ARDOR - DIE! (chapter 4) by Alex Jhon

200154
genre

description:
2nd Book of Memoirs Chronicles



chapters

chapter 1: Talking with a God

chapter 3: Karma

chapter 4: DIE!


DIE!
chapter 4   —   updated Jul 18, 2007   —   7196 characters   —   0 people liked this writing
Dy'
1994

ANGIN, menerpa tubuhku yang jatuh bersamaan dengan sebuah kekosongan bagai jiwa yang tersesat. Aroma malam dan dinding-dinding beton yang berwarna oranye menjadi samar dengan beku yang menusuk.
Atap… Langit-langit gedung… kabut dan hitam. Melebur dan terus terjerembab ke bawah—bersama dengan keindahan. Aku terpesona oleh sensasi ketegangan dan senyuman yang membara. Ibarat air yang turun tanpa henti. Angin, udara, dan suasana—semua tersirat melalui mata dan wajah.
Pertama-tama sekali, aku menengadahkan kepalaku keluar jendela. Lalu sesayup-sayup aku mendengar suara yang mempesonakan, Suara sebuah syair lagu rock yang dilantunkan dari sebuah stadion besar tak jauh dari gedung aku terdiam.

Marilah tenggelam bersama mimpi,
Hidup adalah mimpi!

Sebelumnya adalah terbang dan terus turun, dan semua itu indah. Sebelumnya adalah angin yang membara terus-menerus. Hanya ada aku sendiri. “Kapankah aku pernah mengalaminya?” Entahlah, tetapi aku merasa bahwa kabut dan ketinggian adalah jiwa lainku yang terus memanggil—terus turun dan turun ke bawah tanpa henti, tanpa habisnya.
Kehilangan kendali, dan aku terus menantang.
Ah! Tetapi itu dulu. Entah kapan.
Sekarang aku sedang menjulurkan tubuhku keluar jendela. Dan tak lama, aku kini sudah di angin-angin. Di sebuah atap, dengan pijakan yang kecil untuk kakiku yang lumayan besar. Dengan berpegangan pada hiasan-hiasan dinding dan penyangga-penyangga kabel yang tertanam—cukup kuat untuk menyokong tubuhku yang menggelantung. Angin yang menerpa dan aku melihat ke bawah, tanpa takut. Sambil memegang hiasan dinding semen putih itu, seraya berjalan bertumpu pada pijakan-pijakan kecil bersemen yang ada di bawahnya, pipa dan tapak kecil. Begitu hati-hati
Semakin aku berjalan ke samping, ke ujung lekukan dinding, aku mendengar syair rock itu kembali. Aku bernyanyi, menggumamkan syair itu bersama dengan tanganku yang sudah kebal akan letih, menahan beban tubuhku di pijakan kecil tersebut.

Dunia tercipta atas mimpi,
Bahkan sekarang kau sedang didalamnya.

Semua gerakan para penduduk New York seakan-akan melamban. Semua seperti semut dan berputar-putar. Oh tunggu, itu kepalaku—
Baiklah, inikah rasanya berada di atas segala manusia… seperti Tuhankah aku sekarang?
Pusing. Kepalaku dan badanku seperti kosong—tinggal menunggu angin yang cukup kuat untuk menghempasku.
Sekarang, aku terus berjalan, dan semakin aku ke samping, aku semakin ke atas. Apakah gedung ini berpijakan spiral menjulang ke atas? Aku tidak tahu; tiba-tiba saja aku sudah disini. Semakin jauh, semakin ke atas.
Aku masih tersaput awan dan kabut malam kota; entah apakah itu kabut atau polusi, aku tidak tahu. Tidak peduli. Suara menggoda dari syair itu lagi, kini sudah mencapai reffrain yang mengaduk perut dan hatiku yang bingung.

Semua kekosongan hatiku,
Adalah sirna tak berarti.
Lantai rumput berarak mawar,
Harum dan membius hati yang rapuh.

