KISMET - Eyes of Innocent by Alex Jhon
chapters
chapter 1:
Eyes of Innocent
chapter 2:
Memory Bed
chapter 3:
Silent Whore
chapter 4:
SHINIGAMI
Eyes of Innocent
chapter 1
—
updated Jul 18, 2007
—
22104 characters
—
0 people liked this writing
Ishibara Tokio
1988
Anak perempuan berkimono lusuh sepangkal paha itu berlari-lari di taman, ia tersenyum dan mengajakku serta dalam lengannya yang mungil dan putih, tekstur rambut hitam lebatnya menambah suasana manis. Aku tak dapat melihat wajahnya, tetapi aku tidak takut, aku telah melihatnya sekian lama, bahkan setelah aku memasuki penjara ini sebulan yang lalu. Anak kecil ini selalu menemani, aku tidak peduli; hantu atau bukan. Ia selalu membuatku nyaman, gadis kecil berkimono lusuh itu adalah surgaku dalam kesepian yang mencabik tajam, kesadaran penuh yang terengkuh setiap saat aku tersadar dari mimpi—mimpi yang mempertemukan aku dengannya, si gadis kecil manis berwajah tak jelas itu.
MATAKU perlahan-lahan terbuka, secercah biasan cahaya mentari menyilaukan kedua mata namun, cahaya itu memberikan nuansa hangat. Aku bisa melihat debu-debu dan partikel-partikel alam beterbangan lembut di cahaya tersebut. Aku bangkit dari sebuah tempat tidur berpetak kecil; tempat tidur berseprai kuning wol yang terletak di pojokan sisi ruangan selku yang sempit ini.
Tak! Tak! Tak!
Suara rentetan tongkat besi sipir penjara yang dibunyikan kencang dengan cara diseret melalui bagian jeruji-jeruji sel telah membuatku terbangun, dan kurasa bukan hanya aku, tetapi seluruh penguni Penjara Distrik Kanishima ini; baik itu pembunuh, perampok, pemerkosa, para koruptor dan semua negatifitas yang terkait dalam lingkup dunia, sebuah keberadaan para jiwa yang sesat. Para penjahat.
Kanishima. Untuk sebuah negara kepulauan, Jepang memiliki beberapa fasilitas tersembunyi dan penjara ini adalah salah satunya—penjara yang dikhususkan bagi penjahat dan para kriminal tingkat istimewa pula, seperti aku.
“Ishibara, Ishibara Tokio! Bangunlah!” Suara parau seorang pria memanggilku dari balik pintu selku yang agak dingin dan berkarat ini. Sipir Hanakure Rouji. Seorang pria setengah baya, dengan alis dan jenggot yang tebal; serta pandangan matanya yang merendahkan, bagi orang-orang yang melihatnya.
“Baik! Baik! Ada apa Sipir Rouji?” Aku menjawab malas.
“Kepala Sipir menginginkanmu untuk bertemu seseorang hari ini, segera!!!” Ia berteriak seakan-akan aku berada jauh sekali dari hadapannya.
Klak! Ia membuka kunci selku.
Perlahan, dengan suara besi yang menderit, aku dapat melihat cahaya yang silau dari lampu-lampu neon bertegangan rendah yang bergantungan di atas langit-langit penjara ini yang kumel dan bernuansa besi tebal berkarat yang sulit terpenetrasi, dalam ataupun luar. Perlahan pula mataku menangkap sosok Sipir Rouji, sambil berlagak mengetuk-ngetukan tongkat besi ke tangan kanannya dan menyeringai kepadaku—seakan-akan aku adalah seekor bangsat dan ia adalah seorang suci dan hendak menghilangkan aku yang ia anggap sebagai aib dunia ini. Aku dapat melihat pandangannya, tidak dapat ditolerir, ia membenciku. Apa kesalahanku? Lebih dalam lagi, mengapa aku ada disini?
Mengapa?
Dalam keheningan, Sipir Rouji dan tongkat besinya yang mengintimidasi. Aku mencoba mengingat letak kesalahanku sehingga aku menjadi seorang penghuni tetap di Kanishima ini. “Apa? Apa yang telah kuperbuat? Hal itukah? Sepele. Aku tidak mengerti.”
Yang kulakukan hanyalah membantu sebuah tahapan. Ya! Okasan mengajariku. Oh! Ibuku yang baik! Ia mengajariku bahwa para anak perempuan seharusnya bermain-main di taman bunga, seharusnya mereka menunggu dewasa dan tak usah ke sekolah. Mengapa? Karena sekarang, banyak sekali bahaya. Dan suatu saat jika mereka melanggar mereka akan mengalami nasib yang buruk dan, aku hanyalah penolong kaum para ibu-ibu yang telah mengalami hal-hal menyedihkan itu. Anak-anak perempuannya menjadi nakal dan pergi kesekolah; tidak bermain-main di taman seperti seharusnya—“Nakal! Nakal!” Aku begitu kasihan dengan mereka, maka aku membantu para ibu-ibu itu dalam menghukum para anak-anak perempuannya. Ya! Dengan sedikit hukuman mungkin akan mengobati kesedihan mereka yang terabaikan—malang dan sedih, jadilah aku menghukum mereka.
Katakanlah padaku!!! Apakah… itu salah?!
Dengan sedikit abu, api dan dusta. Aku mengarahkan anak-anak perempuan kecil itu dengan busana kimono yang seharusnya mereka pakai dan mereka sehendaknya bermain di taman bunga. Seperti anak perempuan yang selalu menemaniku; anak kecil berkimono lusuh yang selalu muncul di imajinasiku yang damai—yang selalu mengajakku bermain, Hana—sesuai dengan ladang bunga tempat biasa ia bermain bersamaku. Masih belum jelas siapa dia, aku pun tak dapat melihat sekilas wajahnya yang begitu kabur.
Tidak! Aku tidak takut pada Hana! Aku senang dengan keberadaannya. Suara tawa dan bola karet kecil berwarna merah, menggelinding di ladang bunga dan angin-angin semilir yang menggetarkan jiwa. Damai dan damai dan damai.
“Kali ini, sang Kepala Sipir ingin aku menemui siapa ya? Apa Ibu dari anak-anak itu yang telah aku hukum dengan adil dan bijak? Hah…! Mungkin mereka mau berterima kasih seperti dua ibu yang kemarin aku temui?” Seraya aku berjalan dengan Sipir Rouji menuju ruangan yang diperintahkan Kepala Sipir untuk aku datangi. Aku terus menduga tentang siapakah yang akan kutemui selanjutnya dalam nuansa keheranan ini. Tetapi aku masih penasaran dengan dua ibu yang kemarin. Cara mereka berterima kasih kepadaku, yang telah membantu mereka adalah… aneh; mereka, melempariku dengan pena dan kertas dan mengutukku dengan beragam kata umpatan; bahkan terakhir, yang kutakjubkan bahwa mereka menghadiratku sebagai, Setan Terkutuk! Jadi, apa hukumanku terlalu berat? Malang sekali ibu-ibu itu. Aku mengasihi.
