KISMET - Memory Bed (chapter 2) by Alex Jhon
chapters
chapter 1:
Eyes of Innocent
chapter 2:
Memory Bed
chapter 3:
Silent Whore
chapter 4:
SHINIGAMI
Memory Bed
chapter 2
—
updated Jul 18, 2007
—
12795 characters
—
0 people liked this writing
Luiz Argestaz
1987
WANGI roti segar dengan aroma mentega, melebur dengan wangi susu sapi yang segar dan panas—menyatu dalam aroma yang membangkitkan selera. Wanginya menjalar melalui hidung dan sekali lagi meminatkanku; seorang Luis Argestaz dalam sebuah kenyamanan hidup yang enggan kutinggalkan selamanya.
Kenyamanan yang kurasakan sekarang bukan hanya pada sebuah aroma hangat dari sepotong roti yang kucium dari toko Juan Pacche di seberang motel Los Avante yang sekarang aku tinggali tersebut. Tetapi lebih kepada kenikmatannya hanya dengan berbaring di kasur pegas yang empuk ini; kasur yang terbalut kain putih yang lusuh, dengan beberapa noda yang tampaknya si pengurus motel terlalu enggan untuk mencucinya benar-benar bersih. Terbaring dengan santai; tanpa beban dan tanpa ada rasa biadab yang menggantung di wajahku yang menandakan bahwa diriku adalah seorang Latino yang polos.
Aku menarik nafas dan menutup kedua mataku yang bulat dan coklat.
Kemudian aku pun memalingkan tubuhku ke arah sebuah tanggalan, dengan tahun 1987—bergambarkan lukisan sebuah kuda pacuan bernama The Lightning Diablo. Penglihatanku beralih melihat sebuah tanggal terlingkar dengan sebuah tinta merah; angka 29. Entah mengapa angka itu terlingkar. Aku sama sekali tak dapat mengingatnya, pikiranku yang rata bak laut tak berombak ini hanya ingat bahwa, sekarang aku sedang berbaring di kasur yang agak nyaman ini.
Hm…! Sedang apa aku disini?
Yang jelas kesendirianku ini sekarang di karenakan sebuah tujuan dengan sebuah akhiran yang konkrit. Mengapa aku memilih jalan ini pada mulanya? Aku pun tetap bingung dibuatnya. Sebuah keberadaan tak pernah dinilai dari fisik bukan?
Bukan! Aku bukanlah sebuah hantu. Aku hanya seorang Latino biasa, yang menyewa sebuah kamar motel lusuh di perempatan jalan Mexico yang padat dan panas ini. Benar-benar sebuah kota yang ramai dengan hiruk-pikuk amigos yang bertransaksi dengan riang dan bersahaja; pedagang adalah raja dan pembeli adalah ikan yang segera termakan kait murahan.
Mataku kini beralih ke atas; langit-langit mulut—seraya aku merebahkan tubuhku menghadap ke sana.
Baling-baling kecil berwarna biru muda dengan lima helai kipas. Berputar terus-menerus sehingga hampir aku tak dapat melihat fluktuasi bayangannya. Ia terus berputar. Sebenarnya dalam udara sepanas ini, aku lebih berharap mendapatkan angin sejuk, lebih sejuk daripada ini; tetapi nyatanya, “Ah! Ini tidak bisa digubris!” Aku menggumam kesal sambil membelai rambut panjangku yang hitam dan kelimis––tersisir rapi menyamping berkat krim rambut berbau tumbuh-tumbuhan yang sama sekali enggan aku menghafalkan bahan-bahannya; dalam bahasa Latin atau tidak.
Penciumanku mengendus kembali wangi roti Juan Pacche. Kali ini nampaknya Nacchos dengan daging sapi asap yang menggiurkan. “Penyiksaan!!! Mengapa aku mendapatkan kamar ini?” Aku menyesali mendapati kamar yang begitu dekat dengan toko roti itu. Well! Aku tak bisa mengeluh bagai raja; untuk sebuah kamar murah nan bobrok yang berharga 250 peso adalah sebuah berkah dari atas bukan? Lagipula, kurasa ini… hukuman.
