REPLICA - TERLIRIH TERIAK MATI by Alex Jhon
chapters
chapter 1:
TERLIRIH TERIAK MATI
chapter 2:
an epilogue for MOTHER'S ROAD
TERLIRIH TERIAK MATI
chapter 1
—
updated Jul 20, 2007
—
8463 characters
—
0 people liked this writing
Riki Franz Pranata
2006
KADANG sesuatu yang terbawa dari mimpi dapat menjadi sebuah inspirasi dalam dunia nyata. Pernah mengalami Dejavu?
Aku sering.
Ya! Seperti diri ini yang entah siapa, berada di sebuah tempat yang entah di mana, berserta mereka—orang-orang dalam mimpi itu, entah siapa. Samar-samar seperti mimpi yang sengaja ingin dilupakan.
Ah… Penggalan memori yang terlupakan. Ini akan menjadi pembahasan yang menarik bukan? Memori dari mimpi.
Apakah mimpi itu? Bunga tidur? Rasa lelah yang bermanifestasi? Atau hanyalah sekedar halusinasi? Apakah kita sering bingung antara dunia nyata dan mimpi?
”Apakah aku bermimpi?” Kadang aku bertanya pada diriku sendiri.
Dan rumus-rumus Freud mulai aku lontarkan untuk menyangkal kenyataan yang sekiranya telah kuketahui kebenarannya.
Sebenarnya aku hendak berteori, tetapi, aku enggan.
Aku akan memberikan sepenggal tulisan yang telah kuketik beberapa bulan yang lalu. Sungguh, aku masih takut untuk tidur sampai sekarang. Dan aku takut dengan mimpi itu, mimpi yang sekehendaknya membuatku berteriak dalam kematian semu.
Ugh! Aku akan memberikan kalian mimpi dari dalam kenyataan, mimpi buruk semu dari Riki Franz Pranata. Aku harap kalian tabah saat mengetahui kebenaranku ini. Amien.
Catatan Rahasia
16 Maret 2006
AKU terbangun dengan air mata, hampir berteriak tetapi aku tidak berteriak. Aku sepertinya berteriak, ketakutan.
Apa kalian tahu apa yang telah membuatku menangis dalam mimpi? Apa kalian tahu aku takut untuk tidur, untuk bermimpi.
Aku tidak tahu beda antara mimpi dan kenyataan!
Apakah aku sedang bermimpi ketika aku terbangun di tempat tidur ini, dengan keringat dingin dan teriakan parau yang hanya terdengar oleh kesadaranku saat terbangun?
Semua pertanyaan.
Baiklah. Aku memang gila. Aku memang gila!
Aku tidak tahu lagi...
Ugh! Aku ingin mati, menangis…
Mimpi itu, kadang datang dan kembali mengingatkanku bahwa aku pernah di rumah sakit.
Ya! Sepertinya ketika aku bermimpi tertidur dan terbaring, lalu tiba-tiba terbangun dengan mata sedikit terbuka, suasana kamar rumah sakit. Bau khas. Cahaya redup. Rasa takut sendirian. Itulah… mimpi yang kadang mengingatkanku bahwa aku memiliki catatan pernah masuk rumah sakit. Terbaring di sini.
Di ranjang yang sama ketika aku terbangun dalam mimpiku.
Aku pernah masuk rumah sakit! Aku pernah di rawat, kurasa cukup lama. Aku ingat infus. Aku ingat suara-suara hening dan cahaya neon yang berada di atas tubuhku. Samar.
Aku pernah di opname! Oh Tuhan, sungguhkah, apa otakku menipuku!?
Mimpi. Yang mana yang merupakan mimpiku? Apakah itu adalah ketika aku terbangun sekarang dan mengetik kata-kata ini di laptopku ini ataukah, ketika aku samar-samar melihat cahaya neon rumah sakit itu?
Tunggu!
Aku pernah bermimpi; berjalan, mencoba berjalan, berpikir untuk menabrakkan diri sendiri di mobil yang sedang berjalan, milik entahlah siapa, dan bodohnya, dalam mimpi itu aku berpikir untuk mati pun aku enggan membuat orang lain susah. Ha! Aku memilih dan melihat sopir setiap mobil. Mencari wajah yang paling menyebalkan sehingga, saat aku ditabraknya maka ia akan sial!
Ha ha ha!
