KISMET - SHINIGAMI (chapter 4) by Alex Jhon

200154
genre

description:
1st Book of Memoirs Chronicles



chapters

chapter 1: Eyes of Innocent

chapter 2: Memory Bed

chapter 3: Silent Whore

chapter 4: SHINIGAMI


SHINIGAMI
chapter 4   —   updated Jul 18, 2007   —   6969 characters   —   0 people liked this writing
YM-53
2001

SIANG hari. Suara hiruk-pikuk para pejalan kaki dan mobil-mobil sedan yang berlalu-lalang, memekakkan telinga dan suaranya itu… begitu menggangu dan menyiksa. Bagaikan sebuah opera besar yang tak bermutu. Hirai-bingai tawa dan rumpunan gaduh yang menyebalkan. Sakit… Sakit sekali…
Yukimachi Matsuda menutup kedua telinganya dengan kedua tangan. Menahan sebuah sakit yang amat, layaknya menahan air mata yang hendak keluar dari matanya yang sayu dan sipit. Kepalanya mengkilat dan botak layaknya ladang sawah yang baru dituai. Tangan dan tubuhnya tegap. Tetapi jiwanya lemah. Ia labil… bagaikan kaca rapuh…
Haru itu, Matsuda menatap semuanya dalam kegelapan.
Seperti kegelapan yang tiada akhir. Bagai sebuah layar besar yang hendak terbuka tirainya dan apa yang diharapkan… semuanya kosong.
Matsuda masih teringat, masih teringat akan masa-masa pahit saat ia menerima pengajaran dan segala macam pendidikan tentang cara, bagaimana, dan apa itu membunuh.
Apakah itu membunuh? Katakan padaku, karena aku buta tentang itu, buta!?
Sekarang… siang yang panas. Ia berdiri di tengah-tengah persimpangan empat jalanan distrik Shibuya yang bisa terbilang tidak lenggang. Penuh dengan aura panas penduduk dan suara-suara itu yang kembali, selalu merangsang stimulasi kemarahan Matsuda, kemarahan seorang pencabut nyawa. Sebuah rekayasa individual Negara—proyek rahasia, dan sebuah prototype prajurit baru. Sebuah proyek raksasa yang sama sekali ia juga tak tahu mengapa ia tercipta. Matsuda sama sekali buta tentang tujuan hidupnya setelah ia menerima pelatihan itu.
Apa yang menjadi motif? Apa yang menjadi tujuan sesungguhnya dari mereka? Semua air seakan mengalir tanpa henti dan air itu begitu keruh. Aku… enggan tenggelam di dalamnya… aku enggan…
Ia mengatupkan mata tanpa bergeming sedikitpun. Telinganya masih mendengar suara rentetan klakson dan suara gaduh itu. Matsuda terus memejamkan matanya dan mengingat kepedihan dan… kenikmatan saat ia dengan asyiknya menuai nyawa orang-orang terpilih dari atasannya. Bagai anjing yang penurut, Matsuda terus merenung di tengah-tengah riuhnya jalan persimpangan Shibuya ini. Berdiri sekan-akan seperti sebuah patung pahlawan yang berikrar tanpa nama.
Bagaikan seorang tentara yang tersesat di kota. Baju lorengnya membuat setiap mata yang memandang menjadi risih dan tidak nyaman untuk mendekat, memberi isyarat untuk pergi menghindar darinya. Sementara mata sang prajurit terus menunduk ke jalanan aspal yang mulai basah karena tampikan hujan yang seketika turun; menderu bersama angin selatan yang dingin dan sama sekali tidak menyenangkan. Tetapi Matsuda tetap tidak bergeming dari posisinya di tengah persimpangan jalan Shibuya ini. Tidak bergerak dan seakan-akan menunggu sesuatu—dengan menaruh tangan kanan di kantung jas hujan lorengnya, dan memegang sebuah walkie-talkie hitam di sebelah kiri. Matanya masih menatap ke bawah, dan ia terengah-engah. Nafas seorang tentara, namun… tentara ini bukanlah seorang yang hanyalah tentara biasa. Layaknya pesawat asing, penghuni yang tak diketahui asal-usul dan tujuannya. Sekali lagi… Kosong seperti kaleng soda tanpa isi. Berdengung jika dipukul.
“huff… huff… huff… aku… aku sudah siap untuk melaksanakan perintah. Cepatlah datang dan berbunyilah walkie-talkie! Cepatlah! Supaya aku bisa segera selesai,” ucapnya dalam keadaan yang sangat basah kuyup dan berbisik pelan. “Aku sudah siap, aku sudah…” Matanya kembali menutup. Merasakan tetesan-tetesan air hujan yang jatuh dari kepala botaknya yang licin, melewati dahi, dan melalui lehernya yang mulus. Terasa dingin dan beku.
Walaupun siang, tetapi mendung ini menutupi seluruh aurat sang mentari yang semestinya adalah hangat dan damai. Matsuda tak merasakan hangat itu, tak dapat merasakannya walaupun jika itu adalah tidak mendung ataupun hujan. Matsuda berada di sini demi sebuah tujuan; misi yang patut dilaksanakan—hujan ataupun tidak!
Cepatlah brengsek! Aku sudah bosan. Atau… haruskah aku berubah pikiran dan lari? Ya! Lari… Aku harus lari, aku harus!!! Cepatlah Matsuda, kau tak selalu harus menjadi sebuah alat, alat yang bodoh dan tak berjiwa. Cepatlah lari dan cepatlah pergi dari perempatan yang sendu ini sebelum… sebelum…
Tiba-tiba walkie-talkie di tangannya berbunyi—Beep!—Dan segera Matsuda mendengarkan radio panggil itu dengan seksama menuju kupingnya.
“Ya…” Ia menjawab dengan ragu-ragu. “Sekarang, komandan?” Matanya masih menatap jalanan Shibuya dengan kosong. Ia sudah mendengarkan pernyataan dari dalam kotak hitam itu. Ia sudah dengar. Dan segera ia menjatuhkan radio itu ke jalanan. Beberapa orang mulai memperhatikannya. Semua terheran-heran.
Atraksi apa ini?
Mungkin para penduduk Shibuya mengalamatkannya sebagai hal yang demikian. Tetapi mimik wajah Matsuda tidak menyatakan begitu. Wajahnya menampakan sebuah konklusi, tanpa pemikiran yang tajam. Seperti penyesalan, tetapi ia tak tahu harus memulai dari mana. Sekali lagi, ia hanyalah seorang tentara jenis baru, sebuah alat yang dipergunakan pemerintah untuk menjalankan misi rahasianya. Rahasia apa? Tak ada yang tahu, bahkan dia sendiri—sang prajurit yang pendiam dan tak banyak tingkah.
Limitasi ketakutan seakan meruak pecah di perempatan Shibuya yang masih terguyur air hujan. Saat Matsuda mengeluarkan tangan kirinya yang sedari tadi ia masukkan dalam saku jas hujannya. Ia mengeluarkan sebuah kaleng berukuran genggaman tangan. Sebuah granat!
Matsuda tak telak, segera menarik cincin pemicunya dengan gigi. Tanpa sesak dan tak lagi bergeming.
Berakhir dengan hawa panas dan luapan api yang tersiar secara dahsyat. Gempa. Dan segala getaran menggelegar mahadahsyat. Tak berhenti dan menyapu semua dalam hawa panas bara. Merah, dan terbang.

