Goodreads Indonesia discussion

432 views
Klub Buku GRI > Baca Bareng Buku Puisi Bulan April: "Setanggi Timur" Amir Hamzah

Comments (showing 1-50 of 94) (94 new)    post a comment »
« previous 1

message 1: by Roos , Moderator (last edited Apr 01, 2009 09:12AM) (new)

Roos  | 2990 comments Mod
Hai Temans,

Hehehehe...lagi-lagi ini juga diputuskan sepihak, berdasarkan siapa yang punya buku lagi-lagi Mas Tomo ...hehehehe... *nunjuk yang punya buku*. Oke, untuk bulan ini kita baca bareng buku puisi Setanggi Timur oleh Amir Hamzah. Kalo kubaca sekilas puisi-puisi disini bukan karya Amir Hamzah yah tapi dikumpulkan oleh beliau. Tapi isi puisi-puisinya adalah karya-karya sastrawan-sastrawan dunia. Jadi tidak akan rugi deh buat dibaca bareng.

Ohya, buat teman-teman yang mempunyai data mengenai siapakah Amir Hamzah itu, boleh dibagi disini yah, siapa tahu dengan di informasikan disini bisa membuat goodreader yang lain menjadi lebih mengenal beliau, sebelum saya memulai mengetik puisi di buku ini tanggal 5 April nanti.

Selamat Membaca dan Terima kasih.
Roos, Ninus & Wirotomo


message 2: by Roos , Moderator (new)

Roos  | 2990 comments Mod
Whoaaaaaaa....thanks you Kang. Informatif banget nih.


message 3: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 1927 comments Mod
lanjuuuuuuuuut ceritanya po :D


message 4: by [deleted user] (new)

Kalau aku suka menafsirkan perbedaan Amir Hamzah dengan Chairil Anwar itu begini:

Chairil kesannya bohemian, liar, nakal dalam puisi2nya (maupun hidupnya), tapi semua itu ternyata tertuju pada suatu pencarian yang transendental. Sementara yang ajaib dari Amir Hamzah justru kebalikannya: puisi-puisinya terkesan religius, mencari Tuhan, tapi itu justru sublimasi dari hasratnya yang tidak kesampaian akan cinta duniawinya, si gadis Solo itu.

hehe.. ini tafsiranku pribadi aja yach.., bukan 'kritik' sastra serius yg harus dipercaya atau dibantah


message 5: by Roos , Moderator (new)

Roos  | 2990 comments Mod
Mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu....dilanjut yah, buat semangat ngetik. Tahu sendiri satu puisi poaaaannnjaaaangnya bukan kepalang....hehehehehe


message 6: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2336 comments Kasusnya Amir Hamzah sama gadis Jawa itu aku baca sebagai cerita bersambung (kisah nyata sih) di majalah Femina-nya Ibuku (sekitar tahun 80-an lah ... soalnya mulai 1988 Ibuku berhenti langganan Femina, dan tahun 1970-an belum fasih membaca :-)).
Apakah Mas Amang membaca majalah yg sama, atau dari buku aslinya?


message 7: by gieb (new)

gieb | 743 comments soendari soekotjo? aku tahu itu. penyanyi keroncong legendaris.


message 8: by Roos , Moderator (new)

Roos  | 2990 comments Mod
Ho...oh Soendari yang bunder mublak-mublak...favorit Babeku...hehehehe. Tapi suarane mantafffs...
Malah ngobrolin siapa nih?...*bingung sendiri*

Yak, Jadi Amir Hamzah itu suka ma Soendari yah?
*teuteup*


message 9: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 1927 comments Mod
Amang wrote: "Sebenarnya Pakde Nanto nih yang bisa jelasin, kan dia seumuran Amir Hamzah. hehehe... G"

wahahahaha cak nanto sang wikipedia berjalan yah
trus trus kapan puisinya nongol neh *tumben ndak sabaran* hihi


message 10: by Roos , Moderator (new)

Roos  | 2990 comments Mod
Nunggu tambahan material lagi...hehehehe. Mulai tanggal 5, Mia. Biar pada nge-review Sajak-sajak Sepatu-nya Rendra dulu yah.


message 11: by [deleted user] (last edited Apr 02, 2009 02:05AM) (new)

Sebelumnya mungkin baca2 ini dulu. Esai GM soal Amir Hamzah dan keindonesiaan yang baru terbentuk


Melayu
Goenawan Mohamad
Tempo edisi 04/XXXVII/17 - 23 Maret 2008

Begitu banyak salah paham tentang Amir Hamzah. Penyair ini dibunuh dalam sebuah pergolakan sosial di Sumatera Utara pada tahun 1946, tak lama setelah Indonesia diproklamasikan. Kekuasaan Belanda dan Jepang dinyatakan habis, tapi ”negara” dalam republik yang masih beberapa bulan umurnya itu belum tersusun. Mesin kekuasaan belum berjalan ketika euforia ”kerakyatan” meletup di mana-mana. Kata ”Revolusi” (dengan ”R”) diarak. Itu berarti seluruh tata yang lama harus dihancurkan, meskipun tak selalu jelas apa yang akan menggantikannya.

Amir Hamzah adalah anggota keluarga Sultan Langkat. Dengan demikian ia berasal dari kelas feodal, bagian masa lalu yang dibenci, meskipun tak pernah tercatat bahwa Amir—yang menghabiskan waktu mudanya bukan di istana, melainkan di sekolah-sekolah di Jawa—melakukan sesuatu yang tak dapat dimaafkan.

Dunia hanya mengenalnya sebagai seorang yang menulis sajak yang menyentuh hati sampai hari ini. Karya-karyanya adalah serangkaian ekspresi yang merupakan bagian dari ”puisi baru” Indonesia, dan memang demikian. Amir tak ingin sepenuhnya lepas dari ungkapan Melayu klasik, tapi banyak kata bentukannya yang datang dari gramatika Jawa. Dalam sebuah sajak yang indah—gabungan ironi dan kesedihan—ia menyebut diri ”beta, bujang Melayu”, tapi seluruh kumpulan puisinya, Buah Rindu (yang ditulis pada 1928-35), ia persembahkan kepada ”Paduka Indonesia Raya”, selain kepada ”ibu ratu” dan kepada seorang perempuan dengan nama ”Sendari”.

Tampak bahwa Amir Hamzah, seperti teman-teman segenerasinya, S. Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane, yang aktif di sekitar majalah Poedjangga Baroe, melihat diri bagian dari generasi yang didera oleh masa depan. Mereka hendak menciptakan sesuatu yang baru dari sebuah kondisi terjajah, terkebelakang, terhina—sesuatu yang bukan lagi bisa disebut ”Jawa”, ”Melayu”, atau ”Ambon”. Dalam arti itu, Amir Hamzah adalah sebuah fenomen ”pasca-Melayu”. Jika kita perhatikan sajaknya yang terkenal itu, kata ”bujang Melayu” itu memang disebut bukan hendak membanggakan diri. Bahkan sebaliknya: kata itu sejajar dengan frase ”anak Langkat, musyafir lata,” bagian dari bait-bait yang murung:
Kicau murai tiada merdu
Pada beta bujang Melayu
Himbau pungguk tiada merindu
Dalam telingaku seperti dahulu.

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliput dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musyafir lata.

Zaman memang telah berubah. Graham K. Brown, dalam telaahnya yang membandingkan terbentuknya identitas politik di Indonesia dan Malaysia (The Formation and Management of Political Identities: Indonesia and Malaysia Compared), mengutip catatan sejarah: pada masa kesultanan Malaka, ”Melayu” bukanlah identitas sebuah kelompok etnis, melainkan sebuah lapisan elite yang masih berhubungan darah dengan raja. Kitab Sejarah Melayu praktis berarti genealogi para sultan.

Tapi pada 1511 Malaka jatuh diserbu armada Portugis. Keluarga kerajaan melarikan diri ke Johor. Tak ada lagi pemegang hegemoni yang menentukan apa arti ”Melayu”. Kata itu akhirnya menyebar bersama diaspora para pedagang pasca-Malaka. ”Melayu” bukan lagi identitas yang menunjukkan lapisan sosial, melainkan sebuah ”identitas horizontal”. Nama itu jadi penanda dalam pengelompokan sosial yang berbeda-beda tapi setara—terutama dalam pandangan kekuasaan kolonial orang Eropa.

Kolonialisme memang tatapan yang membekukan si terjajah. Kolonialisme adalah garis ruang yang brutal—baik ruang dalam kehidupan sehari-hari maupun ruang dalam lajur daftar penduduk dan kitab hukum. Jakarta yang didirikan sebagai Batavia oleh VOC pada tahun 1650-an berkembang jadi kota yang terbangun oleh apartheid: di satu sisi dibatasi tembok tempat orang Belanda hidup, di sisi lain Ommelanden, tempat yang ”lain” diletakkan.

Dari pemisahan macam ini sang penjajah membangun identitas etnis untuk memudahkan kontrol dan pembagian kerja. Dengan itu juga berlangsung divide et impera. Dalam telaah Brown dikutip keputusan VOC di Cirebon, misalnya, untuk memperkukuh batas etnis agar bisa mengisolasi orang ”peranakan”, keturunan Cina yang semula hidup berbaur sebagai penasihat politik sultan. Dengan itu, kompeni bisa memperlemah posisi kedua-duanya.

Maka tak mengherankan bila pembebasan dari kolonialisme bertaut dengan kehendak melepaskan diri dari tatapan yang membekukan itu. Amir Hamzah dan puisinya adalah bagian dari pembebasan itu: ia tak lagi bisa disebut ”Melayu”. Sejak tahun 1930-an, puisi Indonesia adalah puisi para ”musyafir lata,” para pejalan yang tak punya apa-apa selain kebebasannya dalam menjelajah. Indonesia lahir dari penjelajahan itu.

Sebab itulah nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang mengangkut milik yang diwariskan masa lalu, baik dalam wujud candi maupun ketentuan biologi. Mungkin itu sebabnya ”Indonesia” dan ke-”Indonesia”-an selalu terasa genting, tapi dengan itu justru punya makna yang tak mudah disepelekan.

Baru-baru ini saya dengar cerita sejarawan Taufik Abdullah ketika ia di Mekkah. Di kota suci itu seorang Malaysia bertanya kepadanya apakah ia orang ”Indon”—sebutan yang sering dipakai orang Malaysia untuk menyebut Indonesia. Taufik Abdullah marah. ”Jangan sebut ’Indon’,” katanya, ”tapi ’Indonesia’.”

Ia menjelaskan kenapa ia marah. ”Saya penelaah sejarah. Saya tahu nama ’Indonesia’ diperjuangkan dengan tidak main-main, sejak awal abad ke-20.”

Sungguh tak main-main: berapa puluh, berapa ratus, berapa ribu orang dipenjara dan mati untuk nama itu? Bisakah kita melupakannya? Ada sebuah sajak Rivai Apin pada tahun 1949:
Ingatlah bila angin bangkit
Ingatlah bila angin bangkit
Bahwa daerah yang kita mimpikan
Telah bermayat, banyak bermayat

Sajak itu ditulis tiga tahun setelah Amir Hamzah dibunuh. Tampaknya memang hanya dengan tragedi kita tahu apa yang seharusnya kita hargai.


message 12: by ana (new)

ana (anaazusa) | 572 comments selalu speechless kalo baca tread puisi. asik juga nih lebih mengenal tokoh di balik puisi.

tapi tetep ga sabar menanti puisinya dituliskan....


message 13: by Andri (new)

Andri (ClickAndri) | 665 comments Amir Hamzah. Bu Jumilah... (ridho Allah bagimu ya Ibu)..

ayo buruaaan... gak sabar neh..

-andri-


message 14: by Yani (new)

Yani Mulyani | 49 comments ikutan ya.. rasanya lama bgt ga ikutan baca puisi bareng... ga sabar nih..


Hippo dari Hongkong | 1033 comments umm.. ikut nongkrong

:D


message 16: by Ariyati (new)

Ariyati Lestari (ariyatilestari) | 146 comments new things to learn every day.. tks temans.
bersabar menunggu.. ;)


message 17: by Mel (new)

Mel | 720 comments @andri
jumilah sape?

@erie
tumben nongkrong. gue gak bakal heran kalo si james yg sering nongol di thread ini neh. lol


message 18: by Bunga Mawar (last edited Apr 04, 2009 07:02AM) (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments Walau bukan gerombolan durjana atau jendral-jendril, nanti gw mau nongkrong juga di sini. Udah dapet izin dari sesepuh pertempuran Surabaya Bung Tomo buat ngeramein.

Oh iya, seperti kata Kak Roos, bagian pertama dari puisi ini puanjaaaang... bagian dari rubaiyyat-nya Omar Kayyam sepanjang jalan raya pos
*hiperbola, 7 halaman sebenarnya*

Kak Roos, kayaknya lebih bisa diresapi kalau posting-nya dipotong per halaman aja, ya. Apalagi ada kata-kata ajaib yang sulit ditemukan dalam percakapan sehari-hari di tahun 2009 ini.

Yuk ah, sampai besok!


message 19: by [deleted user] (new)

Vera kan lagi baca bukunya. Bantuin ngetikin dan posting aja gmana? :D

btw, kemana aja, bu guru?


message 20: by Bunga Mawar (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments Lagi sibuk Pak Ronny... ngeberantakin kelas, hehe...

Iya nih, udah ngetik sebagian kok. Mumpung ternyata perpus sekolah punya buku ini. Ntar gantian ama Mas Tomo dan Kak Roos.


message 21: by [deleted user] (last edited Apr 04, 2009 11:52AM) (new)

sebenernya gue ini dateng ga dijemput/diundang, pulang ga dianter! Jailangkung dong, padahal gue zombie lol.
Jadi walau belon izin sama teman2 pengurus thread ini, gue tergoda untuk nyampah :D Moga2 pindaian artikel di bawah ini bisa membantu :D

Abrar Yusra, "Amir Hamzah, Biografi Seorang Penyair", dalam Amir Hamzah 1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair, ed. Abrar Yusra, Jakarta: Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Yassin, 1996, hlm. 17-81.

AMIR HAMZAH, BIOGRAFI SEORANG PENYAlR

ABRAR YUSRA

Hanya pada diri saya, saya ikatkan sengkang, jangan terlalu lekas melompat dari sebuah tempat ke tempat yang lain, dan jangan memakai sebuah kata yang belum resap - sampai artinya - ke dalam tulang sungsum saya.

(Amir Hamzah: Surat kepada Armijn Pane, November 1932).

I

H.B. Jassin dan Zuber Usman menempatkan penyair yang berwajah dan berhati lembut ini sebagai "Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru".(1) Sedangkan bagi Teeuw, "He is, in my opinion, the only pre-war poet in Indonesia whose works reaches international level and is of lasting literary interest."(2) Anthony H. Johns, menyebut Amir Hamzah dalam satu tarikan nafas, yaitu sebagai "Pangeran Melayu, Penyair Indonesia." Atau, bahwa "Ia adalah penyair yang paling berhasil (finest) yang muncul di dunia Melayu di tahun-tahun sebelum perang dunia, dan yang pertama yang sepenuhnya menggali potensi-potensi Bahasa Indonesia untuk menjadi medium bagi ekspresi puitika modern.(3) Malahan, ia tak dapat dilihat hanya sebagai anggota dari suatu kelompok atau angkatan, sebab seolah-olah tumbuh dan menonjol karena dirinya sendiri - tak ada kaitannya dengan suatu kelompok atau kecendrungan: "It is clear that as a poet Amir Hamzah must be considered not as the representative of a school or tendency but as a distinctive and uncompromising individual(4). Studi tentang kepenyairan Amir Hamzah menempatkannya sebagai penyair religius, atau penyair yang sajak-sajaknya sumber inspirasi para penyair sesudahnya. "It is usually thought that Amir's.greatness is due to the religious spirit and ferments which permeat his poetry, especially as expressed in Nyanyi Sunyi (Song of Solitude), as well as his exceptional mastery, neworking and skilled development of Malay language and poeitics." Dan, "His poems, especially those found in Nyanyi Sunyi;, have been a source of inspiration to succeeding writers, including the eminent poet, Chairil Anwar."(5)
Predikat-predikat yang diberikan kepadanya itu menunjukkan bahwa ia salah satu nama besar di dalam sejarah dunia kepenyairan Kesusastraan Indonesia Modern, sekaligus nama besar penyair terakhir sebelum kemerdekaan yang berakar pada tradisi bahasa dan sastra Melayu.
Itu adalah satu hal. Hal lainnya adalah, bahwa kebesaran nya sebagai penyair biasanya dibarengi dengan ironi yang lirih kehidupan pribadinya. Ia mengalami patah hati karena meninggal kan gadis yang dicintainya di Jawa tidak saja karena terpaksa menikah dengan anak pamannya - Sultan Langkat, yang membiayai kuliahnya, akan tetapi juga untuk membatasi gerak dan mengakhiri keterlibatannya yang akrab di dalam lingkungan mod ern dan hang at kalangan seniman dan pergerakan nasional. Demikianlah, meskipun bertentangan dengan kata hatinya sendiri, Amir Hamzah pun kembali pulang, bahkan tanpa menamatkan kuliahnya di Recht Hoge School, masuk makin dalam terpuruk dalam kondisi kehidupan feodal. Dalam kesepiannya seolah-olah tenaga kreatif kepenyairannya yang hangat, nyaring dan kadangkala gemuruh sekaligus sendu dalam percakapan-percakapan diri yang sunyi seolah terhisap juga.

Yang lebih-lebih membuat siapa pun yang mengenal dirinya atau hanya membaca sajak-sajaknya adalah peristiwa kematiannya, yang mulanya dianggap suatu misteri. Setelah suatu gelombang revolusi sosial mengamuk di Sumatra Timur paJa bulan Maret 1946, Amir Hamzah dianggap hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya. Bahkan ketika kerangkanya ditemukan di dalam suatu kuburan massal yang dangkal di Kuala Begumit 10 kilometer dari Binjai, diotopsi lalu dimakamkan kembali di Tanjungpura, diketahui tentang kematiannya yang tragis dari hasil interogasi polisi atas terbunuhnya seorang anggota polisi dalam gelombang revolusi sosial di Langkat: ia dihukum pancung tanpa proses pengadilan di waktu dinihari 20 Maret 1946 sebagai korban kedahsyatan Revolusi Sosial di Sumatra Timur. Namun istri yang amat mencintainya Tengku Putri Kamaliah, sampai meninggalnya tanggal 22 Mei 1961, tidaklah percaya bahwa itu kerangka suaminya.(6)
Ironi nasib, tegasnya bentuk kematiannya yang mengejutkan itu buat sebahagian orang seolah-olah bagian dari kontroversi - kalau bukan misteri - sejarah yang harus disingkapkan. Setidaknya, ada ketidakjelasan tentang kenapa penyairyang berhati lembut itu dipaksa menerima kematiannya. Banyak yang menduga, bahwa kematian penyair ini hanyalah karena ia ditakdirkan lahir sebagai anggota keluarga dari "kaum feodal," atau bahwa itulah "kesalahan" yang tak dapat diubah. Padahal Amir pemah memimpin Kongres Indonesia Muda di Solo(1931), bergaul di lingkungan kaum pergerakan (nasionalis), serta memberikan sumbangan tak ternilai di dunia kesusastraan. Tidaklah mengherankan jika ada yang memandang peristiwa kematiannya sebagai dosa yang harus dipertanggung-jawabkan bangsa ini. "Kami beranggapan kematian penyair Amir Hamzah perlu diselidiki, perlu diteliti, siapa yang seharusnya bertanggungjawab dan siapa yang bersalah dalam pembunuhan terhadap penyair haruslah diadili," tulis Mansur Samin. "Di samping itu kita sudah waktunya pula memperhatikan nilai-nilai historis. Tuduhan tanpa fakta tidaklah dapat dipertanggung-jawabkan."(7)
Kita hanya dapat mengatakan bahwa adakalanya apa yang secara politis dianggap benar di suatu mas a dan tempat justru di saat yang lain dianggap keterlanjuran, kalau bukan suatu dosa. Tapi siapa yang dapat dipandang sebagai bertanggungjawab atas suatu revolusi? Dan bagaimana cara mempertanggungjawabkannya?
Mati sebagai korban suatu revolusi atau tidak, dalam kenyataannya sejarah lamb at laun menegaskan sikapnya terhadap keberadaan Amir Hamzah. Juga praktek dan kenegaraan yang sebegitu lama seolah tidaklah menggubris arti kepenyairannya. Sebab kepenyairan Amir Hamzah, nampaknya juga seakan-akan memiliki konteks yang bersifat politis hanya berhubung sebegitu lama namanya disepelekan, boleh jadi karena dipandang sebagai bagian dari sikap konservatif.
Barulah setelah hancurnya Orde Lama penghargaan kepada jasa Amir Hamzah, dan seiring trend zaman pula, mendapatkan proporsinya. Prakarsa untuk itu dimulai oleh Pangdam I Bukit Barisan, Jendral A. J. Mokoginta, yang pada upacara perbaikan makamnya pada bulan Mei 1967 berkata:
"Bahwa dengan peresmian ini, maka lepaslah utang pemerintah terhadap orang-orang Melayu Langkat yang mana selama ini menganggap pemerintah tidak ada perhatian terhadap makam Amir Hamzah, karena Lekra/PKI anti Amir Hamzah sebagai penyair."(8)
Maka sejak itu di kuburan Amir Hamzah terpahat ukiran dua buah sajaknya. Di sebelah kanan batu nisan, terpahat:

