PSEUDO - -NARAKA- (chapter 2) by Alex Jhon
chapters
chapter 1:
Miles away...
chapter 2:
-NARAKA-
chapter 3:
Baltan, feast your eyes!
chapter 4:
lullaby eve
-NARAKA-
chapter 2
—
updated Jul 17, 2007
—
4975 characters
—
0 people liked this writing
Sheriff Douglas Andy
1996
SAAT itulah aku menghembuskan nafas terakhir…
Tetapi, istilah 'tidak bernyawa' nampak tidak begitu absolut bagiku.
BIAR aku jelaskan…
Tolonglah jangan menganggap bahwa aku adalah hantu, sebab aku bukanlah hantu atau makhluk-makhluk spiritual hasil dari kematian itu sendiri. Dan… aku bukanlah arwah yang penasaran! Aku masih memiliki jiwa, aku masih bisa berpikir jelas dan … aku masih dapat berterus terang dan menceritakan ini semua; semua tentang alam di mana orang-orang menyebutnya sebagai pemberhentian terakhir—Misteri alam dengan nuansa merah, api, siksaan dan hukuman.
Ya! Aku mengunjungi—tunggu, bukan, aku kini telah berada selamanya di tempat di mana orang-orang yang begitu takuti kala mereka memang berdosa!
Inilah saudara-saudari sekalian…
Neraka. Dalam bentuk sesungguhnya.
Dan ini bukan hanya metaforikal 'Neraka berada di dalam setiap hati manusia'. Bukan! Ini adalah neraka yang memang membakar hati dan kewarasanmu.
Setiap kali mata memandang, ada sesuatu perbedaan konstan mengenai atmosfir kesendirian ini. Seperti sebuah keterjebakkan diri dalam suatu alam yang begitu bersahabat. Sekali lagi, ini memang neraka tetapi, ini tidak akan seperti yang Anda bayangkan! Neraka yang kumaksud ini adalah sebuah alam di mana aku diuji kewarasan dan kemampuan beranalisa yang super cepat dan berwawasan. Benar-benar mencoba memahami sebuah alasan—atau setidaknya untuk mencapai keberhasilan menciptakan alasan itu agar kau tetap waras.
Aku tidak mau berteriak kencang karena sungguh, di sini benar-benar tidak ada apa-apa!
Yang ada hanyalah aku, tembok-tembok usang dari rumahku yang terdahulu dan suara-suara senyap dari tawa sang iblis yng tak berkeruh. Ini seperti sebuah kandang. Kandang merpati yang bersahabat. Dengan pagar-pagar kosmik dari inkarnasi memori.
Aku berada dalam sebuah alam lain di mana rumahku yang dulu, menjadi prototipe utamanya.
Namun aku tidak bisa merasakan 'rumah' ini seperti halnya dulu.
Kuakui… memang dulu, aku amat membenci rumahku tersebut tetapi, perasaan benci itu pun tidak dapat aku rasakan. Sepertinya aku sedang menginjakkan kakiku di tempat ini dengan cara yang begitu asing.
Ya! Keasingan yang individualis. Kesejatian imitasi dari individual itu sendiri.
Aku tidak bermaksud sendiri. Ini memang sebuah kutukan.
BAYANGKAN!!!—
Bayangkan saja saudara dan saudariku semua, aku terjebak dalam sebuah…
Bayangkanlah kotak putih yang besar; dengan pintu dan jendela beserta taman—namun tidak ada satupun jalan keluar yang dapat kulihat. YA! Aku melihat pintu-pintu kamar dan jendela itu, aku memang dapat melihat ke langit-langit namun sekali lagi, ini adalah kutukan dan kutukan tidak pernah menyenangkan. Semua nampak begitu gelap dan senyap. Sepertinya aku berada dalam sebuah kotak korek api yang ditutupi tangan manusia dan sebuah mata sedang mengintip di antara celah-celah jari itu. Namun aku tidak dapat mengetahui siapa pemilik mata sialan tersebut!
Ia mempermainkanku seperti dulu aku suka memainkan semut-semut merah yang biasa kutaruh di kotak korek api… seperti perasaan ini… neraka langit kelam!
