Crayons - The Lost Crayons by Ajeng Putri

1829101
genre

tags

description:
Crayons refer to those that can (always) successfully coloring my world.



chapters

chapter 1: The Lost Crayons


The Lost Crayons
chapter 1   —   updated Nov 14, 2009   —   3416 characters   —   0 people liked this writing
Setiap hari anak itu menggambar di atas kertas, lalu mewarnainya dengan krayon. Dia tidak memiliki sekotak besar krayon yang terdiri dari 133 warna. Hanya sebuah kotak kecil krayon yang terdiri dari beberapa warna. Namun, itu saja sudah cukup untuk mewarnai lembaran kertas kosong yang biasanya hanya ia gambar hitam-putih.

Kemarin sangat berbeda. Hari itu, ia tidak dapat menemukan krayonnya. Ia melihat kotaknya. Masih utuh. Tetapi, tak satupun krayon ia temukan.

Ia tetap menggambar dengan pensilnya. Mengarsir sebisanya supaya gambar di atas kertasnya memiliki sedikit warna. Pensilnya berkali-kali patah, namun ia tetap mengarsir sambil terus berharap tiba-tiba ada keajaiban yang mengembalikan krayon-krayonnya yang tiba-tiba hilang.

Ia hampir menyerah. Dilihatnya gambar di atas kertas putih yang sudah hampir setengah hari ia kerjakan. Suram. Hanya hitam dan putih. Anak tadi beristirahat sebentar. Mencoba bermain dengan gitarnya, berharap ia lupa akan hilangnya krayon-krayon kesayangan.

Semenit kemudian, ia kembali gelisah. Bukan gitar yang ia cari, ia ingin krayon-krayonnya untuk mewarnai gambar yang masih setangah jadi tadi. Kali ini ia mulai mencari di setiap sudut ruangan yang ada, setiap celah yang ia lewati, tidak semilipun ia lewatkan demi menemukan krayon-krayonnya.

Akhirnya, disebuah pojokan, tergeletak sesuatu berwarna. Didekatinya benda tadi. Pensil warna.

Anak itu cukup terhibur menemukan pensil warna itu. Ia langsung kembali menghampiri kertas yang tadi ia geletakkan begitu saja. Tangannya mulai asik mewarnai bagian-bagian putih yang sedari tadi memang ingin ia warnai.

Ia kemudian asik sendiri dengan kegiatannya. Menemukan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang baru. Mewarnai dengan pensil warna berbeda dengan crayon. Setelah asik sendiri, anak tadi kembali mengamati hasil karyanya. Lalu sedikit cemberut. Hasil gambarnya hari ini tidak jelek. Namun tidak sebagus biasanya. Warnanya tidak seindah ketika ia menggradasikan warna-warna krayonnya. Warnanya tidak sepadat ketika ia mewarnai dengan krayon. Hasilnya berbeda.

Anak tadi kembali melirik kotak krayonnya yang hari ini kosong. Membukanya, berharap tiba-tiba krayon-krayonnya lengkap seperti biasa.

Nihil.

Kotaknya tetap kosong. Hanya menyisakan potongan-potongan kecil yang kira-kira ukurannya tak lebih dari dua sampai tiga mili. Anak itu mengambil potongan-potongan itu. menggoresnya sedikit di atas gambar yang telah ia kerjakan hampir seharian.

Goresan potongan berukuran mili tadi ternyata terlihat nyata di atas kertas. Anak itu sedikit mengembangkan senyum. Ini dia warna yang biasa ia lihat. Hanya saja kali ini tidak ia dapatkan dari krayon kesayangannya yang utuh. Ia mendapatkan warna tadi dari potongan kecil dari krayon-krayon kesayangannya.

Ia lalu melanjutkan mewarnai dengan krayon yang seadanya. Sampai akhirnya gambarnya selesai.

Anak itu melihat hasil akhir gambar yang telah ia buat seharian. Tidak buruk. Namun tidak sebagus biasanya. Tidak suram. Namun tidak secerah biasanya.

Gambarnya berbeda dari biasanya. Setelah puas melihat, disimpannya kertas tadi ke dalam laci biasa ia menyimpan gambar-gambarnya. Menyudahi hari itu dan bersiap tidur.

Sebelum tidur ia berdoa:

"Tuhan, terimakasih untuk hari ini. Semoga hari esok lebih baik."

Lalu ia kembali menambahkan:

"Tuhan, semoga juga aku besok bisa menemukan krayon-krayonku. Aku rindu mereka..."
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Ajeng's writing