Hukuman? Jika kau bertanya mengapa aku menyebutnya begitu; anggaplah engkau lapar, dan sama sekali tak memiliki uang sepeser pun untuk membeli bahkan roti tawar sehelaipun. Oke! Jika saat ketika aku masih pencuri tentu ini tak akan menjadi masalah. Tetapi sekarang aku sudah bertobat dan jika mau ditanya; kurasa ini adalah 'karma'. Aku tidak begitu mempercayai hal-hak semacam itu, lagipula kekristenanku kini sangatlah kuat; tetapi, roti itu… 'Ah!' Aku kembali merengek kecil dan menggumam.
Ya! Dulunya aku adalah seorang pencuri. Bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan untuk seorang pencuri di kalangan masyarakat, apalagi sebagai pencuri makanan dan baju; hal tersebut juga tak membanggakan bagi kalangan pencuri itu sendiri. Bagai sebuah gurauan besar, aku selalu dicemooh siapapun. Padahal lihatlah aku! Tampan, menarik, memiliki dada dan pundak yang tegap bak aktor laga; apa lagi… Well! aku suka memakai kaus singlet dan jeans biru yang agak robek—ciri khas seorang Luis; oleh sebab itu aku sekarang memakainya. Itulah kurasa sebabnya aku mau mengakhiri semuanya. Mungkin dengan kematian aku dapat menjadi tenang, aku tak lagi ditertawakan. Aku bahkan dapat mengira, jika aku menulis sebuah jurnal ataupun sebuah biografi dan semacamnya, pastilah karangan tersebut menjadi bahan tertawaan dan objek komedi acara tengah malam yang biasanya suka menghina dan menyelewengkan sejarah para selebritis. Aku merasa tak pernah dihargai. “Apa dosaku?” Perlahan-lahan aku dapat merasakan mataku berkaca-kaca. Hampir menangis.
Apa arti dari kehidupanku jika sampai sekarang aku selalu dianggap mati dan terhina?
Aku mulai membayangkan sebuah pemikiran pelik. Mata hatiku tertutup oleh hinaan dan gurauan besar yang bernama, Hidupku.
Kini, dalam suasana tenang dan hati yang bersih, aku berdoa kepada Tuhanku, sang juru selamat—Yesus. “Oh, berkatilah namanya dan berkatilah kematianku nanti Tuhan!” Aku seraya berdoa dengan tulus di ranjang kumel ini.
Aku memang tak pernah percaya pada seorang manusia di jaman Siria kuno yang dipercaya sebagai manusia di atas segala dosa atau apa pun itu. Aku menganggap kepercayaan adalah sebuah tabu yang terkuak sejak bahasa baru saja diketemukan oleh manusia. Sekarang, aku boleh tertawa puas. Gurauan besar dalam filosofi hidupku yang runyam ini, kini mulai hancur berkeping-keping bak rumah yang baru dirobohkan buldozer besar.
Sekarang aku mau mengakhiri hidupku, dan jika aku mati, aku masih bingung tentang definisi surga atau neraka. Dari beragam filosofi dan kepercayaan, yang mana yang benar?
Dan akhirnya… keputusanku jatuh kepada si Yesus itu.
“Pergilah kau ke gereja nak!” Aku masih ingat perkataan ibuku yang gemuk dan penuh totol-totol aneh di wajahnya yang berlipat-lipat bagaikan kue panekuk dengan tepung berlebih. Mungkin, itulah yang jadi pertimbanganku. Aku sayang sekali dengan ibuku dan perkataan ibuku adalah surga yang sesungguhnya—itu, baru kusadari saat menit-menit terakhirku ini.