Bunda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh embang cempaka
Adalah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musafir lata


Di sebelah kiri:

Datanglah engkau wahai maut
lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita

Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia.(9)



message 22: by [deleted user] (new)

I lanjutan

Jika semula hanya ada sebuah TK yang diberi nama TK Amir Hamzah yang menunjukkan rasa hormat atas jasa-jasanya, maka Kedubes RI di Kuala Kumpur, Malaysia membangun(10) semacam pusat kebudayaan dengan nama Wisma Amir Hamzah. Dari negara akhirnya pada tahun 1975 Amir Hamzah mendapatkan pengakuan resmi sebagai Pahlawan Nasional.(11)
Pada tanggal 7 Januari 1977 Gubernur DKI Jaya Ali Sadikin meresmikan Mesjid Amir Hamzah, bersamaan dengan penutupan Festival Teater Remaja 1976. Peresmian ditandai dengan penandatanganan inskripsi lalu disusul peletakan al-Quran di mimbar oleh Bang Ali. Lalu dilakukan sembahyang tahyatul mesjid dan sembahyang Jumat dengan khatib Mohammad Natsir. Selesai Jumat, maka Buya HAMKA menyampaikan ceramah "Seni dan Agama."
Pembangunan mesjid di atas tanah 150 meter persegi ini dibiayai Pemda DKI Jakarta Rp 31 juta dengan arsitek muda Ir. Ahmad Nurman Bandung - yang juga membuat arsitektur Mesjid Salman di ITB Bandung - ini untuk memenuhi keperluan shalat masyarakat di TIM dan sekitarnya. Dari 21 nama yang diusulkan maka terpilih nama mesjid, Mesjid Amir Hamzah. Tim penilai adalah H. Ajip Rosidi, Hazil Tanzil, Taufiq Ismail dan Ali Audah Anak tunggal almarhum Amir Hamzah, Nyonya Tahura Amir Hamzah, meneteskan airmata karena terharu:
"Dengan diberinya nama Mesjid Amir Hamzah di kompleks TIM ini, kini Amir Hamzah bukan lagi miliknya pribadi melainkan milik umat Islam Indonesia," demikan kata sambutannya.(12) Dan nampaknya, bukan hanya milik umat Islam Indonesia, melainkan kadangkala sudah menjadi semacam salah satu pusat dinamika masyarakat dan kebudayaan Islam di Indonesia.
Yang menarik dari semua itu adalah bahwa kadangkala kepenyairan seseorang mendatangkan gema suara lingkungannya secara tak tersangka-sangka: karena kepenyairannya, seorang penyair boleh jadi melambangkan sesuatu bagi orang (-orang) lain, karena dianggap mewakili nilai-nilai kalau bukan kepentingan tertentu. Nama Amir Hamzah seperti menciptakan mitosnya sendiri pula, suatu hal yang mungkin tak pernah dibayangkan Amir sendiri.Namanya telah dilihat tidak hanya sebagai prestasi kepenyairan, akan tetapi sebagai lambang kemelayuan, kepahlawanan, bahkan keislaman.
Tulisan ini sedapat-dapatnya akan mencoba memberikan gambaran yang lebih utuh tentang Amir Hamzah, dalam hal ini secara biografis. Dan, tentu saja berusaha merekonstruksi kembali peristiwa kematiannya.(13)


Catatan:
1. H.B.Jassin, Amir Hamzah - Raja Penyair Pujangga Baru, Gunung Agung, Jakarta 1963. Lihat juga Zuber Usman, "Kepudjanggaan dan Ketuhanan," Medan Bahasa edisi April-Mei 1956
2. A. Teeuw, Modern Indonesian Literature, The Hague, Martinus Nijhoff, 1967, hal. 84
3. Anthony H. Johns, Amir Hamzah: Malay prince Indonesian poet, hal 1, pada Pusat Dokumentasi H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
4. Anthony H. Johns, "Genesis of A Modern Literature," dalam Indonesia, kumpulan karangan dengan editor Ruth Mc. Vey, New Haven, Yale University 1967, hal 422
5. Salleh Yaapar, "Mysticism & Poetry: A Hermeneutical Rading of The Poems of Amir Hamzah. ", Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, 1995.
6. N.H. Dini Amir Hamzah, Pangeran dari Seberang, Gaya Favorit Press, Jakarta 1981, hal 160
Saidy Husny, "Cinta Amir Hamzah Membawa Maut (1)" dalam Harian Abadi, Selasa 9 September 1969, halaman 2.
7. Mansur Samin, "AMIR HAMZAH Penyair Sendu yang Telah Gugur:" Mingguan INDONESIA RAYA, 30 Maret 1969
8 . Majalah Selecta No.30l/26 Juni 1967, "Pemasangan Batu Nisan aim. Penyair Amir Hamzah"
9. Ibid
10. Harian Kompas, 26 Mei 1971.
11. N.H. Dini, Ibid, hal 183. Juga dalam Awaluddin Ahmad, "Surat kepada Bapak Gubernur," Harian Waspada, Medan, edisi Minggu 27 April 1980.
12. Harian Pelita, edisi 8 Januari 1977.
13. Nara sumber: Berbagai tulisan yang terkumpul di Pusat Dokumentasi Sastra H.B.Jassin - Taman Ismail Marzuki, Jakarta - yang diperlakukan secara kritis sekali. Juga wawancara dengan Dr. Mr. T. H.Moehamad Hasan.



message 23: by [deleted user] (new)

II
Di awal abad ke-20 terdapat kurang lebih 250 kerajaan di luar Jawa di dalam lingkungan yang sekarang bernama Indonesia. Sedangkan 25 di antaranya di Sumatra Timur, sebutlah Kesultanan Deli, Serdang dan Langkat, yang merupakan kerajaan-kerajaan Melayu yang bersambung ke selatan seperti Siak Sri Indrapura dan Rokan di Riau, sedangkan yang terkaya adalah kerajaan Langkat.
Amir Hamzah dilahirkan pada tanggal 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara. Menurut ranji keluarga istana Kesultanan Langkat, Amir Hamzah adalah generasi ke sepuluh Sultan Langkat.(14) Dengan demikian ia adalah salah seorang pewaris tahta kerajaan Melayu, jelasnya Kesultanan Langkat.
Adapun Sultan Langkat - yakin Sultan Machmud (memerintah 1927-1941) - yang berkedudukan di ibukota Tanjung Pura adalah pamannya. Sedangkan ayahnya, Tengku Muhammad Adil - saudara dari Sultan Machmud adalah Pangeran (Raja Muda atau Wakil Sultan) untuk Luhak Langkat Hulu berkedudukan di Binjai. Sebagai pangeran ia bergelar Datuk Paduka Raja.(15)
Ayahnya mempunyai tiga istri dan anak-anak 20 orang. Istru tua T. Bahara, sedangkan ibu Amir Hamzah adalah T. Mahjiwa. Amir Hamzah sesaudara berjumlah 12 orang (tiga perempuan dan sembilan laki-laki).(16)
Menurut Saidy Husni, ia diberi nama Amir Hamzah atas keinginan ayahnya yang amat mengagumi Hikayat Amir Hamzah.(17)
Penduduk Tanjungpura kebanyakan datang dari Siak, Kedah, Selangor, Petani dan dari beberapa daerah di tanah Malaysia. Maka dapatlah dibayangkan bahwa Amir Hamzah tumbuh dan besar di lingkungan tradisi budaya Melayu yang kental. Jadi Amir Hamzah hidup dalam lingkungan bahasa Melayu, termasuk tradisi sastranya, sehingga sudah menjadi darah daging baginya.(18)
Seperti juga di lingkungan keluarga istana Melayu lainnya ayahnya seringkali menyelenggarakan acara pembacaan hikayat - yang biasanya terdiri dari rangkaian syair yang panjang.(19) Ahlinya didatangkan untuk membacakan hikayat semalam suntuk. Misalnya Hikayat Hang Tuah, Sejarah Melayu, dan lain sebagainya. Selain itu ayahnya dikenal sebagai salah seorang ahli sastra istana Langkat juga, yang memiliki perpustakaan pribadi.
"Ayahandanya seorang penggemar sejarah dan sastra Melayu, seperti kebanyakan orang-orang tua yang ada di masa itu. Dalam perkumpulan yang diadakan seringkali pada malam hari orang membaca hikayat-hikayat dari Melayu Lama dan syair-syair seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat. Ali Hanafiah, Bustanu'ssalatin, dan sebagainya. Yang teramat disukainya ialah cerita nabi-nabi (Qisasul Anbia) dalam bahasa Melayu. Kadang-kadang disuruhnya anaknya membaca hikayat-hikayat itu di hadapannya. Amir Hamzah mendengarkan orang-orang tua bercakap-cakap tentang sejarah negerinya, adat istiadat dan kesusasteraan."(20)

***
Di lingkungan pergaulannya di masa kecil Tengku Amir Hamzah biasanya dipanggil Tengku Busu, artinya Tengku yang bungsu. Dikira ia anak yang bungsu.
Sesungguhnya terlalu sedikit yang diketahui tentang masa kecilnya. Seorang temannya dari masa kecil ini, Saidi Hoesny, melukiskan Amir Hamzah sebagai anak laki-laki yang "cantik" parasnya, "tubuhnya semampai, kulit kuning langsat, lehernya jenjang," perkataannya selalu lemah lembut. Pokoknya ia anak manis kesayangan semua orang.(21)
Tatkala berumur lima, Amir Hamzah dimasukkan di 'Langkatsche School di Tanjung Pura" (tahun 1916), "yang pada tahun 1919 dijadikan HIS. Guru-gurunya semuanya bangsa Belanda. Guru Kepalanya Tuan J.F. Hensius. Hanya seorang guru Melayu, yaitu Baginda Raja Sojuangon untuk 'Maleische taal' - ia kemudian jadi School Opziner di Langsa, Aceh Timur.(22) Sekolah ini didirikan oleh Sultan Abdul Azis (ayahnya Sultan Machmud) pada tahun 1906(23) karena Belanda konon tak mampu membiayainya.(24) Semula sekolah ini hanya berupa Sekolah Desa tiga tahun, lalu dirubah menjadi Sekolah Melayu (lima tahun), dan terakhir dijadikan Langkatsche School (tujuh tahun).(25)
Pada "petang harinya kami sama-sama mengaji di Maktab Putih, yaitu sebuah rumah besar (kini telah runtuh.), bekas istana Sultan Musa, yang terdiri di tengah-tengah Sungai Mati - di Kampung Dalam, di belakang Mesjid Azizi - yang juga dibangun oleh Sultan Azis tahun 1902, di Tanjung Pura. Baik di sekolah, maupun di Maktab, Amir Hamzah murid yang terpandai dan terbagus akhlaknya. Guru J.F. Hensius dan pemimpin Maktab Ayekh Haji Muhammad Ziadah, selalu menyadarkan kami murit-murid yang 'bengal' agar mencontoh-teladani Amir Hamzah," lanjut Saidy Hoesni. "Apakah kami anak-anak yang nakal ini bertengkar dan bertumbuh, maka Amirlah yang selalu menjadi juru damainya."(26)
Dengan masuk HIS maka sejak kecil Amir Hamzah sudah terbiasa atau dibinasakan untuk bercakap dan bertukar pikiran dengan bahasa Belanda. Mengingat ia keluarga Sultan Langkat, kita hanya dapat menduga-duga kenapa ia dimasukkan ke sekolah Belanda yang disiplinnya amat keras. Padahal konon di masa itu banyak keluarga bangsawan yang tidaklah begitu memandang penting nilai pendidikan, sebab tanpa sekolah pun mereka bisa hidup senang berfoya-foya. Boleh jadi karena keluarga istana Langkat menaruh harapan bahwa di masa depan ia dipandang potensial untuk memikul tugas-tugas berat kerajaan.
Kesultanan Langkat amat tergantung pada maskapai perkebunan tembakau dan tambang minyak bumi di Pangkalan Berandan.(28) Sektor ekonomi modern ini telah menempatkan Kerajaan Langkat sebagai salah satu kerajaan Melayu terkaya, yang harus dipelihara atau dikembangkan bersama atau di bawah pengayoman Pemerintah Hindia Belanda. Semangat Amir yang kuat untuk belajar di sekolah Belanda tentunya menggembirakan keluarga Sultan. Sebagai anak bangsawan pengasa Langkat tentunya kelak ia diharapkan ia akan menjadi petinggi atau pendamping Sultan yang akan memainkan peranan penting berhadapan dengan para penanam modal di satu pihak, dan pemerintah Hindia Belanda di pihak lain.
Namun suatu kecenderungan yang "lain" mulai terlihat pada Amir tatkala masih siswa HIS. Meskipun ia dibinasakan berbahasa Belanda namun minatnya terhadap sastra dan bahasa Melayu sudah mencuat diam-diam. Ketika ia tamat HIS, Amir Hamzah sudah memiliki koleksi buku sendiri di kamarnya al. karya-karya Abdullah Munsyi, Sejarah Melayu Tun Sri Lanang, Hikayat Panca Tanderan, Syair Siti Zubaidah, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Amir Hamzah dan riwayat Nabi-Nabi. Konon ia pun serius mempelajari pantun. Dan tak jarang ia belajar pada orang tua-tua.
"Sebagai yang kukatakan, Amir selalu menanyai orang tua-tua tentang pantun-pantun Melayu Lama. Maka pantun yang terurai di atas, kemudian kuketahui, diperolehnya dari datukku (kakekku) T. Sri Indah, yang tatkala itu telah berumur 80 tahun."(29)
Setelah HIS di Tanjung Pura tahun 1924 sejenak Amir pulang ke rumah ayahnya di Binjai. Lalu ia melanjutkan sekolahnya di Christelijk MULO di Medan, hanya kelas I.

Catatan:
14. Ranji keluarga Sultan Langkat ini dimuat dalam rubric seni budaya pada Indonesia Raya Minggu, edisi 30 Maret 1969.
15. Musa, "Asal usul keturunan Amir Hamzah," dalam seri Bara Api Kesusastraan Indonesia. Catatan-catatan tentang Amir Hamzah. Diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Kem. PP & K Yogyakarta, tanpa tahun.
16. N.H. Dini, Ibid, hal. 11.
17. Saidi Hoesny, Ibid/
18. Ibid.
19. Bandingkan dengan Asrul Sani, "Three Village Sketches from Sumatra," di dimuat dalam supplement Majalah Atlantic, di bawah judul Prespective of Indonesia (Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin).
20. Musa, Ibid.
21. Saidi Hoesny, Ibid.
22. Ibid.
23. Anthony Reid, Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera, Sinar Harapan, Jakarta 1987, hal. 115.
24. S. Hoesny, Ibid.
25. Anthony Reid, Ibid, hal. 115. Dengan penjelasan ini keraguan H.B. Jassin tentang terlalu lamanya ia bersekolah terjelaskan (H.B.Jassin, Ibid hal 5)
26. Saidi Hoesny, Ibid
27. Anthony Reid, Ibid
28. Ibid
29. Saidi Hoesny, Ibid



message 24: by [deleted user] (new)

Abrar Yusra, "Amir Hamzah, Biografi Seorang Penyair", dalam Amir Hamzah 1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair, ed. Abrar Yusra, Jakarta: Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Yassin, 1996, hlm. 17-81.

III

Tatkala naik di kelas II Christelijk MULO di Medan ia mendesak ayahnya agar disekolahkan ke Jakarta. Ayahnya langsung memenuhi permintaan anaknya ini. Agaknya karena senang Amir Hamzah rajin belajar dan mencintai sastra Melayu. Tapi juga karena pertimbangan masa depannya yang lebih baik kelak sebagai penyangga kesultanan Langkat.
Maka ia ditarik dari Christelijk MULO Medan, diantarkan dengan mobil sedan ayahnya ke pelabuhan Belawan, Medan. Tiga hari ia bersama kedua orang tuanya menumpang di rumah seorang anggota famili di kota Medan. Kemudian Amir diantarkan ke pelabuhan Belawan, dinaikkan ke kapal Plancius, sebagai penumpang kelas II, sehingga ayahnya sendiri heran kenapa ia tidak minta kelas I. Dari Belawan Amir menempuh trayek pelayaran biasa di zaman itu. Kapal bergerak dan singgah di Singapura dan dari Singapura baru menuju Jakarta.(30)
Di Jakarta, Amir melanjutkan pendidikannya di bangku kelas 2 dan 3 di Christelijk MULO Menjangan, yang ditamatkannya tahun 1927.(31)
Masa Amir Hamzah menamatkan Christelijk MULOnya di Batavia tidaklah banyak yang diketahui Namun A. H. Johns melihat arti tertentu periode ini pada Amir Hamzah:
"Ia merantau untuk bersekolah di Jawa ketika berumur 14, tahun 1923, dan tidak pulang-pulang sampai tahun 1937. Demikianlah ia melewati bagian terbesar tahun-tahun pembentukan kepribadiannya, dan menulis semua sajaknya yang signifikan di tempat yang jauh dari lingkungan Melayu Di Jakarta ia memasuki MULO Kristen. Di sana ia tidak hanya menerima semacam pendidikan Belanda, namun menyerap sesuatu dari gagasan-gagasan dan nilai-nilai Kristen. ….He had, in fact, as catholic an education as was open to an Indonesian during this period."(32)
Memang di Christelijk MULO biasanya diajarkan juga agama Kristen, di mana anak-anak yang beragama Islam boleh tapi tak diharuskan mengikutinya. Juga diberikan cerita-cerita yang bersumber dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, di samping lagu-lagu gereja.
Dua sajak Amir Hamzah nantinya, PadaMu Jua dan Karena Kasihmu, dipandang H.B.Jassin, sebagai dialog penyairnya kepada Tuhan yang mengingatkannya akan konsepsi Kristen.(34)

***

Hanya dicatat bahwa setamat Christelijk MULO, dari Betawi Amir lalu naik kereta api ke Solo. Selanjutnya ia mendaftar dan diterima sebagai siswa AMS (Aglemeene Middelbare School) Solo, Jurusan Sastra Timur.Niscaya di ibukota kerajaan Jawani inilah Amir Hamzah tumbuh dan berkembang ke segala dimensi, yang kemudian dimantapkan oleh pengalaman dan lingkungan selanjutnya di Batavia.

Catatan:
30. N.H. Dini, Ibid, hal. 25-27.
31. Rokyoto dan Dar Kelana Putra, Ibid, hal. 89. Bandingkan dengan (a) S. Hoesny, Ibid. Juga dengan(b) A. Teew. Dan (c) H.B. Jassin, Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru, hal 5)
32. A.H. Johns, Amir Hamzah: Malay Prince, Indonesian Poet, hal 2
33. Bandingkan dengan Abrar Yusra, Komat Kamit (biografi) Selo Soemardjan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1995, hal 31.
34. H.B.Jassin, Ibid, hal 30



message 25: by [deleted user] (new)

Abrar Yusra, "Amir Hamzah, Biografi Seorang Penyair", dalam Amir Hamzah 1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair, ed. Abrar Yusra, Jakarta: Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Yassin, 1996, hlm. 17-81.

