ARDOR - For the Misery, I Pray (chapter 2) by Alex Jhon

200154
genre

description:
2nd Book of Memoirs Chronicles



chapters

chapter 1: Talking with a God

chapter 2: For the Misery, I Pray

chapter 3: Karma

chapter 4: DIE!


For the Misery, I Pray
chapter 2   —   updated Jul 18, 2007   —   18087 characters   —   0 people liked this writing
Quintes Agrippa
1437

HIDUPNYA sebagai seorang budak sudah menjadi sebuah putaran tiada ujung dengan ketetapan jalur yang pasti. Ia tak mau dan tak peduli lagi akan batasan antara hak dan kewajiban. Wanita ini bahkan sudah lupa cara menyebutkan bahasa aslinya. Lidahnya kelu dan tak lagi dapat menyebutkan dengan kesungguhan.
Dan di sinilah, sebuah kota kecil dengan ladang gandum yang besar, ia; nyawa dan tubuh, dimiliki oleh sekeluarga bangsawan Portugis yang aristrokat.
Quintes Agrippa, adalah nama dari budak tersebut. Dengan pakaian putih lebar yang kumel, celemek merah jambu bermotifkan bunga-bunga daisy yang sudah compang-camping, dan kadang bau asap dan sebagainya. Dan wanita budak ini tak mempermasalahkannya sama sekali.
Ini semua… Ini demi anaknya. Anak satu-satunya, Windsor.
Ya! Windsor. Ia menamainya nama Eropa karena ia ingin anaknya mendapatkan pengakuan nantinya. Dalam hati kecilnya, ia selalu berharap bahwa suatu hari, mungkin nanti, entah kapan akan terjadi keajaiban dan persamaan hak antara si putih dan si negro menjadi setara. Tak ada lagi kata “budak” jika seseorang itu bukanlah seorang Eropa. Dan tak ada lagi perbedaan jika engkau entah makan, tidur atau bahkan berdoa di gereja. Tak akan ada lagi. Dan Quintes berharap anaknya, Windsor dapat tumbuh dewasa dan kedewasaannya akan bersahutan dengan alam kebebasan hak itu.
Maka, ia mendidik anaknya menjadi seorang Kristen yang kuat. Setiap minggu ke gereja bersama keluarga tuannya—walaupun akhirnya mereka akan memisahkan diri karena dianggap terlalu melanggar regulasi tetap inkuisisi gereja. Perbedaan ini. Bahkan tempat yang ia anggap suci masih menyimpan batasan itu. Batasan sebuah darah daging dan bukan roh yang menyanjung sang Bapa.
Setiap hari, Quintes akan selalu berdoa, walaupun ia berdoa dengan merasakan kebingungan—kebingungan ketika ia merasa bahwa ia telah melayaninya dengan kebimbangan itu. Seperti kincir angin yang berputar dan jawaban itu entah tenggelam atau entah di mana. Tersembunyi. Pengharapannya.
“Oh Bapa yang suci, aku mohon dengan sangat, Berkatilah Windsor agar ia menjadi anak yang kuat dan bersahaja, lindungilah dia. Amien.”
Tetapi…
Hari ini agak berbeda dari biasanya, hari Minggu yang suci yang begitu khidmat ia jalani berubah menjadi tragis ketika perjalanan pulang dari Gereja St. Luisa dan kembali ke rumah majikannya yang megah—
Quintes dan Windsor sedang berjalan dengan rileks sembari menatapi ladang gandum dan lingkup daratan yang serba keemasan.
Quintes seperti biasa menggandeng anak lelakinya yang masih berusia 17 tahun itu. Windsor tak pernah risih, ia amat mencintai ibunya. Ia akan melakukan apapun demi namanya.
Dan semua itu terbukti…
Minggu siang yang cerah itu, di sebuah persimpangan ladang yang sepi, mereka berdua di sergap oleh seorang perampok—mungkin hanya penggertak—yang menginginkan uang dari nyonya hitam tersebut. Quintes sangat ketakutan dan menyerahkan sekantung kulit yang kumel ke tangan pria Kaukasia berwajah sangar itu.
“Hei budak hina! Serahkan semuanya! Apa hanya ini—” ia merasa tak puas dengan kantung kumel tersebut dan membuangnya ke tanah.
Windsor memperhatikan bahwa sang pencuri itu nampaknya hanya mencari sensasi kepuasan dalam mengganggu seorang negro di sebuah siang yang biasa. Ia amat emosional kala itu, dan…
“Ugh! Kau!”
Segera, Windsor mendorong jatuh pria itu yang kebetulan memang terfokus pada ibunya yang ia amat sayangi. Perkelahian pun tak dapat terelakkan. Quintes histeris dan berteriak memanggil, 'Jesus' beberapa kali dan menyuruh anak satu-satunya itu untuk berhenti, “Oh Jesus! Windsor! Hentikanlah! Winds…”
Perkelahian itu menjadi semakin menegangkan. Semua darah, baku hantam dan pukulan yang berbunyi nyaring dan meremukkan tulang.
Dan tak lama setelahnya, kepanikan itu… berhenti senyap.
Semua suara itu terhenti saat akhirnya Windsor menggiring si kaukasia kasar yang menggangu ibunya ke sebuah pohon dengan batu besar di bawah rimbunan cahayanya.
Ia mendorong jatuh dan memecahkan kepalanya hingga isi dari semuanya berceceran di permukaan dan sekitar batu bulat tersebut.
Windsor terdiam. Ia tak dapat berkata dan ia tersungkur ke tanah kelelahan. Nafasnya tak beraturan. Entah karena takut atau puas.
Sedangkan sang ibu hanya menatap ngeri. Sang anaknya membunuh orang hari ini! Ia merenggut dadanya dan bersimpuh pasrah ke tanah emas itu. “Oh Windsor… apa yang telah kau lakukan nak?”
Windsor menatap sang ibu dengan tatapan kosong, “Mama! Windsor lakukan ini untuk… huff… huff… ma-ma!”
Sang ibu budak itu hanya terdiam sementara. Ia tahu bahwa sekarang di jalan ini ia tak melihat satu orangpun.
Maka… ia segera berkata dengan lantang dan bangkit dari kegamangannya, “Windsor! Ayo kita pergi! Sekarang!”
“A-apa!”
“Apa kau mau di sini hingga semua orang kulit putih itu melihatmu membunuh seorang dari pada mereka dengan keji seperti ini? Apa kau mau mati mengenaskan?”
Windsor menggelengkan kepala secara tak sadar dan memberikan ekspresi bingung sembari mengelus kepalanya yng agak botak dan licin. “Uhm, aku tidak ingin…”
“Well! Cepatlah bangun!”
Quintes yang cemas menarik sang anak dari posisi duduknya dan segera melesat pergi melalui ladang itu dan semua perbuatannya pada seorang pencuri kaukasia pada minggu yang sakral baginya tersebut.

