KISMET - Silent Whore (chapter 3) by Alex Jhon

200154
genre

description:
1st Book of Memoirs Chronicles



chapters

chapter 1: Eyes of Innocent

chapter 2: Memory Bed

chapter 3: Silent Whore

chapter 4: SHINIGAMI


Silent Whore
chapter 3   —   updated Jul 18, 2007   —   21924 characters   —   0 people liked this writing
Katrina
2002

ADA sebuah keheningan yang sang gadis rasakan dari hembusan angin dingin saat ini. Ia melantunkan sebuah lagu gubahnya sebuah tangisan dengan sayatan perih dalam tiap-tiap syairnya—perlahan dan sangat terasa menusuk bagi setiap orang yang mendengarkan dan menatap wajahnya yang sayu. Tubuhnya tertutup, berbalut oleh buih-buih busa sebuah sabun cair murahan yang ia dapatkan dengan harga obral di sebuah toko bernuansa timur tengah bernama Geztica Aromana, yang merupakan toko penjual aroma dengan pelayanan terburuk; baik dari segi pelayanan ataupun kesopanan si pemilik toko, Gassa; dengan topi merah dan kumis tebalnya—tampak seperti orang gemuk tolol yang kelebihan uang dan kemudian, tanpa pikir panjang membuka toko aroma pada umumnya.
Dan di balik cita rasa murahan itu, busa-busa di bathtub-nya semakin meruah
Ia memainkan busa-busa itu layaknya seekor anak kucing di tangannya. Lalu mengelus tangannya yang terbalut busa tersebut dengan senyuman kecil; tubuh mungilnya telanjang, polos dan tak memiliki cela. Sebuah keindahan yang terpancar dengan pesona seorang ratu kecantikan yang tak pernah terekspos sebelumnya—di manapun dan kapanpun.
Dengan penuh penjiwaan, sang cantik berwajah pucat ini melantunkan kembali lagu itu bagaikan mengalir dengan angin yang menjulur di seluruh permukaan tubuhnya yang putih dan halus.
Sebuah kebahagiaan dan tangisan terucap dalam syair yang ia nyanyikan, sebuah lagu yang terciptakan secara tiba-tiba, sesaat setelah tubuhnya yang molek memasuki bathtub ini.

Tangisanku adalah sebuah kesedihan yang terbendung,
Aku kini menanti sebuah mukzijat…
Dalam hati aku bertanya, sebuah kemungkinan aku mengira,
Tabah dan rupa adalah segala…

