group discussion
topic:
Buku & Membaca >
Buku-Buku yang Seharusnya Tidak Diterjemahkan
Di antara banyak alasan menikmati sebuah buku, terutama fiksi, bagiku ada dua hal yang cukup menonjol.
1. Jalan Cerita yang menarik
2. Jalinan kata yang super menawan.
Buku-buku jenis kedua ini menurutku akan sangat sulit diterjemahkan, dan kalaupun diterjemahkan, banyak hal yang akan hilang dalam terjemahan. Ini disebabkan banyak nuansa kata (atau kalimat)dalam bahasa inggris (atau bahasa-bahasa lain) yang tidak memiliki padanan istilah dalam bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya.
Tetapi, setelah kupikir-pikir lagi, betapa ketinggalannya kita kalau untuk alasan ini kita tidak dapat ikut mencicipi sastra dunia, misalnya. Selain keterbatasan bahasa, kendala lain untuk menikmati sebuah buku dari bahasa aslinya adalah soal biaya. Buku-buku impor relatif lebih mahal daripada buku terjemahan (yah tidak selalu begitu sih; toh sering ada obral buku 25 ribuan atau buku-buku impor bekas).
But still, meski mungkin judul yang kugunakan terlalu "keras", aku tetap beranggapan ada buku-buku yang sebaiknya dibaca juga versi aslinya.
Nah, ini dia buku-buku yang menurutku lebih asyik dibaca versi aslinya (yang keingetan aja sih):
1. the God of small things. Sebenarnya aku belum baca terjemahannya,(bisa kubayangkan betapa sulit kerja penerjemahnya, salut!) tapi ada beberapa bagian dari buku ini (terutama permainan katanya) yang membuatku yakin sekali buku ini baru bisa dinikmati secara utuh bila kita membaca aslinya. Untungnya buku ini masih punya jalan cerita yang cukup menarik, jadi masih bisa dinikmati walaupun misalnya ada beberapa hal yang lost in translation.
2. the Gathering (Anne enright). Buku ini nyaris tak punya plot yang menarik (atau bahkan tak ada plot sama sekali..heheh becanda ding). Namun jalinan katanya sungguh liris.
3. Cala Ibi. Baru baca beberapa halaman sih..tapi sungguh, kalo diterjemahkan ke bahasa lain, apa bisa memunculkan daya tarik sebagaimana versi orisinalnya.
Oke segitu dulu dariku (nanti kutambahin kalo ada yang keingatan lagi). Bagaimana menurut teman-teman?
Menurut saya; selama bahasa asing tidak menjadi kendala sebaiknya membaca buku dengan bahasa aslinya :)Bukan karena si penterjemah ga jago tapi ada kesan pesan yg tertangkap dari bahasa aslinya yg mungkin tidak akan tertangkap dengan bhs indonesia.
Jangankan kita bicara mengenai buku berbahasa inggris yang di translate ke bhs indonesia.
Baru2 ini saya baca novel "The girl with the dragon tatto" nya Steig Larsson . aslinya novel ini bahasa swedia dan katanya best seller di eropa, tapi saya baca versi inggrisnya.. novel ini biasa2 aja.
Harry potter, saya baca dua2 versi bhs ingris dan indonesia. memang beda sekali kesan yg tertangkap.
Saya tidak terlalu sepakat..Mungkin ini masalah selera, tetapi saya mendapati beberapa terjemahan yang hampir sama atau malah relatif lebih enak dibaca daripada aslinya (mungkin karena saya lebih sering membaca buku berbahasa Indonesia, jadi bagi saya terjemahan ke bahasa indonesia yang cukup mengalir itu jauh lebih enak dibaca daripada buku berbahasa asing sulit yang mengharuskan saya beberapa kali harus ngecek kamus atau mengingat-ingat artinya). Misalnya saja asterix (ya iyalah, saya ngga bisa bahasa prancis hehehe..), pangeran kecil edisi pustaka jaya (lho prancis lagi hehe..saya bandinginnya sama yang bahasa inggris, lebih enak yang indonesia), famished roadnya ben okriLagipula sebenarnya konteks saya lebih pada dunia penerjemahan. Di luar masalah naluri pasar, penerbit biasanya memutuskan untuk menerjemahkan buku berdasarkan laris tidaknya buku itu di pasar luar negeri serta penghargaan yang diterima buku itu (sepengetahuan saya sih). Nah, saya sebenarnya ingin mendeteksi buku apa saja yang tingkat "kemelencengan" nuansanya sangat jauh bila ia diterjemahkan, berhubung saya tidak banyak membaca buku berbahasa asing karena keterbatasan kemampuan bahasa serta finansial. Jadi yah semacam ingin "mengusulkan" bagaimana kalau buku-buku yang kekuatannya lebih pada kata per kata itu tidak usah diterjemahkan saja, atau dipertimbangkan lebih masak bila memang hendak diterjemahkan..
