Knowledge Society - Knowledge Civil by Galih Prasetya Utama
chapters
chapter 1:
Knowledge Civil
Knowledge Civil
chapter 1
—
updated Sep 05, 2009
—
11068 characters
—
0 people liked this writing
Knowledge Society refers to any society where knowledge is the primary production resource instead of capital and labour. It may also refer to the use a certain society gives to information. A Knowledge society "creates, shares and uses knowledge for the prosperity and well-being of its people". ( The Digital Strategy)
Rakyat adalah sekumpulan orang- orang bodoh, yang mudah diarahkan, dikelabui, dan dibodohi. JIka ada orang atau sekumpulan orang yang merasa lebih cerdas, maka orang itu atau sekumpulan orang tadi merasa dirinya bukanlah rakyat ( Bennedict Anderson)
Beberapa kawan akademisi dan peneliti ( serta segelintir pengambil kebijakan a.k.a Politisi - asumsinya kalau politisi pasti bijak "harusnya" namanya saja jelas : "Policy Maker") ramai membincangkan dan menuliskan tema Ekonomi berbasis Pengetahuan ( Knowledge Economy) di khalayak via media dan seminar. Saya tidak tahu, apakah ini hanya sekadar memetika tanpa substansi, atau memang sudah dipikirkan mulai dari fundamental ideologisnya sampai tataran praksis, dugaan saya sih, ini hanya efek memetika simbolik.
Ketika Perang Salib berlangsung, saudagar muslim dan nasrani masih melangsungkan transaksi seperti biasa di Laut Mediterania, Genoa, Sisilia, dan Venesia. Ketika Perang Krim, keadaannya juga sama, aktivitas transaksi Saudagar Turki dan Rusia cenderung tidak terpengaruh, Saya hanya mau bilang, bahwa mekanisme transaksi adalah salah satu metode purba untuk mempertahankan kehidupan, jauh sebelum institusi kelembagaan komunitas ( sekarang namanya "Negara" dulu namanya "Klan" atau "Suku") berdiri. Sampai sekarang pun, ikatan lewat perdagangan sebenarnya jauh lebih ekspansif dan efektif untuk menjalin hubungan jangka panjang antar negara-budaya daripada mekanisme politik dan militer, karena perdagangan selalu didasari prinsip kepercayaan dan kemanfaatan, nilai ini menembus batas budaya antar benua- ras sekalipun.
Setiap proses perdagangan antar budaya ini juga berfungsi akulturatif, tahap awal perdagangan pasti adalah menjalin rasa saling percaya, dan rasa ini bisa terwujud atas dasar pemahaman bahwa nilai yang dianut cocok. Nah, kembali ke judul tulisan diatas, perdagangan adalah aktivitas yang dilakukan oleh spesies manusia ( iya dong, masak monyet sih !), nilai itu ada dalam diri manusia. Nilai itu terbentuk oleh budaya lingkungan. Cara untuk membentuk budaya peradaban adalah dengan institusi pembentuk nilai yang terlembagakan, mulai dari yang terkecil, skala keluarga, sampai skala masif yaitu sekolah formal, kenapa ? Karena umur spesies manusia itu pendek, dan nilai yang membentuk identitas itu akan diwariskan turun temurun antar generasi. Teknologi adalah manifestasi budaya peradaban, begitu juga dengan budaya ilmiah dan apresiasi terhadap pengetahuan.
Etika bisnis- industri dibentuk dan dikendalikan sepenuhnya oleh manusia, karena manusialah yang memegang keseluruhan mekanisme strategisnya. Sebuah masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) adalah bentukan dari tradisi yang menghargai tinggi pengetahuan, dalam artian pengetahuan ( Knowledge) adalah komoditas yang setiap manusia berhak untuk mengaksesnya, bukan hanya monopoli manusia yang sehari- harinya hidup di institusi pendidikan- penelitian formal. Pengetahuan adalah hak setiap orang, yang singkatnya, pendidikan adalah hak semua orang jika memang bertujuan untuk membentuk yang namanya masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society).