IV

Sebagai remaja tanggung berumur 17 tahun, Amir memasuki AMS Solo pada tahun 1927.
Di kota Solo, mulanya Amir Hamzah mondok di asrama. Tepatnya di kompleks perumahan kediaman KRT Wreksodiningrat, di samping keraton Sunan Paku Buwono. Kemudian atas petunjuk seorang teman dari AMS Yogya, Banu Iskandar - yang dikenalnya ketika pulang ke Solo - ia pindah mondok di rumah RT Sutijo Hadinegoro di Nggabelen. Salah seorang teman akrabnya di kota ini adalah Hapsoro, yang turunan ningrat Solo.(35)
"Di antara teman-teman sekolahnya dan guru-gurunya ia terkenal sebagai 'de eenvodige maar vrolijke Amir', "demikian teman sekelasnya Achdiat K. Mihardja menulis di dalam Amir Hamzah Dalam Kenangan: "Memang di samping riang, sederhana itu adalah salah satu sifat Amir yang baik."(36)
Ia siswa yang amat berdisiplin. Tak pernah bolos, misalnya. Bahkan "disiplin dan ketertiban itu nampak pula dari keadaan kamarnya. Segalanya serba beres, buku-bukunya rapih tersusun di atas rak, pakaiannya tidak bergantung di mana saja, dan sprei tempat tidurnya pun licin tidak kerisit kisut. Persis seperti kamar seorang gadis remaja," tulis Achdiat.
Pada suatu kesempatan menjelang ujian, Achdiat mendatangi rumah Amir Hamzah. "Semua teman tahu, bahwa di antara kami hanya diktat Amir yang komplit dan baik terpelihara, oleh karena itu kami tahu, bahwa satu-satunya murid di kelas kami - barangkali di seluruh sekolah kami, atau mungkin juga di seluruh sekolah-sekolah menengah, di mana anak-anak yang sudah dewasa lebih banyak godaan untuk bolos - bahwa satu-satunya murid di kelas kami ialah Amir yang berprinsip tidak mau bolos. Ditambah lagi badannya tidak pernah sakit. Jadi ditilik dari sudut bolos pun, Amir itu adalah anak yang berdisiplin, jadi bukan saja dalam hal menetapi perintah-perintah agamanya."(37) Cara berpakaiannya begitu khas, katakanlah begitu konservatif. Sebab, pakaiannya selalu "hanya jas tutup dan pantaloon yang melecut ke ujung seperti sarang bedil bumom dari katun biasa. Amir tidak pernah menjadi 'boneka mode' seperti teman-temannya, dan seperti biasanya manusia pada usia yang sedang menginjak masa kebirahian seperti dia. Tiga tahun lamanya papan tulis di muka kelas melihat Amir di dalam jas tutup dan pantaloon runcingnya yang terlalu tinggi itu."
Pada hari libur, Amir pulang ke Sumatra Timur.(38) Jadi tak benar bahwa Amir tak pernah pulang kampung, seperti yang ditulis A. H. Johns, yang mengira setelah merantau ke Jawa sebagai siswa Christelijk MULO di Jakarta, Amir baru pulang 14 tahun kemudian, tahun 1937.(39)

***

Semasa di Solo minat kesusasteraan dan obsesi kepenyairan Amir yang boleh jadi sudah bertunas dan bersifat tradisional Melayu di Tanjung Pura, di kota ini mendapatkan dinamika serta orientasi yang luas.
Semasa di AMS Solo inilah Amir menulis sebagian besar sajak-sajak pertamanya, yang oleh Bohang disebut sebagai sajak-sajak "periode Solo." Suatu periode yang melahirkan kumpulan Buah Rindu, yang dipandang Ajip Rosidi sebagai masa-masa "latihan" kepenyairannya. "Rupanya Amir sendiri menganggap Buah Rindu hanya sebagai latihan untuk kemudian menulis Nyanyi Sunyi," tulis Ajip. "Sebagai puisi Nyanyi Sunyi sudah matang, sedangkan Buah Rindu adalah percobaan-percobaan pertama Amir menulis sajak."
Suatu periode, di mana seorang penyair menemui berbagai benturan bahkan kegagalan, sebelum menemukan bahasa pengucapan yang matang sebagai penyair. Dengan demikian pada umumnya kritisi seperti A.H. John, misalnya, memandang sajak-sajak dalam Buah Rindu memang belumlah menunjukkan kualitas sajak-sajak dalam Nyanyi Sunyi.(41)
Salah satu hal yang penting di Solo, tentulah terbentuknya hubungan pribadi yang erat antara Amir Hamzah dan Armijn Pane. Juga dengan Achdiat Karta Mihardja, karena sama-sama siswa AMS Solo. Sebab di Solo mereka bertemu dengan teman sekelas, sebagai anggota-anggota organisasi pemuda nasionalis Indonesia Muda dan kelak masing-masingnya sama-sama memiliki tempat dan kelas tersendiri dalam sejarah kesusasteraan Indonesia modern. Amir sudah menulis sajak-sajak yang kemudian dihimpun dalam Buah Rindu. Sedangkan Armijn sudah menulis karya sastra tahap pertama. Achdiat sendiri, nampaknya belumlah intensif mencemplungkan diri ke dalam dunia sastra - agaknya karena masih belum menyatu dengan pengucapan Bahasa Indonesia, hal yang dapat dimaklumi karena saat itu bahasa ini baru dua tahun diresmikan sebagai bahasa nasional.
Kita pun dapat mengenali sosok penampilannya sebagai siswa AMS serta perilaku sehari-harinya. Juga dinamika perkembangannya dalam berbagai dimensi, misalnya kesadarannya akan perjuangan pemuda dan pergaulannya dengan dan tokoh-tokoh pergerakan - yang banyak sedikitnya mencerminkan kesadaran dan pergaulan politiknya yang bertolak dari jiwa nasionalisme yang pada gilirannya mencari bentuk dan pengabdian di dalam bahasa, dalam hal ini bahasa Indonesia, terutama dedikasinya sebagai penyair! Dorongan-dorongan itu menjadi hangat bagi Amir sebagai anak muda, siswa AMS lagi, pun dibakar oleh api nasionalisme karena keakrabannya dengan gerakan pemuda dan tokoh-tokoh pergerakan di Solo. Bahwa nampaknya periode AMS di Solo amat menentukan posisi kepenyairan Amir Hamzah yang berkaitan dengan proses pembentukan dan pematangan dirinya sebagai manusia. Sederhananya, periode Solo yang dimatangkan dengan periode Batavia sesudahnya, adalah masa yang paling intensif dan paling kompleks dalam hidupnya sebagai manusia dan penyair.
Salah satu hal yang karakteristik Amir Hamzah adalah bahwa sajak-sajaknya seakan-akan identik (sama sebangun) dengan jalan hidupnya. Sebab sajak-sajak Amir Hamzah sepertinya secara langsung mencerminkan fakta-fakta empirisnya, renungan, perasaan, pergulatan dan pencapaiannya di dunia konkret sebagai manusia.
Demikianlah apabila kita mengikuti ulasan-ulasan tentang sajak-sajaknya, tak dapat dihindari kesan bahwa seolah-olah orang tak bisa membicarakan sajak-sajaknya tanpa mengaitkan dengan jalan hidupnya. Atau sebaliknya - di mana mata rantai jalan hidupnya yang tak dikenal atau hilang sebagai manusia justru dicari penjelasannya di dalam sajak-sajaknya. Karena itu seperti yang dilihat Ajip Rosidi dapat dipahami kenapa Dada Meuraxa keliru menyimpulkan, bahwa sajak Buah Rindu II yang menyeru "Datanglah Engkau, Wahai Maut", ditulis Amir Hamzah di dalam tahanan, beberapa jam jam sebelum ia dibunuh tahun 1946.(42)
Pada pihak lain boleh jadi menimbulkan pertanyaan yang kedengarannya mengada-ada, apakah mungkin bagi kita membayangkan Amir Hamzah menjadi penyair tanpa pengalaman-pengalaman yang dilaluinya di Solo - termasuk jatuh cinta pada seorang gadis Jawa dan patah hati? Di sini hanya hendak dikemukakan, bahwa adakalanya sajak-sajaknya seperti berbicara tentang fakta biografisnya secara telanjang - meskipun dalam kemasan bahasa Amir yang merdu. Tapi tidaklah cukup dan adakalanya menyesatkan apabila kita memperlakukan sajak-sajaknya sebagai referensi jalan hidupnya sebagai manusia.




message 26: by [deleted user] (new)

IV lanjutan

***

Bahwa Amir Hamzah berbakat seni, pertama kali dikenal lingkungannya di AMS Solo, bersamaan dengan mengenal bakat sutradara dan penulis naskahnya, Armijn Pane. Saat itu diselenggarakan sebuah pertunjukan sandiwara di gedung Schouwburg Solo. Amir Hamzah memerankah tokoh Syamsulbahri dalam cerita Siti Nurbaya karya Marah Rusli, yang disusun oleh Armijn Pane untuk dipanggungkan.
"Sungguh mengagumkan permainan Amir itu! Bahkan lebih-lebih lagi mengagumkan, oleh karena ia sering hanyut dalam inspirasi, sehingga teksnya itu tidak mencukupi lagi. Dan itu tidak merugikan, malah menguntungkan, baik untuk pertunjukan umumnya, maupun untuk permainan Amir khususnya," komentar Achdiat K. Mihardja. "Tapi mungkin oleh karena pada zaman itu, kesenian itu pada umumnya belum mendapat perhatian dan penghargaan yang sepatutnya dari masyarakat, maka bakat istimewa dari Amir itu pun seakan-akan tidak berkesan apa-apa dalam masyarakat kita. Perhatian pada masa itu terlalu ditujukan pada soal-soal lain, terutama kepada soal politik, keagamaan, sosial dan lain-lain."(43)
Menurut L.K. Bohang, Amir sudah menulis sajak sejak ia siswa Christelijk MULO di Batavia. Ia juga menulis sajak ketika masih duduk di AMS Solo. Tapi publikasi pertama sajak-sajaknya justru baru sesudahnya, dalam majalah Timboel, Solo. Rekannya di AMS, Achdiat Karta Mihardja, kaget ketika pertama kali mengetahui bahwa Amir menulis sajak. Itu ketika pada suatu hari Achdiat K. Mihardja mengunjungi Amir di rumah pondokannya dan disuruh menunggu sebentar sebab Amir mau sembahyang Asar untuk mengisi waktu Amir menyodorkan sebuah buku tulis berisi sajak-sajak yang ditulisnya sendiri.
Amir kurang begitu campur dengan kawan-kawan sekolahnya, boleh dibilang seorang anak penyendiri, walaupun itu tidak berarti bahwa ia "mensensehuw," segan atau takut bergaul dengan sesama makhluk. Malah dalam pergaulan ia sangat "aangenaam"," tulis Achdiat. "Hanya ia kurang terbuka pada kawan-kawannya, dan rupanya ia mempunyai kesenangan-kesenangan yang semata-mata khas untuk dirinya sendiri saja. Dan sekarang nyata di antara kesenangannya itu ialah bersunyi-sunyi mencipta sajak-sajak."(44)
Yang segera merangsang Achdiat pada sajak-sajak itu adalah bahwa sajak-sajak Amir Hamzah dibuat dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja demikian, apabila diingat bahwa di zaman itu belum banyak pemuda terpelajar yang menyair dalam bahasa Indonesia. Kalau pun ada, biasanya dalam bahasa Belanda. Atau justru bahasa daerah. Dewasa itu Bahasa Indonesia yang berdasarkan bahasa Melayu baru saja dijadikan "bahasa persatuan." Seingat Achdiat, "hanya sekali-kali kita berjumpa dengan sajak-sajak Indonesia di dalam majalah Indonesia Muda atau Timboel yang setengah berbahasa Belanda, setengah lagi berbahasa Indonesia. Pujangga-pujangga yang terkenal baru Sanusi Pane, Yamin. … Yang lain-lain belum bisa melepaskan dirinya dari belenggu bahasa Belanda, atau bila bisa, mereka lari ke bahasa daerahnya. Bahasa Indonesia belum menjadi bahasanya sendiri dalam arti yang bisa superlatif seperti sekarang. Kalah sama bahasa Belanda atau bahasa daerah."(45)
Lalu, kenapa Amir menulis dalam bahasa Indonesia atau boleh jadi bahasa Melayu - yang menjadi dasar bahasa Indonesia? Jawaban spontan Amir pada rekannya itu adalah, "Habis dalam bahasa apa aku harus berlagu?" Sehingga Achdiat menyimpulkan, bahwa: "Sebetulnya tak usahlah kita heran, bahwa Amir dan Armijn lebih dulu membinasakan dirinya mempergunakan bahasa Indonesia, oleh karena bagi anak-anak Sumatra bahasa Indonesia itu tidak begitu asing seperti misalnya bagi anak-anak dari Jawa atau Sunda."(46)
Dengan perkataan lain, jika bagi kebanyakan kaum terpelajar yang bukan orang-Melayu, bahasa Indonesia adalah bahasa yang relatif baru, tetapi bagi Amir Hamzah justru merupakan "bahasa daerah"nya sendiri! Tapi yang amat dicintainya. Dalam menunjukkan kecintaannya terhadap "bahasa Melayu" ini justru karena "moleknya": "Engkau kudengar telah menjadi Guru sekarang, apakah yang kauajarkan? Bahasa Melayu tentu, baik-baik Pane, jangan kau lipu-lipukan bahasa yang semolek itu."(47)
Tapi ada faktor lain, guru mereka. Pada suatu hari ketika guru bahasa Belanda sedang menguraikan kesusasteraan Belanda, salah seorang anak bertanya, "Tuan, kenapa tuan tidak pernah menyebut-nyebut nama Notosuroto? Bukankah pujangga Jawa itu banyak juga membikin sajak-sajak dalam bahasa Belanda?"
Sahut guru itu, "Memang, tapi kalau saya dia, saya tidak akan menyair dalam bahasa asing. Noto Soeroto akan lebih berjasa untuk bangsanya, kalau ia membikin sajak-sajak dalam bahasanya sendiri." Achdiat berkesimpulan bahwa betapa pun bagusnya sajak-sajak Noto Soeroto dalam bahasa Belanda namun ia tidak digubris, "Dengan cara kasar, pikirku, Notosuroto dengan "De geur van Meeders haarwrong" dan "Fluisteringen van der Avoindwind"nya itu dianggap sepi dalam sejarah kesusasteraan Belanda. Padahal menurut anggapan saya sendiri, sajaknya itu sangat bagus. Ras diskriminatis dalam kesenian?" Namun terhadap Amir Hamzah, kesimpulannya lain: "Amir rasanya takkan seperti Notosuroto, Amir rupanya tidak mau menjadi Noto Soeroto, orang Jawa yang begitu serius menulis sajak-sajaknya dalam bahasa Belanda namun tidak digubris oleh dunia sastra Belanda sendiri. Sajak-sajak bahasa Belanda Notosuroto seolah-olah "tidak mempunyai tempat tertentu, di tepi Rijn tidak, di kaki Merapi pun tidak."(48)
Dan seperti yang diduga siapa pun, dorongan lain yang memicu Amir menulis sajak dalam Bahasa Indonesia tentulah rasa nasionalisme atau kesadaran kebangsaan, yang hawanya juga hangat di kota Solo.

***

Adalah keliru apabila membayangkan bahwa kota Surakarta dewasa itu sebuah kota yang statis. Ia adalah sumber dinamika politik modern (nasionalisme Jawa), (49) yang memicu Pergerakan Kebangsaan menuju Indonesia Merdeka, meskipun tatkala Amir Hamzah berada di sana sedang dalam periode pasang surut perjuangan "revolusioner" akibat dari pemberontakan komunis tahun 1927. Dewasa itu mulai berjalan pemerintahan tangan besi pemerintahan Hindia Belanda, di mana tokoh-tokoh pejuang nasionalis dan pelaku-pelaku pemberontakan komunis dibuang ke Digul, sementara kaki tangan PID bergentayangan di mana-mana. Di Surakarta sendiri pada tahun 1927, "paling sedikit 700 penangkapan dengan 48 individu dikirim ke Boven Digul dan banyak lainnya yang dihukum."(50) Pada pihak lain pada tahun itu pulalah Ir. Soekarno membentuk Partai asional Indonesia (PNI).
Secara psiko-politis Solo dewasa itu memang bukanlah kota yang adem ayem. Untuk memberikan sekedar ilustrasi, di sinilah lahirnya pada tahun 1912 partai politik pertama, Serikat Islam (SI),(51) tapi juga gerakan komunis H. Misbach. Di sinilah Magoenatmodjo, murid H. Misbach mendirikan organisasi Islam Abangan, yang kemudian menjadi SI Merah, September 1919 - yang anggotanya pada bulan Mei 1920 sudah 12.000 orang. Pada tahun 1919 terjadi pemgokan buruh perkebunan, yang konon didalangi oleh M. Misbach dan dr. Tjipto (Insulinde). Di Solo inilah, 15 Oktober 1920, Soewardi Soerjaningrat dalam rapat akbar (tepat di hari pembebasan Douwwes Dekker di Semarang) mengumandangkan tujuan perjuangan (fusi NIP dan SI) "perebutan kembali kekuasaan politik di tanah air kita ini yang sekarang masih berada di tangan bangsa asing…." Dan H.O.S. Tjokroaminoto dalam pidatonya di hadapan massa menyatakan, "segala perjuangan kita harus ditujukan kepada kemerdekaan negeri kita dan bangsa kita." Bahkan Surakarta dinyatakan dalam keadaan darurat. Tjipto dihukum harus meninggalkan Jawa Tengah.(52)



message 27: by Bunga Mawar (last edited Apr 04, 2009 10:06AM) (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments Waaaks, zombie udah bangun! Brutal pula!
Yak, sambil menyalip Kak Roos dan Bung Tomo yang mungkin baru pulang dugem, langsung saja kita kaji bagian pertama Setanggi Timur, empat dari tujuh halaman karya Omar Kayyam, "Ajam"


message 28: by [deleted user] (new)

