First Chapter of Bidadari - Bab I by Arya Nasoetion

300323
genre

description:
This is the first chapter of second novel



chapters

chapter 1: Bab I


Bab I
chapter 1   —   updated Sep 03, 2007   —   15964 characters   —   0 people liked this writing
Rippi menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangannya. Hari sudah mulai beranjak sore, tapi matahari Jakarta masih belum nampak letih untuk mengeluarkan panasnya. Rippi menghela nafas panjang, sedikit mengeluh. Biasanya dia sudah ada di kos-kosan jam-jam sebegini, entah lagi berada di atas kasurnya yang tidak begitu empuk (tapi tetap nyaman!), mengerjakan skripsinya, atau sedang berada di luar sambil bersenda gurau bersama teman-temannya melepaskan stress. Sambil terus memerhatikan bus-bus yang lewat, dia mengingat-ingat bagaimana caranya sampai dia ada di pinggir jalan jam 5 sore begini sehabis bimbingan di sebuah kampus tempat dosennya mengajar.

Beberapa hari yang lalu, di kantor dosennya, Rippi menemui dosennya tersebut. Niatnya adalah mengambil bab lanjutan dari skripsinya yang harus disidangkan akhir semester ini, yang telah diserahkannya pada pembimbingnya tersebut dua hari sebelumnya. Sayang, menurut dosennya bab tiga skripsinya itu masih belum bisa di-acc.

“Kamu masih kekurangan data Rip. Coba cari lagi di internet atau ke perpustakaan CSIS,” begitu cetus dosennya, sambil mendorong draft bab tiga skripsi Rippi yang ada di atas mejanya ke arah Rippi. Draft itu kini telah penuh dengan coretan, tulisan, tanda silang, tanda seru, tanda tanya berwarna merah, yang merupakan catatan dari pembimbingnya.

Rippi tidak bisa berkata apa-apa. Mukanya memancarkan keputusasaan. Timetable yang sudah dibuatnya harus disusun ulang karena penolakan draft yang ini. Dosennya melihat ke arahnya dengan pandangan yang penuh pengertian.

“Ini loh Rip,” kata Mas Iwan sambil membuka draftnya tersebut. “Ini udah aku kasih catatan sih, tapi kita bahas sebagian aja deh biar kamu ngerti di mana kurangnya.”
Rippi mengalihkan pandangannya pada halaman yang terbuka di depannya, masih tanpa minat.

“Bagian ini yang mesti kamu jabarkan. Kamu bilang ada kepentingan Prancis dan Jerman di Irak sehingga mereka menolak untuk membantu Amerika pada invasi yang lalu. Nah kepentingannya itu apa aja? Itu yang mesti kamu jabarkan. Ekonomikah? Politiskah? Atau jangan-jangan terkait dengan masalah Palestina juga mungkin? Itu yang mesti kamu cari tahu di sini. Oke?”

“Oke Mas…” jawabnya lesu.

“Empat hari ya jadi? Jadi kamu ketemu aku lagi hariii…” Mas Iwan mengalihkan pandangannya pada kalender di mejanya, “Senin. Bisa?”

“Bisa Mas.”

“Tapi gak di sini ya. Senin pagi aku ada tamu soalnya. Kamu siang-siangan aja gitu ke pasca ya? Aku sorenya ngajar di situ soalnya, jadi mungkin aku dari siang udah di sana,” Mas Iwan merujuk pada gedung pascasarjana tempat dia juga mengajar. Program pascasarjana dan program sarjana universitas Rippi memang berada di bagian kota yang berbeda.

Rippi mengangguk. Agak malas juga sebenarnya pergi ke pasca yang jauh dari kos-nya. Tapi terpaksa deh.

“Yang semangat ah! Masih kekejar kok semester ini. Oke?”

“Iya Mas,” Rippi memaksakan diri untuk tersenyum. “Terima kasih banyak Mas.”