Sampai. Aku telah sampai di sebuah ruangan. Tetapi, ini bukan ruang di mana biasanya aku menemui seorang pengunjung. Suasananya; kursi panjang coklat yang empuk, meja pendek dengan segelas air putih dan beberapa kertas dan pena tinta. Ini… adalah seperti ruang dokter, bukan, lebih cocok pada ruangan seorang ahli psikologis. “Mengapa Kepala Sipir menyuruhku ke sini? Siapa yang sebenarnya akan kutemui? Psikiater kah?” Aku bertanya.
Pertanyaanku terjawab. Saat Sipir Rouji membuka pintu besi kokoh itu dengan tangannya yang kokoh pula, aku sesayup mendapatkan gambaran seorang pria yang mungkin agak muda dariku—kurang lebih berusia sekitar akhir 20-an. Rambut yang tersisir rapi ke belakang dan setelan serba hitam yang luar biasa bersih dan bergemilang. Ia memakai kacamata berlensa bulat yang kecil, polos dan bertangkai jernih, seakan-akan ia tidak memakai kacamata sama sekali. Ia tersenyum. Sipir Rouji segera pergi dari hadapanku dengan pandangan yang mengintimidasi. Ia mendorongku masuk dan mengunci pintu itu.
“Kendou-san, jika sudah selesai panggil saja aku! Aku ada didekat sel ini, ok?” Sipir Rouji berbicara melalui jeruji kecil yang tertanam di pintu sel berwarna biru ini. Aku masih dapat melihat lengkungan sipit matanya dan alisnya yang tebal.
Psikiater muda itu tersenyum dan mengganguk menandakan bahwa ia mengerti. Lalu ia melihatku.
Aku kini memasuki ruangan itu. Sangat perlahan dan tenang.
“Selamat pagi, Ishibara Tokio? Benar?” Ia memulai pembicaraan dengan nada ramah. “Basa-basi yang percuma,” aku menggumam. “Silahkan duduk disofa ini. Ini… memang khusus untukmu.” Ia berbicara seraya mengarahkan tangan kanannya ke sofa empuk itu. Ramah. Itulah impresi pertama yang kudapatkan dari psikaiter muda ini.
Tetapi, untuk apa Kepala Sipir membawaku untuk menemuinya; apakah untuk penyuluhan, atau pengobatan.
Aneh, aku baik-baik saja, aku…
Pikiranku terhenti saat aku telah sampai di sofa itu dan menubrukkan kakiku yang terbalut celana bahan biru muda, sama dengan warna bajuku yang memang satu setelan—seragam tahanan khas Kanishima. Ia tersenyum dan sekali lagi mengarahkan tangannya ke arah sofa itu dan tersenyum.
Aku segera duduk. Ha! Tokio menjadi penurut! Selain Okasan, selain dia, tak ada orang lain yang bisa membuat Tokio begini penurut. “Hebat! Dokter aneh ini sungguh hebat! Matanya dan bahasa tubuhnya, mirip dengan Ibu.” Aku diam-diam mulai mengaguminya. Psikiater itu sekarang tampak lega, mata hitam dan agak bulatnya itu memberikan sinar hangat, sehangat Ibu.
“Kenalkan, Nama saya Kendou Hamashijou. Jadi, apa kau sudah mengira-ngira sedang apa kau dan aku disini, Tokio-san?” Ia kembali tersenyum, senyuman hangat. Aku menjadi merasa serba salah. “I-iya, kurasa… penyuluhan jiwa, kurasa itu maksudmu, dokter,” aku membalasnya dengan langsung. Kendou tertawa kecil, tawanya mencerminkan dirinya yang energetik. Lalu ia berkata, “Baiklah, kurasa kau benar. Tetapi, tolong! Jangan alamatkan aku sebagai seorang dokter. Aku… hanya seorang psikiater. Aku di sini hanya untuk menolong.” Ia berhenti tertawa.
Ada sebuah jeda.
Lalu ia merapikan kertas dan penanya yang ia pegang sedari tadi dan mulai berkata kembali, “Kudengar kau punya sedikit masalah dengan anak perempuan. Jadi… ?”
Ia melihatku, ia tahu, anak perempuan itu. Ia tahu! Apakah ia tahu semua? Apakah ia tahu tentang kehebatanku; seorang ahli mendidik anak, khususnya anak perempuan yang tak mau menuruti ibunya. Aku menjadi gemetar, bibirku hendak tersenyum. Lalu tiba-tiba aku berkata, “Apa aku akan diselami dan dipahami karena ini?” Aku secara spontan mengucapkan pertanyaan bodoh ini kepadanya.
“Ya, Tokio-san! kau benar,” ia melihatku dengan mata jernihnya, dengan kacamata berlensa polosnya. “Jadi, kau merasa hebat telah menolong anak-anak perempuan itu. Lebih dalam lagi, apa kau merasa kau menjadi penolong bagi jiwa para ibu yang kau selami itu? Tokio-san, apa kau mengerti sikap dan perilakumu yang sebenarnya?” Mata Kendou melirikku dengan tenang, begitu beda dengan nada suaranya yang tajam saat ia menanyakan aku pertanyaan-pertanyaan tersebut.
“Ya! Tentu Kendou-san! Waktu kecil aku sangat…”
“Ah! Itu dia. Tokio-san!” Ucapanku tiba-tiba terpotong oleh kata dan senyumannya.
Ia langsung mengeluarkan kalimat itu, kalimat yang kurasa sebenarnya sudah lama ia ingin utarakan; semenjak aku memasuki pintu ini, bahkan mungkin sebelum dia benar-benar telah bertemu denganku. Aku yakin ia telah menyiapkannya lebih dari apapun. Ia lebih siap dan sergap dalam hal ini; melebihi acara televisi ber-rating tinggi, melebihi jadwal belanja mingguan, ataupun melebihi pasien-pasiennya yang lain. Kurasa semua telah ia lupakan dan abaikan demi diriku.
Mengapa?
“Sekarang, masa kecilmu… Aku mau kita menelusurinya Tokio-san! Jangan takut, ini tidak menyakitkan,” ia tersenyum dan matanya tidak bergeming dari mataku. Bahasa tubuhku mulai agak kacau. Canggung. Ia mengeluarkan sebuah senter kecil dan ia bangkit dari kursi tempat ia duduk dan segera menuju sebuah saklar lampu, ia mematikan lampu di ruangan ini. “Apa?” Aku keheranan. Lalu ia duduk kembali kekursi itu. Kini ia lebih merapatkan kursinya ke sofa yang sedang kududuki.
“Sekarang… kau tahu sekarang apa yang akan aku lakukan sebagai seorang psikiater?” Ia bertanya.
