Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati - Vanú Otwäadëh twäer ivshänúo by Calvin Sidjaja

445025
genre

tags

description:
Aku merasa tidak bersyukur bisa menjadi tuhan. Andaikan tuhan itu memang ada, betapa aku tidak ingin menjadi seperti sekarang. ~Ashra~

This story is from this book:
Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati


chapters

chapter 1: Vanú Otwäadëh twäer ivshänúo


Vanú Otwäadëh twäer ivshänúo
chapter 1   —   updated Feb 10, 2009   —   17572 characters   —   1 person liked this writing
Bagaimana perasaanmu, yang akan menjadi tuhan? Kata suara seseorang yang menggema di kepalanya. Kau berubah Ashra. Kau tidak berpikir seperti manusia lagi bukan?
Ashra melayang di atas langit, berbicara kepada entitas bernama waktu. Ya, Ashra sedang berbicara kepada penciptanya yang tak pernah ia kenal dan ia cintai itu.

“Aku merasa tidak bersyukur bisa menjadi tuhan. Andaikan tuhan itu memang ada, betapa aku tidak ingin menjadi seperti sekarang.” kata Ashra.

Tahukah kau Ashra? Sebentar lagi kau akan memiliki kuasa atas waktu. Kuasa atas segala sesuatu yang mengikat manusia dan deitas-deitas tertinggi selama ini. Ya, kau sebentar lagi akan memiliki kuasa yang melebihi penciptaan alam semesta. Kau akan menjadi waktu itu sendiri.

“Lalu apa bagusnya aku menjadi waktu? Bukankah sebentar lagi mimpi ini berakhir? Bukankah aku perlu kuasa untuk menciptakan alam semesta dan realita baru.”

Tentu... setelah kamu mendapatkan kuasaku, kau akan tahu kemana jalan berikut yang harus kau tuju. Kau sudah melewati dua jalan dan memiliki tiga esensi tuhan. Hati milik Bhumi, Mata penglihat segala, dan mata penglihat masa yang akan datang. Setelah kau melewati jalan ini, kau akan memiliki kuasa akan waktu. Dan pada jalan keempat, kau akan dapat kuasa penciptaan.

“Jadi ayah, apa aku akan melupakanmu juga? Seperti aku melupakan seorang yang kusayangi tanpa aku mendapat kesempatan untuk mengingatnya sekalipun?” kata Ashra.

Jangan paradoks Ashra. Kau tahu kau sudah memiliki hati Bhumi.
Kau sudah memiliki hati untuk menjadi tuhan, kau harus lupakan bahwa kau dulunya entitas yang lahir di mimpi ini, dan percaya bahwa kau adalah tuhan. Karena untuk menjadi tuhan, kau harus memakan tuhan-tuhan yang telah ada.

“Tidak bolehkah waktu berhenti seperti sekarang saja? Bukankah jika waktu berpusat padaku saja, mereka ini, yang merasa hidup disini tidak akan pernah tahu bahwa mereka tidak pernah ada?”

Jadi kamu mau mengatakan lebih baik mengabadikan kepura-puraan ini di dalam kebekuan waktu seperti ini?

Ashra mengangguk.

Itu hal yang salah, sangat salah. Karena kamu sendiri akan menyesal jika terlarut dalam keadaan seperti ini.

“Apakah mengabadikan kepura-puraan adalah hal yang buruk? Apakah bermimpi selamanya adalah hal yang salah?”
Pria itu mendekati Ashra dan memeluknya. Dia lalu berbisik di telinganya.

Eránlé oshävaad oimshä twäer ëhúdí, twäú ivánú úán oimshä twäer ivalé. Dan kamulah yang membuat segala itu bisa terjadi.

“Ayah...”

Sekarang kamu akan memakanku, dan kamupun akan menjadi waktu dan melupakan aku.

Air mata Ashra menetes di pipinya. Tangannya terasa bergerak sendiri. Tangan gadis itu lalu menembus dada pria itu. Tidak ada darah yang keluar. Tapi di tangan Ashra ada sebuah jantung yang berdegup kencang. Itu adalah jantung milik waktu. Dan ia memasukkan jantung itu ke mulutnya.

Lidahnya sekali lagi merasakan rasa lezat milik tuhan. Kuasa akan waktu ia telan.

Tubuhnya yang melayang itu perlahan-lahan jatuh... dan di bawah sana, terlihat Silma Syailendra yang mengira ia sedang bermimpi buruk.

