XEROGRAFER

by Ihwan Hariyanto
567830

genre: Literature & Fiction
description:
Sebuah novel yang ditulis berdasar pengalaman pribadi dan hasil imajinajis penulis sebagai tukang fotokopi.
Kata orang yang udah baca sih, katanya novel ini beda dari yang lain dan manjur buat yang pengin cari hiburan segar.


This story is from this book:
Xerografer: Curhat Colongan Tukang Fotokopi Xerografer: Curhat Colongan Tukang Fotokopi


chapters

chapter 1: INI BUDI...?


INI BUDI...?
chapter 1   —   updated 04/01/08   —   8709 characters   —   0 people liked it
INI BUDI!

Kenalkan, namaku Budi.
Ya, Budi saja. Tidak ada nama belakang, keluarga atau marga yang mengikutinya. B-U-D-I. Cukup empat huruf saja, tetapi dibutuhkan lebih dari empat huruf untuk menjelaskan sebab-musabab pemberian nama yang hemat energi itu.
Dulu, ketika aku masih kecil, tepatnya waktu baru masuk SD, aku sempat protes kepada orang tuaku. Begini ceritanya, di kelasku ada tiga orang anak bernama Budi. Yang pertama Budi Setyawan, yang kedua Budi Santoso dan tentu saja yang ketiga itu aku.
Pada awalnya aku tidak ada masalah dengan kesamaan nama kami. Tapi ketika Bu Sri, wali kelas kami datang dan mengabsen satu persatu....
“Budi Setyawan!” panggil Bu Sri dengan lantang.
“Saya, Bu.”
“Budi Santoso!”
“Saya, Bu.”
“Budi...?”
“Saya Bu...?”
Jika saja Bu Sri memanggil namaku semantap beliau memanggil “dua kembaran”ku, mungkin tidak akan ada apa-apa. Tetapi karena beliau menyebut namaku dengan nada bertanya di akhir kalimat, maka yang terjadi adalah tatapan aneh dari teman sekelasku.
“Nama panjangmu siapa?” tanya Bu Sri masih dengan suara lantang.
“Budi, Bu,” jawabku lugu.
“Iya, Ibu tahu namamu Budi. Maksud Ibu, nama belakangmu siapa?”
Belum sempat aku mereka-reka, tiba-tiba saja ada yang menyahut dengan cueknya.
“BUDI POERNOMO, BU!”
Teman-temanku yang sebagian tetanggaku sendiri langsung tertawa mendengarnya. Aku benar-benar marah dan malu sekali. Gimana nggak? Poernomo itu nama Bapakku! Dan aku tahu mulut siapa yang usil itu. Siapa lagi kalau bukan si Gendut Rio!

Tahu nggak? Bagaimana reaksi orang tuaku saat kuceritakan kejadian konyol itu? Dengan entengnya mereka berkata, “Sudah, tidak usah diambil hati.”
Glodak! Aku benar-benar tidak percaya dan tidak habis pikir. Bagaimana bisa mereka berkata seperti itu pada anak sekecil dan seimut aku? Arti ‘diambil hati’ saja aku nggak tahu. Untungnya mereka masih mau cerita kenapa aku dinamakan Budi saja, tanpa ada embel-embel sehuruf pun. Kalau tidak? Mungkin aku sudah bunuh diri saat itu.
Alkisah, nama (pertama) yang diberikan oleh Bapak ketika aku lahir adalah: BRAMA KUMBARA. Glodak! Hampir pingsan aku mendengarnya. Usut punya usut, ternyata Bapakku itu penggemar berat sandiwara radio.
Kalau nggak salah, sekitar tahun 80-an, serial silat memang sangat digandrungi. Maklum, waktu itu stasiun teve belum sebanyak sekarang. Mulai dari Misteri Gunung Merapi, Saur Sepuh sampai Tutur Tinular, Bapak hafal betul jalan cerita berikut nama-nama tokohnya.
Tokoh paling ngetop dari serial Misteri Gunung Merapi adalah Sembara, Farida, Mak Lampir dan Grandhong. Kalau dari Saur Sepuh itu Brama Kumbara, Mantili, Lasmini dan Raden Bentar trus ada juga Arya Kamandanu, Mei Shin dan Sakawuni dari serial Tutur Tinular. Untungnya Bapak masih cukup ”waras” dengan tidak memilih nama Grandhong buatku.
Lalu kenapa yang dipilih Brama Kumbara? Yang pasti bukan karena perolehan SMS-nya lebih banyak daripada Sembara.