IV lanjutan

Sejak zaman Pergerakan Kebangsaan, sampai meninggalnya Paku Buwono X Kesunanan Solo amat aktif dalam pergerakan kebangsaan. Ia digantikan oleh putra keduanya. "Keputusan itu sangat dipengaruhi oleh kenyataan bahwa sebahagian dari istana Surakarta telah mendukung secara aktif pergerakan kebangsaan selama tiga dekade, … Pada masa Revolusi (Kemerdekaan) beberapa di antara kelompok terkemuka dari kelompok ini muncul sebagai "aristokrat revolusioner". Salah satu diantaranya, sarjana hukum muda yang seharusnya menjadi Putera Mahkota, Mr. B.P.H. Sumodiningrat, mengepalai organisasi yang merebut kekuasaan dari pemerintah militer Jepang dan memulai gerakan anti istana di Surakarta. Berbaliknya kejadian aneh dan tragis ini telah menghapus sumbangan beberapa dekade yang diberikan oleh istana Solo kepada pergerakan kebangsaan."(53)
Semangan pergerakan nasional dan iklimnya di kota Solo tentu saja mempengaruhi anak-anak muda dan kaum terpelajar di sana, termasuk siswa-siswa AMS.
Di mata Achdiat K. Mihardja, siswa-siswa AMS Solo dewasa itu dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu "yang satu suka pada berfoya-foya dan dansa-dansi, sedang yang satu lagi ialah golongan yang lebih bersungguh-sungguh". Dan Amir, bukan saja termasuk golongan kedua, bahkan "teramat berani" untuk situasi dewasa itu.
Golongan "yang bersungguh-sungguh" terbagi-bagi lagi dalam aliran-aliran lain, ialah yang cenderung ke arah kebangsaan dan aliran-aliran yang membawa cita-cita keagamaan, seperti Jong Islamieten Bond(54) dan Mude Kristen Jawi - organisasi pemuda Kristen Jawa..Namun, "Aliran yang cenderung ke arah pergerakan kebangsaan (termasuk kepanduan), aliran yang paling besar pengaruhnya di kalangan pemuda sekolah menengah. Memang semangat kebangsaan dan semangat kesatuan pada masa itu sangat meluap-luap. Semangat provinsialisme sudah tidak diampuni lagi, sebab perkumpulan pemuda kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, bau saja digabungkan dalam satu fusi Indonesia Muda. Juga kepanduan kemudian dilebur menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia."(55)
Siswa-siswa AMS Solo berbahagia karena mereka memiliki guru-guru Belanda yang berjiwa liberal.
"Semangat kebangsaan yang meluap-luap itu kadang-kadang terbayang juga di dalam kelas, terutama sekali dalam pelajaran mengarang atau bercakap. Dalam jam bercakap, kelas kadang-kadang merupakan sebuah parlemen di mana murid-murid bisa mengemukakan pikirannya dengan bebas. Dalam kebebasan itu terlihat betapa tebalnya perasaan kebangsaan yang ada terkandung dalam dada anak-anak itu. Demikian pula pada Amir yang ternyata pandai pula berpidato.(56)
Yang membedakan Amir Hamzah dari teman-temannya yang lain adalah bahwa Amir Hamzah juga sepenuhnya aktif dalam gerakan pemuda di luar sekolah.
Seingat Achdiat hanya satu kali di kota Solo ia melihat Amir Hamzah memakai setelan jas dan dasi. Itu pada akhir bulan Desember 1930 karena dalam resepsi kongres Indonesia Muda yang pertama sebagai Ketua Cabang Solo Amir Hamzah harus mengucapkan suatu pidato "selamat datang dan selamat berkongres" pada para peserta kongres.
Yang dimaksud Achdiat adalah bahwa sejumlah Jong (organisasi pemuda yang bersifat etnis atau kedaerahan) pada sepakat untuk meleburkan diri ke dalam Indonesia Muda. Tempatnya di Solo, di mana ada cabang Jong Sumatra, Jong Celebes (Sulawesi), Jong Ambon dan Sekar Rukun. Kongres peleburan diri menjadi Indonesia Muda berlangsung dari 29 Desember 1930 - 2 Januari 1931. Dan Amir sebagai ketua cabang Solo, tuan rumah, dengan sendirinya adalah yang bertanggungjawan sekaligus yang resmi membuka kongres. Hadir dalam kongres itu antara lain Wilopo (kelak Perdanan Menteri), Sudiro (kelak Walikota Jakarta). Peresmian Indonesia Muda ini berlangsung tengah malam tepat pada pergantian tahun 1930 ke 1930. Panji-panji masing-masing Jong dikumpulkan dan panji-panji Indonesia Muda dikibarkan di panggung, diiringkan oleh gamelan wasiat kuno sumbangan Pangeran Kusumoyudo dan dilanjutkan dengan mars Indonesia Raya!(57)
Dengan demikian Indonesia Muda yang merupakan fusi dari organisasi-organisasi pemuda yang ada, Komisari Besarnya antara lain Mohd. Yamin, A.K. Gani, Asaat. Dengan berdirinya Indonesia Muda maka gerakan pemuda berorientasi kepada nasionalisme. Ketika perkumpulan ini menerbitkan majalah Garuda Merapi, Amir Hamzah menjadi salah satu redakturnya.(58)
Menurut Armijn Pane, mereka sebelumnya sudah memasuki organisasi Jong Sumatranen Bond, seperti juga St. Takdir Alisjahbana. "Sutan Takdir Alisjahbana, adalah bekas anggota Jong Sumatranen Bond, yang tiada asing namanya. Amir Hamzah ada jadi anggota Jing Sumatranen Bond dan dia masih anggota Indonesia Muda, sedang saya sendiri ada bekas anggota Jong Sumatranend Bond dan bersama-sama dengan Amir Hamzah juga turut bersidang sebagai wakil salah satu canang Indonesia Muda, waktu melantik perkumpulan, yang bercita-cita akan memajukan kebudayaan Indonesia itu dan bahasa persatuan itu", tulis Armijn Pane.(59)
"Pada suatu waktu tersiarlah kabar, bahwa katanya pihak PID pernah bertanya kepada direktur sekolah kami, kenapa murid-muridnya dibiarkan saja sering datang berkunjung ke rumah Mr. Singgih dan lain-lain pemimpin pergerakan yang ada di Soko. Maka dijawab oleh direktur kami, "Saya bukan babu. Di luar halaman sekolah, murid-murid sudah saya serahkan kepada kebijaksanaan dan tanggung jawabnya sendiri. Mereka sudah cukup dewasa, tak usah lagi diamat-amati oleh seorang babu".(60)
Sikap liberal pimpinan AMS Solo, Dr. W.F. Stutterheim, tentunya melegakan para siswa. Sebaliknya, tulis Achdiat, "terasa benar tekanan dari pihak PID terhadap jejak langkah anak-anak yang merah itu. Maka berhubung dengan itu tidak dilebih-lebihkan kalau dikatakan, bahwa hanyalah anak-anak yang betul-betul tebal perasaan kebangsaannya yang berani duduk sebagai pengurus IM. Dan di antara anak-anak yang demikian itu ialah Amir sendiri. Kurang lebih setahun ia memegang pimpinan sebagai ketua cabang Solo." Apabila kita coba menyigi lebih jauh, siswa-siswa AMS Solo yang manakah yang erat dengan Mr. Singgih, maka tak dapat tidak di antaranya tentulah Amir Hamzah dan Armijn Pane - di samping Achdiat sendiri. Dengan demikian kita mulai dapat melihat sisi-sisi kehidupan Amir Hamzah lainnya.
Bahkan seperti juga Armijn Pane, niscaya ia juga aktif dalam studie club yang dipimpin antara lain oleh Mr. R.P. Singgih. Padahal di mata pemerintah colonial, mereka yang aktif dalam gerakan pemuda di luar sekolah dipandang berbahaya, atau "merah".(61) Dan siswa-siswa demikian - "seperti anggota-anggota pengurus IM, KBI dan lain-lain seringkali "dibayangi" - alias diawasi gerak-geriknya oleh PID.
Pada pihak lain, hampir tidak ada informasi yang menjelaskan bagaimana dan sejauh mana keterlibatan Amir Hamzah dalam gerakan pemuda. Kita hanya dapat mencatat, bahwa kesadaran nasional Amir memang tak usah diragukan. Namun sulit untuk membayangkan bahwa paham politiknya tergolong radikal. Tokoh politik yang erat bergaul dengannya antara lain adalah Mr. Singgih, yang pernah menjadi Sekretaris Boedi Oetomo.




message 29: by [deleted user] (new)

IV lanjutan

Tapi siapa Mr. R. P. Singgih? Untuk sekedar ilustrasi, hendaknya diketahui bahwa sewaktu belajar ilmu hukum di Negeri Belanda, Singgih adalah seorang perkumpulan mahasiswa Indonesia yang militan nasionalis, yaitu Perhimpunan Indonesia. Dapat juga diketahui, bahwa: "Asosiasi ini mula-mula bernama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia), tetapi namanya diganti pada tahun 1922 menjadi Indonesische Vereeniging. Pada tahun 1924 terjemahannya dalam bahasa Indonesia - Perhimpunan Indonesia - diterima secara resmi. Pada tahun 1923 perhimpunan ini mengumumkan bahwa tujuannya adalah Indonesia yang demokratis dengan sebuah pemerintah bertanggungjawab kepada rakyat. Ia mendukung strategi "nonkooperasi", mengembangkan hubungan yang erat dengan gerakan komunis, dan pada tahun 1925 memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dalam waktu yang singkat. Jumlahnya kecil, anggota PI menganggap dirinya sebagai elite yang berkewajiban untuk memperbaharui dan membimbing gerakan politik di tanah Hindia ke arah yang lebih radikal. Sekembali di Hindia, banyak di antara mantan anggota PI yang terus memegang peran terkemuka dalam gerakan kebangsaan. Dr. Soetomo, umpamanya, setelah kembali dari Nederland, membentuk Indonesische Studieclub (Klub Studi Indonesia) di Surabaya dalam bulan Juli 1924.
Setelah menerima gelarnya sebagai sarjana hukum pada tahun 1923, Mr. Singgih kembali ke tanah Hindia dan bekerja untuk waktu yang singkat pada landraad di Ambon, meletakkan jabatannya pada tahun 1924 dan pindah ke Surabaya. Di sana ia bekerja sebagai ahli hukum dan propagandis untuk Indonesische Studieclub dari Dr. Soetomo dan segera menjadi tersohor sebagai seorang nasionalis yang bersemangat dan eksponen dari non kooperasi". Kemudian ia juga menjadi aktif dalam Budi Utomo dan dipilih sebagai sekretaris pertama dari pengurus pusatnya pada kongres Budi Utomo dalam bulan April 1928. Ia berulang kali berusaha untuk membawa Budi Utomo ke arah yang lebih radikal tetapi banyak di antara pendukung biasa menyatakan secara terbuka ketakutan mereka ke arah demikian dan upayanya sering kali diubah atau dimungkiri oleh pucuk pimpinan.(62)
Di Solo, Mr Singgih memimpin perbincangan-perbincangan di dalam studie club, yang sebenarnya merupakan cabang dari studie club yang didirikan Dr. Soetomo di Surabaya. "Keanggotaannya tidak pernah banyak tetapi terdiri dari Woerjaningrat, Dr. Radjiman dan kaum politikus lainnya yang berpengaruh. Di antaranya termasuk, untuk jangka waktu yang singkat, sekitar setengah lusin orang komunis terkemuka di Solo. Kegiatannya yang paling penting adalah publikasi yang bernama Timboel, sebuah penerbitan yang pro-puri, pro-nasionalis yang mulai terbit dua bulan sekali dalam bulan Januari 1927. Di bawah redaksi Dr. Radjiman dan RP Mr. Singgih dan dengan subsidi f 200,-sebulan dari keraton (sebagian dari kas keraton dan sebagian kantong Pangeran Koesoemojoedo sendiri), Timboel yang terbit tahun 1927 dalam bahasa Belanda(63) melancarkan kampanye selama lebih dari enam tahun melawan politik Belanda di Vorstenlanden, terus menerus mendesak supaya diberi otonomi yang lebih besar."(64)
Dan niscaya juga Amir Hamzah mengikuti majalah dwi mingguan Timboel, begitupun studie club Mr. Singgih. PID nampaknya amat memperhatikan gerak-gerik Mr. Singgih. Boleh jadi untuk membatasi gerak-gerik tokoh-tokoh keraton Solo agar tidak terlalu jauh melibatkan diri dalam pergerakan nasional (Indonesia).

Catatan:
35. N.H. Dini, Ibid, hal 38.
36.Achdiat K. Mihardja, "Amir Hamzah dalam Kenangan," majalah Mimbar Indonesia II/21, 22 Mei 1948.
37. Achdiat, Ibid. Sebaliknya Achdiat terkesan tentang "pemuda lincah itu yang berderai-derai gelak tawanya di mana-mana dan setiap saat." Bagi Achdiat, sepertinya kenyataan yang mengejutkan bahwa ketika ia membaca sajak-sajak Amir Hamzah setelah kematiannya, yang memperlihatkan kepribadian yang sama sekali kontras dengan orang yang dikenalnya di AMS Solo: "Alangkah berlainannya jiwa Amir yang sebenarnya yang terbayang-bayang dalam sajak-sajak itu dengan apa yang biasa terlihat sehari-hari sebagai tingkah lakunya di dalam pergaulannya dengan teman-teman sekolahnya. Apakah segala tertawa yang biasa kita dengar tergelak-gelak dihamburkan Amir itu semata-mata hanya bungkusan saja, melulu untuk menyembunyikan segala kesedihan yang dideritanya seperti yang terlahir dalam sajak-sajak itu."
38. N.H. Dini, Ibid, antara lain hal 33 dan 45.
39. A. H. Johns dalam Amir Hamzah: Malay Prince, Indonesian Poet, hal 2.
40. Ajip Rosidi, "Amir Hamzah, Hati yang Ragu," Majalah Pustaka dan Budaya edisi September 1960
41. Anthony H. John, Ibid. hal 14.
42. Menurut H.B.Jassin, Ibid, hal. 230, sajak itu telah terbit pertama kali dalam majalah Poedjangga Baroe VIII/12, Juni 1941.
43. Achdiat K. Mihardja, Ibid.
44. Ibid.
45. Ibid.
46. Ibid.
47. PDS H.B.Jassin: Surat kepada Armijn Pane, tanggal November 1932.
48. Ibid.
49. George D. Lanson, Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1942, halaman 213
50. Ibid.
51. (Nara sumber: Kustinijati Mochtar, Agus Salim Manusia Bebas, dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim, SH Jakarta 1984, hal 56: "Sebagaimana kita ketahui, sejarah perkembangan Sarekat Islam (SI), diawali oleh kehadiran Sarekat Dagang Islam di jakarta atas rintisan Raden Mas Tirto Adisuryo. Bersama suekh Ahmad Bajened ia juga mendirikan organisasi serupa di Bogor pada tahun 1911. Para pedagang batik di Solo yang merasa terancam oleh orang-orang Cina tertarik pula untuk mendirikannya. Maksudnya akan mendirikan cabang SDI dari Bogor, tetapi akhirnya mereka membentuk sendiri Sarekat Islam, di bawah pimpinan Haji Samanhudi, seorang pedagang batik asal kampung kampung Laweyan Solo. Tujuan organisasi ini jelas: memajukan perdagangan pribumi, berdasarkan falsafah agama Islam. Aktivitas sI dibatasi karena pemogokan buruh di Krapyak. Namun ,, HOS Tjokroaminoto kemudian pada 10 September 1912 berhasil menjadikan SI sebuah organisasi yang berbadan hukum, juga di kota Solo, lalu mendirikan cabang-cabangnya
52. George D. Larson, Ibid, hal 181, 185, 192, 193
53. Ibid, hal 8
54. Lihat Kustinijati Mochtar, op cit., hal 67. Organisasi Pemuda Islam ini dibentuk di Yogyakarta pada tahun 1925 dengan ketua Sjamsurizal. Di JIB H. Agus Salim. Mendidik intelektual muda sebagai kader-kader pemimpin Islam, al. Mohammad Roem, Mohd. Natsir, Mr. Kasman Singodimedjo, Prawoto Mangunsasmito, Jusuf Wibisono, dll.
55. Achdiat, Ibid
56. Achdiat, Ibid
57. N.H. Dini, Ibid
58. N.H. Dini, Ibid
59. Armijn Pane, "Kesusastraan Baru IV: Sedikit Sejarahnya," dalam Majalah Poejangga Baroe, Tahun I/No. 6
60. Achdiat, Ibid
61. Achdiat, Ibid
62. Ibid. Tambahan: Tak lama sebelum datang di Solo pada akhir tahun 1926, ia telah mengadakan perjalanan keliling Jawa untuk memajukan gagasan pembentukan front persatuan di antara semua kelompok yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Ia juga menjadi anggota PNI (Partai Nasional Indonesia) yang dibentuk Sukarno di Bandung dalam bulan Juli 1927, tetapi partai ini sesungguhnya tidak pernah bertumbuh subur di Surakarta.
63. Ensiklopedi Indonesia, Jilid 6, hal. 3552.
64. George D. Larson, Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1942 - hal 225



message 30: by [deleted user] (new)

[wah, jadi selang-seling sama posting Vera nih. Gue lanjutin yee:]

V

Setamat AMS Solo Amir kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Hakim Tinggi. Awal 1934, sebagai mahasiswa RHS, Amir tinggal di Laan Holle, Jakarta.
Kesadaran kebangsaan yang berkembang dalam diri Amir Hamzah nampaknya mempengaruhi atau membentuk wataknya, yang - katakanlah - menjadi kerakyatan. Baik di Solo, dan kemudian di Jakarta, Amir tak pernah memperlihatkan sifatnya yang feodal. Bahwa sebagai anak muda, Amir bukanlah seseorang yang hanya gila belajar saja…… teman-temannya pun tahu, bahwa Amir adalah seorang kelana malam yang suka mencari romantik di bawah sinar lampu minyak tanah yang kelap-kelip bergantung di warung-warung kopi," tulis Achdiat.(65)
Kuatnya kesadaran nasional dan sifat kerakyatannya dapat pula dilihat dari lingkungan pergaulannya dan pekerjaan ekstranya di Jakarta: ia menjadi guru di Perguruan Rakyat di Kramat 174 di sudut Gg. Kenari dan Kramat Raya (kini RS Kodam V Jaya). Perguruan Rakyat adalah bahagian dari Taman Siswa, yaitu pelopor pendidikan nasional di Indonesia, yang saat itu dipimpin oleh Soemanang - yang menggantikan pimpinan sebelumnya, Amir Sjarifuddin (kelak Perdana Menteri RI). Tidaklah mengherankan jika di Perguruan Rakyat berkecimpung pula banyak tokoh-tokoh pergerakan, seperti Amir Sjarifuddin, Mohd. Yamin, Asaat, AK Gani, Mr. Hendromartono, Jusuf Jahja, Sanusi Pane, Mr. Wilopo, Soewirjo, Mr. Djoko Soetono, Mr. Sahardjo (kelak Menteri Kehakiman), Maria Ulfah Santoso (kelak Menteri Sosial) dan banyak lagi.(66) Yang juga pernah jadi guru di sana al. Soegiarti (kelak istri STA), yang kemudian bersama Mr. Soemanang, STA, Armijn Pane dan lain-lain bersama-sama menyelenggarakan penerbitan majalah Poedjangga Baroe.
Tapi mengajar di Perguruan Rakyat ini pun untuk mengatasi kesulitan ekonomi keluarganya. Dalam tahun 1931 ibunya yang sangat dikasihinya, T. Mahjiwa mangkat. Dan tatkala Amir naik tingkat di RHS, tahun 1933, ayahnya pula yang dipanggil Allah SWT. Namun Amir kemudian dapat dengan tenteram melanjutkan studinya, karena pamannya, Sultan Machmud, mengambilalih membiayai kuliahnya. (67) Semuanya niscaya membebani jiwanya Barangkali menarik, bahwa di saat inilah ke penyairannya mulai dikenal umum.

***

Sajak-sajaknya yang perlama diumumkan dalam majalah Timboel, Solo - yaitu sajak Mabuk dan Sunyi yang merupakan debutnya di dunia kesusastraan Indonesia.(68) Itu pada nomor perdana edisi Bahasa Indonesia diterbitkan 15 Maret 1932 - di mana Sanoesi Pane Pemimpin Redaksinya -.Menurut penulisnya, dalam Kata Pendahuluan antara lain disebutkan bahwa "sifat kedua edisi itu tidak berbeda: kedua-duanya memperhatikan segala kehidupan, baik politik, ekonomi maupun soal-soal kemasyarakatan. Kedua edisi juga mementingkan seni dan filsafat, sedangkan tujuan edisi bahasa Indonesia ialah mempertinggi dan memperkaya bahasa Indonesia." Sajak-sajaknya pun dimuat dalam rubrik sastra Panji Pustaka asuhan Sutan Takdir Alisjahbana. Ia juga menulis prosa dan esei tentang kesusastraan.
Ketokohannya sebagai penyair pun menjadi penting, sampai dewasa ini. Seorang rekannya di Medan menulis dengan nada bangga, bahwa pada periode itu karya-karyanya "terus menerus" muncul dalam majalah Poedjangga Baroe, Panji Pustaka, dll. Nama Amir "terus menerus melonjak naik, berlumba-lumba dengan pujangga-pujangga Armijn Pane, Sanusi Pane, STA, Yamin, H.B. Jassin, J.E. Tatengkeng, Suman Hs, dll."(69) Dari studi sastra dan puisi-puisi terjemahannya terlihat orientasi sastranya yang lebih "ke Timur", ketimbang "ke Barat" yang menjadi pilihan rekannya Sutan Takdir Alisyahbana.


Catatan:
65. Achdiat K. Mihardja, Ibid.
66. Soebagijo LN., Mr. Soemanang - Sebuah Biografi, Gunung Agung, Jakarta 1980, hal 54
67. Saidy Hoesni., Ibid
68. Tentang kronologi penerbitan sajak-sajaknya secara detail sudah dimuat dalam H.B.
Jassin, Ibid, hal. 228-235.
69. S. Hoesny, Ibid



message 31: by [deleted user] (last edited Apr 04, 2009 10:24AM) (new)

VI


Bagi orang-orang seperli Anthony H. Johns "It is clear that as a poet Amir Hamzah must be considered not as the repre sentative of a school or tendency but as a distinctive and uncom promising individual.(70) Kepenyairan Amir Hamzah bukanlah pencapaian terbaik dari suatu kelompok yang mengkhususkan diri mencari lalu menemukan semacam puitika yang lain, suatu proses yang biasa terjadi di Barat. Suatu hal yang barangkali juga diupayakan oleh mereka yang mengumumkan Surat Kepercayaan Gelanggang tentang sikap budaya yang diperjuangkannya - namun yang tak serla merla langsung dapat dikaitkan dengan karya masing masing.
Meskipun demikian tidaklah dapat dihindarkan kesan bahwa adanya semacam ikatan, komitmen antara para pemrakarsa majalah Poedjangga Baroe, yang mulai terbit tahun 1933. Setidaknya antara tiga orang, Armijn Pane, Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisyahbana. Bahwa mereka berproses atau mem proses diri ke arah suatu "tendency", untuk "memajukan Bahasa Indonesia." Komitmen bersama itu antara lain dalam bentuk prakarsa penerbitan majalah Poedjangga Baroe. Sayang sekali tak banyak bahan tentang itu.
Sebuah surat Amir Hamzah kepada Armijn Pane berlanggal November 1932 menunjukkan bahwa antara kedua orang ini sudah lama terdapat perlukaran pikiran dan kesepakatan gagasan untuk memajukan kesusastraan. "Sebetulnya Saudara, buah pikiran Saudara Takdir seperli air pada orang haus, moga moga angan-angan ini akan menjadi buah, jangan tersimpul dalam bunga sahaja, bukankah beberpa tahun yang telah silam Saudara telah mengajak saya akan mendirikan perkumpulan yang sebagai ini? Tetapi angan-angan itu tiada mengambil rupa, hanya tinggal dalam cita-cita kita berdua saja Ya, kita bercerai pula, sebab tiadamengetahui seorang akan seorang. ………. pada pendapat saya baiklah kita mulai dengan enam tujuh orang dan tempatnya, kalau sekiranya kita tiada mampu menerbitkan majalah sendiri, bukankah lebih baik kalau boleh kita menumpang pada Timboel (edis) bahasa Indonesia, sebab majalah ini pun barangkali kekurangan pembantu dan dengan jalan begitu dapatlah timbul terbit tetap sebulan sekali. Dari hal menulis pada Sanusi, siapakah yang lebih baik daripada saudaranya sendiri. Akan tuan Takdir saya telah mengunjungi beliau dan telah berkata dari hal ini, beliau hampir sepaham dengan saya." Dari surat Arnir Hamzah itu siapa pun mendapat kesan bahwa Armijn dan Arnir sudah lama merindukan terbitnya sebuah majalah kebudayaan dan sastra, yang kemudian terwujud dengan lahirnya majalah Poedjangga Baroe. (71)
Tentang hal yang samaArmijn Pane menulis, bahwa hasJ hasil Kongres Pemuda 28 oktober 1928 mendorong para pemudauntuk "menjadikan Bahasa Indonesia bahasa perantaraan. ……… Dalam kalangan pemuda orang ingin memajukan, dan memperindahnya, tetapi seperli dalam zaman Jong Sumatranen Bond tahun 1925, kalangan pemuda Indonesia itu belum sampai tenaganya rupanya akan membentuk keinginannya itu. Maka pada permulaan tahun 1929, saya coba dengan beberapa kawan sesekolah di Solo akan mengadakan majalah kesusastraan tetapi tiada hasilnya.
Pada permulaan tahun 1930, Amir Hamzah dan saya mengirimkan undangan kepada beberapa orang, antaranya Muh. Yamin dan Sanusi Pane, akan mengajak mereka mengusahakan suatu majalah kesusastraaan, tetapi tiada hasilnya.
Maka pada penghabisan tahun 1932 pun, bersatu hatilah St. Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan saya sendiri, bahwa sudah datang zamannya akan mengadakan majalah kesusastraan dan perkumpulan. Hasilnya ialah prospectus yang kami siarkan pada permulaan tahun ini. Pada bulan Juli terbit pulalah Poedjangga Baroe yang pertama."(72)
Masalah pokok yang dihadapi suatu cita-cita atau gagasan dan konsepsi adalah bag aim ana mewujudkannya dalam karya kreatif. Tapi itu urusan masing-masing.
Amir Hamzah mewariskan dua kumpulan sajak asli, yaitu Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi. Para pengamat menyimpulkan bahwa Nyanyi Sunyi tidak saja merupakan pencapaian kreatif Amir terbaik, melainkan salah satu puncak kepenyairan Indonesia dan universal - berkualitas "internasional," kata Sutan Takdir Alisyahbana.(73) Sebaliknya STA tidaklah begitu gembira dengan novel Belenggu Armijn Pane. Agaknya karena tidak bersifat didaktis, yang menjadi kecendrungan STA.
Di ~ini hanya hendak dilihat, bahwa meskipun mereka sama-sama memiliki komitmen untuk memajukan bahasa dan kesusastraan, namun masing-masing - untuk dirinya sendiri harus menemukan pengucapan kreatif. Sedangkan antara satu sama lain boleh jadi terdapat perbedaan persepsi.
Sajak-sajak Amir Hamzah dalam kumpulan Buah Rindu ditutup komitmen penyairnya, kepada siapa sajak-sajak itu ditujukan:

Ke bawah paduka Indonesia-Raya
Ke bawah lebu Ibu-Ratu
Ke bawah kaki Sendari-Dewi.