)-(

Apa-apaan semua ini, pikir Silma melihat dunia di matanya. Kenapa segala benda yang ia lihat tidak bergerak? Apa yang terjadi?

Silma berlari-lari untuk mencari siapa saja yang bisa memberikan penjelasan pada hal yang terjadi saat ini. Tapi tidak ada siapapun yang bergerak. Semuanya diam tak bergerak bagai lukisan yang dibingkai dan diikat oleh waktu.

Silma berusaha menyapa siapapun orang dijalan itu yang mungkin bergerak dan bisa berbicara padanya.

Tapi tak ada yang bergerak, Silma mengguncangkan orang-orang di trotoar yang dipahat di jalan itu. Mereka semua beku seperti patung.

Tolong! Tolong jawablah! Silma mengguncangkan orang asing di hadapannya lebih kencang lagi. Tak disangka, orang itu terjatuh dari pegangan Silma

KRAK

Terdengar bunyi retak ganjil. Silma menahan napas saat melihat adegan lambat dihadapannya itu. Muka orang yang terjatuh itu retak, seperti sebuah manekin yang terjatuh dan menghantam lantai karena ditarik gravitasi. Retak-retak kecil seperti sebuah dinding retak muncul di raut muka orang itu. Silma nyaris menjerit karena panik. Detik berikutnya tubuh orang itu mulai ikut hancur, dan akhirnya seluruh tubuhnya mulai berubah menjadi serpihan debu yang ditiup oleh angin.

A-apa... Silma melangkah mundur melihat pemandangan ganjil di hadapannya itu. A... apa yang terjadi?

I... ini mimpi buruk! Ini mimpi buruk! Tolong bangunkan aku dari mimpi ini! Silma menjerit ke dalam hatinya.

Shäánno, oner twäer ividi oshävaad...

Terdengar suara di kuping Silma. Suara misterius yang rasanya ia pernah dengar. Suara yang ia pernah dengar dalam mimpi.
Itu suaranya sendiri.

Bagaimana mungkin, pikir Silma. Bagaimana mungkin aku bisa mendengar suaraku sendiri?

Suaramu sendiri? Silma Syailendra, kenapa kamu berpikir kamu ada?

Dari dahi Silma terlihat muncul sebuah retakan. Silma meraba dahinya dengan perasaan takut. Tidak ada darah keluar, tapi dia bisa merasakan retak itu sama seperti retak-retak yang ada di udara. Lalu dari retak kecil itu, terlihat sebuah jari menjulur keluar dan mulai mengupas-ngupas serpihan kulit Silma seperti anak ayam yang baru menetas dari telurnya.

Silma terpaku dalam horor dan ketakutan. Dia bisa merasakan tiap detik sosok menakutkan itu keluar. Jari yang berlendir itu perlahan memperlihatkan sebuah telapak tangan, lalu telapak tangan memperlihatkan sebuah pergelangan, dan akhirnya, Silma bisa melihat sebuah manusia utuh keluar dari retak di dahinya.

Aku pasti gila, aku pasti sedang bermimpi! Tidak, ini tidak mungkin terjadi! Silma berteriak-teriak dalam hatinya. Sosok yang penuh lendir itu lalu menatap Silma yang dahinya sudah tertutup lagi.

Kenapa takut Silma Syailendra, kamu kan mimpiku, kenapa kamu harus takut padaku? Kata suara itu.

Silma tidak mengerti maksud kata-kata itu, dan dia pingsan karena rasa takutnya.

)+(

Air Hidup sedang melihat Salib yang digenggamnya. Salib yang dihiasi matahari, bulan, dan bintang yang keindahannya melebihi samudra di dunia. Salib yang ditakuti oleh cahaya.

“Kau resah, Air Hidup?” tanya Putra Malam padanya.

Air Hidup mengangguk.

“Siapakah yang tidak khawatir?” Air Hidup menanya balik pada tuhan itu.

“Ashra Trivurti baru melewati tiga jalan, dan sebentar lagi dia harus memutuskan akan menjadi tuhan yang sempurna atau tidak.” kata Air Hidup melihat langit yang sangat gelap di dunia itu. Padahal sebentar lagi tuhan yang tertidur itu terbangun, dan jika saat dia bangun Ashra belum menjadi tuhan baru...

Air Hidup tak mau membayangkannya. Jika dia terbangun maka mimpi berakhir, sebelum Ashra memutuskan untuk menciptakan dunia baru.

“Bersabarlah Air Hidup. Bukankah anak tuhan dengan nama empat huruf itu juga menunggu lama sebelum ia mati dan menjadi tuhan baru?”

