Maluku Utara yang Terbelah
by T.m. Dhani
genre:
Nonfiction
description:
Feature about a practice of journalism.
chapters
chapter 1:
Maluku Utara yang Terbelah
Maluku Utara yang Terbelah
chapter 1
—
updated 08/20/08
—
19238 characters
—
0 people liked it
Subuh di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Sepinya bandara membuatku sempat untuk melamun, membayangkan Pulau Ternate yang kecil, juga pulau Tidore dan Maitara sebagaimana terlihat di lembaran uang seribu. Dan ke sanalah saya akan berangkat. Saya akan menjadi kaca pembesar untuk melihat apa yang terjadi di sana. Sebab siang tadi, Menteri Dalam Negeri baru menetapkan Thaib Armayn dan Gani Kasuba sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara.
Sebelum ini, Maluku Utara sudah saya kunjungi sebanyak dua kali. Pertemuan dengan Maluku Utara kuawali dengan decak kagum. Kerajaan Ternate adalah kerajaan yang tidak saja sanggup mengusir penjajah Eropa, tapi, dengan dendam kesumat, juga memburunya sampai ke Philipina dan Timor Leste. Dan dalam pertemuan terakhir, sayalah yang dikejar-kejar. Salah satu kubu yang bertikai tidak menyukai kehadiranku dan timku.
Kini saya kembali ke Ternate. Di Bandara Sultan Baabullah, di siang hari yang terik, saya menarik napas dalam-dalam. Di sekelilingku suasana masih sama. Sepi. Tak banyak aktivitas. Saat itu hanya ada satu pesawat yang parkir. Dan begitulah di sini. Satu maskapai hanya melakukan penerbangan sekali dalam satu hari. Itupun tidak setiap hari. Jadi, saya harus betul-betul berhitung kapan harus keluar dari Maluku Utara jika terjadi apa-apa.
Setelah mendapatkan mobil sewaan, saya dan kameramen, Edward, mendapat informasi bahwa siang tadi telah terjadi bentrokan antara massa pendukung Abdul Gafur dan Abdurrahim Fabanyo dengan massa pendukung Thaib Armayn dan Gani Kasuba. Tidak ada korban jiwa dan material. Tapi, kata pak supir, suasana sempat mencekam di tempat bentrokan.
Semula saya hendak langsung mencari hotel dengan mobil sewaan ini. Hanya saja pikiranku berubah di tengah jalan. Saya harus berhati-hati. Tidak ada yang tahu supir ini simpatisan siapa. Apalagi dia sepertinya tahu sekali tentang politik. Pola pikirnya juga terlihat agak condong ke salah satu kubu. Jelas dia bukan orang awam. Saya tidak mau dia tahu dimana saya dan Edward menginap. Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi kontributorku, Burhan, yang ketika itu sedang berada di warnet. Pada pak supir, saya minta diturunkan di sana.
Burhan bukan kawan baru buatku. Terakhir ke sini, bersama dirinyalah saya bersembunyi usai kami dan beberapa kawan jurnalis lain dinyatakan dicari untuk dibantai.
“Woi Burhan!” seruku begitu melihat mukanya. Rindu juga saya padanya.
“Ho Hoi… Akhirnya abang kembali juga,” katanya riang. Wajahnya sumringah.
Burhan sebenarnya lebih tua dariku. Tapi entah kenapa dia selalu memanggilku Abang. Mungkin begitulah caranya menyapa orang, seperti Mas di Pulau Jawa.
Dari warnet, saya dan Edward diantar ke sebuah hotel. Katanya, dan ini kusetujui, daerah hotel ini netral dan aman, sekaligus dekat ke gedung DPRD, kantor Gubernur, dan warnet.
***
Sore hingga malam harinya, saya, Edward, dan Burhan, mencoba mengelilingi kota Ternate. Di sela-selanya saya mengontak wartawan-wartawan lokal dan juga aktivis-aktivis partai yang tengah bertikai. Tapi saat hendak meliput suasana tenang di pusat kota, sekitar pukul 12 malam, mendadak muncul informasi serius. Massa kedua belah pihak bentrok di Kelurahan Tanah Tinggi!
Pikiranku meliar. Apa ini? Keributan di pukul 12 malam? Sembari berpikir, mobil yang kusewa dengan “lepas kunci” ini meluncur kencang ke sana. Tanah Tinggi memang kerap menjadi tempat pecahnya bentrokan. Sebab, di kelurahan itulah rumah Gani Kasuba, calon wakil gubernur dari Thaib Armayn, berdekatan dengan rumah Abdul Gafur.
Sesampainya di lokasi, beberapa ruas jalan sudah diblokir oleh kedua belah pihak. Massa yang bertikai telah membelah jalan Yos Sudarso menjadi dua bagian. Dan jarak keduanya tak sampai lima ratus meter. Di tengahnya, di perempatan Tanah Tinggi, yang dikuasai massa Gafur, beberapa ban bekas sedang dilalap api. Bau karet terbakar begitu menusuk hidung.
Saat saya tiba, kedua kubu masih saling ejek. Masing-masing pihak juga masih sibuk mengonsolidasikan kawan-kawannya untuk merapatkan barisan. Bentak-bentakan kasar terdengar tidak hanya ditujukan pada pihak lawan, tapi juga pada kawan sendiri.
“Hoi, ayo,” teriak seseorang sambil duduk. Tangannya mengibas-kibas ke udara. “Jangan jadi pengecut.” Orang tersebut juga menggunakan kata-kata jorok karena kesal melihat kawan-kawannya masih terserak di belakangnya, seperti tak mau maju.
Tapi seseorang bertubuh besar yang membawa parang mendadak marah pada orang yang duduk itu.
“Ngana pe mulut jangan asal bicara! Ngana duduk-duduk saja dari tadi!”