Jika aku mati nanti, apakah akan ada seorang malaikat bersayap dengan lingkaran di kepalanya menjemput jiwaku dan di sertai oleh lantunan-lantunan musik klasik yang lembut? Bagai sebuah film yang romantis.
Mimpi. Kurasa semua adalah semu yang tak bertepis kenyataan. Aku bagai terpental dalam keyakinanku sendiri. Sial! Bahkan untuk mati pun aku harus berpikir keras. “Apa ini!” Aku bergidik kesal. Sendirian di kasur kotor nan murahan ini.
Apakah arti dari kematian itu sendiri…?
“Apakah itu… sebuah paradigma yang tak terdefinisikan oleh otakku yang hampir tak berbobot?”
Semua hanya sebuah kata dan arti bukan?
“Bila aku mati—bila aku benar-benar mati; siapakah aku nantinya?”
Pertanyaan tak jelas arah tujuannya mulai menghantui kepalaku yang dungu. Mereka seraya perlahan-lahan mengerogoti kepercayaan diriku yang super besar dan super hebat. Mereka benar-benar sebuah keperkasaan yang tak terbendung.
AWAN menggulung bak lautan kapas bergradasi biru muda dan putih. Berlomba bagai sebuah gerakan penyu yang amat sangat lambat. Hembusan angin musim panas kota Mexico adalah sebuah berkah yang masih kuhargai di saat terakhirku ini, saat terakhir sebelum aku menyentuh kokang pistol Magnum berkaliber 36 ini ke kepalaku yang dungu—sangat dungu!
Aku akan bermain Russian Roulette dengan satu peluru di selongsongannya yang padat dan keras. Aku akan mencoba menjadi seekor kuda pacuan dengan nyawaku sebagai taruhan; entah apakah nantinya kepalaku beserta isinya akan berserakan tak beraturan, itu urusan nanti. Aku beri tiga kali kesempatan, dan jika saat yang ketiga telah berlalu dan aku belum mati, maka… Aku akan mencoba untuk menjadi hidup—benar-benar merasakan hidup seorang Luis; seorang Latino yang membanggakan nama keluargaku yang telah lama tercemar. Aku tak bisa lagi menanggung malu, aku akan mencoba menjadi baik, individu bermoral dan kebiasaan yang jujur dan apa adanya.
Maka, dimulailah pertaruhan pertama. Aku menaruh sebuah peluru logam berkilauan di salah satu selongsongan peluru Magnum itu. Aku memutarnya secara kasar dan lansung menutupnya. Klak! Suara itu menandakan bahwa peluru itu telah siap bermain. Bermain dalam lingkup nyawaku. Tiba-tiba aku menjadi sangat bijak dan dewasa.
“Jika dalam percobaan pertama aku gagal, maka aku adalah orang yang agak beruntung dan aku mungkin masih sial dengan dua percobaan berikutnya… jangan terlalu senang dulu Luis!” Aku berucap sambil menghela nafas seraya mendekatkan ujung pistol itu ke arah kepalaku yang mulai berpeluh.
Aku menekan kokang pistol itu dengan sergap.
Klak! Kosong. Tak berisi!
Entahlah. Aku merasa agak menyesal. Baiklah! Pertaruhan kedua!
Perlahan-lahan aku mulai menekan kokang pistol itu kembali. Suasana yang menegangkan bagai menunggu sebuah kabar yang akan merubah hidupku yang tak berguna ini menjadi sebuah pesta yang meriah; perubahan yang drastis dan tak bermakna sama sekali. Semua kata menjadi semakin runyam dan tak berbentuk pasti di kepalaku. Aku mulai menutup mataku perlahan, meninggalkan retak-retak usang di dinding, meninggalkan meja dan kursi kayu lusuh di ujung kamar sempit ini yang kusewa dengan hanya 250 peso saja. Ya! Aku akan mencoba menjadi tabah.
Klak! Lagi! Kosong dan aman.
Sial! Apa untuk mati juga harus setegang ini?