Kata penutup kumpulan itu membukakan wilayah kesadaran penyairnya di seputar idealisme (Indonesia Raya), pengabdian kepada ibunya, dan eintanya terpendam namun gemuruh kepada Ilik Sundari.

Catatan:
70. Anthony H. Johns, Genesis of a Modern Literature, hal 422
71. Surat kepada Armijn Pane, Ibid.
72. Annijn Pane, "Kesusastraan Baru IV: Sedikit Sejarahnya," dalam Majalah Poedjangga Baroe, Tahun I/No.6, Desember 1933.
73. Sutan Takdir Alisjahbana



message 32: by Bunga Mawar (last edited Apr 04, 2009 04:03PM) (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments tenang James... gw masih nungguin lo kelar.
Nah, lo udahan, kan? Hmm... gw pindah ke mari aja... :)


SETANGGI TIMUR - Amir Hamzah

Ajam (hal. 1 – 7)

(hal 1)
Moga diberi Allah, sebuah tempat beristirahat
Semacam tidur memusnah segala lelah
Harapan, kalau lampau seketi tahun, bertunas
Dari tengah tanah, baru, laku rumput muda.

Kulihat pembentuk-periuk dengan rodanya
Menghantam tanah dengan tumit dan kakinya
Berkeluh benda tiada kuasa: Kerjakan daku
perlahan-lahan
Aku pun manusia, sebelum diri menjadi begini.

Kalau dari badan ini, terserah dalam genggaman mati,
Tiada tinggal lagi cahaya dan teduh,
Bentukkan zaktu 'kan piala anggur
Sebab sukmaku, dalam harumnya menjelma pula.

Terus berjalan kafilah malam .....................
Kinyam istirahat sebentar terluang pada senda!...
Jangan hiraukan, Penuang, esok-pagi langganan tuan
Unjukkan kami anggur: telah pucat muka purnama.

Sebagai topan memburu di gurun pasir
Demikianlah terbangnya hari hidupku –
Selama senda bernapas, dua tiada kukira:
Hari yang datang, dan hari yang pergi.

(hal 2)
Ayam jantan kembali menjagakan daku. dengan mersik kokoknya
Seperti setiap hari, supaya tiadakan lupa
Aku memandang dalam cermin pagi:
Lalu semalam lagi, sambil engkau belum mengetahui.

Mudaku berguru pada mereka berupa budiman
Berahi kuminum segala ilmunya
Kudapat putusan segala pengetahuan:
Tibanya laksana embun, terbangnya mengimbang angin.

Terbang ditayang kepak pikiran
Melayang ulama ke kota bintang
Bingung menyelidiki keadaan ini
Berpusing mereka dengan putaran-raya.

Yang termaktub, tiada kuasa mengubah dia.
Biarpun duka membelam dalam nustapa:
Walaupun mika menangiskan darah,
Tiadakan setitik melebihi yang sudah.

Berduyun penidur-jaga di dataran dunia
Iringan-tiada gerak di bawah atap hijau arona
Nyawa datang dan pergi; tenteranya
Menggelapkan lapang gelanggang awang.

Catatan: Mika = tuan

(hal 3)
Tentang ini pun hatiku tiada bebas
Sentiasa rindu yang tiadakan puas
Cinta, minumanhati selam ada
Anggur memancar dari lukanya.

Jantera-langit ini mencari binasa senda dan mika
Diam dimasukinya sukma senda dan mika ...........
Duduk, Kekasihku, di rumput hijau, sebelumnya
Rumput-muda menunas dari duli senda dan mika

Yang laksana purnama gelisah dalam rupa –
Yang bergilir menjelma dalam tumbuhan dan hewan –
Tiada kematian padanya, serupa pikiran tuan:
Lahirnya, berganti diri, batinnya, senantiasa tetap.

Jalan sukma turut dengan bicara.
Diam, ajaran segala sepanjang kala.
Walaupun tuan bertelinga, mulut dan mata.
Terlebih baik serupa tiada.

Dari tambang mana permata datangnya?
Cap apakah terekam dalam manikam?
Percuma segala rasa: Rahsia Cinta
Tertera dalam bahasa kata tiada tertanda.

Catatan: Bulbul = sebangsa burung

(hal 4)
Pegang oleh tuan piala anggur, dan tarik.
Dengan suara jernih laguan bulbul
Minum anggur harus diiringkan nyanyian nyaman:
Dengarkan pancaran di leher berlagu.

Budimankah tuan? – jika anggur hendak dirasa
Air budiman, haruskah dahulu gila semata.
Gilakah tuan? – Gila mika hampa belaka
Tiada anggur lahir-mengalir daris sembarang buah.

Sajak sekitab, anggur, roti segenggam
Secukup menyangga mati mengancam
Tuan dan senda dilingkungi sunyi –
Melebihi hidup raja dunia.

Kupandang, Penuang, dalam pancaran mutiara menangis
Jangan lupa diberi aku, cahaya-cuaca batu yang cair
Berikan daku pada nikmat
Biar dipinjamkannya hidup-cemerlang pada sukmaku.

Janji dan sumpah kami ubahkan
Adab dan biadab kami samakan –
Jangan salahkan pemabuk karena gilanya:
Ialah anggur asyik kami masuki.

Haus menemukan bibirku dengan kendi bermulut sejuk .......
Siumankah rahsia-hayat dalam pangkuannya? ....
Bisikan-lemah menjalar rangkum kucupan-basah:
Minum lama dan dalam: hanya sekali senda kemari.

(bersambung)




message 33: by [deleted user] (new)

@Vera: sori, tadi nb gue mati mendadak. Selang-seling gpplah ya :D

V

Setamat AMS Solo Amir kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Hakim Tinggi. Awal 1934, sebagai mahasiswa RHS, Amir tinggal di Laan Holle, Jakarta.
Kesadaran kebangsaan yang berkembang dalam diri Amir Hamzah nampaknya mempengaruhi atau membentuk wataknya, yang - katakanlah - menjadi kerakyatan. Baik di Solo, dan kemudian di Jakarta, Amir tak pernah memperlihatkan sifatnya yang feodal. Bahwa sebagai anak muda, Amir bukanlah seseorang yang hanya gila belajar saja…… teman-temannya pun tahu, bahwa Amir adalah seorang kelana malam yang suka mencari romantik di bawah sinar lampu minyak tanah yang kelap-kelip bergantung di warung-warung kopi," tulis Achdiat.(65)
Kuatnya kesadaran nasional dan sifat kerakyatannya dapat pula dilihat dari lingkungan pergaulannya dan pekerjaan ekstranya di Jakarta: ia menjadi guru di Perguruan Rakyat di Kramat 174 di sudut Gg. Kenari dan Kramat Raya (kini RS Kodam V Jaya). Perguruan Rakyat adalah bahagian dari Taman Siswa, yaitu pelopor pendidikan nasional di Indonesia, yang saat itu dipimpin oleh Soemanang - yang menggantikan pimpinan sebelumnya, Amir Sjarifuddin (kelak Perdana Menteri RI). Tidaklah mengherankan jika di Perguruan Rakyat berkecimpung pula banyak tokoh-tokoh pergerakan, seperti Amir Sjarifuddin, Mohd. Yamin, Asaat, AK Gani, Mr. Hendromartono, Jusuf Jahja, Sanusi Pane, Mr. Wilopo, Soewirjo, Mr. Djoko Soetono, Mr. Sahardjo (kelak Menteri Kehakiman), Maria Ulfah Santoso (kelak Menteri Sosial) dan banyak lagi.(66) Yang juga pernah jadi guru di sana al. Soegiarti (kelak istri STA), yang kemudian bersama Mr. Soemanang, STA, Armijn Pane dan lain-lain bersama-sama menyelenggarakan penerbitan majalah Poedjangga Baroe.
Tapi mengajar di Perguruan Rakyat ini pun untuk mengatasi kesulitan ekonomi keluarganya. Dalam tahun 1931 ibunya yang sangat dikasihinya, T. Mahjiwa mangkat. Dan tatkala Amir naik tingkat di RHS, tahun 1933, ayahnya pula yang dipanggil Allah SWT. Namun Amir kemudian dapat dengan tenteram melanjutkan studinya, karena pamannya, Sultan Machmud, mengambilalih membiayai kuliahnya. (67) Semuanya niscaya membebani jiwanya Barangkali menarik, bahwa di saat inilah ke penyairannya mulai dikenal umum.

***

Sajak-sajaknya yang perlama diumumkan dalam majalah Timboel, Solo - yaitu sajak Mabuk dan Sunyi yang merupakan debutnya di dunia kesusastraan Indonesia.(68) Itu pada nomor perdana edisi Bahasa Indonesia diterbitkan 15 Maret 1932 - di mana Sanoesi Pane Pemimpin Redaksinya -.Menurut penulisnya, dalam Kata Pendahuluan antara lain disebutkan bahwa "sifat kedua edisi itu tidak berbeda: kedua-duanya memperhatikan segala kehidupan, baik politik, ekonomi maupun soal-soal kemasyarakatan. Kedua edisi juga mementingkan seni dan filsafat, sedangkan tujuan edisi bahasa Indonesia ialah mempertinggi dan memperkaya bahasa Indonesia." Sajak-sajaknya pun dimuat dalam rubrik sastra Panji Pustaka asuhan Sutan Takdir Alisjahbana. Ia juga menulis prosa dan esei tentang kesusastraan.
Ketokohannya sebagai penyair pun menjadi penting, sampai dewasa ini. Seorang rekannya di Medan menulis dengan nada bangga, bahwa pada periode itu karya-karyanya "terus menerus" muncul dalam majalah Poedjangga Baroe, Panji Pustaka, dll. Nama Amir "terus menerus melonjak naik, berlumba-lumba dengan pujangga-pujangga Armijn Pane, Sanusi Pane, STA, Yamin, H.B. Jassin, J.E. Tatengkeng, Suman Hs, dll."(69) Dari studi sastra dan puisi-puisi terjemahannya terlihat orientasi sastranya yang lebih "ke Timur", ketimbang "ke Barat" yang menjadi pilihan rekannya Sutan Takdir Alisyahbana.


Catatan:
65. Achdiat K. Mihardja, Ibid.
66. Soebagijo LN., Mr. Soemanang - Sebuah Biografi, Gunung Agung, Jakarta 1980, hal 54
67. Saidy Hoesni., Ibid
68. Tentang kronologi penerbitan sajak-sajaknya secara detail sudah dimuat dalam H.B.
Jassin, Ibid, hal. 228-235.
69. S. Hoesny, Ibid



message 34: by [deleted user] (last edited Apr 04, 2009 11:57AM) (new)

VI

Bagi orang-orang seperli Anthony H. Johns "It is clear that as a poet Amir Hamzah must be considered not as the repre sentative of a school or tendency but as a distinctive and uncom promising individual.(70) Kepenyairan Amir Hamzah bukanlah pencapaian terbaik dari suatu kelompok yang mengkhususkan diri mencari lalu menemukan semacam puitika yang lain, suatu proses yang biasa terjadi di Barat. Suatu hal yang barangkali juga diupayakan oleh mereka yang mengumumkan Surat Kepercayaan Gelanggang tentang sikap budaya yang diperjuangkannya - namun yang tak serla merla langsung dapat dikaitkan dengan karya masing masing.
Meskipun demikian tidaklah dapat dihindarkan kesan bahwa adanya semacam ikatan, komitmen antara para pemrakarsa majalah Poedjangga Baroe, yang mulai terbit tahun 1933. Setidaknya antara tiga orang, Armijn Pane, Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisyahbana. Bahwa mereka berproses atau mem proses diri ke arah suatu "tendency", untuk "memajukan Bahasa Indonesia." Komitmen bersama itu antara lain dalam bentuk prakarsa penerbitan majalah Poedjangga Baroe. Sayang sekali tak banyak bahan tentang itu.
Sebuah surat Amir Hamzah kepada Armijn Pane berlanggal November 1932 menunjukkan bahwa antara kedua orang ini sudah lama terdapat perlukaran pikiran dan kesepakatan gagasan untuk memajukan kesusastraan. "Sebetulnya Saudara, buah pikiran Saudara Takdir seperli air pada orang haus, moga moga angan-angan ini akan menjadi buah, jangan tersimpul dalam bunga sahaja, bukankah beberpa tahun yang telah silam Saudara telah mengajak saya akan mendirikan perkumpulan yang sebagai ini? Tetapi angan-angan itu tiada mengambil rupa, hanya tinggal dalam cita-cita kita berdua saja Ya, kita bercerai pula, sebab tiadamengetahui seorang akan seorang. ………. pada pendapat saya baiklah kita mulai dengan enam tujuh orang dan tempatnya, kalau sekiranya kita tiada mampu menerbitkan majalah sendiri, bukankah lebih baik kalau boleh kita menumpang pada Timboel (edis) bahasa Indonesia, sebab majalah ini pun barangkali kekurangan pembantu dan dengan jalan begitu dapatlah timbul terbit tetap sebulan sekali. Dari hal menulis pada Sanusi, siapakah yang lebih baik daripada saudaranya sendiri. Akan tuan Takdir saya telah mengunjungi beliau dan telah berkata dari hal ini, beliau hampir sepaham dengan saya." Dari surat Arnir Hamzah itu siapa pun mendapat kesan bahwa Armijn dan Arnir sudah lama merindukan terbitnya sebuah majalah kebudayaan dan sastra, yang kemudian terwujud dengan lahirnya majalah Poedjangga Baroe. (71)
Tentang hal yang samaArmijn Pane menulis, bahwa hasJ hasil Kongres Pemuda 28 oktober 1928 mendorong para pemudauntuk "menjadikan Bahasa Indonesia bahasa perantaraan. ……… Dalam kalangan pemuda orang ingin memajukan, dan memperindahnya, tetapi seperli dalam zaman Jong Sumatranen Bond tahun 1925, kalangan pemuda Indonesia itu belum sampai tenaganya rupanya akan membentuk keinginannya itu. Maka pada permulaan tahun 1929, saya coba dengan beberapa kawan sesekolah di Solo akan mengadakan majalah kesusastraan tetapi tiada hasilnya.
Pada permulaan tahun 1930, Amir Hamzah dan saya mengirimkan undangan kepada beberapa orang, antaranya Muh. Yamin dan Sanusi Pane, akan mengajak mereka mengusahakan suatu majalah kesusastraaan, tetapi tiada hasilnya.
Maka pada penghabisan tahun 1932 pun, bersatu hatilah St. Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan saya sendiri, bahwa sudah datang zamannya akan mengadakan majalah kesusastraan dan perkumpulan. Hasilnya ialah prospectus yang kami siarkan pada permulaan tahun ini. Pada bulan Juli terbit pulalah Poedjangga Baroe yang pertama."(72)
Masalah pokok yang dihadapi suatu cita-cita atau gagasan dan konsepsi adalah bag aim ana mewujudkannya dalam karya kreatif. Tapi itu urusan masing-masing.
Amir Hamzah mewariskan dua kumpulan sajak asli, yaitu Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi. Para pengamat menyimpulkan bahwa Nyanyi Sunyi tidak saja merupakan pencapaian kreatif Amir terbaik, melainkan salah satu puncak kepenyairan Indonesia dan universal - berkualitas "internasional," kata Sutan Takdir Alisyahbana.(73) Sebaliknya STA tidaklah begitu gembira dengan novel Belenggu Armijn Pane. Agaknya karena tidak bersifat didaktis, yang menjadi kecendrungan STA.
Di ~ini hanya hendak dilihat, bahwa meskipun mereka sama-sama memiliki komitmen untuk memajukan bahasa dan kesusastraan, namun masing-masing - untuk dirinya sendiri harus menemukan pengucapan kreatif. Sedangkan antara satu sama lain boleh jadi terdapat perbedaan persepsi.
Sajak-sajak Amir Hamzah dalam kumpulan Buah Rindu ditutup komitmen penyairnya, kepada siapa sajak-sajak itu ditujukan:

Ke bawah paduka Indonesia-Raya
Ke bawah lebu Ibu-Ratu
Ke bawah kaki Sendari-Dewi.


Kata penutup kumpulan itu membukakan wilayah kesadaran penyairnya di seputar idealisme (Indonesia Raya), pengabdian kepada ibunya, dan cintanya terpendam namun gemuruh kepada Ilik Sundari.

Catatan:
70. Anthony H. Johns, Genesis of a Modern Literature, hal 422
71. Surat kepada Armijn Pane, Ibid.
72. Annijn Pane, "Kesusastraan Baru IV: Sedikit Sejarahnya," dalam Majalah Poedjangga Baroe, Tahun I/No.6, Desember 1933.
73. Sutan Takdir Alisjahbana



message 35: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments ikut nongkrong dulu. bacanya senin aja. pas bengong di kantor :D

@ Po, gue tua'an lagi, angkatan Haji Ali. :D lawannya Abdulkadir Munsyi di Spore yang wakil Johor yang diadu ama Belanda dan Inggris dalam seteru mana yang paling melayu. Penjajah perlu mementingkan hegemoni budaya lokal jajahannya yah?

btw, kalo itu salah sile dikoreksi ye...


message 36: by [deleted user] (new)

[numpang ketawa ngeliat posting jenderal Nanto di atas LOL:]


VII

Meskipun Buah Rindu memberikan kualitas kepenyairan Amir paJa tahap menulisnya, namun jelaslah banyak diwamai fakta fakta atau renungan tentang pengalaman biograHs penyaimya. Sulit melukiskan sejauh mana arti Ilik Sundari bagi Amir, seperti indahnya dua kuplet sajaknya yang sederhana namun banyak nuansa biografis ini:

Gelang Cempaka pujaan Dewa
Anakda petik di tanah Jawa
Akan Bonda penambah cahaya
Akan Ibu penambah mulia.