Dibalik remang-remang ruangan ini, sedikit cahaya dari luar dapat membuatku melihat senyuman ramah psikiater ini. “Ya, kurasa. Apa kau mau menghipnotisku?' Aku bertanya dengan sanggahan nafas yang pendek, aku tahu apa yang harus kulakukan berikutnya. Maka, aku segera merebahkan tubuhku yang kokoh ke sofa coklat ini, sofa yang memang disiapkan untukku.
Kemudian, ia menyalakan senter kecil itu. Sebuah sinar kuning dapat kulihat terbang-kesana kemari seperti kunang-kunang yang terjebak dan tak mau diam. “Baiklah, sekarang Tokio-san! Tolong kau perhatikan cahaya ini, jangan terlalu tegang, santai saja!” Ia memberiku petunjuk. Aku meladeninya. Lagipula, aku tidak takut, apa salahku? Tidak ada bukan? Biarlah Kendou melihat kebenaran. Aku menurut. Mataku mengikuti cahaya kecil senter itu; ke kanan, ke kiri, dan ke manapun, terus kuikuti; dengan santai dan tanpa ketegangan, seperti yang Kendou katakan. Perlahan, aku menjadi lemas dan rileks, mataku menjadi agak tak kuasa untuk ditahan agar tetap terjaga.
“Kurasa ia berhasil,”
“Santai saja oke! Aku juga masih baru dalam hal ini!” Ia sedikit melucu. “Sudah kuduga,” aku pun tertawa kecil dengan nada yang sedikit lemas. “Aku sangat terilham dengan kasusmu ini, Tokio-san! Aku…” Ia terus berbicara, tetapi aku benar-benar hampir tidak sadarkan diri. “Jadi, ia umpamakan kepribadianku ini sebagai, Kasus…” Pikirku yang sudah tinggal selangkah lagi sebelum aku benar-benar tak bisa mendengar ocehan Kendou. Dan tak berapa lama kemudian. Aku mendapati suara dengungan dan kegelapan total. Suara Kendou telah hilang. Begitu pula suasana ruang tadi.
LADANG bunga yang luas. Memberikan memoriku sebuah siraman air hangat; segar dan terbuka. Aku berada di sebuah alam di mana aku masih bersama Okasan tersayang. Ibu yang baik; yang selalu mengajari aku tentang aturan seorang anak perempuan—walaupun aku seorang lelaki. Ya! Aku adalah seorang anak laki-laki baik yang diilahirkan di sebuah desa kecil yang sebagian penduduknya adalah petani padi dan penumbuk jerami. Tetapi, Ibu, Ibu selalu mengajari aku, memberi aku keleluasaan seorang anak perempuan. Ibu menyayangiku dengan selalu memperbolehkan aku bermain-main di ladang bunga di sekitar rumahku yang tertata apik oleh genting jerami dan lantai tatami yang berwarna lusuh.
Ibu selalu memberiku baju kimono lusuh bekasnya, karena dulu kami tidak begitu kaya. Aku menurut. Lagipula, jika Tokio kecil tidak menurut maka Ibu akan menyalakan korek api dan menyulut kulit Tokio kecil.
“Toru-chan! Kemari!” Panggilan kecil Ibu jika sedang marah. Di saat nama itu tersebut maka aku akan segera lari dan bersembunyi di gudang jerami tua, bersama dengan bola karet merah pemberian mendiang ayahku yang tewas karena perang. Aku selalu merangkulnya dan menekannya ke perut dan mukaku, seakan-akan mencoba menahan nafasku dengannya—aku mencoba mati, aku takut. Ibu bisa menjadi iblis, Ibu bisa menjadi malaikat. Tergantung.
“Sekarang Tokio-san! Apa kau ada di mana kau seharusnya berada?” Suara Kendou tiba-tiba tersiar. Entah bagaimana, aku seakan-akan aku telah terpisah dari teritorial ladang bunga dan gudang tempat aku bersembunyi itu. Aku hanya melihat bayangan-bayangan berwarna-warni dan buram. Mataku berair. Aku mulai sadar bahwa aku sedang keadaan terhipnotis! Jadi inikah rasanya? Aku terheran.
“Kendou! Dimana kau?' Aku berteriak di balik awan berkabut dan suara-suara gaduh tangisan yang Toru-chan buat, meringis dan sembunyi dari Okasan tersayang.
“Diladang di mana Hana berada!” Ya! Hana, gadis kecil yang selalu menemaniku itu—sesuai dengan bunga, ladang bunga yang indah, seperti aku dan Ibu.
“Hana? Tokio… Sia… Sudahlah! Lupakan itu, sekarang kau berada di mana?” Suara teriakan Kendou terdengar kalut.
Aku tidak menjawab.
Bukan! Bukan karena aku tidak tahu dan tidak mau. Tetapi aku terhenti, mulutku terkunci rapat. Aku melihat Tokio kecil disiksa dengan korek api oleh Ibu, melebihi yang biasa, melebihi aku ketika menghukum anak-anak nakal itu. “Ibu?” Aku membelalakkan mataku. “Tidak mungkin! Aku tidak ingat ini, kapan? Kendou!!!” Aku berteriak memanggil namanya.
“Ini… Ini pasti ulahmu Kendou! Bangunkan aku sekarang! Bangunkan!!!' Aku berteriak marah. Kurasa amarahku terdengar melalui alam bawah sadar yang Kendou atau mungkin, aku ciptakan.
Ibu tidak mungkin begini, tidak mungkin! Ibu tidak pernah menyiksaku, Ibu sayang pada Tokio kecil!
“Ba-baiklah Tokio! Tenang!” Suaranya terbata-bata dan ling-lung. ”Sekarang tenanglah. Bayangankan tempat yang kau berada sekarang menjadi sepi. Hanya ada kau dan kau seorang. Tokio, tariklah nafasmu dan rasakan energi negatf keluar dari tubuh melalui udara itu; perlahan dan pelan,” suara Kendou yang cemas itu aku turuti dan, dalam hitungan detik, aku telah kembali dalam kegelapan. Aku kembali merasakan aku sedang merebahkan tubuhku di sebuah sofa.
“Sekarang, kau boleh membuka matamu…” Suara Kendou yang tenang membuat mataku terbuka perlahan. Aku begitu marah. Kendou mencoba menipu memoriku. Tetapi, aku terlalu letih, sangat letih.
Maka—
“Kendou-san. Aku mau… kembali ke selku, sekarang,” suaraku melemah, beda dengan hatiku yang membara. Lemas.
“Baiklah, maafkan aku Tokio-san, mungkin lain waktu. Ya! Mungkin lain waktu.” Lalu Kendou bangkit dari kursinya dan segera menuju pintu sel itu dan mengetukkan jemarinya ke pintu besi tebal itu. Tak berapa lama, pintu terbuka dan Sipir Rouji dengan tampang bengisnya kembali menghiasi langit penjara yang masih agak gelap dan sayu. Kurasa Kendou lupa menyalakan lampu sesaat ia menyelesaikan sesi tadi. Mataku masih mencoba membiasakan cahaya lorong penjara Kanishima ini yang agak silau. Sesaat sebelum aku diangkat dan dibawa Sipir Rouji, diam-diam aku mengambil pena Kendou.
