ARDOR - Karma (chapter 3) by Alex Jhon

200154
genre

description:
2nd Book of Memoirs Chronicles



chapters

chapter 1: Talking with a God

chapter 3: Karma

chapter 4: DIE!


Karma
chapter 3   —   updated Jul 18, 2007   —   14340 characters   —   0 people liked this writing
Rakesh
1933

DAN di sanalah, di sebuah gang kecil dan kumuh. Dengan atmosfir panas yang membuat aku tersadar—separuh daya untuk mengingat diri ini. Semua kilatan memori yang hampir sepenuhnya kacau dan tak beraturan. Tetapi… aku telah melihat ke sekeliling, aku telah melihat warna kulitku ini. Dan aku tahu bahwa, aku adalah seorang India dan aku, memang berada di kawasan India, entah kota apa…
Tetapi, siapa aku? Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba aku tersungkur di tanah merah seperti ini? Bajuku tidak compang-camping, malahan bersih—menandakan bahwa aku bukan seorang pengemis.
Ya! Pengemis! Jika aku sadar apa arti dari asal dan warna kulit beserta arti dari 'pengemis' itu, mengapa arti dari jati diri ini seakan hamparan benang?
Ah! Kepalaku, tubuhku… begitu lemah…
Hampir saja aku tersungkur kembali. Kedua kaki ini; begitu tampak rapuh dan sepertinya, aku tidak pernah berjalan menggunakan kedua kaki ini selama puluhan tahun. Kaku dan terhuyung pelan.
Semua itu kemudian melayang; Emosiku… aku bahkan tidak tahu harus berpikir apalagi? Karena… karena aku tidak bisa berpikir lebih daripada ini. Aku seperti tersesat dalam sebuah hutan hijau pekat—hutan yang hanya terbias cahaya matahari dari pepohonan tinggi. Tetapi, aku tidak berada di alam gelap dan suram tersebut, sebaliknya, kini aku berada di sebuah tempat bagaikan kota yang penuh dengan suara dan keramaian.
Seperti irama riuh angin di sebuah ombak laut Mediterania…
Ah! Ombak! Aku mengingat sesuatu tentang ombak… Ombak… Ombak…
Sial! Kosong. Buntu!!!
“Ah!” Aku kembali memegang kepalaku tanpa sadar. Kepala ini berdenyut dan bahkan aku hampir buta karena air mata yang keluar secara perlahan tetapi secara konstan; semua itu terus mengalir dan mengacaukan ritme nafas. Terengah.
“Di mana ini?” Aku tertatih pelan dan merintih.
Pandanganku teralih saat melihat beberapa orang di antara dua dinding yang menghimpit ini. Aku melihat orang-orang berpakaian sorban, berpakaian jins dan semua memiliki kulit cokelat setengah terbakar. Ya! Sama denganku! Apa aku sekarang berbicara bahasa mereka? Apa aku masih seorang India? Apakah aku masih berpikir dalam bahasa India? Apakah itu bahasa India? Seperti apa?
Sial! Sial! Apakah aku? Apa yang aku katakan? Sejenis kata apa yang aku gunakan? Oh Tuhan!! Di mana aku? Apa aku?
Perlahan-lahan aku mencoaba keluar dari gang kumuh ini, membopong beban seperti sebuah teka-teki besar. Dan secercah cahaya silau dari terik panas di luar gang ini, orang-orang itu; mereka adalah kunci dari semua… kurasa…
Dan akhirnya aku sampai di penghujung gang. Aku menatap ke langit.
Silau. Panas. Matahari dan tanpa awan. Semua begitu biru dan debu, semua berterbangan dan semua itu bagaikan udara api menjilati kulit.
Ah! Lagi! Api! Api! Ya! Aku ingat akan api, kebakaran? Aku terbakar?
Aku segera melihat kedua tanganku, meraba-raba tubuhku dan memeriksa jika ada dalam tubuh ini, sisa-sisa dari luka bakar…
Tidak ada. Kosong. Semua permukaan kulit ini amatlah bersih seperti layaknya baju satin krem yang gemilang yang sedang kupakai. Tetapi, mengapa aku memikiran api? Mengapa aku memikirkan ombak?
Dan… tiba-tiba aku teringat lagi akan awan itu dan aku mengingat bahwa aku pernah mengintai 'kematian' dan aku melihat awan itu di sebuah ladang rumput yang luas dan… ada sebuah suara lenguhan sapi dan kambing; perternakan yang amat tenang.
Peternakan sapi dengan bukit rumput? Apakah hal seperti itu ada di India?
