Aku & Perempuan - Aku...{2} (chapter 2) by Feri Razali
chapters
chapter 1:
Aku...{1}
chapter 2:
Aku...{2}
Aku...{2}
chapter 2
—
updated Apr 09, 2008
—
6218 characters
—
0 people liked this writing
Seperti yang aku katakan, aku dibesarkan dan diajarkan sesuatu dengan cara yang berbeda. Perlu waktu untuk membuktikan semuanya. Saat ini bekalku hanya keyakinan dan impian. Keyakinan akan kekuatan yang berada maha jauh dari nalarku serta impian akan membawa bulan, dialah perempuanku, ke pangkuan bunda dan kerlip bintang sebagai penghangat suasana di gubuk reot milik kami.
Aku terdampar disini, di bagian bumi yang sebelumnya tak pernah ku pijakan, hanya desas-desus angin yang berkomentar tentang negeri para dewa. Negeri yang dahulu dikenal sebagai negerinya para raja dengan segala pusakanya, negeri yang subur; Gemah ripah loh jenawi, itu kata mereka. Julukannya pun tak main-main negeri hujan, bukan sekedar julukan tapi benar adanya. Udaranya pun serupa aroma kembang di pemandian para dewi khayangan, sejuk-menyegarkan. Itu dulu...hanya tinggal cerita dongeng buat tidur.
Aku punya seribu atau bahkan lebih cerita yang bisa ku uraikan pada malam-malam yang sepi. Semuanya nyata; bukan sekedar basa-basi yang bertema romantisme belaka. Ada ketulusan serta impian disetiap barisnya yang bermaksud menggapai dinding langit hati.
Semuanya luruh dalam syair yang senantiasa mensyiarkan apa yang semestinya ia syiarkan. Tapi aku terlalu naif, katanya. Naif akan semua yang telah ku katakan pada malam dan siang. Hingga membentuk tanda tanya pada ukiran sebuah tanya tentang diriku. Aku memang pengecut, aku hanya berani berkata kala sepi menopangku. Aku selalu bersembunyi dibalik kata-katanya yang lembut dan menyiratkan beragam warna. Aku memang gagu tanpanya, sepi. Lidah ini tak terbiasa berkata manis. Bukannya tak mau, hanya saja terkadang aku tak mampu ungkapkan apa yang ada dengan kata-kata yang ku punya. Aku terlalu fakir untuk menterjemahkan semuanya.
Aku mencintaimu, sepi. Seperti cintaku pada Bunda bumi dan Ayahnda langit. Aku mencintaimu karna Allah mencintaiku sama halnya dengan yang lain. Hanya saja, seperti yang ku katakan aku adalah seorang gagu yang tak kuasa untuk ungkapkan perasaan cinta-Nya ini padamu.
Aku bahagia sebab peran aku adalah seorang yang menemani sepi, pena dan kanvas. Aku yang bermain dengan sepi fitrahku. Aku merasai nikmatnya mengenakan kata-kata yang bukan kataku.Menampakan perasaan jiwa bila ada jiwa yang setara. Mewujudkan impian yang bukan impianku.
Aku berlakon sebagai orang gila. Berlakon pula sebagai pemberani di balik kepengecutanku. Bermimik bahagia, meskipun aku… menderita, tak mengapa.
Aku hanyalah seorang pelakon peran yang dapat jatahnya sendiri di negeri asing ini, fana namanya. Berkerja atas perintah ‘sutradra’ dan berdialek sesuai skenario yang ada. Aku bukanlah satu-satunya pelakon disini; masih ada banyak, banyak lagi. Mungkin lebih dari ribuan bahkan jutaan lakonan yang mereka dapat disini. Ada yang datang dan ada juga yang pergi terdepak oleh caranya sendiri. Aku benar-benar diuji disini, di setiap ‘scene’ dan setiap waktu yang kesemuanya adalah sebuah paket kejar tayang. Skenario yang ku jalani hari ini adalah untuk esok harinya. Yang telah lalu menjadi catatan prestasiku, jika gagal maka berkuranglah nilaiku.
Aku bahagia menjalani peranku. Walaupun aku sempat berpikir kenapa aku diberikan peran ini, padahal sama sekali aku tak memahaminya. Jika kata sutradara ‘A’ ya ‘A‘, tidak mungkin menjadi ‘B’ atau ‘C’. Satu perintah yang harus ku terima dengan berbesar hati, karna aku hanyalah pelakon pelengkap ; bukan aktor hebat. Detik berganti menit, menit beranjak jam, jam terbang menjadi hari, dan hari lesap dalam tahun, akupun perlahan menyukaimu; penyair.