Aku mulai menjadi tak sabaran. “Aku ingin mati!!! Aku ingin mati!!!” Aku mulai meneriakkan kata-kata aneh tersebut dengan masih merebahkan tubuhku yang tegap di kasur empuk itu. Masih menikmati saat sebelum kematian. Begitu menegangkan—sensasi yang mengejar-ngejar bak di kala dahulu ketika aku menjadi seorang pencuri, dan aku hampir tertangkap oleh polisi setempat. Ya! Perasaan itu yang membuatku senang kepalang senang.
Aku mengerti! Itulah yang selama ini aku suka. Jadi dalam suasana ketegangan, saat-saat aku yakin bahwa polisi-polisi itu hendak menangkap atau mungkin menembakkan pistolnya ke arahku untuk menghentikanku. Aku menyukai sensasi itu. Tetapi, apakah karena itu, aku kini sangat ingin mati? Bukan, kurasa bukan. Aku ingin mati juga bukan karena kerendahan diri dan malu yang tertanggung lama karena kehidupanku yang datar itu; kurasa bukan. Aku masih tak dapat mengingatnya. Buntu. Aku kembali buntu. Kukira aku telah menemukan alasan mengapa aku sangat menikmati saat menuju kematian. Ternyata bukan.
Baiklah! Yang terakhir, tapi aku hanya beruntung, dan mungkin yang ketiga tak akan seindah tadi. “Aku ingin mati!” Ya, biarkanlah nada-nada sumbang itu kembali berteriak di kepalaku. Maka, aku segera mempersiapkan pistol itu kembali. Tetapi, kali ini aku melihat selongsongan itu. Aku ingin mengetahui apa yang ketiga adalah terakhir. Perlahan-lahan aku membalikkan pistol itu dan mencari ke arah selongsongan peluru itu. “Ada!” Aku girang dan agak tegang. Selongsongan yang berikutnya akan terputar adalah saat-saat itu, saat kematian.
“Jadi ini adalah pasti? Inilah saat menuju kematian yang sesungguhnya.”
Wangi harum roti-roti Juan Pacche kembali berkumandang di hidungku; keju dan susu. Harum yang agak memualkan. Aku sayup-sayup masih dapat mendengarkan rintihan-rintihan pengemis di jalanan. Meraka yang masih ingin hidup; menggelikan bagiku.
Inilah Luis! Inilah saat yang telah kau nanti—
Aku begitu terkagum-kagum dengan kegairahanku untuk segera selesai dan mencapai akhiran yang konkrit itu.
Aku mengarahkan kembali ujung pistol itu ke kepalaku.
Mataku beralih kepada sebuah kaca besar—sebesar pintu kamar dan bulat, agak buram dan sedikit retak. Refleksi yang terpampang menunjukan seorang aku yang mulai kehilangan akal sehat. Tidak! Tidak, aku tidak gila. Aku hanya mempercepat proses. Itu saja.
“Apakah keinginan terakhirku sebelum aku mati… Apakah aku harus berdoa? Baiklah…” Kepalaku kembali dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang tak berbendung.
Maka, sebelum aku benar-benar akan menekan kokang itu; sebelum aku benar-benar menembakkan peluru itu menembus kepalaku dan menyerakkan isi kepalaku ke seluruh pesona ruangan kamar motel bernomorkan 37 ini. Aku akan berdoa. Ya! Aku akan berdoa kepadanya si Yesus itu. “Bagaimana doanya ya?” Aku masih agak bergurau di saat ini. Aku masih tersenyum kecil, mengiris dan pedih bagai anak kecil yang hendak terhukum oleh gurunya karena nakal.
“Bapa kami yang ada di surga… lalu…? Ok! Kurasa itu cukup.” Aku berpikir keras, apa benar sekarang aku telah memeluk sebuah keyakinan. Perlahan aku mulai tertawa sambil mengeluarkan airmata. Lalu, kata itu pun keluar dari mulutku.
“Amen!—”
Maka, berakhirlah semua… Aku menekan kokang itu. Pasti dan tegas.
