Bibir
by Gratcia
genre:
Drama
description:
Short story alias cerpen. Hanya dari pikiran saya, karena membaca sebuah opini di koran, dan membayangkan kemungkinan2 mengapa dua manusia bisa memutuskan untuk berpisah hanya karena alasan2 yang kecil, namun seringkali ketika ego masih sangat keras berbicara, maka yg kecil itu menjadi lebih besar daripada seharusnya. Periode penulisan 2003.
chapters
chapter 1:
Apa yang sudah terjadi? Tanya Bibir itu.
chapter 2:
Maka Ciumannya pun membentur gunung batu.
chapter 3:
Jawaaaab!!!
chapter 4:
Bibirmu, kata lelaki itu.
Apa yang sudah terjadi? Tanya Bibir itu.
chapter 1
—
updated 03/16/08
—
2392 characters
—
6 people liked it
—
2 reviews
‘Sepertinya kita pernah bersebelahan jiwa,’ kata perempuan itu kepada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya, hanya sepotong kayu imitasi yang dinamakan coffee table dan dua mug gemuk kopi hangat masih berasap menjembatani ruang antara mereka berdua dari kursinya masing-masing. ‘Atau setidaknya kita pernah yakin tentang hal itu…’
Laki-laki itu mengangkat pandangannya yang sedari tadi dibiarkannya merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug dihadapannya dan memberanikan diri menatap perempuan itu. Ia menemukan dirinya merasa sangat asing.
Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab, ‘Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. Mungkin otakku memang bebal. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku, namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu...’
Dan bibir itu sangat manis bentuknya, namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin. Ah…, laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. Ia merasa seperti orang mabuk, namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana.
Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi, siang dan malam, dan pagi lagi, tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya. Cara bibir itu bergerak saat bicara, sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya, merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama.
Namun mengapa semua itu, saat ini, rasa-rasanya, seakan-akan, tidak pernah benar-benar terjadi. Hal itu tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli, untung dan rugi.
‘Apa yang sudah terjadi?’ Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat, bebas komedo, bebas kerut-merut dan halus rupawan itu. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menelengkan kepala dengan cara yang sangat khas, seakan mencoba menebak sesuatu. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka.
--next--http://www.goodreads.com/story...
back to top
Laki-laki itu mengangkat pandangannya yang sedari tadi dibiarkannya merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug dihadapannya dan memberanikan diri menatap perempuan itu. Ia menemukan dirinya merasa sangat asing.
Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab, ‘Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. Mungkin otakku memang bebal. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku, namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu...’
Dan bibir itu sangat manis bentuknya, namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin. Ah…, laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. Ia merasa seperti orang mabuk, namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana.
Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi, siang dan malam, dan pagi lagi, tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya. Cara bibir itu bergerak saat bicara, sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya, merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama.
Namun mengapa semua itu, saat ini, rasa-rasanya, seakan-akan, tidak pernah benar-benar terjadi. Hal itu tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli, untung dan rugi.
‘Apa yang sudah terjadi?’ Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat, bebas komedo, bebas kerut-merut dan halus rupawan itu. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menelengkan kepala dengan cara yang sangat khas, seakan mencoba menebak sesuatu. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka.
--next--http://www.goodreads.com/story...
Did you like this?
vote
(6 people liked it)