Misalnya soal the god of small things, saya bisa memahami mengapa penerbit keukeuh menerbitkan buku ini. Karena meskipun menurut saya kekuatan utamanya pada jalinan kata, tetapi buku ini tetap punya plot yang menarik, latar sejarah yang menarik, dan meskipun banyak yang hilang ketika buku ini diterjemahkan, akan lebih banyak lagi yang "hilang" bila buku ini tidak diterjemahkan.
Jadi yah semacam ingin "mengusulkan" bagaimana kalau buku-buku yang kekuatannya lebih pada kata per kata itu tidak usah diterjemahkan saja, atau dipertimbangkan lebih masak bila memang hendak diterjemahkan..Mengapa tidak penerjemahannya yang dibagusin saja? Mengapa kamu usul tidak usah diterjemahkan, yang berarti mempersempit alternatif bacaan (dan berarti juga wawasan) bagi masyarakat kita? Sangat aneh buat saya
Awal abad ke-20 dg hasrat untuk jadi merdeka dan modern para intelektual kita ramai2 menerjemahkan sastra asing. Muhammad Yamin menerjemahkan Tagore, Abdul Moeis menerjemahkan Cervantes, Victor Hugo diterjemahkan ke dlm majalah berbahasa Jawa... semuanya adalah karya yg tergolong sulit bahasa, nuansa, dan bla-bla-bla itu, tapi tidak ada yg berpikiran bhw karena sulit itu semestinya tidak diterjemahkan.
Saya termasuk yang sulit membaca Yang Maha Kecil (God of Small Things)-nya versi Obor. Tapi bukan berarti saya berpendapat sebaiknya tidak usah diterjemahkan saja. Malah sesungguhnya saya tidak percaya ada buku tidak bisa diterjemahkan sama sekali. Alice in Wonderland misalnya. Ini buku luar biasa sulit bukan cuma karena rima tapi juga logika matematika di dalamnya. Tapi kalau buku ini ternyata bisa diterjemahkan bahkan ke bahasa Arab, Jepang, dan Korea yg tidak beraksara Latin, saya tidak percaya buku ini tidak bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia
Ya, saya juga setuju kalo usaha penerjemahan tetap harus dilakukan karena buku bukan untuk diri kita seorang tapi untuk semua lapisan dan latar belakang. Tantangan yang sangat besar memang mencari padanan kata yang tepat (kayanya kita pernah ngomongin hal yang kurang lebih sama di thread lain) seperti pada karya2 klasik yang banyak menggunakan bahasa Inggris kuno. Soal membaca asli atau terjemahan itu suatu pilihan. Kalau kocek mencukupi sih saya juga senang2 saja cari versi Inggrisnya, tapi kalo gak ada Muhammad Yamin yang menerjemahkan Tagore, barangkali sampai sekarang saya gak tau siapa Tagore dan gak ada usaha untuk mencari tau siapa dia saat saya sudah mulai ngeh dengan bahasa Inggris
hehehe..aneh ya? karena saya seorang penerjemah..dan saya sering merasa gagal kalo harus menerjemahkan buku-buku yang nyaris mustahil diterjemahkan itu..;-)saya sih juga sangat mendukung upaya penerjemahan..apa saja kalo bisa, tapi sungguh, dari pengalaman saya, ada buku-buku yang harus dipertimbangkan masak-masak sebelum diterjemahkan..dipertimbangkan lebih banyak mana asas manfaat dan mudaratnya (halah) :-P
Wah Rika ini ibaratnya aktor kali ya. Disodorkan suatu peran tapi masih ditimbang2 manfaat dan mudaratnya... :D Jangan menyerah Rika, masih banyak yang membutuhkan terjemahanmu kok
Saya masih lebih milih buku terjemahan, selain harganya lebih murah dan lebih gampang dapatnya, juga lebih cepat selesai bacanya.
Tapi untuk textbook jaman kuliah dulu, khususnya math, hapir gak ada bedanya antara terjemahan & aslinya, sama-sama syushah nya... :-P
Rika wrote: "karena saya seorang penerjemah..dan saya sering merasa gagal kalo harus menerjemahkan buku-buku yang nyaris mustahil diterjemahkan itu..;-)"
Sebenarnya nggak terlalu aneh sih :-p Bukan sekali ini aku mendengar orang melontarkan hal yang serupa. Bahwa karya ini atau itu sulit diterjemahkan, banyak nuansa yang hilang kalau diterjemahkan, lebih baik baca aslinya, dan semacamnya.
Tapi ya pandangan seperti ini hanya bisa muncul pada orang yang beruntung menguasai bahasa aslinya. Orang yang ngga bisa bahasa aslinya ngga punya kemewahan itu. Ada terjemahan ya lebih bagus daripada ngga ada. Dengan kata lain, manfaatnya jelas jauh lebih besar daripada mudharatnya.