Yang dibentak diam. Dia tak lagi bersuara. Hanya asap rokok yang masih mengepul dari bibirnya.
Pada saat yang sama, saya segera mencabuti seluruh identitas media tempatku bekerja, termasuk ID Card dan juga gelang nama media di mikrofon. Dari pengalaman terakhir ke Ternate, aku dan tim sudah mau dibantai oleh massa pendukung Thaib Armayn. Meskipun kini saya ditengah massa pendukung Gafur, tidak ada yang menjamin bahwa orang-orang dari massa Thaib tidak ada di sekitarku. Atau bisa jadi ada orang-orang dari massa Gafur yang tidak senang denganku atau mediaku. Dalam medan konflik, apapun bisa terjadi. Jadi, saya lebih memilih untuk meminimalisir pengenalan orang terhadapku.
Selagi memasukkan gelang mikrofon ke dalam tas pinggang, tiba-tiba ada batu jatuh tak jauh dari tempatku berdiri. Saya segera mundur. Itu lemparan dari seberang, dari massa Thaib!
Massa Gafur segera bereaksi. Mereka yang tadinya masih terserak di belakang, tiba-tiba mulai merapat ke depan. Mereka mulai membentuk gerombolan besar. Dan beberapa orang yang berada paling depan langsung membalas lemparan batu ke arah massa Thaib. Batu-batu segera melayang ke depan seperti meteor.
Hal sebaliknya juga saya alami. Batu-batu dari seberang makin menderas seperti hujan. Saya spontan bergerak ke sana kemari. Selain menghindari batu, dan memperhatikan kameramenku, saya pun mencari helm. Kulihat kawan-kawan wartawan lain sudah mendapatkannya. Entah darimana mereka dapatkan helm itu. Tapi helm itu tak berhasil saya temukan.
Baku lempar batu ini berhenti mendadak. Entah kenapa. Tapi memang beginilah adanya. Terdengar teriakan-teriakan marah dari kedua belah kubu. Saya tahu, seperti tadi, teriakan marah tidak saja ditujukan pada kubu lawan, tapi juga pada kubu sendiri. Para pimpinan aksi dari kedua belah pihak agaknya kewalahan mengatur barisannya sendiri.
Tak lama, pelan-pelan massa Gafur tercerai berai. Dari perempatan ini, yang berhadap-hadapan dengan massa Thaib, massa berangsur-angsur bergerak ke arah kiri, ke Jalan Tanah Tinggi yang menanjak. Mereka meninggalkan api yang masih melalap ban. Suasana sempat senyap. Dari jauh, kubu Thaib pun tampak mulai terserak.
Saat situasi mereda, saya mendapatkan informasi penting. Beberapa rumah di kota Tidore sedang hangus terbakar. Keributan ternyata juga sedang berlangsung di tempat lain. Dan rumah-rumah yang terbakar itu adalah milik pendukung Thaib Armyn dan Gani Kasuba. Pendukung Abdul Gafur dan Abdurrahim Fabanyo agaknya betul-betul murka dengan keputusan pemerintah.
Saya betul-betul ingin meliput ke Tidore saat itu juga. Tapi itu mustahil. Walaupun jarak ke Tidore hanya sekitar 10 menit, tapi di tengah malam begini, tidak ada speed boat yang tesedia.
Selagi mendiskusikan kerusuhan di Tidore, tiba-tiba saja terdengar teriakan-teriakan marah dari Jalan Tanah Tinggi. Puluhan orang dari massa Gafur kulihat sudah bergerak ke sana kemari sambil menunduk-tunduk.
“Ke sini! Mereka di sini!”
“Ayo majuu!”
Orang-orang di sana berteriak-teriak ke arah kami. Seketika, puluhan orang pendukung Gafur yang masih berada di perempatan ini berhamburan ke sana. Saya dan Edward, tak lama kemudian, turut serta.
Lokasi bentrokan rupanya pindah. Di sebuah lorong, sekitar 100 meter dari perempatan tadi, mereka kembali terlibat aksi saling lempar batu. Beberapa orang menggunakan katapel. Seperti perempatan tadi, lorong ini juga menghubungkan jalan yang dikuasai oleh massa Gafur dengan jalan yang dikuasai massa Thaib.
“Hoi bodoh!” teriak seseorang dari massa Gafur. “Ngana jaga itu perempatan! Mau mati? Kalau dorang masuk dari sana, torang terkepung!”
Tidak jelas dia berbicara kepada siapa. Dan agaknya tak ada yang mau mendengarkan perkataannya. Pelan-pelan, massa di perempatan tadi seluruhnya telah pindah. Perempatan itu kini sudah kosong. Dalam hati, saya agak khawatir dengan perkataan orang yang marah-marah barusan. Jika benar massa Thaib masuk dari perempatan itu, habislah sudah. Saya dan kawan-kawan wartawan lain pasti terkepung. Bisa-bisa parang mendarat di badan.
“PRANG!”
“PRANG!”
“DUG!”
“PRANG!”
“DUG!”
Bentrokan di sini agaknya jauh lebih keras ketimbang di perempatan di bawah tadi. Kaca-kaca rumah milik penduduk yang tinggal di kiri kanan lorong ini pecah. Temboknya juga tak luput dari hantaman batu. Bahkan di dekatku, massa Gafur sedang berusaha mematahkan pagar besi untuk dijadikan bahan lemparan. Entah siapa pemilik pagar yang malang itu.
Saya merunduk sambil bergeser ke kiri dan kanan. Kulihat Edward juga bertindak yang sama. Tapi Edward beberapa kali mendapat bentakan dari massa Gafur. Sebab, lampu kamera yang dinyalakannya menjadi petunjuk tersendiri bagi massa Thaib untuk melempar. Edward serba salah. Kulihat dia mematuhi permintaan untuk mematikan lampu kamera. Hanya saja Edward cukup nekat. Dalam situasi yang memungkinkan, dia nyalakan lagi lampu kamera, sebelum kemudian dia mendapat bentakan lagi.