”Apakah aku hanya berhalusinasi? Apakah aku memimpikan hal semacam itu?”
Apakah aku ingin mati sebegitu peliknya?
Aku bingung, Oh Tuhan!!!
Aku ingin tahu, apakah benar aku pernah masuk rumah sakit? Aku mengingatnya jelas. Seakan-akan aku pernah dan tak seorangpun (bahkan keluargaku) pernah mengatakan aku pernah sekalipun masuk dan dirawat! Tetapi…
AKU BERSUMPAH!
Mimpi itu… mimpi itu adalah memoriku! Aku bersumpah, aku…
Aku ingin sekali menangis dan berteriak seperti yang kulakukan tadi saat aku terbangun.
Ugh…
”Argh, apa kau sudah gila, Riki?”
Jika, aku mempunyai sebuah teori dan ini jika saja, ya, jika saja…
Jika saja, saat aku terbangun dan menyadari bahwa aku sebegitu ketakutan akn mimpi rumah sakit tadi. Seandainya aku sangat benar-benar yakin bahwa aku pernah dirawat di rumah sakit maka, apakah mungkin…
Ugh… ini tidak mungkin.
Apakah mungkin bahwa sebenarnya alam mimpi yang sesungguhnya adalah alam di mana aku terbangun dan mengetik kata-kata ini? Apakah semua rasa kenyataan ini, orang-orang yang membaca kata-kata ini dan bahkan orang yang kukenal selama ini hingga aku masuk kuliah… apakah semuanya hanya halusinasi!? Hanya sekedar mimpi belaka. Mereka, tidak, pernah ada?
Apakah aku…
Oh Tuhan tidak… Tuhan?
Apakah Tuhan di alam ini adalah sebuah kata yang kuciptakan agar aku merasa tenang? Ataukah dalam dunia mimpiku yang satunya, Tuhan memang ada dan kubawa filsafat itu di dalam dunia sekarang ini?
Apakah aku yang sekarang hanyalah permainan obat dari rumah sakit?
”Oh tidak! Rumah sakit?”
Apakah aku memang sebenarnya masih dirawat di sana, terbaring setengah mati, bertahun-tahun?
Ya? Mungkin oleh sebab itulah semua keluargaku tidak ada yang tahu dan percaya akan memori opnameku! Mereka memang tidak pernah ada dalam memori itu.
Mereka sekarang, teman-teman, musuh, gaya hidup, trend musik, baju yang kupakai, warna dinding, laptop… semuanya adalah mimpi.
Aku tidak mau… aku takut…
Jadi, inikah aku yang sebenarnya? Riki yang sebenarnya sedang tertidur di sana. Di alam sadarku dan ini, adalah bukan alam sadar tetapi alam bawah sadarku. Bermanisfestasi secara jelas dan mengerikan sehingga membuat aku enggan terbangun di sana.
Apakah aku memang masih koma di sana?
”Aku suka dunia ini! Aku suka berada dan hidup di sini? Semua teman-temanku?”
Semuanya akan hilang, tolol!
Semuanya lenyap saat aku benar-benar terbangun dalam tempat tidur yang lain itu?
Tetapi kenapa aku di opname? Apakah kecelakaan seperti yang kuingat ingin kulakukan?
Ya, mungkin itu.
Aku tahu pasti itu penyebabnya karena, mimpi tentang jalanan yang panas dan penuh sesakan mobil itu mengantung di tengah cerita sesaat aku berjalan dan mundur kembali saat melihat sebuah mobil yang melaju kencang dan…
Sudahlah, detil yang tidak penting… Jadi apakah kau sudah siap untuk bangun?
Aku… tidak mau mati, tetapi dunia ini? Apakah ini benar-benar mimpi. Aku sudah sebegitu susah payahnya untuk mencapai titik ini. Semua nama dan wajah. Hilang dan saat aku terbangun, entahlah apakah kehidupanku di sana yang (mungkin) sesungguhnya akan lebih baik daripada ini.
”Berapakah usiaku di sana?”
Aku takut aku akan kembali saat masih sekolah. Argh! Semua pendewasaan, jalan hidup ini hanyalah manisfestasi dari keinginan kecilku. Semua orang dalam dunia ini adalah wujud dari memoriku?
Seperti Tuhankah kau sekarang, Riki?
Ya! Tuhan yang tidak menyenangi kekuatannya sendiri. Tuhan yang menciptakan teman, musuh, dan semesta dalam dunia fana alur koma ini. Dunia dalam nama Tuhan yang adalah aku.