Misalnya aku sendiri, biarpun orang bilang cersil ini atau itu bahasa aslinya lebih puitis atau apa, tetep aja kan aku ngga bisa baca aslinya.
Nurul wrote: "Tantangan yang sangat besar memang mencari padanan kata yang tepat (kayanya kita pernah ngomongin hal yang kurang lebih sama di thread lain) seperti pada karya2 klasik yang banyak menggunakan bahasa Inggris kuno. "Menurutku, yang lebih susah itu mempertahankan nuansa bahasa. Kalau suatu kata sulit dicari padanannya sih, masih banyak strategi untuk menanggulanginya dan menyampaikan makna yang terkandung dalam suatu kata, termasuk memberi catatan kaki kalau ngga ketemu lagi cara lain. Tapi nuansa itu yang lebih sulit.
Kalo saya masih bercita2 jadi penerjemah :)Numpang curhat aja. Sekarang saya lagi baca Q&A karangan Vikas Swarup (novel yg diadaptasi jadi Slumdog Millionaire), terbitan Serambi. Terjemahannya pakai kata2 bahasa Indonesia yg unik, entah kuno atau memang jarang dipakai, tapi di beberapa bagian malah bikin saya bingung mesti sudah berusaha menebak2 dari konteksnya. Apa pula artinya 'karau', 'menggari', 'terkelik', 'luncas'? Baca terjemahan kok jadi malah harus buka kamus bahasa Indonesia ya, hehehe.
Jadi ingat dulu baca Pendekar Pemanah Rajawali-nya Chin Yung, terjemahan OKT, saya juga awalnya bingung tapi masih bisa menebak2 apa arti 'mencelos', 'bersampokan', 'likat' dsb. Jadi kangen ama Kwee Ceng & Oey Yong :P
Dini wrote: "Baca terjemahan kok jadi malah harus buka kamus bahasa Indonesia ya, hehehe."Itulah gunanya kamus :-) Jangan sampai kita lebih rajin membuka kamus bahasa asing dan memiliki kosakata asing yang lebih kaya daripada bahasa sendiri.
hehehe...iya iya..aku masih yakin bahwa ada terjemahan masih lebih baik daripada tidak ada terjemahan..(meski mungkin perlu kutambahkan, in most cases, soalnya coba bayangkan kalo ada salah terjemah pada buku kesehatan? hihihi)..
jadi kuralat aja deh..gimana kalo postingan ini sebenarnya untuk mengetahui buku-buku apa saja yang menurut teman-teman lebih asyi aslinya daripada terjemahan?
karena ya itu tadi, menurutku banyak buku yang sama-sama asyik tuh terjemahan atau aslinya..
;-D
"Dini wrote: "Baca terjemahan kok jadi malah harus buka kamus bahasa Indonesia ya, hehehe.""
iya aku juga terganggu tuh kalo harus kebanyakan buka kamus..
meski aku mendukung pengayaan kosa kata bahasa Indonesia, tapi ya sewajarnya ajalah, jangan sampai hampir setiap kalimat ada kata-kata yang tidak lazim..
tapi, itu pendapatku..
oh tambahan ga penting lain: yang juga mendorongku mengangkat topik ini adalah kekhawatiran bila buku-buku sulit itu dibaca orang, dan ternyata (dianggap) jelek, maka yang pertama-tama menjadi kambing hitamnya adalah penerjemah ("aku kok ngga ngerti buku ini ya? padahal ini buku bagus, best seller, dpt penghargaan, bla-bla-bla pasti ini gara-gara terjemahannya ga bagus")hehehe...ternyata ini cuma curhat seorang penerjemah :-)
@Ronny di msg 4: buku-buku Alice itu belum ada versi bahasa indonesia? Wah sayang banget, bukunya keren, dan pasti seru kalo bisa diterjemahkan dengan mantap... walau pasti penerjemahannya sangat susah dan menantang....
memang belum yang utuhnya. Pustaka Jaya pernah mencoba menyadurnya jadi versi ringkas. Upaya yg bagaimanapun patut dihargai:http://www.goodreads.com/book/show/53604...
Rika wrote: "meski aku mendukung pengayaan kosa kata bahasa Indonesia, tapi ya sewajarnya ajalah, jangan sampai hampir setiap kalimat ada kata-kata yang tidak lazim.."Betul... Kalau bisa sih, maknanya bisa ditebak dari konteksnya, meskipun ngga selalu bisa.
Rika wrote: "buku-buku apa saja yang menurut teman-teman lebih asyi aslinya daripada terjemahan?"Kayaknya sebagian besar deh, Ka :-)
wah iya bener juga. "Through the Looking Glass" belum ada ya? Hmm memang lebih absurd sih, lebih puyeng juga menerjemahkan atau menyadurnya
"Kayaknya sebagian besar deh, Ka :-)
"
hahaha.. masa sih fem? sebenarnya maksudku itu yang kadarnya kayak buku-buku yang kusebutkan di atas. Buku-buku yang kekuatannya di jalinan kata, bukan jalan cerita, jadi mungkin nuansa yang hilang lebih dari 50%?