RUMAH sang majikan…
Malam hari ini adalah malam yang tak dapat membuat sang ibu tidur dengan nyaman. Mereka kini berada dikamar tidur yang berlapiskan jerami dan dua lampu minyak berkarat yang tergantung di kedua kayu penyangga kamar kecil mereka. Walaupun para budak di rumah Tuan Von Terrence ini diberi sebuah kamar untuk setiap budaknya, tetapi Windsor tak ingin tidur di tempat lain kecuali bersama ibunya, ia ingin menjaganya setiap saat.
“Windsor…” Quintes mengeluarkan suara pelan, ia tak mau membuat seisi rumah ini mengetahui kejadian tadi siang di ladang gandum tadi.
“Ya mama?”
“Kau… apa kau tidak apa-apa?”
“………Entahlah mama, siang ini aku telah membunuh…”
“Shhh! Apa kau mau seisi rumah ini tahu?”
Hening.
Windsor menghela nafas dan bangkit dari tempat tidur jeraminya dan segera bersimpuh di hadapan ibunya, “Mama, Windsor tahu dosa Windsor hari ini, mama tak usah bimbang dan kebingungan. Windsor dapat menjaga diri Windsor sendiri.”
“Apa maksudmu nak?”
Windsor segera bangkit dan kembali ke tempat tidurnya dan kembali duduk di tumpukan seprai dan jerami tebal itu dan tersenyum kecil sehingga dapat terlihat giginya yang agak kekuningan, “Besok Windsor akan menyerahkan diri!”
Quintes kaget dan terharu. Anakku…
“Dan sebelum itu alangkah baiknya jika aku ke St. Luisa untuk mengakui dosa. Ibu, Windsor sebenarnya ingin terus menjaga ibu tetapi, jika ini terus disembunyikan maka, Windsor takut ibu akan terlibat karena membantu Windsor untuk bersembunyi dan…”
“Cukup!” Quintes segera berbalik muka dan tidur membelakangi anaknya yang sedang berkonklusi. “Terserah kau Windsor… Mama… mendukung apa pun yang akan kau lakukan.”
Selintas Windsor dapat mendengar isakan kecil sang mama. “……terima kasih, mama.”
Dan malam itu berlalu.
Quintes sebenarnya menangis dan tersenyum karena ia bangga bahwa anaknya memiliki 'kejantanan' itu untuk mengakui seluruh dosanya, ia berpikir jika saja Windsor mengakui maka mungkin kejahatannya akan diampuni. Lagipula, sang kulit putih itu juga ingin merampok mereka. Sang ibu menjadi tenang. Ia memiliki alibi. Dan sungguh, malam itu berlalu dengan ketenangan yang sepatutnya atas sugesti.