Si gadis kembali merasakan sensasi aroma citrus dan buah apel segar dalam air rendaman yang ia selami. Tubuhnya menjadi basah; begitu pula rambutnya yang hitam dan bergelombang—berminyak dan tampak segar. Ia merendamkan kepalanya hingga hanya mata dan hidungnya saja yang terlihat, dan yang lain menghilang tersembunyi di balik gumpalan busa-busa tersebut. Matanya bak kucing Siam yang berbinar dengan kilauan rubi Sahara yang bergemilang; coklat dan agak kemerahan.
“Ah!” Ia dapat merasakan sensasi hangat dalam air tersebut meresapi kulitnya. Tak lama setelah itu, sebuah alarm berbunyi dengan nyaring; entah mengapa ia segera mengangkat kepalanya dari rendaman sensasional tersebut yang memabukkannya dalam kedamaian maya yang ia buat.
Lalu dengan sebuah gapaian halus di bagian samping bathtub, ia mengangkat dirinya dari bathtub biru tersebut dengan gerakan seakan-akan ribuan orang menontonnya dan seakan-akan kamar mandinya adalah sebuah panggung Broadway yang megah untuk dirinya banggakan. Tangan putih langsingnya mengambil sebuah handuk panjang berwarna hijau—warna favoritnya; dan segera mengeringkan rambut dan seluruh permukaan tubuhnya secara perlahan. Ia tampak begitu menikmati sensasi saat bulu-bulu halus handuk tebal itu meraba kulitnya. Begitu pelan dan menggairahkan.
Ia berjalan dengan anggun ke arah tempat tidurnya yang bernuansana gothical; dengan pilar-pilar berukiran rupa seorang putri yang seperti diceritakan dalam dongeng-dongeng romantis, begitu pula beberapa renda-renda beludru yang terpampang begitu saja di setiap sisi bawah ranjang anggun berwarna merah gelap itu.
Mata sang gadis melirik ke arah jam yang rupanya menjadi sumber bunyi alarm tadi. Ia melihatnya dengan mata yang berbinar-binar. Mulutnya yang tipis dan berwarna agak pucat menyeringai manis. “Sudah saatnya.” Hanya itu yang terucapkan dan kemudian ia meninggalkan tempat tidur dan handuk tebalnya yang tadi ia gunakan, dan segera ia menuju ke ruang gantinya yang kecil dan berlapiskan tripleks kasar.
Tergantung di salah satu sisi dinding ruangan sempit itu; sebuah jubah hitam ketat yang menarik dan menantang, panjang dan begitu pas di tubuh gadis berambut hitam itu; tampak seperti kulit dan begitu mengkilat seperti polesan sepatu yang baru tersemir rapi oleh krim semir terbaik di muka bumi ini.
Masih dalam keadaan tanpa busana, ia menoleh ke arah kaca di meja riasnya yang besar dan berlapiskan kuningan dan ukiran-ukiran daun olive yang akurat. Meja rias itu berada di samping dinding yang berlawanan arah dengan di mana baju itu berada.
Kemudian ia mengambil sebuah kotak bedak kecil berlapiskan kain sutera dan pernak-pernik mengkilat. Klak! Ia membuka tutupnya dengan anggun. Tak lama kemudian ia sudah memulai memoleskan taburan bedak berwarna krem dengan wangi mawar dan aroma kayu manis yang sensasional; ia terus tersenyum dan menikmati tepukan-tepukan lembut yang dihasilkan oleh spons bedak yang ia pakai di sebelah tangan kanannya.
Tersenyum. “Hari ini kau sangat cantik Katrina.” Ia tampak mengagumi dirinya sendiri. Ya! Sang gadis berwajah pucat nan beku dan nan rupawan ini hanya ingat bahwa namanya adalah Katrina. Selain itu, tidak! Sama sekali tidak. Ia sudah lupa kapan ia berulang tahun, ataupun berapa umurnya. Ia hanya menikmati hidup; benar-benar menikmatinya. Semua dalam lingkup pemanjaan dirinya yang berlebihan dan arogansi yang memukau. Tak dapat terbenci oleh laki-laki hidung belang ataupun para wanita yang pencemburu.
Sekarang ia mengambil lipstik berwarna agak gelap dari meja riasnya yang datar. Katrina memoleskan lipstik berwarna merah pekat—hampir seperti darah; manis dan segar. Ia begitu asyik dan ia terbawa.
Lalu sang gadis itu memejamkan matanya dan ia teringat pada saat-saat ketika seorang yang berharga bagi dirinya, meraba dan menikmati setiap jengkal dari tubuhnya yang polos dan putih, dengan rasa gairah yang memukau; penghargaan tertinggi dan pemuasan yang tiada duanya. Ia kagum akan keindahan fisiknya sendiri dalam konteks kenikmatan birahial dan kepuasannya tak terbendung. Intisari kehidupan yang tercampur; mereka dan dirinya—sang pendosa. Ah! Betapa Katrina sang gadis polos menikmati saat itu.
Tak lama setelahnya, polesan itu berakhir dan ia menaruh lipstik itu di atas meja rias.
Kini ia sudah bersiap-siap. Dengan cekatan Katrina memakai baju cardigan hitam ketat dengan panjang sampai selengan dan juga tak ketinggalan favoritnya; celana kulit ketat yang berwarna merah maroon dengan gantungan rantai-rantai bak kalung perak yang besar yang menandakan kalau ia berani dan ia adalah seoang gadis yang mandiri dan kuat. Tak lama setelahnya, si gadis rupawan telah menjadi seorang wanita layaknya putri penguasa malam yang bertaburan kilauan dari lampu-lampu kota metropolitan. Lalu, dengan segera, ia pun memakai jaket panjang tersebut. Begitu pas dan benar-benar sempurna—begitu menantang.
Tangan gadis pucat itu menyentuh dadanya yang sempurna—merasakan dan menghayati. Kemudian, dengan refleks yang sigap, tangannya merangkul permukaan mulus lehernya. Ia merenung; entah apa…
Dan akhirnya, ia merasa sudah siap; benar-benar siap!
Maka ia pun segera keluar dari kamarnya yang sempit. Lalu kemudian, pergi dari rumah kontrakan lusuh yang ia sewa dengan setengah hati itu dengan perasaan berbunga-bunga. Rumah kotor dan baju yang bisa dibilang, selalu sama dipakai setiap malam ia berpergian, adalah bukan menjadi masalah baginya—semua adalah indah dan surga.

