PSEUDO - Baltan, feast your eyes! (chapter 3) by Alex Jhon

200154
genre

description:
3rd Book of Memoirs Chronicles



chapters

chapter 1: Miles away...

chapter 2: -NARAKA-

chapter 3: Baltan, feast your eyes!

chapter 4: lullaby eve


Baltan, feast your eyes!
chapter 3   —   updated Jul 17, 2007   —   9628 characters   —   0 people liked this writing
Baltan Rucciola
1937

PERJALANAN panjang yang melelahkan, tidak berkeinginan, berhasrat, bahkan untuk bercinta. Mungkin itulah perasaanku saat ini. Terkurung dalam sebuah pengalaman yang terus menerus menghantui. Tirai kelambu putih nan berdebu, keringat yang terus-menerus membasahi seluruh permukaan kulit dan kausku. Tidak akan pernah sampai di sini saja aku terus terdiam bisu. Seperti metaforikal hidup yang mengiris. Menyajikan separuh dari perjalanan hidupku sebagai orang yang terbuang. Ditinggalkan dan dibenci.
Khalayak yang selalu mencemooh. Oh… Matilah mereka semua! Memandangiku dengan pandangan itu… jijik dan getir yang menyatu dengan sekuntum harga diri yang kadang kupertanyakan kepada alam angkasa.
Apakah mereka mengasihaniku atau berharap aku untuk cepat-cepat mati!.
Revolusi hidup. Pemikiranku yang begitu kompleks. Letupan gunung berapi yang kecil.
“Ya, aku tahu kalian semua mengharapkannya sedemikan rupa hingga bintang itu akan meredup dan senyuman itu akan berputar di atas kepalaku yang terbaring…”
Aku tidak bisa berkata-kata. Telingaku terkunci untuk mendengar dan menyaring semua kata-kata kiasan duka dan kesedihan. Tetapi aku enggan bersimpati lebih pada mereka dan kebohongan mereka padaku.
Ah! Di sebuah ranjang yang panas, kelambu itu masih saja menggangu penglihatanku… Tertutup seperti sebuah kerangkeng kain butut. Mata para pengembara yang menatapiku heran. Pengharapan mereka bukan hanya kasihan… kurasa… itu lebih pada kekaguman pada sesuatu yang 'tidak biasa'.
Apakah meraka tidak pernah melihat manusia seperti aku? Oh Tuhan! Aku sudah bosan menatapi diriku sendiri di dalam cermin! Aku hanyalah manusia biasa! Tetapi… mengapa mereka terus menatapiku layaknya aku bukanlah manusia? Oh mata itu… Apakah engkau semua… Oh,panas ini—
Sudahlah! Aku tidak peduli!
Suara-suara bisikan—
Nyata dan tidak bergema lagi nafas itu di telingaku. Ya! Dengungan nafas dan mata mereka yang sedemikan tajam sehingga aku yakin dapat memotong tameng sekeras baja. Sadistis, namun penuh kasih sayang akan perasaan dan kebersamaan.
“Kalian… apa mau kalian? Tolonglah hentikan infus ini!”
Mereka tidak mendengarkanku sama sekali! Tidak! Mereka hanya meratapiku dengan pandangang tajam itu.
Di balik kelambu bertirai yang agak kumel ini, bayang-bayang hitam besar menyeruak di setiap jengkalan sisi tempat tidurku. Panas! Panas sekali di sini! Tolonglah beri aku sedikit ruangan Tuan, Nyonya!
Lagi, mereka tidak bersuara. Hanya mendengus pelan sembari berbisik dalam bahasa yang sama sekali aku tidak dapat pahami.
Tentu saja, ini… bukanlah negaraku, teritorialku… mimpiku, hasratku, dan nyawaku…
Ini hanya sebuah film pendek yang menceritakan sebuah gurauan kecil dalam warna hitam putih; Seorang pria Itali dengan asing yang berkepanjangan beserta penyakit kulit yang tidak biasa diderita kebanyakan orang. Ya! Hanya itulah film hitam putih itu bercerita. Dengan lantunan musik klasik yang sedih. Menyatakan aku yang semakin perlahan melemah dan kehilangan akal sehat.
Aku harus berjuang hidup! Aku harus—
Oh Tuhan… Mereka terus menatapiku… Apa? Apa? Krrr…

