Harun Harahap's Reviews > Kekasihku

Kekasihku by Joko Pinurbo
Rate this book
Clear rating

by
2109023
's review
Apr 04, 10

bookshelves: pinjam, indonesian, puisi
Recommended to Harun Harahap by: Roos
Read on April 04, 2010

Buku kumpulan puisi ini saya baca di saat kantuk tadi malam. Mulai tadi pagi saya ulangi kembali dan saya baca perlahan-lahan. Saya sulit untuk mereview buku puisi. Dikarenakan saya tidak pandai menelaah dan menilai sebuah puisi. Walau bagaimanapun, saya mencoba menuliskan perasaan saya saat membaca puisi demi puisi dalam buku ini.

"Pacar Senja" adalah puisi pertama yang disajikan dan saya merasa seperti membaca kisah seseorang yangs edang jatuh cinta dan tak bisa berhenti memikirkan seseorang yang dicintainya.

Dan saya berteriak BENAAARRR ketika bait terakhir puisi "Teman Lama" bertuliskan :
"...
Jangan-jangan tampang waktu memangbisa tampak
berbeda-beda, tergantung siapa yang melihatnya,
tergantung siapa yang dilihatnya."


Lalu perasaan sedih menghinggapi saya saat membaca puisi-puisi seperti "Sedekah", "Baju Bulan","Kekasihku" dan "Ibuku".

Lalu saya memilih puisi yang paling says suka, tadinya sih kalau hanya melihat judulnya saya akan memilih "Februari yang Ungu", tapi kalimatnya:" ... Ah, bukan terlambat datang. Ah, bulan terlambat datang. Oh, datang bulan terlambat..." membuat saya mengurungkan niat saya dan memilih puisi berikut sebagai yang paling saya suka:

Dengan Kata Lain

Tiba di stasiun kereta, aku langsung cari ojek.
Entah nasib baik, entah nasib buruk, aku mendapat
tukang ojek yang, astaga, adalah guru sejarah-ku dulu.

"Wah, juragan dari Jakarta pulang kampung,"
beliau menyapa. Aku jadi malu dan salah tingkah.
"Bapak tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?"

Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru
sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah.
Ah, aku ingin kasih bayaran yang mengejutkan.
Dasar sial. Belum sempat kubuka dompet, beliau
sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja.

Di teras rumah Ayah sedang tekun membaca koran.
Koran tampak capek dibaca Ayah sampai huruf-hurufnya
berguguran ke lantai, berhamburan ke halaman.

Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba
bangkit berdiri dan berseru padaku: "Dengan kata lain,
kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu."
2 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Kekasihku.
sign in »

Comments (showing 1-12 of 12) (12 new)

dateDown_arrow    newest »

e.c.h.a Mau dong "Pacar Senja"nya di sharing hahahaha


btw lo cepet amat sih bacanya ckckckck


Harun Harahap buat echa apa sih yang enggak?hehehe..

Pacar Senja

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
"Nanti saja kalau sudah gelap. malu dilihat lanskap."

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja yang masih
megap-megap oleh ciuman senja.

"Mengapa kautinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu?Betapa lekas cium
menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari."

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap. Pacar senja
berangsur lebur, luluh, menggelegak dalam gemuruh ombak.


message 3: by Pandasurya (new)

Pandasurya buku ini klo gak salah masuk juga di buku kumpulan Jokpin yg ini bukan ya?

http://www.goodreads.com/book/show/13...

*mencoba mengingat2*


Harun Harahap silahkan mengingat dengan keras bung Panda, karena saya tidak bisa memberikan jawabannya. :p


message 5: by Pandasurya (new)

Pandasurya klo ga salah lagi, denger2 buku yg "Celana Pacar Kecilku Di Bawah Kibaran Sarung" itu pernah jadi buku baca Puisi Bareng ya?
waktu itu soalnya gw belom gabung GRI


Roos Belum Pan...yang dibaca bareng adalah Buku 'Kekasihku' ini.


Endah Pandasurya wrote: "klo ga salah lagi, denger2 buku yg "Celana Pacar Kecilku Di Bawah Kibaran Sarung" itu pernah jadi buku baca Puisi Bareng ya?
waktu itu soalnya gw belom gabung GRI"


itu tiga buku dijadikan satu. Ada lagi karya Jokpin lainnya: Telepon Genggam dan Pacarsenja


message 8: by Pandasurya (new)

Pandasurya Endah wrote: "Pandasurya wrote: "klo ga salah lagi, denger2 buku yg "Celana Pacar Kecilku Di Bawah Kibaran Sarung" itu pernah jadi buku baca Puisi Bareng ya?
waktu itu soalnya gw belom gabung GRI"

itu tiga buk..."


Roos wrote: "Belum Pan...yang dibaca bareng adalah Buku 'Kekasihku' ini."

oh okelah klo begituh..terima kasih infonya teman2..
jadi pengen baca juga buku Jokpin lainnya euy


Wirotomo Nofamilyname Pak Panda,

Buku yg kamu maksud itu hanya mencakup 3 kumpulan puisi Jokpin yang paling awal (penerbit IndonesiaTera) yaitu: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001) dan Pacarkecilku (2002).

Saat ini buku2nya Jokpin diterbitkan oleh KKG, makanya KKG menerbitkan kumpulan puisi yg dulu tidak diterbitkan oleh mereka.

Kumpulan puisi lainnya adalah:
- Telepon Genggam (2003) - Kompas
- Kekasihku (2004) - KPG
- Kepada Cium (2007) - GPU

Terus ada 2 lagi yang kompilasi/greatest hits:
- Pacar Senja (2005) - Grasindo ..... 100 puisi pilihan
- Celana Pacar Kecilku Di Bawah Kibaran Sarung (2007) - GPU ..... 3 kumpulan puisi awal digabung

Dan ada satu lagi yang dalam bhs Inggris:
Trouser Doll (2002) - Lontar ..... terjemahan dari "Celana"

FYI. :-)


Wirotomo Nofamilyname Oh iya aku suka 2 puisinya Jokpin yang ini, kalau nggak salah di "Telepon Genggam" atau di "Kekasihku" ya?


Cita-cita

Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:
ingin bisa sampai di rumah saat masih senja supaya saya
dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,
uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah
menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.

Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar
membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar
yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra,
“Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu.
Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

(2003)



Doa Mempelai

Malam ini aku akan berangkat mengarungimu.
Perjalanan mungkin akan panjang berliku
dan nasib baik tidak selalu menghampiriku
tapi insyaallah suatu saat
bisa kutemukan sebuah kiblat
di ufuk barat tubuhmu.

(2002; kado buat Ade & Fajar)


belajarjadimanusia sebaris kalimat yang dicetak tebal dalam review di atas juga salah satu favorit saya. menohok dan benar sekali adanya. makasih harun udah mengingatkan saya. :)


Harun Harahap Sama-sama, mas..

Salam Kenal


back to top