Goodreads Indonesia discussion

179 views
Buku & Membaca > Penerbit Djambatan Resmi Tutup per 1 Januari 2013

Comments (showing 1-34 of 34) (34 new)    post a comment »
dateDown_arrow    newest »

message 1: by aldo zirsov (last edited Feb 14, 2013 07:38PM) (new)

aldo zirsov (aldozirsovlibrary) | 371 comments Penerbit Djambatan secara resmi tutup dan membubarkan diri per 1 Januari 2013.
Penerbit ini pada awalnya adalah penerbitan milik Belanda bernama N.V. Uitgeversbedrijf Djambatan-Nederland, yang merupakan usaha gabungan antara perusahaan penerbit Indonesia dengan perusahaan penerbit Belanda. Sejak 19 Februari 1954, pihak Indonesia di bawah pimpinan K. St. Pamuntjak berhasil membeli seluruh saham milik Belanda dan sepenuhnya menjadi perusahaan Indonesia. Tanggal 19 Februari 1954 itulah yang kemudian dianggap sebagai berdirinya Penerbit Djambatan, yang juga merupakan salah satu penerbit tertua di Indonesia.

Buku-buku terbitan Djambatan yang sangat familiar dengan pembaca di Indonesia antara lain Ziarah, karangan Iwan Simatupang, yang memenangkan Hadiah Sastra Asean Pertama tahun 1977, kemudian buku Burung-burung Manyar, karya Y.B. Mangunwijaya, sebagai Pemenang Penghargaan Tulis Asia Tenggara 1983, dan Max Havelaar karangan Multatuli.

Karya-karya lain yang terkenal dari Djambatan adalah Tidak Ada Negara Islam: Surat-surat Politik Nurcholish Madjid dan Mohammad Roem, Peta Atlas Jakarta dan Jabodetabek karya Gunther W. Holtorf yang monumental, buku terjemahan Dr. Zhivago karangan Boris Pasternak, Ekonomi Terpimpin karangan Mohammad Hatta, Al-Quran Bacaan Mulia yang kontroversial karya H.B. Jassin, buku Kartini, Surat-surat kepada Ny. Abendanon Mandri dan Suaminya, Biografi Kartini, buku Gerpolek Tan Malaka, serta buku Non-Fiksi yang paling banyak dicetak ulang, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, karangan Koentjaraningrat.

Djambatan juga menerbitkan banyak buku untuk anak-anak, diantaranya seri Monumen Tersohor seperti Borobudur, Colosseum, Menara Eiffel, Piramid Sphinx, Taj Mahal dan Westminster Abbey, kemudian seri Kisah orang-orang yang telah berjasa seperti R.A Kartini, Florence Nightingale, Madame Curie, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi dll. Di samping itu Djambatan juga menerbitkan buku-buku karangan Pak Raden atau Drs Suyudi, baik sebagai pengarang cerita maupun ilustrator.

Saya mendapat informasi ini dari karyawan Penerbit Djambatan jauh hari sekitar akhir tahun 2012, tp belum ada rapat direksi dan komisaris saat itu yang membahas masalah penutupan dan pembubaran penerbitan ini, tetapi beberapa hari yang lalu di awal Februari 2013, saya mendapat info lebih lanjut bahwa Komisaris dan Direksi Djambatan sepakat untuk menutup usaha penerbitan ini dan semua karyawan resmi diberhentikan dan mendapat pesangon. Kabar ini sebenarnya tidak mengejutkan, kalau diamati sejak HUT Djambatan ke-50 tahun 2004, secara signifikan Djambatan sudah sangat sedikit menerbitkan buku, dan hanya berkutat mencetak ulang beberapa buku terbitan mereka yang cepat laku di pasaran. Beberapa tahun setalah HUT ke-50 tsb juga ditandai penjualan aset perusahaan berupa tanah dan bangunan di Jakarta Selatan serta semua kegiatan berpindah dan terpusat di Jl. Paseban Jakarta Pusat. Konflik internal dan keluarga pemegang saham juga menambah beban penerbit pasca HUT ke-50 tsb.