KINI ia sudah berada di jalanan trotoar penuh dengan sampah-sampah plastik pembungkus potato chips dan kaleng-kaleng soda—berserakan dimana-mana. Langkah Katrina berjingkat dan ia berjalan bagaikan seorang anak perempuan yang manja yang hendak mengambil hadiah natalnya. Gadis manja itu memainkan tas tangan hitam kecilnya yang ia sangkutkan di bahu kirinya—berayun-ayun melawan arus angin dan arah darimana ia berjalan.
Suara mobil yang lalu lalang hampir terbilang jarang. Sekarang sudah hampir jam satu pagi dan biasanya kota besar seperti Paris telah menandakan jelas, bahwa kehidupan malam yang liar dan buas telah bangkit dari kuburnya yang abadi. Membangunkan para manusia muda jenis baru dalam suara yang meraung-raung demi mencari kesenangan duniawi dan kedamaian yang telah hilang ketika waktu siang, sirna ditelan oleh kewajiban dan keharusan bertahan hidup. Mereka melepaskan semua hari ini, saat ini, detik ini—bebas bagai layang-layang tak bertali. Katrina, di lain pihak, selalu bebas. Tak ada satupun keberadaan ataupun adat yang dapat mengekangnya dalam sebuah sistem kehidupan yang konsisten dan tak bergerak; ia benci semua itu. Cinta. Demi hal itu Katrina bertahan, ia tak sama dengan gadis-gadis kota lainnya; ia adalah seorang pembangkang. Tetapi bukan! Ia bukan seorang pelacur ataupun kesedihan yang bertolak. Ia adalah Katrina si gadis malam yang mencari cinta dan kehidupan; uang bukanlah masalah bagi gadis pucat ini—Ya! Katrina…
Gadis malam ini tak mempunyai seorang temanpun di kota ini. Ia hanya bersandar pada dirinya sendiri. Katrina hanya bisa menghela nafas untuk yang satu ini. Percuma menentang, ia masih kesepian dan membutuhkan. Ironi yang selalu mengekangnya hanyalah ini, selain itu… adalah kepuasan dan bermain-main dalam dosa.
Sebuah bar bernama Moonlight Lounge sudah terpampang jelas dihadapannya. Gedung berwarna biru metalik seperti sebuah hanggar kapal terbang yang besar; disertai lampu-lampu neon berwarna-warni dan sayup-sayup terdengar suara musik techno-garage dari balik pintu masuk bar itu yang berwarna hitam dan bertuliskan Ladies Night.
Ah! Rupanya Katrina menunggu saat ini. Sebuah surga yang telah terpampang; puluhan atau mungkin ratusan kaum hawa akan berkeliaran bebas, layaknya mangsa mudah baginya untuk dicengkram dan dinikmati. Sang gadis polos itupun masuk dengan santai.
“Allo Honey Ben! Boleh saya masuk?” Katrina menggoda seorang pria penjaga pintu yang botak, bertubuh besar kekar dan atletis. Dapat terkira dari postur Ben bahwa ia juga sangat menggemari angkat beban ataupun olahraga sejenisnya yang dapat membentuk tubuhnya seperti apa yang sekarang ini dapat terlihat dengan jelas.
“Tentu Nona Katrina!” Ben mempersilahkan masuk dengan suasana rileks dan kagum.
Ia memasuki ruangan bar tersebut dengan anggun bak ratu penguasa malam tak tercela dan tak ternista dosa dari amanat hidup yang menjeratkan—membuat orang lain selain dia, tidak menghargai arti hidup sesungguhnya.
