Intro: Kenangan Abu-Abu - (excerpt) Kenangan Abu-Abu (chapter 2) by Winna Efendi
genre
description:
Intro untuk novel Kenangan Abu-Abu.
This story is from this book:
Kenangan Abu-Abu
chapters
chapter 1:
Introduction
chapter 2:
(excerpt) Kenangan Abu-Abu
(excerpt) Kenangan Abu-Abu
chapter 2
—
updated Feb 15, 2008
—
5834 characters
—
1 person liked this writing
—
1 review of this writing
Freya
Aku menyandangkan ransel putih yang sudah agak kusam itu di pundak, lalu bersiap pulang. Pelajaran Bahasa Indonesia berjalan lebih cepat dari biasanya, dan Moses ada rapat OSIS untuk melaksanakan kampanye pemilihan ketua baru karena tahun ini kami akan lulus.
Aku duduk menunggu bus kota yang biasa kutumpangi lewat. Kata-kata Gia kemarin masih terngiang di telingaku. Gue gak bisa ngertiin Adrian akhir-akhir ini, Frey. Gue takut kehilangan dia. Karena demi dia gue rela menyerahkan segalanya.
Ya, memang Adrian ditakdirkan untuk Gia. Aku selalu percaya itu. Tapi kenapa di saat-saat seperti ini Adrian justru berubah dan berpaling dari Gia? Mengapa sekarang Gia gak bisa mencoba mengerti Adrian?
Aku sudah merelakan Adrian untuk Gia. Lebih baik cinta pertamanya pergi tanpa jejak dari pada melukai sahabat satu-satunya.
Bunyi klakson mobil yang keras mengejutkanku. Adrian duduk di balik setir, kaca mobilnya diturunkan. “Freya, gue anter pulang, yuk.”
Aku sontak menggeleng. “Thanks, gue naik bus aja.”
Berhentinya mobil Adrian di tengah jalan menyebabkan macet di belakangnya. Pengemudi lain sibuk membunyikan klakson dengan tidak sabar. “Ayo,” ulang Adrian lagi, tidak bergerak sejengkal pun.
“Gak usah, gue pulang sendiri.”
Aku memang masih bersikukuh, tapi sangat tidak tahan mendengar suara klakson mobil yang tidak berhenti, seakan memarahi Adrian supaya maju atau setidaknya parkir. Aku menyerah dan naik ke mobil Adrian, sedikit membanting pintunya karena kesal.
“Keras kepala banget sih,” gerutuku. Adrian tertawa kecil.
“Yang keras kepala itu siapa?” balasnya lembut. Aku terhenyak.
“Gue harus ke toko buku, mau beli buku buat Bahasa Indonesia,” tukasku. “Turunin gue di mal aja.”
Adrian menggeleng. “Gak apa-apa, gue anterin. Lagian loe tanggung jawab gue juga sekarang, Moses bisa ngamuk kalo gue drop loe sembarangan.”
Aku menghembuskan nafas dengan kesal. Mulai sebal dengan kepura-puraannya. “Loe anterin gue cuma karena Gia gak ada, kan?”
Adrian masih tetap tenang menyetir. “Gak ada hubungannya ama Gia.”
“Sebenernya loe mau apa sih?” Pertanyaan ini, aku ingin menanyakannya untuk Gia. “Maksud loe apa, nyinggung masalah putus ke Gia, bikin dia sedih? Berubah sikap ke Gia, seenaknya nyakitin perasaan dia. Loe pikir ini permainan yang seru? Mempermainkan perasaan semua orang?”
“Loe mau jawaban jujur atau bohong?” Gayanya masih sangat tenang, sama sekali tidak mempedulikanku yang sudah berapi-api. Dia tidak menunggu jawabanku, tapi melanjutkan perkataannya, “Jawaban bohong. Gue sayang sama Gia, mau melewatkan hidup gue sampe tua sama Gia. Gue cuma nganggep loe sebagai pacar Moses, sahabat gue yang paling gue hargai di dunia ini. Dan gue baik-baik aja, gue bisa hidup tanpa nyokap yang meninggal dengan cara mengenaskan. Gue bisa menghadapi bokap yang setiap malem lembur, kakak gue yang jarang pulang.”
“Hidup ini kejam dan loe ga berhak menyalahkan siapa pun atas kesedihan yang loe rasain,” cetusku. Adrian yang cengeng, sampai sekarang masih terus menyalahkan kesedihannya pada semua orang.
“Jawaban jujur,” Adrian melanjutkan lagi dengan nada datar yang sama, tapi suaranya mulai bergetar, “Gue jatuh cinta sama pacar sahabat gue sendiri, gue ingin melepaskan Gia, tapi gue gak bisa nyakitin dia lebih jauh lagi. Gue gak tahan hidup dengan topeng lagi, gue gak bisa jadi diri sendiri.”
