pada Tuhan. Selaksa peristiwa peradaban. Setipis jembaran siratalmuntaha, setipis itu pulalah kain pada hawa. Dzikrullah bermalam, menghembus si rumput bergoyang, kini berpulang. Bergantian. Dengan pinggul bergoyangan, musik berdendangan, maksit berjalanan. Kepala-kepala besar manusia. telunjukannya berseru. menciptakan ayat dalam koma kesesatan. Mencabut nyawa dan asa bagai memutar rolet. Limpahan ke-malu-an, bersembunyi dibalik tirai-tirai permainan. Adakah nurani tersembunyi? Disudut labirin, berputar, berkelok, lurus dan belok. Pastilah, disana nurani. Akuilah. Pencarian akan kesempurnaan. Itulah, fitrah, kita.. sang pemain. Sang Pemburu.
Ini warna yang tak tercipta dari uraian cahaya rona pelangi. Ini BUKAN merah jingga kuning hijau nila biru pula ungu. Cuma ada HITAM PUTIH. Mana terang itu putih. Mana gelap itu hitam. Tak boleh ada yang dianggap buram atau disebut kelabu. Lalu aku bingung Tuhan.. langit-Mu apakah hitam atau putih?
@mbak indri: walah.. mesin ketiknya udah ditaro di mesum eh.. museum. @mbak leli: senangnya ada yang senang punya adik
mencari|melepas si sepi
berdiri di tengah lautan manusia. kesepian itu
dengung tawa marah riuh rendah teriak
kemerisik berbisik desah alun kecipak
diam. atau terus mencari
bagaimana mencari di tengah ramai
apa harus bergerak menyusup berputar
sementara tak tahu apa ia juga berlari mengejar?
yakinkah bahwa ia tak menunggu di luar?
atau duduk diam
menanti yang datang menghampiri
menunggu pembawa kabar berseri
atau sebuah pesan yang tak terjawab pasti?
larut dalam ramai
semua bergegas, dari segala penjuru ke arah berlawanan
di sana, masih berkelebat mencari