Yah, kalo gitu pertanyaannya buat femmy dibalik aja deh..pernah nemu ga buku yang lebih asyik terjemahannya daripada aslinya ndak?
Adiprasatya wrote: "@Ronny di msg 4: buku-buku Alice itu belum ada versi bahasa indonesia? Wah sayang banget, bukunya keren, dan pasti seru kalo bisa diterjemahkan dengan mantap... walau pasti penerjemahannya sangat s..."setahu saya sih dulu Bentang Pustaka pernah berniat menerbitkannya.. tapi itu dulu sektiar tahun 2007, sampai sekarang kok belum ada kabar beritanya ya?
Ronny wrote: "memang belum yang utuhnya. Pustaka Jaya pernah mencoba menyadurnya jadi versi ringkas. Upaya yg bagaimanapun patut dihargai:http://www.goodreads.com/book/show/53604... "
kmaren pas di pameran buku, sy liat di stand-nya penerbit Narasi da kok novel Alice in Wonderland edisi Indo
tp g tau deh tuh terjemahan ato saduran. tp mengingat penerbit ni agak intens nerbitin karya lawas yg terkenal pd masanya (kayak Dr Jeckyl, Frankenstein, dll) kayaknya ni terjemahan deh..
cmiiw
Jaman dulu sih seingat saya pernah baca Alice in wonderland, kayanya terjemahan seri Elangnya Gramedia tahun 80-an. Cukup tebel juga bukunya. Seri Elangnya Gramedia sering menerbitkan banyak cerita klasik. Tapi saya gak tau apa ini dalam bentuk easy reading atau bukan.
@Rika Aku waktu baca the Dante Club pertama kali Bahasa Indonesia, rasanya seru. Waktu coba baca bahasa Inggrisnya... Lho... kok rasanya lebih 'biasa' ya daripada terjemahannya?Membandingkan terjemahan Her Derr Diebe bahasa Indonesia sama bahasa Inggris, aku lebih sreg baca yang bahasa Indonesia.
Kalo soal manga apa lagi... manga dalam bahasa Inggris sering kehilangan greget atau makna. Lebih enak ke mana-mana baca manga yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia! Entah kenapa nuansa bahasa Jepang lebih bisa tertangkap oleh bahasa Indonesia.
Hehehe... Mbak Tyas kok membandingkan terjemahan Inggris dan terjemahan Indo? Bukannya yang lagi dibandingkan adalah terjemahan dan karya asli?
Rika wrote: "pernah nemu ga buku yang lebih asyik terjemahannya daripada aslinya ndak"Mmm... pernah nggak ya? Soalnya jarang juga baca sesuatu dalam bahasa asli sekaligus terjemahannya. Biasanya kalau sudah baca aslinya, malas baca terjemahannya. Begitu pula sebaliknya.
maksud saya bukannya nga setuju buku itu diterjahkan.Malah semua buku seharusnya bisa diterjemahkan.
karena kalo tidak begitu informasi tidak akan mengalir.
Tapi kalau memang bhs asing tidak menjadi kendala bagi kita "si pembaca" ada baiknya kita baca bhs aslinya.
bukan masalah mana yang lebih enak atau bagus. Tapi kesan yg akan kita tangkap adalah jujur dan asli. jadi kalo memang bukunya bagus ya bagus, jelek ya jelek.
Kalo mnurut pngalaman sy (pndapat pribadi :-)), da 2 alasan mendasar knp sbuah buku mending baca versi aslinya (kalo bisa) drpd terjemahannya.1. Edisi terjemahaannya diterjemahkan dengan 'kurang memuaskan' alias si penerjemah sedikit mengartikan kata yg ada ada di buku secara harfiah kalau tidak 'cukup' asal-asalan (maf bwt penerjemah :D) soalnya, banyak buku terjemahan yang kayaknya mesti disunting ulang agar enak dibaca dan dapet 'sense' edisi aselinya. untuk masalah ini, kayaknya hal ini cukup menganggu. Jangankan novel yg bertema berat dg bahasa yg membuncah-buncah, novel biasa z, jika terjemahannya 'agak buruk' jadi males bacanya.
