Dungeon Vignettes - Juggling (Angin, Tentang Rumput) by Theresia Pratiwi
genre
description:
Dua tatal dari Dungeon, masing-masing dari sudut pandang Yuy Kiliando dan Rei Neuv-Arrhi.
(A self-made fanfiction from Dungeon)
chapters
chapter 1:
Juggling (Angin, Tentang Rumput)
chapter 2:
Running (Rumput, Tentang Angin)
Juggling (Angin, Tentang Rumput)
chapter 1
—
updated Sep 22, 2008
—
8735 characters
—
0 people liked this writing
Juggling (Angin, Tentang Rumput)
Orang tua juga punya hak untuk merengut, kan? Bagus. Aku sedang merengut sekarang. Aku tak mengerti mengapa Rei suka sekali film ini. Okelah, Benigni main bagus di film bagus ini, tapi kan tidak berarti tiap kali dia punya waktu luang dia harus menonton film ini! Aku sudah menontonnya tiga kali waktu harus menulis ulasan tentang film ini dan Joao Yuy Ernst Kiliando tak harus melihat film yang sama berulang kali hanya karena orang tersayangnya melakukannya!
Aku bergerak sedikit dari posisi nyamanku di sampingnya, kepalaku merosot dari bahu ke lengannya. Aku membuka mulut untuk menggigit lengannya, tidak cukup keras untuk menyakitinya tapi cukup untuk mengalihkan perhatiannya dari layar televisi. Rei mengangkat kepalaku sedikit lewat tangannya di bawah daguku.
“Yuy,” katanya.
“Aku kan capek. Salahmu mengajakku lari pagi tadi.”
“Membakar kalori itu penting.”
“Aku lebih suka membakar kalori dengan cara lain... yang lebih menyenangkan.” Aku suka melihat wajahnya memerah sampai ke telinga. Aku tak betah diam saja membiarkan orang bermuka poker berkeliaran di sekelilingku dengan tenang. Adamus adalah urusan Erian, tapi Rei sudah tentu adalah bagianku.
“Stop it.”
Mencibir, aku melengos dan beringsut bangun. Rei mengikuti gerakanku dari sudut matanya, tapi dia tak menyusulku. Aku berjongkok di dekat rak payung untuk mengambil hadiah ulang tahun terakhirku dari Erian: bola sepakbola yang masih terbungkus kertas kado. Aku belum pernah memainkannya sedetikpun sejak Erian memberikannya empat hari lalu.
Waktu itu, aku sempat terdiam cukup lama begitu membuka kadonya dan Erian memandangku dengan agak cemas. Hadiahnya adalah hadiah paling mengejutkan. Adamus memberiku dasi, Ibu memberiku panah berburu Suku Dayak, dan Elena mengirimkan paket dari Paris berisi set rancangan terbaru dari rumah mode yang mengontraknya saat ini. Semuanya tidak sampai membuatku kehilangan kata-kata. Putri tersayangku tahu masa laluku yang sebelumnya lebih kupilih kusimpan rapat-rapat dan dia pasti punya alasan memberiku bola sepakbola sebagai hadiah ulang tahun.
“Ayah kan kurang olahraga.” Putriku mengedikkan bahu. Kata-kata yang tak diucapkannya, Aku ingin Ayah berlari lagi karena orang yang selalu ingin mengejar punggung Ayah sudah ada di sini, terdengar jelas di dalam kepalaku.
Aku memeluk putriku lama sekali sampai-sampai Adamus, gelisah, berulang kali mengganti kaki tumpuan berdirinya. Tenang, Ad, masih lama sebelum aku harus mengantarkan Erian ke dalam pelukanmu; sekarang dia masih tuan putri manisku. Ibuku hanya memutar mata melihatku dan menarik Rei ke dapur—mereka berdua kompak soal urusan kuliner, tapi tak ada pasangan yang bisa mengalahkan duet aku dan Erian dalam duel masak bulanan kami.
Kubawa bola pemberian Erian ke halaman samping. Kuinjak dengan kaki kiri, aku merasakan sensasi yang sudah begitu lama tak kurasakan. Samar-samar aku bisa mencium bau rumput lapangan, mendengar sorak-sorai penonton, dan melihat lawan-lawanku berdiri untuk menghadang jalanku.