Entah mengapa, aku hanya ingin.
Sipir Rouji mendorongku kearah lorong dan sekilas tersenyum pada Kendou. Aku tak sempat berpikir atau mencurigai apa sipir brengsek itu juga mencoba mengacaukan memoriku ini. Entahlah! Aku hanya ingin beristirahat. Tidur.
Sekilas aku membalikkan wajahku ke arah Kendou.
“Aku… tak mau melihatnya lagi Sipir Rouji.” Aku berkata pelan seraya berjalan melalui lorong ini. Sipir berjanggut itu hanya menaikkan alis kanannya dan menggumam. “Terserah.”
Baiklah… aku juga terserah.
KEMBALI dalam sel. Mataku agak sayu dan kepalaku menjadi pusing. Semua menjadi tidak waras. Gila! Ini semua gila. Aku masih melihat Hana yang berkimono lusuh itu di dalam selku, tersenyum. Kini matanya sangat jelas. Aku dapat melihat mata Hana yang kecil dan penuh penderitaan. Mata yang sama pada anak-anak perempuan yang kuhukum adil itu. Tetapi apakah aku benar-benar adil.
Okasan? Apakah ia adil padaku.
Kimono anak perempuan yang terpakaikan oleh Hana dalam mimpiku itu—anak perempuan yang sekarang masih memandangi dengan tatapan suci dan perih.
Kimono itu… milikku. Bola karet merah yang selalu ia mainkan dalam mimpiku… itu bola pemberian ayahku. Tetapi, suara-suaranya untuk menghukum para anak-anak perempuan; Itu bukan ibu! Itu adalah Hana! Anak kecil perempuan yang baik dan tak jelas wajahnya…
Tidak! Sekarang jelas. Sangat jelas.
Matanya yang kecil itu adalah sama dengan mataku. Aku…
“Mari bermain!” Hana kembali bersuara dalam sel sempit ini.
“Di mana ladang bunga kita Hana?” Aku bertanya sambil duduk membaringkan pundakku ke dinding sel ini yang kumuh dan dingin seraya melihat langit-langit sel yang kebiru-biruan.
“Ladang… bunga! Dasar tak tahu terima kasih! Mengapa kau lebih menikmati bunga ketimbang aku! Aku! AKU!” Aku terkejut. Hana menjadi marah, suaranya bergetar marah, seperti Ibu disaat ia hendak membakarku…
Tidak! Okasan tidak pernah mencoba membakarku! Tidak!
Aku menutup kepalaku dengan kedua tanganku. Aku merasakan gatal pada kedua lenganku.
Oh! Luka itu, luka ketika aku kecil dulu saat aku terjatuh dari kereta jerami. Itu hanya luka biasa.
“Luka biasa apa? Bodoh! Itu karena dia, Dia! Dia! Bodoh!!!” Hana kembali berteriak, berteriak di sel sempit ini.
“Diam! Diamlah Hana! Kau membuatku gila. Hana, kau…” Aku mencoba menatapnya. Mata itu. Aku melihat kesedihan, kesedihan yang sama saat aku mencoba kabur dari Ibu…
“Tunggu! Mengapa aku mencoba kabur? Mengapa?”
Pikiranku mulai kacau, kacau…
Lalu, semua menjadi sepi. Hana hilang! Hilang begitu saja.
Aku merebahkan tubuhku kembali ke tempat tidur kecil ini. Merangkulkan kedua lenganku ke dada dan meringis. “Dingin! Ibu! Aku kedinginan, berikanlah aku kehangatan, khas dirimu yang berkuasa…” Aku melihat sekilas ke arah terali besi pintu sel. Tertegun.
Aku telah menghukum para anak-anak nakal selama ini, dengan cara yang benar. Aku tidak salah! Tetapi Ibu yang salah! Ibu salah mendidikku. Semua Ibu! Semua…
Segera aku mengeluarkan bolpen Kendou yang diam-diam tadi telah aku ambil. Sebuah pena merah dengan tombol perak yang bila ditekan akan keluar ujung penanya. Aku mengangkatnya tinggi-tinggi sehingga bagian perak itu memantulkan cahaya lampu lorong dengan seksama.
Aku menekan tombol itu sehingga keluar ujung penanya yang lancip. Aku bangkit dari tempat tidur. Lalu segera berdiri menuju ke sisi dinding yang bersebelahan dengan tempat tidurku yang lusuh. Aku segera menekan pena itu tajam dan keras ke dinding—begitu keras hingga kau bisa merasakan derit dan suara menggangu yang ditimbulkan oleh gesekan-gesekan pena dan dinding semen itu. Aku mencoba marah, tapi aku tak mau berteriak! (Aku tak mau dianggap gila oleh sipir-sipir Kanishima.)
Maka, aku akan melampiaskan kemarahanku pada dinding ini, pada pena ini. Pada aku dan pada semua.
To Ru-cha n Ben… CI! OkA-San… ToRu-ch an… Benci… Ib… U Matila… H Ibu
Mati… ibu ma… ti!!! To… Kio ingin Ibu mati!!!
Beberapa guratan kasar telah kubuat pada dinding sel ini. Beberapa guratan yang kubuat tanpa sadar dan terjaga. “Siapa yang melakukannya? Apakah ada orang lain selain aku di dalam sel sempit ini?” Aku mencari-cari kesana kemari. “Penyusup! Keluarlah kau!” Aku berteriak histeris. Aku berteriak dan terus berteriak. “Hana! Pasti Hana! Anak nakal!” Aku mengumpat kesal. “Brengsek kau Hana! Matilah kau! MATI!!!” Aku berteriak.
Hana muncul dan aku segera mencabik-cabikkan pena itu ke arah tubuh mungil Hana. Mata Hana yang serupa denganku.
Mata Hana—ia bukan temanku dalam kedamaian! Dialah penyebab aku menghukum anak-anak itu dengan salah! “Aku tidak mendengarkan Ibu! Aku salah… Hana! Kau salah! Hana!”
Histeris dan aku terus menghantam tubuhnya bertubi-tubi dengan cabikan pena merah itu. Darah mengucur dari dalam tubuh Hana. Kimono lusuh itu bernoda darah dan bercampur dengan tangisan; bukan Hana, tetapi Tokio. Ya! Tokio kecil, Tokio kecil tiba-tiba mencuat bak kupu-kupu dari tubuh remuk Hana, Tokio kecil memelukku.
Aku menyeretkan pundakku ke arah dinding seraya menangis.