“Yooo.. Sama-sama. Tutup lagi pintunya ya”

Berbarengan dengan ditutupnya pintu dalam bayangan Rippi, sebuah bus yang sedari ditunggunya mendekat. Bus itu menyisir di kiri jalan, meski tidak sepenuhnya berhenti, sehingga Rippi terpaksa mengeluarkan kelincahannya untuk menggapai pegangan di pintu belakang bus, sambil berusaha agar tidak terjatuh. Kelincahan seperti itu memang mutlak dimiliki seseorang di Jakarta, apalagi kalau dia merupakan seorang pengguna kendaraan umum.

Dari luar saja Rippi sudah bisa melihat, bus hari itu sudah penuh sesak. Memang biasanya seperti bus selalu seperti itu jam-jam segini. Entah bagaimana bisa manusia bisa dijejalkan dalam satu wadah seperti itu. Gilanya, keneknya masih dengan entengnya berteriak-teriak, “Ayo, masih kosong! Masih kosong!”

Kosong gigi lu! Umpat Rippi dalam hati, ketika akhirnya dia bisa meraih pegangan dan menarik tubuhnya sendiri naik ke dalam. Setelah sempat mengambil nafas, dia mengambil dua lembar seribuan dari kantung jinsnya dan memberikannya pada kenek yang langsung menagih. Lalu, dia memerhatikan sekelilingnya. Benar saja, bus memang penuh dengan penumpang. Bau keringat penumpang yang satu bercampur dengan bau penumpang yang lain, ditambah bau minyak angin, minyak nyong-nyong, dan juga bau knalpot bisa membuat bingung anjing pelacak yang paling terlatih sekalipun.

Tapi lalu ada semilir wangi yang mengalahkan bau-bauan tersebut. Wangi itu datang dari seorang gadis cantik yang berdiri di dekatnya, hanya terhalang satu atau dua orang.

Gak biasa naik bus
Begitu Rippi menyimpulkan. Bukan tanpa alasan dia berpikir seperti itu. Pertama, ya karena wanginya itu. Orang yang mau naik bus di jam sibuk kayak begini akan lebih memilih untuk tidak memakai wewangian, karena percuma! Pasti cepat atau lambat parfum atau apapun itu akan luntur dan berganti bau. Apalagi dia perempuan. Adalah wajar seorang perempuan membawa sebotol parfum di dalam tasnya kan? Pasti dia akan memilih untuk menyemprotkan parfum itu setelah turun dari bis, dan bukannya ketika berangkat.

Kedua, karena kulit gadis itu terlalu putih untuk seseorang yang biasa menunggu bus di pinggir jalan. Paling tidak, kulit dia akan menjadi sedikit coklat kalau sering terekspos sinar matahari seperti Rippi. Lagipula rambutnya terlihat hitam berkilau, tidak seperti rambut yang sering terkena sinar matahari. Biasanya, kalau rambut sering dijemur akan muncul rona-rona kemerahan yang nyata.

Ketiga, dia terlalu cantik! Seumur-umur naik bus, Rippi tidak pernah melihat perempuan secantik dia! Mungkin ini bukan yang pertama kalinya dia naik bus, tapi yang jelas dia bukan pengguna kendaraan umum ini. Meskipun ada kemungkinan dia adalah pengguna Busway.

Tapi alasan keempatlah yang membuar Rippi sangat khawatir. Dia nampak tidak sadar kalau dirinya tengah menjadi sasaran pencopetan! Bapak-bapak yang ada di belakangnya nampak sedang memepetnya. Tangannya seperti sedang berusaha untuk merogoh-rogoh tas si Gadis yang memang tidak dijaga dengan baik. Rippi tahu dengan pasti pencopet ini tidak bekerja sendirian, tapi dalam kelompok. Makanya, cukup berbahaya bagi dia kalau tiba-tiba dia berteriak copet, karena entah penumpang mana lagi yang merupakan kolaboratornya.

Aaaahhhh! Orang-orang ini ngalangin aja!