Sepertinya sudah lama sekali sejak aku bergaul dengan sepakbolaku...
Kuangkat bola ke udara dengan kaki kiri, rendah saja. Bola itu melambung menabrak pot teratai di dekat batas teras—kuharap Rei tidak mendengar suaranya. Aku mengerutkan kening melihatnya. Aku melakukan ribuan, bahkan mungkin jutaan, kali juggling di masa lalu, aku putra negeri sepakbola, dan aku pernah ditawari bergabung ke Anfield; masa sekarang mengarahkan bola vertikal ke atas saja aku tak bisa?
Penasaran. Rindu. Gairah.
Kuhabiskan setengah jam untuk membiasakan diriku dengan bola lagi. Telingaku berdenging dan kepalaku berdenyut hebat. Setelah setengah jam pertama, aku merasa Yuy yang jauh lebih muda seperti telah berdiri lagi di lapangan. Lagi. Lagi! Aku tak diizinkan berhenti. Suara-suara yang dulu tak pernah terasa asing hadir kembali dan berseru-seru di dalam kepalaku, Terus. Jangan berhenti. Jangan berhenti. Jangan berhenti. Jangan!
“Ah!”
Aku kehilangan kontrol atas sang bola saat aku mencoba mengangkatnya ke tengkukku. Bola itu menggelinding di teras... dan hanya berhenti saat Rei menahannya dengan satu kaki—kaki kiri dengan lutut yang kuhancurkan itu.
Terengah-engah dan banjir keringat, kedua tanganku bertopang di kedua lututku dan aku hanya bisa diam saja menatapnya.
Aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun alasanku berhenti main sepakbola. Aku tidak berhenti main sepakbola untuk Rei. Aku berhenti main sepakbola untuk diriku sendiri—karena aku tidak ingin main sepakbola tanpa Rei berlari di belakangku. Ibu menghardikku dengan keras, setengah menangis, waktu aku memasukkan semua barang-barangku yang berhubungan dengan sepakbola ke dalam kardus dan membuangnya tak lama setelah aku menolak tawaran dari Liverpool. Aku memang egois; aku melakukan apa yang kuinginkan. Aku menyakiti dan memanfaatkan kebaikan orang lain; karena itu, kupikir aku cukup pantas untuk menemani Brutus dan Yudas Iskariot di neraka terdalam Dante.
Selama ini aku dan Rei tidak pernah menyinggung subyek sepakbola. Tak sedikitpun. Itu tabu kami. Aku tidak pernah menonton siaran sepakbola di televisi sejak peristiwa sialan itu dan meski aku tahu Rei sesekali membaca tabloid sepakbola, dia tak pernah membacanya di depanku. Meski begitu, terkadang terpikir olehku apakah Rei menyalahkanku untuk mimpinya yang hilang. Aku yang mengambil lututnya yang berharga. Aku yang meninggalkan bekas luka yang enggan lenyap dari keningnya. Aku yang menampar dan mengusir Rei dari rumahnya secara tidak langsung. Aku yang membiarkan Rei, yang sedang mencoba hidup tanpa sepakbola dan melangkah di jalan pilihan ayahnya, sendirian demi mengejar Elena. Aku yang membuatnya kecanduan kerja. Aku yang menyebabkan bekas gigitan buaya di pinggulnya dan nyaris membunuhnya di Taklamakan.
Apa Rei akan marah karena aku menyentuh bola lagi? Apa dia akan marah karena aku masih bisa bermimpi indah tentang sepakbola sementara dia, sekeras apapun usahanya, hanya bisa menonton dari tepi? Apa aku harus menoleh ke belakang dan mendapati tak ada siapapun di sana?
Rei menendang sang bola, pelan, kembali kepadaku. “Seingatku kamu lebih hebat dari itu.”