Mata Katrina sangat cekatan. Ia terus memantau segala macam gerakan di antara silaunya sinar-sinar bar yang berganti rupa terus-menerus, tak membuat kedua mata coklatnya lamur dalam penglihatan. Setelah tak lama ia dapat membiasakan matanya yang bulat di dalam ruangan nan bising dan berwarna-warni ini, segera ia melangkahkan kedua kaki mulusnya yang tertutup celana kulit dan menuju ke meja bar hitam yang panjang. Ia melemparkan senyuman yang tidak berdosa ke seorang pemuda tanggung dengan wajah separuh Itali dan Asia, disertai dengan aksen Perancis tulen.
“Allo Madame Kat! Apa kabar?” Si bartender muda itu menyeringai dan tampak senang melihat Katrina.
Katrina tersenyum dan segera duduk di salah satu bangku bundar yang berlapiskan kulit macam yang lembut dan segera menatap pemuda tanggung itu dengan pandangan yang memabukkan.
“Baik-baik saja Jacques. Satu Bloody Mary!” Matanya melipat genit dan Katrina segera memalingkan kepalanya kesana-kemari, kearah lantai dansa—seperti sedang mencari seseorang. Ia memutar kursi bundar-nya ke arah lantai dansa beberapa kali.
Lalu, Jacques segera menuangkan beberapa jenis minuman ke dalam wadah kocokan. Dan berikutnya, dan berikutnya, hingga wadah logam yang berbentuk cangkir panjang itu, tak lagi ia goyang dan kocok dengan segala macam gaya akrobatik yang memukau. Tak lama, Jacques segera menuangkan minuman yang tampaknya adalah Bloody Mary tersebut ke dalam sebuah gelas bertungkai panjang yang bening dan berkilauan seperti kristal. “Ini, silakan menikmati…” Matanya terus melihat ke arah Katrina seraya menyodorkan gelas berisi minuman tersebut kepada Katrina yang tampaknya masih mencari-cari seseorang di lantai dansa yang meriah dan penuh orang-orang yang tampak baru terbebas dari belenggu ini.
Kendati dalam keramaian dan tarian-tarian para mahluk hawa yang ekspresif; penuh dengan keindahan dan keringat yang menyucur—atas nama perawan suci yang tak ternoda! Mereka sungguh mempesonakan si gadis pucat berwajah polos itu—akhirnya ia dapat menemukan apa yang ia cari sedari tadi. Ia telah menyelesaikan pencariannya dan ia melambaikan tangannya yang terbalut jaket hitam tersebut ke atas, ke arah salah satu meja yang tersembunyi di balik remang-remang lampu yang berkilauan. Seorang wanita dari kejauhan nampaknya membalas lambaian itu dengan sebuah lambaian yang menandakan bahwa ia tahu bahwa itu adalah tangan Katrina dan ia akan segera kesana, ke meja bartender tempat Katrina berada—menunggu sesuatu yang lebih pelik daripada sekedar cinta.
Sang wanita muda itu mendekati Katrina.
“Ah! Sayang, kau datang!” Dia membuka bibir manisnya yang berbalut lipstik tebal berwarna biru muda.
“Tentu Kay, mana mungkin aku bohong. Apa… kita mau berangkat sekarang?” Katrina menyeringai, tampak segan. “Aku sudah bosan dengan tempat ini,” Ia menyodorkan kepalanya ke arah langit-langit bar yang berhiaskan lampu-lampu tembak dan hiasan-hiasan patung-patung nudis bernuansa hangat dan magis.
“Tentu! Tapi aku ke… toilet dulu, oke?” Kay tersenyum sambil berlalu.
“Cepatlah!' Katrina membalas senyumannya dengan sebuah lengkungan bibir yang menawan, bahkan bagi si bartender muda itu. Terekspos dalam gairahnya sendiri.