Aku begitu gusar karena memori yang aku harapkan tidak begitu jelas tetapi, hal yang tidak sebegitu penting malah lebih terbias jelas dan lebih konkrit daripada kenyataan yang aku cari. Aku mengeram pelan. Mendengar dan aku kembali melihat ke sana-kemari.
Orang-orang itu pun menatapku. Mata-mata mereka yang bulat dan berkelopak dengan biji mata yang amat besar dan hitam. Sesekali mereka akan mengelap keringat sembari menutup hidung mereka dengan sebuah cadar sutera.
Dan saat itulah aku melihat seorang wanita bercadar merah, aku teringat kembali akan sebuah peristiwa. Tetapi…
Tetapi semua itu seperti bersahutan dan tidak mau kalah!
Aku kembali melihat api disekujur tubuh ini dan kemudian sebuah ingatan ketika aku berteriak di antara gedung-gedung pencakar langit? Apa! Aku bahkan sempat merasakan bagaimana rasanya jatuh dari ketinggian dan dibawahku adalah karang-karang terjal beserta debur ombak mematikan. Tunggu! Semua itu tidak hanya dua. Tetapi banyak, tetapi lebih banyak dan aku tidak tahu yang mana yang benar; aku… melihat pisau menancap di dadaku dan, aku melihat darah di kedua tanganku lalu, aku mendengar letusan-letusan dan aku merasakan sebuah hantaman besar dan itu mengenai dada ini, dan, aku… sangat kesakitan.
Tak beberapa lama, aku tersungkur jatuh kembali sembari memegangi dadaku. Begitu sukar untuk bicara jelas. Aku mengeram kembali. Rasa menusuk di dada ini. Jarum, pisau…
Entah bagaimana, mungkin geramananku terdengar dan aku pun terlihat tersungkur di antara keramaian maka, orang-orang pun berkumpul dan tiba-tiba seorang bapak tua dan agak gemuk bertanya padaku, “Hei Tuan tidak apa-apa?”
Aku menatap tubuhnya, merasakan aromanya, tetapi aku tidak dapat melihat wajahnya karena cahaya matahari menyilaukan kedua mataku. Aku hanya sadar satu hal sementara ini; aku berbicara bahasa yang sama dengannya; aku mengerti dirinya yang bertanya. Dengan begitu, aku pun berpikir dengan dialek yang sama. Pasti!
“Tuan! Tuan tidak apa-apa?” Ia bertanya kembali. Dan langsung—mengapa aku pun tidak tahu—aku muntah di hadapannya; muntahan yang mengeluarkan darah. Amat banyak. Semua berteriak histeris. Banyak orang dari kerumunan itu terbangun dari sikap jongkoknya.
“A-ah! Apa ini, to-tolong!” Akhirnya aku mengucapkan satu kalimat, dan aku tersadar kalau aku sedang sekarat. Aku sekarat tetapi, tetapi mengapa?
Mengapa aku sekarat? Mengapa aku tidak ingat?
“Siapapun! Cepat panggil ambulans! Cepat!” Salah seorang wanita tua berteriak sembari mengelap mulutku yang berlumuran muntahan darah dengan cadarnya atau entah kain apa yang ia gunakan—tetapi kelembutan kain itu mengingatkanku pada sebuah gadis yang dahulu aku kenal. Dengan rambut cokelat dan mata hijaunya, kulit putih dan pucatnya bagaikan buah plum—
Sial! Apa lagi, seorang India menjalin asmara dengan seorang Eropa? Bagaimana bisa?
Semakin lama aku mencoba mencari konklusi dan saat itu pulalah aku melihat sebuah tulisan—India, dan aku tersadar kembali dalam suatu fakta. Karma. Aku mengingat pelajaran agama tentang ini, ajaran yang selalu diajarkan di sekolah. Ajaran bahwa seseorang akan mengalami siklus keterikatan hidup di mana keberuntungan akan terjadi atas nama perbuatan sebelumnya; atau semacam itu.
Apa… aku sedang menjalani hukuman dari Karma-ku yang buruk? Apa aku sebegitu berdosanya bahkan dalam keadaan sekarat dan kesakitan di tenggorakkanku ini, aku tidak diperbolehkan mengetahui namaku sendiri?
“Tolong… siapapun, apakah ada yang tahu, a-aku siapa…”
Pertanyaanku seakan membuat puluhan orang-orang yang mengitariku terdiam dan canggung. Mereka saling berpandangan. Aku dapat mendengar mereka berbicara seraya terheran-heran…