Sepuluh jalan lagi menuju tuhan, bisakah Ashra menjadi tuhan? Bisakah ia menjadi tuhan yang sempurna?

“Chhya sudah masuk ke dalam mimpi itu.”

“Bagaimana bisa?” tanya Air Hidup.

“Dia menggunakan tubuh mimpinya untuk menciptakan tubuhnya sendiri. Sekarang tubuhnya disana sama seperti mimpi-mimpi lain, tapi karena dia terlahir dari mimpi, dia juga sama seperti Ashra, sebuah tuhan yang tak sempurna.”

)-(

Ashra membuka matanya perlahan-lahan. Dia bisa merasakan sekujur tubuhnya terasa amat nyeri, tapi hatinya terasa hampa sekali, seakan tak ada satupun emosi yang tertinggal disana. Apa yang terjadi? Pikir Ashra. Dia merasa sesaat tadi sebelum tertidur ia merasakan sebuah emosi. Matanya terasa sembab, tapi tidak ada air mata disana. Apa yang baru saja kutangisi? Pikir Ashra.
Dia lalu bangkit dari tempat ia tergeletak, trotoar tempat dimana orang-orang yang berlalu-lalang berhenti di hadapannya.
Dunia yang aneh, pikir Ashra. Dia lalu menutup matanya sejenak, saat dia membukanya kembali, dia melihat dunia yang berbeda.

Dunia ini, di mata Ashra hanyalah sebuah kumpulan titik luar biasa banyak yang membentuk garis-garis.

Tidak ada yang nyata dari tempat ini, pikir Ashra sambil memandangi titik-titik yang saling tersambung itu. Titik-titik yang menyusun tempat ini hanyalah mimpi dari tuhan yang tertidur itu, tuhan yang melarikan diri dari dunia yang sebenarnya.
Betapa bodohnya diriku, pikir Ashra, merasa bahwa segala hal di dunia ini nyata. Aku salah, tidak ada yang nyata. Semua ini hanya sebuah titik semata, dan akulah yang bisa menarik garis-garis yang menyambungkan titik-titik itu.

Lucu, pikir Ashra. Jadi seperti inikah tuhan juga memandang manusia? Jadi manusia sesungguhnya tidak lebih kumpulan titik-titik tidak nyata? Betapa mengeherankan...

Ashra menutup matanya sekali lagi. Saat dia membuka mata, terlihat pemandangan di depannya sudah menjadi biasa lagi. Orang-orang di jalan, burung-burung di udara, pepohonan dan daun-daun terlihat sama seperti biasanya. Tapi Ashra tahu, hidupnya tidak sama lagi. Dia bukan lagi manusia, melainkan tuhan. Jika ia mau, ia bisa menghentikan waktu di tempat itu, atau melihat segala isi di dunia ini.

Ia adalah sebuah tuhan yang tercipta dari mimpi...

)-(

Menggelikan, pikir Ashra saat memandangi langit yang luas di atasnya sambil berjalan pulang ke rumahnya. Apartmen kecil yang ditinggali dirinya dengan neneknya.

Nenek...? Ashra lalu mengingat Nenek Vahni. Nenek yang selama ini merawatnya itu, apakah dia juga setidaknyata tempat ini? Setidaknyata manusia-manusia lain?

Apakah kasih sayangnya selama ini juga... sebuah mimpi yang sebenarnya tak lebih dari pantulan bayangan di sebuah riak air?
Keringat dingin mengalir dari kening Ashra. Rasa khawatir menyerangnya. Apa? Emosi apa ini? Pikir Ashra, bingung akan pikirannya sendiri. Perasaan takut? Kupikir tuhan tidak memiliki emosi menganggu seperti ini.

Kenapa masih tertinggal perasaan sayang? Kenapa masih tertinggal perasaan kanak-kanak Ashra?

Memori itu tidak palsu. Ashra mengingat saat Nenek Vahni merawatnya saat sakit. Lalu Ashra mengingat bagaimana ia selalu takut gelap sewaktu masih kecil dan minta ditemani oleh neneknya sewaktu tidur. Ratusan, ribuan ingatan membuat jantung Ashra semakin kencang karena rasa khawatir.
Ingatan akan nenekku bukan mimpi. Tidak, itu kenyataan. Aku… aku mau bertemu nenek!

Ashra menutup matanya dan membukanya kembali. Kembali ia melihat dunia menjadi sebuah rangkaian titik-titik yang tak terhingga jumlahnya. Sebagai tuhan, Ashra tidak perlu berjalan untuk pergi menuju suatu tempat. Dia cukup menunjuk titik tempat ia ingin berada.