Ambil contoh novel The Eight karya Katherin Neville (maf sebut merk). Novel ini berupa novel petualangan ala DVC. Sebenarnya saya salut bgt ma penerjemah yg mo nerjemahin novel yg amit-amit tebalnya ini (bisa dipake bantal atau ganjal ban mobil mogok ^^). edisi terjemahannya kalo ga salah setebal 1200-an halaman. Yg cukup mengganggu adalah terjemahan yg terkesan 'buru-buru', 'ngejar target' mengingat dulu begitu boomingnya novel petualangan perburuan artefak (efek laen DVC). Jd, kebayang, novel yg harusnya seru (dan emang bagus seh idenya. brilian) tp pas baca terjemahannya jd ga enak gituh bacanya. cerita jd terasa alot. banyak struktur kalimat yg tidak bisa memanjakan mata. meski ceritanya seru, bacanya bikin ngantuk ^^
2. Mang novelnya sendiri udah dr sono-nya merupakan novel'satu cetakan' yg sulit diterjemahkan mengingat keterbatasan kosa kata bahasa edisi terjemahan. ambil contoh yg sederhana. Banyak bgt novel/ film dlm bahasa Inggris yg menggunakan kata 'The Day After Tomorrow' sbg judulnya. kesan pertama denger judul ini adalah 'ngeri', 'menantang', dan misterius. bahkan jika diucapkan dg nada tertentu menimbulkan efek dramatis. skarang coba kalo kata itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? jd berubah menjadi kata 'lusa'!! g keren bgt kan?^^
Ato mang buku tsb banyak berisi peribahasa atau metafora yg kalo diterjemahkan secara harfiah jd janggal di telinga orang Indonesia. G usah jauh-jauh, novel yg bahkan segi penerjemahannya dirasa mudah kayak novel petualangan/detektif. judulnya suka jauh menyimpang dr judul asli. Buku-bukunya Sheldon, Sandra Brown bahkan Agatha pun suka diterjemahin berbeda judulnya dr versi asli. misalnya novel Agatha yg judulnya 'By Pricking of My Thumb'. mang seh kalo diterjemahin secara harfiah judulnya malah jd konyol ^^
Jd, kira-kira menurut sy, imho, berikut judul buku yg mang ga bisa diterjemahin sebaik versi asli..
a. buku-buku yg mang penuh puisi/metafora/peribahasa dlm bahasa asli. contoh terkenal adalah karya Shakespeare. dulu sy sempat heran knp Shakespeare yg dinobatkan sbg pengarang tunggal yg jumlah bukunya paling banyak di muka bumi (kalo g salah diatas 2 milyar), ga da terjemahan bahasa Indonesianya. ternyata pas baca sendiri buku aseli-nya, waw, selain banyak kosakata 'aneh' karena terlalu 'lawas' juga permainan kata-kata yg sulit (bahkan banyak kata yg ada dah tidak ada di kamus Echol-Sadilly ^^). sebenernya, dulu pas pameran buku di ITB Januari 2009 sy nemu buku Shakespeare terjemahan. kalo g salah yg judulnya Romeo dan Juliet. tp pas baca...^^...sama bingungnya dg baca edisi aselinya
Karena itu, karya 'Paradise Lost'-nya John Milton, Dante, dsb mang gak pernah bisa diterjemahin sebaik pemahaman saat baca aslinya. (pdhl baca edisi aslinya pun banyak yg error g ngerti ^^)
b. karya klasik yang menggunakan bahasa 'tidak umum' untuk ukuran modern. misal 'Moby Dick', karya-karya Poe, dan segudang karya klasik lainnya, pas diterjemahin ke bahasa Indonesia jadi terasa hambar. Malah jd bingung, kok bisa karya yg menurut ukuran 'standar skrg' cuma karya 'biasa z', gemanya masih terdengar hingga berabad-abad ^^
Pnasaran, kalo buku2 Balai Pustaka diterjemahin kedalam bahasa laen, gimana ya?^^
c. Novel yg memiliki banyak permainan kata cerdas. Contoh nyata adalah Harpot 7. keliatan bgt kalo terjemahan ni adalah 'kejar target'. pas baca terjemahan pny temen (sblumnya dah baca edidi aslinya) kerasa bgt bedanya. ada jg novel yg memiliki teka-teki kata. pas katanya diterjemaih ke Bahasa Indonesia hanya bikin bingung ^^
d. Novel yg, karena kejeniusan pengarangnya, bahkan dalam bahasa aslinya pun sulit dicarikan pengganti kata-katanya. contohnya, 'The Curious Incident of the Dog in Mid-night'-nya Mark Haddon yg diterjemahin jd "Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran'. Salut bgt buat penerjemah buku ini. penggunaan kata yg tidak bertele-tele tp pas diterjemahin jd sukar dicari padanannya. Terjemahannya seh dah bagus. tp msh da beberapa bab yg terasa janggal. bahkan pas sy baca edisi aslinya, 'sense' yg didapat lebih 'menggigit' dan baru faham, kenapa Mark Haddon dpt piala Whitbread ^^
e. Novel yg sangat khas. saking jeniusnya, ampe beda bgt rasanya pas baca terjemahan. contohnya buku-buku yg menimbulkan pengaruh hebat ampe menimbulkan penafsiran baru ttg agama dan Tuhan. selain itu juga biasanya memakai bahasa 'indah' yg sulit dicari padanan katanya. karya Rumi (seperti Matsnawi), Hafez, Fariuddin Athar (kalo g salah edisi Indonesianya 'Musyawarah Burung'), buku 'Ghulistan', bahkan 'Javid Namah'-nya Iqbal sulit difahami kalo baca sekedar terjemahannya. kesan yg didapat malah 'agak' biasa z. Ya, stidaknya tidak semenggigit edisi aslinya. Padahal jutaan orang telah berubah jalan hidupnya karena karya-karya itu. (curhat dikit ^^, karena sy gak bisa bahasa Arab/Persia, terpaksa nelen mentah-mentah terjemahan buku2 tsb ^^)
cmiiw
Setuju sama Y!py!p. Tapi, ada satu hal yang menggelitikku dari tulisan di atas, yaitu:Y!py!p wrote: "Mang novelnya sendiri udah dr sono-nya merupakan novel'satu cetakan' yg sulit diterjemahkan mengingat keterbatasan kosa kata bahasa edisi terjemahan. ambil contoh yg sederhana. Banyak bgt novel/ film dlm bahasa Inggris yg menggunakan kata 'The Day After Tomorrow' sbg judulnya. kesan pertama denger judul ini adalah 'ngeri', 'menantang', dan misterius. bahkan jika diucapkan dg nada tertentu menimbulkan efek dramatis. skarang coba kalo kata itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? jd berubah menjadi kata 'lusa'!"