“Ah! Ia lupa ingatan!”
“Ah tidak, kurasa ia gila, tetapi bajunya rapi…”
“Shhh… jangan berisik”

Dan suara-suara itu tiba-tiba terhenti saat seorang wanita datang seraya menangis dan berteriak, “Ah tidak! Rakesh! Rakesh sayangku! Sudah kubilang jangan keluar, kau terlalu lemah. Ah tidak…”
Ia segera datang dan memelukku. Aku… merasa lega bahwa aku telah mengetahui namaku sendiri. Walaupun… aku masih tidak dapat mengingat siapa wanita tersebut, tempat ini dan bahkan siapa aku sebenarnya; siapa aku selain namaku yang bertitel 'Rakesh' itu.
“Rakesh, sebaiknya kita kembali ke rumah,” Wanita itu mencoba membopongku. Tetapi, sang kakek gemuk tadi tiba-tiba dengan sopan menyentuh pundak wanita histeris ini dan ia berkata seraya tersenyum, kini… aku dapat melihat jenggot dan matanya yang agak kehitaman.
“Ah nyonya, apakah dia suamimu? Sebaiknya, melihat kondisi suamimu ini, ia harus dibawa ke rumah sakit segera.” Kakek itu berkata dengan halus.
Sambil menangis pelan, sang wanita itu yang membenarkan bahwa ia istriku berkata dengan pelan dan ia menatapku dengan air mata, “Aku tahu itu tuanku, tetapi, kami hanyalah pasangan yang miskin. Suamiku ini hanyalah seorang pedagang pot buatannya sendiri. Dan suamiku pun berkata bahwa sebaiknya uang tabungan kami hanya untuk anak kami satu-satunya.” Ia menangis di pundakku yang berlumuran darah.
Masih tersungkur, aku hampir saja batuk kembali dan hampir saja muntah. Tetapi, aku menahan. Aku tidak mau membuat wanita ini cemas. Istriku? Entahlah. Bahkan aku punya anak! Luar biasa bahwa aku sama sekali tidak ingat.
Aku mencoba meraih kepalanya dan mengelus rambut hitamnya yang mengkilap. Aku hanya ingin menenangkannya, siapapun namanya. Aku masih belum mempercayainya, tetapi aku sama sekali tidak dapat mengingat istriku ini, anakku satu-satunya itu dan pekerjaanku sebegai tukang pot? Aku sama sekali tidak merasakannya. Seperti senapan kosong dan kurasa tali nasib memperolokku.
Aku tidak percaya perbuatan Maha Kuasa! Aku tidak percaya Maha Kuasa!
A-ha! Maha Kuasa! Ya! Aku agak mengingatnya. Terakhir kali aku berada di sebuah gereja dengan tebing tinggi… Tunggu…
Itu Inggris. Ini India. Bukankah aku miskin? Tidak mungkin aku?
Tiba-tiba, pedih itu tak tertahankan. Akhirnya, mungkin karena aku berusaha terlalu keras tadi; maka muntahan darahku semakin hebat. Mengenai rambut dan baju sang istriku itu. Aku amat sangat kesakitan.
Kembali, bayangan tentang kematian api, ombak, awan, pisau, dan sebagainya itu terus berputar dan tidak mau mengalah. Aku bahkan semakin lama tidak dapat melihat gambaran mereka semua lagi. Aku kembali buta dan tidak berdaya. Kembali pada titik nol. Semua gelap seperti saat aku baru bangun dari tanah merah dalam gang kumuh itu. “Suamiku! Suamiku!”

“Tuan! Tuan! Sadarlah!”

Perlahan aku dapat mendengar mereka, bagaikah gema yang lembut. Semua bayangan kembali. Berputar…

Aku… Jameson… yang mati terbakar ketika aku hendak menyelamatkan seorang gadis kecil. Aku… seorang pemadam kebakaran di Manhattan.

Lalu, aku… Victor… yang terjatuh dari tebing dan mengenai karang dan ombak mematikan; kala itu aku melihat panah saudari tiriku menancap dan mendorong jatuh ke tebing. Ya! Aku ingat pandangan sinis wanita iblis itu terhadapku.

Ya! Aku… Letnan Samuel King yang mati tertusuk pisau saat hendak berperang melawan para prajurit Vietkong. Dan saat itu platoon dua mundur dan pasukanku kehabisan amunisi…

Ah! Ah! Aku tidak tahu… Aku tidak tahu… Aku… Kau…
Tunggu! Kurasa aku tahu… Aku mengingat nya… kurasa.
Aku bukan Rakesh. Aku bukan Sam, Jameson, Zhou dan aku bukan Wienderg!!! Aku bukan siapa-siapa dan aku hanyalah cahaya. Dulunya aku adalah seseorang, tetapi aku sudah melupakannya.
Pandangan kosong itu tiba-tiba bersambut dengan keheningan total.