Bunga mawar putih setangkai
Anakda petik di kaki Wilis
Di atas bumi Jawa raya
Akan penunggu telapakan Bonda

Belahan jiwa Amir itu, "Sendari Dewi," seolah baru menjadi serius di kalangan teman-teman Amir setelah dituliskan. Sebab dalam kenyataan sehari-hari di Solo, lagi-lagi Achdiat yang menulis tentang itu: "Tiap teman sekolahnya yang agak rapat dengan dia, tahu siapa yang dimaksudkan dengan nama itu. Tapi saya rasa, dari mereka itu takkan ada seorang pun yang mengira, bahwa Kamajaya telah turun menitis ke dalam kalbu Amir diam-diam bersemayam mengenang merindukan Dewi Ratih dari kejauhan. Masih terdengar olehku senda dan gelak Amir dengan gadis keletah itu. Tapi tak ubahnya dengan gadis-gadis lain juga, tiada cumbu atau rayuan sentimentil yang biasanya nampak pada orang-orang yang sedang dibuai-buai dalam alunan cinta asmara. Baru kemudian temyata, bahwa gadis itu adalah untuk Amir seperti Beatrice untuk Petrarca atau Mathildo untuk Jacques Perk."
Namun bagi Amir dan Ilik Sundari, nampaknya sejak lama satu sarna lain saling membatinkan cinta yang gemuruh pada yang lain.
Sepasang turunan Adam Hawa ini satu sekolah di Solo. Bahkan ketika Amir Hamzah memerankan tokoh Sjamsulbahri dalam cerita Siti Nurbaya, justru Ilik Sundari-Iah yang memeran kan Siti Nurbaya. Sehingga boleh jadi benarlah apa yang ditulis N.H. Dini, bahwa dialog dan akting Amir yang begitu bagus dalam pandangan Achdiat sebenamya adalah cara lain bagi Amir untuk menyatakan cintanya yang menggebu-gebu terhadap Ilik Sundari!(74)
Ilik juga gadis mengikuti kegiatan-kegiatan Indonesia Muda. Maka dengan gairah Amir mendampingi Ilik menjalankan program pemberantasan buta huruf ke desa-desa.
Ketika Amir Hamzah sudah pindah sekolah ke RHS di Jakarta, maka bertubi-tubi datangnya surat-surat Amir, sehingga diketahui oleh keluarga Ilik. Kemudian diketahui bahwa jika datang hari libur Amir menghilang dari ibukota. Rupanya kedua merpati itu terbang ke kota kecil Majalengka dan bercumbuan di sana meskipun tak diketahui berbentuk apa. Ini pun akhimya diketahui oleh keluarga Ilik, sehingga lewat surat gadis ini diperingatkan ayahnya, janganlah menjadi pungguk merindukan bulan mengingat Amir adalah seorang Pangeran Melayu.(75)
Kalau kita sempat melihat foto-foto mereka berdua, di antaranya dimuat dalam buku N.H. Dini, Pangeran dari Seberang, maka kita takkan dapat memperkirakan sejauh mana mendalamnya hubungan mereka. Apalagi setelah menikah dengan gadis lain, konon Amir memiliki album foto khusus yang dibuka dengan tiga foto, satu foto "cintaku' (Ilik Sundari), foto Amir, lalu foto "kasihku" (istrinya Tengku Kamaliah).
Jika sajak-sajaknya dalam Buah Rindu adakalanya merupakan semacam eatatan biografis, sajak-sajak dalam Nyanyi Sunyi lebih sublim, sebab lebih melukiskan pergulatan batin (eksistensial) sehingga kehidupan menjadi semaeam ruang filosofis yang sunyi:

Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus

PARA peneliti dan kritikus sastra menyimp~lkan dua hal tentang bahasa puisi Amir Hamzah. Di satu pihak seolah-olah ia "terikat" kepada bahasa Melayu, namun di pihak lain seperti dinyatakan Achdiat, "Amir sangat bebas memasukkan kata-kata Jawa, Kawi atau Sanskerta ke dalam sajak-sajaknya. Sering kita berjumpa misalnya dengan kata-kata dewangga, dewala, sura, prawira, estu, ningrum, padma, cendera, daksina, purwa, jampi, sekar, alas, maskumambang, rangkum-rinangkum dan lain-lain."
Nampaknya bagi saya, Amir Hamzah pun tak kurang "binatang jalang" nya dari Chairil Anwar. Ia tak mau sekedar turut turutan.
Surat kepada Armijn Pane: "Saudara eitakan zaman bertindak hendak mengikut terbang mengambang, sibuk mengikut menanam biji pokok bahasa persatuan, tetapi sebaliknya saya lupakan zaman itu, hanya melayap ke zaman Panji kala beliau mengembara di hutan Pajang, kala Hang Tuang melarikan Tun Teja dari Indrapura. Siapakah yang benar Saudara, inilah sebuah pertikaian yang seumur dunia bertukar masa, berganti zaman timbul kembali salah faham yang sebagai ini. Baiklah janganlah kita hiraukan hal ini, bukankah kita bermaksud menjunjung tinggi kesusastraan kita. Apakah gunanya kita perdulikan hal bahasa itu, bahasa Indonesia atau pun Melayu sejati, pada pikiran saya serupa saja. Bukankah bahasa Indonesia itu berdasarkan bahasa Melayu, dan bukankah bahasa Melayu sejati mengutip perkataan asing, kalau masanya telah tiba, bahwa perkataan itu telah dianggap masak akan diambil menjadi penunjang bahasa Melayu itu? Marilah kita ambil contoh Saudara! Siapa daripada anak Melayu merasa "kepala" itu bahasa asing? Bukan tiada, tetapi "kepala" itu diambil mereka pada waktu kehidupan saban hari telah membagi capnya pada perkataan itu bahwa ia telah laku adanya."
Lain:
"Tetapi itupun pada pemandangan sahaya, saudara tentulah berpendapat lain, saya tiadakan mengambil sekian (setiap) kata yang belum laku dalam kehidupan saban hari, terlebih pula dalam karang mengarang saya amat enggan memakai perkataan baru itu, pada orang lain saya berikan dahulu kesempatan akan memakainya. akan tetapi kalau beliau mampu dalam bahasa itu mengarang sebuah yang bagus dan permai, mengapakah saya akan menidakkan kebagusan gubahan itu?"
Dan:
"Hanya pada diri saya, saya ikatkan sengkang, jangan terlalu lekas melompat dari sebuah tempat ke tempat yang lain, dan jangan memakai sebuah kata yang belum resap - sampai artinya ke dalam tulang sungsum saya."(76)
Jadi, pilihan bahasa itu tidak hanya sekedar kelanjutan "tradisi" bagi Amir. Menulis dalam bahasa Indonesia, justru juga didorong oleh kesadaran baru, yang modern baik dalam pandangan dan sikap hidup yang sejalan dengan modernisme politik (nasionalisme),(77) dan bahasa kepenyairan (puitika) serla orientasi yang dirambahnya sendiri. Di sisi lain banyak yang heran, seperli menyaksikan dan berlanya kenapa shalatnya tak pernah ketinggalan. Bagi rekan-rekannya dan banyak pengamat, ia memilih jalan lain, semacam jalan tua. Tapi boleh jadi kesimpulan demikian keliru. Sebagai penyair, ia justru binatang jalang yang lain, namun benar benar 'as a distinctive and uncompromising individual."(78)
Sampai sekarang ia mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, satu prosa liris terjemahan, 13 prosa dan satu prosa terjemahan. Semua 160 tulisan.(79) Dan nampaknya, sajak-sajaknya seolah akan "terus menerus" dibahas orang. Selain yang terkumpul dalam Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi ia masih mewariskan satu kumpulan puisi terjemahan Setanggi Timur ~ seperti yang dikenal. Juga menerjemahkan Bhawagat Gita.



message 37: by [deleted user] (new)

VII lanjutan

***

Banyak sedikitnya, "rindu" dan "kesunyian" Amir dalam sajak-sajaknya, secara psikologis dikaitkan orang juga kelahirannya dengan perkembangan hubungannya dengan Ilik Sundari. Tapi ini adalah juga keunikan pribadi Amir, dalam kaitan dengan kondisi lain kehidupannya yang agaknya sulit dimengerli: ia mengalami kesulitan keuangan!.
Kesulitan keuangan berhubung orangtuanya sudah meninggal dan ia harus membiayai kuliahnya sedangkan pendapatan sebagai guru di Perguruan Rakyat tidaklah memadai. Kiriman dari Langkat tak teratur lagi, sedangkan surat kakak-kakaknya seolah mengejek Amir yang dalam pekerjaan dan tulisan-tulisan seperlinya ia seorang yang berambisi untuk menjadi seorang pemimpin besar.(80) Bagaimanapun juga, kesulitan keuangan yang tak mendapatkan pemecahan, mendorong Amir menulisi kakak-kakaknya agar membantu mencari jalan keluar. Itupun dengan tambahan, bahwa kalau tak ada jalan keluar maka ia akan menghentikan kuliah.(81)
Mendadak datanglah kiriman uang dari Langkat untuk ongkos pulang secukupnya. Untuk apa pulang? Setidaknya untuk ziarah ke makam orang tua.
Entah kenapa Amir menelegram llik yang sudah tinggal di Lembang. Hanya untuk memberi tahu ia akan pulang kampung dan di hari libur itu mereka takkan dapat ke Majalengka lagi.
Memang, ia pulang sebentar ke Langkat. Ketika Amir kembali kuliah di Jakarta mukanya sudah disaputi mendung. Pembicaraannya dengan Sultan Langkat di hari libur, paman yang membiayai kuliahnya, justru menjadi beban pikirannya. Bahwa ia diharapkan memusatkan diri pada kuliah, mengurangi aktivitas sebagai kaum pergerakan, di samping jangan suka main wanita! Kenapa? Untuk apa? Untuk kesultanan Langkat! Jangan merusak citra istana Langkat. Ia merasa terlekan karena merasa dimata-matai, setidaknya oleh kaki tangan Belanda.yang dengan kritis mengamati gerak-gerak seorang terpelajar, apalagi yang keluarga bangsawan. Dengan demikian pamannya Sultan Langkat selama ini mengetahui segala gerak geriknya.
Sejak pulang dari Langkat itu bahkan Amir sendiri membatasi diri. Tidak sering lagi kumpul-kumpul dengan rekan rekannya orang pergerakan. Toh ia menyatakan bersedia menggerakkan majalah Poedjangga Barn dalam kapasitas redaktur akan tetapi meminta status rendah,: pembantu tetap saja.(82)
Pada tahun 1935 W.J.S, Purwadarminta dari Jepang menulis, agar Amir bersedia menggantikan tugasnya mengajar Bahasa Indonesia di Jepang. NamunAmir juga mendadak diminta Sultan Maehmud untuk pulang ke Langkat. Untuk apa? Untuk menikah dengan putri sulung Sultan Langkat Tengku Putri Kamaliah. Saat itu ia baru merampungkan kandidat II di RHS.
Anjuran Tengku Burhan salah seorang kerabat yang amat mengenalnya - termasuk hubungannya dengan Ilik Sundari agar Amir Hamzah pindah saja ke Jepang mengajar bahasa Indo nesia menggantikan W.]. S. Purwadarminta untuk mengelakkan pernikahan yang dipaksakan keluarga serta menunggu saat yang tepat untuk menyunting Ilik Sundari ternyata tidaklah menggairahkan Amir.
Dengan pikiran gundah Amir malahan naik kereta api ke Lembang. Pergi menemui Ilik di asramanya.
Selanjutnya ia pulang ke Langkat hanya untuk menyata kan setuju dinikahkan dan masih diberi kesempatan untuk merampungkan Kandidat II ke Jakarta. Begitu selesai ujian, ia jemput Ilik Sundari untuk berlibir terakhir ke Majalengka. Lalu mereka terns ke Solo sebab Amir ingin pamitan juga dengan keluarga Ilik. Di sana, keluarga Ilik malahan menyelenggarakan selametan keeil-keeilan. Semata-mata menyatakan restu mereka atas pernikahan Amir nantinya Langkat.
Demikianlah, Amir Hamzah pun menikah dengan Tengku Kamaliah (putri Sultan Langkat). Pesta pernikahannya seperti dalam dongeng berlangsung tujuh hari tujuh malam, dalam tradisi istana kerajaan Melayu. Dan Amir diberi gelar Tengku Pangeran Indra Putera. Selanjutnya ia diangkat menjadi Kepala Luhak Langkat Hilir di Tanjung Pura, kemudian pindah menjadi Kepala Luhak Teluk Haru di Pangkalan Brandan.lalu ditarik ke keraton, menjadi Kepala Bagian Ekonomi Langkat di Binjai dan diangkat Pangeran Langkat Hulu di Binjai, jabatan yang disandang ayahnya ketika masih hidup.
Pada tahun kelahiran Tengku Tahura, anak perlama dan satu-satunya, Sunan Pakubuwono X mangkat di kota Solo. Amir diutus menghadiri upacara pemakaman, mewakili Sultan Langkat. Itulah satu-satunya kesempatan Amir mengunjungi lagi pulau Jawa yang ditinggalkannya buat selama-lamanya. Dalam kesempatan itu Amir tidak berlemu dengan Ilik Sundari yang sudah tinggal di Yogya.
Rasa hampa hidup karena kehilangan Ilik Sundari, lalu seolah seolah kehilangan gairah hidupnya sendiri, seperli dalam sajak-sajak dalam Nyanyi Sunyi ia berusaha mencari nilai dan bentuk percintaan yang kekal dalam percobaan-percobaannya berdialog tapi gagal menyatukan diri dengan Tuhan.
Obsesi-obsesi dasarnya bersifat modern. Ia tetap manusia yang gelisah, meskipun di tengah lingkungan yang harmonis alami seperli di masa mudanya:

Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup berlentu tuju
(Berdiri Aku)

Katakanlah ia seperli Chairil Anwar juga, yang meng inginkan semacam "garis lurus yang bisa dipegang" dalam hidupnya.
Boleh jadi sesekali ia terbius oleh semacam kenikmatan mistis, namun ia sadar yang sekejap-sekejap itu pun hilang lagi:

Engkau yang lena dalam hatiku
Akasa swara nipis tipis
Yang besar terangkum dunia
Yang kecilterangkum alis

Kujunjung di di atas hulu
Kupuji di pucuk lidah
Kupangku di lengan lagu
Kudaduhkan di selendang dendang

Barangkali mati di pantai hati
Gelombang kenang membanting diri

Aduh, kasihan hatiku sayang
Alahai hatiku tiada bahagia
Jari menari doa semata
Tapi hatiku bercabang dua

(Doa Poyangku)

Bagi saya kenikmatan yang ditimbulkan oleh sajak-sajak religius Amir bukanlah kenikmatan dari semacam kekhusyukan ibadat, akan tetapi kejujuran seorang manusia yang gelisah sebagai manusia, baik terhadap ditinya sendiri maupun terhadap Tuhan.

Catatan:
74. N.H. Dini., Ibid, hal 68
75. N.H.Dini, Ibid, hal 84-85
76. PDS H.B. Jassin, Surat kepada Armijn Pane, Ibid
77. Ironisnya tak ada sajaknya yang secara transparan, atau bisa dianggap demikian, yang menunjukkan komitmennya terhadap cita-cita modemisme, kecuali sikapnya yang kreatif.
78. Anthony H. Johns, Genesis of a Modern Literature, ha1. 422
79. H.B. Jassin, Ibid, hal 4
80. N.H. Dini, Ibid, hal 86
81. N.H.Dini, Ibid
82. N.H. Dini, Ibid. hal 92



message 38: by [deleted user] (new)

VIII

Pada zaman Jepang Amir Hamzah ia masih menulis di majalah Panca Raya, memberikan Pidato Radio tentang sastra di radio Medan (Medan Hoso Kyoku) maupun di hadapan penulis penulis muda. Ia pun anggota Balai Bahasa Indonesia di Medan.
Beberapa hasil studinya dimuat dalam Poedjangga Baroe. Tapi tidaklah banyak. Antara lain karangannya mengenai pantun, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, lukisan tentang Sultan Ala' uddin Rayat Syah dari abad XVI Masehi,) dan lukisan yang berkepala "Raja Kecil" dari abad XVII Masehi, serta pidatonya yang kemudian dibukukan, Sastra Melayu Lama dan Raja-rajanya .(83)
Namun pastilah masa kreatifnya yang subur kian melenyap. Ia diserap oleh pekerjaannya sebagai petinggi kerajaan, yang di zaman Jepang diejeknya sendiri sebagai "tukang sukat beras," karena menangani bidang ekonomi.(84)

***

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Meskipun ada dua orang tokoh Sumatra, Mr. T. Moehammad Hasan dan dr. M. Amir mengikuti proses kemerdekaan itu di Jakarta dan pulang ke Medan, namun kampanye kemerdekaan seolah-olah tidak memasyarakat.
Bahwa proklamasi kemerdekaan sudah diumumkan baru dipercaya banyak tokoh setelah berita yang sarna mereka terima dari Adinegoro di Bukittinggi, lalu dari dr. A.K. Gani di Palembang. Yang pertama juga menginformasikan pengangkatan Mr. Moehamad Hasan jadi Gubernur Sumatra RI dan KNI, sedangkan yang kedua menganjurkan agar segera membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) dan PNI - yang kemudian dengan Maklumat Wakil Presiden N omor X dirubah dengan pembentukan partai-partai.
Hal ini disebabkan banyak hal. Misalnya situasi masya rakatnya yang majemuk, namun yang mengalami pergeseran ter tentu pada zaman Jepang. Kehidupan kaum bangsawan di satu pihak, tidak lagi seenak di zaman Belanda. Resminya status mereka masih diindahkan oleh Jepang akan tetapi sesungguhnya kewibawaan mereka sudah merosot. Zaman Jepang juga memunculkan pimpinan-pimpinan politik - umumnya mereka tidaklah bersimpati pada kaum bangsawan(85) - dan kelompok pemuda yang terlatih secara militer, yang semula untuk kepentingan Jepang. Mereka justru memiliki pengaruh, yang semakin mendalam dan membakar jiwa para pemuda setelah terbentuknya RI dan Revolusi Kemerdekaan. Namun terdapat perbedaan latar belakang ideologi dan pengalaman, kadangkala dibarengi rasa saling tidak percaya para pemimpin,baik antara sesama mereka maupun pada diri masing-masing, dipersulit oleh oleh datangnya Sekutu yang diboncengi NICA. Yang terakhir ini berusaha merebut hati para sultan, di samping secara demonstratif membangun kekuatan militer - antara lain pasukan Raymond Westerling.
"Dalam seluruh periode ini, Pemerintah Republik di bawah Mr. Hasan efektif berfungsi secara terbatas sebagai penghubung antara Jepang, Inggris dan Kerajaan di satu pihak, dan pemuda pemuda yang berjuang di lain pihak.," tulis Anthony Reid, "Tetapi Hasan tidak mempunyai kharisma, juga tidak mempunyai hubungan langsung dengan sesuatu kekuatan pemuda yang penting apa pun. Modal pentingnya ialah prestise yang diberikan PemerintahRepublik kepada para pemudanya".(86)
Dalam banyak hal Gubernur Hasan berusaha mengikuti cara-cara pemerintah pusat. Ketika ia mengumumkan susunan personalia pemerintahan propinsi Sumatra yang pertama tang gal 4 Oktober 1945, maka ia juga menempatkan banyak pejabat yang dulu pimpinan pemerintahan Hindia Belanda. Untuk kedudukan residen Sumatra Timur dan walikota Medan ditunjuknya Mr. Luat Siregar dan Mr. Moehammad Joesoef. Tapi ia lebih banyak meng angkat mereka yang dulunya para pejabat pemerintahan Hindia Belanda dalam posisi pemerintahan, baik para Ulebalang di Aceh maupun tokoh bangsawan Melayu di Sumatra Timur. Pada penetapan tang gal tang gal 29 Oktober 1945 ia menempatkan Amir Hamzah sebagai Wakil Pemerintah RI (kemudian Bupati) untuk Langkat berkedudukan di Binjai, Tengku Musa untuk Asahan dan Tengku Hasnan untuk Labuan Batu. Tengku Musa di Asahan dan Tengku Amir Hamzah di Langkat tidak menolak pengangkatan pengangkatannya dari Republik, tetapi mereka masih terus bekerja sebagai pejabat Kerajaan. Kesultanan Deli menempatkan dirinya langsung berhubungan dengan Inggris, Belanda, dan Pemimpin pemimpin Republik di Medan tanpa sepengetahuan Wakil Pemerintah NRI di daerah itu, yakni Tulus, bekas pegawai di zaman Belanda. Hubungan antara Republik dan Kerajaan tidak akan ditentukan dengan pengangkatan-pengangkatan seperli ini, tetapi akan ditentukan oleh situasi kekuatan yang nyata.
Tak lama kemudian diangkat Tengku Hafaz menjadi residen, menggantikan Luat Siregar, dalam rangka menjinakkan para sultan agar berpihak kepada RI. Mr. Luat diangkat menjadi Ketua KNI Sumatra Timur.
Hubungan Gubernur Hasan dengan para pemuda dilaku kan melalui para pembantunya, seperli Mr. Luat Siregar, Xarim M.S. - dua orang yang ikut membangun kembali Parlai Komunis Indonesia (PKI) meskipun kemudian menyatakan keluar. Merekalah yang berpengaruh terhadap organisasi-organisasi dan lasykar pemuda - yang terkuat berada di bawah koordinasi Markas Agung pimpinan Sarwono S. Sutardjo yang didominasi pemuda-pemuda Pesindo.(87) Markas Agung inilah yang mengkoordin~sikan aksi aksi revolusioner di wilayah Medan. Dalam pimpinannya juga termasuk wakil-wakil TKR (Achmad Tahir dan Hopman Sitompoel) dan tokoh-tokoh bekas anggota gerakan bawah tanah "Anti-Fasis" dari Nathar Zainuddin yang sekarang masing-masing telah mempunyai barisan-barisan bersenjatanya sendiri; Marzuki Lubis, Nip Xarim, Selamat Ginting, D. Egon, dan Timur Pane. Enam tokoh tua dijadikan "penasihat", dan empat di antaranya (Xarim, Nathar, Joenoes Nasution, dan Bustami) adalah anggota-anggota pendiri kembali Parlai Komunis di daerah itu. Dua sisa penasihatnya adalah ahli-ahli hukum yang nonparlai yang telah menunjukkan simpati kepada cita-cita gerakan pemuda.
Dalam suatu suatu rapat umum PRI mengajukan tuntutan "supaya pemerintahan sipil Republik Indonesia di Sumatra Timur dibikin efektif dalam arti yang sepenuh penuhnya secepat mungkin."(88)




message 39: by [deleted user] (new)