“Tokio-chan! Maafkanlah aku, aku salah selama ini! Maaf!” Aku menangis. Dan aku sadar, bahwa aku sendiri adalah seorang Ibu yang salah mendidik anak-anak. Jadi… Setan Terkutuk adalah benar apa adanya—adalah aku, adalah Ishibara Tokio.
back to top
1988
Anak perempuan berkimono lusuh sepangkal paha itu berlari-lari di taman, ia tersenyum dan mengajakku serta dalam lengannya yang mungil dan putih, tekstur rambut hitam lebatnya menambah suasana manis. Aku tak dapat melihat wajahnya, tetapi aku tidak takut, aku telah melihatnya sekian lama, bahkan setelah aku memasuki penjara ini sebulan yang lalu. Anak kecil ini selalu menemani, aku tidak peduli; hantu atau bukan. Ia selalu membuatku nyaman, gadis kecil berkimono lusuh itu adalah surgaku dalam kesepian yang mencabik tajam, kesadaran penuh yang terengkuh setiap saat aku tersadar dari mimpi—mimpi yang mempertemukan aku dengannya, si gadis kecil manis berwajah tak jelas itu.
MATAKU perlahan-lahan terbuka, secercah biasan cahaya mentari menyilaukan kedua mata namun, cahaya itu memberikan nuansa hangat. Aku bisa melihat debu-debu dan partikel-partikel alam beterbangan lembut di cahaya tersebut. Aku bangkit dari sebuah tempat tidur berpetak kecil; tempat tidur berseprai kuning wol yang terletak di pojokan sisi ruangan selku yang sempit ini.
Tak! Tak! Tak!
Suara rentetan tongkat besi sipir penjara yang dibunyikan kencang dengan cara diseret melalui bagian jeruji-jeruji sel telah membuatku terbangun, dan kurasa bukan hanya aku, tetapi seluruh penguni Penjara Distrik Kanishima ini; baik itu pembunuh, perampok, pemerkosa, para koruptor dan semua negatifitas yang terkait dalam lingkup dunia, sebuah keberadaan para jiwa yang sesat. Para penjahat.
Kanishima. Untuk sebuah negara kepulauan, Jepang memiliki beberapa fasilitas tersembunyi dan penjara ini adalah salah satunya—penjara yang dikhususkan bagi penjahat dan para kriminal tingkat istimewa pula, seperti aku.
“Ishibara, Ishibara Tokio! Bangunlah!” Suara parau seorang pria memanggilku dari balik pintu selku yang agak dingin dan berkarat ini. Sipir Hanakure Rouji. Seorang pria setengah baya, dengan alis dan jenggot yang tebal; serta pandangan matanya yang merendahkan, bagi orang-orang yang melihatnya.
“Baik! Baik! Ada apa Sipir Rouji?” Aku menjawab malas.
“Kepala Sipir menginginkanmu untuk bertemu seseorang hari ini, segera!!!” Ia berteriak seakan-akan aku berada jauh sekali dari hadapannya.
Klak! Ia membuka kunci selku.
Perlahan, dengan suara besi yang menderit, aku dapat melihat cahaya yang silau dari lampu-lampu neon bertegangan rendah yang bergantungan di atas langit-langit penjara ini yang kumel dan bernuansa besi tebal berkarat yang sulit terpenetrasi, dalam ataupun luar. Perlahan pula mataku menangkap sosok Sipir Rouji, sambil berlagak mengetuk-ngetukan tongkat besi ke tangan kanannya dan menyeringai kepadaku—seakan-akan aku adalah seekor bangsat dan ia adalah seorang suci dan hendak menghilangkan aku yang ia anggap sebagai aib dunia ini. Aku dapat melihat pandangannya, tidak dapat ditolerir, ia membenciku. Apa kesalahanku? Lebih dalam lagi, mengapa aku ada disini?
Mengapa?
Dalam keheningan, Sipir Rouji dan tongkat besinya yang mengintimidasi. Aku mencoba mengingat letak kesalahanku sehingga aku menjadi seorang penghuni tetap di Kanishima ini. “Apa? Apa yang telah kuperbuat? Hal itukah? Sepele. Aku tidak mengerti.”
Yang kulakukan hanyalah membantu sebuah tahapan. Ya! Okasan mengajariku. Oh! Ibuku yang baik! Ia mengajariku bahwa para anak perempuan seharusnya bermain-main di taman bunga, seharusnya mereka menunggu dewasa dan tak usah ke sekolah. Mengapa? Karena sekarang, banyak sekali bahaya. Dan suatu saat jika mereka melanggar mereka akan mengalami nasib yang buruk dan, aku hanyalah penolong kaum para ibu-ibu yang telah mengalami hal-hal menyedihkan itu. Anak-anak perempuannya menjadi nakal dan pergi kesekolah; tidak bermain-main di taman seperti seharusnya—“Nakal! Nakal!” Aku begitu kasihan dengan mereka, maka aku membantu para ibu-ibu itu dalam menghukum para anak-anak perempuannya. Ya! Dengan sedikit hukuman mungkin akan mengobati kesedihan mereka yang terabaikan—malang dan sedih, jadilah aku menghukum mereka.
Katakanlah padaku!!! Apakah… itu salah?!
Dengan sedikit abu, api dan dusta. Aku mengarahkan anak-anak perempuan kecil itu dengan busana kimono yang seharusnya mereka pakai dan mereka sehendaknya bermain di taman bunga. Seperti anak perempuan yang selalu menemaniku; anak kecil berkimono lusuh yang selalu muncul di imajinasiku yang damai—yang selalu mengajakku bermain, Hana—sesuai dengan ladang bunga tempat biasa ia bermain bersamaku. Masih belum jelas siapa dia, aku pun tak dapat melihat sekilas wajahnya yang begitu kabur.
Tidak! Aku tidak takut pada Hana! Aku senang dengan keberadaannya. Suara tawa dan bola karet kecil berwarna merah, menggelinding di ladang bunga dan angin-angin semilir yang menggetarkan jiwa. Damai dan damai dan damai.
“Kali ini, sang Kepala Sipir ingin aku menemui siapa ya? Apa Ibu dari anak-anak itu yang telah aku hukum dengan adil dan bijak? Hah…! Mungkin mereka mau berterima kasih seperti dua ibu yang kemarin aku temui?” Seraya aku berjalan dengan Sipir Rouji menuju ruangan yang diperintahkan Kepala Sipir untuk aku datangi. Aku terus menduga tentang siapakah yang akan kutemui selanjutnya dalam nuansa keheranan ini. Tetapi aku masih penasaran dengan dua ibu yang kemarin. Cara mereka berterima kasih kepadaku, yang telah membantu mereka adalah… aneh; mereka, melempariku dengan pena dan kertas dan mengutukku dengan beragam kata umpatan; bahkan terakhir, yang kutakjubkan bahwa mereka menghadiratku sebagai, Setan Terkutuk! Jadi, apa hukumanku terlalu berat? Malang sekali ibu-ibu itu. Aku mengasihi.