Deru angin dan kedamaian terbentuk bunyi keras—meletus bagai ribuan balon gas yang bersahutan. Akhiran.
back to top
1987
WANGI roti segar dengan aroma mentega, melebur dengan wangi susu sapi yang segar dan panas—menyatu dalam aroma yang membangkitkan selera. Wanginya menjalar melalui hidung dan sekali lagi meminatkanku; seorang Luis Argestaz dalam sebuah kenyamanan hidup yang enggan kutinggalkan selamanya.
Kenyamanan yang kurasakan sekarang bukan hanya pada sebuah aroma hangat dari sepotong roti yang kucium dari toko Juan Pacche di seberang motel Los Avante yang sekarang aku tinggali tersebut. Tetapi lebih kepada kenikmatannya hanya dengan berbaring di kasur pegas yang empuk ini; kasur yang terbalut kain putih yang lusuh, dengan beberapa noda yang tampaknya si pengurus motel terlalu enggan untuk mencucinya benar-benar bersih. Terbaring dengan santai; tanpa beban dan tanpa ada rasa biadab yang menggantung di wajahku yang menandakan bahwa diriku adalah seorang Latino yang polos.
Aku menarik nafas dan menutup kedua mataku yang bulat dan coklat.
Kemudian aku pun memalingkan tubuhku ke arah sebuah tanggalan, dengan tahun 1987—bergambarkan lukisan sebuah kuda pacuan bernama The Lightning Diablo. Penglihatanku beralih melihat sebuah tanggal terlingkar dengan sebuah tinta merah; angka 29. Entah mengapa angka itu terlingkar. Aku sama sekali tak dapat mengingatnya, pikiranku yang rata bak laut tak berombak ini hanya ingat bahwa, sekarang aku sedang berbaring di kasur yang agak nyaman ini.
Hm…! Sedang apa aku disini?
Yang jelas kesendirianku ini sekarang di karenakan sebuah tujuan dengan sebuah akhiran yang konkrit. Mengapa aku memilih jalan ini pada mulanya? Aku pun tetap bingung dibuatnya. Sebuah keberadaan tak pernah dinilai dari fisik bukan?
Bukan! Aku bukanlah sebuah hantu. Aku hanya seorang Latino biasa, yang menyewa sebuah kamar motel lusuh di perempatan jalan Mexico yang padat dan panas ini. Benar-benar sebuah kota yang ramai dengan hiruk-pikuk amigos yang bertransaksi dengan riang dan bersahaja; pedagang adalah raja dan pembeli adalah ikan yang segera termakan kait murahan.
Mataku kini beralih ke atas; langit-langit mulut—seraya aku merebahkan tubuhku menghadap ke sana.
Baling-baling kecil berwarna biru muda dengan lima helai kipas. Berputar terus-menerus sehingga hampir aku tak dapat melihat fluktuasi bayangannya. Ia terus berputar. Sebenarnya dalam udara sepanas ini, aku lebih berharap mendapatkan angin sejuk, lebih sejuk daripada ini; tetapi nyatanya, “Ah! Ini tidak bisa digubris!” Aku menggumam kesal sambil membelai rambut panjangku yang hitam dan kelimis––tersisir rapi menyamping berkat krim rambut berbau tumbuh-tumbuhan yang sama sekali enggan aku menghafalkan bahan-bahannya; dalam bahasa Latin atau tidak.
Penciumanku mengendus kembali wangi roti Juan Pacche. Kali ini nampaknya Nacchos dengan daging sapi asap yang menggiurkan. “Penyiksaan!!! Mengapa aku mendapatkan kamar ini?” Aku menyesali mendapati kamar yang begitu dekat dengan toko roti itu. Well! Aku tak bisa mengeluh bagai raja; untuk sebuah kamar murah nan bobrok yang berharga 250 peso adalah sebuah berkah dari atas bukan? Lagipula, kurasa ini… hukuman.
