TAKUT - - End by usman baradja

231931
genre

tags

description:
cerpen



chapters

chapter 1: - End


- End
chapter 1   —   updated Feb 25, 2008   —   14160 characters   —   0 people liked this writing
TAKUT

Deshi sedang dalam kesendirian malam, benar-benar sendiri. Untuk kali ini dia ingin benar-benar menikmati kesendiriannya. Dia merasa sedang tidak memiliki rencana apapun dengan pekerjaannya, juga dengan komunitasnya. Juga tidak merasa perlu menghadiri event apapun. Bahkan tidak sedang berminat untuk sekedar berkumpul dan bersenang-senang. Deshi mencoba memahami dan menyelami suatu perasaan yang menggelisahkan. Tiba-tiba dia ingat beberapa temannya yang pernah mengajaknya untuk sesekali jalan bareng. Pada bayangan wajah teman-temannya itu dia tersenyum hangat. Kemudia dia mengambil kertas dan pulpen, memulai coretan-coretan. Dia putuskan untuk menulis sesuatu. Dan menunda ritual berjalan-jalan ajakan beberapa temannya. Tangan Deshi tak menentu menuliskan kata dan istilah. Mungkin sesuatu yang menurutnya berhubungan dengan hari kemarin dan besok. Dia berpikir tentang hubungan-hubungan kata kalimat yang mewakili kenyataan menurut yang ia pahami. Kemudian ia hanyut dalam lamunannya dan pekerjaan corat-coretnya. Entah untuk berapa lama, mungkin sampai tertidur tanpa ia sadari. Secangkir kopi yang ia buat tadi belum juga habis. Hanya sangat sedikit untuk banyak tiap teguknya, tersisa setengah. Dan tanpa disadari puntung rokok memenuhi asbak.

Camila memprotes Deshi yang masih tidur. Rifat mengingatkan Deshi tentang kuliahnya yang terlewat, Deshi tidak peduli. Camila, Rifat, dan Deshi saling mengenal melalui klab baca di kampus, merupakan organisasi tak resmi. Rifat sendiri bukan mahasiswa, ia berwiraswasta dengan memproduksi fashion, majalah, dan segala macam yang berhubungan dengan gaya. Tubuhnya jangkung dan cenderung pendiam. Menurutnya gaya adalah sesuatu permainan tentang kemasan. Dan hasilnya adalah sebuah eksekusi yang dapat dilihat, didengar, atau pun dirasa, suatu detail tak berlebihan tak wajib yang sifatnya tambahan. Rifat bergabung dengan klab baca karena membutuhkan diskusi tentang uraian-uraian segala masalah termasuk keseharian. Baginya membaca buku atau melihat film yang bagus bisa memberikan pengalaman hebat yang uraiannya tak mungkin lengkap dikatakan. Berbeda dengan perasaan ekstase sesaat dalam berbagai bentuk visual atau juga kebanyakan lagu. Dia setuju dengan Camila yang menganggap semua hal-hal yang memang menarik dalam ‘pasar’ sebagai morphine, sesuatu yang semu, buih yang tak memberikan apapun. Siang itu Rifat dan Camila sama-sama memakai t-shirt bertuliskan: “did our doctor like hamburger?”, dan Deshi terlihat tidak suka dengan kedatangan dua temannya. Deshi merasa bingung dan perlu memikirkan sesuatu. Dia menanyakan teman-teman yang lain di klab baca. Kemudian bercerita telah begadang, dia bilang tidak bisa tidur. Camila bertanya apakah Deshi mulai insomnia, dan Rifat berkomentar tentang kamarnya yang berantakan. Deshi tersenyum, dan menanyakan tentang apa yang sebaiknya dilakukan, sekaligus memberi tahu bahwa ia lapar. Seketika Rifat mengajak keluar untuk makan. Deshi langsung menolak, dia merasa masih ingin tidur, atau segera mandi, atau mungkin melamun. Dia bilang akan segera menyusul ke kampus. Tiba-tiba dia berpikir soal sikap yang tinggi hati dan tidak berhati-hati. Camila dan Rifat pergi dari rumah tinggal Deshi dan bilang akan menunggu. Deshi tersenyum, dan dia mengatakan tak lebih dari satu jam dia akan sampai di kampus. Setelah Camila dan Rifat pergi, Deshi masih bingung ingin melakukan apa. Tiba-tiba terasa sedikit ingin menangis.