Sampai. Aku telah sampai di sebuah ruangan. Tetapi, ini bukan ruang di mana biasanya aku menemui seorang pengunjung. Suasananya; kursi panjang coklat yang empuk, meja pendek dengan segelas air putih dan beberapa kertas dan pena tinta. Ini… adalah seperti ruang dokter, bukan, lebih cocok pada ruangan seorang ahli psikologis. “Mengapa Kepala Sipir menyuruhku ke sini? Siapa yang sebenarnya akan kutemui? Psikiater kah?” Aku bertanya.
Pertanyaanku terjawab. Saat Sipir Rouji membuka pintu besi kokoh itu dengan tangannya yang kokoh pula, aku sesayup mendapatkan gambaran seorang pria yang mungkin agak muda dariku—kurang lebih berusia sekitar akhir 20-an. Rambut yang tersisir rapi ke belakang dan setelan serba hitam yang luar biasa bersih dan bergemilang. Ia memakai kacamata berlensa bulat yang kecil, polos dan bertangkai jernih, seakan-akan ia tidak memakai kacamata sama sekali. Ia tersenyum. Sipir Rouji segera pergi dari hadapanku dengan pandangan yang mengintimidasi. Ia mendorongku masuk dan mengunci pintu itu.
“Kendou-san, jika sudah selesai panggil saja aku! Aku ada didekat sel ini, ok?” Sipir Rouji berbicara melalui jeruji kecil yang tertanam di pintu sel berwarna biru ini. Aku masih dapat melihat lengkungan sipit matanya dan alisnya yang tebal.
Psikiater muda itu tersenyum dan mengganguk menandakan bahwa ia mengerti. Lalu ia melihatku.
Aku kini memasuki ruangan itu. Sangat perlahan dan tenang.
“Selamat pagi, Ishibara Tokio? Benar?” Ia memulai pembicaraan dengan nada ramah. “Basa-basi yang percuma,” aku menggumam. “Silahkan duduk disofa ini. Ini… memang khusus untukmu.” Ia berbicara seraya mengarahkan tangan kanannya ke sofa empuk itu. Ramah. Itulah impresi pertama yang kudapatkan dari psikaiter muda ini.
Tetapi, untuk apa Kepala Sipir membawaku untuk menemuinya; apakah untuk penyuluhan, atau pengobatan.
Aneh, aku baik-baik saja, aku…
Pikiranku terhenti saat aku telah sampai di sofa itu dan menubrukkan kakiku yang terbalut celana bahan biru muda, sama dengan warna bajuku yang memang satu setelan—seragam tahanan khas Kanishima. Ia tersenyum dan sekali lagi mengarahkan tangannya ke arah sofa itu dan tersenyum.
Aku segera duduk. Ha! Tokio menjadi penurut! Selain Okasan, selain dia, tak ada orang lain yang bisa membuat Tokio begini penurut. “Hebat! Dokter aneh ini sungguh hebat! Matanya dan bahasa tubuhnya, mirip dengan Ibu.” Aku diam-diam mulai mengaguminya. Psikiater itu sekarang tampak lega, mata hitam dan agak bulatnya itu memberikan sinar hangat, sehangat Ibu.
“Kenalkan, Nama saya Kendou Hamashijou. Jadi, apa kau sudah mengira-ngira sedang apa kau dan aku disini, Tokio-san?” Ia kembali tersenyum, senyuman hangat. Aku menjadi merasa serba salah. “I-iya, kurasa… penyuluhan jiwa, kurasa itu maksudmu, dokter,” aku membalasnya dengan langsung. Kendou tertawa kecil, tawanya mencerminkan dirinya yang energetik. Lalu ia berkata, “Baiklah, kurasa kau benar. Tetapi, tolong! Jangan alamatkan aku sebagai seorang dokter. Aku… hanya seorang psikiater. Aku di sini hanya untuk menolong.” Ia berhenti tertawa.
Ada sebuah jeda.
Lalu ia merapikan kertas dan penanya yang ia pegang sedari tadi dan mulai berkata kembali, “Kudengar kau punya sedikit masalah dengan anak perempuan. Jadi… ?”
Ia melihatku, ia tahu, anak perempuan itu. Ia tahu! Apakah ia tahu semua? Apakah ia tahu tentang kehebatanku; seorang ahli mendidik anak, khususnya anak perempuan yang tak mau menuruti ibunya. Aku menjadi gemetar, bibirku hendak tersenyum. Lalu tiba-tiba aku berkata, “Apa aku akan diselami dan dipahami karena ini?” Aku secara spontan mengucapkan pertanyaan bodoh ini kepadanya.
“Ya, Tokio-san! kau benar,” ia melihatku dengan mata jernihnya, dengan kacamata berlensa polosnya. “Jadi, kau merasa hebat telah menolong anak-anak perempuan itu. Lebih dalam lagi, apa kau merasa kau menjadi penolong bagi jiwa para ibu yang kau selami itu? Tokio-san, apa kau mengerti sikap dan perilakumu yang sebenarnya?” Mata Kendou melirikku dengan tenang, begitu beda dengan nada suaranya yang tajam saat ia menanyakan aku pertanyaan-pertanyaan tersebut.
“Ya! Tentu Kendou-san! Waktu kecil aku sangat…”
“Ah! Itu dia. Tokio-san!” Ucapanku tiba-tiba terpotong oleh kata dan senyumannya.
Ia langsung mengeluarkan kalimat itu, kalimat yang kurasa sebenarnya sudah lama ia ingin utarakan; semenjak aku memasuki pintu ini, bahkan mungkin sebelum dia benar-benar telah bertemu denganku. Aku yakin ia telah menyiapkannya lebih dari apapun. Ia lebih siap dan sergap dalam hal ini; melebihi acara televisi ber-rating tinggi, melebihi jadwal belanja mingguan, ataupun melebihi pasien-pasiennya yang lain. Kurasa semua telah ia lupakan dan abaikan demi diriku.
Mengapa?
“Sekarang, masa kecilmu… Aku mau kita menelusurinya Tokio-san! Jangan takut, ini tidak menyakitkan,” ia tersenyum dan matanya tidak bergeming dari mataku. Bahasa tubuhku mulai agak kacau. Canggung. Ia mengeluarkan sebuah senter kecil dan ia bangkit dari kursi tempat ia duduk dan segera menuju sebuah saklar lampu, ia mematikan lampu di ruangan ini. “Apa?” Aku keheranan. Lalu ia duduk kembali kekursi itu. Kini ia lebih merapatkan kursinya ke sofa yang sedang kududuki.
“Sekarang… kau tahu sekarang apa yang akan aku lakukan sebagai seorang psikiater?” Ia bertanya.
Dibalik remang-remang ruangan ini, sedikit cahaya dari luar dapat membuatku melihat senyuman ramah psikiater ini. “Ya, kurasa. Apa kau mau menghipnotisku?' Aku bertanya dengan sanggahan nafas yang pendek, aku tahu apa yang harus kulakukan berikutnya. Maka, aku segera merebahkan tubuhku yang kokoh ke sofa coklat ini, sofa yang memang disiapkan untukku.
