ZILCH - rain (chapter 2) by Alex Jhon
chapters
chapter 1:
Dunia alur tembaga
chapter 2:
rain
chapter 3:
MADOC the Terrible
chapter 4:
deadly sweet mother
rain
chapter 2
—
updated Jul 18, 2007
—
5375 characters
—
0 people liked this writing
Raymundo
2005
18:22
SORE ini aku terdiam di antara tangga-tangga taman kota. Kututup mataku dan membayangkan tetesan air hujan yang deras itu melapisi tanah lembek, dedaunan dan kelopak-kelopak Dandelion dengan khidmat. Aku membiarkan imej jalanan bersemen, gedung-gedung dan orang-orang yang berlalu lalang seakan-akan tidak pernah ada.
Ya!
Aku sekarang… berada di sebuah taman yang luas—tunggu… uhm… hutan di tengah-tengah kota? Ya! Itu kebih baik, dengan hujan yang masih turun dan begitu dingin, beserta air dan angin.
Ah! Yang jelas sekarang aku berada di dalam sebuah tempat di mana pohon-pohon tinggi itu menutupi awan yang semakin kelam yang bagaikan siluet kain beludru, dan hujan masih tetap kokoh dengan irama kental di dedaunan yang lebat dan hijau. Sedangkan aku… hanya memandangi sinaran dan tebaran lampu-lampu bola berwarna putih yang menyinari sepanjang jalan setapak itu.
Udara dingin kembali berhembus, rintik hujan yang damai, harum uap udara dingin yang bercampur dengan wangi tanah dan imej es balok yang menguap—angin yang terus menerus berputar dan membuatku berfantasi indah. Ah! Sore… yang menjadi malam…
19:05
URRGH! Tubuhku letih! Aku ingin pulang!
Aku pun meninggalkan taman kota itu dan kembali berjalan. Aku berlari kecil, menampik tetesan hujan dengan tangan kuat ini, merapatkan jaket merah tebal melewati batas hidung, melakukan apapun untuk tidak menjadi basah dan kedinginan sebelum aku benar-benar masuk ke bathtub hangat di apartemenku.
Kadang aku akan rela membiarkan wajahku menjadi basah karena entah mengapa aku ingin menatapi langit kelam itu—benar-benar tanpa maksud, seperti insting. Dan saat itu yang ada di benakku adalah; ‘Ah! Bulan Purnama! Sudah saatnya lagi?’ dan ‘Oh betapa indahnya, kabut yang mengelilingi, seperti kupu-kupu emas mengitari lily—‘.
Kupu-kupu emas…
Bulan purnama. Tempat kabut berkelut dengan bintang dan ketenangan.
Entah mengapa, tiba-tiba dada ini menjadi amat panas, gairah memuncak seperti hendak bercinta. Begitu riang dan seakan-akan ada segumul energi yang entah dari mana akan segera memuncak dan keluar begitu saja dari seluruh penjuru tubuhku. Semua menjadi indah. Semua… menjadi seperti pasangan seks terbaik yang akan kumiliki. Dia; wanita pirang itu, pria kurus berkemeja kotak, si penjaga toko roti Juan Pacche yang sering aku sapa, si penjual bunga dengan dadanya yang berisi, semuanya! Aku ingin bercinta dengan semuanya!!!
Tapi… tak beberapa lama kemudian, tubuhku… tubuhku mulai melemah. Mataku seperti hendak menutup dan amat sangat berat. Seperti sugesti jika aku menutup dan merelakan mata ini untuk tidur bersama denganku di jalanan becek ini maka, musnahlah sudah nyawa…
Urgh! A-aku tidak bi-bisa…
“Ups!” Hampir saja aku jatuh ke selokan. A ha ha! Untung tidak ada yang melihat. Oh! Nampaknya aku memang harus kembali segera.
Bulan…
Entah… bulan itu… telah mempesonakanku kembali, malam ini… Ah!… Mataku… jiwaku… gairahku… biarkanlah mengalir. Ya! Aku ingin tidur dan merelakan lagi… Lagi.
20:37
BRUKK! Aku merebahkan tubuhku ke kasur empuk yang hangat dan lembut; menggeliat seperti anak kecil dan memutar-mutar kaki, bermain sembunyi dengan untaian selimut tebal. Lampu-lampu neon kubiarkan semua menyala. Begitu terang sehingga aku bisa melihat kaca besar berukirakan Cupid yang berada tepat di hadapan kakiku. Cermin itu pun membiaskan cahaya dan kejelasan akan betapa bobroknya dindingku, dengan poster-poster band Indies underground German yang banyak orang tidak tahu. Ah! Begitu banyak energi di ruangan ini. Di ruanganku. Tetapi, mengapa aku sangat mengantuk?