Kay pun berlalu dengan anggun. Katrina masih memandangi baju tipis sutera berwarna kebiruan yang dipakai Kay hingga selutut. Matanya yang bening tampak mengikat dan mempesonakan Katrina dan membuatnya kembali sebagai seorang gadis yang benar-benar masih polos dan tak berdosa sama sekali. Ia merindukan kebahagiaan seperti ini.
Setelah tak berapa lama, Katrina kembali memutar kursinya ke arah Jacques.
“Jadi… itu perempuan yang kau tunggu Kat?” Jacques bertanya dengan penasaran.
“Well! Begitulah…” Katrina tersenyum seakan-akan berlagak dan bangga.
Entah mengapa, bahasa tubuh Jacques seakan-akan menjadi tak karuan.
Katrina menatapi wajah Jacques yang ling-lung.
Apa ia merasa cemburu?Ah—lucu juga…
“Hei! Jacques sayang! Apa kau… cemburu padaku?” Pertanyaan yang dilontarkan gadis cantik yang berada tepat di hadapan sang bartender muda ini seakan-akan menjadi pelontar meriam yang menggelegar dan memekakkan otaknya yang masih segar dan energetik.
“A-ah… Tidak!” Jacques terlihat gugup dan bahasanya terbata-bata. Ling-lung. Lalu dengan sergap, Jacques mengalihkan pandangannya kearah botol-botol mengkilat dengan merek-merek ternama yang berada tepat di belakangnya. Ia mencoba menjadi acuh terhadap Katrina. Katrina hanya tersenyum melihat gelagat si bartender manis itu.
Jacques. Bartender ini begitu muda dan manis bagi seorang remaja yang masih berusia sekitar 20-an dan single; ini… adalah sebuah nilai bonus. Tetapi, sayang sekali; tubuh tegap nan kurus dengan kulit putih bak susu yang kental ini tak dapat menarik perhatian Katrina. Sayang sekali. Katrina hanya menyukai wanita, yang baginya adalah dosa dunia yang terindah—bahkan ia menggangap dirinya adalah bukan suci yang dapat termaafkan; ia menyukai sensasi dalam pemikiran itu.
Siapa peduli itu aneh! Itu tidak aneh! Itu adalah manusiawi.
Katrina kembali melemparkan senyuman, sekalipun Jacques tak meliriknya.
Akhirnya di selang waktu dengan Jacques yang terdiam dan Katrina yang sepertinya masih senang memperhatikan manusia polos yang satu itu; Kay datang dengan anggun. Kali ini ia tampak lebih segar dengan bedak yang lebih tebal dan jaket tebal bulu mink yang berwarna coklat keemasan dan lembut. Ia segera merangkulkan tangannya yang terbalut lapisan bahan jasnya yang berteksur halus ke leher dan pinggang Katrina yang semampai. Ia memeluk dan menciumi lehernya beberapa kali dengan penuh penghayatan dan seakan-akan merasa sangat rindu dan melepaskan semua itu tanpa peduli akan rasa malu dan rasa manusiawi yang mengikat mereka—semua rantai telah terlepas dan hancur begitu saja. Katrina merasa ini adalah sebuah surga—Ya! Surga yang hilang beberapa tahun silam; surga yang telah hilang semenjak ia telah menjadi seorang Katrina.
“Ayo! Sekarang aku sudah siap!” Kay tampak bersemangat sambil memainkan rambut burgundy dengan gaya layer-nya yang diikat dengan satu simpul yang manis seperti anak perempuan berusia 10 tahun.
“Ok honey! Mari?” Katrina berdiri dari bangkunya dan segera merangkulkan tangannya ke arah pinggang Kay dengan segera.
Jacques akhirnya kembali melirik Katrina dan Kay. Ia kembali tampak gugup. “Kalian… sudah mau jalan?” Ia memulai pembicaraan.
“Yup! Baiklah Jacques, aku dan Kay pergi dulu, Ok?” Katrina segera berlalu bersama Kay dan meninggalkan Jacques.