Kini, aku sudah sampai di atas. Benar-benar diatas! Aku sudah tak dapat bergerak lagi ke samping; semua pijakan di atas kepalaku terlalu miring menjulang keatas, lagipula kurasa ini sudah tepat di bawah atap gedung. Mataku hanya dapat memperhatikan arak-arak cahaya lampu tembak dan suara riuh yang sayup terdengar dari gedung stadion terbuka itu. Bergantian bersahutan seperti bunyi motor-motor offroad yang tak terkendali dan mencapai gigi empat dan tak bisa berhenti menikung tajam.
Tanganku berpegangan erat pada sebuah pegangan dinding yang berdekatan dengan kabel-kabel besar dan usang beserta kotak stop-kontaknya, aku begitu hati-hati memindahkan tanganku beberapa kali demi kenyamanan aku bertahan di angin-angin ini. Setrum sebuah gedung tinggi sudah pasti akan memanggangku dengan segera.
Aku bergelantungan dengan pasrah. Posisi tanganku sudah agak nyaman dengan di antara kotak dan kabel beresiko tinggi tersebut. Aku sudah kebal—lagipula aku sudah di atas segalanya.
Mataku melihat ke bawah.
Sempat terpikirkan bagiku untuk terjun. Tetapi, untuk apa? Aku tidak mau mati! Aku tidak berniat bunuh diri! Lantas apa? Entahlah, sepertinya aku memang sudah ditakdirkan untuk berada di sini. Memang seperti seharusnya. Pernahkah kau merasakan ketika memang kau pernah di sebuah tempat dan kau hanya . . . ingin kembali ketempat itu, di manapun tempatnya dan seberapa besar resiko yang akan kau tanggung. Aku berani mengambil semuanya; resiko dan kewarasanku. Sekarang, pertanyaan besarnya; Bagaimana aku bisa ada disini? “Kurasa, jika aku mengucapkan sebuah kata ajaib, aku akan terbangun dari… ini mimpi bukan?” aku menghela nafas.
Suara deru angin kota yang semakin kencang membisikan sesuatu di telingaku yang agak dingin, “Sedang apa wahai kau lelaki bodoh? Apakah kau berkehendak mati?”
Suara itu, halusinasi ataukah alam bawah sadarku yang mulai menyadarkan untuk segera turun? Tidak! Aku tidak ingin turun, sama seperti aku tidak ingin mati.
“Tidak! Lupakan aku angin mendesir. Bayangkan aku sekarang bahagia. Relakan kau bila aku berkata demikian?” Aku berkumandang sendu dalam dinginnya suasana awan kelam dan gedung berbata oranye yang sedang kugelantunggi tersebut.
“Oh… bagaimana ini?” Aku kembali bingung.
Jika aku tidak bisa turun perlahan, lantas bagaimana? Apakah aku harus menunggu helikopter atau aku haruslah berteriak sekencang-kencangnya. Tak ada jendela yang cukup besar bagi diri untuk kumasuki, ataupun lubang angin dan pijakan lain yang dapat mengantarkan diriku ke atap atas. Yang ada hanya kabel, kotak saklar dan dinding-dinding kumel dan sebuah jendela kecil kotak buram yang sedari tadi masih begitu dekat seraya merefleksikan wajah dan tubuhku yang terbalut jaket overcoat merah. Seorang pemuda bodoh yang tak tahu apa yang dilakukannya di sini.
“Wahai semua, dengarkanlah keindahan musikku!” Aku melirik ke arah stadion tersebut kembali. Penyanyi rock itu tampak menebarkan pesona karismanya melalui ajakan dalam syair terakhir dalam lagunya yang sedari tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku. “Bait terakhir… Sekarang apa lagi yang akan ia utarakan?” Aku menunggu sabar. Di balik dentingan melodi gitar listrik dan deru bunyi drum dan suara-suara perkusi yang menyelaraskan. Sang maestro syair indah tadi kembali berkumandang.

Terjunlah bersamaku!
Wahai semua, manusia…
Kalian tidaklah sempurna, bencilah dunia!
Layaknya, pantasnya. Terjunlah!

“Menyeramkan sekali!” lirihku.
Syair terakhir itu menuturkan kemalangan kepada dunia. Aku begitu kasihan pada orang yang percaya pada syair murahan seperti itu. Tetapi, mengapa karena syair murahan itu aku terus mendaki sedari tadi.
“Sekarang aku baru menyesal,” Tak bisa kembali turun, tak dapat melangkah naik; menjadi kaku bagai patung gargoyle di gereja tua. Kurasa aku akan selamanya terpampang di sana. Hingga aku lelah, hingga tanganku lemah, dan aku sudah bosan.
Biarkanlah aku mendengarkan konser murahan ini sampai habis. Dan tenang! aku belum mau mati. Belum mau dan belum bisa. Ya! Biarkanlah syair yang lain ia kumandangkan. Sampai seorang Dy' mengerti, mengapa bayangan di dalam jendela buram di hadapanku tersebut, dan penyanyi di gedung konser itu adalah orang yang sama.
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Alex's writing