Aku terjebak antara pilihan.
Ketakutan akan tidur, bermimpi lagi dan semakin lama, memori itu semakin jelas. Tiap kata dan emosi mencuat perlahan sekiranya aku hendak siuman di sana.
AKU TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU HIDUP DI SANA!
Aku suka dunia ini!
Oh Tuhanku! Mengapa kau lakukan ini padaku. Membiarkan aku tahu bahwa aku sekarang sedang bermimpi? Mengapa kau menciptakan mimpi yang begitu indah sehingga aku berkenan untuk selamanya tinggal di rumah sakit yang entah di mana itu? Mengapa kau tidak memasukkanku segera ke Neraka atau SurgaMu?
Sekarang aku tidak tahu, apakah dunia ini adalah surga menurut versiMu? Apakah Kau memberikan hadiah ini untuk membuatku terharu?
AKU TIDAK SUKA! AKU TIDAK SUKA!
Aku tidak merasakan apa-apa dengan dunia di sana. Aku ingin tetap koma di sana. Biarkanlah aku tertidur di sana dengan ninabobo yang tenang dari entah siapa.
Remang-remang neon dan jalanan itu… Biarkanlah mengalir namun, jangan biarkan lebih lama lagi. Buatlah aku koma, buat aku mati dan biarkanlah ruh ini tetap melayang dalam mimpi yang indah ini.
Mimpi yang indah dan mimpi yang membuatku tidak menangis dan menyesali hidup.
Maafkan aku Tuhan, karena aku begitu lemah.
Tetapi mulai sekarang, di dunia ini, akulah Tuhan! Dan biarkan tetap seperti apa adanya.
Doakan Riki ini sehingga ia bisa tua dan mati kembali dalam mimpi yang telah aku atau Kau ciptakan ini, lalu setelah itu, kembalikanlah ruhku ke dalam tubuh sial yang sesungguhnya telah Kau ciptakan dan mulai saat itu, aku akan menurutiMu.
Jadi sekarang, Tuhanku, selamat tinggal duniaMu dan biarkan aku tersenyum dan mengetik kata-kataku sendiri dalam dunia ciptaanku sendiri.
Maafkan aku ya Tuhan. Maafkan karena aku telah menolakmu untuk saat ini. Amien.
back to top
2006
KADANG sesuatu yang terbawa dari mimpi dapat menjadi sebuah inspirasi dalam dunia nyata. Pernah mengalami Dejavu?
Aku sering.
Ya! Seperti diri ini yang entah siapa, berada di sebuah tempat yang entah di mana, berserta mereka—orang-orang dalam mimpi itu, entah siapa. Samar-samar seperti mimpi yang sengaja ingin dilupakan.
Ah… Penggalan memori yang terlupakan. Ini akan menjadi pembahasan yang menarik bukan? Memori dari mimpi.
Apakah mimpi itu? Bunga tidur? Rasa lelah yang bermanifestasi? Atau hanyalah sekedar halusinasi? Apakah kita sering bingung antara dunia nyata dan mimpi?
”Apakah aku bermimpi?” Kadang aku bertanya pada diriku sendiri.
Dan rumus-rumus Freud mulai aku lontarkan untuk menyangkal kenyataan yang sekiranya telah kuketahui kebenarannya.
Sebenarnya aku hendak berteori, tetapi, aku enggan.
Aku akan memberikan sepenggal tulisan yang telah kuketik beberapa bulan yang lalu. Sungguh, aku masih takut untuk tidur sampai sekarang. Dan aku takut dengan mimpi itu, mimpi yang sekehendaknya membuatku berteriak dalam kematian semu.
Ugh! Aku akan memberikan kalian mimpi dari dalam kenyataan, mimpi buruk semu dari Riki Franz Pranata. Aku harap kalian tabah saat mengetahui kebenaranku ini. Amien.
Catatan Rahasia
16 Maret 2006
AKU terbangun dengan air mata, hampir berteriak tetapi aku tidak berteriak. Aku sepertinya berteriak, ketakutan.
Apa kalian tahu apa yang telah membuatku menangis dalam mimpi? Apa kalian tahu aku takut untuk tidur, untuk bermimpi.
Aku tidak tahu beda antara mimpi dan kenyataan!