Aku kurang sepakat kalau ini dijadikan contoh "keterbatasan kosa kata bahasa ... terjemahan" Bukannya contoh ini justru menunjukkan kekayaan kosakata bahasa Indonesia? Suatu konsep yang bisa diwakili hanya dengan satu kata dalam bahasa kita, harus diungkapkan dengan empat kata dalam bahasa Inggris!
waw... duh penerjemah turun tangan nih :DMaksud sy adalah jika diterjemakan secara mentah dalam bahasa Indonesia, mentoknya jadi sekedar kata 'lusa'. kalau dibandingkan dengan kata bahasa Inggris, kesan 'dramatis' dari kata 'the day after tomorrow' tadi tidak didapat sama sekali... Soalnya kan itu judul. harus unik, menarik, dan dramatis. kalau ada buku bahasa Indonesia yang judulnya 'lusa', terasa aneh, bahkan tidak menyiratkan apa-apa. Kalau diterjemahkan sebagai 'esok', efek seremnya tidak dapet...
Sy setuju kok, kalau bahasa Indonesia itu kaya, tapi bukan berarti bisa menjangkau/merangkum semua kata dalam bahasa lain. istilahnya apa ya? 'rasa kata' atau 'warna kata'. Maaf, saya masih sangat awam dibidang bahasa. apalagi dengan bidang sekarang... :-)
Hidup Indonesia!!
cmiiw
kayanya menerjemahkan judul itu sulit ya. Kalau mau diterjemahkan sedekat mungkin dengan arti aslinya, "keren"-nya ga dapet :D
kata siapa ya (Kalau tdk salah Sapardi), menerjemahkan itu adalah sebuah "pengkhianatan". Maka berkhianatlah, hai para penerjemah. Berkhianatlah agar buku terjemahanmu lebih indah dibaca ketimbang buku aslinya :)
@Y!py!p- ya siapa juga yg nyuruh nerjemahin 'The Day After Tomorrow' jadi 'Lusa'? hehe.. bisa aja jadi, misalnya, 'Esoknya Esok' (nyontek Iwan Simatupang dikit)
- Shakespeare banyak diterjemahin oleh Trisno Sumardjo, setidaknya udah ada 4 buku.
- pernah baca terjemahannya Abdul Hadi WM atas Iqbal?
saya kira hasil terjemahan pun ada tingkatnya. Jangan karena baca terjemahan kurang bagus terus mengklaim suatu karya jadi sulit diterjemahkan/tidak bisa diterjemahkan. Baca Pangeran Kecil-nya Gramedia kurang memuaskan buat saya, tapi kan ada Pangeran Kecil terjemahannya Wing Kardjo (Pustaka Jaya). Baca Animal Farm yg terjemahan baru juga standar bhkan kurang, tapi kan ada Binatangisme-nya Mahbub Djunaedi.
Binatangisme juga bisa dipakai sbg contoh bhwa judul juga bisa ditangkap esensinya dan ga harus harafiah diterjemahkan. Masa Animal Farm harus jadi Peternakan, spt contoh kamu The Day After Tomorrow jadi Lusa?
Femmy wrote: "Hehehe... Mbak Tyas kok membandingkan terjemahan Inggris dan terjemahan Indo? Bukannya yang lagi dibandingkan adalah terjemahan dan karya asli?"Hehehe iya sori Mbak, cuma ngomong aja bahwa sama-sama terjemahan pun ada yang lebih enak dalam suatu bahasa daripada bahasa lain ^^ Sori lupa nulis.