DALAM perjalanan melalui 24th Lochee Avenue yang sepi dan penuh dengan gang-gang kumuh—terletak agak jauh dari Moonlight Lounge. Katrina merangkul tangan sang kekasih dengan sangat erat. Katrina, si gadis berwajah pucat itu masih ingat pertemuan pertamanya dengan Kay di Moonlight Lounge seminggu yang lalu. Mereka bertemu dalam gala Ladies Night dan semua itu berawal disana; perkenalan, cerita, keanggunan dan… keinginan serta hasrat. Sebuah kesamaan yang terpendam. Mereka kemudian berjanji bertemu untuk sebuah kencan di hari ini di bar yang sama. Begitulah awal pertemuan mereka.
Katrina sangat senang dengan keberadaan Kay, ia sudah lama tak merasakan ini. Kehangatan yang menghiburnya dan itu merangkulnya dalam gapaian sebuah pencarian yang telah lama ia lakukan. Tetapi sampai sekarang ia belum bisa mendefinisikan sesungguhnya, apa yang ia cari. Cinta? Ataukah sekedar senang-senang saja…
“Kita mau kemana? Apa sebaiknya kita tak pergi naik taksi Kat?” Kay tampak kedinginan dan merapatkan jaket mink-nya lebih erat dari sebelumnya. Udara dingin keluar beberapa kali dari mulutnya.
“Kurasa begitu—tetapi… aku ingin memberimu sesuatu,” Mata Katrina berbinar-binar dan memandangi Kay dengan penuh pesona seorang ratu kepada budak-budaknya. “Ikutlah aku!” Ia segera merangkul Kay dan membawanya ke sebuah lorong gelap dan sempit. Sampah dan trotoar yang dekil menghiasi lorong kota di malam itu.
“Aku membutuhkan cinta aku tahu itu, tetapi …” Katrina menghentikan ucapannya.
“Apa maksudmu sayang!” Kay merespon dengan nada bingung.
Apa ia tidak merasakan cinta, apa itu cinta?
“Aku butuh sesuatu untuk membuatku hidup… benar-benar hidup,” Katrina memalingkan wajahnya yang pucat ke arah langit malam yang tenang dan tak terusik kata maupun suara. Matanya merefleksikan cahaya bulan dengan samar. “Aku butuh dirimu sekarang Kay… aku butuh sebuah kehidupan darimu! Peluklah… peluklah aku sekarang sayangku!” Lalu Katrina memeluk Kay sambil menangis; bagai anak kecil, dirinya menjadi seorang wanita dengan haru terbesar dan pedih tak berkelangsungan—semuanya adalah sedih.
Kay menjadi kebingungan, ia merasakan dingin dalam cinta Katrina. Ia merasakan bahwa ia telah menjadi sebuah alasan untuk hidup bagi Katrina. Kay menjadi keheranan, “Tetapi apakah Katrina selama ini tak merasa hidup?”
Tak berapa lama. Dalam kehangatan pelukan itu. Perlahan-lahan Kay mulai merasakan sebuah uap hangat mengalir melalui lehernya, ia merasakan sebuah sensasi; tak mau dilepas dan harus menikmati. Perlahan-lahan, ia dapat merasakan bahwa Katrina membenamkan giginya dan menggigit leher Kay dengan gairah dan rengkulan yang luar biasa kuat bagi seorang wanita.
Lemah. Kay merasa lemah.
Di lain pihak, Katrina menikmati sensasi yang melemahkan Kay ini. Ia semakin mengilhami arti kehidupan saat ia membenamkan gigi taringnya ke leher Kay. Sensasi aliran hangat darah dan denyut nadi yang berasal dari leher Kay dapat ia rasakan dalam nada yang tak beraturan; seakan-akan mengajaknya dalam kenikmatan—lebih hebat dari apapun. Aliran deras darah yang manis dan wangi amis menusuk, terasa begitu nikmat bagi Katrina. Ia menangis dan tertawa dalam hati. Ia masih merangkul lingkup kehidupan Kay yang masih hangat—terengal-engal dan hampir pingsan.
Ia masih hidup!
Katrina sedang merenung dalam kenikmatannya. Ia merenung ketika entah kapan ia telah menjadi seorang mahluk malam bernama Katrina.
Siapa ia sebenarnya? Katrina hanya ingat dia adalah seorang remaja biasa yang berasal dari kota Paris yang elegan. Sebuah aroma croissant dan kopi java yang kental serta aroma bunga mawar—itulah yang masih ia ingat. Ingatannya yang pedih seketika menyadarkannya dan mengeluarkan taring manisnya dari leher Kay.
Ia sudah tak bernyawa.
Mulut Katrina menjadi kanvas darah segar. Ia mengusapya perlahan dengan tangan.
Entah bagaimana, Katrina mulai merasakan dosa. Ia mulai merunduk dan menyandarkan tubuhnya yang lemas ke arah dinding kotor di lorong gelap itu. Air matanya turun seraya dengan darah yang masih menetes dari dalam mulutnya.
“Ah! Aku… membutuhkan cinta, maafkan aku Kay, aku membutuhkan kehidupan ketimbang cintamu… Kay…” Ia terus terdiam dan mengeluarkan tetesan air mata. “Aku adalah seorang jalang tak bermoral! Kapan aku benar-benar mencintai daripada menikmati kematian?” Ia terus merenung; gadis pucat itu terus merenung. Dalam renungannya ia masih menikmati sensasi nikmat saat gairah hidup Kay yang berpindah melalui leher dan denyut nadinya yang hangat dan memukau. Katrina tak bisa mengingkari.
Dalam keheningan malam dan dinginnya angin kota Paris. Seorang Katrina yang selalu sendiri dan selalu bimbang akan selalu menghiasinya; keindahan seorang ratu malam yang mempesonakan para wanita dan pria. Ia adalah seorang malaikat pencabut nyawa yang rupawan. Dengan rambutnya yang panjang dan matanya yang berkilauan; akan ada selalu wanita yang menjadi pahlawan, yang akan menyelamatkan nyawa Katrina dengan kematian atas nyawanya. Katrina tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa mereka. Semua adalah indah, dan keindahan adalah Katrina, Ya! Katrina…
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Alex's writing