Sonata Sinar Bulan - First Chapter by Arya Nasoetion

300323
genre

description:
This project is pending =)



chapters

chapter 1: First Chapter


First Chapter
chapter 1   —   updated Aug 24, 2007   —   26941 characters   —   0 people liked this writing
Lagu klasik “Swan lake” mengalun dari ponsel Faris. Setengah terkejut, Faris bangkit dari posisinya yang sedang berjongkok dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Dari lagu yang berbunyi, dia sudah tahu siapa yang meneleponnya itu.

“Halo, Sayang,” ujarnya mesra kepada orang di ujung saluran.

“Halo Sayang, lagi ngapain?” Faris mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, kemudian melirik ke panci berisi air yang diletakan di atas kompor elektrik yang sedang menyala. Airnya belum mendidih, karena memang baru saja dia meletakkan panci itu di situ.

“Ini, aku lagi mau masak air buat bikin mie.”

“Oooh… Loh? Kenapa gak cari sarapan bubur di luar, Sayang?”

“Enggak ah. Masih males gerak aku, ngantuk banget” Faris memberikan alasan, sambil memutar pinggangnya ke kiri dan kanan melemaskan tubuh. Terdengar suara gemeretak persendian pinggang, pinggul dan entah apa lagi. Faris merasa tubuhnya lebih enteng sekarang.

“Kamu di mana?” Tanyanya.

“Aku masih di hotel, lagi liat-liat sekali lagi. Takut ada yang ketinggalan.”

“Terus? Ada yang ketinggalan?”

“Ada. Di Jakarta.” Ada jeda sesaat sebelum Amanda melanjutkan. “Kamu.”

Faris tersenyum malu mendengarnya. Amanda memang sangat menyayanginya. Dia bisa merasakannya, bahkan sampai ke tulang sumsum. Entahlah, Amanda berbeda dari semua gadis yang pernah mampir di hidupnya. Dengan yang lain kadang dia ragu, atau mereka tidak bisa sepenuhnya mengambil hatinya. Tapi tidak Amanda. Faris benar-benar yakin dia telah menemukan setengah dari dirinya.

“Hei, diem aja...!” Amanda menegurnya. “Bales apa kek.. Kamu gak romantis banget sih jadi orang?”

Faris membayangkan Amanda sedang bersungut di Medan sana. Haha… Entah mengapa, gadis itu justru menjadi sangat cantik kalau sedang ngambeg. Mungkin itu sebabnya Faris hobi sekali menggodanya.

“Haha... Iya deh. Maaf. Tapi kamu bener gak usah aku jemput ke bandara?”

“Enggak usah. Kamu cek undangan aja ya? Ini aku nelepon mau ngingetin biar kamu jangan lupa.”

“Lupa sih gak bakalan Yang…” Faris menggantung kalimatnya.

“Tapi…?”

“Mudah-mudahan aku sempet ya? Mesti ke PSSI nih, wawancara...”

Amanda tidak menyahut.

Pasti lagi cemberut lagi deh, pikir Faris dalam hati.

“Iya deh, aku cek undangannya,” Faris mengalah. “Tapi abis dari wawancara gak apa-apa kan?”

“Enggak apa-apa kok,” suara Amanda terdengar ceria kembali.

“Makasih ya Sayang.”

“Lho, kok makasih?”

“Makasih udah mau ikutan repot.”

“Haha,” Faris tertawa, “kan buat kita juga. Masa enggak mau bantuin?”

“Iya, iyaaa… Ya udah Sayang gitu dulu ya. I love you, my soon-to-be hubby…”

“I love you too, my soon-to-be wife.”

Klik. Telepon ditutup. Faris meletakkan ponselnya di tempat tidur dan melihat ke kompor elektrik yang sejenak terlupakan.

“Ya ampun!” Faris berteriak kaget. Airnya telah bergolak, entah sudah untuk berapa lama. Cepat-cepat dia berdiri dan meraih dus mie instan yang diletakkan di atas lemari bajunya. Setelah merobek satu bungkus, Faris memasukkan isinya ke dalam panci, lalu sibuk meracik bumbunya di atas piring.

