Bidadari Seberang Jurang, Ch. 9. - Cincin untuk Bidadari by Arya Nasoetion
genre
description:
Bab sembilan dari "Bidadari Seberang Jurang"
This story is from this book:
Bidadari Seberang Jurang
chapters
chapter 1:
Cincin untuk Bidadari
Cincin untuk Bidadari
chapter 1
—
updated Aug 23, 2007
—
7619 characters
—
0 people liked this writing
(Bidadari Seberang Jurang, Chapter 9)
Cincin untuk Bidadari
~ DRRRD DRRRD ~
Ups, HP lupa kumatikan. Untungnya dalam kondisi silent, jadi tidak mengganggu rapat. Kuangkat benda itu dari meja. Sedikit heran melihat nama dan foto yang terpampang di layar. Angkat jangan? Angkat jangan? Hati ini meragu. Sebagian hati tahu ini adalah rapat penting, dan karena itu tak bisa diganggu oleh apapun. Tapi sebagian ingin mendengar suaranya. Sudah sekian lama kami tidak mengobrol. Terakhir kami bertemu adalah saat itu di kafe. Aku pun tidak berani menghubunginya setelah itu.
~DRRRD DRRRD~
Benda itu terus bergetar di tanganku. Ah, kuterima sajalah. Toh belum tiba saatnya bagiku untuk melakukan presentasi. Saat ini, Agung dari Bagian Keuangan masih menjabarkan kondisi finansial tiga bulanan.
Kubisiki manajerku yang duduk di sebelahku. "Pak, saya harus terima telepon ini. Dari nyokap," bohongku.
Dia mendelik tajam, tapi lalu memberi kode dengan kepalanya agar kuterima telepon ini di luar ruang rapat. "Jangan lama-lama!" perintahnya pelan. Dicky yang duduk di sebelah Pak Jeffri nampak tidak suka aku diperbolehkan menerima telepon.
Emang gua pikirin?
Segera kubangkit dari kursi empuk itu, dan menuju pintu ruang rapat yang ada di bagian belakang ruangan.
~Klik~
Setelah pintu tertutup, langsung kutekan tombol ‘yes’ pada HP-ku.
"Hi Di. Maaf lama ngangkatnya. Aku lagi rapat," kataku pada dia yang di seberang sana.
"I'm giving you the ring back," jawabnya tanpa basa-basi.
"Eh, what ring?"
"You know. THE ring. The one you put in front of my room some time yesterday."
"No.... I haven't been anywhere near your place yesterday. Cincin apaan sih?"
"...."
"Halo?"
"Bener bukan kamu yang ngasih cincin ini?"
"Cincin apaan? Aku bener-bener gak ngerti deh..."
"...."
"Gini deh. Could I see you after work? Biar semuanya jelas,” usulku kemudian
"..."
"Hellouw? Kalo bisa jawabnya sekarang Bu, jangan tahun depan," candaku.
"Sure. Di kafe favoritku mau? See you there after work?"
"Ok. Bye."
"Bye."
Kuhela napas sesaat untuk menenangkan diri. Kubuka kembali pintu ruang rapat. Bergegas aku kembali ke sebelah manajer.
"Kenapa nyokap lu?" bisik manajerku.
"Nyokap?" tanyaku heran.
"Itu telepon dari nyokap 'kan? Nyokap lu sakit?"
"Oh," aku baru ingat kebohongan yang kubuat saat meninggalkan ruang rapat barusan, "Enggak kok. Cuma nanya kapan saya pulang. Mau dibikinin masakan kesukaan saya," bohongku lagi dan lagi.
"Oooh... kirain."
"..."
+++
"Selamat sore, Pak," sapa pelayan kafe saat aku masuk. "Meja untuk berapa orang, Pak?"
"Sebentar. Mestinya teman saya sudah ada di sini. " Aku celingukan menyapu kafe itu. Terlihat kafe yang lumayan penuh oleh pengunjung. Di meja sebelah situ ada sekelompok ekspatriat bersenda-gurau, di meja seberangnya ada perempuan yang mirip sekali dengan Dian Sastro sedang bersama tiga orang lainnya. Di bagian pojok kafe, ada bidadari melambai ke arahku. "Oh, itu teman saya. Makasih, Mbak," kataku sambil tersenyum pada si pelayan itu.
Kuhampiri bidadari itu. Gila. Kuberani bertaruh bahwa dia gak mampu untuk tampil tidak menawan. Setiap kali kumelihatnya, selalu saja aku gagal untuk tidak jatuh hati lagi dan lagi.
"Hei. Pa kabar?" kataku sambil mendudukkan diri di depannya.
"Baik. Kamu?"
"So-so," aku mengangkat bahu.
Kami diam sejenak, sebelum ku bertanya, "So, what ring?"