Tiba-tiba situasi berubah drastis.
“Maju!”
“Maju!
“Lempar!”
“Bakar!”
Suara komando itu terdengar dari seberang, dari massa Thaib. Mereka mendadak merangsek ke depan. Sedikit lagi mereka hampir mendekati mulut lorong yang dikuasai massa Gafur.
“Munduuur!”
Munduuurrr!”
Massa Gafur berlari tak karuan. Suara-suara kalut dan panik bergema seperti lebah. Mereka terdesak dan kocar-kacir. Serangan massa Thaib membuat massa Gafur terbelah dua. Sebagian besar ke kiri, ke arah atas, dan sebagian kecil lari ke arah perempatan, ke bawah.
Saya dan Edward sendiri sempat terpisah. Saya lari ke sebelah kiri, sedangkan Edward ke sebelah kanan bersama wartawan-wartawan lain. Saya tak berani segera menggabungkan diri ke arah Edward dan kawan-kawan wartawan. Sebab, untuk menuju ke arah mereka, saya harus melewati mulut lorong tadi. Sementara, selain hujan batu tak henti-hentinya jatuh di depan lorong itu, besar kemungkinan massa Thaib maju melewati mulut lorong.
Selagi massa Thaib berada di atas angin, massa Gafur rupanya tak berdiam diri. Dari sela-sela sempit rumah penduduk, massa Gafur terus membalas lemparan batu. Perlawanan dilakukan dengan hit and run.
Maju sedikit, lempar batu, lalu mundur.
Batu-batu juga melayang di atas rumah-rumah penduduk yang tak tahu menahu dengan keributan ini.
Lama kelamaan massa Thaib kembali mundur ke posisi semula. Dan massa Gafur kembali maju dan menguasai sekitar mulut lorong.
Setelah serbuan massa Thaib tadi, ketegangan tampaknya mulai memudar. Aksi lempar batu tak sedahsyat tadi. Hanya satu dua batu yang masih jatuh di sekitar mulut lorong. Ejekan-ejekan mulai jarang terdengar.
Sekitar pukul dua dini hari Waktu Indonesia Timur (WIT), berangsur-angsur massa Gafur pergi. Mereka bergerak ke kiri, menyusuri jalan Tanah Tinggi yang makin menanjak. Begitu juga massa Thaib yang raib begitu saja. Entah apa sebabnya kedua belah pihak selesai baku lempar. Saya hanya melihat masing-masing pihak sudah keletihan dan sepertinya sudah tidak tahu apa lagi yang harus diperbuat.
10 menit keributan usai, suara sirene mengaung-aung. Sedikit demi sedikit suaranya kian dekat dan mengencang. Kulihat puluhan motor polisi mulai masuk ke perempatan Tanah Tinggi. Mereka yang berasal dari kesatuan Brimob Kelapa Dua langsung menggerung-gerungkan gas motornya hingga suasana sangat berisik. Kesatuan yang berseragam hitam-hitam ini cukup disegani oleh kedua belah pihak yang bertikai. Dan kini mereka sedang ditugaskan di Bawah Kendali Operasi (BKO) Kepolisian Resort (Polres) Ternate.
Sedetik kemudian, muncul satu buah truk angkut berisi puluhan anggota Brimob Kelapa Dua lain. Truk mereka langsung masuk ke jalan Tanah Tinggi, ke mulut lorong yang menjadi tempat pertikaian terakhir.
Satu persatu pasukan Brimob turun dan menutup akses masuk ke lorong tersebut. Kulihat, setiap tangan kanan anggota Brimob sudah menempel di pelatuk, sedangkan tangan kirinya memegang ujung laras panjang yang masih mengarah ke tanah.
Sebuah mobil polisi tampak berjalan perlahan, menyisir jalan Yos Sudarso. Di perempatan Tanah Tinggi, mobil ini sempat berhenti. Terdengar himbauan melalui pengeras suara dari dalam mobil, berkali-kali, agar massa membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.
Hanya selang lima belas menit, daerah Tanah Tinggi dan Yos Sudarso sudah bersih dari kerumunan massa.
***
Beberapa orang penghuni rumah di jalan Tanah Tinggi segera keluar. Mereka agaknya ingin tahu keadaan di luar.
Tanpa kamera, saya bergerak untuk mewawancarai salah satunya, seorang lelaki asal Bandung, Jawa Barat, berusia sekitar 30-an tahun. Ia salah satu penghuni kos sebuah rumah yang tadi sempat dijadikan tempat berlindung massa Gafur dari serangan massa Thaib. Di teras depan, puing-puing kaca rumahnya bertebaran.
Dia masih tampak ketakutan saat saya wawancarai. Sebab, hanya dirinya sendiri yang ada di rumah ini. Penghuni kos lain sudah berangsur-angsur pindah sejak dua bulan lalu. Menurut penuturannya, kawan-kawan kosnya sudah tertekan dengan keadaan ini.
“Kenapa Anda tidak ikut pindah?” tanyaku.
“Saya masih ada kerjaan, Mas. Tapi saya akan pindah sebentar lagi.”
Selesai wawancara dengan lelaki ini, saya mulai mencari Edward dan Burhan. Saat kutelefon, ternyata handphone-ku tidak ada sinyal. Berkali-kali kucoba terus sampai saya putus asa. Saya hilir mudik di sekitar perempatan Tanah Tinggi, tapi batang hidung keduanya tidak kelihatan. Suasana sangat gelap. Tak ada penerangan jalan. Mata hanya bisa memandang tak lebih dari dua meter.