Pandangan Rippi tertutup lagi, karena barusan bus berbelok dan membuat orang-orang kehilangan pijakan mereka, sehingga harus menyesuaikan diri dengan gaya sentrifugal yang dibuat oleh bus.
Mesti sekarang atau dia kecopetan!

“Iyem!” Rippi berteriak.

Yeah, right. Dari berjuta-juta nama cewe, Iyem nama yang lu pilih?? Kebanyakan nonton Empat Mata lu! Rippi mengutuk dalam hati. Orang-orang di sekitarnya menoleh ke arahnya dengan bingung. Perempuan itu hanya sekedar melirik, tapi lalu kembali mengalihkan pandangannya.

“Permisi, Pak,” Rippi berusaha mendekati perempuan itu, dengan mencoba bertukar tempat dengan orang di sebelahnya.

“Iyem kan?” Kata Rippi akhirnya, ketika berhasil berdekatan dengan perempuan itu. Matanya berusaha tidak melihat ke si Pencopet yang sedang kesal karena aksinya tertunda.

Perempuan itu melirik takut-takut, dan lalu mendekap erat tasnya ke dada. Tiba-tiba dia ingat salah satu tayangan tips menghindari pencopetan di sebuah acara berita kriminal. Kata acara itu, pencopet sering juga memakai taktik pengalih perhatian. Yang satu mengajak berbicara, sementara yang lain menggerayangi isi tas.

Sekarang baru lu dekap tas lu? Rutuk Rippi. Lu kira gua copet??

“Yem, ini gua!”

“Bukan Mas,” jawabnya sambil tidak menoleh. Rippi melirik ke copet itu. Mukanya terlihat kesal sekali buruannya sudah hilang.

“Lho, bukan Iyem yang dari kampung Alas Progo toh?”

“Bukan Mas,” dia menggeleng-gelengkan kepala.

“Ooooh…” Balas Rippi. Perempuan itu diam saja. Rippi masih mengkhawatirkan perempuan itu menjadi korban pencopetan, karena nampaknya si bapak-bapak itu masih enggan melepaskan mangsanya.

Aaaah, What the heck!

“Bukan Ngatiyem yang ini ya Mbak…” Rippi mendekatkan wajahnya ke telinga si perempuan, dan berbisik dengan cepat, “ada copet. Mendingan turun aja.”

Perempuan itu terkejut. Pertama karena Rippi begitu tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Dia kira Rippi adalah orang cabul yang juga sekali dua kali diberitakan di tayangan berita kriminal. Tapi lalu dia kaget karena mendengar kata copet. Masih belum sepenuhnya sadar, Rippi sudah beraksi lagi.

“Tuuuh kan Ngatiyem!” Dia berteriak lalu menjentrik-jentrikkan jarinya ke plafon bus yang terbuat dari sejenis plywood, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras, “Kiri! Kiri!”
Bus sedang melaju di tengah jalan, tapi entah bagaimana caranya -syuuuut-bus banting stir ke kiri dan melambat. Rippi menarik tangan si perempuan mengajaknya turun.

“Kiri dulu,” tak lupa Rippi memperingatkan dia agar lebih dulu menapak dengan kaki kiri agar tidak terjatuh sewaktu melangkah turun dari bus yang masih setengah berjalan. Rippi turun terlebih dahulu, diikuti dengan perempuan itu beberapa saat kemudian. Rippi memerhatikan bus itu sampai beberapa lama, kalau-kalau gerombolan copet itu ikut turun dan mengejar mereka karena kehilangan mangsa. Sementara perempuan itu masih belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi.

Satu orang turun…
Dua orang turun…
Tiga orang turun…
Nah loh! Si Bapak-bapak tadi!

“Mbak,” ujar Rippi, “saya bukan copet.” Dia tahu si Mbak menganggap dia sebagai copet, atau paling tidak penjahat kelas teri lain. Perempuan itu menatap Rippi dengan pandangan heran, masih sedikit bingung. Jangan-jangan malah tukang hipnotis. Begitu pikirnya dalam hati, teringat lagi banyaknya tindak kejahatan yang menggunakan ilmu gendam.