Dia merogoh tas kerjanya. Meletakkan sebuah kotak cincin di atas meja. "This ring."
Kuperhatikan kotak kecil berwarna merah tersebut. "Boleh?" Kuminta izin untuk membuka kotak itu. Dia mengangguk tanda setuju.
"Nope. Never seen this ring before," kataku setelah membuka kotaknya dan menatap nanar pada cincin itu. Cincin itu adalah cincin berwarna perak bermatakan berlian. Jenis cincin yang hanya akan diberikan seorang laki-laki kepada perempuan yang telah merebut hatinya.
"Kalau bukan kamu, jadi siapa?"
Kujawab sambil mengangkat bahu, "Yang suka sama kamu 'kan bukan aku aja kali."
"Tapi yang suka punya ide aneh-aneh cuma kamu."
"I'll take that as a compliment," kataku sambil setengah tertawa. "Look. Kamu lagi deket sama cowok lain kan? Maybe it's from him,” aku menebak. Aku tidak pernah benar-benar yakin apakah dia memang benar-benar sedang dekat dengan cowok lain.
Dia nampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "No. I doubt it. Bukan tipe dia ngasih barang tanpa nama kayak gini."
Jadi benar ada cowok lain…. Apa ini alasan dia ngebatalin janji kencan tempo hari? Apa pada saat itu mereka udah jadian?
"Hooo... jadi tipeku untuk ngasih barang tanpa nama?" sambutku setelah berhasil menguasai lagi pikiranku. Sengaja kubikin nadaku seperti tersinggung. Padahal sih enggak.
"..."
"Kapan sih aku pernah anonim ngasih barang buat kamu?"
"Kali aja kamu lagi iseng."
"Kali aja dia mau ngasih kejutan buat kamu. Have you asked him yet?"
Si jelita menggeleng.
"Tanya deh. Mungkin dia lagi ingin ada perubahan suasana dengan ngasih kamu dengan cara begini."
"Really?"
"Yep." Aku mengangguk mantap. "Anyway, you should try to put it on," saranku sambil memberikan lagi kotak itu. Kuhadapkan cincin itu padanya. Damn. It was almost like I was asking her to marry me. Hanya saja, jika ini benar-benar sebuah lamaran, akan kulakukan dengan berlutut di hadapannya, dan tempatnya adalah sebuah restoran dengan suasana yang mendukung. Bukan sambil duduk di meja sebuah kafe seperti ini. Meski begitu, kalau ada yang lihat, bisa saja terjadi salah paham. Kupandangi sekeliling. Tidak ada yang memerhatikan kami. Semua sedang sibuk dengan obrolan masing-masing.
"Enggak ah. Nanti aku tanya dulu."
"Cobain aja dulu," bujukku sambil mempertahankan posisi kotak itu dihadapannya.
Dia menghela napas panjang, “Kamu tuh keras kepala ya?”
Aku tertawa kecil mendengarnya. Dya mengambil cincin itu dan memasukkannya ke jari manis kirinya. "Eh, pas," katanya sedikit kaget, lalu memutar-mutar tangannya mengagumi cincin itu.
"What do you think?" Dia mempertontonkan cincin yang melingkari jari manisnya yang panjang dan ramping.
"It looks nice on you," jawabku sambil tersenyum. Perih. "But then again, apa sih yang gak keliatan bagus kalau kamu yang pake," lanjutku.
Dia terkikik geli sambil geleng-geleng kepala, "Eh, tapi bener kan bukan dari kamu?" tanyanya penuh selidik, dengan mata sedikit memicing.
"Bukaaan... Lagian kalo dari aku juga ngapain kamu balikin ke aku? Gak bisa aku pake juga. Mending kamu kasihin ke temen kamu kek, siapa kek."
"Ya udah kalau gitu," katanya sambil melepas cincin itu dan meletakkannya kembali di kotaknya.
"Lho, kok dilepas?"
"Gak pa-pa. Cuma pengen tanya aja ke dia dulu sebelum aku pake lagi."
"Oohh..."
"Kamu gak mesen?" tanyanya sambil menyesap habis sisa cappuccino kesukaannya.
"Enggak. Aku ke sini cuma pengen ketemu kamu kok. Lagian mesti tidur cepet. I have a very long day tommorow."
"Aku juga udah beres nih. Kalau begitu, see you again another time ya...." katanya tersenyum manis, lalu bangkit dari kursinya.
"Iya. See you. Eh, I'll pay for your tab," tanganku memberi isyarat agar dia tak usah membayar.
Dia tersenyum. "Thanks. But no, thanks. Makasih ya udah ke sini cuma untuk ini," dia memperlihatkan kotak cincin itu sekali lagi lalu memasukkannya ke tas.