Hanya karena kebetulanlah saya bertemu dengan Burhan di sekitar perempatan tadi. Tak lama Edward pun muncul dan menghampiri kami. Dari penuturan keduanya, ternyata bukan hanya saya seorang yang tidak memiliki sinyal. Lalu kami menduga, sinyal sengaja diputuskan oleh aparat keamanan untuk mematahkan komunikasi diantara massa yang bertikai.
Segera saya ajak Edward untuk mewawancarai seorang ibu yang tengah duduk seorang diri di depan warung yang sedang tutup. Posisinya sangat berdekatan dengan lorong tempat pertikaian tadi. Pemerintah harus tahu penderitaan warga di sini.
“Ibu kenapa malam-malam duduk di sini?” tanyaku dengan mikrofon di tangan.
Dia tidak mau menjawab. Dugaanku, ibu ini masih terkejut dengan kejadian barusan. Atau bisa jadi ia grogi dengan kamera. Saya ulangi lagi pertanyaanku. Kali ini berhasil.
“Ya, saya tadi di dalam warung. Ini lagi menunggu Bapak.” Bapak yang dimaksud adalah suaminya.
Saya terkejut. Selama bentrokan tadi, ibu ini rupanya bersembunyi di dalam warung. Bagaimana kalau warung ibu ini dibakar massa tadi, pikirku dalam hati. Tak ada yang tahu di dalamnya ada orang.
“Bapak kemana, Bu?”
“Tadi ada... Saya jadi khawatir...”
“Terakhir ketemu dimana, Bu?”
“Ya... Di sini tadi.... Tadi Bapak ada. Katanya mau mancing. Tapi belum pulang-pulang juga...”
“Mancing?” tanyaku heran. “Tengah malam begini?”
“Iya...”
“Warung Ibu buka 24 jam ya, Bu?” saya melancarkan pertanyaan baru.
“Tidak juga. Kadang-kadang saja buka 24 jam.”
“Sekarang kenapa ditutup, Bu?”
Saya tahu ini pertanyaan bodoh. Saya sudah tahu jawabannya. Tapi saya sengaja untuk mendapatkan jawaban yang bagus di kamera.
Selesai wawancara, saya tidak puas. Sebab, ketika diwawancarai tadi, kepala ibu ini melengos ke kiri dan kanan. Di layar, gerakan yang terlalu banyak seperti yang dilakukan ibu ini menjadi tidak bagus. Masyarakat yang melihat akan bertanya, sedang bicara dengan siapa ibu ini.
Edward saya kasih kode untuk melakukan wawancara ulang.
“Bu, kita wawancara ulang ya, Bu.”
Ibu ini tidak menjawab. Tapi tampaknya dia setuju.
“Tapi kepala ibu jangan bergerak-gerak kayak tadi ya,” tambahku. “Lihat saya saja, Bu. Anggap saja kita ngobrol seperti biasa.”
Lagi-lagi saya tahu ini bodoh. Bagaimana mungkin ibu yang warungnya kena lempar dan suaminya sedang tidak ketahuan rimbanya, saya minta untuk ngobrol seperti biasa. Apalagi ini sudah hampir pukul empat dini hari.
Dan benar saja. Saat kutanya-tanya, kepala ibu ini kembali bergerak ke sana kemari. Matanya pun sama sekali tidak menatap ke arahku. Akhirnya kuputuskan untuk tidak mewawancarainya lagi. Saya tidak tega – namun belakangan saya menyadari bahwa gerakan kepala ibu ini sebenarnya menggambarkan sebuah nuansa kalut.
***
Dalam sembilan bulan terakhir, Maluku Utara sudah menjadi kawah yang panas bagi siapapun. Pertikaian tidak saja melibatkan massa kedua kubu, dan juga memporak-porandakan struktur birokrasi, tetapi juga wartawan.
Di sini, sejumlah media telah menjadi bagian dari konflik. Mereka yang melakukan pemetaan konflik akan dapat menemukan sejumlah media yang bersikap partisan. Ada opini yang begitu kental bahwa media tertentu pro ke Abdul Gafur dan media tertentu lainnya pro ke Thaib Armayn. Akibatnya serius, beberapa wartawan sudah mendapatkan teror dari beragam pihak.
Seorang kontributor sebuah stasiun televisi nasional, misalnya, pernah hendak dibacok dengan parang oleh salah satu kubu saat meliput sebuah aksi keributan di malam hari. Dari gambar yang diperlihatkan kontributor tersebut kepada saya dan kawan-kawan wartawan lain, parang tersebut sudah melayang ke arah layarnya, yang dibarengi bentakan-bentakan kasar. Tidak itu saja. Seorang wartawan lain juga sudah dipukuli oleh massa salah satu kubu. Rumah seorang wartawan lain juga tak luput dari serbuan massa. Selain itu, ada pula wartawan yang karena pekerjaannya terpaksa harus berkonflik dengan saudaranya yang ada di salah satu kubu.
Sementara, saya sendiri pun tak luput dari teror. Usai keributan di tengah malam itu, saya mendapat informasi bahwa ada aparat loreng, juga massa pendukung salah satu kubu, yang tengah mencari-cari saya. Saya tidak tahu berita saya yang mana yang menjadi persoalan. Apakah karena di malam itu saya melaporkan secara langsung bahwa aparat datang setelah keributan usai (aparat tak melakukan apa-apa untuk menyudahi konflik di tengah malam itu); karena pemberitaanku yang mungkin tidak menyenangkan kalangan tertentu; atau seluruhnya berkelindan dengan pemilik kantor media tempatku bekerja, Surya Paloh, yang berasal partai yang tengah bertikai. Entahlah.