SUDAH menjelang makan siang, dan Quintes sedang sibuk-sibuknya menyiapkan makanan bagi tuan dan keluarganya tersebut. Di dapur, bersama budak-budak perempuan lainnya.
Semua begitu sibuk memotong, merebus dan menghiasi piring-piring keramik putih dengan berbagai sayuran segar dan daging panas yang menguap.
Salah seorang budak wanita yang agak muda berbicara dengan Quintes seraya tangannya mengupas bawang bombay, “Hei nyonya Quintes, anakmu rajin sekali ya? Pagi-pagi katanya sudah mau ke gereja? Kau pasti bangga?”
“Ya! Anakku Jeremiah tak mungkin sebegitu tekunnya. Haleluyah bagimu Quintes!” dan seorang budak wanita separuh baya lainnya menimpal dengan senyuman seraya mengangkat kepalan tangannya di udara.
Quintes hanya menghela nafas dan kembali terfokus pada hiasan-hiasan sayur dan buah di piringnya tersebut. “Ya… mungkin kau benar Antoinette, Madgalena…”
Dan semua kembali bekerja dengan tangan dan peralatan dapur. Siang yang melelahkan, seperti biasa. Untuk menyenangkan dan sebagai imbalan atas jasa tempat tinggal dan makanan apa adanya, mereka semua harus melayani. Dan apalagi mengingat mereka telah 'dibeli'. Entah apakah Quintes menyesalinya sekarang karena wajahnya menampakan kekosongan dan wajahnya menekuk pedih.
Dan semua itu pun berlalu.
Makan siang telah dihidangkan dan semua budak menyingkir setelah itu. Mereka makan di tempat lain, di mana pun asalkan bukan bersama tuan mereka dan keluarganya.
Makan siang para budak. Biasa; hanya terdiri dari roti gandum, sup ayam, dan air. Ini saja sudah terbilang mewah bagi mereka. Malahan selain daripada itu, mereka semua tak pernah mencoba menu sang majikan kecuali saat sedang membuatnya, dan itu pun hanya sedikit karena mereka takut akan mencemari makanan mereka. Mereka telah ditanamkan ide ini, dan semuanya percaya bahwa kesucian kulit putih lebih tinggi. Dan Quintes pun setengah mempercayainya.
Akhirnya, waktu makan siang bagi mereka semua telah selesai. “Huff! Saatnya bersih-bersih…” Madgalena mencibir.
“Aha ha ha! Ya kau benar nyonya!” Salah seorang pelayan lainnya menyahut.
Dalam suasana riang ini, tiba-tiba Pereccio, salah seorang budak penjaga istal kuda datang sambil tergesa-gesa, “Qui-Quintes! Mana dia? Cepat!”
“Ya! Ya! Ada apa Pereccio?” Quintes pun muncul sembari mengelap kedua tangannya ke celemek. “Tenanglah Pereccio! Ceritakanlah?”
Pereccio merangkul bahu Quintes, matanya memandang tajam, “Quintes, cepatlah, anakmu, Windsor kini berada di halaman Gereja St. Luisa untuk… dibakar hidup-hidup! Entahlah mengapa, kudengar ada pembunuhan dan…”
Segera Quintes pergi sebelum Pereccio sempat menyelesaikan kalimatnya.
Ia segera pergi meninggalkan semuanya, berlari, cepat, tanpa kuda. Ia bergegas ke St. Luisa—
Me-mengapa begini? Bukankah ia seharusnya sudah berada di markas polisi dan ditahan? Dan bukankah tempat penghukuman… Mengapa ada di Gereja St.Luisa? Bukankah itu gereja bagi orang negro seperti kami. Untuk apa mereka melakukannya? Untuk apa? Oh Windsor…
Langkah kaki sang ibu panik itu menjadi seribu tanpa bayangan. Ia tak merasakan pegal, keringat, dan panas. Ia hanya merasakan seluruh kepanikan ini memutari kepalanya. Ia melewati seluruh sungai, jalan dan debu ini sambil menghiraukan seluruh kicauan burung. Demi anaknya. Demi keselamatannya. Jika saja ia angkat bicara.
Ya! Mungkin saja ia tak diberi kesempatan oleh mereka untuk menceritakan bahwa orang itu ingin mencuri.ya!… Aku harus cepat…
Berlari. Dengan kecepatan seorang ibu yang begitu ketakutan. Kasih sayang yang tertumpah ruah tanpa pamrih. “Windsor…”
Dan tak lama setelah itu, ia sampai di St.Luisa.