+++

Faris melangkah keluar dari gedung PSSI di Senayan, dan merasakan pemberontakan di dalam perutnya. Mungkin dinginnya AC di ruangan tempat wawancara tadi berlangsung membuat dia kembali kelaparan meskipun sudah sarapan sebungkus mie tadi pagi.

“Ris, langsung ke kantor?” Roni menepuk bahunya, membuyarkan lamunan Faris tentang makanan apa yang enak untuk makan siang nanti.

“Jam berapa sih sekarang?’ Faris membuat pertanyaan tersebut menjadi retorik, karena dia yang memakai jam tangan dan bukan Roni, fotografernya. “Waduh! Jam 11!”

“Kenapa emang?”

“Gua mesti ngecek undangan dulu. Lu langsung ke kantor aja ya?” Ujar Faris sambil merogoh kantung jinsnya kemudian menyerahkan kunci motor pada Roni.

“Oooh. Oke deh. Gak mau gua anterin dulu?”

“Hmmmh...” Faris berpikir sejenak sebelum menjawab. “Gak usah deh. Kelamaan. Lu bilang aja ke Bos ya gua ngecek undangan dulu.”

“Oke deeeh! Tapi lu ikut aja sampe depan,” cetus Roni sambil melompat naik ke motor, yang kemudian diikuti oleh Faris tanda dia setuju. Setelah memberikan salam pada beberapa rekan wartawan mereka yang sedang merokok di luar ruang pers di sebelah pintu masuk PSSI, motor itu pun melaju menuju salah satu pintu keluar komplek Gelora Bung Karno.

“Thanks Ron!” Kata Faris sambil menepuk-nepuk helm Roni, ketika dia turun di pintu keluar. “Jangan lupa bilangin ke Mas Gilang gua ngecek undangan dulu.”

Roni hanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban, lalu berlalu meninggalkan Faris yang sedang kelaparan. Ya, lapar sekali. “Gini nih kalau makan mie,” gumamnya sambil mengelus-elus perutnya. “Makan satu bungkus cuma ngeganjel, makan dua bungkus enggak habis.” Dia kemudian melihat sekeliling, dan tidak melihat ada warung nasi atau tempat makan dengan harga yang enteng bagi dompetnya. Memikirkan tempat makan siang di sekitar situ pun dia tidak bisa. Tempat-tempat yang teringat olehnya hanyalah restoran, café atau food court di beberapa plaza yang tersebar di wilayah Senayan. Berat di kantong!

Akhirnya dia memutuskan untuk menahan laparnya sedikit saja, sambil menunggu bus yang akan membawanya ke daerah percetakan tempat dia membuat undangan pernikahannya. Setelah menunggu beberapa lama, bus itu pun akhirnya datang. Setelah melambai-lambaikan tangan sebagai tanda untuk menghentikan bus tersebut, dia pun dengan sigap melompat naik ke dalamnya.

+++

Jangan cari gara-gara sama orang lapar. Begitu kata pepatah. Bagi Faris, pepatah itu ada benarnya juga. Sesampainya dia di percetakan, dia menemukan bahwa undangan belum juga selesai dicetak. Padahal hanya tinggal sebulan lebih sedikit menjelang hari H. Bagaimana kalau sampai dua minggu sebelum akad undangan belum juga selesai? Jadilah tadi dia marah-marah kepada orang-orang di percetakan. Dan itu membuatnya jadi semakin lapar, sehingga dia tidak bisa menunggu sampai kembali ke kantor untuk mengisi perutnya.

Faris telah duduk di sebuah warung makan di sekitar percetakannya itu. Sudah selesai makan malah. Warung makan itu kini sudah lumayan sepi, karena jam makan siang hampir berakhir. Hanya ada beberapa orang saja di situ termasuk dia. Kini Faris sedang membuka sebungkus rokok dan menarik sebatang isinya. Kemudian dia menepuk-nepuk kantung jinsnya, mencari-cari korek api untuk menyulut rokoknya itu.

Ah, iya, pikirnya. Tadi gua masukin ke dalam tas.