Seorang anggota baru di klab baca memperlihatkan ketertarikannya yang besar. Walau tercatat cukup banyak jumlah anggota klab baca, klab baca tidak selalu ramai. Hanya satu atau dua hari dalam seminggu klab baca ini ramai, saat jadwal diskusi, bedah buku, atau nonton film. Pengurus harian klab baca hanya sekitar belasan orang. Dan menjadi terus berkurang akhir-akhir ini. Beberapa anggota memang merasakannya sebagai suatu masalah, dan menjadikan permasalahan diskusi. Tapi kekhawatiran kadang tidak disertai masalah yang jelas. Dan masalah-masalah kadang timbul tanpa kesalahan-kesalahan yang jelas. Dunia mungkin hanyalah asumsi-asumsi yang alami berjalan secara acak, dalam kuasa alam. Camila sedang merapikan rak buku ketika Deshi datang. Dia berkata akan segera pulang, hari ini tak ada kegiatan jelas dan jadwal, kemungkinan akan dibicarakan besok. Deshi hanya merokok, dan coba menawarkan rokok yang dibawanya. Rama, si anggota baru menerimanya, Camila tak peduli tetap meneruskan pekerjaannya. Tiba-tiba terdengar sapaan Rifat, dia sedang membaca di teras belakang. Camila mengajak Deshi pulang, kesibukannya di rak buku sudah selesai. Rifat kemudian beranjak, dia memang berencana menemani Camila pulang. Deshi bilang tidak ikut, dia ingin tinggal untuk sekedar duduk-duduk. Rifat meragukan itu, tapi membiarkannya, kemudian mengajak Rama pulang. Rama terlihat sungkan, dia mengatakan mungkin akan duduk-duduk dulu lebih lama. Rifat dan Camila tidak keberatan, mereka segera pulang. Dan sebenarnya Rama juga berpikir untuk pulang, tapi ia tidak terlalu yakin. Deshi terlihat melamun, dan Rama pun melamun. Tanpa percakapan, cukup lama. Deshi kembali merokok, tanpa menoleh dia menanyakan nama sambil menyodorkan rokoknya. Rama tertidur, sapa Deshi cukup mengagetkannya. Dia mengambil sebatang rokok, saat papasan wajah, Rama kemudian tersenyum. Tanpa kesan serius, dan datar, Deshi bertanya: mungkinkah seseorang menolak kenyamanan? Rama kemudian coba memikirkan jawabannya. Rama menghisap rokoknya, dia memang suka percakapan seperti ini. Dia menyatakan ketidakyakinannya, dia berkata aku seorang yang akan terus mencoba taat asas. Deshi terlihat tidak peduli pada pendapat itu, kemudian memutuskan untuk hanyut dalam lamunannya. Rama tidak mengantuk lagi, juga tidak berpikir untuk segera pergi, dia merasakann kehadirannya diakui. Kemudian ia sampaikan bahwa ia telah cukup lama memperhatikan Deshi. Dia berpikir Deshi cukup terpelajar, dan juga cukup berani. Deshi menatap Rama dengan tanya, kemudian kembali tak peduli. Deshi tahu Rama menunggu pendapatnya, lalu dia mengatakan komunitas terpelajar adalah suatu sekte, sama halnya dengan common people yang mengelompokkan diri dalam bentuk-bentuk khusus. Rama bingung, kemudian ia berkata: “aku tidak suka sekelompok pemalas, sekte cengeng”. Deshi tersenyum, ia bilang kemungkinan dirinya memang seorang pemalas. Rama membuang muka lalu mencoba ikut tersenyum. Deshi bangkit dan mengatakan ingin pergi sekarang. Rama kemudian memutuskan juga untuk pergi. Kemudian Deshi menanyakan nama, Rama menjawab Rama.