Mobilnya meluncur dengan cepat, lalu menepi di jalan yang sepi dengan mendadak. Adrian mencekal tanganku erat-erat, dan suaranya serak dengan kesedihan, mencoba menjelaskan sekali lagi, “Loe ngerti hidup dengan kepura-puraan, Freya, loe yang paling tau tentang itu. Udah berapa tahun loe mau bohongin semua orang di sekitar loe bahwa loe baik-baik aja? Gue sekarang hidup seperti loe, bohongin Gia, bohongin Moses, bohongin diri gue sendiri, bahwa gue jatuh cinta sama orang yang harusnya gak gue sayang!”
Cekalan tangannya semakin kuat, dan aku merasa sakit. Mata Adrian sarat dengan kesepian, kesedihan yang aku sendiri kenali dengan begitu dalam. Ya, kita sama. Kita berdua hidup dalam kepura-puraan, karena takut melukai orang lain, melukai diri sendiri.
“Hidup gue sebuah kebohongan, dan bahkan gue gak berhak bersuara jujur.”
Air mata membanjiri pelupuk mataku. Aku tidak ingin menangis. Aku tidak mau teringat akan segala kenangan buruk, dikenal sebagai anak piatu, gadis pendiam yang anti sosial, Freya yang sederhana, tanpa kelebihan apa pun selain otaknya yang encer. Yang bahkan membenci dirinya sendiri, karena menjadi seperti ini.
Air mataku jatuh di tangan Adrian, dan dia bagai terkena air panas, langsung melepaskan genggamannya yang kini meninggalkan bekas merah di tanganku. Dia mendekapku dalam pelukannya, berkali-kali berbisik, “Maaf, Freya. Jangan nangis. Maaf.”
Aku masih terisak dalam pelukannya, merasa ingin melepaskan semua. Ingin jujur, ingin menangis dan menumpahkan galau yang selama ini hanya tersimpan rapi dalam hati. Karena hanya dia yang tahu.
Entah berapa lama kami berdua berpelukan di dalam mobil Adrian. Matahari sudah terbenam ketika aku melepaskan diri, mengusap mata yang sembab oleh air mata, memandang dia yang baru saja mengungkapkan isi hatinya.
“Gue sayang loe, Freya. Mungkin ini klise, tapi gue tau gue gak main-main.”
Adrian merengkuhku lebih dekat, menyapukan bibirnya di dahiku, mengecup kedua mataku yang tertutup rapat, berhenti di bibirku, melumatnya dalam-dalam. Begitu hangat dan manis. Sentuhan jarinya di pipiku begitu lembut. Begitu nyata, tapi juga seperti mimpi.
Seharusnya aku mendorongnya. Seharusnya aku tidak naik mobil ini tadi. Seharusnya aku tidak menumpahkan isi hatiku. Seharusnya aku tidak jatuh cinta padanya.
Tapi sekarang semua sudah terlambat.
**
back to top
Aku menyandangkan ransel putih yang sudah agak kusam itu di pundak, lalu bersiap pulang. Pelajaran Bahasa Indonesia berjalan lebih cepat dari biasanya, dan Moses ada rapat OSIS untuk melaksanakan kampanye pemilihan ketua baru karena tahun ini kami akan lulus.
Aku duduk menunggu bus kota yang biasa kutumpangi lewat. Kata-kata Gia kemarin masih terngiang di telingaku. Gue gak bisa ngertiin Adrian akhir-akhir ini, Frey. Gue takut kehilangan dia. Karena demi dia gue rela menyerahkan segalanya.
Ya, memang Adrian ditakdirkan untuk Gia. Aku selalu percaya itu. Tapi kenapa di saat-saat seperti ini Adrian justru berubah dan berpaling dari Gia? Mengapa sekarang Gia gak bisa mencoba mengerti Adrian?
Aku sudah merelakan Adrian untuk Gia. Lebih baik cinta pertamanya pergi tanpa jejak dari pada melukai sahabat satu-satunya.
Bunyi klakson mobil yang keras mengejutkanku. Adrian duduk di balik setir, kaca mobilnya diturunkan. “Freya, gue anter pulang, yuk.”
Aku sontak menggeleng. “Thanks, gue naik bus aja.”
Berhentinya mobil Adrian di tengah jalan menyebabkan macet di belakangnya. Pengemudi lain sibuk membunyikan klakson dengan tidak sabar. “Ayo,” ulang Adrian lagi, tidak bergerak sejengkal pun.
“Gak usah, gue pulang sendiri.”
Aku memang masih bersikukuh, tapi sangat tidak tahan mendengar suara klakson mobil yang tidak berhenti, seakan memarahi Adrian supaya maju atau setidaknya parkir. Aku menyerah dan naik ke mobil Adrian, sedikit membanting pintunya karena kesal.
“Keras kepala banget sih,” gerutuku. Adrian tertawa kecil.
“Yang keras kepala itu siapa?” balasnya lembut. Aku terhenyak.
“Gue harus ke toko buku, mau beli buku buat Bahasa Indonesia,” tukasku. “Turunin gue di mal aja.”