SUDAH hampir sejam lamanya aku di sini, di ruangan yang samar-samar terlihat layaknya ruangan yang serba berbatu dan penuh akan ornamen-ornamen kuno seperti di film-film kuno medievil. Ksatria berkuda, Arthur, Robin Hood, paara petarung baja, istana… Ah! Mimpi ynag semakin meracu. Pikiranku mulai meracu…
“Air… berikan aku air!”
Lagi, mereka tetap berbisik dalam bahasa mereka. Aku tidak paham bahasa yang mereka gunakan—
Mataku semakin melemah, tenggorokanku mengering—dehidrasi tingkat tinggi. Ah! Mengapa mereka terus menatapiku dengan mata tajam itu. Mereka menungguku… untuk mati atau… untuk bertahan? Apakah yang mereka mau dariku? Mengelilingi tanpa suara yang jelas.
Kurasa… mereka juga tidak mengerti saat aku meminta air barusan. Ya! Aku memakluminya…
Tapi—
Ah sial! Ini kelewatan! Aku sangat kehausan, kepanasan, dan mereka tetap mengelilingiku. Acuh. Apa mereka tahu bahwa jika ada orang sakit dan lemah seharusnya tidak boleh kekurangan oksigen? Apakah mereka tahu aturan standar sosial seperti ini? Apakah ada dalam kamus mereka, kata 'menyingkir'!!!
Ah… Tahu aturan. Permintaan yang begitu… humoris bagiku…
Sudahlah Baltan, ini sia-sia, mereka tidak akan mengerti bahasamu sama sekali.
Ya! Mereka tidak akan mengerti sebab kelambu ini menutupi. Begitu tebal.
Sial! Lepaskan kelambu ini agar aku tahu siapa yang telah menangkap dan membuatku seperti ini! Kaitkan cadar palsu ini dari wajah-wajah kalian. Aku tidak mau mati sebelum aku melihat ada apa di balik siluet-siluet hitam dengan mata yang begitu tajam itu. Semuanya—Dengan jelas!
Aku ingin berteriak. Sungguh! Tetapi aku begitu lemah. Panas itu semakin merasuk bagai kereta api uap yang semakin berkurang bara. Asap yang semakin memudar seperti egoku untuk bertahan hidup.
Peluh. Peluh. Panas sekali! Oh Tuhan, adakah cara…
“Uhm… aku… ini…”
Aku berusaha menunjukkan kelambu itu. Tetapi lagi… Mereka hanya saling bertatapan dan saling menghembuskan nafas-nafas mereka dengan sangat berat sembari berbicara… entahlah apa… mereka begitu menyebalkan… Menyebalkan… Seperti sial yang tidak mau padam!
Terkutuk dalam nama Tuhan! Kalian yang enggan menatapiku dalam kesusahan!

