CAFE - - end by usman baradja

231931
genre

description:
cerpen



chapters

chapter 1: - end


- end
chapter 1   —   updated Dec 01, 2007   —   5498 characters   —   0 people liked this writing


Lamunan telah menjadi teman disiang hari. Seperti terprogram dibawah sadar, hayalan slalu menari-nari tanpa diundang. Liar menjelajahi pikiran dalam suasana hiruk pikuk, sembari mengharap tuhan membisikan sesuatu. Dia mencoba slalu mengingat tuhannya, dan ia merasakannya tidak berhasil. Datang Mae, bunyi benturan botol terdengar dari tasnya.
"Siang yang panas mungkin menyenangkan dengan alkohol", kata Mae.
"mari minum!" Abdi coba segera menjawab, ia juga ingin mengingat-ingat kembali lamunannya. "Untuk apa mabuk? melupakan dunia?", spontan Abdi dengan nada datar.
Mae ingin segera pergi jika saja Abdi tidak terlihat cuek, dia terkesan tak peduli, terkesan mengusir. Mae pun terpaksa berpikir, butiran pikirannya berbentuk lamunan.

***
Ditengah kerumunan Abdi berjalan. Arus pejalan kaki memang slalu berantakan, dan itulah satu-satunya keteraturan. Dia menuju rumah Mae, telah biasa menjadi tempat berkumpul.
Ada
sesuatu yang ingin direncanakan. Dalam langkahnya, sejenak merasa melupakan Tuhan, tapi ia berharap bimbingan tuhan selalu menyertainya, bahkan dalam ketidak ingatanya. Satu batang rokok diraihnya dari atas meja. Satu awal tegur sapa adi pada teman-temanya, juga Mae. Botol bir tertata diatas meja beserta gelasnya. Beberapa kosong, beberapa terisi.
“Kau baru tertinggal sedikit”, kata Romi.
Seperti kebanyakan akhir pekan, 9 orang sahabat berkumpul. Romi,Mae, Suci,Yuda, Tika, Dimas, Putri, dan juga Abdi.
“Kita akan mendirikan Kafe”, Romi melanjutkan, ”bagaimana menurutmu? perlu dukungan semua”.
Mereka semua memang bertemu di kafe, dibeberapa kafe lebih tepatnya lagi. Sepayah apapun kafe yang penting adalah tempat berjalan-jalan.
“kita akan memiliki kafe yang sexy”, kata putri.
Abdi belum berbicara sedari datang, ia menuangkan air panas untuk kopinya, sambil merokok. Beberapa memang tidak ‘minum’, hanya minum kopi.
Dan kemudian Dimas juga berbicara, ”seperti yang pernah lo bilang hidup harus terasa indah”.
Abdi terus mendengar, dan diskusi ini sepertinya sebuah persuasive mereka untuk Abdi.
“Disini kita akan buat kafe, sebisanya…” kata Yuda sambil tersenyum.
“Rak buku dan TV kabel! pasti menarik, kita akan bertemu banyak orang!” kata Tika.
Satu persatu pendapat dikemukakan. Setelah Abdi datang, diskusi pembuatan kafe ini benar-benar berjalan. Namun ini hanya cerpen, bukan novel. Tak perlu panjang lebar, yang pasti mereka benar-benar bersahabat. Rokok Abdi hampir mencapai hisapan-hisapan terakhir. Abdi meneguk lagi kopinya, sedikit, dan Mae bersandar dipundaknya. Ide konyol bermunculan, Abdi ikut tersenyum

***
“Akan terbayang kafe swadaya itu… kita akan sibuk”, Abdi membuka pendapatnya.

“Mungkin.. ya…”, balas mae, “tapi akan menyenangkan”.
”Semoga banyak orang akan datang, kita bisa hidup dari pertemanan ini”, kata Romi.
”Ini terkesa suatu cita-cita yang pribadi, tidakkah terasa begitu?” kata Abdi.
” Maksudnya?” tanya dimas, juga dengan nada datar.
Seperti kata-kata yang muncul begitu saja. Abdi berkata, “kita harus bersyukur pada sang pemberi kehidupan, menjalani waktu layaknya manusia beruntung.”
Sesaat suasana hening.
“Abdi.. sejak kemarin kita ga pernah tau apa yang datang besok”, kata suci sambil tersenyum, “kita berhak menjalani ini dengan bersyukur”.
“Mungkin suatu saat kita benar-benar merasa bersyukur”, kata tika.
“Apapun yang kita lakukan, kita akan menyesal… masa gitu aja ga tau?” tambah yuda ringan tapi penuh ekspresi dan gerak tubuh.
Dimas pun ikut-ikutan, “abis makan pil ya bung?”, sambil mendekati Yuda.
”Mungkin aja kita bisa bersyukur dengan kafe ini, atau juga pas kafenya udah ga ada, atau selalu bersyukur deh!” teriak Yuda.
Tika mengiakan, sambil memerapikan rambut dengan satu tangannya,
“semua mungkin…”, kata Tika lagi.
“Mungkin ketika kita memiliki partai”, kata Romi, dan semua tertawa, Abdi hanya tersenyum.

”Ketika semua tampak bersahabat, dan para penindas bisa kita tolak mentah-mentah, dan semua hidup dalam kecerdasan, yaitu: ketidakpedulian yang dipenuhi rasa cinta”, kata Romi lagi seperti rapper.
”Cerdas ya”, Abdi berkata seperti tak bertanya.
”Nagawur!” kata Dimas.
Mae beranjak dari sandarannya, Abdi tetap diam.
”Sudahlah, kau slalu begitu… what’s the point?...” kata Mae.
Abdi diam sejenak, “OK! gue buatin neon box!”.
Jam 11 malam, beberapa menginap, beberapa pulang.

***
Setiap hari kafe ramai. Pedagang makanan, asongan rokok, bahkan taransportasi umum pun coba mengais rezeki disini.
“Ini tampak tidak keren”, kata Tika.

* * *
Sekitar 20an orang mampir di kafe hari ini. Beberapa membaca buku, beberapa membahas acara TV, beberapa pacaran. Dimas nonton TV juga, tapi cuma kaya lagi bengong. Abdi baru saja datang. Dia iseng ke westafel dibelakang bar untuk mencuci gelas, cangkir, dan piring-piring kecil yang dipakai.
Tiba-tiba Mae membisikan sesuatu “jika kafe ini bubar, bagaimana menurutmu?”.
Abdi diam saja tertunduk hingga Mae membelokkan pipi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Ga tau”, kata abdi santai tapi seperti memang jawaban yang telah dipikirkan.
Mae menatap Abdi, tak jelas maksudnya, ”semua ingin begitu”, kata Mae, ”mereka berpikir kau akan sedih”.
”Apa mereka bersedih?” tanya Abdi.
”Sangat!” jawab Mae.

“Terserahlah..” jawab Abdi, ia pun mencuci piring lagi.

* * *
Perasaan berubah-ubah, dunia tetap sama. Semua terasa begitu memuakan.
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of usman's writing