Di malam-malam berikutnya, di hotel yang berpindah-pindah, kelelahan sudah senyawa dengan ketegangan. Di setiap malam yang sepi saat menjelang tidur, saya selalu menyayangkan ketidakbecusan pemerintah pusat dalam mengatasi persoalan Maluku Utara. Gara-gara pemerintah pusat tidak tegas, masyarakat di “negeri raja” ini menjadi terkatung-katung dan mengalami perang saudara.
back to top
Sebelum ini, Maluku Utara sudah saya kunjungi sebanyak dua kali. Pertemuan dengan Maluku Utara kuawali dengan decak kagum. Kerajaan Ternate adalah kerajaan yang tidak saja sanggup mengusir penjajah Eropa, tapi, dengan dendam kesumat, juga memburunya sampai ke Philipina dan Timor Leste. Dan dalam pertemuan terakhir, sayalah yang dikejar-kejar. Salah satu kubu yang bertikai tidak menyukai kehadiranku dan timku.
Kini saya kembali ke Ternate. Di Bandara Sultan Baabullah, di siang hari yang terik, saya menarik napas dalam-dalam. Di sekelilingku suasana masih sama. Sepi. Tak banyak aktivitas. Saat itu hanya ada satu pesawat yang parkir. Dan begitulah di sini. Satu maskapai hanya melakukan penerbangan sekali dalam satu hari. Itupun tidak setiap hari. Jadi, saya harus betul-betul berhitung kapan harus keluar dari Maluku Utara jika terjadi apa-apa.
Setelah mendapatkan mobil sewaan, saya dan kameramen, Edward, mendapat informasi bahwa siang tadi telah terjadi bentrokan antara massa pendukung Abdul Gafur dan Abdurrahim Fabanyo dengan massa pendukung Thaib Armayn dan Gani Kasuba. Tidak ada korban jiwa dan material. Tapi, kata pak supir, suasana sempat mencekam di tempat bentrokan.
Semula saya hendak langsung mencari hotel dengan mobil sewaan ini. Hanya saja pikiranku berubah di tengah jalan. Saya harus berhati-hati. Tidak ada yang tahu supir ini simpatisan siapa. Apalagi dia sepertinya tahu sekali tentang politik. Pola pikirnya juga terlihat agak condong ke salah satu kubu. Jelas dia bukan orang awam. Saya tidak mau dia tahu dimana saya dan Edward menginap. Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi kontributorku, Burhan, yang ketika itu sedang berada di warnet. Pada pak supir, saya minta diturunkan di sana.
Burhan bukan kawan baru buatku. Terakhir ke sini, bersama dirinyalah saya bersembunyi usai kami dan beberapa kawan jurnalis lain dinyatakan dicari untuk dibantai.
“Woi Burhan!” seruku begitu melihat mukanya. Rindu juga saya padanya.
“Ho Hoi… Akhirnya abang kembali juga,” katanya riang. Wajahnya sumringah.
Burhan sebenarnya lebih tua dariku. Tapi entah kenapa dia selalu memanggilku Abang. Mungkin begitulah caranya menyapa orang, seperti Mas di Pulau Jawa.
Dari warnet, saya dan Edward diantar ke sebuah hotel. Katanya, dan ini kusetujui, daerah hotel ini netral dan aman, sekaligus dekat ke gedung DPRD, kantor Gubernur, dan warnet.
***
Sore hingga malam harinya, saya, Edward, dan Burhan, mencoba mengelilingi kota Ternate. Di sela-selanya saya mengontak wartawan-wartawan lokal dan juga aktivis-aktivis partai yang tengah bertikai. Tapi saat hendak meliput suasana tenang di pusat kota, sekitar pukul 12 malam, mendadak muncul informasi serius. Massa kedua belah pihak bentrok di Kelurahan Tanah Tinggi!
Pikiranku meliar. Apa ini? Keributan di pukul 12 malam? Sembari berpikir, mobil yang kusewa dengan “lepas kunci” ini meluncur kencang ke sana. Tanah Tinggi memang kerap menjadi tempat pecahnya bentrokan. Sebab, di kelurahan itulah rumah Gani Kasuba, calon wakil gubernur dari Thaib Armayn, berdekatan dengan rumah Abdul Gafur.
Sesampainya di lokasi, beberapa ruas jalan sudah diblokir oleh kedua belah pihak. Massa yang bertikai telah membelah jalan Yos Sudarso menjadi dua bagian. Dan jarak keduanya tak sampai lima ratus meter. Di tengahnya, di perempatan Tanah Tinggi, yang dikuasai massa Gafur, beberapa ban bekas sedang dilalap api. Bau karet terbakar begitu menusuk hidung.
Saat saya tiba, kedua kubu masih saling ejek. Masing-masing pihak juga masih sibuk mengonsolidasikan kawan-kawannya untuk merapatkan barisan. Bentak-bentakan kasar terdengar tidak hanya ditujukan pada pihak lawan, tapi juga pada kawan sendiri.
“Hoi, ayo,” teriak seseorang sambil duduk. Tangannya mengibas-kibas ke udara. “Jangan jadi pengecut.” Orang tersebut juga menggunakan kata-kata jorok karena kesal melihat kawan-kawannya masih terserak di belakangnya, seperti tak mau maju.
Tapi seseorang bertubuh besar yang membawa parang mendadak marah pada orang yang duduk itu.
“Ngana pe mulut jangan asal bicara! Ngana duduk-duduk saja dari tadi!”
Yang dibentak diam. Dia tak lagi bersuara. Hanya asap rokok yang masih mengepul dari bibirnya.
