Ririn Miu's Reviews > The Bookaholic Club

The Bookaholic Club by Poppy D. Chusfani
Rate this book
Clear rating

by
147898
's review
Feb 11, 10

bookshelves: fantasy, fiction, indonesian, young-adult

Phew akhirnya ada sedikit waktu juga untuk menulis review ini (well, ga juga - tp disempet2in aja sih -__-)
Hal pertama yang membuat saya tertarik membeli buku ini adalah judulnya, The Bookaholic Club. Kedua, karena bukunya tipis jadi akan cepat selesai membacanya, ketiga teenlit ceritanya biasanya begitu2 saja jadi ga usah mikir - bukan berarti saya tidak suka teenlit lho, cerita simple itu boleh2 saja asal penyajiannya menarik.

Buku ini menceritakan tentang 4 orang cewek remaja, Des si penyihir, Tori yang kuper, Chira yang bisa melihat hantu, dan Erin yang narsis - eh maksud saya, Erin yang populer.
Des yang penyihir tidak pernah benar2 mempunyai teman karena orang tuanya melarang dia untuk terlalu dekat dengan orang lain. Mereka khawatir Des akan membocorkan rahasianya dan seperti halnya penyihir2 jaman dahulu, berakhir mengenaskan. Oleh karenanya, Des melarikan diri dengan cara berteman dengan buku.
Tori yang kuper mempunyai ibu yang sangat ingin dia untuk bergaul dengan kalangan atas. Tori yang rendah diri tentu saja kesal dengan sikap ibunya itu dan lebih suka menenggelamkan dirinya dalam buku.
Chira adalah gadis yang memiliki bakat 'nyeremi' karena dia bisa melihat makhluk halus dan hal2 kasat mata lainnya, misalnya aura. Teman2nya menjauhinya dan hanya buku yang setia menemaninya.
Erin adalah gadis cantik nan populer yang sangat sadar diri dengan kecantikannya dan kepopulerannya, kalau tidak percaya coba baca saja bab perkenalan tentang dirinya yang diungkapkan dari point of view orang pertama:
'apa yang salah denganku? tak ada. rambutku panjang, lembut, dan berombak, hidungku mancung, kulitku mulus, tubuhku tinggi dan langsing, mataku besar bersinar, bibirku indah, gigiku sempurna. itulah masalahnya. aku, sang putri Erin.'
dsb dst yang menunjukkan bahwa gadis ini narsis luar biasa (nothing's wrong with that tentunya.. masalahnya adalah ketidakkonsistenan kenarsisan itu sepanjang buku... apa coba?)

Anyway, setelah melalui perkenalan tokoh2 yang sangat panjang dan penuh dengan deskripsi yang membuat saya kesal, akhirnya keempat tokoh utama ini bertemu dan membuat janji untuk pergi ke sebuah toko buku antik. Di sana mereka bertemu dengan Kakek Lim si pemilik toko buku. Si kakek ini memberikan sebuah buku untuk Des. Buku tersebut ditulis dengan rune dan konon merupakan peninggalan dari nenek moyang Des yang melakukan perjanjian dengan setan, bla bla bla...
Intinya, Des dan teman2nya harus menghentikan 'Bayangan' (yang ternyata adalah tokoh antagonis di buku ini - ternyata ada plotnya juga ni novel ya...) untuk membawa Des ke kegelapan sebagai tumbal (?)
Untung saja Tori bisa mengartikan rune itu (?!) dan mengetahui bahwa mereka berempat masing2 dibutuhkan untuk menghentikan Bayangan menguasai dunia (?!)

Perkenalan tokoh2 yang sangat panjang tidak diimbangi dengan begitu cepatnya plot bergerak setelah mereka bertemu. Gampang banget mereka kemudian diberi sebuah masalah dan kemudian sekonyong-konyong harus menyelesaikannya. Intinya, buku ini terlalu singkat sehingga plot terlihat dipaksakan (walaupun kalau lebih tebal mungkin saya tidak kuat lagi bacanya, ampun!) - adegan2 aneh dan point of view yang lebay juga membuat terlalu seringnya saya geleng2 kepala karena pusing dan sebal. Tiga dari empat tokoh utama di sini menyukai buku sebagai escape - gak ada yang salah dengan itu tentu saja, tapi tentu saja agak sedikit mengganjal di hati saya. Tapi toh pelarian tidak selalu buruk. Respek saya buat Erin yang super narsis itu ternyata justru satu2nya tokoh dalam buku ini yang menyukai buku karena, yah, menyukainya. Ia dengan jelas mengatakan membaca buku adalah hobinya.

Saya cukup suka dengan originalitas penulis tentang konsep penyihir di dunia buku ini. Di mana hanya wanitalah yang memiliki kekuatan sihir, contohnya Merlin yang hanya tukang obat semata sedangkan penyihir sebenarnya adalah Guinevere.
Tokoh Tori seolah hanya tempelan saja, di mana gadis2 lain memiliki kelebihan (baik fisik, kekayaan, kecerdasan, maupun bakat melihat hantu, kekuatan super) Tori malah diberikan kelemahan sebagai gadis kuper yang gagap dan pemalu. Ia lalu 'diberi' kemampuan untuk membaca rune (tapi kesannya seolah supaya dia ada gunanya saja).

Sebenarnya begitu banyak adegan2 ganjil dan dialog2 konyol yang ingin saya ungkapkan di sini, tapi malas ngetiknya. Tapi saya akan tinggalkan anda pembaca dengan sebuah scene pada bab 40 dari point of view Erin.
'Bellin membuka satu pintu dan menarikku ke dalam. kukira aku bakal melihat kamar tidurnya, tapi ternyata ruangan besar itu kosong melompong. aku merasa terhina. setidaknya jika ingin berbuat tidak senonoh, sediakan dong tempat tidur!'
(if you laugh, I hope you're laughing for a different reason)

the end.
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Bookaholic Club.
sign in »

No comments have been added yet.