Aku mengangguk. Tersenyum. Dia pun berlalu. Aku tetap di tempatku. Aku perlu beberapa saat untuk menenangkan diri. Butuh lebih dari sekedar tatapan hei-kecuali-kamu-mesen-segera-pergi-dari-sini dari para pelayan sebelum akhirnya kuputuskan untuk beranjak dari tempat itu.
back to top
Cincin untuk Bidadari
~ DRRRD DRRRD ~
Ups, HP lupa kumatikan. Untungnya dalam kondisi silent, jadi tidak mengganggu rapat. Kuangkat benda itu dari meja. Sedikit heran melihat nama dan foto yang terpampang di layar. Angkat jangan? Angkat jangan? Hati ini meragu. Sebagian hati tahu ini adalah rapat penting, dan karena itu tak bisa diganggu oleh apapun. Tapi sebagian ingin mendengar suaranya. Sudah sekian lama kami tidak mengobrol. Terakhir kami bertemu adalah saat itu di kafe. Aku pun tidak berani menghubunginya setelah itu.
~DRRRD DRRRD~
Benda itu terus bergetar di tanganku. Ah, kuterima sajalah. Toh belum tiba saatnya bagiku untuk melakukan presentasi. Saat ini, Agung dari Bagian Keuangan masih menjabarkan kondisi finansial tiga bulanan.
Kubisiki manajerku yang duduk di sebelahku. "Pak, saya harus terima telepon ini. Dari nyokap," bohongku.
Dia mendelik tajam, tapi lalu memberi kode dengan kepalanya agar kuterima telepon ini di luar ruang rapat. "Jangan lama-lama!" perintahnya pelan. Dicky yang duduk di sebelah Pak Jeffri nampak tidak suka aku diperbolehkan menerima telepon.
Emang gua pikirin?
Segera kubangkit dari kursi empuk itu, dan menuju pintu ruang rapat yang ada di bagian belakang ruangan.
~Klik~
Setelah pintu tertutup, langsung kutekan tombol ‘yes’ pada HP-ku.
"Hi Di. Maaf lama ngangkatnya. Aku lagi rapat," kataku pada dia yang di seberang sana.
"I'm giving you the ring back," jawabnya tanpa basa-basi.
"Eh, what ring?"
"You know. THE ring. The one you put in front of my room some time yesterday."
"No.... I haven't been anywhere near your place yesterday. Cincin apaan sih?"
"...."
"Halo?"
"Bener bukan kamu yang ngasih cincin ini?"
"Cincin apaan? Aku bener-bener gak ngerti deh..."
"...."
"Gini deh. Could I see you after work? Biar semuanya jelas,” usulku kemudian
"..."
"Hellouw? Kalo bisa jawabnya sekarang Bu, jangan tahun depan," candaku.
"Sure. Di kafe favoritku mau? See you there after work?"
"Ok. Bye."
"Bye."
Kuhela napas sesaat untuk menenangkan diri. Kubuka kembali pintu ruang rapat. Bergegas aku kembali ke sebelah manajer.
"Kenapa nyokap lu?" bisik manajerku.
"Nyokap?" tanyaku heran.
"Itu telepon dari nyokap 'kan? Nyokap lu sakit?"
"Oh," aku baru ingat kebohongan yang kubuat saat meninggalkan ruang rapat barusan, "Enggak kok. Cuma nanya kapan saya pulang. Mau dibikinin masakan kesukaan saya," bohongku lagi dan lagi.
"Oooh... kirain."
"..."
+++
"Selamat sore, Pak," sapa pelayan kafe saat aku masuk. "Meja untuk berapa orang, Pak?"
"Sebentar. Mestinya teman saya sudah ada di sini. " Aku celingukan menyapu kafe itu. Terlihat kafe yang lumayan penuh oleh pengunjung. Di meja sebelah situ ada sekelompok ekspatriat bersenda-gurau, di meja seberangnya ada perempuan yang mirip sekali dengan Dian Sastro sedang bersama tiga orang lainnya. Di bagian pojok kafe, ada bidadari melambai ke arahku. "Oh, itu teman saya. Makasih, Mbak," kataku sambil tersenyum pada si pelayan itu.
Kuhampiri bidadari itu. Gila. Kuberani bertaruh bahwa dia gak mampu untuk tampil tidak menawan. Setiap kali kumelihatnya, selalu saja aku gagal untuk tidak jatuh hati lagi dan lagi.
"Hei. Pa kabar?" kataku sambil mendudukkan diri di depannya.
"Baik. Kamu?"
"So-so," aku mengangkat bahu.
Kami diam sejenak, sebelum ku bertanya, "So, what ring?"
Dia merogoh tas kerjanya. Meletakkan sebuah kotak cincin di atas meja. "This ring."
Kuperhatikan kotak kecil berwarna merah tersebut. "Boleh?" Kuminta izin untuk membuka kotak itu. Dia mengangguk tanda setuju.