Apakah aku sedang bermimpi ketika aku terbangun di tempat tidur ini, dengan keringat dingin dan teriakan parau yang hanya terdengar oleh kesadaranku saat terbangun?
Semua pertanyaan.
Baiklah. Aku memang gila. Aku memang gila!
Aku tidak tahu lagi...
Ugh! Aku ingin mati, menangis…
Mimpi itu, kadang datang dan kembali mengingatkanku bahwa aku pernah di rumah sakit.
Ya! Sepertinya ketika aku bermimpi tertidur dan terbaring, lalu tiba-tiba terbangun dengan mata sedikit terbuka, suasana kamar rumah sakit. Bau khas. Cahaya redup. Rasa takut sendirian. Itulah… mimpi yang kadang mengingatkanku bahwa aku memiliki catatan pernah masuk rumah sakit. Terbaring di sini.
Di ranjang yang sama ketika aku terbangun dalam mimpiku.
Aku pernah masuk rumah sakit! Aku pernah di rawat, kurasa cukup lama. Aku ingat infus. Aku ingat suara-suara hening dan cahaya neon yang berada di atas tubuhku. Samar.
Aku pernah di opname! Oh Tuhan, sungguhkah, apa otakku menipuku!?
Mimpi. Yang mana yang merupakan mimpiku? Apakah itu adalah ketika aku terbangun sekarang dan mengetik kata-kata ini di laptopku ini ataukah, ketika aku samar-samar melihat cahaya neon rumah sakit itu?
Tunggu!
Aku pernah bermimpi; berjalan, mencoba berjalan, berpikir untuk menabrakkan diri sendiri di mobil yang sedang berjalan, milik entahlah siapa, dan bodohnya, dalam mimpi itu aku berpikir untuk mati pun aku enggan membuat orang lain susah. Ha! Aku memilih dan melihat sopir setiap mobil. Mencari wajah yang paling menyebalkan sehingga, saat aku ditabraknya maka ia akan sial!
Ha ha ha!
”Apakah aku hanya berhalusinasi? Apakah aku memimpikan hal semacam itu?”
Apakah aku ingin mati sebegitu peliknya?
Aku bingung, Oh Tuhan!!!
Aku ingin tahu, apakah benar aku pernah masuk rumah sakit? Aku mengingatnya jelas. Seakan-akan aku pernah dan tak seorangpun (bahkan keluargaku) pernah mengatakan aku pernah sekalipun masuk dan dirawat! Tetapi…
AKU BERSUMPAH!
Mimpi itu… mimpi itu adalah memoriku! Aku bersumpah, aku…
Aku ingin sekali menangis dan berteriak seperti yang kulakukan tadi saat aku terbangun.
Ugh…
”Argh, apa kau sudah gila, Riki?”
Jika, aku mempunyai sebuah teori dan ini jika saja, ya, jika saja…
Jika saja, saat aku terbangun dan menyadari bahwa aku sebegitu ketakutan akn mimpi rumah sakit tadi. Seandainya aku sangat benar-benar yakin bahwa aku pernah dirawat di rumah sakit maka, apakah mungkin…
Ugh… ini tidak mungkin.
Apakah mungkin bahwa sebenarnya alam mimpi yang sesungguhnya adalah alam di mana aku terbangun dan mengetik kata-kata ini? Apakah semua rasa kenyataan ini, orang-orang yang membaca kata-kata ini dan bahkan orang yang kukenal selama ini hingga aku masuk kuliah… apakah semuanya hanya halusinasi!? Hanya sekedar mimpi belaka. Mereka, tidak, pernah ada?
Apakah aku…
Oh Tuhan tidak… Tuhan?
Apakah Tuhan di alam ini adalah sebuah kata yang kuciptakan agar aku merasa tenang? Ataukah dalam dunia mimpiku yang satunya, Tuhan memang ada dan kubawa filsafat itu di dalam dunia sekarang ini?
Apakah aku yang sekarang hanyalah permainan obat dari rumah sakit?
”Oh tidak! Rumah sakit?”
Apakah aku memang sebenarnya masih dirawat di sana, terbaring setengah mati, bertahun-tahun?
Ya? Mungkin oleh sebab itulah semua keluargaku tidak ada yang tahu dan percaya akan memori opnameku! Mereka memang tidak pernah ada dalam memori itu.
Mereka sekarang, teman-teman, musuh, gaya hidup, trend musik, baju yang kupakai, warna dinding, laptop… semuanya adalah mimpi.