Ketika mencari-cari korek di dalam tasnya itu Faris melihat ponselnya yang dalam keadaan mati. Dia memang selalu mematikan ponsel kalau mewawancara narasumber. Enggak enak hati rasanya kalau sampai ada bunyi telepon ataupun sms ketika dia sedang bertanya ini-itu. Biarpun dipasang pada mode getar Faris tetap merasa tidak enak, karena kemudian menjadi takut jangan-jangan sms atau telepon yang masuk adalah penting. Tapi tadi dia lupa menyalakan kembali ponselnya, karena pikirannya sedang fokus kepada mengecek undangan seperti yang diamanatkan calon istrinya, Amanda.

Jangan-jangan Amanda tadi nelepon…

Faris menunda menyulut rokoknya, membiarkan batang itu tergantung di bibirnya, sementara dia menyalakan ponsel dan lalu memasukkan nomer PIN dengan sangat cepat. Sudah beberapa bulan terakhir ini nomer PIN di ponselnya itu dia ubah, menjadi tanggal hari pernikahannya kelak. Setelah masuk, dia menunggu beberapa saat menantikan bunyi sms, entah dari kontaknya atau dari operator selularnya yang memberitahukan ada yang mencoba meneleponnya ketika ponsel sedang mati. Biasanya, sms yang mengantri di server memang tidak segera masuk setelah ponsel dinyalakan.

Sedetik…
Dua detik…
Tiga detik…

Ponselnya tidak berbunyi. Faris menyalakan rokoknya sambil melirik jam tangannya. Dia menentukan akan beristirahat dulu maksimal lima belas menit sebelum kembali menuju kantornya. Beberapa saat kemudian ponselnya memberikan tanda adanya sms masuk. Dia lihat pengirimnya: Astrid. Dikirimkan beberapa jam yang lalu, ketika dia sedang mewawancarai Ketua Umum PSSI.
Dia buka sms tersebut.

Ris, lagi nonton berita? Telepon gua ya…

Baru saja dia selesai membaca sms Astrid, teleponnya kembali mengeluarkan tanda sms. Berkali-kali.

Apaan sih? Faris bertanya dalam hati. Tidak biasanya dia menerima sebegitu banyak sms pada saat ponsel dimatikan. Dia melihat beberapa nama yang mengirimkan sms padanya. Astrid. Astrid. Nyokap. Astrid.

Acied banyak amat?

Sebenarnya dia tidak keberatan meneleponnya, tapi pulsanya sudah hampir habis. Dan rasanya semua sms dari Astrid memintanya untuk segera meneleponnya, jadi dia merasa tidak perlu membuka sms-sms tersebut.

Cied, sori tadi gw lg wwncr. Trs ngecek undngan. Knp cied?

Delivered

Sambil menunggu jawaban, iseng-iseng dia memanggil mbak penjaga warung makannya, “Mbak, maaf. Bisa tolong nyalain televisinya Mbak?”

“Oh bisa Mas,” jawab si Mbak, lalu mengarahkan remote control pada televisi yang ditempatkan pada sebuah kerangka di satu sudut warung itu.

“Tolong cari program berita, Mbak,” pinta Faris lagi.
Lagi-lagi si Mbak mengarahkan remote pada televisi itu. Lalu mulai menggonta-ganti saluran. Pada saat sampai di stasiun televisi yang mengkhususkan diri menayangkan program berita Faris meminta si Mbak menghentikannya. Lalu Faris membuka sms dari ibunya.

Far, kata kamu Amanda ke Medan ya?

Faris baru akan mengetikkan jawabannya ketika suara dari televisi itu menarik perhatiannya.

“… Berikut adalah daftar para penumpang dan awak yang berada di dalam pesawat naas tersebut,” kata penyiar itu diiringi dengan lagu latar yang bernuansa kesedihan.

Kecelakaan pesawat?

Belum sempat Faris berpikir, teleponnya berbunyi, Astrid meneleponnya.

“Halo Cied,” jawab Faris cepat, karena ponsel sedang di tangannya.

“Riiis…” suara Astrid bergetar, terisak, terdengar berusaha menahan tangis.