Ketika media mendengungkan tema " Industri Kreatif" ( salah satu bentuk ekonomi berbasis pengetahuan) , maka prasyarat yang dibentuk oleh jenis aktivitas bisnis yang satu ini adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari yang sebelumnya belum ada ( Creare). Kemampuan ini sangat ditunjang oleh yang namanya "Pengetahuan" ( Knowledge) dan "Imajinasi" ( Imagination) dalam benak manusia pelakunya. Oleh karena itu, jangan heran walaupun namanya sama, tapi model bisnis, produk, fungsionalitas, nilai seni, dan nilai teknologi industri kreatif di Sillicon Valley, London, Sidney, dan Bandung, jauh berbeda ! Kenapa ? Karena tingkat pengetahuan, budaya manusia, kompetensi, skil bisnis, dan visi jangka panjangnya juga berbeda jauh.
Aktivitas ekonomi berbasis pengetahuan ( Knowledge Economy) dapat terbentuk sebagai sebuah pencapaian kolektif peradaban ( Collective Achievement) jika dan hanya jika terbentuk masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) sebelumnya yang sifatnya semi paralel- sekuensial. Ini adalah soal akses terhadap pengetahuan dan pembentukan gaya hidup berbasis pengetahuan itu, salah satunya adalah dengan akses terhadap pendidikan. Lalu, apakah bisa sebuah industri kreatif yang berkarakter pasar kuat, nilai tambah teknologi canggih, dan ekonomi tinggi tumbuh di Indonesia ? Bisa saja, tapi sifatnya cenderung monopolistik, tidak jauh dengan India, keadaannya menambah disparitas ekonomi manusia yang bisa mengakses pengetahuan ( karena punya biaya) dan yang tidak bisa mengakses pengetahuan ( karena lebih miskin).
Lalu, apakah saya bilang bahwa kebijakan semacam itu salah ? Tidak, sama sekali tidak. Pembangunan sebuah masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) adalah proyek perbaikan berkelanjutan ( Continues Improvement), dan pada proses ini selalu ada tahapan "Uji Lab", semacam prototype awalan untuk pembuktian empirik sebuah konsep. Artinya proses membentuk masyarakat berpengetahuan itu sifatnya dinamis dan berkelanjutan antar generasi, setiap generasi akan mampu melihat bahwa pencapaian setiap zaman itu akan berbeda, bergantung pada kerja keras dan kemauan tiap generasi untuk mencapainya. Sifat sabar adalah penyeimbang sikap kerja keras tadi, bahwa setiap proses itu harus dinikmati kinerjanya, hingga bisa merasakan hasilnya, selalu ada variabel ruang dan waktu bukan ? Dan, sebelum bergerak menjauh, harus ada satu langkah awal kecil yang dijalankan.
Tradisi Ilmiah
A university is a house of learning. It is a lighthouse and the same time functions as the conscience of the nation. It provides the stage for the young and old to be enganged in a great and exciting adventure of ideas. A university generates and produces knowledge besides educated people. A corporate produces goods or services through knowledge based activities ( M.T. Zen. Guru Besar Institut Teknologi Bandung)
Sukses riset bisa diukur dari tiga hal : Sukses secara akademik karena makalah yang dihasilkan dikutip; berpotensi ekonomis atau komersial; dan memberi manfaat kepada masyarakat. ( Menteri Negara Riset dan Teknologi RI Kusmayanto Kadiman di depan Sidang Paripurna Dewan Riset Nasional)
" Ketika Anda sedang kuliah ini, maka sebenarnya yang Anda lakukan adalah Learning How To Learn", itu kata salah satu dosen. Pendeknya, yang kita dapatkan saat menempuh pendidikan formal lebih besar pada aspek konstruksi pemikiran ( kognitif) dan tata nilai ( afektif). Dua basis itu yang akan menjadi "Mesin Sikap" dalam diri setiap individu produk pendidikan formal untuk menghasilkan output dari input informasi yang berkelindan setiap detik di kehidupannya.
Jika "Mesin Sikap" ini mandeg, maka bisa dipastikan bahwa semua informasi yang masuk hanya akan menjadi "Data Smog", data- data mati yang tidak dapat membentuk kualitas hidup lebih baik, sifatnya polutif. Jadi, jangan heran ketika mesin yang satu ini tidak jalan, banyak anak sekolah (kuliah) tidak paham untuk apa pengetahuan yang dia dapat bagi hidupnya, dan tidak kreatif sama sekali untuk melakukan konstruksi ide menghasilkan output positif bagi cita hidupnya ataupun kebaikan lingkungan.
