ZILCH - MADOC the Terrible (chapter 3) by Alex Jhon

200154
genre

description:
4th Book of Memoirs Chronicles



chapters

chapter 1: Dunia alur tembaga

chapter 2: rain

chapter 3: MADOC the Terrible

chapter 4: deadly sweet mother


MADOC the Terrible
chapter 3   —   updated Jul 18, 2007   —   4288 characters   —   0 people liked this writing
Madoc D'Arcaid
1577

DI antara bebatuan terjal dan karang perak berlapis, Madoc melangkahkan tapakannya sedikit demi sedikit, sembari menepis debu yang tersaput di mata biru bak lautannya, Laut… Laut yang terus-menerus berada di sampingnya-lautan yang begitu terbentang luas dan mati.
Madoc merapatkan syal kusut ke lehernya yang pucat, menegangkannya sehingga ia benar-benar sudah tak dapat merasakan lagi perasaan menggigil dan beku itu. Sesekali ia akan meniupkan udara hangat dan merapatkan kembali kedua tangannya, menggengam layaknya berdoa.
“Di mana…” ia melirih pelan.
Tapakannya semakin melambat, pandangannya semakin mengabur. Ia berkali-kali mencoba menahan haru di matanya yang biru namun, lambat laun daya tubuhnya yang kian rapuh tak dapat menipunya kali ini.
Ia lemah.
Ia melemah karena sekarang matahari masih menyinarinya dengan cahaya yang sedemikian jingga itu. Titian pantai dengan nuansa perak biru dan emasnya laut, diselingi oleh debur ombak dan pasir-pasir tipis.
Madoc melemah.
Madoc menghilang dari gapaian langit kesadaran sesaat ia sadar bahwa ia sudah hampir sepersekian jam berada di kilauan matahari senja yang seharusnya tak membunuhnya secara cepat tetapi, perlahan dan pasti…
Madoc tidak ingin mati, tetapi jika ia bertahan lebih lama lagi di tepian-tepian karang itu maka, saja seperti seperti jika matahari siang yang menyinari tubuh abadinya yang terkutuk.
Ah! Aku akan mati! Menjadi onggokan debu makhluk berdosa.
“Di mana… di mana aku harus keluar… gerbang, semua… ter-lalu tinggi…”
Madoc mencoba menahan semua kata-kata umpatan. Ia sudah tak sanggup mengeluarkan emosi dalam tahap apapun. Kelemahan dan kerapuhan jiwa, ketidakpercayaan bahwa ia sekarang menghindarai apa yang sedari dulu ia cari-sebuah tempat tinggal.
Langkahnya terus mencari seiring mata itu melihat kesana-kemari. Mencari dataran rendah di antara karang-karang terjal yang mengitari tubuh pucatnya.
Terhalang dari dunia luar-dari bebatuan, langit, laut dan matahari. Ia sama saja seperti mati namun, ia tidak ingin mati! Jika ia ingin mati, lebih baik ia kembali ke gua itu.
Ugh!… Impera et Aire…
Entah mengapa, ia mengutuk pikirannya takala terlintas begitu saja kata itu. Bahwa ia tahu sudah tak mugkin lagi untuk keluar dari penjara alamiah ini hidup-hidup. Ia semestinya kembali ke gua sial itu, tidak ada jalan lain!
“Sial! Semua karang terlalu tinggi! Aku tidak mampu menerbangkan tangan berdaging ini! Aku tidak bisa tenggelam dan sampai di Atlantis begitu saja! Aku… aku tidak mau mati! Apakah…”
Madoc melirik kembali ke arah belakang daripada tubuhnya yang terbalut jas tebal berwarna lusuh. Rambutnya yang panjang dan ikal mencakar pelan pipi kirinya bersamaan dengan angin laut yang sejuk dan menyiksa.
Kembali?
Ia tidak percaya bahwa, ia memikirkan untuk kembali ke tempat sial itu, tempat di mana makhluk sepertinya tidak dapat beristirahat dengan tenang.
Ia tidak percaya bahwa, ia rela mengorbankan kebebasannya demi agar ia dapat bertahan hidup dalam nafasnya yang berdosa dan kekal itu!
Kem…ba… li…
Madoc seperti terhipnotis, tubuhnya yang sempoyongan berjalan tertatih kembali ke mulut gua yang bagaikan lukisan horror pelukis psikopat.
Angin dan senja mulai mereda.
Ia sebenarnya sudah mulai kehilangan rasa ngeri dan perih itu di kulitnya yang pucat. Ia sudah mulai merasa hidup tetapi, ia tahu bahwa… Ia tahu bahwa semua pelariannya adalah percuma. Karena walaupun malam semakin menggeluti senja, ia tetap tidak dapat terbang ataupun tenggelam; keluar dari teritori Impera et Aire.
Akhirnya-
Madoc pun kembali tertatih dan meringis pelan sembari memohon kepada Tuhannya (sesuatu yang tidak pernah ia lakukan setelah sekian lama). Dan ia memohon agar ia telah melakukan keputusan yang tepat dengan memasuki kembali tempat di mana kakinya sepersekian jam yang lalu enggan menginjak dan menyentuh…
“Oh… TUHAN! Terkutuklah kaum pemuja daging dan darah, sambutlah aku kembali… karena aku… tidak mau mati. Ya…”

AKHIRNYA Madoc pun menghilang dalam kegelapan mulut pintu gua Impera et Aire. Seraya malam pun datang dan mengitari senja yang musnah tertelan langit-langit kelam. Karang-karang terjal itu kembali tertidur dan menutupi laut dengan selimut kehangatan semu.
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Alex's writing