Aku ingin kembali ke pelukan nenek, kata Ashra sambil mengangkat tangannya ke atas, berusaha meraih titik tempat neneknya berada. Tubuh Ashra terangkat ke titik yang ia tuju itu.
Ashra merasakan sensasi ketidakadaan ruang dan waktu. Saat ia berkedip sekali lagi, terlihat ia sudah berada di depan pintu apartmennya, apartmen yang selama ini ia tinggali bersama neneknya.

Dia ingin memastikannya. Neneknya, apakah ia masih ada? Apakah nenek sebetulnya tidak lebih dari mimpi?

KLIK

terdengar bunyi derit pintu saat Ashra masuk ke ruangannya. Tiba-tiba seluruh ruangan menjadi terang benderang. Mata Ashra terbutakan oleh cahaya itu.

)O(

Kamar Ashra. Tempat tidur yang biasa. Ashra perlahan-lahan membuka matanya. Dia berada di tempat tidur, masih memakai piyamanya.

Tidak ada suara nenek yang membangunkannya. Jantung Ashra berdegup tak karuan. “Nenek? Nenek ada disini?” kata Ashra kepada pintu yang ada di seberang kamarnya.

Tak ada jawaban. Sepi. Tidak ada suara yang selalu membangunkannya itu. Nenek dimana?

Ashra segera bergegas turun dari tempat tidurnya dan keluar dari ruangan secepat mungkin. Dia melihat tak ada siapa-siapa di ruangan apartmen itu. Tak ada sarapan menunggunya, tak ada nenek yang menyambut ia dengan senyuman tiap hari.

“Nenek dimana? Nenek?“ Ashra mulai bersuara.

“Disini...” terdengar suara sayup-sayup yang dikenal Ashra. Nenek? Nenek Vahni?

“di beranda Ashra... kemarilah sayang...” terlihat sosok bongkok Nenek Vahni dibalik korden.
Ashra segera berlari ke arah beranda dan memeluk neneknya dengan spontan.

“Ada apa sayang? Kenapa kamu tampak ketakutan begitu?” tanya Nenek Vahni sambil mengelus kepala Ashra dengan lembut.

“Ashra bermimpi buruk hari ini. Mimpi yang buruk sekali... dan disana Ashra bermimpi memakan tuhan...”

“Memakan tuhan? Untuk apa kamu memakan tuhan Ashra?” tanya Nenek Vahni.

“Kata mereka... agar aku menjadi tuhan...”

Perlahan, Nenek Vahni mendorong tubuh Ashra pelan-pelan.

“Ashra... maafkan nenek ya?” katanya kepada Ashra.

“Kenapa nenek minta maaf? Memangnya nenek salah apa pada Ashra?” tanya Ashra dengan bingung.

“Karena nenek mau mengatakan bahwa nenek ini tidak lebih dari mimpi. Nenek tidak nyata seperti yang diharapkan Ashra...” suara Nenek Vahni terdengar pelan tapi kalimat-kalimat itu seperti menghancurkan Ashra menjadi berkeping-keping.

“Maksud nenek... nenek... sebetulnya tidak ada?” tanya Ashra.
Nenek Vahni tidak menjawab, hanya mengangguk.
“Ashra tidak peduli, lalu kenapa memangnya kalau memang demikian? Apa yang buruk karena itu?” jawab Ashra.

“Karena tuhan tidak boleh punya perasaan sayang kepada hal yang tiada... Ashra, boleh nenek memelukmu sekali lagi?” kata Nenek Vahni sambil memeluk Ashra dengan lembut.
“Nenek...?” Ashra ingin berteriak saat kulitnya merasakan pelukan neneknya. Perlahan-lahan tubuh itu retak. Seperti batu yang tersedimentasi. Ashra masih bisa melihat senyum neneknya yang terakhir.

“Jangan... kenapa... kenapa harus nenek...?” Ashra berusaha mengumpulkan pasir-pasir itu, tapi ia tahu itu sia-sia.

“Karena Ashra... adalah tuhan...” kata neneknya terakhir kali.

Tubuh nenek itu lalu tumpah menjadi genangan pasir di beranda.
Ashra tidak mengerti. Dia tahu dia sedih. Tapi kenapa tidak ada air mata yang keluar? Dimana air mataku saat sedih? Kenapa aku tidak mengeluarkan setetes air matapun? Tolong, biarkan aku menangis! Biarkan aku tidak menjadi tuhan!