“Eh, Cied? Kenapa lu?” Perhatiannya dari televisi teralih sudah. Dia khawatir sahabatnya ini mengalami suatu masalah yang berat, seperti yang sudah pernah terjadi dahulu.

“Riiis… Udah denger berita?” Suara Astrid semakin bergelombang. Jelas sekali dia sulit mengendalikan emosinya.

“Berita apa?”

“Pesawat Mandy, Ris…” kata Astrid menyebutkan nama panggilan Amanda di antara teman-teman dekatnya.

Eh?Pesawat? Berita tadi?

“Pesawat Mandy jatuh!”

Berbarengan dengan itu Astrid menangis keras. Faris kehilangan konsentrasi selama beberapa detik, dia berpikir dia salah mendengar kata-kata Astrid.

“A… Apa Cied?”
“Mandy Ris… Mandy…” Astrid berkata-kata dalam tangis, tidak mampu menyelesaikan ucapannya. Faris termangu, pandangannya dia arahkan ke berita di televisi.

“Kembali kami sampaikan, pada pukul 09.40 tadi pesawat Mandala Airlines Medan-Jakarta mengalami gagal take-off dan jatuh menghantam perumahan penduduk di sekitar bandara Polonia. Semua penumpang dan awak pesawat diperkirakan tewas. Sampai kini upaya evakuasi korban, baik penumpang dan awak maupun warga, masih belum bisa dilakukan karena api masih belum bisa sepenuhnya dipadamkan…”

Suara berita di televisi perlahan menghilang. Perlahan genggaman Faris pada ponsel melemah, sampai akhirnya ponsel itu terlepas dan jatuh menghantam lantai. Setelah pandangannya semakin gelap, dia pun menyusul tak lama kemudian, jatuh lemas dari tempat duduknya, diiringi teriakan panik dari si Mbak penunggu warung dan beberapa pengunjung perempuan yang masih menikmati hidangan mereka.

+++

Faris terbangun.

Bau ini… dia membatin. Rumah sakit? Tapi kenapa?

Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sepi. Kamar itu kosong. Hanya ada blazer dan tas yang tersampai di kursi di dekatnya. Faris mencoba duduk. Tapi baru saja diangkat, kepalanya terasa sakit sekali sehingga dia menyerah dan menjatuhkan kembali kepalanya ke atas bantal yang lembut.

Kenapa?

Faris mencoba mengingat-ingat bagaimana dia bisa berada di sini. Hal yang diingatnya terakhir kali adalah dia pergi ke Tebet untuk mengecek undangan pernikahannya dengan Amanda.

Amanda?

Faris sontak duduk tegak. Kepalanya terasa ringan. Terasa sakit. Tapi kali ini dia tidak menyerah. Dia menundukkan kepalanya berusaha membiasakan diri dengan rasa ringan dan sakit kepalanya. Kakinya dia biarkan terjuntai dari sisi tempat tidur rumah sakit. Nafasnya memburu. Tangannya menggenggam kasur karena kini rasanya dunia mulai berputar semakin lama semakin kencang.

Klik

Pintu dibuka. Astrid kembali masuk ke dalam ruangan setelah tadi mengantarkan Mas Gilang, Roni dan beberapa rekan kerja Faris pulang. Astrid terpekik kaget melihat Faris yang sedang dalam posisi duduk.

“Ris!” Astrid segera meloncat mendekati Faris, “lu jangan berdiri dulu,” pinta Astrid sambil kembali merebahkan Faris.

“Cied?” Faris berkata dengan mata terpejam, tangan kanannya memegangi pelipisnya menahan rasa sakit, “di mana ini?”

“Rumah sakit Ris. Lu jangan bergerak dulu,” jawab Astrid sambil memencet tombol untuk memanggil suster.

“Gua kenapa? Amanda mana?” Faris meracau. Astrid hanya terdiam mendengarnya. Merasa tidak mendapatkan jawaban, Faris mengulangi pertanyaannya.

“Gua kenapa, Cied? Amanda mana?”

Astrid berpikir sejenak sebelum menjawab, “lu tadi jatuh di warung makan, Ris. Kepala lu kena lantai cukup keras. Kata dokter tadi lu gegar otak ringan.”

