[x]
Oops - we couldn't find that review.
Aku & Perempuan - Aku...{1} by Feri Razali
chapters
chapter 1:
Aku...{1}
chapter 2:
Aku...{2}
Aku...{1}
chapter 1
—
updated Apr 09, 2008
—
4425 characters
—
0 people liked this writing
[...Satu sisi lain kehidupan
Ada karena rasa lalu tangan-Nya menuntun
Ruh suci tuk duduk bersandar menyandang nama
Mengadah mengemis pada cinta
Menanti kan terbang kembali pada-Nya...]
Aku terlahir sebagai yang didahulukan. Dibesarkan oleh kemurungan, kesendirian, dan kesunyian. Aku ditempa oleh kerasnya hidup. Diajari bahasa hutan dan kicauan burung. Merangkak bersama angin dan tidur di pembaringan malam. Ayahku adalah langit yang menaungiku tanpa banyak berkata. Ibuku adalah bumi yang mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Saudaraku adalah sisi lain dari hidupku yang penuh tawa dan canda. Dan aku mewarisi sifat keduanya.
Dalam sebuah penciptaan, aku terpilih sebagai seorang pemenang yang memenangkan hati-Nya. Melebur lalu luruh padu pada rahim bumi. Tangan-tangan Gaib membuat banyak keajaiban yang menuntunku sebagai lelaki. Pelajaran pertama tentang hidup kudapat dari sentuhan karya-Nya. Tumbuh dan terus tumbuh hingga saatnya tiba untuk ku berdiri sendiri. Keberadaan ku ditandai dengan tangisanku, disebuah gubuk sederhana di rimbunan pepohonan.
« S’lamat pagi, Fajar !
Aku akan menjadi saingan mu kelak untuk mempere-butkan perhatian-Nya. Ada keberanian dalam intonasi ritmik tangisku, getarnya memecah malam-malam sepi diantara sela-sela pilar senja hingga beranjak subuh. Aku lelap kala fajar datang dan bernyanyi saat malam menyapa senja.
Mimpi-mimpi tentang kehidupan senantiasa ku bangun dalam tangisanku yang terkadang membuat Ibunda bumi lelah menenangkanku. Bahkan Ayahanda langit pernah murka karnaku. Waktu terus berlari, aku tertinggal jauh dibelakang. Aku besar dalam naungan langit dan makan dari tangan Ibunda bumi. Tertidur oleh nyanyian alam dan bermimpi tentang hidup yang bahagia. Mimpi yang tercipta dari sebuah khayalan tentang pelangi yang mengajakku ke sana, ke istana kecil itu.
« Sendiri... !
Ya sendiri, aku harus pergi kesana sendiri walau ku yakin Ayah Bunda slalu ada kala aku perlukan. Airmata Bunda membuatku paham arti kepahitan dan kebahagian alam dunia. Kebungkaman Ayah terhujam diprinsipku, yang memberiku inspirasi tentang kehadiran, kata-kata, dan ketulusan.
Guruku, alam, mengajariku bahasa nurani yang membuatku mengerti jerit tangis mereka. Diasuh oleh kesunyian yang mengenalkan pada sahabatku, sepi. Aku terlahir sendiri dan bermain sendiri. Egoku membentuk karakter keras dalam jiwa yang rindu akan kelembutan. Mimpiku memintal benang membentuk sketsa sebuah wajah, wajah kehidupan. Entah berapa lama ku tahu seperti apa ia atau waktu teralu cepat memenangkan perlombaan ini dan aku menjadi orang yang kalah serta tersisihkan.
« Ku harap tidak, ini belum usai... !
Masa itu telah lewat beberapa ribu jam yang lalu. Jalan yang ku tempuh pula tak tanggung-tanggung. Melewati lembah dan perbukitan terjal di sebelah baratnya hamparan lautan samudera biru. Sekarang pun, masih sama seperti dulu sama seperti sahabatku, sepi.Dibesarkan bersama, bercanda, tertawa, sedih, menangis bersama. Ia setia hingga saat ini ; tak tergantikan.
Tuhan menganugerahi aku kala aku berada dibegitu banyaknya jalan yang harus aku pilih. Anugerah hati dan cinta, yang membuat pintalan mimpiku semakin nyata, seperti apa wajah kehidupan. Lantas Bunda mengguruiku tentang doa dan pengharapan, ayah pun tak mau kalah. Ia menasehati aku tentang arti hadirku sebagai lelaki, yang tumbuh dan besar sendiri. Ya seorang lelaki...
« Lakukan sesuatu yang kau yakini, Nak ! »
Itu pesan Ayah padaku.
« Berdoalah saat kau bimbang pada penciptamu, hanya itu yang dapat kau lakukan saat kau lelah melakukan semuanya ! »
Bunda berbisik saat mata mulai lelap pada lelahnya.
Pernah suatu kali, saat itu usiaku bergejolak begitu ingin bebas, rasa menghampiriku. Aku takut setengah mati. Aku terkejut sekaligus takjub. Apa ini rasa yang sama seperti pasangan bumi dan langit.
“Rasa, apakah kau pernah berbohong padaku?”
Khawatirku ini hanya hasrat sesat. Aku tak pernah mau menjabat tangannya. Cukup menatapnya saja, memaksa otakku berinspirasi ibarat pasir yang tertiup angin. Begitu ringan dan tertebar kemana angin berhembus. Lama nian keinginan untuk berjabat tangan tak terbendung. Namun sayang, tangannya tak lagi untuk ku. Sedih memang, saat itulah sahabatku, sepi, mengenalkanku pada pena dan kanvas. Mereka teman yang baik, mau mendengarkan apa saja keluhanku tanpa berbasa-basi. Akupun terbiasa dengan itu.
back to top
Ada karena rasa lalu tangan-Nya menuntun
Ruh suci tuk duduk bersandar menyandang nama
Mengadah mengemis pada cinta
Menanti kan terbang kembali pada-Nya...]