Hukuman? Jika kau bertanya mengapa aku menyebutnya begitu; anggaplah engkau lapar, dan sama sekali tak memiliki uang sepeser pun untuk membeli bahkan roti tawar sehelaipun. Oke! Jika saat ketika aku masih pencuri tentu ini tak akan menjadi masalah. Tetapi sekarang aku sudah bertobat dan jika mau ditanya; kurasa ini adalah 'karma'. Aku tidak begitu mempercayai hal-hak semacam itu, lagipula kekristenanku kini sangatlah kuat; tetapi, roti itu… 'Ah!' Aku kembali merengek kecil dan menggumam.
Ya! Dulunya aku adalah seorang pencuri. Bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan untuk seorang pencuri di kalangan masyarakat, apalagi sebagai pencuri makanan dan baju; hal tersebut juga tak membanggakan bagi kalangan pencuri itu sendiri. Bagai sebuah gurauan besar, aku selalu dicemooh siapapun. Padahal lihatlah aku! Tampan, menarik, memiliki dada dan pundak yang tegap bak aktor laga; apa lagi… Well! aku suka memakai kaus singlet dan jeans biru yang agak robek—ciri khas seorang Luis; oleh sebab itu aku sekarang memakainya. Itulah kurasa sebabnya aku mau mengakhiri semuanya. Mungkin dengan kematian aku dapat menjadi tenang, aku tak lagi ditertawakan. Aku bahkan dapat mengira, jika aku menulis sebuah jurnal ataupun sebuah biografi dan semacamnya, pastilah karangan tersebut menjadi bahan tertawaan dan objek komedi acara tengah malam yang biasanya suka menghina dan menyelewengkan sejarah para selebritis. Aku merasa tak pernah dihargai. “Apa dosaku?” Perlahan-lahan aku dapat merasakan mataku berkaca-kaca. Hampir menangis.
Apa arti dari kehidupanku jika sampai sekarang aku selalu dianggap mati dan terhina?
Aku mulai membayangkan sebuah pemikiran pelik. Mata hatiku tertutup oleh hinaan dan gurauan besar yang bernama, Hidupku.
Kini, dalam suasana tenang dan hati yang bersih, aku berdoa kepada Tuhanku, sang juru selamat—Yesus. “Oh, berkatilah namanya dan berkatilah kematianku nanti Tuhan!” Aku seraya berdoa dengan tulus di ranjang kumel ini.
Aku memang tak pernah percaya pada seorang manusia di jaman Siria kuno yang dipercaya sebagai manusia di atas segala dosa atau apa pun itu. Aku menganggap kepercayaan adalah sebuah tabu yang terkuak sejak bahasa baru saja diketemukan oleh manusia. Sekarang, aku boleh tertawa puas. Gurauan besar dalam filosofi hidupku yang runyam ini, kini mulai hancur berkeping-keping bak rumah yang baru dirobohkan buldozer besar.
Sekarang aku mau mengakhiri hidupku, dan jika aku mati, aku masih bingung tentang definisi surga atau neraka. Dari beragam filosofi dan kepercayaan, yang mana yang benar?
Dan akhirnya… keputusanku jatuh kepada si Yesus itu.
“Pergilah kau ke gereja nak!” Aku masih ingat perkataan ibuku yang gemuk dan penuh totol-totol aneh di wajahnya yang berlipat-lipat bagaikan kue panekuk dengan tepung berlebih. Mungkin, itulah yang jadi pertimbanganku. Aku sayang sekali dengan ibuku dan perkataan ibuku adalah surga yang sesungguhnya—itu, baru kusadari saat menit-menit terakhirku ini.
Jika aku mati nanti, apakah akan ada seorang malaikat bersayap dengan lingkaran di kepalanya menjemput jiwaku dan di sertai oleh lantunan-lantunan musik klasik yang lembut? Bagai sebuah film yang romantis.