Jatuh? Warung makan?

Faris terdiam, baru akan bertanya lagi ketika terdengar pintu dibuka. Seorang suster melangkah masuk.

“Iya Mbak?” Tanyanya pada Astrid.

“Sus, ini temen saya udah sadar. Tolong panggil dokter dong Sus…”

“Baik Mbak. Tunggu sebentar ya,” kemudian suster tersebut keluar kamar dan menutup pintu di belakangnya.

“Amanda mana, Cied?” tanya Faris setelah suster itu pergi. Astrid tidak mampu menjawab pertanyaan itu.

“Amanda Cied… Mana Amanda?”

“Uhmm…” Astrid meragu, “kayaknya kita tunggu dokter dulu ya, Ris…”

“Mana Cied? Manaaa..???” Nada suara Faris mulai meninggi. Dalam hatinya dia merasa ada sesuatu yang salah, tapi sakit di kepalanya membuat dia tidak mampu untuk mengingat apa itu. Dia perlu bantuan Astrid untuk mengatakannya. Astrid merasa terdesak, antara takut terjadi hal yang lebih parah dan permintaan Faris yang terus menerus membuatnya bingung harus berkata apa. Pada saat Faris menggenggam tangannya dengan sangat kencang, Astrid akhirnya luluh.

“Mandy… udah pergi, Ris. Lu gak inget?” ujar Astrid takut-takut.

“Pergi? Ke mana?” Jawab Faris bingung, kenapa calon istrinya tidak ada untuk dia di saat begini dan malah pergi.
“Pergi Ris… Pulang.”

“Pulang?” Faris semakin tidak mengerti.

“Berpulang…” akhirnya keluar juga kata-kata yang lebih pasti. Tadinya Astrid berharap tidak perlu mengucapkannya. Tadinya Astrid berharap Faris akan ingat sendiri jika diberi sedikit petunjuk. Faris terdiam. Terlihat sangat syok. Di dalam kepalanya berputar segala macam ingatan tentang Amanda. Faris ingat senyumnya. Faris ingat tawanya. Faris ingat candanya. Faris ingat wangi tubuhnya, lembut rambutnya, cemberutnya, marahnya, cubitannya kalau sedang gemas, bahwa lagu klasik kesukaannya adalah Swan Lake, segalanya.

Faris ingat pertemuan pertama mereka. Astridlah alasan mengapa dia bisa betemu Amanda. Astrid adalah sahabat Faris sejak SMU, sedangkan Amanda adalah teman sekantor Astrid di sebuah biro konsultan arsitek. Faris ingat betul pertemuan itu terjadi setahun yang lalu. Waktu itu Astrid sedang bersedih karena pacarnya ketahuan sudah punya istri, padahal mereka sudah berpacaran selama dua tahun. Astrid sangat terpukul sehingga harus mengambil cuti beberapa lama. Faris beberapa kali datang ke rumah Astrid untuk menemani dan menghiburnya. Waktu itu Faris khawatir sekali Astrid akan mengambil tindakan drastis seperti menyayat pergelangan tangannya dengan silet, atau meminum racun serangga.

Di suatu hari kedatangan Faris berbarengan dengan kedatangan Amanda. Amanda adalah teman terdekat Astrid di biro arsitek itu. Amanda memiliki ketakutan yang sama dengan Faris. Dan selama ini kedatangan mereka tidak pernah bersamaan harinya. Tapi waktu itu kebetulan sekali, ketika Faris tiba, sudah ada Amanda yang sedang menghibur Astrid.

Faris langsung jatuh hati pada hari itu juga. Bukan karena Amanda cantik. Bukan karena rambutnya yang panjang. Bukan karena kulitnya yang putih. Bukan karena giginya yang putih dan berjejer rapi. Bukan karena itu. Tapi karena Faris melihat Amanda adalah orang baik. Baik sekali, dan sangat perhatian.