Aku terlahir sebagai yang didahulukan. Dibesarkan oleh kemurungan, kesendirian, dan kesunyian. Aku ditempa oleh kerasnya hidup. Diajari bahasa hutan dan kicauan burung. Merangkak bersama angin dan tidur di pembaringan malam. Ayahku adalah langit yang menaungiku tanpa banyak berkata. Ibuku adalah bumi yang mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Saudaraku adalah sisi lain dari hidupku yang penuh tawa dan canda. Dan aku mewarisi sifat keduanya.
Dalam sebuah penciptaan, aku terpilih sebagai seorang pemenang yang memenangkan hati-Nya. Melebur lalu luruh padu pada rahim bumi. Tangan-tangan Gaib membuat banyak keajaiban yang menuntunku sebagai lelaki. Pelajaran pertama tentang hidup kudapat dari sentuhan karya-Nya. Tumbuh dan terus tumbuh hingga saatnya tiba untuk ku berdiri sendiri. Keberadaan ku ditandai dengan tangisanku, disebuah gubuk sederhana di rimbunan pepohonan.
« S’lamat pagi, Fajar !
Aku akan menjadi saingan mu kelak untuk mempere-butkan perhatian-Nya. Ada keberanian dalam intonasi ritmik tangisku, getarnya memecah malam-malam sepi diantara sela-sela pilar senja hingga beranjak subuh. Aku lelap kala fajar datang dan bernyanyi saat malam menyapa senja.
Mimpi-mimpi tentang kehidupan senantiasa ku bangun dalam tangisanku yang terkadang membuat Ibunda bumi lelah menenangkanku. Bahkan Ayahanda langit pernah murka karnaku. Waktu terus berlari, aku tertinggal jauh dibelakang. Aku besar dalam naungan langit dan makan dari tangan Ibunda bumi. Tertidur oleh nyanyian alam dan bermimpi tentang hidup yang bahagia. Mimpi yang tercipta dari sebuah khayalan tentang pelangi yang mengajakku ke sana, ke istana kecil itu.
« Sendiri... !
Ya sendiri, aku harus pergi kesana sendiri walau ku yakin Ayah Bunda slalu ada kala aku perlukan. Airmata Bunda membuatku paham arti kepahitan dan kebahagian alam dunia. Kebungkaman Ayah terhujam diprinsipku, yang memberiku inspirasi tentang kehadiran, kata-kata, dan ketulusan.
Guruku, alam, mengajariku bahasa nurani yang membuatku mengerti jerit tangis mereka. Diasuh oleh kesunyian yang mengenalkan pada sahabatku, sepi. Aku terlahir sendiri dan bermain sendiri. Egoku membentuk karakter keras dalam jiwa yang rindu akan kelembutan. Mimpiku memintal benang membentuk sketsa sebuah wajah, wajah kehidupan. Entah berapa lama ku tahu seperti apa ia atau waktu teralu cepat memenangkan perlombaan ini dan aku menjadi orang yang kalah serta tersisihkan.
« Ku harap tidak, ini belum usai... !
Masa itu telah lewat beberapa ribu jam yang lalu. Jalan yang ku tempuh pula tak tanggung-tanggung. Melewati lembah dan perbukitan terjal di sebelah baratnya hamparan lautan samudera biru. Sekarang pun, masih sama seperti dulu sama seperti sahabatku, sepi.Dibesarkan bersama, bercanda, tertawa, sedih, menangis bersama. Ia setia hingga saat ini ; tak tergantikan.
Tuhan menganugerahi aku kala aku berada dibegitu banyaknya jalan yang harus aku pilih. Anugerah hati dan cinta, yang membuat pintalan mimpiku semakin nyata, seperti apa wajah kehidupan. Lantas Bunda mengguruiku tentang doa dan pengharapan, ayah pun tak mau kalah. Ia menasehati aku tentang arti hadirku sebagai lelaki, yang tumbuh dan besar sendiri. Ya seorang lelaki...
« Lakukan sesuatu yang kau yakini, Nak ! »
Itu pesan Ayah padaku.
« Berdoalah saat kau bimbang pada penciptamu, hanya itu yang dapat kau lakukan saat kau lelah melakukan semuanya ! »
Bunda berbisik saat mata mulai lelap pada lelahnya.
Pernah suatu kali, saat itu usiaku bergejolak begitu ingin bebas, rasa menghampiriku. Aku takut setengah mati. Aku terkejut sekaligus takjub. Apa ini rasa yang sama seperti pasangan bumi dan langit.
“Rasa, apakah kau pernah berbohong padaku?”
Khawatirku ini hanya hasrat sesat. Aku tak pernah mau menjabat tangannya. Cukup menatapnya saja, memaksa otakku berinspirasi ibarat pasir yang tertiup angin. Begitu ringan dan tertebar kemana angin berhembus. Lama nian keinginan untuk berjabat tangan tak terbendung. Namun sayang, tangannya tak lagi untuk ku. Sedih memang, saat itulah sahabatku, sepi, mengenalkanku pada pena dan kanvas. Mereka teman yang baik, mau mendengarkan apa saja keluhanku tanpa berbasa-basi. Akupun terbiasa dengan itu.
Did you like this?
vote