Pada saat yang sama, saya segera mencabuti seluruh identitas media tempatku bekerja, termasuk ID Card dan juga gelang nama media di mikrofon. Dari pengalaman terakhir ke Ternate, aku dan tim sudah mau dibantai oleh massa pendukung Thaib Armayn. Meskipun kini saya ditengah massa pendukung Gafur, tidak ada yang menjamin bahwa orang-orang dari massa Thaib tidak ada di sekitarku. Atau bisa jadi ada orang-orang dari massa Gafur yang tidak senang denganku atau mediaku. Dalam medan konflik, apapun bisa terjadi. Jadi, saya lebih memilih untuk meminimalisir pengenalan orang terhadapku.
Selagi memasukkan gelang mikrofon ke dalam tas pinggang, tiba-tiba ada batu jatuh tak jauh dari tempatku berdiri. Saya segera mundur. Itu lemparan dari seberang, dari massa Thaib!
Massa Gafur segera bereaksi. Mereka yang tadinya masih terserak di belakang, tiba-tiba mulai merapat ke depan. Mereka mulai membentuk gerombolan besar. Dan beberapa orang yang berada paling depan langsung membalas lemparan batu ke arah massa Thaib. Batu-batu segera melayang ke depan seperti meteor.
Hal sebaliknya juga saya alami. Batu-batu dari seberang makin menderas seperti hujan. Saya spontan bergerak ke sana kemari. Selain menghindari batu, dan memperhatikan kameramenku, saya pun mencari helm. Kulihat kawan-kawan wartawan lain sudah mendapatkannya. Entah darimana mereka dapatkan helm itu. Tapi helm itu tak berhasil saya temukan.
Baku lempar batu ini berhenti mendadak. Entah kenapa. Tapi memang beginilah adanya. Terdengar teriakan-teriakan marah dari kedua belah kubu. Saya tahu, seperti tadi, teriakan marah tidak saja ditujukan pada kubu lawan, tapi juga pada kubu sendiri. Para pimpinan aksi dari kedua belah pihak agaknya kewalahan mengatur barisannya sendiri.
Tak lama, pelan-pelan massa Gafur tercerai berai. Dari perempatan ini, yang berhadap-hadapan dengan massa Thaib, massa berangsur-angsur bergerak ke arah kiri, ke Jalan Tanah Tinggi yang menanjak. Mereka meninggalkan api yang masih melalap ban. Suasana sempat senyap. Dari jauh, kubu Thaib pun tampak mulai terserak.
Saat situasi mereda, saya mendapatkan informasi penting. Beberapa rumah di kota Tidore sedang hangus terbakar. Keributan ternyata juga sedang berlangsung di tempat lain. Dan rumah-rumah yang terbakar itu adalah milik pendukung Thaib Armyn dan Gani Kasuba. Pendukung Abdul Gafur dan Abdurrahim Fabanyo agaknya betul-betul murka dengan keputusan pemerintah.
Saya betul-betul ingin meliput ke Tidore saat itu juga. Tapi itu mustahil. Walaupun jarak ke Tidore hanya sekitar 10 menit, tapi di tengah malam begini, tidak ada speed boat yang tesedia.
Selagi mendiskusikan kerusuhan di Tidore, tiba-tiba saja terdengar teriakan-teriakan marah dari Jalan Tanah Tinggi. Puluhan orang dari massa Gafur kulihat sudah bergerak ke sana kemari sambil menunduk-tunduk.
“Ke sini! Mereka di sini!”
“Ayo majuu!”
Orang-orang di sana berteriak-teriak ke arah kami. Seketika, puluhan orang pendukung Gafur yang masih berada di perempatan ini berhamburan ke sana. Saya dan Edward, tak lama kemudian, turut serta.
Lokasi bentrokan rupanya pindah. Di sebuah lorong, sekitar 100 meter dari perempatan tadi, mereka kembali terlibat aksi saling lempar batu. Beberapa orang menggunakan katapel. Seperti perempatan tadi, lorong ini juga menghubungkan jalan yang dikuasai oleh massa Gafur dengan jalan yang dikuasai massa Thaib.
“Hoi bodoh!” teriak seseorang dari massa Gafur. “Ngana jaga itu perempatan! Mau mati? Kalau dorang masuk dari sana, torang terkepung!”
Tidak jelas dia berbicara kepada siapa. Dan agaknya tak ada yang mau mendengarkan perkataannya. Pelan-pelan, massa di perempatan tadi seluruhnya telah pindah. Perempatan itu kini sudah kosong. Dalam hati, saya agak khawatir dengan perkataan orang yang marah-marah barusan. Jika benar massa Thaib masuk dari perempatan itu, habislah sudah. Saya dan kawan-kawan wartawan lain pasti terkepung. Bisa-bisa parang mendarat di badan.
“PRANG!”
“PRANG!”
“DUG!”
“PRANG!”
“DUG!”
Bentrokan di sini agaknya jauh lebih keras ketimbang di perempatan di bawah tadi. Kaca-kaca rumah milik penduduk yang tinggal di kiri kanan lorong ini pecah. Temboknya juga tak luput dari hantaman batu. Bahkan di dekatku, massa Gafur sedang berusaha mematahkan pagar besi untuk dijadikan bahan lemparan. Entah siapa pemilik pagar yang malang itu.
Saya merunduk sambil bergeser ke kiri dan kanan. Kulihat Edward juga bertindak yang sama. Tapi Edward beberapa kali mendapat bentakan dari massa Gafur. Sebab, lampu kamera yang dinyalakannya menjadi petunjuk tersendiri bagi massa Thaib untuk melempar. Edward serba salah. Kulihat dia mematuhi permintaan untuk mematikan lampu kamera. Hanya saja Edward cukup nekat. Dalam situasi yang memungkinkan, dia nyalakan lagi lampu kamera, sebelum kemudian dia mendapat bentakan lagi.
Tiba-tiba situasi berubah drastis.
“Maju!”
“Maju!
“Lempar!”
“Bakar!”