Kemudian, ia menyalakan senter kecil itu. Sebuah sinar kuning dapat kulihat terbang-kesana kemari seperti kunang-kunang yang terjebak dan tak mau diam. “Baiklah, sekarang Tokio-san! Tolong kau perhatikan cahaya ini, jangan terlalu tegang, santai saja!” Ia memberiku petunjuk. Aku meladeninya. Lagipula, aku tidak takut, apa salahku? Tidak ada bukan? Biarlah Kendou melihat kebenaran. Aku menurut. Mataku mengikuti cahaya kecil senter itu; ke kanan, ke kiri, dan ke manapun, terus kuikuti; dengan santai dan tanpa ketegangan, seperti yang Kendou katakan. Perlahan, aku menjadi lemas dan rileks, mataku menjadi agak tak kuasa untuk ditahan agar tetap terjaga.
“Kurasa ia berhasil,”
“Santai saja oke! Aku juga masih baru dalam hal ini!” Ia sedikit melucu. “Sudah kuduga,” aku pun tertawa kecil dengan nada yang sedikit lemas. “Aku sangat terilham dengan kasusmu ini, Tokio-san! Aku…” Ia terus berbicara, tetapi aku benar-benar hampir tidak sadarkan diri. “Jadi, ia umpamakan kepribadianku ini sebagai, Kasus…” Pikirku yang sudah tinggal selangkah lagi sebelum aku benar-benar tak bisa mendengar ocehan Kendou. Dan tak berapa lama kemudian. Aku mendapati suara dengungan dan kegelapan total. Suara Kendou telah hilang. Begitu pula suasana ruang tadi.
LADANG bunga yang luas. Memberikan memoriku sebuah siraman air hangat; segar dan terbuka. Aku berada di sebuah alam di mana aku masih bersama Okasan tersayang. Ibu yang baik; yang selalu mengajari aku tentang aturan seorang anak perempuan—walaupun aku seorang lelaki. Ya! Aku adalah seorang anak laki-laki baik yang diilahirkan di sebuah desa kecil yang sebagian penduduknya adalah petani padi dan penumbuk jerami. Tetapi, Ibu, Ibu selalu mengajari aku, memberi aku keleluasaan seorang anak perempuan. Ibu menyayangiku dengan selalu memperbolehkan aku bermain-main di ladang bunga di sekitar rumahku yang tertata apik oleh genting jerami dan lantai tatami yang berwarna lusuh.
Ibu selalu memberiku baju kimono lusuh bekasnya, karena dulu kami tidak begitu kaya. Aku menurut. Lagipula, jika Tokio kecil tidak menurut maka Ibu akan menyalakan korek api dan menyulut kulit Tokio kecil.
“Toru-chan! Kemari!” Panggilan kecil Ibu jika sedang marah. Di saat nama itu tersebut maka aku akan segera lari dan bersembunyi di gudang jerami tua, bersama dengan bola karet merah pemberian mendiang ayahku yang tewas karena perang. Aku selalu merangkulnya dan menekannya ke perut dan mukaku, seakan-akan mencoba menahan nafasku dengannya—aku mencoba mati, aku takut. Ibu bisa menjadi iblis, Ibu bisa menjadi malaikat. Tergantung.
“Sekarang Tokio-san! Apa kau ada di mana kau seharusnya berada?” Suara Kendou tiba-tiba tersiar. Entah bagaimana, aku seakan-akan aku telah terpisah dari teritorial ladang bunga dan gudang tempat aku bersembunyi itu. Aku hanya melihat bayangan-bayangan berwarna-warni dan buram. Mataku berair. Aku mulai sadar bahwa aku sedang keadaan terhipnotis! Jadi inikah rasanya? Aku terheran.
“Kendou! Dimana kau?' Aku berteriak di balik awan berkabut dan suara-suara gaduh tangisan yang Toru-chan buat, meringis dan sembunyi dari Okasan tersayang.
“Diladang di mana Hana berada!” Ya! Hana, gadis kecil yang selalu menemaniku itu—sesuai dengan bunga, ladang bunga yang indah, seperti aku dan Ibu.
“Hana? Tokio… Sia… Sudahlah! Lupakan itu, sekarang kau berada di mana?” Suara teriakan Kendou terdengar kalut.
Aku tidak menjawab.
Bukan! Bukan karena aku tidak tahu dan tidak mau. Tetapi aku terhenti, mulutku terkunci rapat. Aku melihat Tokio kecil disiksa dengan korek api oleh Ibu, melebihi yang biasa, melebihi aku ketika menghukum anak-anak nakal itu. “Ibu?” Aku membelalakkan mataku. “Tidak mungkin! Aku tidak ingat ini, kapan? Kendou!!!” Aku berteriak memanggil namanya.
“Ini… Ini pasti ulahmu Kendou! Bangunkan aku sekarang! Bangunkan!!!' Aku berteriak marah. Kurasa amarahku terdengar melalui alam bawah sadar yang Kendou atau mungkin, aku ciptakan.
Ibu tidak mungkin begini, tidak mungkin! Ibu tidak pernah menyiksaku, Ibu sayang pada Tokio kecil!
“Ba-baiklah Tokio! Tenang!” Suaranya terbata-bata dan ling-lung. ”Sekarang tenanglah. Bayangankan tempat yang kau berada sekarang menjadi sepi. Hanya ada kau dan kau seorang. Tokio, tariklah nafasmu dan rasakan energi negatf keluar dari tubuh melalui udara itu; perlahan dan pelan,” suara Kendou yang cemas itu aku turuti dan, dalam hitungan detik, aku telah kembali dalam kegelapan. Aku kembali merasakan aku sedang merebahkan tubuhku di sebuah sofa.
“Sekarang, kau boleh membuka matamu…” Suara Kendou yang tenang membuat mataku terbuka perlahan. Aku begitu marah. Kendou mencoba menipu memoriku. Tetapi, aku terlalu letih, sangat letih.
Maka—
“Kendou-san. Aku mau… kembali ke selku, sekarang,” suaraku melemah, beda dengan hatiku yang membara. Lemas.
“Baiklah, maafkan aku Tokio-san, mungkin lain waktu. Ya! Mungkin lain waktu.” Lalu Kendou bangkit dari kursinya dan segera menuju pintu sel itu dan mengetukkan jemarinya ke pintu besi tebal itu. Tak berapa lama, pintu terbuka dan Sipir Rouji dengan tampang bengisnya kembali menghiasi langit penjara yang masih agak gelap dan sayu. Kurasa Kendou lupa menyalakan lampu sesaat ia menyelesaikan sesi tadi. Mataku masih mencoba membiasakan cahaya lorong penjara Kanishima ini yang agak silau. Sesaat sebelum aku diangkat dan dibawa Sipir Rouji, diam-diam aku mengambil pena Kendou.
