REPLICA - an epilogue for MOTHER'S ROAD (chapter 2) by Alex Jhon

200154
genre

description:
5th Book of Memoirs Chronicles



chapters

chapter 2: an epilogue for MOTHER'S ROAD


an epilogue for MOTHER'S ROAD
chapter 2   —   updated Jul 20, 2007   —   4607 characters   —   0 people liked this writing
Martha Wissen
1996

KETIKA aku menatapi kabut tebal di hadapanku, mata ini hanya terpaku pada sebuah kilatan cahaya beberapa mobil yang hendak berlalu tetapi, cahaya-cahaya itu seperti menghilang dan pergi tanpa suara dan getaran. Seperti angin yang enggan mendekat.
Ada apa? Ada apa dengan diriku sehinga kalian—?
Entah mengapa tiba-tiba aku merasakan bahwa aku telah melupakan banyak hal yang sangat penting. Tunggu! Ada sesuatu… Seharusnya ada sesuatu di tanganku tapi—Ugh…
Apa seharusya aku membawa sesuatu sebelum ini? Entahlah… Entahlah… entahlah… a-aku tidak tahu! A-aku tidak bisa bergerak dari tempat ini… A-aku…
A-aku… adalah Martha Wis—
“Bukan! Buka itu yang mau kuingat… A-aku enggan mengingat nama itu… namaku… namanya…”
Me-mengapa aku dapat mengingat hal seperti ini tetapi aku tidak bisa mengingat yang lain… Ugh!
Aku… sepertinya telah meninggalkan sesuatu yang amat sangat penting di balik kabut tebal ini. Apa? Benda apa yang seharusnya berada di tanganku ini?
Oh Tuhan! Tanganku…A-ada apa dengan tanganku? Me-mengapa penuh luka dan memar?
“—di-dingin sekali…” Aku menahan pedih yang tidak jelas entah berasal karena apa.
Oh Tuhanku… Kalau semua ingatan dan diriku tetap tertahan di titik ini, aku… aku bisa kehilangan seluruh memori… Ya! Aku ingin melupakan bahwa aku telah—
“TIDAAAK! Bu-bukan itu tujuanku mengingat! BUKAN!”
Sugesti… Ini pasti sugesti belaka! Ya! Aku tahu! Sesuatu yang penting itu—aku tidak akan bisa pergi dari tempat ini sebelum aku tahu benda apa itu! Aku tidak bisa… pergi?
Tunggu, mengapa? Mengapa aku tidak bisa pergi?
Kakiku, apa terantai di tanah?
Ah!
Aku… ternyata sedang terdiam, duduk dengan tenang tanpa nafas hangat di sebuah kursi roda berkarat dan penuh noda darah… ugh… darah… suara denyut jantung… jantungku?
“suara itu… a-apa aku…”
Lupa. Aku lupa. Aku harus melupakannya!
Oh! Ingatan yang bodoh! Si-siapa aku? Apa benda itu? Di-ta-ngan-ku…
“Ugh! Apa aku harus tertahan di sini hingga nafasku habis dan terus menerus tersiksa dalam kebekuan dan kesenyapan ini hingga aku tahu benda apa itu yang seharusya berada di tanganku ini?”
Tidak bereaksi. Pikiranku mati, seperti alur kabut yang mengalun, bagaikan di tarik angin dan tidak berkehendak. Mati?
AAAAAHH! Kepalaku…
“Ma-ti? Ma…ti? Mati! Mati! Mati! MATI! MATI! Ti-ti-tidak! Tidak mung-…!!!”
Ugh… Paranoid. Aku hanya menjadi terlalu paranoid karena ingatan ini.
Aku tidak bisa keluar dari kabut ini. Kursi roda ini tidak mau bergerak!
Mungkin sebaiknya menyerah saja. Ya! Lupakan saja perasaan cinta, benci, amarah, letih, dan biarkanlah penyakit duniawi itu lenyap dari raga beku ini!
Wis…Wissen… Oh nama itu…
Oh… A-aku hanya ingin beristirahat. Sudahlah cukup dengan pemikiran amnesia tolol ini! Tetapi, yang aku tahu bahwa aku masih merasakan rasa kehilangan itu… A-apa yang telah aku lupakan? Apa?
Kesialan. Yang semakin mengekang—
Cukup sudah! Cukup sudah hari ini untuk memikirkan benda itu. Entah apa, yang jelas, akan selalu seperti ini; esok, lusa, bahkan puluhan hari, minggu, bulan dan mungkin… tahun akan berlalu dan amnesia tolol itu akan kembali berputar.
Su-suara degup jantung itu meng-menghilang? Me-mengapa?
Oh! Seharusnya masih ada detik-detik di mana seharusnya aku tidak perlu memikirkan semuanya. Semua hal yang tidak nyata. A-aku menyangkal!
Ya! Seperti saat aku hendak mengucapkan salam perpisahan pada kabut dan kebingungan, aku akan menemukan kedamaian sementara itu. Setidaknya hari ini aku dapat melaluinya tanpa harus mengingat sesuatu yang dapat membuat air mataku kembali membasahi kedua pipi yang kering dan membusuk ini.
Bu-busuk? Membusuk?
Oh! Aku ingin melupakan semuanya tetapi mengapa!?
A-aku… a-da-lah…
Me-mengapa aku tidak bisa melupakan kenyataan bahwa aku telah mati!? Mengapa aku sama sekali tidak dapat menghilangkan kepahitan akan suami sial yang mengutukku itu dalam kursi roda berkarat dan kering ini!? Me-mengapa… Me-mengapa Tuhan tidak melupakan aku dan membiarkan aku benar-benar mati!? MATI!!
Aku tidak takut mati! A-aku ingin mati! Aku ingin dibebaskan dari kabut ini! A-aku… Oh Tuhan…
“AKU INGIN MATI! AKU INGIN MATI! AKU BERHAK UNTUK MATI!! MATI—“
Oh Tuhanku… Mengapa aku tidak bisa melupakannya. Me-mengapa… Kau, tidak bisa merelakan diri ini untuk melewati kabut dan kesialan ini? A-aku…
Oh Tuhan—Maafkan… aku…
Aku hanya ingin mati. Hanya itu saja. Ya—itu saja. Kumohon…
Ku-mohon… kali ini. Selamatkanlah diriku. Bunuh aku dengan kuasaMu. Bunuh.
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Alex's writing