TIDAK beberapa lama, aku akhirnya sudah tidak tahan lagi. Begitu lelah dan kepanasan.
Aku ingin tidur, beristirahat karena setidaknya dalam tidur sementara itu aku tidak perlu merasakan penderitaan ini namun, jika aku terbangun maka hal ini akan terjadi lagi…
Oh tidak! Apa sebaiknya aku mati saja dalam tidur sehingga penyiksaan dalam hidupku berakhir segalanya… Semuanya dalam nama Tuhanku!
Apakah aku akan adil pada nasibku jika aku berkehendak demikian? Katakan padaku jika itu dosa!
Apakah kalian semua mengerti apa yang aku ucapkan, wahai siluet-siluet sialan?!
Ha ha ha! Terdiam. Sesuai dengan para manusia dikalau mereka sedang sukses-suksesnya dengan kejayaan dan wanita! Ya! Rahasia alam yang terbesar adalah kematian dan mimpi dan… Ego mereka… Aku sudah mengecap semuanya tetapi, aku enggan mengecap yang ini. Namun kemudian ego itu akan dihadang kembali oleh pertanyaan khas, “Apakah aku masih mau menderita untuk kesekian kalinya ketika aku terbangun dari mimpi ini?”
Oh Baltan! Tentukanlah imeg-mu! Tentukanlah sikap dalam kefanaan ini! Sebuah haram yang selalu merudung di samping tempat tidurmu setiap pagi—setiap hari saat engkau bangun. Saat kau keluar dari pintu yang sama setiap hari. Pengaharapan dan kesempatan yang berlalu lalang bagaikan memiliki dua sisi yang berbeda bagai kepingan koin. Kehidupan alam semesta yang diciptakan untuk dimainkan oleh beberapa orang… Oh Baltan, apakah kau mau hidup dalam kepusingan seperti itu?
Demi Bunda Maria! Berikanlah aku petunjuk!
“Oh aku mohon—”
Tersenyumlah kalian agar aku tahu bahwa yang aku hadapi sekarang adalah orang-orang biasa dan bukan orang-orang yang membuat dunia ini gila dan sakit! Tolonglah, “Kalian… Aku mohon, tersenyumlah. Aku ingin menatap wajah kalian dengan senyum itu, oh wahai… orang-orang asing!”
Akhirnya mereka mendekat dan aku menatapi wajah mereka satu-persatu.
……… Jadi—
Aku terdiam. Tidak dapat berkomentar.
Ya! Mereka bukan jenis orang-orang yang akan merusak dunia ini dengan celaan dan kebohongan mereka. Tetapi tetap saja; apapun bentuk mereka, lambat alun—pada akhirnya aku akan mati. Tinggal menunggu akhir dari film hitam putih itu muncul.
Oh Tuhan! Aku membohongi diriku sendiri.
“Si-siapa kalian?”
Aku begitu ketakutan dalam ranjang ini… Aku harap ini mimpi, aku harap… ini bukan seperti kenyataan tetapi mereka benar-benar ada, Baltan!
Dengan gigi-gigi yang sedemikan putih dan cemerlang bagai bulan penuh dan; bulu-bulu hangat dan; sebagian gelap menutupi aurat mereka layakanya mereka orang kaya yang berkecukupan. Tetapi bulu-bulu itu adalah yang sesungguhnya dan bukan topeng mereka.
Bunda Maria! Mata tajam itu adalah mata mereka yang sesungguhnya—semakin memerah seperti darah-darah yang mengucur di antara mulut, taring besar dan cakar-cakar mereka!!
“Mau apa kalian denganku?”
Lagi, aku berusaha berkomunikasi layaknya orang biasa lakukan tetapi, mereka tetap bergumam dan mengendus-endus dalam bahasa mereka yang membuatku bergidik. Ya! Mereka memang orang asing yang istimewa.
Infus-infus apa ini? Oh Baltan, apa mereka mau kau mati?
“Apakah tak ada satupun yang mau menolongku?”
Mengapa tubuhku begitu lemah dan tidak bisa digerakkan lagi?
“Bisakah kalian membuatlku bangun dari tempat tidur ini? Semakin panas saja ya?”
Seketika itu pula mereka semakin mendekat—
Oh tidak! Aku harap semua keinginanku tadi tidak terkabul. Oh … kuharap semestinya aku tertidur saja dan tidak menunggu agar siluet-siluet itu menampakkan keganjilan mereka. Oh… Cakar-cakar itu mulai mendekat dan mata-mata itu… Endusan…
Oh Tuhanku, Bunda Maria Yang Pengasih… Malam ini… Siapakah mereka? Apa mereka ingin nyawaku?
Kalian brengsek! Kalian membuat film hitam putihku habis begitu saja tanpa anti-klimaks yang aku inginkan. Aku bukan Tuhan lagi bagi alamku sendiri… Lemah.
Sang hebat Baltan Rucciola bukanlah lagi… pemegang kendali… atas—
Oh bulan purnama yang begitu indah…
Mereka datang—
Cakaran… Cakaran… Cabikan kilat, sabit dengan luka fana…
…sudah tidak bisa…
…sudah terlanjur kalah…
…sebaiknya—
“Akhirilah Baltan, film hitam putihmu… Bagaimanapun juga.” Demikianlah aku tersenyum dalam cabikan-cabikan perih.
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Alex's writing