VIII lanjutan

***

Pada 30 November, Sultan Langkat menerima ultima tum dari Pesindo yang menuntutnya pengakuan segera atas Republik, menghapuskan semua hubungannya dengan Inggris dan NICA, dan penyerahan dua perliga dari seluruh senjatanya kepada Pesindo.Sultan Langkat pun pada 4 Desember menyatakan dukungan dan sumbangannya sejumlah 10.000 gulden kepada perjuangan Republik. Sejak itu Sultan Langkat tidak berani mengadakan pembicaraan langsung dengan wakil-wakil Belanda. Pada waktu yang bersamaan dikabarkan Sultan Serdang dan Sul tan Asahan telah menaikkan bendera merah -putih dan menyatakan juga dukungannya. Hanya Sultan Deli yang baru, Osman (Otteman), yang masih bisa mengharapkan perlindungan Sekutu atas istananya di Medan dan menjauhkan diri dari Republik. Konon ia menginginkan suatu hubungan langsung dengan Mahkota Belanda di bawah seorang komisaris tinggi, dan menempatkan raja raja Melayu di luar setiap bentuk negara Indonesia.(89)
Dengan terpilihnya Sutan Syahrir menjadi Ketua KNIP lalu Perdana Menteri, maka dianjurkannya untuk melakukan penyegaran dalam tubuh KNI - juga di daerah-daerah. KNI pun mulai memberi tempat yang lebih besar kepada tokoh-tokoh yang lebih mapan secara politik. Ini juga menimbulkan perlanyaan apakah bentuk KNI ataukah kerajaan, ataukah suatu bentuk kombinasi dari keduanya, yang akan menjadi bentuk pokok pemerintahan di luar kota-kota.
Sebagai Ketua KNI Sumatra Timur, terutama Luat Siregar sudah bulat sikapnya bahwa raja-raja itu harus menerima semanngat demokrasi yang dibawa perubahan zaman atau menyingkir. Dia dan Dr. Amir telah begitu terkesan oleh kerja sarna yang harmonis antara Republik dan Kesultanan Yogya ketika mereka berkunjung ke Jawa. Segera setelah mereka kembali dari Jawa pada tanggal12 Januari, mereka membicarakan dengan bekas majikan dr. Amir, Sultan Langkat, untuk memprakarsai dan menjadi tuan rumah suatu konperensi kerajaan yang akan membahas masalah ini, di Tanjung Pura.
Kenyataan adanya dua tokoh besar dunia kesusastraan dari Sumatra Timur, Tengku Amir Hamzah (Wakil Pemerintah NRI untuk Langkat) dan Dr. Amir, yang bisa menjadi jembatan antara Kesultanan Langkat dan Republik mungkin telah menjadi sebab mengapa Langkat sepenuhnya bisa bekerjasama dengan usaha ini."(90)
Memang demikian. Dr. Mr. 1. Moehammad Hasan, dalam wawancaranya dengan penulis menyatakan bahwa pada tanggal 3 Februari 1946 dilakukan pertemuan dengan sultan-sultan. Ia masih mengharapkan agar para sultan menyadari keadaan dan mendukung republik. Dalam banyak pernyataan pemimpin-pemimpin Republik senantiasa ditekankan pengakuan akan kedudukan otonomi para raja itu seperti pengakuan Soekarno kepada Sunan Solo dan Sultan Jogya.
Ketika Gubernur Sumatra Mr. T. Moehammad Hasan, masih menunggu hasil perumusan sikap politik para sultan setelah pertemuan pada tangga13 Februari, Xarim M.S. mendesak agar gubernur mulai melakukan perjalanan inspeksi ke seluruh pulau Sumatra.(91)
Sementara itu para pemuda menjadi tidak sabar lagi karena sikap sultan-sultan yang ragu-ragu mendukung Republik. Lagi pula terbetik berita bahwa kesultanan-kesultanan terlentu memperkuat diri dengan senjata-senjata Sekutu. Tapi tidak di ketahui untuk apa.
Masalah pokok perjuangan yang bersifat lokal dewasa itu ditulis teoritikus Pesindo, Joesoef Abdullah Poear adalah "tekanan kita untuk mendemokrasikan raja-raja itu, ialah memperlukarkan daulat rakyat dengan daulat tuanku yang kolot itu, di bawah reneana Belanda untuk tetap memegang berbagai maeam kekuasaan bersama dengan seorang gubernur jenderal... "(92)
Dan akibat pengaruh perkembangan politik di Jawa, yaitu terbentuknya koalisi Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka maka lapisan pemuda pun menjadi lebih radikal, terutama terhadap sultan-sultan.(93)

***

Tatkala Gubernur Sumatra 1. Mr. Moehammad Hasan baru saja melakukan perjalanan keliling ke seluruh Sumatra, revolusi sosial meletus di Sumatera Timur, yang ditujukan kepada orang orang yang dituduh feodal.
Dalam kenyataannya ini bukanlah suatu "huruhara" berskala keeil.(94) Cukuplah bila dikatakan bahwa para pelakunya luas, meneakup berbagai aliran politik yang "kiri" dan yang "kanan," karena dalam kenyataannya melibatkan hampir semua kekuatan pro Republik yang "anti feodal", meskipun "perencanaan kudeta ini adalah suatu kelompok radikal di dalam tubuh Persatuan Perjuangan yang mencakup pimpinan Pesindo, PNI dan PKI."(95) Istilah "revolusi sosial" itu sendiri pertama kali justru digunakan oleh dr. M. Amir, intelektual yang bekerja sebagai dokter pada istana Sultan Langkat dan yang saat itu menjadi Wakil Gubernur Sumatra yang berkuasa berhubung Mr. T. Moehammad Hasan sedang berkeliling Sumatra.(96)
Akibatnya juga luas sehingga Mr. Amir Syarifuddin dikirim langsung ke Medan untuk secepatnya untuk mempelajari laporan dan mengatasi keadaan mendesak agar tidak menimbulkan citra buruk terhadap eksistensi RI secara nasional, bahwa di daerah RI (Medan) telah terjadi pengambil alihan kekuasaan dari tang an sipil ke tangan militer sebagai akibat revolusi sosial pada bulan Maret 1946. Beberapa jam saja Mr. Amir Syarifuddin berada di Medan, dengan kata-kata yang memiliki otoritas ia menyimpulkan bahwa ia berhadapan dengan masyarakat yang tanpa pimpinan.(97)
Memang, pimpinan TKR, A. Tahir, akhirnya mengambil insiatif mengambil alih pemerintahan untuk mengatasi suasana dan konon juga karena ia tidak diikutsertakan dalam keputusan keputusan penting.
Korban-korbannya juga luas. Ratusan "Tengku" menjadi tinggal nama di seluruh Sumatra Timur, bahkan raja dan bendahara kerajaan kecil Rokan di Riau pun kena ciduk dan "hilang."
Revolusi sosial dimulai pada tangga13 Maret 1946 malam di Brastagi, dengan menangkap 17 orang Raja Urung dan Sibayak, dan mengasingkan mereka ke Aceh Tengah. Juga penangkapan raja Panay beserta seluruh keluarganya, berikut penjarahan harta bendanya di Simalungun. Raja Raya dibawa ke jembatan besar dan dibunuh. Dua raja lainnya raja Purba dan raja Silimakuta dilindungi oleh TKR, tapi rumah dan sejumlah anggota keluarganya tak luput dari hajaran massa. yang paling parah malam itu di Asahan. Setelah terjadi tembak menembak dengan pasukan pendukung istana yang kemudian menyerah, tapi rajanya lolos dan akhirnya berlindung pada sebuah pos tentara Jepang. Malam itu T. Musa beserta seluruh keluarga dan harta bendanya dihabisi. Sebuah dokumen Belanda memperkirakan di Asahan saja menelan korban pembunuhan 1200 orang, di antaranya 127 orang sanak saudara dr. Mansur. Keganasan juga berlaku di lima kerajaan kecil Labuan Batu terhadap raja-raja, kaum keluarga dan harta benda mereka - Sultan Kualuh hilang, Tengku Hasnan bersama keluarganya dan Tengku Long dipenggal. Istana Sultan Deli dilindungi oleh gabungan pasukan Sekutu dan pasukan kerajaan. Sultan Serdang dan pertinggi-petinggi lainnya hanya ditahan di istananya di Perbaungan dalam keadaan baik, karena daerah itu daerah TKR di bawah pimpinan Kapten N urdin yang adalah bangsawan setempat.
Revolusi sosial di Langkat pun meletus tanggal 3 Maret 1946. Sultan Langkat di Tanjungpura tidaklah minta perlindungan Sekutu dan Jepang karena mengandalkan jaminan dr. M. Amir yang Wakil Gubernur Sumatra Tapi pasukan Pesindo menangkapi. sejumlah tak kurang dari 21 "tokoh-tokoh feodal" dan termasuk Amir Hamzah yang ditangkap tangga17 Maret 1946.(98)
Secara keseluruhan tentunya situasi di Sumatra Timur kompleks sekali. Bahkan mengandung 'misteri.' Orang pertama yang mencanangkannya, justru melarikan diri minta perlindungan ke markas Tentara Sekutu karena begitu ketakutan melihat ilusi-ilusi romantis intelektualnya menjadi kenyataan yang darah dan teror.(99)



message 40: by [deleted user] (new)

VIII lanjutan

Pangeran dan penyair Amir tak pernah pulang lagi. Tapi tak diketahui bagaimana nasibnya. Berita-berita tentang Amir Hamzah tak diterima keluarga dengan pasti. Ishinya 1. Kamaliah sampai meninggalnya tak percaya Amir sudah meninggal atau dibunuh, sebab Amir terlalu untuk bisa diperlakukan seperli itu. Apalagi karena tak diketahui di mana kuburannya.(100)
Setidaknya hal demikian berlaku tiga tahun lamanya. Dibunuh atau terbunuhnya penyair yang kesepian itu, juga membuat terperanjat salah seorang rekannya, Menteri Sosial Maria Ulfah Santoso, yang mendampingi Mr. Amir Sjarifuddin ke Medan:
"Orang sebaik itu ...!(101)
Perlanyaan yang diajukan tentang dibunuhnya Amir Hamzah, seolah perlanyaan diri adalah, kenapa? Alasan pplitisnya seperli jawaban seorang tokoh revolusi sosial, M. Saleh U mar yang penyair, warlawan. ketika ia masih "a strong man" (Wakil Residen di samping pimpinan pasukan Barisan Harimau Liar) kepada M. Said yang memperlanyakan kenapa Amir Hamzah dibunuh:
"Kesalahan Tengku Amir Hamzah hanyalah punya dua kantor yang berlolak belakangl" katanya.
Bahwa di satu pihak ia adalah wakil yang harus melindungi Sultan, dan di pihak lain ia Bupati Republik yang seharusnya ber gabung dengan massa untuk memimpin revolusi.(102)
Tapi jawaban seperli itu baru terungkap tahun 1972. Bagi banyak orang kematian Amir Hamzah dirasakan sebagai semacam ironi, juga bagi yang bersikap rasional bahwa revolusi tak bisa diramalkan jangkauannya. Barangkali karena korbannya adalah seorang penyair, yang dalam perjalanan sejarah yang kian kacau balau dan gersang, sajak-sajaknya dirasakan begitu murni indivual - meskipun sifat kemelayuannya kadangkala dipandang sebagai bagian mas a yang sedang menghilang, tapi juga perlanda kekuataan kreatif dan kelanggengan. kalau bukan suatu "pembaharuan."

***

Entah kenapa pada tahun 1949, tiga tahun setelah revolusi sosial itu, pihak kepolisian Binjai mengusut hilang atau terbunuhnya salah seorang anggota mereka Philip Simanjuntak dalam hura-hara revolusi sosial di Langkat tahun 1946 yang ternyata menyangkut pembunuhan massal berupa pemancungan.(103) Dan mereka menemukan dan menangkap para tersangkanya.
Setelah proses verbal polisi, berita acara diserahkan ke pihak kejaksaan di Binjai, dan jaksa Z Akbar Lubis mengajukannya berkas perkaranya ke Pengadilan Negeri Binjai sebagai perkara pembunuhan.
Sidang dibuka dan dipimpin oleh Hakim Ketua Pengadilan, W.C.Sotarduga, sedangkan jaksa penuntut umumnya jaksa Z. Akbar Lubis. Terdakwa yang dihadapkan ke depan sidang pengadilan adalah Mandor Ijang Widjaja dan Mandor Amin.
Dari proses verbal kepolisian, berkas perkara jaksa, atau persidangan dan vonis pengadilan yang tanpa catatan tertulis melainkan berdasarkan ingatan orang-orang yang terkait maka tidak saja dapat diketahui nasib anggota polisi yang hilang itu, akan tetapi juga apa yang sebenarnya terjadi pada Amir Hamzah pada saat berlangsungnya revolusi sosial itu, serta banyak orang yang senasib dengannya.

***

Anthony Reid menulis: "Di Langkat, Tengku Amir Hamzah selama bulan Februari secara diam-diam mengundurkan diri dari kedudukan jabatan Republiknya karena tekanan-tekanan berat dari Sultan Langkat dan sekretaris Sultan yang pro Belanda, Datuk Djamil di satu pihak, dan tekanan-tekanan para militan di lain pihak."(104)
Hasil wawaneara N.H. Dini dengan anak Amir Hamzah, T. Tahura,(105) menyingkapkan fakta-fakta yang mendukung ke simpulan Anthony Reid di atas.
Menurut Tengku Tahura, Amir Hamzah tak pernah ke mana-mana. Pada awal Februari 1946 - mestinya sejak 4 Februari - Sultan Langkat Tengku Machmud bersama permaisuri berada di istana Binjai. Nampaknya seperli suatu kunjungan keluarga, mertua mengunjungi menantu, anak dan cucu. Tapi sebenarnya untuk memecahkan suatu persoalan politik tatkala dewasa itu situasi sudah mulai "revolusioner." Apalagi kemarinnya mereka menghadiri pertemuan antara pemerintah (eksekutif dan KNI sebagai legislatif) di Kantor Gubernur Sumatra di Jalan Suka Mulia, Medan. Sedangkan di jalanan kota Binjai - juga di depan istana, sudah biasa terlihat para pemuda Pesindo bergerak seraya meneriakkan yel-yel perjuangan yang bernada anti kerajaan.
Berdasarkan cerita ibunya, Tengku Kamaliah, Tahura berkata bahwa di Binjai itu pada suatu hari Sultan memanggil Amir Hamzah. N ampaknya untuk pembicaraan yang bersifat politis di mana antara Amir dan mertuanya Sultan Langkat sebenarnya terdapat perbedaan yang mendalam, yang saat itu sudah merupakan perselisihan yang penuh risiko.
Kembali dari pertemuan wajah Amir amat tegang dan gelisah. Dan diam sama sekali. Karena pandai mendekati suaminya, Tengku Kamaliah tidak hanya maklum bahwa ayah dan suaminya bertengkar lagi, akan tetapi juga tahu dari mulut Amir Hamzah bahwa Amir "agak berselisih paham dengan mertuanya mengenai teman-teman seperjuangan Amir." Istilah "teman-teman seperjuangan Amir" di mata Sultan Langkat tak dapat tidak tentulah aktivis-aktivis yang bekerja untuk RI bersama Amir dalam keduduk an sebagai Bupati dan buat sebagai pangeran atau kepada pemerin tahan kerajaan Langkat. Lebih jauh menunjukkan bahwa Amir di mata Sultan lebih cenderung bersikap sebagai bupati RI ketimbang sebagai Pangeran Langkat. Hanya itu saja yang disampaikan Amir pada istrinya. Rupanya ia tak mau melibatkan istrinya dalam soal pekerjaannya.
Ketika Tengku Kamaliah menemui ayahnya, Sultan Langkat yang masih berang itu menuduh para pemuda pejuang yang adalah teman-teman Amir - punya rencana membunuh dirinya. Tapi Amir tak percaya begitu saja akan tuduhan Sultan, dan minta waktu untuk menyelidikinya lebih dahulu.
Besoknya sang isteri berlanya kepada Amir apakah ia sudah mengetahui sah tidaknya informasi dimaksud. Amir menyatakan bahwa berdasarkan sumbernya sendiri - yaitu aktivis pemuda Achmad Chiari, informan Sultan itu adalah tokoh yang amat dekat dan amat dipereaya Sultan sendiri.(106) Tokoh tersebut kepada Sul tan menyatakan bahwa Sultan akan dibunuh oleh para pemuda, namun sebaliknya kepada para pemuda bilang bahwa Sultan Langkat mendukung Sekutu yang siap memberikan bantuan sejata dari kapal. Di mata Amir Hamzah, informan itu diragukan sikap politiknya, apakah berpihak Republik atau Sekutu (baca: NICA, Belanda), sehingga membahayakan.
Di saat sedang menyampaikan hasil pembiearaannya dengan Aehmad Chiari kepada istrinya, mendadak Amir mendapat panggilan Sultan Langkat lagi. Apa yang terjadi? Di bawah tekanan Sultan Langkat, juga seperli yang dikisahkan Tengku Kamaliah pada Tahura, Amir Hamzah "terpaksa membubuhkan tanda tangan di atas surat perintah untuk menangkap Achmad Chiari beserla beberapa orang lainnya." Sultan sendiri menyatakan kurang tepat menandatangani sendiri karena yang ditahan adalah orang Binjai, yang dibawahi kekuasaan Amir Hamzah. Toh setelah menandatangani surat penangkapan itu Amir melepas Sultan Langkat pulang ke Tanjungpura, seraya memberitahu pada pemuda teman temannya itu agar setelah ditangkap melarikan diri. Dan memang itulah yang terjadi.
Suatu hal yang tidak mustahil mengingat betapa peragu atau menduanya Amir Hamzah sebagai manusia. Tapi nampaknya inilah kekeliruan Amir yang prinsipil: bahwa di saat-saat yang kritis Amir justru tidak membela aktivis-sktivis Republik malahan menangkap mereka, meskipun tak sesuai dengan kata hatinya.
Selanjutnya ia dipandang para pejuang Republik sebagai tokoh feodal yang berbahaya.
Dan itulah yang berakibat fatal baginya.




message 41: by [deleted user] (new)

VIII

***

Lasykar Pesindo datang sekitar pukul 15.00 sore tanggal 7 Maret 1946 ke istana Amir di Bindjai dengan mobil pickup, langsung menciduk dan membawanya ke rumah tahanan di Jalan. Bonjol Binjai, dekat titi Makam Pahlawan Binjai.
Seorang saksi mata, Tengku Peh, bercerita ia melihat Amir didudukkan di bagian depan diapit oleh sapir dan pengawal. Ia ber kopiah. Bajunya-kemeja putih tang an panjang. Tangannya elambai lambai kepada orang-orang menyalaminya di jalanan, sebab banyak orang tahu bahwa Amir Hamzah di mobil itu sebenarnya adalah sudah sebagai orang yang ditangkap dan akan dibawa ke rumah tahanan.(107)
Tidak hanya Amir seorang yang ditangkap. Kemarinnya ditangkap Pangeran Kamil, dan Tengku Mahraja (T. Abdurahim), dan kemarin lalu kemarinnya lagi 37 orang yang dituduh feodal ataupun orang-orang yang pendukung kesultanan.(108)
Setelah para tahanan dikumpulkan di Jalan Bonjol itu, maka ada yang dibebaskan. Tapi sejumlah lainnya diasingkan ke Kebon Lada - kira2 6 km,dari kota Binjai. Amir Hamzah adalah salah seorang yang harus diasingkan, lalu karena mereka dinilai tokoh penting dikirim ke perladangan Kuala Begumit untuk menjalani hukuman yang sudah ditentukan.(109)
Di Kuala Begumit para tahanan "ditelanjangi." Atau dicopoti pakaiannya, diganti celana goni. Juga sepatu-sepatu mereka dicopoti sementara orangnya disiksa ..... Amir pun berkolor buntung kotor. Dadanya telanjang tanpa singlet. Pusarnja terbuka tanpa penutup. Tubuhnya pun kelihatan kurus, wajahnya tak girang lagi, rambutnya kusut, mencerminkan hatinya risau.
Anehnya, sebelumnya ~ seperti diceritakan kemenakan Amir Hamzah, Tengku Majid ~ beberapa orang pemuda datang ke rumah memintakan apa-apa yang kiranya perlu dikirimkan kepada Amir di tahanan. Maka Tengku Kamaliah mengirimkan sehelai kain sarung, sepasang teluk belanga putih, sebuah kitab suci al Quran kecil, dan .... nasi goreng di antara serantang makanan.(110)
Tempat Amir dalam tahanan dipisahkan dari tahanan tahanan yang lainnya.