“Tapi mereka itu iya!” lanjut Rippi sambil menunjuk ke tiga orang yang baru turun. Mereka nampak bersemangat sekali mengejar Rippi dan perempuan itu. “Jadi saya sarankan,” kata Rippi lagi sambil mengambil tangan perempuan tersebut, “kita… LARI!!!”

“Eh…?” Perempuan itu mengikuti Rippi dengan bersusah payah. Rippi menuntunnya memasuki sebuah jalan yang lebih kecil, menyusuri pemukiman, warung makan, dan warnet yang ada di sekitar situ. Entah ini berada di mana, yang penting bagi Rippi sekarang mereka lari dulu sejauh-jauhnya dari para pengejar itu. Rippi bergidik membayangkan dirinya remuk-redam dikeroyok tiga orang anggota komplotan pencopet, dan juga miris membayangkan perempuan ini akan menjadi korban perampokan dan bukan lagi sekedar pencopetan.

“Lari ke mana sih??” teriak si perempuan. Rippi tidak menghiraukannya, dan berbelok lagi untuk kesekian kalinya. Beberapakali mereka menjadi tontonan warga sekitar yang sedang nongkrong atau melintas jalan.

“Lari ke mana??”
Rippi terus berlari menggamit tangannya.

“LE-PA-SIN!!” perempuan itu menyentak tangannya dari genggaman Rippi. Rippi terkejut, tapi lalu mampu berkata, “Maaf,” sementara si perempuan mengelus-elus tangannya yang kesakitan karena digenggam dan ditarik-tarik oleh cowok yang bahkan tidak dia kenal ini.

“Mereka udah gak ngejar,” cetus perempuan itu setelah melihat ke belakang, ke arah asal mereka datang tadi.

“Iya…”

“Jalan besar ke mana?”

“Eh?” Rippi celingukan mencari arah. Entahlah, dia tidak punya jawaban untuk pertanyaan tersebut. Dia cuma tahu kembali ke arah mereka datang tadi bukan ide yang baik, takutnya para copet itu masih berada di sekitar situ.

“Heeeegh!” perempuan itu melangkah cepat, dengan langkah dihujamkan ke bumi, menghampiri seorang tukang nasi goreng yang sedang membuat pesanan. Setelah bertanya pada tukang nasi goreng itu, dia langsung pergi meninggalkan Rippi seorang diri.

+++

“HOI!” Mita mengejutkan Rippi yang sedang duduk sendirian di kantin, membuat Rippi tersedak mie ayam yang menjadi menu santap siangnya. Tangannya lalu sibuk menggapai-gapai segelas es the manis yang semenjak datang belum disentuh untuk meloloskan mie tersebut dari kerongkongannya.

“UHUK! UHUK!” Rippi terbatuk-batuk, “Sialan lu Mit! Kalo mau bunuh gua, nanti aja kalau gua udah dapet S.Sos!”

Mita tertawa terbahak-bahak, lalu duduk di kursi panjang di depan Rippi. “So? So? How was it yesterday?” tanyanya ceria, seolah tidak berdosa karena dia hampir saja membuat Rippi mati tersedak.

“Apanya?” Rippi kembali menikmati mie ayamnya. Mie ayam di kantin Fisip itu memang paling enak di seantero Jakarta! Setidaknya itu pendapat Rippi.

“Bab tiga lo! Di-acc ama Mas Iwan?”

“Hmmm? Oh iya, udah beres kok.”

“Cieeeeh…! Hahaha!” Mita tertawa gembira, “Bentar lagi S.Sos lu!”

Rippi tersenyum. Iya ya? Bab empat. Bab lima. Kesimpulan deh!

“Trivia Wijaya, S.Sos,” Mita mengembangkan kedua tangannya di hadapannya, seolah-olah membentangkan spanduk dengan nama Rippi di atasnya, “Hahaha! Gak pantes banget!”