Kenapa? Kenapa aku harus jadi tuhan? Kenapa aku tidak tetap saja bermimpi seperti dulu? Kenapa aku harus sadar bahwa segala hal ini fana? Kenapa aku harus keluar dari dunia kecilku?

)-(

“Kejamnya.” Air Hidup melihat pantulan wajah Ashra yang sedang meratap di sebuah sehelai sayap miliknya.

“Empat jalan...” kata Putra Malam.

“Tapi dia tak memakan neneknya. Nenek itu bukan tuhan, dia hanya mimpi milik tuhan para mimpi.” kata Air Hidup merasa sedih melihat Ashra.

“Ashra belum sepenuhnya menghilangkan perasaan manusianya. Dan sebuah deitas, sebuah tuhan harus sempurna. Ashra harus lebih sempurna dari kita.”

“Berapa lama lagi waktu sebelum tuhan yang tertidur itu bangun?” tanya Air Hidup.

“Tidak akan lama. Bersabarlah, percayalah pada Ashra. Dia pasti akan sampai disini, dan menjadi tuhan yang sempurna.”
Bisakah Ashra? Air hidup menjadi ragu. Sebetulnya, Ashra tidak perlu menjadi tuhan yang sempurna. Dia cukup memiliki kekuatan mengubah mimpi menjadi realita saja, dia cukup memiliki kekuatan untuk menciptakan ruang dan waktu dari mimpi tuhan yang tak pernah ada itu.

Tuhan yang sempurna, tuhan yang melewati sepuluh jalan itu memang sempurna. Kenapa? Karena tuhan yang sempurna adalah tuhan yang bisa membunuh dirinya sendiri. Tuhan yang sempurna adalah tuhan yang bisa berakhir, dan membawa semua hal suatu hari kekehampaan. Ashra tidak perlu menjadi sesempurna itu... tidak perlu, pikir Air Hidup. Tuhan yang sempurna sama seperti kenihilan. Situasi dimana semua ada dan tiada.

Dia lalu membentangkan sayapnya, lalu terbang ke puncak candi
Borobodur. Terlihat stupa yang tertutup sempurna dan tanpa celah itu bersinar.

Air Hidup menggenggam salib miliknya. Jika dia terbangun saat Ashra belum kesini, maka itulah akhir dunia. Salib yang ia pegang itu disiapkan untuk membunuh tuhan yang tertidur itu.

Jika dia terbangun, mimpi pun berakhir, karena itu dia harus tidur selamanya agar mimpi yang mimpikan berakhir lebih lama. Tapi jika dia mati, Ashra pun tidak bisa keluar dari mimpi itu, walau Ashra mungkin sudah menjadi tuhan.

)-(

Silma Syailendra sampai di rumahnya dengan keadaan yang sangat lelah. Waktu tampak sudah berjalan kembali, Silma bisa melihat ayah dan ibunya berjalan seperti biasa, berbicara seperti biasa, dan memandangnya dengan cara yang sama.

“Silma, ada apa? Kenapa mukamu tampak kusut sekali? Apa ada pikiran yang meresahkanmu?” tanya ayah Silma sambil merangkul Silma ke arahnya.

Silma membuka mulutnya.

“Ayah... misalnya suatu hari ada yang mengatakan bahwa ayah tak pernah ada, dan bahwa realita ini palsu, apakah ayah akan mempercayainya?” tanya Silma.
Ayah silma memandangnya dengan tatap terheran-heran.

“Silma, kamu bicara apa? Jangan bicarakan hal-hal aneh seperti itu. Terlalu aneh rasanya.” kata ayahnya, tidak menangggapi pertanyaan Silma dengan serius.

“Ayah, aku serius ayah.” Silma menjawab balik.

“Tentu saja ayah tak akan percaya. Jika kita bukan realita, lalu kita ini apa? Untuk apa ada kenangan-kenangan yang pernah kita lakukan? Apa kau ingin mengatakan bahwa kenangan kita palsu? Buatan makhluk yang lebih tinggi dari kita? Itu pikiran yang terlalu berlebihan Silma.” kata ayah.

Silma terdiam mendengar jawaban itu. Itu adalah jawaban paling logis yang ia bisa pakai untuk menjelaskan keadaannya saat ini. Aku bukan siapa-siapa, seperti kata suara tadi. Aku hanya sebuah mimpi. Mimpi.
back to top

Did you like this?   vote   (1 person liked this writing)

reviews of this writing

Nophoto-u-50x66
chapter 1 review
Sii liked it
all writing
all of Calvin's writing