Suara komando itu terdengar dari seberang, dari massa Thaib. Mereka mendadak merangsek ke depan. Sedikit lagi mereka hampir mendekati mulut lorong yang dikuasai massa Gafur.
“Munduuur!”
Munduuurrr!”
Massa Gafur berlari tak karuan. Suara-suara kalut dan panik bergema seperti lebah. Mereka terdesak dan kocar-kacir. Serangan massa Thaib membuat massa Gafur terbelah dua. Sebagian besar ke kiri, ke arah atas, dan sebagian kecil lari ke arah perempatan, ke bawah.
Saya dan Edward sendiri sempat terpisah. Saya lari ke sebelah kiri, sedangkan Edward ke sebelah kanan bersama wartawan-wartawan lain. Saya tak berani segera menggabungkan diri ke arah Edward dan kawan-kawan wartawan. Sebab, untuk menuju ke arah mereka, saya harus melewati mulut lorong tadi. Sementara, selain hujan batu tak henti-hentinya jatuh di depan lorong itu, besar kemungkinan massa Thaib maju melewati mulut lorong.
Selagi massa Thaib berada di atas angin, massa Gafur rupanya tak berdiam diri. Dari sela-sela sempit rumah penduduk, massa Gafur terus membalas lemparan batu. Perlawanan dilakukan dengan hit and run.
Maju sedikit, lempar batu, lalu mundur.
Batu-batu juga melayang di atas rumah-rumah penduduk yang tak tahu menahu dengan keributan ini.
Lama kelamaan massa Thaib kembali mundur ke posisi semula. Dan massa Gafur kembali maju dan menguasai sekitar mulut lorong.
Setelah serbuan massa Thaib tadi, ketegangan tampaknya mulai memudar. Aksi lempar batu tak sedahsyat tadi. Hanya satu dua batu yang masih jatuh di sekitar mulut lorong. Ejekan-ejekan mulai jarang terdengar.
Sekitar pukul dua dini hari Waktu Indonesia Timur (WIT), berangsur-angsur massa Gafur pergi. Mereka bergerak ke kiri, menyusuri jalan Tanah Tinggi yang makin menanjak. Begitu juga massa Thaib yang raib begitu saja. Entah apa sebabnya kedua belah pihak selesai baku lempar. Saya hanya melihat masing-masing pihak sudah keletihan dan sepertinya sudah tidak tahu apa lagi yang harus diperbuat.
10 menit keributan usai, suara sirene mengaung-aung. Sedikit demi sedikit suaranya kian dekat dan mengencang. Kulihat puluhan motor polisi mulai masuk ke perempatan Tanah Tinggi. Mereka yang berasal dari kesatuan Brimob Kelapa Dua langsung menggerung-gerungkan gas motornya hingga suasana sangat berisik. Kesatuan yang berseragam hitam-hitam ini cukup disegani oleh kedua belah pihak yang bertikai. Dan kini mereka sedang ditugaskan di Bawah Kendali Operasi (BKO) Kepolisian Resort (Polres) Ternate.
Sedetik kemudian, muncul satu buah truk angkut berisi puluhan anggota Brimob Kelapa Dua lain. Truk mereka langsung masuk ke jalan Tanah Tinggi, ke mulut lorong yang menjadi tempat pertikaian terakhir.
Satu persatu pasukan Brimob turun dan menutup akses masuk ke lorong tersebut. Kulihat, setiap tangan kanan anggota Brimob sudah menempel di pelatuk, sedangkan tangan kirinya memegang ujung laras panjang yang masih mengarah ke tanah.
Sebuah mobil polisi tampak berjalan perlahan, menyisir jalan Yos Sudarso. Di perempatan Tanah Tinggi, mobil ini sempat berhenti. Terdengar himbauan melalui pengeras suara dari dalam mobil, berkali-kali, agar massa membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.
Hanya selang lima belas menit, daerah Tanah Tinggi dan Yos Sudarso sudah bersih dari kerumunan massa.
***
Beberapa orang penghuni rumah di jalan Tanah Tinggi segera keluar. Mereka agaknya ingin tahu keadaan di luar.
Tanpa kamera, saya bergerak untuk mewawancarai salah satunya, seorang lelaki asal Bandung, Jawa Barat, berusia sekitar 30-an tahun. Ia salah satu penghuni kos sebuah rumah yang tadi sempat dijadikan tempat berlindung massa Gafur dari serangan massa Thaib. Di teras depan, puing-puing kaca rumahnya bertebaran.
Dia masih tampak ketakutan saat saya wawancarai. Sebab, hanya dirinya sendiri yang ada di rumah ini. Penghuni kos lain sudah berangsur-angsur pindah sejak dua bulan lalu. Menurut penuturannya, kawan-kawan kosnya sudah tertekan dengan keadaan ini.
“Kenapa Anda tidak ikut pindah?” tanyaku.
“Saya masih ada kerjaan, Mas. Tapi saya akan pindah sebentar lagi.”
Selesai wawancara dengan lelaki ini, saya mulai mencari Edward dan Burhan. Saat kutelefon, ternyata handphone-ku tidak ada sinyal. Berkali-kali kucoba terus sampai saya putus asa. Saya hilir mudik di sekitar perempatan Tanah Tinggi, tapi batang hidung keduanya tidak kelihatan. Suasana sangat gelap. Tak ada penerangan jalan. Mata hanya bisa memandang tak lebih dari dua meter.
Hanya karena kebetulanlah saya bertemu dengan Burhan di sekitar perempatan tadi. Tak lama Edward pun muncul dan menghampiri kami. Dari penuturan keduanya, ternyata bukan hanya saya seorang yang tidak memiliki sinyal. Lalu kami menduga, sinyal sengaja diputuskan oleh aparat keamanan untuk mematahkan komunikasi diantara massa yang bertikai.