Saya pribadi menyayangkan dan sedih dengan tutupnya Djambatan, karena sejak kecil cukup akrab dengan buku anak-anak terbitan mereka, serta beberapa buku Sastra yang sangat memikat baik buku asli Indonesia maupun buku terjemahan. Secara teratur disaat ada kesempatan, sayapun mengumpulkan satu persatu terbitan mereka. Sekarang hanya tinggal kenangan, bahwa setidaknya pernah ada penerbitan swasta Indonesia berusia panjang melewati umur 50 tahun.

Farewell Djambatan, mudah-mudahan kami tetap bisa menikmati karya-karya yang pernah kalian terbitkan.

Bagi teman-teman silahkan di-share disini buku terbitan Djambatan apa yang paling diingat dan berkesan setelah membacanya. Siapa tahu bisa berbagi kenangan masa kecil atau memori lama terhadap penerbit ini dan karya-karya keluaran mereka.


Nyonya Buku (nyonyabuku) | 103 comments aku punya Faust, mas. dah lamaaa bener..
iya, sedih ya tutup.
berarti kantornya yg dkt senen itu tutup juga? cakep gitu arsitekturnya. #jadipengenbeli #ehsalahfokus


aldo zirsov (aldozirsovlibrary) | 371 comments Nyonya wrote: "berarti kantornya yg dkt senen itu tutup juga? cakep gitu arsitekturnya. #jadipengenbeli #ehsalahfokus"

yup, dijual tuh kantor mereka di Jalan Paseban dekat Salemba/Senen tsb. coba aja siapa tahu berminat hehehe
:D


Nyonya Buku (nyonyabuku) | 103 comments ahahaha... tau aja.
cakep ya kalo jadi ruang baca gitu... :p

GRI mau beli?
#jieeee


bakanekonomama (radmalia) | 177 comments Sedih kalo denger kabar ada penerbit yang tutup kayak gini... :'(


Nenangs | 2319 comments waaah?
turut berduka cita...
kemarin2 balai pustaka krisis, sekarang djambatan tutup.

*mengheningkan cipta*


aldo zirsov (aldozirsovlibrary) | 371 comments Nenangs wrote: "kemarin2 balai pustaka krisis, sekarang djambatan tutup."

Balai Pustaka digabung dengan penerbit Pradnya Paramita yang terkenal karena menerbitkan serial buku Karl May: Old Shatterhand dan Winnetou.
Aset berupa tanah dan gedung Balai Pustaka di Jalan Gunung Sahari Senen, diambil alih oleh Kementerian Keuangan. Mereka (BP dan PP) pindah ke kawasan industri Pulo Gadung.
Karena kedua penerbit ini adalah BUMN, belum tahu nih apa rencana Dahlan Iskan untuk kedua penerbit ini..


Tezar Yulianto | 351 comments kalau pustaka jaya gimana nasibnya ya?


Azia | 182 comments Aku baru kenalan dengan Djambatan dari kuliah,terhitung masih baru. Terbitan Djambatan yang pertama kali aku baca itu novel terjemahan Boris Pasternak - Dokter Zhivago.

Klo lagi hunting buku, buku dari Djambatan selalu menarik hati. Yang aku punya buku Max Havelaar dan Burung-burung Manyar - Y.B. Mangunwijaya.

sediiih :(


Nyonya Buku (nyonyabuku) | 103 comments wa... jujur saya baru tau kalo PP itu BUMN #jedotinkepala


Nenangs | 2319 comments iya sama baru tau.


Azia | 182 comments kmrn aku baca Dahlan Iskan mau nutup balai pustaka karena termasuk BUMN rugi.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/re...


Nenangs | 2319 comments just a thought...

kalo pemerintah memang beneran berniat "mencerdaskan kehidupan bangsa", mustinya BUMN yg berkaitan dengan pendidikan & buku2 seperti BP & PP ini diselamatkan & dibina secara serius, kalau perlu disuntik dana segar, supaya buku2 bagus dalam dan luar negeri bsia diterbitkan dengan harga yang lebih terjangkau. kalau nggak bisa murah, at least lebih terjangkau lah.

any other thoughts?


Nenangs | 2319 comments Azia wrote: "kmrn aku baca Dahlan Iskan mau nutup balai pustaka karena termasuk BUMN rugi.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/re..."


eh? malah mau dilikuidasi...:s


owl (buzenk) | 1635 comments *mengheningkan cipta*
:'(


bakanekonomama (radmalia) | 177 comments Nenangs wrote: "just a thought...

kalo pemerintah memang beneran berniat "mencerdaskan kehidupan bangsa", mustinya BUMN yg berkaitan dengan pendidikan & buku2 seperti BP & PP ini diselamatkan & dibina secara seri..."