Kubiarkan bolanya menggelinding terus sampai menabrak rak kaktus Erian. Rei nyaris meringis melihatnya—putriku pasti akan sewot sekali saat nanti mendapati dua pot kaktusnya jatuh dari rak. Aku menjatuhkan diri dan telentang di atas rumput halaman. Rei berjalan mendekatiku dan duduk bersila di sebelahku. Ingatanku melayang kembali ke malam-malam masa sekolahku dulu. Rei yang tak pernah banyak bicara namun tak pernah keberatan menemaniku melakukan menu latihan tambahan. Rei yang diam mendengarkan ceritaku tentang ayahku dan selalu membawa handuk ekstra dalam tasnya untuk kemudian dilemparkan menutupi wajahku. Rei yang tak pernah berkata apa-apa saat ia menaruh kaleng minuman isotonik di dekat tasku. Rei yang menyeruak ke tengah-tengah berandalan itu dan aku. Rei yang tidur di bawah pengaruh obat penenang dalam seragam memuakkan rumah sakit dan hanya berani kulihat dari luar kaca kamar inapnya.
Rei yang selalu berlari mengejar punggungku.
Tangannya yang besar dan hangat, sedikit kasar karena pekerjaannya, mengacak rambutku dan seperti dulu lagi, ia melempar handuk menutupi wajahku.
I want to be forgiven.
Itu yang kubisikkan dekat telinga Erian empat hari lalu sebelum aku membebaskannya dari pelukanku. Keinginanku. Mimpi besar yang menggantikan mimpi sepakbolaku. Harapanku.
Ayah tahu, waktu kita lemah, kita meminjam kekuatan dari orang lain. Itu jawaban Erian saat itu.
Aku tak akan pernah jadi Ayub yang senang karena mendapat ganti anak-anaknya yang mati berkali lipat orang banyaknya. Cukup Erian saja buatku dan kurasa aku tak bisa meminta yang lebih baik lagi karena tak akan pernah ada yang melebihi putriku. Aku tak habis-habisnya bersyukur bahwa putriku telah tumbuh menjadi perempuan dewasa yang hebat—dan Erian benar. Waktu sang tegar lelah, aku semestinya membiarkan dia beristirahat. Waktu lemah, aku bisa meminjam kekuatan dari orang yang selalu menjadi pilar penopangku.
“Yuy,” panggil Rei, suaranya kecil tapi lembut, “aku masih menyimpan medali perak bagianku.”
Aku tahu Rei menandai bagian ini dari An Empty Land karyaku yang kukirimkan padanya ke Inggris dengan mewarnainya: Aku Angin. Biasa saja. Tidak istimewa. Aku memang hanya angin, tapi aku adalah makhluk paling bahagia sedunia. Kau tahu kenapa, Langit?
Aku meletakkan kepalaku di pangkuan Rei dan menangis.
Karena ada Rumput yang memberitahuku bahwa aku ada.
As published at Juggling
back to top
Orang tua juga punya hak untuk merengut, kan? Bagus. Aku sedang merengut sekarang. Aku tak mengerti mengapa Rei suka sekali film ini. Okelah, Benigni main bagus di film bagus ini, tapi kan tidak berarti tiap kali dia punya waktu luang dia harus menonton film ini! Aku sudah menontonnya tiga kali waktu harus menulis ulasan tentang film ini dan Joao Yuy Ernst Kiliando tak harus melihat film yang sama berulang kali hanya karena orang tersayangnya melakukannya!
Aku bergerak sedikit dari posisi nyamanku di sampingnya, kepalaku merosot dari bahu ke lengannya. Aku membuka mulut untuk menggigit lengannya, tidak cukup keras untuk menyakitinya tapi cukup untuk mengalihkan perhatiannya dari layar televisi. Rei mengangkat kepalaku sedikit lewat tangannya di bawah daguku.
“Yuy,” katanya.
“Aku kan capek. Salahmu mengajakku lari pagi tadi.”
“Membakar kalori itu penting.”
“Aku lebih suka membakar kalori dengan cara lain... yang lebih menyenangkan.” Aku suka melihat wajahnya memerah sampai ke telinga. Aku tak betah diam saja membiarkan orang bermuka poker berkeliaran di sekelilingku dengan tenang. Adamus adalah urusan Erian, tapi Rei sudah tentu adalah bagianku.
“Stop it.”
Mencibir, aku melengos dan beringsut bangun. Rei mengikuti gerakanku dari sudut matanya, tapi dia tak menyusulku. Aku berjongkok di dekat rak payung untuk mengambil hadiah ulang tahun terakhirku dari Erian: bola sepakbola yang masih terbungkus kertas kado. Aku belum pernah memainkannya sedetikpun sejak Erian memberikannya empat hari lalu.
