UNTUNG! Ada air menggenang di rumahku . . . . .
by Eri
genre:
Nonfiction
description:
budaya wong Jowo: selalu Untung!
chapters
chapter 1:
pre-logis
pre-logis
chapter 1
—
updated 01/10/08
—
4848 characters
—
0 people liked it
Bulan ini, tahun ini, hujan deras silih berganti dengan gerimis dan rintik-rintik hanya dalam hitungan 12 jam, kurang dalam waktu sehari, air mulai menampakkan kekuatannya hampir di seluruh jalan, pekarangan, perumahan, bahkan pemukiman elit di Jabodetabek. Ada yang kekuatannya hingga 3 meter sampai 1,5 meter tingginya mengambangkan apa saja yang dilaluinya. Tak luput yang hanya sebatas mata kakipun, air berunjuk gigi atas kekuasaannya terhadap kehidupan bumi. Disinyalir, menurut berita dari AlJazeera, 5 orang tewas karenanya. Bandingkan dengan musibah banjir awal tahun 2002, dalam masa 7 hari berturut-turut, rinai hujan tiada terputus mencurahkan segala daya upayanya untuk terjun ke hamparan bumi. Tak nampak sinar matahari sedikitpun selama seminggu itu. Dan, akibatnya sudah dapat ditebak, air mengambang melebihi ambang batas normalnya di seluruh 70% wilayah Jakarta. Tak terbayang dan tak dapat diduga, apa yang akan terjadi kali ini bila hal yang sama terulang kembali . . . . . Ada yang mengatakan, jangan pernah berimajinasi melampaui kapasitasnya, hari ini hadapilah, esok dan lusa, siapa yang tahu? Jalani saja apa adanya, bak air mengalir . . . awas, jangan sampai terhanyut terbawa tentunya.
Hmmm, saya jadi teringat sebuah self-help e-book “Think Yourself There” yang ditulis oleh Debbie Johnson. Ada cuplikan penting pada bagian pertamanya yang membuat saya terhenyak mengamati kehidupan yang telah lalu, dia menegaskan The river of life always shows me when to do what , if I truly watch & listen! “There are times when I need to take full control, and times when I need to release control completely.” Untungnya, saya gemar melahap bacaan apa saja asalkan meningkatkan pengetahuan dan mengasah kemampuan saya mengarungi kehidupan. Dan, saya sangat beruntung punya sobat karib yang sama-sama doyan melalap apa saja – dari dedaunan plus sambalnya yang aduhai itu sampai hal-hal yang bisa menambah minus kacamata kami yang konon tebalnya dijamin sudah jauh melangkahi kacamata para kutu buku - karena dari dialah e-book tersebut saya peroleh.
Kebiasaan orang Jawa yang selalu bersyukur, dengan mengucapkan kata,”Untung ……”, apapun yang terjadi walau musibah menerpa beruntun, sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat menarik. Ibarat survival kit seorang pengembara hutan, kebiasaan ini memiliki kekuatan magis bagi yang memercayainya. Semacam bekal spiritual yang tak pernah lekang oleh waktu, dan tak pernah lapuk oleh maraknya godaan bekal lain yang lebih menggiurkan, cukup katakan “Untung …..” dan yakin akan kekuatannya hingga ke lubuk sanubari terdalam, akan memampukan pemiliknya tabah menghadapi berbagai kesulitan nan luar-binasa. Tak disangka, tak dinyana, saat inipun saya demikian merasa beruntungnya dibandingkan dengan para korban banjir di Jabodetabek.
Meskipun - tak dapat dibilang saya sepenuhnya aman dari kekuasaan air ini - karena air hujan yang belakangan hari ini sedang asyik mencurahkan kekuatannya dari langit, sudah sedemikian kuasanya menembus langit-langit atap rumah saya.
Pun, tak ketinggalan, akibatnya menggenangi beberapa ruangan walau tingginya tak sampai semata kaki sempat membuat saya gundah-gulana. Bahkan, dini hari Jumat kemarin, tetesannya mampu menggoyang arus listrik dirumah yang memang terletak di antara atap dan genteng, alias korslet! Listrik bermasalah berarti lampu padam dan pompa air tak berfungsi. Akankah saya kembali dalam kehidupan jaman pra-sejarah, hidup di gua, mandi-cuci-kakus di sungai?
Lagi-lagi saya beruntung, yang diingatkan oleh kakak saya, betapa beruntungnya kita dibandingkan korban banjir yang sedang mengungsi. Berita-berita di TV ramai menyiarkan bahwa tidak tanggung-tanggung, pengungsian tak hanya di tenda saja, merambah kemana saja asalkan lebih tinggi yang penting bebas banjir dan tersedia bala-bantuan. Ke masjid, ke rumah sanak-saudara, hingga tempat pemakaman! Adapula yang lebih tidak beruntung, bayangkan sebuah tenda posko banjirpun, akhirnya tak luput dari dashyatnya air hujan yang menggenangi hingga hampir menutupi bagian atasnya. Petugas PLN, termasuk yang kebanjiran permintaan memperbaiki listrik. Maklum, ternyata setiap hujan deras banyak yang mengalami korslet rupanya sehingga yang kebagian untung tak hanya anak-anak ojek payung, tapi juga petugas PLN dan tukang perbaikan rumah. Termasuk, kali ini, yang menyewakan gerobak, perahu karet dan rakit bambu ala Joko Tingkir. Kebanjiran rejeki, tepatnya keUNTUNGan bagi mereka.