Dan Astrid sekali lihat langsung tahu bahwa Faris menyukai Amanda. Dia sudah berteman lama dengan Faris, sehingga bisa tahu gelagat sahabatnya itu kalau jatuh cinta. Kesedihan Astrid perlahan menemukan obat yang mujarab. Astrid melupakan patah hatinya dan segera bertujuan untuk menjadi mak comblang antara Faris dan Amanda. Bukan barang-barang mahal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari sakit hati. Bukan balas dendam yang bisa membuatnya ikhlas menerima peristiwa pahit itu. Tapi bayangan kedua orang sahabat terdekatnya berpacaran, dan syukur-syukur menikah, menjadi pengobat paling manjur. Dan hampir saja terjadi!
Angan-angan Astrid, dan orang-orang terdekat Faris dan Amanda hampir saja terjadi. Sebulan lagi! Hanya sebulan lagi sebelum Amanda dan Faris mengikat janji. Sehidup semati. Setia sampai nanti. Tapi lalu takdir berkata lain. Amanda direnggut secara tragis dari sisi Faris. Dari sisi Astrid. Dari sisi orang-orang yang menyayanginya.

Lalu ingatan Faris melompat ke awal bulan lalu sebelum kecelakaan itu terjadi. Sewaktu menemani Amanda mengukur baju, Amanda mengungkapkan rencananya untuk pergi ke Medan.

“Sayang, aku tanggal satu bulan depan mau ke Medan,” cetus Amanda yang sedang diukur tanpa melihat Faris. Faris yang sedang duduk sambil membaca sebuah majalah perkawinan mengangkat wajahnya.

“Kok? Bulan depan udah deket banget loh…”

“Iya nih. Sebenernya sih bukan aku yang mesti pergi,”

“Terus?”

“Iya, ini kan proyeknya Astrid. Tapi tanggal tiga tuh cowoknya ulang tahun,”

“Teruuus?”

“Iya, padahal pulangnya baru tanggal lima. Jadi dia minta aku gantiin sekali ini aja. Yang penting-pentingnya udah beres kok, jadi aku tinggal kontrol aja…”

“Tapi Yang…” Faris keberatan.

“Gak apa-apa kan? Kasian Astrid. Kamu tahu sendiri gimana dia down banget waktu itu,” ujar Amanda mengacu pada kejadian menyedihkan yang dialami Astrid, “jadi dia bener-bener lagi merasa jatuh cinta lagi. Aku gak tega nolaknya.”

“Tapi…”

“Kita utang budi loh sama dia. Kan dia comblang kita,” Amanda terus berusaha meyakinkan Faris.

“Hmmm…”

“Aku janji deh, aku bakal bawain duren setruk buat oleh-oleh!” Amanda tertawa. Faris tahu Amanda cuma bercanda. Cuma ingin menggodanya yang sangat suka terhadap buah itu. Amanda sendiri tidak suka, bau katanya.

“Ya udah deh,” Faris akhirnya setuju, “asal kamu bawa durennya satu pesawat ya…!” Lalu mereka berdua tertawa riang.

“Ris…” terdengar suara Astrid memanggilnya, menyeruak di antara kabut-kabut ingatan yang sedang terputar ulang dengan sangat nyata. Wajah Amanda yang tadi dilihat sedang tertawa lepas perlahan berganti dengan wajah Astrid. Lalu dia melihat ke bawah. Tangannya masih memegang tangan Astrid.

“Ris, lu gak apa-apa?” tanya Astrid meremas lembut tangan Faris.
Sekarang Faris ingat semuanya. Faris ingat dia sedang makan di warung nasi. Faris ingat sms Astrid. Faris ingat berita itu. Ya. Berita itu. Berita duka, mengejutkan. Tangisnya pecah. Kedua tangannya ditarik menutupi wajahnya. Astrid segera bereaksi, memeluknya sambil berusaha mengeluarkan kata penghiburan.

Tapi kemudian Faris berontak. Keras. Dia dorong Astrid menjauh. Astrid terhuyung ke belakang, sangat terkejut dengan sikap Faris yang berubah drastis kepadanya.

“Ris?” Tanya Astrid tidak mengerti. Mukanya melemparkan seribu keheranan pada sahabatnya itu.