Deshi mengajukan buletin resmi dan priodik keluaran komunitasnya, klab baca. Buletin itu bernama “Metanarasi”. Dia cukup puas dengan usahanya tersebut. Komunitasnya sedikit lebih berkegiatan. Beberapa kali buletin tersebut berhasil menjadi issue. Buletin tersebut berisi essay, berita, cerpen, resensi buku, artikel, dan tulisan apapun yang dianggap berisi. Rama anggota baru cukup menjadi perhatian. Cerpennya, berjudul “mati, membusuk, dan di umpat”, mendapatkan porsi diskusi khusus di klab baca. Dia bercerita soal tukang parkir yang berhasil menipu seorang selebritis. Dalam ceritanya, tukang parkir mencita-citakan perubahan keadaan total antara para kaya terhormat dan para miskin yang putus asa. Diskusi cerpennya cukup seru, Rama dianggap berhasil menyusun imajinasinya. Rama menghargainya, dan bersemangat pada seluruh temannya di klab baca. Dia bahkan mengajak menyusun imajinasi dan coba mewujudkannya. Rifat datang membawa sekotak kue pancong panas. Ketika itu diskusi berhenti, menjadi makan, bercakap-cakap, dan Rifat melihat papan tulis coba memahami. Lalu tiba-tiba ia meminta perhatian, dia berkata ingin menyampaikan sebuah pandangan tentang fenomena. Dan dia bilang ini sangat cocok untuk dijadikan kasus. Dia bilang ini teka-teki, seperti permainan, dan jawabannya bisa saja menarik. Rifat seperti menyambut ajakan Rama, dia bilang semua bisa belajar bersama. Lalu seseorang berkata: “ya, coba diskusikan saja dulu”. Semua seperti tampak setuju untuk coba membicarakannya. Diskusi dimulai, ada perubahan suasana. Meski terkesan tertarik pada diskusi, sepertinya banyak yang tidak terlalu meyakini rencana ini, termasuk Deshi. Rama tidak menyangka, dan sedikit heran. Ia teringat bagaimana Deshi menghadapi ancaman preman-preman nihilis dalam adu cepat menghabiskan satu botol Vodka dalam sekali nafas. Juga tentang Deshi yang berjuang sebagai saksi dan memberikan advokasi pada pedagang asongan yang diserempet mobil, atau juga tentang membantu seorang ibu dalam melahirkan mendadak. Tidak banyak persiapan untuk diskusi kali ini, beberapa celah belum terpikirkan. Lebih jauh lagi, semangat rendah untuk membicarakan dan memecahkan masalah yang dibawa.

Deshi menyapa Rama melalui instant messaging. Rama terkejut, Deshi memang memakai invisible. Ini kali pertama mereka bertemu dalam chatting, Rama merasa senang dengan kenyataan ini. Rama memberi tahu ada Camila, suatu kebetulan bertemu Camila di warnet. Dan Deshi memang sudah tahu, Camila yang memberi tahu. Rama ingin sekedar berbincang atau membahas sesuatu. Dia tiba-tiba bertanya alamat rumahnya, terdengar sinis Deshi menjawab: “maksud kamu rumah orang tua saya?”. Rama memberi tanda smile, kemudian meminta Deshi menceritakan sesuatu. Deshi berkata masa kecilnya normal, dan ia tak mau bercerita. Rama kehabisan kata. Chatting berhenti. Dan itu membuat Deshi gelisah, dia memang sedang gelisah, dan tak terpikirkan untuk apapun. Cukup lama, sampai Deshi menulis: “nama dan nama dengan itu kau membayangkan berlebihan”. Rama berpikir Deshi membicarakan soal banyaknya teori yang kadang tidak berguna, dan terlihat Deshi sedang mengetik. “kadang aku membuat tenang diriku dengan sengaja memandang dari kejauhan, data dan konsep, atau pun susunan yang sempurna”. Rama berpikir itu sebagai kalimat yang bagus, dan akan mencoba memahaminya, Deshi kembali sedang mengetik. “siapa yang menolak kesenangan hidup.. apa salahnya?”. Rama terkejut, dan bertanya kenapa. Rama merasa tak memahami percakapan ini. Tapi ia sangat tertarik, dan berpikir bagaimana cara menaggapinya. Dan kembali Deshi terlihat mengetik. “Pidato yang hebat, tulisan-tulisan yang menghanyutkan, aksi yang menawan, ide-ide cemerlang... itu hanya paruh waktu. Tak ada yang sempurna, penghormatan berlebihan tentu menyakitkan, menakutkan”. Rama masih belum mengerti, dan mengetik: “...”. Tiba-tiba Deshi menanyakan siapa tokoh yang Rama kagumi. Rama memikirkan beberapa tokoh, dia menjawab: “banyak”. Dan sebenarnya Deshi pun memang tak mengidolakan satu tokoh, banyak tokoh memberikan pelajaran yang sama baiknya, saling mengisi. Kemudian ia menulis: “Sehebat apapun, dalam menjalani waktu kita pasti nyaris sama. Sejauh ini aku bertahan hidup seperti halnya kau mempertahankan hidup. Mungkin semua manusia memang punya sisi kecengengan”. Rama tak mengerti, ia berpikir sedang mendengarkan sebuah pengakuan yang aneh. Dan ia sampaikan ketidakmengertianya, kebingungannya, dan arah pembicaraan mana sebenarnya. Deshi menjawab: “termasuk tokoh-tokoh hebat, tak ada yang benar-benar berwibawa sepanjang hidupnya, aku berani mengakui itu, dan aku merasa lebih tenang”. Rama setuju Deshi memang seorang yang cukup berani, percakapan menjadi lebih ringan dan mengalir. Kemudian Rama mengetik: “kalau begitu cukup jalani saja, semoga kita jeli, dan coba mendekati kebenaran. Dalam setiap waktu yang kita jalani”. Deshi memberi perhatian pada itu, perasaannya terasa berubah. Camila tampak masih sibuk dengan pekerjaannya. Rama berpikir untuk pergi dari warnet sekarang, jatah online dirasa sudah cukup. Diakhir chatting Rama menulis: “aku off sekarang, terima kasih, aku belajar soal berani, bye”. Rama memutuskan untuk tidak pamit pada Camila, dia langsung pergi.