Saat itulah aku segera beranjak dari kasur dan menuju ke kamar mandiku yang tidak elegan dan setengah cerah. Namun ada sesuatu—
Sepertinya aku… sudah…
Entah mengapa aku sepertinya sudah mandi dan aku sudah pulang sedari tadi! Tetapi! Tetapi itu tidak mungkin! Bukankan aku baru saja pulang? Tu-tunggu!
“Oh… sudahlah! Pasti terjadi lagi… Oh! Sial! Brengsek!” Aku menggerutu kesal.
Aku tidak menggubrisnya lebih jauh. Aku benar-benar lelah dan perutku entah tiba-tiba merasa mual, begitu berat sehingga aku ingin menggeram seperti hewan kesakitan.
Urgh!!! Apa yang telah aku makan tadi… Si-sial!
20:45
TAK lama kemudian, aku merebahkan kembali diriku di tempat tidur, menatapi langit-langit yang berlumut dan aku baru ingat untuk mengunting kuku karena besok aku harus mengikuti les gitar yang membosankan itu lagi.
Aku membiarkan mata menatap kedua tanganku yang kuangkat ke atas—menutupi biasan lampu neon nan cerah itu. Aku membiarkan suara deras hujan yang masih menguyur kota San Pablo dengan irama kentalnya. Masih tersimpan rasa manja dan dingin—
Oh! Ti-tidak! Pa-pantas… Pantas saja aku—
Sungguh! Aku masih selalu terdiam dan tak dapat berkata-kata, mulut dan peraasaanku seakan-akan terkunci. A-apa yang harus aku rasakan sekarang? Aku terdiam. Berbaring dan pasrah saat menyaksikan cabikan-cabikan daging merah yang bercampur darah segar berada di antara pigmen-pigmen mati… “Ole! Raymundo, kau melakukannya lagi!? Ugh!”
Seingatku, ini kadang terjadi dan aku kembali acuh. Aku tidak peduli!!!
Maka, aku mematikan lampu, menutup mata dan berujar kesal, “Sial!! Berarti besok aku harus mencuci noda-noda itu lagi dari bajuku… Ah! Si-sial… pe-perut-ku…”.
back to top
2005
18:22
SORE ini aku terdiam di antara tangga-tangga taman kota. Kututup mataku dan membayangkan tetesan air hujan yang deras itu melapisi tanah lembek, dedaunan dan kelopak-kelopak Dandelion dengan khidmat. Aku membiarkan imej jalanan bersemen, gedung-gedung dan orang-orang yang berlalu lalang seakan-akan tidak pernah ada.
Ya!
Aku sekarang… berada di sebuah taman yang luas—tunggu… uhm… hutan di tengah-tengah kota? Ya! Itu kebih baik, dengan hujan yang masih turun dan begitu dingin, beserta air dan angin.
Ah! Yang jelas sekarang aku berada di dalam sebuah tempat di mana pohon-pohon tinggi itu menutupi awan yang semakin kelam yang bagaikan siluet kain beludru, dan hujan masih tetap kokoh dengan irama kental di dedaunan yang lebat dan hijau. Sedangkan aku… hanya memandangi sinaran dan tebaran lampu-lampu bola berwarna putih yang menyinari sepanjang jalan setapak itu.
Udara dingin kembali berhembus, rintik hujan yang damai, harum uap udara dingin yang bercampur dengan wangi tanah dan imej es balok yang menguap—angin yang terus menerus berputar dan membuatku berfantasi indah. Ah! Sore… yang menjadi malam…
19:05
URRGH! Tubuhku letih! Aku ingin pulang!
Aku pun meninggalkan taman kota itu dan kembali berjalan. Aku berlari kecil, menampik tetesan hujan dengan tangan kuat ini, merapatkan jaket merah tebal melewati batas hidung, melakukan apapun untuk tidak menjadi basah dan kedinginan sebelum aku benar-benar masuk ke bathtub hangat di apartemenku.
Kadang aku akan rela membiarkan wajahku menjadi basah karena entah mengapa aku ingin menatapi langit kelam itu—benar-benar tanpa maksud, seperti insting. Dan saat itu yang ada di benakku adalah; ‘Ah! Bulan Purnama! Sudah saatnya lagi?’ dan ‘Oh betapa indahnya, kabut yang mengelilingi, seperti kupu-kupu emas mengitari lily—‘.