“Gara-gara lu, Cied…” Faris berkata dengan nada yang bergetar. Menahan sedih, menahan amarah, menahan kecewa. Semua bercampur di dalam dadanya.

“Mestinya lu yang pergi Cied, bukan Amanda…”

“Ris?”

“GARA-GARA LU AMANDA PERGI!!!”

Astrid tersentak. Belum pernah dia melihat Faris semarah ini. Belum pernah dia dibentak Faris. Tentu saja mereka pernah bertengkar. Berbeda pendapat. Itu adalah wajar bahkan dalam persahabatan. Tapi belum pernah dia melihat wajah Faris yang terlihat begitu membencinya. Belum pernah Faris menggunakan nada sekeras itu kepada dirinya.

“Sekarang pergi lu dari sini…”

“Tapi Ris, gua…”

“Kata gua pergi, pergi lu…!”

“Ris, denger dulu…”

“PERGI LU DARI SINI!!!” Faris menunjuk ke arah pintu. Saking terkejutnya, tanpa sadar Astrid mundur selangkah ke belakang. Sedetik kemudian, setelah dia berhasil menguasai diri, Astrid bergegas mengambil tas dan blazernya dari kursi. Tanpa memakai blazernya, Astrid terburu-buru menuju pintu keluar. Di depan pintu, dia berbalik.

“Ris, gua minta maaf…” ada getar di suaranya. Faris tidak peduli. Dia membuang muka, dan memilih melihat ke luar jendela, memandangi lampu-lampu kota. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu dibuka, lalu segera ditutup lagi. Faris melihat ke arah tadi Astrid berdiri. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana sekarang. Faris kembali menangis. Dia tidak tahu Astrid juga menangis. Sepanjang koridor rumah sakit, Astrid berlari sambil menangis. Dia kehilangan dua orang sahabat hari ini. Mereka berdua kehilangan dua orang yang disayangi hari ini. Keduanya hilang dengan cara yang sangat menyakitkan.

+++

Sebulan semenjak kejadian itu baru Faris kembali bekerja. Sepulang dari rumah sakit Faris istirahat di rumah saudaranya, kakak Ibunya, tempat Faris tinggal selama SMU dulu. Tapi kini Faris sudah kembali ke tempat kosnya. Ibunya sendiri sudah pulang kembali ke kampung halaman. Penyelidikan tentang penyebab jatuhnya pesawat telah dilakukan segera setelah api bisa dipadamkan. Para penyelidik berusaha menentukan penyebab jatuhnya pesawat, sedangkan paramedis berusaha mengidentifikasi para korban yang hangus terbakar. Amanda dikenali dari cincin tunangannya yang entah bagaimana selamat dari api yang membara.
Tapi baru kemarin Faris diberitahu semuanya. Keluarganya menutup dia dari semua berita tentang tragedi tersebut. Faris hanya ada empat hari di rumah sakit, tapi kondisi psikisnya sangat terguncang sehingga dia membutuhkan sebulan untuk pulih. Itu pun belum sepenuhnya. Itu sebabnya sekeluarga sangat khawatir untuk memberikan informasi apapun tentang Amanda.

Tapi karena hari ini Faris dijadwalkan kembali bekerja, keluarganya dan keluarga Amanda memutuskan untuk memberitahu semua berita kepadanya. Kemarin cincin tunangan yang berubah warna terkena panas api itu diberikan kepadanya. Kemarin dia dibawa ke makam Amanda yang tanahnya belum lagi mengeras sepenuhnya. Kemarin dia duduk di situ selama berjam-jam, sesekali menangis, tapi lalu berhenti, untuk kemudian menangis lagi. Ibunya, calon mertuanya, adik Amanda, semua menungguinya. Berdiri tidak jauh dari tempatnya. Baru setelah matahari hendak beristirahat, Faris berhasil dibujuk untuk pulang.