Aku bahagia karena peranku adalah seorang penyair. Penyair yang memadukan syair dan kehidupan dalam satu kesinergisan ruh, raga, dan hati sang kata. Lawan mainku tak bukan dan tak salah adalah sepi, pena dan kanvas. Aku bersandiwara dengan fitrah yang ku miliki, tanpa banyak basa-basi; hanya diam memaknai, Aku tahu pasti bagaimana merasai kata-kata yang senantiasa didialogkan dari tiap ‘scene’ yang bukan milikku. Membuka sisi lain tirai pembatas antara hati dan perasaan jika ada yang pantas membukanya. Karna rahasia akan terungkap apabila ada hati yang mau menyentuhnya hingga ke dasar bagian terdalam. Lalu mewujudkan impiannya yang sudah ku anggap sebagai impianku sendiri, tanpa pernah berpikir untuk memilikinya. Tugasku hanya membuatnya menjadi kenyataan setelah itu silahkan ambil kembali dan aku tak akan meminta apapun darinya.
Tetapi kenapa aku dianggap orang gila; yang tak waras. Apa selama ini aku membaca teks yang salah sehingga membuat penonton yang tidak tahu apa-apa tentang peran ini mengatakan aku gila. Biarlah apa peduliku saat ini.
“...Aku pun sanggup berdialek layaknya pecinta sejati.Dengan ribuan untaian romantisme yang meluruhkan hati walau terkadang ku remuk getaran cinta di hati. Untuk kebahagiaan mereka yang tak mengerti akan peranku. Aku mendengar nuraniku pada bisik hatimu. Merasai raga dan ruhku dari tubuhmu. Memaknai perasaan sanubari dari lakonmu.Melantunkan nada-nada cinta, tetapi dari kemer-duan suara lembutmu.”
Manuskrip tentang kehidupan telah selesai ditulis di atas kertas putih dengan pena berwarna pelangi. Apa yang hendak dikata lagi, aku terlanjur memilih peran itu dan mencoba menjiwai karakter seorang pecinta. Aku hanya tahu, karakter ini banyak diminati penonton di balkon sana. Mereka senang dengan untaian kata-kata puitis dan romantis. Padahal aku amat tak menyukainya.
Apa boleh buat sekarang sudah terlambat, aku telah menjalaninya. Tapi aku banyak belajar dari sini, belajar akan arti sebuah keikhlasan dan pengharapan terhadap sebentuk cinta. Walaupun terkadang, tak jarang getaran yang timbul dalam hati aku remukan untuk kebahagiaan orang lain. Biarlah, cukup aku saja yang mengerti hati-hati mereka tapi tidak sebaliknya.
Apa yang ku mengerti tentang ‘cinta’- tak ada. Aku hanya mencoba menterjemahkan sebuah perhatian dan pandangan menjadi sebuah bahasa yang mampu ku mengerti sendiri-bukan orang lain. Bahasa yang aksaranya terhimpun dari jalinan benang kusut pengalaman dan pemahamanku yang tak seberapa panjangnya. Sehingga hasilnya pun terkadang dipandang sebagai sebuah ketidakpastian dari ku.
back to top
Aku terdampar disini, di bagian bumi yang sebelumnya tak pernah ku pijakan, hanya desas-desus angin yang berkomentar tentang negeri para dewa. Negeri yang dahulu dikenal sebagai negerinya para raja dengan segala pusakanya, negeri yang subur; Gemah ripah loh jenawi, itu kata mereka. Julukannya pun tak main-main negeri hujan, bukan sekedar julukan tapi benar adanya. Udaranya pun serupa aroma kembang di pemandian para dewi khayangan, sejuk-menyegarkan. Itu dulu...hanya tinggal cerita dongeng buat tidur.
Aku punya seribu atau bahkan lebih cerita yang bisa ku uraikan pada malam-malam yang sepi. Semuanya nyata; bukan sekedar basa-basi yang bertema romantisme belaka. Ada ketulusan serta impian disetiap barisnya yang bermaksud menggapai dinding langit hati.
Semuanya luruh dalam syair yang senantiasa mensyiarkan apa yang semestinya ia syiarkan. Tapi aku terlalu naif, katanya. Naif akan semua yang telah ku katakan pada malam dan siang. Hingga membentuk tanda tanya pada ukiran sebuah tanya tentang diriku. Aku memang pengecut, aku hanya berani berkata kala sepi menopangku. Aku selalu bersembunyi dibalik kata-katanya yang lembut dan menyiratkan beragam warna. Aku memang gagu tanpanya, sepi. Lidah ini tak terbiasa berkata manis. Bukannya tak mau, hanya saja terkadang aku tak mampu ungkapkan apa yang ada dengan kata-kata yang ku punya. Aku terlalu fakir untuk menterjemahkan semuanya.
Aku mencintaimu, sepi. Seperti cintaku pada Bunda bumi dan Ayahnda langit. Aku mencintaimu karna Allah mencintaiku sama halnya dengan yang lain. Hanya saja, seperti yang ku katakan aku adalah seorang gagu yang tak kuasa untuk ungkapkan perasaan cinta-Nya ini padamu.