Aku tidak mau… aku takut…
Jadi, inikah aku yang sebenarnya? Riki yang sebenarnya sedang tertidur di sana. Di alam sadarku dan ini, adalah bukan alam sadar tetapi alam bawah sadarku. Bermanisfestasi secara jelas dan mengerikan sehingga membuat aku enggan terbangun di sana.
Apakah aku memang masih koma di sana?
”Aku suka dunia ini! Aku suka berada dan hidup di sini? Semua teman-temanku?”
Semuanya akan hilang, tolol!
Semuanya lenyap saat aku benar-benar terbangun dalam tempat tidur yang lain itu?
Tetapi kenapa aku di opname? Apakah kecelakaan seperti yang kuingat ingin kulakukan?
Ya, mungkin itu.
Aku tahu pasti itu penyebabnya karena, mimpi tentang jalanan yang panas dan penuh sesakan mobil itu mengantung di tengah cerita sesaat aku berjalan dan mundur kembali saat melihat sebuah mobil yang melaju kencang dan…
Sudahlah, detil yang tidak penting… Jadi apakah kau sudah siap untuk bangun?
Aku… tidak mau mati, tetapi dunia ini? Apakah ini benar-benar mimpi. Aku sudah sebegitu susah payahnya untuk mencapai titik ini. Semua nama dan wajah. Hilang dan saat aku terbangun, entahlah apakah kehidupanku di sana yang (mungkin) sesungguhnya akan lebih baik daripada ini.
”Berapakah usiaku di sana?”
Aku takut aku akan kembali saat masih sekolah. Argh! Semua pendewasaan, jalan hidup ini hanyalah manisfestasi dari keinginan kecilku. Semua orang dalam dunia ini adalah wujud dari memoriku?
Seperti Tuhankah kau sekarang, Riki?
Ya! Tuhan yang tidak menyenangi kekuatannya sendiri. Tuhan yang menciptakan teman, musuh, dan semesta dalam dunia fana alur koma ini. Dunia dalam nama Tuhan yang adalah aku.
Aku terjebak antara pilihan.
Ketakutan akan tidur, bermimpi lagi dan semakin lama, memori itu semakin jelas. Tiap kata dan emosi mencuat perlahan sekiranya aku hendak siuman di sana.
AKU TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU HIDUP DI SANA!
Aku suka dunia ini!
Oh Tuhanku! Mengapa kau lakukan ini padaku. Membiarkan aku tahu bahwa aku sekarang sedang bermimpi? Mengapa kau menciptakan mimpi yang begitu indah sehingga aku berkenan untuk selamanya tinggal di rumah sakit yang entah di mana itu? Mengapa kau tidak memasukkanku segera ke Neraka atau SurgaMu?
Sekarang aku tidak tahu, apakah dunia ini adalah surga menurut versiMu? Apakah Kau memberikan hadiah ini untuk membuatku terharu?
AKU TIDAK SUKA! AKU TIDAK SUKA!
Aku tidak merasakan apa-apa dengan dunia di sana. Aku ingin tetap koma di sana. Biarkanlah aku tertidur di sana dengan ninabobo yang tenang dari entah siapa.
Remang-remang neon dan jalanan itu… Biarkanlah mengalir namun, jangan biarkan lebih lama lagi. Buatlah aku koma, buat aku mati dan biarkanlah ruh ini tetap melayang dalam mimpi yang indah ini.
Mimpi yang indah dan mimpi yang membuatku tidak menangis dan menyesali hidup.
Maafkan aku Tuhan, karena aku begitu lemah.
Tetapi mulai sekarang, di dunia ini, akulah Tuhan! Dan biarkan tetap seperti apa adanya.
Doakan Riki ini sehingga ia bisa tua dan mati kembali dalam mimpi yang telah aku atau Kau ciptakan ini, lalu setelah itu, kembalikanlah ruhku ke dalam tubuh sial yang sesungguhnya telah Kau ciptakan dan mulai saat itu, aku akan menurutiMu.
Jadi sekarang, Tuhanku, selamat tinggal duniaMu dan biarkan aku tersenyum dan mengetik kata-kataku sendiri dalam dunia ciptaanku sendiri.
Maafkan aku ya Tuhan. Maafkan karena aku telah menolakmu untuk saat ini. Amien.
Did you like this?
vote