Ada sebuah tradisi yang dibentukkan oleh lingkungan pendidikan formal terhadap manusia yang menjalaninya, yaitu tradisi ilmiah. Manusia manusia muda produk kampus selalu mendengungkan istilah ini" tradisi ilmiah".
Tapi bagaimana caranya kita mengetahui apakah sebuah komunitas memiliki tradisi ilmiah atau belum ? Apa ciri yang mengidentifikasikan bahwa sekumpulan manusia itu memiliki tradisi ilmiah ? Saya dapat input yang bagus dari sebuah kompilasi tulisan, perimeter tradisi ilmiah adalah sebagai berikut :
1. Berbicara atau bekerja berdasarkan pengetahuan ( mampu menjelaskan landasan rasional)
2. Tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilaian terhadap sesuatu sebelum memahaminya dengan jelas dan akurat ( data primer atau sekunder terpercaya)
3. Selalu membandingkan pendapatnya, dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum mengambil keputusan ( Mekanisme Pembandingan)
4. Mendengar lebih banyak dibandingkan berbicara
5. Gemar membaca dan secara khusus menyediakan waktu untuk itu
6. Lebih banyak diam, dan menikmati saat saat perenungan dalam kesendirian
7. Selalu mendekati permasalahan dengan objektif, integral, komprehensif, dan proporsional.
8. Gemar berdikusi, proaktif dalam mengembangkan ide, tapi tidak suka berdebat kusir.
9. Berorientasi mencari kebenaran dalam diskusi dan bukan kemenangan dalam debat.
10. Berusaha mempertahankan sikap dingin dalam menghadapi masalah dan meredam sikap mudah meledak
11. Bepikir secara sistematis dan berbicara secara teratur
12. Tidak pernah merasa berilmu secara permanen, oleh karena itu sengaja untuk senantiasa belajar secara rutin
13. Menyenangi hal baru dan menyukai tantangan
14. Rendah hati dan bersedia menerima kesalahan
15. Lapang dada dan toleran terhadap perbedaan
16. Memikirkan ulang gagasan sendiri dan milik orang lain serta menguji kebenarannya
17. Melahirkan gagasan gagasan baru secara produktif
Lalu apakah jika semuanya teridentifikasi dalam sebuah kumpulan manusia, maka kita bisa melabelkan masyarakat berpengetahuan dengan tradisi ilmiah di dalamnya ? Ya, dan tidak. Lho, kenapa ? Seperti yang saya bilang di awal, bahwa spesies manusia itu berumur pendek, dan pembentukan tradisi ilmiah adalah sesuatu yang dinamis, terus berjalan, dan tetap diperjuangkan antar generasi. Hasil identifikasi bisa jadi berubah manakala dilakukan antar ruang dan waktu yang berbeda.
Hm, dengan sadar diri bahwa saya adalah bagian integral dari peradaban ini, membangun peradaban selalu dimulai dari diri sendiri, untuk kemudian lewat interaksi antar manusia, sebuah tradisi ilmiah itu akan terbentuk melewati ruang dan waktu.
Memang butuh kesabaran tinggi dan keteguhan luar biasa untuk menjalani sebuah proses. Namun, jika kita tahu untuk apa kita hidup, nampaknya segalanya akan selalu indah, bukan begitu ? Seperti yang selalu saya pahami, bahwa semua realitas itu diciptakan. Idiom utopia hanya dimiliki oleh manusia melankolik- sadomasokis yang gemar membunuh ide optimisme kehidupan, Alhamdulillah, saya bukan spesies manusia yang satu itu ^_^ Haha....
Maximillian
NB :
1. Perenungan sejenak, menghitung langkah untuk berinvestasi di bisnis kreatif, setelah membangun basis industri ekstraktif yang solid dan tangguh.