Ronny wrote: "@Y!py!p- Shakespeare banyak diterjemahin o..."
Saya pernah baca terjemahan Shakespeare dalam bahasa Indonesia, waktu SD. nggak mudeng. bukan salah terjemahannya, sayanya yang masih kekecilan hehehehe.
Saya ingat betul terjemahan judul buku Stephen Hawking 'A Brief History of Time' menjadi 'Riwayat sang Kala'. Dahsyat! Jadi mungkin bukan 'tak bisa diterjemahkan' tapi 'tergantung bagaimana yang menerjemahkan mencari padanan yang tak mengkhianati makna maupun nuansa'.
Tapi memang, soal terjemahan ngejar target, saya juga sangat menyesalkan hal tersebut. Demi duit, kenikmatan membaca dan penyampaian makna serta keindahan karya dikorbankan.
Jangankan 'The Eight'... 'DVC' nya sendiri terjemahannya hancur-hancuran. (Lihat tulisan saya soal ini.)
Endah wrote: "kata siapa ya (Kalau tdk salah Sapardi), menerjemahkan itu adalah sebuah "pengkhianatan"."Bukan SDD, tapi sastrawan Umberto Eco.
Seleraku emang beda sama femmy hee.. aku lebih suka tuh baca terjemahan kalo emang ngga ada hal2 seperti yang disebutkan Y!py!p di atas. Misalnya aja Da vinci code yang kubaca versi terjemahannya. Meski banyak yang bilang bagusan aslinya, aku ga berminat baca aslinya, lha wong isinya ya paling cuma kayak gitu aja. Paling beda-beda dikitlah hehehe..Y!py!p wrote: Jd, kira-kira menurut sy, imho, berikut judul buku yg mang ga bisa diterjemahin sebaik versi asli..
nah ini perlu kuperjelas karena aku juga dulu pernah "dituduh" melencengkan judul sebuah buku terjemahanku:-P
Sebenarnya, yang "hobi" mengubah-ubah judul adalah penerbit, dan ini mereka lakukan biasanya karena pertimbangan pasar (dengan asumsi ada judul2 tertentu yang bisa lebih menarik pasar).
Endah wrote: "kata siapa ya (Kalau tdk salah Sapardi), menerjemahkan itu adalah sebuah "pengkhianatan". Maka berkhianatlah, hai para penerjemah. Berkhianatlah agar buku terjemahanmu lebih indah dibaca ketimbang ..."Hehehe..tapi berkhianat terlalu dalam juga menyakitkan lho mbak..tanya aja femmy, di dalam perjanjian copyrights kadang ada pasal soal penerjemahan yang tidak boleh melenceng dari bukunya dsb.(tapi..gimana mereka mau ngecek ya?)
Lagipula, dari pengalaman saya, penerjemahan yang terlalu berkhianat juga berpotensi mengkhianati pembaca..apalagi kalo pemahaman si penerjemah salah..
tapi sekali lagi, ini memang tergantung jenis buku (ada buku-buku yang mau tak mau "minta dikhianati") dan soal pilihan penerjemah masing-masing.
Tyas wrote: "@Rika Aku waktu baca the Dante Club pertama kali Bahasa Indonesia, rasanya seru. Waktu coba baca bahasa Inggrisnya... Lho... kok rasanya lebih 'biasa' ya daripada terjemahannya?"hehe..itu perasaanku waktu baca famished road..tapi belum selesai sih, jadi penilaianku masih bisa berubah
Y!py!p wrote: "Sy setuju kok, kalau bahasa Indonesia itu kaya, tapi bukan berarti bisa menjangkau/merangkum semua kata dalam bahasa lain."Memang ngga bisa, dan ngga harus bisa kan? Toh semua bahasa di dunia ini berbeda-beda, nggak bisa sama dan ngga harus sama.
Kalaulah situasinya dibalik, ada novel sederhana berbahasa Indonesia berjudul "Lusa", apakah "The Day After Tomorrow" mampu menangkap kesederhanaan kata "lusa" ini? Jelas tidak mampu, hehehe...
Tapi saya paham maksud Y!py!p. Intinya, salah satu kendala penerjemahan memang adalah hal ini, bahwa tak ada dua bahasa yang benar-benar sama di dunia ini, dan ini berlaku untuk penerjemahan ke segala bahasa, ngga cuma dari Inggris ke Indonesia saja. Makanya, untuk menangkap segala nuansa bahasa yang terkandung dalam karya asli, kita memang harus baca karya itu dalam bahasa aslinya :-)
Omong-omong, bener ngga sih frasa "the day after tomorrow" itu misterius, ngeri, dan sebagainya?