Bayangkanlah aku yang mencoba berteriak namun sia-sia. Dan pada detik-detik selanjutnya aku akan sadar sepenuhnya bahwa aku telah melakukan hal yang sia-sia dengan mencoba mencari jalan keluar. Semua tangis dan keinginan itu nampak percuma karena aku memang sudah dihukum sedemikain rupa sehingga untuk berpikir dan mencoba bebaspun merupakan sebuah kebodohan dan kesalahan yang menjadi kunci penderitaanku di tempat… di mana… aku bergerak.
Pasrah. Kurasa… itu kata kuncinya.
JADI, aku bersandar layu pada dinding putih yang agak berlumut kembali. Ya! Ini memang rumahku. Hanya saja, ini neraka! Dan aku seharusnya merasakan begitu.
Oh Sheriff, apakah kau begitu lemahnya sekarang?
Ha ha ha! Si Douglas Andy kini sudah bukan seorang Sheriff melainkan seekor kutu yang diterawangi, terkunci dalam tengkup jemari Tuhan! Dan ia… tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menunggu. Entah kapan…
Tapi setidaknya… Aku mendapatkan sebuah konklusi atas semua kesenyapan ini. Setidaknya aku telah mendengarkan sebuah suara seseorang yang mungkin kukenali, dan ia berkata amat lantang di antara dinding dan langit kelam itu dengan suara nyaring bergema,
“Kau amatlah berdosa, oleh sebab itu kau Ku-masukkan dalam neraka ini!”
SIAL!! Entah siapa dan apa maksudnya, tetapi aku sudah terlanjur tahu, jadi pengumuman itu sia-sia saja sekarang.
Mengapa aku berdosa? Katakanlah, sebab aku pun tidak tahu seberapa besar batasan antara sikap wajar dan dosa itu sekarang ini! Sungguh—
Jadi saudara dan saudariku terkasih, aku… tidak tahu lagi harus berbuat apa selain menunggu di sini. Di penjara ini.
Inilah neraka yang baru kusadari adalah yang paling menakutkan di atas segalanya. Dalam kesenyapan dan bukan bara api beserta teriakan perih melainkan kelam dan rasa familiar yang menyiksa. Amien!
back to top
1996
SAAT itulah aku menghembuskan nafas terakhir…
Tetapi, istilah 'tidak bernyawa' nampak tidak begitu absolut bagiku.
BIAR aku jelaskan…
Tolonglah jangan menganggap bahwa aku adalah hantu, sebab aku bukanlah hantu atau makhluk-makhluk spiritual hasil dari kematian itu sendiri. Dan… aku bukanlah arwah yang penasaran! Aku masih memiliki jiwa, aku masih bisa berpikir jelas dan … aku masih dapat berterus terang dan menceritakan ini semua; semua tentang alam di mana orang-orang menyebutnya sebagai pemberhentian terakhir—Misteri alam dengan nuansa merah, api, siksaan dan hukuman.
Ya! Aku mengunjungi—tunggu, bukan, aku kini telah berada selamanya di tempat di mana orang-orang yang begitu takuti kala mereka memang berdosa!
Inilah saudara-saudari sekalian…
Neraka. Dalam bentuk sesungguhnya.
Dan ini bukan hanya metaforikal 'Neraka berada di dalam setiap hati manusia'. Bukan! Ini adalah neraka yang memang membakar hati dan kewarasanmu.
Setiap kali mata memandang, ada sesuatu perbedaan konstan mengenai atmosfir kesendirian ini. Seperti sebuah keterjebakkan diri dalam suatu alam yang begitu bersahabat. Sekali lagi, ini memang neraka tetapi, ini tidak akan seperti yang Anda bayangkan! Neraka yang kumaksud ini adalah sebuah alam di mana aku diuji kewarasan dan kemampuan beranalisa yang super cepat dan berwawasan. Benar-benar mencoba memahami sebuah alasan—atau setidaknya untuk mencapai keberhasilan menciptakan alasan itu agar kau tetap waras.
Aku tidak mau berteriak kencang karena sungguh, di sini benar-benar tidak ada apa-apa!