2. Menunggu semifinal Chelsea vs Barcelona pasca QL ( nanggung banget !)
3. Hari ini tidak melihat berita Metro dan TVOne, dunia mendadak cerah kawan ! Penuh opera sabun tahi sapi semenjak Pemilu ( Bullshit ( English) = Tahi Sapi ( Bahasa Indonesia) = Lethong Lembu ( Basa Jawa halus khas Solo ) Ha3x.. ^_^
back to top
Rakyat adalah sekumpulan orang- orang bodoh, yang mudah diarahkan, dikelabui, dan dibodohi. JIka ada orang atau sekumpulan orang yang merasa lebih cerdas, maka orang itu atau sekumpulan orang tadi merasa dirinya bukanlah rakyat ( Bennedict Anderson)
Beberapa kawan akademisi dan peneliti ( serta segelintir pengambil kebijakan a.k.a Politisi - asumsinya kalau politisi pasti bijak "harusnya" namanya saja jelas : "Policy Maker") ramai membincangkan dan menuliskan tema Ekonomi berbasis Pengetahuan ( Knowledge Economy) di khalayak via media dan seminar. Saya tidak tahu, apakah ini hanya sekadar memetika tanpa substansi, atau memang sudah dipikirkan mulai dari fundamental ideologisnya sampai tataran praksis, dugaan saya sih, ini hanya efek memetika simbolik.
Ketika Perang Salib berlangsung, saudagar muslim dan nasrani masih melangsungkan transaksi seperti biasa di Laut Mediterania, Genoa, Sisilia, dan Venesia. Ketika Perang Krim, keadaannya juga sama, aktivitas transaksi Saudagar Turki dan Rusia cenderung tidak terpengaruh, Saya hanya mau bilang, bahwa mekanisme transaksi adalah salah satu metode purba untuk mempertahankan kehidupan, jauh sebelum institusi kelembagaan komunitas ( sekarang namanya "Negara" dulu namanya "Klan" atau "Suku") berdiri. Sampai sekarang pun, ikatan lewat perdagangan sebenarnya jauh lebih ekspansif dan efektif untuk menjalin hubungan jangka panjang antar negara-budaya daripada mekanisme politik dan militer, karena perdagangan selalu didasari prinsip kepercayaan dan kemanfaatan, nilai ini menembus batas budaya antar benua- ras sekalipun.
Setiap proses perdagangan antar budaya ini juga berfungsi akulturatif, tahap awal perdagangan pasti adalah menjalin rasa saling percaya, dan rasa ini bisa terwujud atas dasar pemahaman bahwa nilai yang dianut cocok. Nah, kembali ke judul tulisan diatas, perdagangan adalah aktivitas yang dilakukan oleh spesies manusia ( iya dong, masak monyet sih !), nilai itu ada dalam diri manusia. Nilai itu terbentuk oleh budaya lingkungan. Cara untuk membentuk budaya peradaban adalah dengan institusi pembentuk nilai yang terlembagakan, mulai dari yang terkecil, skala keluarga, sampai skala masif yaitu sekolah formal, kenapa ? Karena umur spesies manusia itu pendek, dan nilai yang membentuk identitas itu akan diwariskan turun temurun antar generasi. Teknologi adalah manifestasi budaya peradaban, begitu juga dengan budaya ilmiah dan apresiasi terhadap pengetahuan.
Etika bisnis- industri dibentuk dan dikendalikan sepenuhnya oleh manusia, karena manusialah yang memegang keseluruhan mekanisme strategisnya. Sebuah masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) adalah bentukan dari tradisi yang menghargai tinggi pengetahuan, dalam artian pengetahuan ( Knowledge) adalah komoditas yang setiap manusia berhak untuk mengaksesnya, bukan hanya monopoli manusia yang sehari- harinya hidup di institusi pendidikan- penelitian formal. Pengetahuan adalah hak setiap orang, yang singkatnya, pendidikan adalah hak semua orang jika memang bertujuan untuk membentuk yang namanya masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society).