Rika wrote: "Misalnya aja Da vinci code yang kubaca versi terjemahannya. Meski banyak yang bilang bagusan aslinya, aku ga berminat baca aslinya, lha wong isinya ya paling cuma kayak gitu aja. Paling beda-beda dikitlah hehehe.."Iya sih, buku seperti itu ngga akan beda jauh antara terjemahan dan aslinya. Setuju.
Rika wrote: "Seleraku emang beda sama femmy hee.. aku lebih suka tuh baca terjemahan kalo emang ngga ada hal2 seperti yang disebutkan Y!py!p di atas..."Yap, selera kita beda ya? :-) Meskipun bukunya seperti DVC atau seri Shopaholic, kalau ada pilihan antara baca buku asli dan buku terjemahan, aku tetap lebih suka baca aslinya.
Femmy wrote: "Yap, selera kita beda ya? :-) Meskipun bukunya seperti DVC atau seri Shopaholic, kalau ada pilihan antara baca buku asli dan buku terjemahan, aku tetap lebih suka baca aslinya"
ya jelas bedalah..aku dari kecil bacanya terjemahan. Baru baca novel bahasa inggris pas kuliah. Susunan otaknya sudah kadung diset buat buku terjemahan atau naskah asli Indonesia.
Lha kalo femmy, lebih biasa baca bahasa inggris, sampai-sampai pram aja dibaca terjemahan inggrisnya hihihi (udah baca aslinya belum fem?)
Menurut saya terjemahan tetap perlu lah, terutama untuk pembaca yang tidak mengerti bhs asli karya tersebut. Mengenai ketidaktepatan padanan kata dan nuansa, yah mungkin harus dimaafkanlah ... daripada nggak bisa membaca karya itu kan. Contoh: kalau Al Qur-an nggak diterjemahkan, ya bingung juga lah saya mencari-cari tuntunan hidup :-) wong kemampuan bahasa arab saya sangat mengharukan je.
Tapi seandainya kita memang mengerti bahasa asli karya tersebut, ya lebih baik baca dalam bahasa tersebut. Yah "Tetralogi Buru" kan tetap lebih enak dan lebih "masuk" dibaca dalam bhs Indonesia daripada dalam bhs Inggris.
Mengenai judul, setuju sama Ronny judul bisa dimodifikasi dikit lah untuk menggambarkan buku tersebut. Binatangisme lebih bisa menggambarkan cerita di Animal Farm. Sedang untuk tetap menggambarkan kesan hebat, bukannya bukunya Allan Folsom "The Day After Tomorrow" diterjemahkan oleh Gramedia menjadi "Demi Esok Lusa" ... yang menurut saya tetap "cool" ya kesannya, dan menggambarkan cerita tersebut :-)
Saya jadi ingat teman saya yang kukuh nggak mau baca terjemahan, karena menurut dia terjemahan itu cenderung menjadi ayat-ayat setan (satanic verses) ... menyesatkan.... hehehe....
*Walau menurut saya yang "menyesatkanmu" itu iblis, sedang setan hanya "menakutimu". ;-)*
Sampai sekarang belum ketemu orang itu lagi tuh, untuk memastikan apakah dia masih bersikukuh dengan ide tersebut. :-)
Gituu..........
Femmy wrote: "Rika wrote: "buku-buku apa saja yang menurut teman-teman lebih asyi aslinya daripada terjemahan?"Kayaknya sebagian besar deh, Ka :-)
"
nebeng komen deh dikit
sepertinya amang pernah bilang kalau dia lebih menikmati buku versi terjemahannya sapardi the oldman and the sea karya hemingway dibanding karya aslinya. bener ya Po?
setuju ama the god of small thing, versi aslinya lebih ciamik dari terjemahan
dan saya juga fans berat buku alice in wonderland. suka banget deh ama buku itu :D
Rika wrote: "ya jelas bedalah..aku dari kecil bacanya terjemahan. Baru baca novel bahasa inggris pas kuliah. Susunan otaknya sudah kadung diset buat buku terjemahan atau naskah asli Indonesia.Lha kalo femmy, lebih biasa baca bahasa inggris, sampai-sampai pram aja dibaca terjemahan inggrisnya hihihi (udah baca aslinya belum fem?)"
Lha Calon Arang sih aku baca Inggrisnya karena ngga nemu versi Indo dan aku perlu untuk riset novelku. Bukan karena lebih suka baca Inggrisnya, hehehe... Aslinya udah baca, pinjem dari Mas Her.
Waktu masih kecil aku juga baca terjemahan kok, kayak Enid Blyton dan Agatha Christie. Membaca novel Inggris dengan pemahaman yang cukup baik juga butuh proses, nggak langsung bisa. Masih inget, dulu pas baca The Tale of Two Cities dari perpus sekolah, mungkin cuma 50% paham. Kata "faint" aja belum ngerti.
unread topics | mark unread
Books mentioned in this topic
The Da Vinci Code: Special Illustrated Edition (other topics)The Name of the Rose: Including Postscript (other topics)