SUDAH berhenti gegap. Semua rasa itu bagaikan patung saat ia melihat kobaran api di sebuah tiang kayu yang dipancangkan di tanah. Dan di dalam kobaran api yang menjilati angkasa siang itu, ada seseorang. Windsor… menangis, mengeram, berteriak, memanggil ibunya. Tetapi orang-orang kaukasia itu hanya tersenyum bangga. Bahkan para pastur menyelamati para polisi berseragam dan berkumis itu. Mereka bangga! Amat bangga. Sedangkan para negro; saudaranya, hanya terdiam dan menunjuk ke arah tiang api itu sembari menutupi wajah mereka dari rasa panas.
Suara gemeletuk. Daging yang terbakar. Suara erangan yang semakin lama, perlahan menghilang. Dan siang itu, saat api telah mengalahkan suara teriakan Windsor anaknya, maka suara kobaran itu telah menandakan bahwa kini putranya telah tiada. Quintes pun bersimpuh dan menangis kencang. Berteriak dan mencakar tanah cokelat di kakinya. Ia mengerang sembari berteriak ke angkasa, “Oh Tuhan! Mengapa? Mengapa?”
Seketika itu, teriakan Quintes terdengar dan seluruh khalayak memperhatikannya. Terdiam. Semua bagaikan hitam putih. Siluet dengan latar belakang api yang merah. Menari-nari di atas nyawa anaknya. Sang ibu budak nan sedih itu segera bangkit. Bangkit dari kesedihannya dan berteriak, “Kalian! Keparat! Apa yang kalian lakukan pada Windsor? Mengapa?”
Seorang perwira kaukasia segera mencegah nyonya itu, “Nyonya! Tenanglah, pemuda ini telah membunuh seorang kulit putih. Kau tahu hukumannya amatlah berat bukan?”
Quintes membelalakkan mata, “Tetapi, dia anakku!”
Semua terkejut. Bahkan perwira tadi dan ia tak sadar melepaskan tangannya dari Quintes.
Quintes kembali berlari menuju ke kobaran api itu. Dan ia kembali bersimpuh. “Mengapa? Apa kalian tidak tahu? Apa kalian…”
“Nyonya, kami bukanlah ingin membunuh seorang budak begitu saja tetapi, ia memang benar-benar membunuh.”
Quintes menunjuk tiang api yang mulai perlahan berkobar tersebut, “Tetapi ia membunuh pria putih itu karena ia hendak mencuri! APAKAH ITU DOSA? Apakah dosa bagi Tuhan kita untuk seorang anak melindungi ibunya?”
Semua terdiam. Tanpa suara. Dan seorang pastur kaukasia maju mendekat dan bersimpuh di dekat Quintes yang masih menangis, “Nyonya… Siapakah namamu?”
Ah! Seorang pastur kulit putih, Percuma! Ia juga terdiam!!!
“Quintes, Quintes Agrippa! Sudahlah pastur! Aku tahu kau pun tak peduli.”
Pastur itu lalu berdiri dan sembari memegangi salibnya ia berkata dengan menutup mata dan merentangkan tangannya, “Inilah… jalan Tuhan. Inilah kehendaknya. Kau tahu nyonya, jika kejahatan seorang budak dibiarkan, maka semua hak mereka akan terbuka lebar. Kesamaan hukum yang diidamkan. Jadi, kumohon nyonya, jadikanlah putramu sebagai panutan, bukan hanya bagi bangsamu tetapi, bagi kami semua… Seperti kala itu saat Jesus mengorbankan dirinya…”
“A-apa! Aku tak percaya kau mengatakan semua ini pastur!” Quintes berdiri dan, PLAK! —menampar pastur tersebut.
Semua khalayak terkejut akan perilaku Quintes.
Tiba-tiba secara selintas sang ibu itu mendengar suara dengungan yang amat memorial.
Suara dengungan dari kobaran api yang perlahan padam itu,

“Ma-ma, buktikan kesungguhanmu… ma-ma…”

Suara Windsor…
“Ah!” Quintes terkejut dan segera perlahan berjalan tertatih ke arah kobaran api tersebut.