Segera saya ajak Edward untuk mewawancarai seorang ibu yang tengah duduk seorang diri di depan warung yang sedang tutup. Posisinya sangat berdekatan dengan lorong tempat pertikaian tadi. Pemerintah harus tahu penderitaan warga di sini.
“Ibu kenapa malam-malam duduk di sini?” tanyaku dengan mikrofon di tangan.
Dia tidak mau menjawab. Dugaanku, ibu ini masih terkejut dengan kejadian barusan. Atau bisa jadi ia grogi dengan kamera. Saya ulangi lagi pertanyaanku. Kali ini berhasil.
“Ya, saya tadi di dalam warung. Ini lagi menunggu Bapak.” Bapak yang dimaksud adalah suaminya.
Saya terkejut. Selama bentrokan tadi, ibu ini rupanya bersembunyi di dalam warung. Bagaimana kalau warung ibu ini dibakar massa tadi, pikirku dalam hati. Tak ada yang tahu di dalamnya ada orang.
“Bapak kemana, Bu?”
“Tadi ada... Saya jadi khawatir...”
“Terakhir ketemu dimana, Bu?”
“Ya... Di sini tadi.... Tadi Bapak ada. Katanya mau mancing. Tapi belum pulang-pulang juga...”
“Mancing?” tanyaku heran. “Tengah malam begini?”
“Iya...”
“Warung Ibu buka 24 jam ya, Bu?” saya melancarkan pertanyaan baru.
“Tidak juga. Kadang-kadang saja buka 24 jam.”
“Sekarang kenapa ditutup, Bu?”
Saya tahu ini pertanyaan bodoh. Saya sudah tahu jawabannya. Tapi saya sengaja untuk mendapatkan jawaban yang bagus di kamera.
Selesai wawancara, saya tidak puas. Sebab, ketika diwawancarai tadi, kepala ibu ini melengos ke kiri dan kanan. Di layar, gerakan yang terlalu banyak seperti yang dilakukan ibu ini menjadi tidak bagus. Masyarakat yang melihat akan bertanya, sedang bicara dengan siapa ibu ini.
Edward saya kasih kode untuk melakukan wawancara ulang.
“Bu, kita wawancara ulang ya, Bu.”
Ibu ini tidak menjawab. Tapi tampaknya dia setuju.
“Tapi kepala ibu jangan bergerak-gerak kayak tadi ya,” tambahku. “Lihat saya saja, Bu. Anggap saja kita ngobrol seperti biasa.”
Lagi-lagi saya tahu ini bodoh. Bagaimana mungkin ibu yang warungnya kena lempar dan suaminya sedang tidak ketahuan rimbanya, saya minta untuk ngobrol seperti biasa. Apalagi ini sudah hampir pukul empat dini hari.
Dan benar saja. Saat kutanya-tanya, kepala ibu ini kembali bergerak ke sana kemari. Matanya pun sama sekali tidak menatap ke arahku. Akhirnya kuputuskan untuk tidak mewawancarainya lagi. Saya tidak tega – namun belakangan saya menyadari bahwa gerakan kepala ibu ini sebenarnya menggambarkan sebuah nuansa kalut.
***
Dalam sembilan bulan terakhir, Maluku Utara sudah menjadi kawah yang panas bagi siapapun. Pertikaian tidak saja melibatkan massa kedua kubu, dan juga memporak-porandakan struktur birokrasi, tetapi juga wartawan.
Di sini, sejumlah media telah menjadi bagian dari konflik. Mereka yang melakukan pemetaan konflik akan dapat menemukan sejumlah media yang bersikap partisan. Ada opini yang begitu kental bahwa media tertentu pro ke Abdul Gafur dan media tertentu lainnya pro ke Thaib Armayn. Akibatnya serius, beberapa wartawan sudah mendapatkan teror dari beragam pihak.
Seorang kontributor sebuah stasiun televisi nasional, misalnya, pernah hendak dibacok dengan parang oleh salah satu kubu saat meliput sebuah aksi keributan di malam hari. Dari gambar yang diperlihatkan kontributor tersebut kepada saya dan kawan-kawan wartawan lain, parang tersebut sudah melayang ke arah layarnya, yang dibarengi bentakan-bentakan kasar. Tidak itu saja. Seorang wartawan lain juga sudah dipukuli oleh massa salah satu kubu. Rumah seorang wartawan lain juga tak luput dari serbuan massa. Selain itu, ada pula wartawan yang karena pekerjaannya terpaksa harus berkonflik dengan saudaranya yang ada di salah satu kubu.
Sementara, saya sendiri pun tak luput dari teror. Usai keributan di tengah malam itu, saya mendapat informasi bahwa ada aparat loreng, juga massa pendukung salah satu kubu, yang tengah mencari-cari saya. Saya tidak tahu berita saya yang mana yang menjadi persoalan. Apakah karena di malam itu saya melaporkan secara langsung bahwa aparat datang setelah keributan usai (aparat tak melakukan apa-apa untuk menyudahi konflik di tengah malam itu); karena pemberitaanku yang mungkin tidak menyenangkan kalangan tertentu; atau seluruhnya berkelindan dengan pemilik kantor media tempatku bekerja, Surya Paloh, yang berasal partai yang tengah bertikai. Entahlah.
Di malam-malam berikutnya, di hotel yang berpindah-pindah, kelelahan sudah senyawa dengan ketegangan. Di setiap malam yang sepi saat menjelang tidur, saya selalu menyayangkan ketidakbecusan pemerintah pusat dalam mengatasi persoalan Maluku Utara. Gara-gara pemerintah pusat tidak tegas, masyarakat di “negeri raja” ini menjadi terkatung-katung dan mengalami perang saudara.
Did you like this?
vote