“Sialan lu,”

Mita masih tertawa beberapa saat, tapi lalu berhasil menghentikannya. “Terus? Terus? Gimana kelanjutannya?”

“Huaaah…” Rippi pura-pura tidak mendengar Mita dengan menguap. Mie ayamnya sudah habis disantap.

“Dasar orang Indonesia! Abis makan ngantuk!” Cibir Mita.
Rippi tertawa, “kelanjutan skripsi sih gitu deh, mulai bab empat,” Rippi menggantung kalimatnya memancing penasaran Mita. Berhasil, Mita memang kemudian menjadi ingin tahu kelanjutan cerita Rippi.

“Tapi….?”

“Bentar, gua minum dulu donk!” Rippi tertawa, kemudian mengambil gelas es the manisnya. “Gua kemaren ketemu cewek! CUAAAAKEEEP bener!”

“Ya elah. Gua kira mau bilang apaan lu…” Ada nada kecewa dalam suara Mita, karena berita yang didengarnya tidak heboh sama sekali. “Emang secakep apa sih?”

“Gini deh, kalau aja gua ketemunya di tempat laen, itu cewek udah gua kira BIDADARI!”

“Ah, hiperbola lu!”

“Yeee, gak percaya! Gua liatnya di bus Mit…”

“Uh-uh…” Giliran Mita yang menguap, sambil menutup mulut dengan tangannya.

“Yeee…! Dia ampir kecopetan Mit. Gua tolongin dia gitu. Gua panggil dia Iyem biar dia nengok,”

“Edan… Yang bagusan dikit kenapa?”

“Ya yang kepikiran sama gua cuma itu! Keingetan ama si Ngatiyem di Empat Mata!” Penjelasan Rippi itu disusul oleh gelak tawa mereka berdua. Rippi sudah berhasil mendapatkan perhatian Mita.

“Terus gimana?”

“Nah itu dia. Pokoknya gua berhasil bikin dia turun,”

“Terus?”

“Dikejar, hehe…” Rippi nyengir kuda.

“Sama copetnya??” Mita terbelalak

“Yoi, dan itu belon sampe bagian serunya…”

“Apaan emang?”

“Gua ama dia akhirnya lari-lari gitu. Keluar masuk gang!”

“Haaa…?”

“Akhirnya selamat sih,”

“Iyalah. Kalo nggak lu gak bakal makan mie ayam di sini!”

“Iya ya?”

“Iya,”

Hening sesaat. Rippi nampak memikirkan sesuatu, Mita sibuk celingukan melihat-lihat beberapa stand yang ada di kantin itu. Lapar juga rasanya melihat si Rippi makan mie ayam sampai tandas begitu. Hmmm, gado-gado atau bubur ayam ya?

“Tapi Mit, gua gak dapet namanya,” keluh Rippi

“Payah lu,“ cibir Mita.

“Apalagi nomer handphonenya,”

“Itu namanya GAK JODOOOH!” Mita tertawa puas.

“Gimana caranya ya Mit?”

“Tongkrongin aja di situ lagi,” jawab Mita ngasal, sambil memutuskan untuk memesan semangkuk bubur ayam

“Iya juga ya?” Rippi mengangguk-angguk

EH? Mita terkejut. Matanya yang dari tadi jelalatan mencari sasaran makan kini tertuju sepenuhnya pada Rippi.

“Iya ya…” nada suara Rippi mulai penuh dengan kepastian.

EH?? Tunggu dulu!

“Iya ya, Mit? Kenapa gak kepikiran ama gua ya?” Rippi bangkit berdiri, menghantamkan kepalan kanan ke telapak kiri.

“Lho… Rip? Gua cuma…”

“Thanks Mit! Lu emang jenius!” Dengan semangat tinggi Rippi mendorong kursi ke belakang agar dia bisa keluar.

“Eh, entar dulu… Mau ke mana lu?”

“I’m going to wait for an Angel!”
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Arya's writing