Hari ini Faris sudah berada di mejanya. Tatapannya sedikit kosong. Dia tidak tahu harus mengerjakan apa, seolah-olah ini adalah hari pertamanya dia berkerja. Mas Gilang memang belum berani memberikan tugas kepadanya, apalagi tugas lapangan. Roni tidak berani berkata apa-apa. Tidak pernah sebelumnya dia mempunyai teman yang berada dalam kondisi seperti ini, sehingga dia takut malah salah kata dan membuat runyam semuanya. Semua di kantor sama. Resepsionis, sekretaris redaksi, teman-temannya, office boy, cleaning service, satpam, semuanya tidak ada yang berani berkata-kata. Paling-paling hanya menepuk-nepuk pundaknya, atau memeluknya, lalu melihatnya dengan tatapan prihatin.
Faris menggelengkan kepalanya. Mencoba mengeyahkan Amanda dari pikirannya. Lebih karena refleks, dia mulai masuk ke account e-mailnya. Jari-jarinya lincah mengetikkan user name dan password-nya. Dia terdiam sejenak. Password-nya, sama seperti PIN ponselnya, telah dia ganti menjadi tanggal pernikahan. Tak sadar dia melihat ke kalender kecil yang ada di mejanya. Minggu depan. Seharusnya dia menikah dengan Amanda minggu depan.

Lagi-lagi dia mengenyahkan pikiran Amanda, dan melihat e-mail dalam inbox-nya yang sudah menumpuk. Sebagian spam atau surat sampah, tapi banyak juga yang tidak. Ada beberapa e-mailyang berhubungan dengan pekerjaan, tapi ucapan bela sungkawa paling banyak, terlihat dari subject di ¬¬e-mail-nya. Ada satu yang menarik perhatiannya.
Pengirim: Astrid. Subject: Good Bye (baca dulu sebelum hapus)
Bergumul di dalam hatinya perasaan benci dan ingin tahu. Perasaan yang terakhirlah yang menang, sehingga dia membuka surat elektronik itu.

Hi Ris,

Sebenernya gua gak tahu mesti ngomong apa. Semoga lu udah ngerasa mendingan waktu lu baca e-mail gua ini. Gua ikut bersedih buat lu, Ris. Dan tolong lu ingat, Mandy juga sahabat gua. Gua kehilangan dia seperti lu juga Ris. For what it’s worth, gua minta maaf. Lu tahu pasti kalau gua tahu kejadiannya bakal kayak gini, gua rela nuker tempat gua sama dia. Tapi gua gak tahu Ris… Siapa yang tahu?
Tapi kalau lu gak mau maafin gua, gua ngerti kok, dan gua juga gak akan maksa. Alasan utama gua ngirim ini adalah gua mau pamit. Lu inget kan beberapa minggu yang lalu gua diwawancara buat dapetin beasiswa ke Jerman? Well, I got it! Gua seneng banget, Ris. Saking senengnya gua sampe ngerasa bersalah sama Mandy, sama lu, sama keluarga lu dan keluarga Mandy. Tapi gua pikir, hidup kan jalan terus. Iya kan Ris? Dan gua pikir juga Mandy pasti bakal seneng buat gua, dan dia juga pasti pengen gua seneng, karena dia adalah sahabat terbaik gua, selain elu.
Ris, ini ditulis tepat semalam sebelum keberangkatan gua. Kalau lu baca ini sebelum gua berangkat, dan lu udah gak marah, telepon gua ya? Gua pengen banget ketemu lu lagi, biarpun cuma sebentar. Gua kan sekolah lama Ris. Pasti deh gua kangen banget sama lu.
Tapi kalau lu baca ini setelah gua berangkat, atau kalau lu belum mau maafin gua, maka gua bakal bilang selamat tinggal lewat e-mail ini. Kurang afdol memang, tapi mau gimana lagi? Kita gak bisa selalu mendapatkan apa yang kita mau, kan?
So, I bid you farewell my best friend.

Salam,

Astrid

PS:
Gua masih ngarepin telepon lu ya…

Faris memerhatikan e-mail itu beberapa lama. Melihat tanggalnya. Sudah beberapa hari yang lalu, berarti dia sekarang sudah di Jerman. Faris membacanya untuk yang kedua kali, lalu mendengus kesal. Diarahkannya pointer mouse pada sebuah tombol.
Klik.
Message deleted.

back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Arya's writing