Entah mengapa, aku hanya ingin.
Sipir Rouji mendorongku kearah lorong dan sekilas tersenyum pada Kendou. Aku tak sempat berpikir atau mencurigai apa sipir brengsek itu juga mencoba mengacaukan memoriku ini. Entahlah! Aku hanya ingin beristirahat. Tidur.
Sekilas aku membalikkan wajahku ke arah Kendou.
“Aku… tak mau melihatnya lagi Sipir Rouji.” Aku berkata pelan seraya berjalan melalui lorong ini. Sipir berjanggut itu hanya menaikkan alis kanannya dan menggumam. “Terserah.”
Baiklah… aku juga terserah.
KEMBALI dalam sel. Mataku agak sayu dan kepalaku menjadi pusing. Semua menjadi tidak waras. Gila! Ini semua gila. Aku masih melihat Hana yang berkimono lusuh itu di dalam selku, tersenyum. Kini matanya sangat jelas. Aku dapat melihat mata Hana yang kecil dan penuh penderitaan. Mata yang sama pada anak-anak perempuan yang kuhukum adil itu. Tetapi apakah aku benar-benar adil.
Okasan? Apakah ia adil padaku.
Kimono anak perempuan yang terpakaikan oleh Hana dalam mimpiku itu—anak perempuan yang sekarang masih memandangi dengan tatapan suci dan perih.
Kimono itu… milikku. Bola karet merah yang selalu ia mainkan dalam mimpiku… itu bola pemberian ayahku. Tetapi, suara-suaranya untuk menghukum para anak-anak perempuan; Itu bukan ibu! Itu adalah Hana! Anak kecil perempuan yang baik dan tak jelas wajahnya…
Tidak! Sekarang jelas. Sangat jelas.
Matanya yang kecil itu adalah sama dengan mataku. Aku…
“Mari bermain!” Hana kembali bersuara dalam sel sempit ini.
“Di mana ladang bunga kita Hana?” Aku bertanya sambil duduk membaringkan pundakku ke dinding sel ini yang kumuh dan dingin seraya melihat langit-langit sel yang kebiru-biruan.
“Ladang… bunga! Dasar tak tahu terima kasih! Mengapa kau lebih menikmati bunga ketimbang aku! Aku! AKU!” Aku terkejut. Hana menjadi marah, suaranya bergetar marah, seperti Ibu disaat ia hendak membakarku…
Tidak! Okasan tidak pernah mencoba membakarku! Tidak!
Aku menutup kepalaku dengan kedua tanganku. Aku merasakan gatal pada kedua lenganku.
Oh! Luka itu, luka ketika aku kecil dulu saat aku terjatuh dari kereta jerami. Itu hanya luka biasa.
“Luka biasa apa? Bodoh! Itu karena dia, Dia! Dia! Bodoh!!!” Hana kembali berteriak, berteriak di sel sempit ini.
“Diam! Diamlah Hana! Kau membuatku gila. Hana, kau…” Aku mencoba menatapnya. Mata itu. Aku melihat kesedihan, kesedihan yang sama saat aku mencoba kabur dari Ibu…
“Tunggu! Mengapa aku mencoba kabur? Mengapa?”
Pikiranku mulai kacau, kacau…
Lalu, semua menjadi sepi. Hana hilang! Hilang begitu saja.
Aku merebahkan tubuhku kembali ke tempat tidur kecil ini. Merangkulkan kedua lenganku ke dada dan meringis. “Dingin! Ibu! Aku kedinginan, berikanlah aku kehangatan, khas dirimu yang berkuasa…” Aku melihat sekilas ke arah terali besi pintu sel. Tertegun.
Aku telah menghukum para anak-anak nakal selama ini, dengan cara yang benar. Aku tidak salah! Tetapi Ibu yang salah! Ibu salah mendidikku. Semua Ibu! Semua…
Segera aku mengeluarkan bolpen Kendou yang diam-diam tadi telah aku ambil. Sebuah pena merah dengan tombol perak yang bila ditekan akan keluar ujung penanya. Aku mengangkatnya tinggi-tinggi sehingga bagian perak itu memantulkan cahaya lampu lorong dengan seksama.
Aku menekan tombol itu sehingga keluar ujung penanya yang lancip. Aku bangkit dari tempat tidur. Lalu segera berdiri menuju ke sisi dinding yang bersebelahan dengan tempat tidurku yang lusuh. Aku segera menekan pena itu tajam dan keras ke dinding—begitu keras hingga kau bisa merasakan derit dan suara menggangu yang ditimbulkan oleh gesekan-gesekan pena dan dinding semen itu. Aku mencoba marah, tapi aku tak mau berteriak! (Aku tak mau dianggap gila oleh sipir-sipir Kanishima.)
Maka, aku akan melampiaskan kemarahanku pada dinding ini, pada pena ini. Pada aku dan pada semua.
To Ru-cha n Ben… CI! OkA-San… ToRu-ch an… Benci… Ib… U Matila… H Ibu
Mati… ibu ma… ti!!! To… Kio ingin Ibu mati!!!
Beberapa guratan kasar telah kubuat pada dinding sel ini. Beberapa guratan yang kubuat tanpa sadar dan terjaga. “Siapa yang melakukannya? Apakah ada orang lain selain aku di dalam sel sempit ini?” Aku mencari-cari kesana kemari. “Penyusup! Keluarlah kau!” Aku berteriak histeris. Aku berteriak dan terus berteriak. “Hana! Pasti Hana! Anak nakal!” Aku mengumpat kesal. “Brengsek kau Hana! Matilah kau! MATI!!!” Aku berteriak.
Hana muncul dan aku segera mencabik-cabikkan pena itu ke arah tubuh mungil Hana. Mata Hana yang serupa denganku.
Mata Hana—ia bukan temanku dalam kedamaian! Dialah penyebab aku menghukum anak-anak itu dengan salah! “Aku tidak mendengarkan Ibu! Aku salah… Hana! Kau salah! Hana!”
Histeris dan aku terus menghantam tubuhnya bertubi-tubi dengan cabikan pena merah itu. Darah mengucur dari dalam tubuh Hana. Kimono lusuh itu bernoda darah dan bercampur dengan tangisan; bukan Hana, tetapi Tokio. Ya! Tokio kecil, Tokio kecil tiba-tiba mencuat bak kupu-kupu dari tubuh remuk Hana, Tokio kecil memelukku.
Aku menyeretkan pundakku ke arah dinding seraya menangis.
“Tokio-chan! Maafkanlah aku, aku salah selama ini! Maaf!” Aku menangis. Dan aku sadar, bahwa aku sendiri adalah seorang Ibu yang salah mendidik anak-anak. Jadi… Setan Terkutuk adalah benar apa adanya—adalah aku, adalah Ishibara Tokio.
Did you like this?
vote