“Mama… Windsor kepanasan. Ha ha ha! Windsor kini sudah tahu bahwa mereka semua, bahkan saudara kita sendiri adalah pengkhianat karena ketakutan mereka! Mama! Tolonglah! Buktikan kasih sayangmu, buktikan aku tidak bersalah…”

QUINTES terdiam, ia merenung. Inilah permintaan terakhir putra kesayangannya. Entah pesan ini dari mayat hangus yang berada di palang itu ataukah kegilaannya. Yang jelas. Ia merenung dan semakin mendekati api itu.
“Nyo-nyonya! Tolong jangan mendekat lagi!” Sang pastur itu mencoba menolongnya tetapi, ia terlalu takut akan bara itu. Maka ia kembali ke khalayak dan semuanya memperhatikan secara seksama apa yang dilakukan Quintes—sang ibu itu.
Sementara api masih menari-nari di atas penderitaan anaknya yang ia sayangi.
“Aku… akan membuktikan kesungguhanku! Bahwa putraku hanya berusaha melindungiku!”
Ia lalu membalikkan wajahnya ke seluruh khalayak di St. Luisa ini, “Saksikanlah sang ibu. Nyawaku pernah diselamatkan olehnya, maka nyawa ini akan kukembalikan padanya. Pada anakku!!!”
“Apa!” Semua khalayak hampir meneriakkan kata ini.
Seketika itu pula, Quintes melemparkan pasir beberapa kali ke arah palang api itu sehingga padam dan berasap. Semua heran. Apa yang hendak dilakukan ibu gila itu?
Lalu Quintes mengambil beberapa serpihan tulang hangus sang anak dari bagian dada, “Dengan ini, aku amat benci dengan ketidak adilan ini! Aku tidak mau mati dengan cara yang sama dengan kalian! Aku akan mati atas nama anakku, dan aku tak akan berbicara lagi. Atas nama Tuhan kita yang sesungguhnya sama…”
Dan tulang-tulang itu ia tancapkan secara liar disekujur tubuhnya. Seluruh darah mengucur, suara sayatan daging dan sobekan itu terlihat dari baju kumelnya. Darah dan meringis menahan sakit.
Dan terakhir, “Dan terakhir, kalian semua, saudara-saudara; kulit putih atau budak! Inilah pengakuanku! Aku tidak mau hidup dengan aturan ini… ”
Mata sang ibu putus asa itu tiba-tiba berkesan kosong dan tangannya segera menusukkan tulang berlumuran darah dan daging tersebut ke tenggorokan dan mengoyak-ngoyakannya ke kanan dan ke kiri sehingga tak lama kemudian, sang ibu itu terjatuh ke tanah. Kejang dan mengeluarkan banyak darah. Tidak berhenti, dan semua menatap jijik.
Mata Quintes melebar dan wajahnya membiru. Sekujur tubuhnya perlahan berhenti bergerak dan bernafas. Cahaya kasih sayang itu perlahan memudar.

SIANG itu di gereja St. Luisa, semua menyaksikan sebuah kesaksian maut sang; ibu Quintes Agrippa terhadap kejahatan anaknya dalam cara tak biasa.
Dan semua itu berakhir dengan keputusan sang pastur tadi bahwa sebaiknya sang ibu dikubur bersama sang anak agar tidak begitu mengeluarkan biaya banyak.
Semua budak menatap jijik. Tapi lagi, semua tak dapat berbuat apa-apa. Dan akhirnya mereka pun pergi dari kelompok kaukasia itu yang masih bingung, bangga, dan terpesona atas hasil mereka daripada kedua budak itu. Mereka merasakan bangga yang amat terhadap kedua mayat budak yang berada di depan pekarangan gereja tua tersebut.
Dan terakhir kalinya, sang opsir menyalami sang pastur dan berkata sembari melintir kumisnya, “Kurasa… kita berhasil lagi Tuan Pastur?”
“Ya! Tuan Hendrick. Kita telah menyelamatkan muka kita lagi hari ini. Dengan ini, mungkin kita akan mendirikan kota kita tanpa pencemaran mereka.”
Dan mereka semua; para pengurus gereja dan para opsir polisi, tertawa sembari meninggalkan Quintes dan Windsor di lapangan berdebu tersebut.
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Alex's writing