Adapun alasannya adalah sebagai berikut:
1. Jelas, Brama Kumbara adalah idola Bapak. Sepertinya beliau terobsesi sekali dengan keperkasaan dan kesaktiannya.
2. Aku kan lahir prematur, bobotku cuma 1,5 kg. Nah, siapa tahu dengan berkah dari Raja Madangkara itu bobotku bisa bertambah 10 kg.
3. Bapak berharap jodohku bisa selancar Si Brama yang punya istri dua dan masih dikejar-kejar oleh Lasmini itu.
4. Yang ini agak mendingan. Biarpun nama Brama Kumbara itu berbau-bau zaman prasejarah, tetapi nama panggilannya tetap up to date: Bram.
5. Sedikit berbau nepotisme, di-matching-kan dengan nama kakakku.
Tahu nggak siapa namanya? MANTILI!
Kebalik sih sebenarnya, dalam Saur Sepuh, Mantili itu adiknya Brama. Berhubung Bapakku udah ngefans banget sama tuh serial maka diterjanglah silsilah keturunan Raja Madangkara tersebut.
Untungnya kakakku cukup kuat menyandang nama itu. Kalau tidak, mungkin sudah kena busung lapar. Namun, tidak berarti hidupnya bisa tenang begitu saja. Sejak TK sampai SMA dia selalu menjadi bahan ledekan teman sekelasnya. Mereka selalu memanggilnya Mantili Si Pedang Setan. Padahal, sumpah mati! Sejak kecil dia ingin sekali dipanggil Lily.
6. Pikir saja sendiri!