Waktu itu, aku sempat terdiam cukup lama begitu membuka kadonya dan Erian memandangku dengan agak cemas. Hadiahnya adalah hadiah paling mengejutkan. Adamus memberiku dasi, Ibu memberiku panah berburu Suku Dayak, dan Elena mengirimkan paket dari Paris berisi set rancangan terbaru dari rumah mode yang mengontraknya saat ini. Semuanya tidak sampai membuatku kehilangan kata-kata. Putri tersayangku tahu masa laluku yang sebelumnya lebih kupilih kusimpan rapat-rapat dan dia pasti punya alasan memberiku bola sepakbola sebagai hadiah ulang tahun.
“Ayah kan kurang olahraga.” Putriku mengedikkan bahu. Kata-kata yang tak diucapkannya, Aku ingin Ayah berlari lagi karena orang yang selalu ingin mengejar punggung Ayah sudah ada di sini, terdengar jelas di dalam kepalaku.
Aku memeluk putriku lama sekali sampai-sampai Adamus, gelisah, berulang kali mengganti kaki tumpuan berdirinya. Tenang, Ad, masih lama sebelum aku harus mengantarkan Erian ke dalam pelukanmu; sekarang dia masih tuan putri manisku. Ibuku hanya memutar mata melihatku dan menarik Rei ke dapur—mereka berdua kompak soal urusan kuliner, tapi tak ada pasangan yang bisa mengalahkan duet aku dan Erian dalam duel masak bulanan kami.
Kubawa bola pemberian Erian ke halaman samping. Kuinjak dengan kaki kiri, aku merasakan sensasi yang sudah begitu lama tak kurasakan. Samar-samar aku bisa mencium bau rumput lapangan, mendengar sorak-sorai penonton, dan melihat lawan-lawanku berdiri untuk menghadang jalanku.
Sepertinya sudah lama sekali sejak aku bergaul dengan sepakbolaku...
Kuangkat bola ke udara dengan kaki kiri, rendah saja. Bola itu melambung menabrak pot teratai di dekat batas teras—kuharap Rei tidak mendengar suaranya. Aku mengerutkan kening melihatnya. Aku melakukan ribuan, bahkan mungkin jutaan, kali juggling di masa lalu, aku putra negeri sepakbola, dan aku pernah ditawari bergabung ke Anfield; masa sekarang mengarahkan bola vertikal ke atas saja aku tak bisa?
Penasaran. Rindu. Gairah.
Kuhabiskan setengah jam untuk membiasakan diriku dengan bola lagi. Telingaku berdenging dan kepalaku berdenyut hebat. Setelah setengah jam pertama, aku merasa Yuy yang jauh lebih muda seperti telah berdiri lagi di lapangan. Lagi. Lagi! Aku tak diizinkan berhenti. Suara-suara yang dulu tak pernah terasa asing hadir kembali dan berseru-seru di dalam kepalaku, Terus. Jangan berhenti. Jangan berhenti. Jangan berhenti. Jangan!
“Ah!”
Aku kehilangan kontrol atas sang bola saat aku mencoba mengangkatnya ke tengkukku. Bola itu menggelinding di teras... dan hanya berhenti saat Rei menahannya dengan satu kaki—kaki kiri dengan lutut yang kuhancurkan itu.
Terengah-engah dan banjir keringat, kedua tanganku bertopang di kedua lututku dan aku hanya bisa diam saja menatapnya.
Aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun alasanku berhenti main sepakbola. Aku tidak berhenti main sepakbola untuk Rei. Aku berhenti main sepakbola untuk diriku sendiri—karena aku tidak ingin main sepakbola tanpa Rei berlari di belakangku. Ibu menghardikku dengan keras, setengah menangis, waktu aku memasukkan semua barang-barangku yang berhubungan dengan sepakbola ke dalam kardus dan membuangnya tak lama setelah aku menolak tawaran dari Liverpool. Aku memang egois; aku melakukan apa yang kuinginkan. Aku menyakiti dan memanfaatkan kebaikan orang lain; karena itu, kupikir aku cukup pantas untuk menemani Brutus dan Yudas Iskariot di neraka terdalam Dante.