Adrian menggeleng. “Gak apa-apa, gue anterin. Lagian loe tanggung jawab gue juga sekarang, Moses bisa ngamuk kalo gue drop loe sembarangan.”
Aku menghembuskan nafas dengan kesal. Mulai sebal dengan kepura-puraannya. “Loe anterin gue cuma karena Gia gak ada, kan?”
Adrian masih tetap tenang menyetir. “Gak ada hubungannya ama Gia.”
“Sebenernya loe mau apa sih?” Pertanyaan ini, aku ingin menanyakannya untuk Gia. “Maksud loe apa, nyinggung masalah putus ke Gia, bikin dia sedih? Berubah sikap ke Gia, seenaknya nyakitin perasaan dia. Loe pikir ini permainan yang seru? Mempermainkan perasaan semua orang?”
“Loe mau jawaban jujur atau bohong?” Gayanya masih sangat tenang, sama sekali tidak mempedulikanku yang sudah berapi-api. Dia tidak menunggu jawabanku, tapi melanjutkan perkataannya, “Jawaban bohong. Gue sayang sama Gia, mau melewatkan hidup gue sampe tua sama Gia. Gue cuma nganggep loe sebagai pacar Moses, sahabat gue yang paling gue hargai di dunia ini. Dan gue baik-baik aja, gue bisa hidup tanpa nyokap yang meninggal dengan cara mengenaskan. Gue bisa menghadapi bokap yang setiap malem lembur, kakak gue yang jarang pulang.”
“Hidup ini kejam dan loe ga berhak menyalahkan siapa pun atas kesedihan yang loe rasain,” cetusku. Adrian yang cengeng, sampai sekarang masih terus menyalahkan kesedihannya pada semua orang.
“Jawaban jujur,” Adrian melanjutkan lagi dengan nada datar yang sama, tapi suaranya mulai bergetar, “Gue jatuh cinta sama pacar sahabat gue sendiri, gue ingin melepaskan Gia, tapi gue gak bisa nyakitin dia lebih jauh lagi. Gue gak tahan hidup dengan topeng lagi, gue gak bisa jadi diri sendiri.”
Mobilnya meluncur dengan cepat, lalu menepi di jalan yang sepi dengan mendadak. Adrian mencekal tanganku erat-erat, dan suaranya serak dengan kesedihan, mencoba menjelaskan sekali lagi, “Loe ngerti hidup dengan kepura-puraan, Freya, loe yang paling tau tentang itu. Udah berapa tahun loe mau bohongin semua orang di sekitar loe bahwa loe baik-baik aja? Gue sekarang hidup seperti loe, bohongin Gia, bohongin Moses, bohongin diri gue sendiri, bahwa gue jatuh cinta sama orang yang harusnya gak gue sayang!”
Cekalan tangannya semakin kuat, dan aku merasa sakit. Mata Adrian sarat dengan kesepian, kesedihan yang aku sendiri kenali dengan begitu dalam. Ya, kita sama. Kita berdua hidup dalam kepura-puraan, karena takut melukai orang lain, melukai diri sendiri.
“Hidup gue sebuah kebohongan, dan bahkan gue gak berhak bersuara jujur.”
Air mata membanjiri pelupuk mataku. Aku tidak ingin menangis. Aku tidak mau teringat akan segala kenangan buruk, dikenal sebagai anak piatu, gadis pendiam yang anti sosial, Freya yang sederhana, tanpa kelebihan apa pun selain otaknya yang encer. Yang bahkan membenci dirinya sendiri, karena menjadi seperti ini.
Air mataku jatuh di tangan Adrian, dan dia bagai terkena air panas, langsung melepaskan genggamannya yang kini meninggalkan bekas merah di tanganku. Dia mendekapku dalam pelukannya, berkali-kali berbisik, “Maaf, Freya. Jangan nangis. Maaf.”
Aku masih terisak dalam pelukannya, merasa ingin melepaskan semua. Ingin jujur, ingin menangis dan menumpahkan galau yang selama ini hanya tersimpan rapi dalam hati. Karena hanya dia yang tahu.
Entah berapa lama kami berdua berpelukan di dalam mobil Adrian. Matahari sudah terbenam ketika aku melepaskan diri, mengusap mata yang sembab oleh air mata, memandang dia yang baru saja mengungkapkan isi hatinya.
“Gue sayang loe, Freya. Mungkin ini klise, tapi gue tau gue gak main-main.”
Adrian merengkuhku lebih dekat, menyapukan bibirnya di dahiku, mengecup kedua mataku yang tertutup rapat, berhenti di bibirku, melumatnya dalam-dalam. Begitu hangat dan manis. Sentuhan jarinya di pipiku begitu lembut. Begitu nyata, tapi juga seperti mimpi.
Seharusnya aku mendorongnya. Seharusnya aku tidak naik mobil ini tadi. Seharusnya aku tidak menumpahkan isi hatiku. Seharusnya aku tidak jatuh cinta padanya.
Tapi sekarang semua sudah terlambat.
**
Did you like this?
vote
(1 person liked this writing)