Ada yang bilang, hidup adalah papan judi. Dan kita adalah pemainnya, pionnya, sekaligus taruhannya. Dalam jalan waktu dunia, ada kesan akselerasi. Memilih dan memutuskan, atau mengambil resiko. Akan selalu seperti itu, dan takkan pernah selesai. Ketika resiko itu kita tanggung, semua tetap berjalan, sama halnya ketika misalnya taruhan itu dimenangkan. Menang kalah adalah sebuah pergantian. Mungkin juga yang sebenarnya ada hanyalah kita dan pikiran kita: tak ada taruhan, tak ada resiko, tak ada menang-kalah. Kita terdesak dalam sebuah permainan, sama halnya dengan membuatnya menjadi permainan. Dan untuk semua nama dan konsep yang berbeda, kita hanya sedang membicarakan sesuatu yang sama.

Deshi sedang merasa dalam kesendirian malam, benar-benar sendiri. Kembali dia ingin benar-benar menikmati kesendiriannya. Ia ingin menikmati waktunya. Ia membatalkan rencana untuk upload di My Space-nya. Tiba-tiba terlintas rencana berhenti My Space. Dia tidak sedang mengenang apapun, dia sedang tidak merencanakan apapun. Seperti merasa takut, dia sudah tidak ingat kapan terakhir kali merasa takut. Dia bahkan tidak berpikir atau pun menulis. Hanya melamun, seperti proses kecil dalam jalannya waktu. Dia sudah tidak membanggai keberanian-keberaniannya yang lalu. Dan kembali mengingat kejadian-kejadian yang terlewat karena keberaniannya tidak mau muncul. Baru kali ini perasaannya terusik. Keberanian yang radikal pernah dilaluinya, namun untuk banyak waktu semua ia lalui dengan kemalasannya. Dan ia menyadari, malas adalah perasaan takut yang harian. Untuk hal ini Deshi merasa mengalami suatu pencapaian. Dan untuk itu, ia telah habiskan banyak rokok. Juga hampir secangkir kopi. Tiba-tiba ia merasa tinggi hati. Deshi merasa telah lebih memahami hidup. Walau entah apa sebenarnya yang sedang dimaksud. Mungkin soal suatu perubahan yang mungkin. Lamunan seperti membuatnya melayang. Kemudian telepon berbunyi, membuatnya terjaga. Keindahan atau pun bentuk-bentuk pikiran buyar menjadi pecahan-pecahan. Tiba-tiba, Deshi sedikit terlihat seperti malas untuk telepon, lebih dari itu, juga untuk peneleponnya, dan untuk kesehariannya. Dia merasa terganggu. Dan mungkin itu masalah serius satu-satunya. Dan gangguan memang selalu jadi masalah. Atau mungkin masalah adalah sesuatu yang akhirnya menganggu. Deshi menghabiskan kopinya, dan beranjak mengangkat telepon.
back to top

Did you like this?   vote  

all writing
all of usman's writing