***

Di Kuala Begumit para tahanan diperintahkan menggali lubang. Jarak antara satu dan lain lobang 100 meter. Jadi diperintahkan membuat lubang buat kuburan mereka sendiri.
Maka lewat tengah malam, mulai jam 02.00 dinihari tangga120 Maret 1946, Kepala Laskar bersenjata mengeluarkan perintah lisan kepada anak buahnya:
"Si Polan mau diperiksa".
Artinya satu demi satu para tahanan yang dikatakan "mau diperiksa" itu diseret dengan paksa ke lobang pemancungan, sementara mata ditutup dan tangan diikat.
Amir Hamzah pun "dipanggil" atau tepatnya diseret secara paksa oleh tujuh pengawal ke lubang yang sudah digali .. Matanya ditutup rapat, sedangkan tangannya diikat kuat ke belakang.
Kepada para algojonya Amir mengajukan dua permintaan terakhir. Perlama minta waktu untuk shalat, kedua agar kain penutup mata dan ikatan tangannya dibuka. Permohonan Amir ternyata dikabulkan. Maklumlah kepala algojonya yang kemudian menebas batang lehernya dengan pedang adalah mandor Iyang, sebelumnya pelatih kesenian dan silat kuntau di istananya sendiri di Binjai. Bahkan menurut Tengku Putera Aziz, Mandor Ijang adalah adalah seorang kesayangan Amir Hamzah.
Menurut catatan polisi dan keterangan Tengku Anoan tak kurang dari 26 Tengku (bangsawan Binjai) yang dipancung oleh algojo Mandor Iyang Wijaya dan Mandor Amin.
Besok siangnya, 20 Maret jam 10.00 seorang simpatisan menemui Tengku Majid untuk memberitahukan bahwa semua tahanan di Kuala Begumit sudah diselesaikan tadi malam.
Seperti dinyatakan di atas, semua ini terungkap dalam pemeriksaan kepolisian dan persidangan atas dua orang tersangka sebagai pelaku dalam kasus pembunuhan atas seorang anggota polisi Phillips Simanjuntak. Barangkali hanya satu perkara itu yang pernah dilakukan berkaitan dengan pelaku revolusi sosial. Hilang atau terbunuhnya Amir Hamzah sendiri tidaklah pernah diperkarakan atau disidangkan pengadilan.

***

Pengadilan tentunya merasa perlu membuktikan benar tidaknya keterangan terdakwa. Juga untuk memastikan siapa-siapa saja orang-orang yang telah mereka pancung. Selain untuk pembuktian perkara, juga untuk memastikan sejauh mana kejahatan kriminal para tertuduh.
Para terdakwa diperintahkan menunjukkan lokasi penahanan, pelaksanaan hukuman pancung dan penguburan para korban revolusi sosial di Kuala Begumit.
Maka pada suatu hari di bulan November 1949 sua tu rombongan besar berjalan kaki ke Kuala Begumit. Selain dokter dan pihak Pengadilan hadir Kijai Hadji Abdul Karim seorang ulama Binjai, Dokter Minder Hout Kepala Rumah Sakit Umum Binjai dari jawatan kesehatan, seorang dokter patologi Laboratorium di Medan dan banyak penduduk serta kaum keluarga para korban revolusi sosial di Binjai.
Penggalian kuburan di tempat yang ditunjukkan kedua tertuduh dimulai sekitar pukul 10.00.
Hakim W.C. Sotarduga menceritakan dia sendiri turut menggali tanah pusara itu. Ternyata tanahnya tidak ditimbun dengan padat, sebab gembur dan sangat mudah digali. Baru sedalam setengah meter, tulang belulang pun nampak memutih. Segera diketemukan selusin kerangka manusia dalam keadaan lengkap. Jadi suatu kuburan massal.
Penemuan tulang belulang para korban Revolusi Sosial itu, telah membuat kegemparan di kota Binjai. Satu di antara beberapa lobang yang digali, selain berisi kerangka manusia, juga sebentuk cincin emas bermata nilam, warna bunga kecubung, begitu juga seuntai jimat dari benda timah. Tak syak lagi, milik Amir Hamzah seperti yang dibenarkan oleh keponakannya Tengku Madjid (dikuatkan istri Tengku Sulaiman), sedangkan azimatnya dibenarkan Tengku Cik Bangun Tanjung Pura. WC Sotarduga berkata ikut melihat cincin nilam itu, yang diduganya disembunyikanAmir di lobang tali celana dalam.
Amir Hamzah dibunuh dan dimasukkan ke dalam sebuah lobang dengan delapan orang isinya.
Dalam pemeriksaan di Pengadilan, Kepala algojo yang membunuh Amir Hamzah, Mandor Iyang Wijaya, mengaku terus terang telah melakukan pemancungan atas leher puluhan manusia di Kuala Begumit, termasuk di antaranya pujangga Amir Hamzah. Bahwa pemancungan-pemancungan itu dilakukan berdasarkan perintah atasan mereka. Tapi tidak ada penjelasan, apakah atasan dalam pasukan atau kelompok politik terlentu.
Pengadilan Negeri Binjai menjatuhkan hukuman atas Mandor Iyang dan Mandor Amin 20 tahun penjara, untuk hukum an baginya atas pembunuhan philllips Simanjuntak.(111)
"Tapi entah kenapa, mereka segera berkeliaran kembali di alam bebas!" tutur Mr. T. Moehammad Hasan, tertawa.(112)

***

Tulang belulang disusun kembali oleh dokter Monder Hout bersama dokter patlogi di Laboratorium RSU Medan. Dengan demikian dapat lebih dipastikan, yang mana kerangka Amir Hamzah. Menurut T. Sulaiman - abang tertua Amir Hamzah - Amir memiliki dua gigi palsu di rahang atas. Rahang itu ompong. Rupanya kedua gigi palsu itu telah copot.
Dari Medan kerangka Amir Hamzah dibawa ke Tanjungpura, disemayamkan di rumah rendah Rantau Panjang. Seminggu kemudian dkebumikan secara selayaknya menurut agama Islam di samping Mesjid Azizi, Tanjungpura, Langkat - dekat makam ibu bapanya.


Jakarta, 16 Maret 1996



message 42: by [deleted user] (new)

VIII

Catatan:
83. H.B. Jassin, Ibid, hal 16
84. Saidi Hoesny, Ibid
85. Sultan-sultan di Sumatra Timur, terutama Sultan Deli. Serdang dan Langkat adalah sultan-sultan yang kaya. Pembukaan perkebunan dan tambang minyak yang amat menguntungkan membuat mereka hidup mewah.Petikan dari Anthony Reid, Perjuangan rakyat, Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1987 - hal 89: "Pada tahun 1915, 39,2 persen dari penghasilan pajak di Deli, 37,9 persen di Langkat, dan 61,9 persen di Serdang masuk ke dalam kantung pribadi sultan-sultan dan kepala sukunya, dalam bentuk gaji resmi ditambah dengan bagian terbesar penghasilan honorarium (royalty). Di Simalungun dan Tanah Karo raja-rajanya dalam perbandingan ini mendapatkan masingmasing 16,1 persen dan 10,9 persen di mana raja-rajanya terikat pada perjanjian Korte Verklaring (Perjanjian Singkat) dengan Belanda ..... Yang terkaya dari mereka ini, Tuanku Machmoed dari Langkat, dengan hasil honorarium minyak di Pangkalan Brandan, mempunyai hasil pendapatan pribadi seluruhnya f 472,094 pada tahun 1931, Sultan Amaloeddin dari Deli menerima f 184.568, dan Sultan Soelaiman dari Serdang f 103.346.2 1
Kekayaan yang luar biasa ini memungkinkan raja-raja ini memelihara istana istana yang cantik, mobil-mobil mewah (Sultan Machmoed punya 13 pada tahun 1933, dan satu sekoci pesiar yang tidak terpakai), kuda-kuda pacu, mengadakan resepsi-resepsi yang semarak menyambut orang-orang Eropa yang berpengaruh, melancong ke Eropa, dan memelihara segala tentera sanak saudara kaum kerabat aristokrasi yang hidupnya tergantung daripadanya untuk menanamkan citra-citra kebesaran monarkinya di mata masyarakat umum sehingga terkesan kemuliaan martabatnya, untuk menutupi ketiadaan kekuasaannya.
Rasa tidak senang golongan intelektual Indonesia yang berasal dari daerah lain atas kebiasaan kolot dan hidup boros raja-raja ini hanya dianggap sepi, dinilai sebagai omelan orang luar yang menggerutu. Tetapi bagi rakyatnya yang langsung, orang orang Melayu dan Karo tidak ada alasan untuk mengeluh. Terutama orang-orang Melayu yang berjumlah hanya 40.451 (18,57 persen dari seluruh penduduk) di Kesultanan Langkat dan 61.953 (14,350 di Serdang.)
86. Anthony Reid, Ibid, hal 360
87. Anthony Reid, Ibid, ha1.289.
88. Anthony Reid, Ibid, hal 72
89. Anthony Reid, Ibid, hal. 357
90. Anthony Reid, Ibid, hal 360
91. Wawancara dengan Dr. Mr. T. H. Moehmmad Hasan
92. ]oesoef Abdoellah Poear, "Apa Arti Daulat Tuanku sebutan tanda tunduk kepada raja". harian Soeloeh Merdeka, Medan 17 Februari 1946. Lihat juga Anthony Reid, Ibid, hal 364.
93. Resminya Persatuan Perjuangan di Sumatra Timur baru terbentuk 11 Februari 1946. Anthony Reid, Ibid, hal 367
94. Beberapa tulisan tentang ini Anthony Reid, M. Said, Ruth Kahin
95. Anthony Reid, Ibid, hal 372.
96. Mohamad Said, "Apa itu 'Revolusi Sosial' tahun 1946' di Sumatra Timur," Harian Merdeka Jakarta, Februari - Maret 1972, diterjemahkan ke bahasa Inggeris oleh Benedict Anderson dan 1. Siagian, Indonesia, Cornell University, 15 (1973).
97.
98. Berbagai sumber
99. Wawancara dengan Mr. T. Moehammad Hasan, yang bercerita tentang betapa "pena kutnya dr. M. Amir. pertama mau saja "dipaksa" menandatangani sutau penyerahan kekuasan kepada ERRI (M. Junus Nasution), lalu kepada "teror" orang yang sama.
100. Rokyoto dan D.A.R. Kelana Putra, Penemuan Pusara Pudjangga Amir Hamzah, hal 12. Saidy Hoesni
101. Berbagai sumber.
102. Moehammad Said, "What was the 'Social Revolution 1946" di Sumatra Timur" (terjemahan Benedict Anderson dan Toenggoel Siagian dari serial tulisan di Harian Merdeka Jakarta, terbitan Februari - Maret 1972), Indonesia, Cornell University Press, Ithaca
103. Rokyoto dan D.A.R. Kelana Putra, Penemuan Pusara Pudjangga Amir Hamzah, hal 12
104. Alasan lainnya yang dikernukakan Rokyoto dan D.A.R. Kelana Putra, Penemuan Pusara Pudjangga Amir Hamzah, hal 12, kalaupn ada hanya memperkuat saja:
"Penangkapan itu oleh sernentara pendapat yang karni peroleh dari penduduk Kebun Lada Binjai, bahwa beberapa hari sebelurnnya Amir telah berpidato pada suatu rapat di Kebon Lada antara lain2 menjatakan , Tuhan rnendjadikan rnanusia ini tidak semuanja sama. Tjontoh pepohonan di muka bumi ini ada rendah dan tinggi walaupun usianja sama. Kalaulah semua orang mau disamakan didunia ini berlawananlah dengan kodrat Tuhan".
Utjapan Amir jang demikian itu, telah mendapat perhatian chusus dari beberapa orang pendengarnja, malah rnenimbulkan reaksi2 yang tertentu pula. Lebih-lebih lagi saat itu saat-saat jang genting dan menakutkan: Rakyat senantiasa mernperhatikan gerak gerik Tengku-Tengku, keluarga-keluarga radja serta orang pro radja, untuk mentjari-tjari alasan melakukan tindakan.
105. N.H. Dini, Amir Hamzah Pengeran dari Seberang, Gaya Favorit Press, Jakarta 1981, hal 135-140
106. Barangkali yang diidentifikasi Anthony Reid di atas sebagai Datuk Jamil
107. Rokyoto dan Dar Kelana Putra, Penemuan Pusara Pudjangga Amir Hamzah, hal 12
108. Ibid.
109. Rokyoto dan D,A.R. Kelana Putra, dalam bukunya Penemuan Pusara Pudjangga Amir Hamzah, menuliskan hasil wawanwara mereka dengan Kepala Polisi Binjai saat itu, Tengku Anoan.
110. Ibid. Juga, N.H. Dini, Ibid, hal 149-150
111. Kedua penulis buku Penemuan Pusara Amir Hamzah itu tidaklah rnenjelaskan apakah pemah dibuka sudang pengadilan khusus untuk kasus-kasus pernbunuhan lain. Tidak juga sidang pengadilan atas terbunuhnya Amir Hamzah.
112. Wawancara dengan penyunting tulisan ini


Habis

Abrar Yusra, "Amir Hamzah, Biografi Seorang Penyair", dalam Amir Hamzah 1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair, ed. Abrar Yusra, Jakarta: Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Yassin, 1996, hlm. 17-81.

Sebagian besar naskah di atas merupakan hasil OCR. Mohon maaf atas segala kesalahan yang pasti tersisip di dalam hasil pindaian di atas.
Selamat membaca :D


message 43: by Hippo dari Hongkong (last edited Apr 04, 2009 01:10PM) (new)

Hippo dari Hongkong | 1033 comments Mel wrote: "@erie
tumben nongkrong. gue gak bakal heran kalo si james yg sering nongol di thread ini neh. lol"


terbukti apa yang gue bilang di ripyu gue kalo jendral james ini memang sangat memuja amir hamzah :D

*masi ngucek2 mata baca postingannya*





message 44: by Bunga Mawar (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments hmm... zombie benar2 merajalela. Untung udah gw tinggal tidur.

Dear mods, sepertinya judul thread ini layak direvisi jadi "Baca Bareng dan Diskusi Sejarah Amir Hamzah featuring Kumpulan Puisi Setanggi Timur", huehehe...


message 45: by Bunga Mawar (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments Eh iya... makasih kepada para sejarawan GRI yang telah memperkaya pengetahuan sejarah kita semua. Tinggal kami yang harus cepat2 "save as" halaman ini buat dibaca kelak dan tidak kena charge lagi, hihi...

Masih ada yang punya dokumen ttg Amir Hamzah?


 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2898 comments walah... kok puisinya baru seucrit? ketimbun ma riwayatnya ^ ^
knp gak dibikin 2 tret aza?


message 47: by Bunga Mawar (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments Yip a.k.a Qui, tenang dong... sabar... kan masih tanggal 5 ni, sementara puisi di bukunya hanya menghabiskan 32 halaman saja.

Ini udah 4 halaman, lumayan, kan?
*sambil nungguin yang mo bawain akte kelahiran ato surat nikah Amir Hamzah*


gonk bukan pahlawan berwajah tampan (gonk) | 287 comments aha....jadi belajar sejarah dulu nih sebelum baca puisi2nya...menarik!!!


message 49: by Bunga Mawar (last edited Apr 06, 2009 03:42AM) (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments oh, jadi gw nih official typist-nya? kenapa ga elu aja, po? :p

ya sudah, sambil menunggu sembuhnya ketua dewan pengunyah dari sakit diare, kita simak lagi sisa "Ajam"-nya Omar Khayyam.

Btw, beneran kagak ada yang punya dokumen2 lain (misalnya buku nikah) dari Amir Hamzah neeh?


message 50: by Bunga Mawar (new)

Bunga Mawar (verad) | 951 comments Ajam (sambungan, hal 5-7)

(hal 5)
Jaga, ya anak helat! fajar telah menyingsing
Isi piala-cuaca dengan anggur-muda-usia
Carimu sepanjang hidup tiadakan bersua
Pinjaman fana, saat ini, dalam lemah dunia.

Pasu telungkup, bulatan setengah ini
Menundukkan dengan kuasa segala ulama
Tetapi, perhatikan piala dan kendi: bibir bersambut:
Darah mengalir dalam pelukan ciuman lama.

Cucurkan minuman-dewa, suci bersih, sebagai salam
Pada segala kepermaian menyamankan hidup
Anggur itu darah pohonnya. “Minum”, dengarkan bisik
“Siapakah memberi lebih dari darah-hatinya?”

Kendi-piala tiada melepaskan kami yang berahi
Ajaranmu, ya munafik, uraikan pada yang lain
Tiadakah kaulihat kami, gemarkan camar
Dan tiada apa pun kuasa, memisah kami dari bibir kekasih?

Dunia menghijau; bunga, terbuka
Serupa tangan Musa, menyalju jurai melengkung;
Napas Isa menjagakan rumput semua;
Terbuka mata-mega diiringkan air-sedan.

Catatan: helat = asing; dagang


(hal 6)
Mawar berkata: ada teruna demikian murahnya?
Buta mataku karena tertawa.
Ria kubuka ali pundiku
Kayaku semua kuhamburkan di angin.

Lampau tahun-bersusun dalam harapan hampa:
Haram sehari hidupku bahaya –
Satu takutku, dalam hidup yang fana ini
Tiada tercapai lagi, yang telah lari.

Minum anggur, nikmat dikau disisi anggur.
Berkasih-kasihan, semoga ia berbunga bahagia.
Telah termaktub, sekali engkau akan tiada.
Rasakan sini kebalikan mati.

Hari teduh dan juwita, hujan muda
Membasuh muka mawar semua
Bulbul merdu sedekala menyeru
Minum anggur, minum anggur! Pada mawar pucat arona.

Lama sedikit berjaga dekat anggur dan cinta
Sesudah ini, tidur abadi tiada serta kasih dan kawan.
Bunikan seperti emas petua-rahsia:
Di tegalan, ini, tiada lalah dua kali berbunga.

Catatan: lalah = sebangsa bunga


(hal 7)
Sebelum tuan diserkap perampok di malam tinggi
Ringankan kendi, ambil isinya berwarna-mawar
Sebenarnya, macam manikam tuan di tanam
Tetapi siapa pula membongkar senda, ya Gila.

Jika ayam-jantan berkokok, mereka yang berdiri
Dimuka persinggahan berseru: Bukakan pintu!
Tuan ketahui, berapa kerjap kami berhenti,
Dan, bila bercerai, tiada mungkin bertemu lagi.

Bermimpi bila Tangan-Kiri subuh terbentang di awang
Terdengarku suara dalam persinggahan berseru,
“Bangkit putraku rata, isikan Piala,
Sebelumnya kering Anggur-Hidup dalam kendinya”.

Dengarkan pula. Pada suatu malam, pada penghabisan
Bulan Ramadhan, sebelumnya bercahaya purnama-ria
Terdiri aku seorang diri, dalam kedai Pembentuk-Kendi
Kelilingku, baris-berbaris manusia tanah –

(Omar Khayyam)



« previous 1
back to top

unread topics | mark unread


Books mentioned in this topic

Setanggi Timur (other topics)
Amir Hamzah 1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair (other topics)
Buah Rindu (other topics)
The Mute's Soliloquy: A Memoir (other topics)
Sastra Melayu Lama dan Raja-rajanya (other topics)
More...

Authors mentioned in this topic

Amir Hamzah (other topics)