Ketika media mendengungkan tema " Industri Kreatif" ( salah satu bentuk ekonomi berbasis pengetahuan) , maka prasyarat yang dibentuk oleh jenis aktivitas bisnis yang satu ini adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari yang sebelumnya belum ada ( Creare). Kemampuan ini sangat ditunjang oleh yang namanya "Pengetahuan" ( Knowledge) dan "Imajinasi" ( Imagination) dalam benak manusia pelakunya. Oleh karena itu, jangan heran walaupun namanya sama, tapi model bisnis, produk, fungsionalitas, nilai seni, dan nilai teknologi industri kreatif di Sillicon Valley, London, Sidney, dan Bandung, jauh berbeda ! Kenapa ? Karena tingkat pengetahuan, budaya manusia, kompetensi, skil bisnis, dan visi jangka panjangnya juga berbeda jauh.
Aktivitas ekonomi berbasis pengetahuan ( Knowledge Economy) dapat terbentuk sebagai sebuah pencapaian kolektif peradaban ( Collective Achievement) jika dan hanya jika terbentuk masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) sebelumnya yang sifatnya semi paralel- sekuensial. Ini adalah soal akses terhadap pengetahuan dan pembentukan gaya hidup berbasis pengetahuan itu, salah satunya adalah dengan akses terhadap pendidikan. Lalu, apakah bisa sebuah industri kreatif yang berkarakter pasar kuat, nilai tambah teknologi canggih, dan ekonomi tinggi tumbuh di Indonesia ? Bisa saja, tapi sifatnya cenderung monopolistik, tidak jauh dengan India, keadaannya menambah disparitas ekonomi manusia yang bisa mengakses pengetahuan ( karena punya biaya) dan yang tidak bisa mengakses pengetahuan ( karena lebih miskin).
Lalu, apakah saya bilang bahwa kebijakan semacam itu salah ? Tidak, sama sekali tidak. Pembangunan sebuah masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) adalah proyek perbaikan berkelanjutan ( Continues Improvement), dan pada proses ini selalu ada tahapan "Uji Lab", semacam prototype awalan untuk pembuktian empirik sebuah konsep. Artinya proses membentuk masyarakat berpengetahuan itu sifatnya dinamis dan berkelanjutan antar generasi, setiap generasi akan mampu melihat bahwa pencapaian setiap zaman itu akan berbeda, bergantung pada kerja keras dan kemauan tiap generasi untuk mencapainya. Sifat sabar adalah penyeimbang sikap kerja keras tadi, bahwa setiap proses itu harus dinikmati kinerjanya, hingga bisa merasakan hasilnya, selalu ada variabel ruang dan waktu bukan ? Dan, sebelum bergerak menjauh, harus ada satu langkah awal kecil yang dijalankan.
Tradisi Ilmiah
A university is a house of learning. It is a lighthouse and the same time functions as the conscience of the nation. It provides the stage for the young and old to be enganged in a great and exciting adventure of ideas. A university generates and produces knowledge besides educated people. A corporate produces goods or services through knowledge based activities ( M.T. Zen. Guru Besar Institut Teknologi Bandung)
Sukses riset bisa diukur dari tiga hal : Sukses secara akademik karena makalah yang dihasilkan dikutip; berpotensi ekonomis atau komersial; dan memberi manfaat kepada masyarakat. ( Menteri Negara Riset dan Teknologi RI Kusmayanto Kadiman di depan Sidang Paripurna Dewan Riset Nasional)
" Ketika Anda sedang kuliah ini, maka sebenarnya yang Anda lakukan adalah Learning How To Learn", itu kata salah satu dosen. Pendeknya, yang kita dapatkan saat menempuh pendidikan formal lebih besar pada aspek konstruksi pemikiran ( kognitif) dan tata nilai ( afektif). Dua basis itu yang akan menjadi "Mesin Sikap" dalam diri setiap individu produk pendidikan formal untuk menghasilkan output dari input informasi yang berkelindan setiap detik di kehidupannya.
Jika "Mesin Sikap" ini mandeg, maka bisa dipastikan bahwa semua informasi yang masuk hanya akan menjadi "Data Smog", data- data mati yang tidak dapat membentuk kualitas hidup lebih baik, sifatnya polutif. Jadi, jangan heran ketika mesin yang satu ini tidak jalan, banyak anak sekolah (kuliah) tidak paham untuk apa pengetahuan yang dia dapat bagi hidupnya, dan tidak kreatif sama sekali untuk melakukan konstruksi ide menghasilkan output positif bagi cita hidupnya ataupun kebaikan lingkungan.