Setujuuu sama Kang Nenang!!!

Kalo BUMN ngitungnya untung rugi doang, apa bedanya dong sama perusahaan komersial lainnya? Lagipula, harusnya BP & PP diremajakan, biar nggak kalah sama penerbit populer lainnya. Mereka harus tau apa yang pasar mau, jadi bisa diterima sama masyarakat. Lagian, kayaknya sekarang yang berkembang memang budaya populer semua, nggak budaya baca. Apalagi budaya membaca sastra. Inget dulu waktu SMA, cuma kenal sastrawan pujangga ini dan itu sebatas nama dan karya mereka aja, tapi nggak ada upaya untuk memperkenalkan ke siswa-siswanya... #helanapas


ijul (yuliyono) (ijul) | 1182 comments bakanekonomama wrote: "Inget dulu waktu SMA, cuma kenal sastrawan pujangga ini dan itu sebatas nama dan karya mereka aja, tapi nggak ada upaya untuk memperkenalkan ke siswa-siswanya... #helanapas "

#ikut.hela.napas

setuju banget, bahkan yang memperkenalkan Chairil Anwar secara nyata padaku adalah Nicholas Saputra dan Dian Sastro, bukan SMA yang tiap pelajaran bahasa Indonesia mendengung-dengungkan namanya.....


message 18: by Wirotomo (last edited Feb 14, 2013 10:31PM) (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2332 comments sedih juga kalau ndenger satu per satu penerbitan tumbang. sigh.

soal Balai Pustaka, yah masalah utamanya mesin cetak mereka sudah ketinggalan jaman (waktu punya duit nggak pernah mencadangkan untuk peremajaan mesin) jadi harga buku mereka jadi nggak masuk akal dan secara artistik jadi keliatan kuno banget, SDM kebanyakan pendidikannya rendah dan kalau nggak salah 3/4 nya di atas 45 tahun. terus buku2 yg dia terbitkan tinggal beberapa tahun lagi sudah jadi public domain. mungkin Pemerintah bingung, kalau disuntik dana dengan sumber daya seperti itu ya seperti air dituang ke gurun pasir, akhirnya musnah. Nyari SDM yg kompeten? mungkin mending kerja di KKG ya. :-)
Untung rugi sebuah BUMN cukup penting lho, kalau BUMN rugi terus tapi dibiarin hidup terus, ya bakal mengacaukan keuangan negara juga akhirnya. apa bedanya sama korupsi, uang negara hilang akhirnya.

tapi terus terang aku cukup kaget Pak Dachlan Iskan mbubarin BP, karena dulu aku denger opsinya ada 3:
1. pengalihan Balai Pustaka menjadi badan layanan umum (BLU) yang berada di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Nasional,
2. Balai Pustaka dilikuidasi,
3. Didivestasikan menjadi anak usaha PT Telkom.

http://www.tempo.co/read/news/2011/07...

ternyata opsi likuidasi lebih menarik ya. sigh lagi.


bakanekonomama (radmalia) | 177 comments Wirotomo wrote: "Untung rugi sebuah BUMN cukup penting lho, kalau BUMN rugi terus tapi dibiarin hidup terus, ya bakal mengacaukan keuangan negara juga akhirnya. apa bedanya sama korupsi, uang negara hilang akhirnya."

Iya sih, tapi aku menganggap itu sebagai salah satu kewajiban negara untuk mencerdaskan bangsa...

Lagian, kenapa bisa sampai rugi? Pasti ada yang salah dengan manajemennya... Atau mungkin yang salah memang bangsa kita sendiri, ya? Mungkin yang dibutuhkan restrukturisasi bukan likuidasi. #sotoy :p

ijul (yuliyono) wrote: "setuju banget, bahkan yang memperkenalkan Chairil Anwar secara nyata padaku adalah Nicholas Saputra dan Dian Sastro, bukan SMA yang tiap pelajaran bahasa Indonesia mendengung-dengungkan namanya..... "

Hihihi... Sama. Kayaknya kalo baca novel2 remaja sekolahaan barat, mereka suka disuruh baca novel2 macam "To kill a mockingbird" atau "Wuthering Heights" atau yg lain-lainnya. Tapi selama aku sekolah, nggak pernah ada tugas membaca karya-karyanya Hamka, Mochtar Lubis, Pram, dsb. Baru tertarik baca gitu-gituan sejak kuliah aja, itupun karena kuliah di jurusan sastra.