DARI kejauhan…
Beberapa orang tegap berpakaian dengan corak yang sama seperti Matsuda sedang meneliti dari sebuah bukit tinggi. Beradius cukup jauh dari Shibuya, Distrik Ginza, tempat di mana Matsuda melakukan aksinya yang kontroversial.
Getaran itu masih terasa. Masih dapat terlihat kepulan asap, bercampur dengan kobaran api yang menjulang ke udara. Tanpa batas bagai sedang menari-nari bersama dengan nyawa-nyawa penduduk yang terjerat di dalamnya.
“Komandan, nampaknya YM-53 sudah melaksanakan tugasnya, bagaimana dengan yang lain? Apa sudah harus dijalankan?” Suara salah seorang tentara yang meiliki walkie-talkie yang sama dengan Matsuda.
Ia menunggu seraya mendengarkan. Matanya masih menatap kepulan asap yang masih menjulang tinggi, lalu ia berkata dengan sigap, “Baiklah Pak! Saya mengerti! YM-54,YM-37, SW-22 dan DJ-55 akan segera saya dispatch ke area berikutnya!”
Maka, semua telah kembali jelas. Siapa itu Matsuda dan mengapa ia berusaha untuk mengerti dirinya sendiri. Dan jika satu Matsuda belum cukup untuk memahaminya. Masih akan ada banyak Matsuda yang lain yang dapat kita selami jiwa dan pikirannya, itu… jika belum terlambat. Semoga saja…
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Alex's writing