Mimpi. Kurasa semua adalah semu yang tak bertepis kenyataan. Aku bagai terpental dalam keyakinanku sendiri. Sial! Bahkan untuk mati pun aku harus berpikir keras. “Apa ini!” Aku bergidik kesal. Sendirian di kasur kotor nan murahan ini.
Apakah arti dari kematian itu sendiri…?
“Apakah itu… sebuah paradigma yang tak terdefinisikan oleh otakku yang hampir tak berbobot?”
Semua hanya sebuah kata dan arti bukan?
“Bila aku mati—bila aku benar-benar mati; siapakah aku nantinya?”
Pertanyaan tak jelas arah tujuannya mulai menghantui kepalaku yang dungu. Mereka seraya perlahan-lahan mengerogoti kepercayaan diriku yang super besar dan super hebat. Mereka benar-benar sebuah keperkasaan yang tak terbendung.
AWAN menggulung bak lautan kapas bergradasi biru muda dan putih. Berlomba bagai sebuah gerakan penyu yang amat sangat lambat. Hembusan angin musim panas kota Mexico adalah sebuah berkah yang masih kuhargai di saat terakhirku ini, saat terakhir sebelum aku menyentuh kokang pistol Magnum berkaliber 36 ini ke kepalaku yang dungu—sangat dungu!
Aku akan bermain Russian Roulette dengan satu peluru di selongsongannya yang padat dan keras. Aku akan mencoba menjadi seekor kuda pacuan dengan nyawaku sebagai taruhan; entah apakah nantinya kepalaku beserta isinya akan berserakan tak beraturan, itu urusan nanti. Aku beri tiga kali kesempatan, dan jika saat yang ketiga telah berlalu dan aku belum mati, maka… Aku akan mencoba untuk menjadi hidup—benar-benar merasakan hidup seorang Luis; seorang Latino yang membanggakan nama keluargaku yang telah lama tercemar. Aku tak bisa lagi menanggung malu, aku akan mencoba menjadi baik, individu bermoral dan kebiasaan yang jujur dan apa adanya.
Maka, dimulailah pertaruhan pertama. Aku menaruh sebuah peluru logam berkilauan di salah satu selongsongan peluru Magnum itu. Aku memutarnya secara kasar dan lansung menutupnya. Klak! Suara itu menandakan bahwa peluru itu telah siap bermain. Bermain dalam lingkup nyawaku. Tiba-tiba aku menjadi sangat bijak dan dewasa.
“Jika dalam percobaan pertama aku gagal, maka aku adalah orang yang agak beruntung dan aku mungkin masih sial dengan dua percobaan berikutnya… jangan terlalu senang dulu Luis!” Aku berucap sambil menghela nafas seraya mendekatkan ujung pistol itu ke arah kepalaku yang mulai berpeluh.
Aku menekan kokang pistol itu dengan sergap.
Klak! Kosong. Tak berisi!
Entahlah. Aku merasa agak menyesal. Baiklah! Pertaruhan kedua!
Perlahan-lahan aku mulai menekan kokang pistol itu kembali. Suasana yang menegangkan bagai menunggu sebuah kabar yang akan merubah hidupku yang tak berguna ini menjadi sebuah pesta yang meriah; perubahan yang drastis dan tak bermakna sama sekali. Semua kata menjadi semakin runyam dan tak berbentuk pasti di kepalaku. Aku mulai menutup mataku perlahan, meninggalkan retak-retak usang di dinding, meninggalkan meja dan kursi kayu lusuh di ujung kamar sempit ini yang kusewa dengan hanya 250 peso saja. Ya! Aku akan mencoba menjadi tabah.
Klak! Lagi! Kosong dan aman.
Sial! Apa untuk mati juga harus setegang ini?
Aku mulai menjadi tak sabaran. “Aku ingin mati!!! Aku ingin mati!!!” Aku mulai meneriakkan kata-kata aneh tersebut dengan masih merebahkan tubuhku yang tegap di kasur empuk itu. Masih menikmati saat sebelum kematian. Begitu menegangkan—sensasi yang mengejar-ngejar bak di kala dahulu ketika aku menjadi seorang pencuri, dan aku hampir tertangkap oleh polisi setempat. Ya! Perasaan itu yang membuatku senang kepalang senang.