Nenangs | 2319 comments Wirotomo wrote: "Pemerintah bingung, kalau disuntik dana dengan sumber daya seperti itu ya seperti air dituang ke gurun pasir, akhirnya musnah. Nyari SDM yg kompeten? mungkin mending kerja di KKG ya. :-)"

kalau sekedar disuntik dana ya amblas aja. makanya kutulis juga diselamatkan dan dibina secara serius, baru kemudian kalau perlu diberi suntikan dana.

bakanekonomama wrote: "Mungkin yang dibutuhkan restrukturisasi bukan likuidasi."

restrukturisasi (keuangan?), reorganisasi, rekonsolidasi & revitalisasi asset, sekalian bersih2 dari unsur2 korup. itu kalau mau diselamatkan. tapi yg paling gampang dan nggak capek mikir ngurusin ke depannya sih emang likuidasi aja. masalah (sepertinya) selesai saat semuanya bubar dan sisa asset dijual, dan paling nggak asset2 yg tersisa bisa jadi duit.


aldo zirsov (aldozirsovlibrary) | 371 comments Sekedar berbagi informasi, buku-buku terbitan Djambatan yang saya koleksi dan kumpulkan, bisa dilihat di link berikut:
http://www.goodreads.com/review/list/...

Koleksi buku-buku tsb, tentu saja minus (tanpa) buku2 teks seperti buku hukum, teknik, administrasi kantor, atlas, pengajaran bahasa, kamus, buku kedokteran, manajemen, pengajaran musik, ekonomi manajemen dan perbankan :)


Dani Noviandi (daninoviandi) | 187 comments zhivago, max havelaar ama orang asing-nya Camus masih ada yang jual gak ya? buku 1001 tuh...


Darara | 7 comments :'(
kangen dgn Ziarah-nya Iwan Simatupang.
semoga hak cipta buku2 bagus terbitan Djambatan dibeli penerbit lain, trus dicetak ulang.
atau terserah gimanalah solusinya.


Nenangs | 2319 comments Amang wrote: "Tezar wrote: "kalau pustaka jaya gimana nasibnya ya?"

Berkat kampanye #SavePustakaJaya, Pustaka Jaya terselamatkan. Asetnya di Jakarta ditutup. Pindah buka lagi di Jl. Gumuruh No. 51 Bandung."


iya pustaka jaya juga nyaris ya. kalo ga salah amang yg posting di GRI ttg kampanyenya? untunglah berkat kampanye itu masih bisa terselamatkan.


indri (indrijuwono) | 2855 comments ijul (yuliyono) wrote: "bakanekonomama wrote: "Inget dulu waktu SMA, cuma kenal sastrawan pujangga ini dan itu sebatas nama dan karya mereka aja, tapi nggak ada upaya untuk memperkenalkan ke siswa-siswanya... #helanapas "..."

untung sewaktu smp aku punya guru bahasa indonesia yang memperkenalkan karya-karya pujangga baru dan membuatku betah nongkrong di perpustakaan melahap karya-karya mereka (tapi kayaknya kok aku thok ya?).
favoritku layar terkembang - sutan takdir alisyahbana dan dari ave maria ke jalan lain ke roma ~ idrus.

dan ditambah lagi, terima kasih banget buat tvri yang dulu bikin sinetron sitti nurbaya dan kasih tak sampai, dengan versi klasik setting di kampung (bukan versi sinetron remaja kayak beberapa waktu yang lalu di tv swasta) yang membuat banyak orang mengetahui cerita dari salah satu karya sastrawan negeri sendiri. sinetron ini juga yang membuat aku tertarik untuk membaca banyak karya angkatan balai pustaka dan pujangga baru.


asdewi | 199 comments bakanekonomama wrote: "Inget dulu waktu SMA, cuma kenal sastrawan pujangga ini dan itu sebatas nama dan karya mereka aja, tapi nggak ada upaya untuk memperkenalkan ke siswa-siswanya... #helanapas
"


Masa sih? O_o

Masa sih perbedaan umur kita segitu jauhnya ampe sistem pendidikan juga berubah?