TAK lama, suara itu pun datang. Kini dengan suara-suara dalam bahasa Cina. Ah! Aku tahu bahasa ini dan dengan segera, entah bagaimana, seakan-akan aku sudah bisa berbahasa Mandarin dan, aku mulai merasakan bahwa tubuhku kembali berwujud badan bukan perasaan melayang seperti sebelumnya.
Ah! Perubahan mendadak ini! Jika aku sial. Maka ilmu transformasi… Aku selalu mati, tetapi aku tidak pernah ke alam sana. Aku tidak pernah 'menyebrang'. Aku selalu hidup! Dan setiap saat percobaanku gagal, maka aku akan mencoba terus hingga tempat yang tepat adalah surga…
Perlahan aku merasakan kenikmatan dalam rintikan-rintikan hujan yang mengenai wajah, lalu kemudian merasakan lumpur di wajah. Aku merasakannya—suara-suara letusan senjata api dan dingin beserta hawa kebencian dari banyak orang di sekitar.
Bahasa-bahasa Cina dan sahutan meminta tolong. Dan saat itulah aku terbangun total! Mataku terbuka.
Ah! Lagi! Apakah aku berhasil?
Aku baru sadar, ternyata, jika 'tuan rumah'-ku itu terlalu lemah, maka efek sampingnya adalah kelemahan otakku. Ini terlalu riskan, maka tubuh dan jiwa menolak dan mencari tuan rumah baru!
Ok! Sekarang aku siapa! Apakah orang Asia lagi?
Segera aku bangun dan perlahan merundukkan kepalaku untuk bersembunyi dari teriakan-teriakan itu. Dan aku melihat sebuah kaca…
Aku kini seorang Cina…
Tetapi— apa ini…
Entah apa, tiba-tiba dadaku sesak. Ah! Sial, tubuh yang rusak lagi?
Dan saat itu aku tersadar, mungkin karena yang pertama kali, tetapi tuan rumah 'Rakesh' itu kurasa telah memberikan efek buruk. Selama ini tubuh-tubuh itu memiliki histori yang indah hingga aku memutuskan mengakhirnya; atau setidaknya ketika memang saatnya berakhir. Tetapi dalam 'Rakesh', dalam dirinya kini kenangan dan penyakitnya telah membawa serta dalam diri ini. Dalam tuan rumah baru ini pula. Kesengsaraan.
Sial! Rakesh pun mengutuk perbuatanku. Rakesh sialan! Kau… Aku masih Rakesh! Aku masih Rakesh!
Tak lama, aku pun segera merasakan pedih di tenggorakanku, pedih sekali. Dan seketika; batuk yang luar biasa kencang, tidak berhenti dan mulut ini memuntahkan darah kembali. Tanpa henti. Darah. Darah. Darah. dan terus hal itu berlanjut hingga aku terkulai lemah…
Aku tersungkur kembali di derasnya peperangan—entah apa—itu. Aku kembali tenggelam dalam kegelapan dan gema malam itu. Aku kembali…
Oh tidak! Rakesh mengutukku! Ia mengutuk jiawku. Rakesh sial! Apa kau marah padaku?
Dan aku sadar bahwa 'proses' itu kembali terulang. Kali ini amat cepat. Dan kini seorang wujud Eropa telah aku miliki. Tetapi, Rakesh itu… Aku telah dirasuki oleh tubuhnya. Aku telah dirasuki. Atau aku telah menanamkan sistem 'Karma' sehingga aku terhukum oleh kepercayaan Rakesh? Aku harus sama menderitanya. Aku harus selalu mati. Tanpa sempat mengecap kehidupan baru kembali?
Rakesh! Rakesh! Diriku! Tolong hentikan. Sekarang.

LAGI… saat aku terbangun dari sebuah tempat tidur kumel. Aku kembali mengeluarkan darah dan batuk itu—kembali membunuhku. Tetapi… Sialan! Aku tidak bisa mati secara utuh.
Dan semua itu karena Rakesh…
Rakesh…
Rakesh…
Aku…Tidak…
Tidak pernah berakhir dan berputar bagai roda.
Aku terkena kutukan. Aku terkena hukuman.
Tolonglah, Rakesh… Hentikan… Hentikan roda ini… Rakesh…
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Alex's writing