"Nope. Never seen this ring before," kataku setelah membuka kotaknya dan menatap nanar pada cincin itu. Cincin itu adalah cincin berwarna perak bermatakan berlian. Jenis cincin yang hanya akan diberikan seorang laki-laki kepada perempuan yang telah merebut hatinya.
"Kalau bukan kamu, jadi siapa?"
Kujawab sambil mengangkat bahu, "Yang suka sama kamu 'kan bukan aku aja kali."
"Tapi yang suka punya ide aneh-aneh cuma kamu."
"I'll take that as a compliment," kataku sambil setengah tertawa. "Look. Kamu lagi deket sama cowok lain kan? Maybe it's from him,” aku menebak. Aku tidak pernah benar-benar yakin apakah dia memang benar-benar sedang dekat dengan cowok lain.
Dia nampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "No. I doubt it. Bukan tipe dia ngasih barang tanpa nama kayak gini."
Jadi benar ada cowok lain…. Apa ini alasan dia ngebatalin janji kencan tempo hari? Apa pada saat itu mereka udah jadian?
"Hooo... jadi tipeku untuk ngasih barang tanpa nama?" sambutku setelah berhasil menguasai lagi pikiranku. Sengaja kubikin nadaku seperti tersinggung. Padahal sih enggak.
"..."
"Kapan sih aku pernah anonim ngasih barang buat kamu?"
"Kali aja kamu lagi iseng."
"Kali aja dia mau ngasih kejutan buat kamu. Have you asked him yet?"
Si jelita menggeleng.
"Tanya deh. Mungkin dia lagi ingin ada perubahan suasana dengan ngasih kamu dengan cara begini."
"Really?"
"Yep." Aku mengangguk mantap. "Anyway, you should try to put it on," saranku sambil memberikan lagi kotak itu. Kuhadapkan cincin itu padanya. Damn. It was almost like I was asking her to marry me. Hanya saja, jika ini benar-benar sebuah lamaran, akan kulakukan dengan berlutut di hadapannya, dan tempatnya adalah sebuah restoran dengan suasana yang mendukung. Bukan sambil duduk di meja sebuah kafe seperti ini. Meski begitu, kalau ada yang lihat, bisa saja terjadi salah paham. Kupandangi sekeliling. Tidak ada yang memerhatikan kami. Semua sedang sibuk dengan obrolan masing-masing.
"Enggak ah. Nanti aku tanya dulu."
"Cobain aja dulu," bujukku sambil mempertahankan posisi kotak itu dihadapannya.
Dia menghela napas panjang, “Kamu tuh keras kepala ya?”
Aku tertawa kecil mendengarnya. Dya mengambil cincin itu dan memasukkannya ke jari manis kirinya. "Eh, pas," katanya sedikit kaget, lalu memutar-mutar tangannya mengagumi cincin itu.
"What do you think?" Dia mempertontonkan cincin yang melingkari jari manisnya yang panjang dan ramping.
"It looks nice on you," jawabku sambil tersenyum. Perih. "But then again, apa sih yang gak keliatan bagus kalau kamu yang pake," lanjutku.
Dia terkikik geli sambil geleng-geleng kepala, "Eh, tapi bener kan bukan dari kamu?" tanyanya penuh selidik, dengan mata sedikit memicing.
"Bukaaan... Lagian kalo dari aku juga ngapain kamu balikin ke aku? Gak bisa aku pake juga. Mending kamu kasihin ke temen kamu kek, siapa kek."
"Ya udah kalau gitu," katanya sambil melepas cincin itu dan meletakkannya kembali di kotaknya.
"Lho, kok dilepas?"
"Gak pa-pa. Cuma pengen tanya aja ke dia dulu sebelum aku pake lagi."
"Oohh..."
"Kamu gak mesen?" tanyanya sambil menyesap habis sisa cappuccino kesukaannya.
"Enggak. Aku ke sini cuma pengen ketemu kamu kok. Lagian mesti tidur cepet. I have a very long day tommorow."
"Aku juga udah beres nih. Kalau begitu, see you again another time ya...." katanya tersenyum manis, lalu bangkit dari kursinya.
"Iya. See you. Eh, I'll pay for your tab," tanganku memberi isyarat agar dia tak usah membayar.
Dia tersenyum. "Thanks. But no, thanks. Makasih ya udah ke sini cuma untuk ini," dia memperlihatkan kotak cincin itu sekali lagi lalu memasukkannya ke tas.
Aku mengangguk. Tersenyum. Dia pun berlalu. Aku tetap di tempatku. Aku perlu beberapa saat untuk menenangkan diri. Butuh lebih dari sekedar tatapan hei-kecuali-kamu-mesen-segera-pergi-dari-sini dari para pelayan sebelum akhirnya kuputuskan untuk beranjak dari tempat itu.
Did you like this?
vote