Kembali ke pokok permasalahan. Tidak peduli namanya Brama Kumbara, Arya Kamandanu atau Hercules sekalipun, kalau lahirnya saja sudah prematur, maka jangan berharap bisa tumbuh normal seperti bayi lainnya. Padahal Ibu sudah memberiku AS2 lho, bahkan yang eksklusif yaitu langsung dari sapinya. Selain itu makanan yang masuk ke tubuhku juga bukan sembarang makanan. Pokoknya sudah memenuhi Standar Gizi Indonesia. Tapi anehnya, sampai umur 2 tahun bobotku di timbangan posyandu tidak lebih dari 3 kg.
Masalah tidak berhenti sampai di situ saja.
Tingkah polaku sebagai balita ternyata berbanding terbalik dengan berat badanku yang minimalis itu. Walaupun tubuhku kecil plus ceking, aku termasuk hiperaktif dan minta ampun nakalnya. Tidak terhitung lagi jumlah balita yang menjadi ‘korban’ku. Mulai dari yang sekadar aku jambak rambutnya, kugigit tangannya sampai yang kurebut mainannya.
Tidak heran jika aku di-black list oleh para ibu di kampung. Mungkin karena sungkan, orang tuaku kemudian mengkarantinaku. Aku sama sekali tidak boleh bermain di luar. Tapi, berada di rumah bukan berarti aku menjadi jinak. Justru aku malah semakin menjadi-jadi. Mainan dan perabotan di rumah tidak berbentuk lagi bila ada di tanganku.
Atas saran dari salah seorang tetangga (yang mungkin sudah kesal kepadaku) aku dibawa ke seorang kyai di Bululawang, Gus Mad namanya. Menurut beliau, kenakalanku disebabkan oleh nama yang aku sandang. Tidak mengandung doa dan barokah, katanya. Akhirnya, dengan amat sangat terpaksa Bapak merelakan nama sakti itu diganti.
Tidak tanggung-tanggung, Gus Mad memberiku nama: MUHAMMAD YUSUF IBRAHIM. Masya Allah, tiga orang nabi sampai harus turun tangan untuk menjinakkanku.
Nama yang sarat akan doa dan barokah itu ternyata memang benar-benar mustajab.
Sepulang dari Gus Mad, aku berubah seratus delapan puluh derajat. Brama Kumbara sudah insyaf dan terlahir kembali menjadi anak yang manis, lucu dan sedikit pendiam. Begitu hebatnya nama itu hingga kesaktian Brama Kumbara juga ikut raib.
Ya, aku memang tidak nakal lagi. Tidak usil dan tidak banyak tingkah. Namun sayangnya, aku jadi sakit-sakitan. Aku sendiri tidak percaya waktu Ibu bilang seperti itu. Masa sih sakitku itu ada hubungannya dengan pergantian namaku. Wah, bisa-bisa aku terkena Azab Ilahi bila menarik kesimpulan seperti itu.
Sebenarnya sakit yang kuderita bukan penyakit parah yang mengharuskan aku masuk UGD. Hanya demam dan panas biasa. Satu penyakit yang sepertinya sudah menjadi “penyakit wajib” buat anak-anak.
Yang aneh dari sakitku ini hanya satu: durasinya. Sesudah diberi Bodrexin, satu dua hari kemudian sembuh. Tapi dua tiga hari kemudian kumat lagi. Begitu rutinnya hingga orang tuaku sampai hafal di luar kepala ”jadwal” sakitku itu . Jika dikalkulasikan, maka dalam satu bulan aku kena panas demam kira-kira lima sampai enam kali. Dan yang pasti aku layak mendapatkan penghargaan sebagai pelanggan setia dari Bodrexin.
Bapak dan Ibu benar-benar khawatir dengan keadaanku. Coba bayangkan, tubuhku yang sudah kurus itu digempur Miss Feverhot selama dua bulan lebih. Dan kamu tahu sendiri kan kalau anak kecil sakit pasti makannya rewel. Tubuhku pun semakin kurus dan ceking, untungnya aku tidak sampai “dituduh” cacingan oleh petugas posyandu.
Entah sudah berapa dokter yang didatangi tapi sakitku belum sembuh juga. Bahkan Miss Feverhot ini pintar juga, begitu tahu hendak dibawa ke dokter dia langsung cabut. Tapi begitu pulang dari dokter dia datang lagi.
Gus Mad yang dimintai pertanggungjawaban oleh orang tuaku pun angkat tangan.
Banyak yang bilang kalau aku sebenarnya hanya kaboten jeneng. Maksudnya, tubuhku ini tidak kuat menyandang nama seagung dan semulia Muhammad Yusuf Ibrahim.
Orang tuaku benar-benar bingung, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Selain kasihan melihatku bolak-balik disuntik, keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat orang tuaku tidak lagi membawaku ke dokter.
Hingga suatu hari, tetanggaku Koh Leung, memberikan obat buatku. Jangan bayangan ramuan leluhur itu rasanya semanis madu atau Bodrexin, yang jelas lidahku sempat ”mati rasa” gara-gara obat sialan itu. Semua rasa makanan, entah itu manis, asin, asam nggak ada bedanya di mulutku.
Yang bikin sebel tuh ya Mantili. Waktu aku dicekokin obat, dia malah dengan cueknya belajar membaca, nggak peduli sama aku yang lagi berjuang mati-matian menolak jamu super pahit dari Koh Leung.
Dengan lantangnya dia berteriak:
INI BUDI! INI BAPAK BUDI! INI IBU BUDI!
SEDANG APA BUDI? Dicekokin obat, tahu!!


back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of Ihwan's writing