Aku kenal dan baca sastra Indo justru waktu sekolah. Dari SD, di sekolahku ada program baca sastra dan disuruh bikin resensinya. 1 cawu 1 buku. Aku inget banget program ini dimulai waktu aku kelas 5, dan buku pertama yang disuruh baca itu Sengsara Membawa Nikmat karena sinetron tvri-nya lagi happening.

Dan tugas itu bukan dibikin sendiri sama guruku. Tapi emang ada dalam buku panduan pelajaran bahasa Indonesia dulu (buku2 di sekolahku terbitan Balai Pustaka).
Dan berhubung ampe aku SMU sekolahku masih betah pake buku terbitan Balai Pustaka, maka tugas resensi itu pun selalu ada ampe lulus.

Makanya aku heran, masa sih kurikulum udah beda banget? *berasa baru lulus SMU 5 tahun lalu* X)


indri (indrijuwono) | 2855 comments sekolah negeri kan wi?
aku juga waktu smp disuruh bikin resensi-resensian..

oh iya, sengsara membawa nikmat yaa.. (ralat di atas aku nulis sitti nurbaya dan kasih tak sampai)


bakanekonomama (radmalia) | 177 comments Aku juga di sekolah negeri dari smp sampai sma mbak-mbak sekalian. Tapi, nggak pernah sama sekali tuh disuruh baca karya-karya sastra negeri sendiri (apalagi negeri orang xp) buat dibikin tugas resensi atau apapun itu. Tapi kalo judul-judul yg disebutin itu tau semuanya dari SMP X) (meskipun ga pernah baca)...

Sepertinya anak-anak yang smp-nya di akhir 90 smp awal 2000-an nggak mengecap karya-karya sastrawan lama sebagai tugas deh mbak... Kecuali kalau gurunya sendiri yang memang ada minat khusus sama sastra dan mengenalkannya ke murid-muridnya.. Sedih, ya... :'( Wajar aja kalo minat baca di Indonesia makin lama makin rendah....


asdewi | 199 comments Woooyyy....aku SMPnya juga akhir 90-an #denial x))
Yah...mungkin aku emang beruntung aja (ato gak) dpt guru yg nyuruh baca. Bacanya sih enak, ngeresensinya itu yg males. :|

@teh Indri: aku sekolahnya di swasta katolik kok. Tapi buku panduannya emang pake terbitan BP.


bakanekonomama (radmalia) | 177 comments Pasti maksudnya selesai smp-nya kan mbak? Bukan mulainya? (^ω^*) Syubidubidu... #lalukabur


indri (indrijuwono) | 2855 comments kalau karya Pram tdk dikenalkan krn tuntutan rezim, itu wajar. tapi kl Marah Rusli, STA, Idrus, Chairil Anwar, Armijn Pane, Hamka itu selalu ada di setiap akhir bab buku bahasa dan sastra indonesia terbitan Intan Pariwara.
dulu sekolahku negeri dan dan jauh dr ibukota propinsi lagi, waktu SMP tinggal di Blitar, beberapa jam dr kampungnya Ijul. stasiun TV cuma TVRI.


Evyta Ar (evytaar) | 4 comments wah sayang ya ditutup. saya kenal djambatan dari buku kuliah "Dasar-Dasar Mikrobiologi". tadi barusan baca2 status teman, buku burung-burung manyar juga dari Djambatan ya. pengen punya burung2 manyar. djambatan ada buka obral buku ga ya? kali sisa2 bukunya dijualin :D


Nanny SA | 1332 comments turut berduka..


Wirotomo Nofamilyname | 2332 comments Aku SMA tahun 1986-1989, juga disuruh resensi "Atheis", "Raumanen". Mungkin sekarang dibebaskan kali', jadi ngeresensi Sitta Karina juga bisa, yg penting pengarang Indonesia.

Soal sinetron, aku ingetnya dulu yang ada sinetronnya "Sengsara Membawa Nikmat" dan "Sitti Nurbaya".


back to top

unread topics | mark unread