Kupu-kupu emas…
Bulan purnama. Tempat kabut berkelut dengan bintang dan ketenangan.
Entah mengapa, tiba-tiba dada ini menjadi amat panas, gairah memuncak seperti hendak bercinta. Begitu riang dan seakan-akan ada segumul energi yang entah dari mana akan segera memuncak dan keluar begitu saja dari seluruh penjuru tubuhku. Semua menjadi indah. Semua… menjadi seperti pasangan seks terbaik yang akan kumiliki. Dia; wanita pirang itu, pria kurus berkemeja kotak, si penjaga toko roti Juan Pacche yang sering aku sapa, si penjual bunga dengan dadanya yang berisi, semuanya! Aku ingin bercinta dengan semuanya!!!
Tapi… tak beberapa lama kemudian, tubuhku… tubuhku mulai melemah. Mataku seperti hendak menutup dan amat sangat berat. Seperti sugesti jika aku menutup dan merelakan mata ini untuk tidur bersama denganku di jalanan becek ini maka, musnahlah sudah nyawa…
Urgh! A-aku tidak bi-bisa…
“Ups!” Hampir saja aku jatuh ke selokan. A ha ha! Untung tidak ada yang melihat. Oh! Nampaknya aku memang harus kembali segera.
Bulan…
Entah… bulan itu… telah mempesonakanku kembali, malam ini… Ah!… Mataku… jiwaku… gairahku… biarkanlah mengalir. Ya! Aku ingin tidur dan merelakan lagi… Lagi.
20:37
BRUKK! Aku merebahkan tubuhku ke kasur empuk yang hangat dan lembut; menggeliat seperti anak kecil dan memutar-mutar kaki, bermain sembunyi dengan untaian selimut tebal. Lampu-lampu neon kubiarkan semua menyala. Begitu terang sehingga aku bisa melihat kaca besar berukirakan Cupid yang berada tepat di hadapan kakiku. Cermin itu pun membiaskan cahaya dan kejelasan akan betapa bobroknya dindingku, dengan poster-poster band Indies underground German yang banyak orang tidak tahu. Ah! Begitu banyak energi di ruangan ini. Di ruanganku. Tetapi, mengapa aku sangat mengantuk?
Saat itulah aku segera beranjak dari kasur dan menuju ke kamar mandiku yang tidak elegan dan setengah cerah. Namun ada sesuatu—
Sepertinya aku… sudah…
Entah mengapa aku sepertinya sudah mandi dan aku sudah pulang sedari tadi! Tetapi! Tetapi itu tidak mungkin! Bukankan aku baru saja pulang? Tu-tunggu!
“Oh… sudahlah! Pasti terjadi lagi… Oh! Sial! Brengsek!” Aku menggerutu kesal.
Aku tidak menggubrisnya lebih jauh. Aku benar-benar lelah dan perutku entah tiba-tiba merasa mual, begitu berat sehingga aku ingin menggeram seperti hewan kesakitan.
Urgh!!! Apa yang telah aku makan tadi… Si-sial!
20:45
TAK lama kemudian, aku merebahkan kembali diriku di tempat tidur, menatapi langit-langit yang berlumut dan aku baru ingat untuk mengunting kuku karena besok aku harus mengikuti les gitar yang membosankan itu lagi.
Aku membiarkan mata menatap kedua tanganku yang kuangkat ke atas—menutupi biasan lampu neon nan cerah itu. Aku membiarkan suara deras hujan yang masih menguyur kota San Pablo dengan irama kentalnya. Masih tersimpan rasa manja dan dingin—
Oh! Ti-tidak! Pa-pantas… Pantas saja aku—
Sungguh! Aku masih selalu terdiam dan tak dapat berkata-kata, mulut dan peraasaanku seakan-akan terkunci. A-apa yang harus aku rasakan sekarang? Aku terdiam. Berbaring dan pasrah saat menyaksikan cabikan-cabikan daging merah yang bercampur darah segar berada di antara pigmen-pigmen mati… “Ole! Raymundo, kau melakukannya lagi!? Ugh!”
Seingatku, ini kadang terjadi dan aku kembali acuh. Aku tidak peduli!!!
Maka, aku mematikan lampu, menutup mata dan berujar kesal, “Sial!! Berarti besok aku harus mencuci noda-noda itu lagi dari bajuku… Ah! Si-sial… pe-perut-ku…”.
Did you like this?
vote