Aku bahagia sebab peran aku adalah seorang yang menemani sepi, pena dan kanvas. Aku yang bermain dengan sepi fitrahku. Aku merasai nikmatnya mengenakan kata-kata yang bukan kataku.Menampakan perasaan jiwa bila ada jiwa yang setara. Mewujudkan impian yang bukan impianku.
Aku berlakon sebagai orang gila. Berlakon pula sebagai pemberani di balik kepengecutanku. Bermimik bahagia, meskipun aku… menderita, tak mengapa.
Aku hanyalah seorang pelakon peran yang dapat jatahnya sendiri di negeri asing ini, fana namanya. Berkerja atas perintah ‘sutradra’ dan berdialek sesuai skenario yang ada. Aku bukanlah satu-satunya pelakon disini; masih ada banyak, banyak lagi. Mungkin lebih dari ribuan bahkan jutaan lakonan yang mereka dapat disini. Ada yang datang dan ada juga yang pergi terdepak oleh caranya sendiri. Aku benar-benar diuji disini, di setiap ‘scene’ dan setiap waktu yang kesemuanya adalah sebuah paket kejar tayang. Skenario yang ku jalani hari ini adalah untuk esok harinya. Yang telah lalu menjadi catatan prestasiku, jika gagal maka berkuranglah nilaiku.
Aku bahagia menjalani peranku. Walaupun aku sempat berpikir kenapa aku diberikan peran ini, padahal sama sekali aku tak memahaminya. Jika kata sutradara ‘A’ ya ‘A‘, tidak mungkin menjadi ‘B’ atau ‘C’. Satu perintah yang harus ku terima dengan berbesar hati, karna aku hanyalah pelakon pelengkap ; bukan aktor hebat. Detik berganti menit, menit beranjak jam, jam terbang menjadi hari, dan hari lesap dalam tahun, akupun perlahan menyukaimu; penyair.
Aku bahagia karena peranku adalah seorang penyair. Penyair yang memadukan syair dan kehidupan dalam satu kesinergisan ruh, raga, dan hati sang kata. Lawan mainku tak bukan dan tak salah adalah sepi, pena dan kanvas. Aku bersandiwara dengan fitrah yang ku miliki, tanpa banyak basa-basi; hanya diam memaknai, Aku tahu pasti bagaimana merasai kata-kata yang senantiasa didialogkan dari tiap ‘scene’ yang bukan milikku. Membuka sisi lain tirai pembatas antara hati dan perasaan jika ada yang pantas membukanya. Karna rahasia akan terungkap apabila ada hati yang mau menyentuhnya hingga ke dasar bagian terdalam. Lalu mewujudkan impiannya yang sudah ku anggap sebagai impianku sendiri, tanpa pernah berpikir untuk memilikinya. Tugasku hanya membuatnya menjadi kenyataan setelah itu silahkan ambil kembali dan aku tak akan meminta apapun darinya.
Tetapi kenapa aku dianggap orang gila; yang tak waras. Apa selama ini aku membaca teks yang salah sehingga membuat penonton yang tidak tahu apa-apa tentang peran ini mengatakan aku gila. Biarlah apa peduliku saat ini.
“...Aku pun sanggup berdialek layaknya pecinta sejati.Dengan ribuan untaian romantisme yang meluruhkan hati walau terkadang ku remuk getaran cinta di hati. Untuk kebahagiaan mereka yang tak mengerti akan peranku. Aku mendengar nuraniku pada bisik hatimu. Merasai raga dan ruhku dari tubuhmu. Memaknai perasaan sanubari dari lakonmu.Melantunkan nada-nada cinta, tetapi dari kemer-duan suara lembutmu.”
Manuskrip tentang kehidupan telah selesai ditulis di atas kertas putih dengan pena berwarna pelangi. Apa yang hendak dikata lagi, aku terlanjur memilih peran itu dan mencoba menjiwai karakter seorang pecinta. Aku hanya tahu, karakter ini banyak diminati penonton di balkon sana. Mereka senang dengan untaian kata-kata puitis dan romantis. Padahal aku amat tak menyukainya.
Apa boleh buat sekarang sudah terlambat, aku telah menjalaninya. Tapi aku banyak belajar dari sini, belajar akan arti sebuah keikhlasan dan pengharapan terhadap sebentuk cinta. Walaupun terkadang, tak jarang getaran yang timbul dalam hati aku remukan untuk kebahagiaan orang lain. Biarlah, cukup aku saja yang mengerti hati-hati mereka tapi tidak sebaliknya.
Apa yang ku mengerti tentang ‘cinta’- tak ada. Aku hanya mencoba menterjemahkan sebuah perhatian dan pandangan menjadi sebuah bahasa yang mampu ku mengerti sendiri-bukan orang lain. Bahasa yang aksaranya terhimpun dari jalinan benang kusut pengalaman dan pemahamanku yang tak seberapa panjangnya. Sehingga hasilnya pun terkadang dipandang sebagai sebuah ketidakpastian dari ku.
Did you like this?
vote