Ya, untung yang satu ini berbeda maknawinya, dalam hal memperoleh tambahan penghasilan dalam mata uang tertentu. Memang enak ya, selalu untung dalam hal apapun. Apalagi, jika seringkali merasa beruntung dan bisa melihat keuntungan dari pelbagai kerumitan dan kompleksitas kehidupan yang sedang kita jalani. Wah, untungnya dipastikan berlipat-ganda! (eri)
back to top
Hmmm, saya jadi teringat sebuah self-help e-book “Think Yourself There” yang ditulis oleh Debbie Johnson. Ada cuplikan penting pada bagian pertamanya yang membuat saya terhenyak mengamati kehidupan yang telah lalu, dia menegaskan The river of life always shows me when to do what , if I truly watch & listen! “There are times when I need to take full control, and times when I need to release control completely.” Untungnya, saya gemar melahap bacaan apa saja asalkan meningkatkan pengetahuan dan mengasah kemampuan saya mengarungi kehidupan. Dan, saya sangat beruntung punya sobat karib yang sama-sama doyan melalap apa saja – dari dedaunan plus sambalnya yang aduhai itu sampai hal-hal yang bisa menambah minus kacamata kami yang konon tebalnya dijamin sudah jauh melangkahi kacamata para kutu buku - karena dari dialah e-book tersebut saya peroleh.
Kebiasaan orang Jawa yang selalu bersyukur, dengan mengucapkan kata,”Untung ……”, apapun yang terjadi walau musibah menerpa beruntun, sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat menarik. Ibarat survival kit seorang pengembara hutan, kebiasaan ini memiliki kekuatan magis bagi yang memercayainya. Semacam bekal spiritual yang tak pernah lekang oleh waktu, dan tak pernah lapuk oleh maraknya godaan bekal lain yang lebih menggiurkan, cukup katakan “Untung …..” dan yakin akan kekuatannya hingga ke lubuk sanubari terdalam, akan memampukan pemiliknya tabah menghadapi berbagai kesulitan nan luar-binasa. Tak disangka, tak dinyana, saat inipun saya demikian merasa beruntungnya dibandingkan dengan para korban banjir di Jabodetabek.
Meskipun - tak dapat dibilang saya sepenuhnya aman dari kekuasaan air ini - karena air hujan yang belakangan hari ini sedang asyik mencurahkan kekuatannya dari langit, sudah sedemikian kuasanya menembus langit-langit atap rumah saya.
Pun, tak ketinggalan, akibatnya menggenangi beberapa ruangan walau tingginya tak sampai semata kaki sempat membuat saya gundah-gulana. Bahkan, dini hari Jumat kemarin, tetesannya mampu menggoyang arus listrik dirumah yang memang terletak di antara atap dan genteng, alias korslet! Listrik bermasalah berarti lampu padam dan pompa air tak berfungsi. Akankah saya kembali dalam kehidupan jaman pra-sejarah, hidup di gua, mandi-cuci-kakus di sungai?
Lagi-lagi saya beruntung, yang diingatkan oleh kakak saya, betapa beruntungnya kita dibandingkan korban banjir yang sedang mengungsi. Berita-berita di TV ramai menyiarkan bahwa tidak tanggung-tanggung, pengungsian tak hanya di tenda saja, merambah kemana saja asalkan lebih tinggi yang penting bebas banjir dan tersedia bala-bantuan. Ke masjid, ke rumah sanak-saudara, hingga tempat pemakaman! Adapula yang lebih tidak beruntung, bayangkan sebuah tenda posko banjirpun, akhirnya tak luput dari dashyatnya air hujan yang menggenangi hingga hampir menutupi bagian atasnya. Petugas PLN, termasuk yang kebanjiran permintaan memperbaiki listrik. Maklum, ternyata setiap hujan deras banyak yang mengalami korslet rupanya sehingga yang kebagian untung tak hanya anak-anak ojek payung, tapi juga petugas PLN dan tukang perbaikan rumah. Termasuk, kali ini, yang menyewakan gerobak, perahu karet dan rakit bambu ala Joko Tingkir. Kebanjiran rejeki, tepatnya keUNTUNGan bagi mereka.
Ya, untung yang satu ini berbeda maknawinya, dalam hal memperoleh tambahan penghasilan dalam mata uang tertentu. Memang enak ya, selalu untung dalam hal apapun. Apalagi, jika seringkali merasa beruntung dan bisa melihat keuntungan dari pelbagai kerumitan dan kompleksitas kehidupan yang sedang kita jalani. Wah, untungnya dipastikan berlipat-ganda! (eri)
Did you like this?
vote