Yang ada hanyalah aku, tembok-tembok usang dari rumahku yang terdahulu dan suara-suara senyap dari tawa sang iblis yng tak berkeruh. Ini seperti sebuah kandang. Kandang merpati yang bersahabat. Dengan pagar-pagar kosmik dari inkarnasi memori.
Aku berada dalam sebuah alam lain di mana rumahku yang dulu, menjadi prototipe utamanya.
Namun aku tidak bisa merasakan 'rumah' ini seperti halnya dulu.
Kuakui… memang dulu, aku amat membenci rumahku tersebut tetapi, perasaan benci itu pun tidak dapat aku rasakan. Sepertinya aku sedang menginjakkan kakiku di tempat ini dengan cara yang begitu asing.
Ya! Keasingan yang individualis. Kesejatian imitasi dari individual itu sendiri.
Aku tidak bermaksud sendiri. Ini memang sebuah kutukan.
BAYANGKAN!!!—
Bayangkan saja saudara dan saudariku semua, aku terjebak dalam sebuah…
Bayangkanlah kotak putih yang besar; dengan pintu dan jendela beserta taman—namun tidak ada satupun jalan keluar yang dapat kulihat. YA! Aku melihat pintu-pintu kamar dan jendela itu, aku memang dapat melihat ke langit-langit namun sekali lagi, ini adalah kutukan dan kutukan tidak pernah menyenangkan. Semua nampak begitu gelap dan senyap. Sepertinya aku berada dalam sebuah kotak korek api yang ditutupi tangan manusia dan sebuah mata sedang mengintip di antara celah-celah jari itu. Namun aku tidak dapat mengetahui siapa pemilik mata sialan tersebut!
Ia mempermainkanku seperti dulu aku suka memainkan semut-semut merah yang biasa kutaruh di kotak korek api… seperti perasaan ini… neraka langit kelam!
Bayangkanlah aku yang mencoba berteriak namun sia-sia. Dan pada detik-detik selanjutnya aku akan sadar sepenuhnya bahwa aku telah melakukan hal yang sia-sia dengan mencoba mencari jalan keluar. Semua tangis dan keinginan itu nampak percuma karena aku memang sudah dihukum sedemikain rupa sehingga untuk berpikir dan mencoba bebaspun merupakan sebuah kebodohan dan kesalahan yang menjadi kunci penderitaanku di tempat… di mana… aku bergerak.
Pasrah. Kurasa… itu kata kuncinya.
JADI, aku bersandar layu pada dinding putih yang agak berlumut kembali. Ya! Ini memang rumahku. Hanya saja, ini neraka! Dan aku seharusnya merasakan begitu.
Oh Sheriff, apakah kau begitu lemahnya sekarang?
Ha ha ha! Si Douglas Andy kini sudah bukan seorang Sheriff melainkan seekor kutu yang diterawangi, terkunci dalam tengkup jemari Tuhan! Dan ia… tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menunggu. Entah kapan…
Tapi setidaknya… Aku mendapatkan sebuah konklusi atas semua kesenyapan ini. Setidaknya aku telah mendengarkan sebuah suara seseorang yang mungkin kukenali, dan ia berkata amat lantang di antara dinding dan langit kelam itu dengan suara nyaring bergema,
“Kau amatlah berdosa, oleh sebab itu kau Ku-masukkan dalam neraka ini!”
SIAL!! Entah siapa dan apa maksudnya, tetapi aku sudah terlanjur tahu, jadi pengumuman itu sia-sia saja sekarang.
Mengapa aku berdosa? Katakanlah, sebab aku pun tidak tahu seberapa besar batasan antara sikap wajar dan dosa itu sekarang ini! Sungguh—
Jadi saudara dan saudariku terkasih, aku… tidak tahu lagi harus berbuat apa selain menunggu di sini. Di penjara ini.
Inilah neraka yang baru kusadari adalah yang paling menakutkan di atas segalanya. Dalam kesenyapan dan bukan bara api beserta teriakan perih melainkan kelam dan rasa familiar yang menyiksa. Amien!
Did you like this?
vote