Aku mengerti! Itulah yang selama ini aku suka. Jadi dalam suasana ketegangan, saat-saat aku yakin bahwa polisi-polisi itu hendak menangkap atau mungkin menembakkan pistolnya ke arahku untuk menghentikanku. Aku menyukai sensasi itu. Tetapi, apakah karena itu, aku kini sangat ingin mati? Bukan, kurasa bukan. Aku ingin mati juga bukan karena kerendahan diri dan malu yang tertanggung lama karena kehidupanku yang datar itu; kurasa bukan. Aku masih tak dapat mengingatnya. Buntu. Aku kembali buntu. Kukira aku telah menemukan alasan mengapa aku sangat menikmati saat menuju kematian. Ternyata bukan.
Baiklah! Yang terakhir, tapi aku hanya beruntung, dan mungkin yang ketiga tak akan seindah tadi. “Aku ingin mati!” Ya, biarkanlah nada-nada sumbang itu kembali berteriak di kepalaku. Maka, aku segera mempersiapkan pistol itu kembali. Tetapi, kali ini aku melihat selongsongan itu. Aku ingin mengetahui apa yang ketiga adalah terakhir. Perlahan-lahan aku membalikkan pistol itu dan mencari ke arah selongsongan peluru itu. “Ada!” Aku girang dan agak tegang. Selongsongan yang berikutnya akan terputar adalah saat-saat itu, saat kematian.
“Jadi ini adalah pasti? Inilah saat menuju kematian yang sesungguhnya.”
Wangi harum roti-roti Juan Pacche kembali berkumandang di hidungku; keju dan susu. Harum yang agak memualkan. Aku sayup-sayup masih dapat mendengarkan rintihan-rintihan pengemis di jalanan. Meraka yang masih ingin hidup; menggelikan bagiku.
Inilah Luis! Inilah saat yang telah kau nanti—
Aku begitu terkagum-kagum dengan kegairahanku untuk segera selesai dan mencapai akhiran yang konkrit itu.
Aku mengarahkan kembali ujung pistol itu ke kepalaku.
Mataku beralih kepada sebuah kaca besar—sebesar pintu kamar dan bulat, agak buram dan sedikit retak. Refleksi yang terpampang menunjukan seorang aku yang mulai kehilangan akal sehat. Tidak! Tidak, aku tidak gila. Aku hanya mempercepat proses. Itu saja.
“Apakah keinginan terakhirku sebelum aku mati… Apakah aku harus berdoa? Baiklah…” Kepalaku kembali dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang tak berbendung.
Maka, sebelum aku benar-benar akan menekan kokang itu; sebelum aku benar-benar menembakkan peluru itu menembus kepalaku dan menyerakkan isi kepalaku ke seluruh pesona ruangan kamar motel bernomorkan 37 ini. Aku akan berdoa. Ya! Aku akan berdoa kepadanya si Yesus itu. “Bagaimana doanya ya?” Aku masih agak bergurau di saat ini. Aku masih tersenyum kecil, mengiris dan pedih bagai anak kecil yang hendak terhukum oleh gurunya karena nakal.
“Bapa kami yang ada di surga… lalu…? Ok! Kurasa itu cukup.” Aku berpikir keras, apa benar sekarang aku telah memeluk sebuah keyakinan. Perlahan aku mulai tertawa sambil mengeluarkan airmata. Lalu, kata itu pun keluar dari mulutku.
“Amen!—”
Maka, berakhirlah semua… Aku menekan kokang itu. Pasti dan tegas.
Deru angin dan kedamaian terbentuk bunyi keras—meletus bagai ribuan balon gas yang bersahutan. Akhiran.
Did you like this?
vote