Selama ini aku dan Rei tidak pernah menyinggung subyek sepakbola. Tak sedikitpun. Itu tabu kami. Aku tidak pernah menonton siaran sepakbola di televisi sejak peristiwa sialan itu dan meski aku tahu Rei sesekali membaca tabloid sepakbola, dia tak pernah membacanya di depanku. Meski begitu, terkadang terpikir olehku apakah Rei menyalahkanku untuk mimpinya yang hilang. Aku yang mengambil lututnya yang berharga. Aku yang meninggalkan bekas luka yang enggan lenyap dari keningnya. Aku yang menampar dan mengusir Rei dari rumahnya secara tidak langsung. Aku yang membiarkan Rei, yang sedang mencoba hidup tanpa sepakbola dan melangkah di jalan pilihan ayahnya, sendirian demi mengejar Elena. Aku yang membuatnya kecanduan kerja. Aku yang menyebabkan bekas gigitan buaya di pinggulnya dan nyaris membunuhnya di Taklamakan.
Apa Rei akan marah karena aku menyentuh bola lagi? Apa dia akan marah karena aku masih bisa bermimpi indah tentang sepakbola sementara dia, sekeras apapun usahanya, hanya bisa menonton dari tepi? Apa aku harus menoleh ke belakang dan mendapati tak ada siapapun di sana?
Rei menendang sang bola, pelan, kembali kepadaku. “Seingatku kamu lebih hebat dari itu.”
Kubiarkan bolanya menggelinding terus sampai menabrak rak kaktus Erian. Rei nyaris meringis melihatnya—putriku pasti akan sewot sekali saat nanti mendapati dua pot kaktusnya jatuh dari rak. Aku menjatuhkan diri dan telentang di atas rumput halaman. Rei berjalan mendekatiku dan duduk bersila di sebelahku. Ingatanku melayang kembali ke malam-malam masa sekolahku dulu. Rei yang tak pernah banyak bicara namun tak pernah keberatan menemaniku melakukan menu latihan tambahan. Rei yang diam mendengarkan ceritaku tentang ayahku dan selalu membawa handuk ekstra dalam tasnya untuk kemudian dilemparkan menutupi wajahku. Rei yang tak pernah berkata apa-apa saat ia menaruh kaleng minuman isotonik di dekat tasku. Rei yang menyeruak ke tengah-tengah berandalan itu dan aku. Rei yang tidur di bawah pengaruh obat penenang dalam seragam memuakkan rumah sakit dan hanya berani kulihat dari luar kaca kamar inapnya.
Rei yang selalu berlari mengejar punggungku.
Tangannya yang besar dan hangat, sedikit kasar karena pekerjaannya, mengacak rambutku dan seperti dulu lagi, ia melempar handuk menutupi wajahku.
I want to be forgiven.
Itu yang kubisikkan dekat telinga Erian empat hari lalu sebelum aku membebaskannya dari pelukanku. Keinginanku. Mimpi besar yang menggantikan mimpi sepakbolaku. Harapanku.
Ayah tahu, waktu kita lemah, kita meminjam kekuatan dari orang lain. Itu jawaban Erian saat itu.
Aku tak akan pernah jadi Ayub yang senang karena mendapat ganti anak-anaknya yang mati berkali lipat orang banyaknya. Cukup Erian saja buatku dan kurasa aku tak bisa meminta yang lebih baik lagi karena tak akan pernah ada yang melebihi putriku. Aku tak habis-habisnya bersyukur bahwa putriku telah tumbuh menjadi perempuan dewasa yang hebat—dan Erian benar. Waktu sang tegar lelah, aku semestinya membiarkan dia beristirahat. Waktu lemah, aku bisa meminjam kekuatan dari orang yang selalu menjadi pilar penopangku.
“Yuy,” panggil Rei, suaranya kecil tapi lembut, “aku masih menyimpan medali perak bagianku.”
Aku tahu Rei menandai bagian ini dari An Empty Land karyaku yang kukirimkan padanya ke Inggris dengan mewarnainya: Aku Angin. Biasa saja. Tidak istimewa. Aku memang hanya angin, tapi aku adalah makhluk paling bahagia sedunia. Kau tahu kenapa, Langit?
Aku meletakkan kepalaku di pangkuan Rei dan menangis.
Karena ada Rumput yang memberitahuku bahwa aku ada.
As published at Juggling
Did you like this?
vote