Ada sebuah tradisi yang dibentukkan oleh lingkungan pendidikan formal terhadap manusia yang menjalaninya, yaitu tradisi ilmiah. Manusia manusia muda produk kampus selalu mendengungkan istilah ini" tradisi ilmiah".
Tapi bagaimana caranya kita mengetahui apakah sebuah komunitas memiliki tradisi ilmiah atau belum ? Apa ciri yang mengidentifikasikan bahwa sekumpulan manusia itu memiliki tradisi ilmiah ? Saya dapat input yang bagus dari sebuah kompilasi tulisan, perimeter tradisi ilmiah adalah sebagai berikut :
1. Berbicara atau bekerja berdasarkan pengetahuan ( mampu menjelaskan landasan rasional)
2. Tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilaian terhadap sesuatu sebelum memahaminya dengan jelas dan akurat ( data primer atau sekunder terpercaya)
3. Selalu membandingkan pendapatnya, dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum mengambil keputusan ( Mekanisme Pembandingan)
4. Mendengar lebih banyak dibandingkan berbicara
5. Gemar membaca dan secara khusus menyediakan waktu untuk itu
6. Lebih banyak diam, dan menikmati saat saat perenungan dalam kesendirian
7. Selalu mendekati permasalahan dengan objektif, integral, komprehensif, dan proporsional.
8. Gemar berdikusi, proaktif dalam mengembangkan ide, tapi tidak suka berdebat kusir.
9. Berorientasi mencari kebenaran dalam diskusi dan bukan kemenangan dalam debat.
10. Berusaha mempertahankan sikap dingin dalam menghadapi masalah dan meredam sikap mudah meledak
11. Bepikir secara sistematis dan berbicara secara teratur
12. Tidak pernah merasa berilmu secara permanen, oleh karena itu sengaja untuk senantiasa belajar secara rutin
13. Menyenangi hal baru dan menyukai tantangan
14. Rendah hati dan bersedia menerima kesalahan
15. Lapang dada dan toleran terhadap perbedaan
16. Memikirkan ulang gagasan sendiri dan milik orang lain serta menguji kebenarannya
17. Melahirkan gagasan gagasan baru secara produktif
Lalu apakah jika semuanya teridentifikasi dalam sebuah kumpulan manusia, maka kita bisa melabelkan masyarakat berpengetahuan dengan tradisi ilmiah di dalamnya ? Ya, dan tidak. Lho, kenapa ? Seperti yang saya bilang di awal, bahwa spesies manusia itu berumur pendek, dan pembentukan tradisi ilmiah adalah sesuatu yang dinamis, terus berjalan, dan tetap diperjuangkan antar generasi. Hasil identifikasi bisa jadi berubah manakala dilakukan antar ruang dan waktu yang berbeda.
Hm, dengan sadar diri bahwa saya adalah bagian integral dari peradaban ini, membangun peradaban selalu dimulai dari diri sendiri, untuk kemudian lewat interaksi antar manusia, sebuah tradisi ilmiah itu akan terbentuk melewati ruang dan waktu.
Memang butuh kesabaran tinggi dan keteguhan luar biasa untuk menjalani sebuah proses. Namun, jika kita tahu untuk apa kita hidup, nampaknya segalanya akan selalu indah, bukan begitu ? Seperti yang selalu saya pahami, bahwa semua realitas itu diciptakan. Idiom utopia hanya dimiliki oleh manusia melankolik- sadomasokis yang gemar membunuh ide optimisme kehidupan, Alhamdulillah, saya bukan spesies manusia yang satu itu ^_^ Haha....
Maximillian
NB :
1. Perenungan sejenak, menghitung langkah untuk berinvestasi di bisnis kreatif, setelah membangun basis industri ekstraktif yang solid dan tangguh.
2. Menunggu semifinal Chelsea vs Barcelona pasca QL ( nanggung banget !)
3. Hari ini tidak melihat berita Metro dan TVOne, dunia mendadak cerah kawan ! Penuh opera sabun tahi sapi semenjak Pemilu ( Bullshit ( English) = Tahi Sapi ( Bahasa Indonesia) = Lethong Lembu ( Basa Jawa halus khas Solo ) Ha3x.. ^_^
