e.c.h.a's Reviews > Canting

Canting by Arswendo Atmowiloto
Rate this book
Clear rating

by
1960904
's review
Feb 17, 10

it was ok
bookshelves: fiksi, indonesian, koleksi-teman, sejarah-budaya
Recommended to e.c.h.a by: Roos
Read from February 01 to 18, 2010

Canting, simbol budaya yang kalah, tersisih dan melelahkan.

Kisah kehidupan satu keluarga dan usaha Batik Tradisionalnya di masa sebelum dan sesudah Kemerdekaan. Bagaimana seorang Pak Bei menjalani kehidupannya di masa muda, saat menjadi suami, saat menjadi Bapak serta saat menjadi seorang Kakek.

Kisah yang dituturkan dari sudut pandang seorang Priyayi yang merasa tidak Jawa bernama Pak Bei. Dari mata dan sikapnya, kita melihat bagaimana seorang Ibu Bei yang bukan Priyayi tetapi menunjukan kalau Ibu Bei mempunyai kuasa penuh terhadap Pak Bei.

Sang Penulis secara perlahan memunculkan konflik dan rahasia yang terjadi dalam Keluarga Sestrokesuman melalui cara yang berbeda, tidak langsung melainkan tersirat melalui tokoh bernama Ni.

Ni, anak bungsu Pak Bei yang notabene merupakan cerminan dari Pak Bei dan Ibu Bei sendiri. Dan dengan keyakinannya meneruskan usaha Batik keluarganya.

Ternyata Pak Bei tidak seperti dugaan saya saat saya mengenalnya di awal cerita. Perlahan kekaguman saya terhadap Pak Bei mulai tumbuh, apalagi saat Pak Bei menyadari kalau Ia hanyalah manusia biasa seperti lainnya.

Saya ini ndak ada fungsinya. Saya ini seperti Canting, seperti cecek dalam batikan. Ada dan dihargai karena dianggap semestinya dihargai. Tapi tetap tak ada artinya kalau tak ada yang menggunakan
p 378


Dan..saat baca buku ini, saya dibawa kembali ke sebuah Kota yang memang bukan kota kelahiran saya tapi membawa banyak kenangan didalamnya. Saya selalu merasa bahagia saat berada di kota tersebut.
6 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Canting.
Sign In »

Reading Progress

01/31/2010 page 1
0.25% "Belum-belum sudah sebel sama Pak Bei, ningrat kaleeee" 7 comments
02/07/2010 page 161
39.46% "Kepasrahan -penyerahan secara ikhlas- adl sesuatu yang wajar. Bukan kalah. Bukan mengalah."
02/16/2010 page 356
87.25% "Kebahagiaan itu terasakan kala membahagiakan orang lain." 3 comments
02/17/2010 page 408
100.0% "Pak Bei itu seperti Canting."

Comments (showing 1-11 of 11) (11 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by Roos (new)

Roos Echa wrote: Saya selalu merasa bahagia saat berada di kota tersebut.

Setuju Cha, gue juga...*toss ma Echa*


indri terutama sambil makan 'intip' manis dari toko orion..


gonk bukan pahlawan berwajah tampan tengkleng pasar klewer dunk :D


e.c.h.a Toss balik Mbak Roos :)

@Indri..di Orion mah enaknya makan cendol didepannya atau malah kue khas Orion. Kalau intip enakan yang deket Laweyan

@Agung..gk doyan tengkleng hahaha Yang dinanti saat gw ke Solo adalah, Sego Pecel, Sego Tumpang dan wedang Ronde di Keprabon. Terus Selat Solo-nya Cinhwa terus sarapan kupat tahu di Masjid Agung atau nyoto di Triwindu.

Kangen Solllooooo....sudah lama nggak kesana hiks


message 5: by Jimmy (new)

Jimmy Kutipannya menarik...


e.c.h.a Kutipan itu buat gw luluh sama tokoh Pak Bei :)


nanto Gue suka dialog di nJurug antar Pak [nga:]Bei dan Pak [tu:]Menggung di awal novel ini. Pak Menggung itu pengikut gerakan Dipo Kromo Dipo yang prinsip ajarannya adalah ngoko (bahasa hari2) kepada setiap orang demi menghormati kesetaraan. Sedangkan, Pak Bei itu ikut kelompok yang melihat bahasa yang berjenjang itu bukan sebuah kendala utama. Ia lebih mengikuti ajaran Ki Ageng Selo Metaram dalam mencari titik temu perubahan dan tradisi. Makanya dia tidak sependapat kepada pengkritik "jawa" yang tidak mengerti apa itu "jawa". Kalimatnya Pak Bei begini, "mereka mengritik jawa sebelum menjadi jawa.

Tapi anehnya dalam novel itu justru Pak Menggung yang lebih bangga atas kepanggkatannya yang lebih tinggi dari Pak Bei. Jadi siapa yang lebih menggagas kesetaraan? Atau ada yang menggunakan isu kesetaraan dalam upaya meraih kepangkatan malah?


e.c.h.a @_@ bingung jawab komen mas Nanto. Silakan saya lempar ke forum :)


nanto sebenarnya sih cuma mau komen, priyayi jaman pasca-kemerdekaan banyak yang gagap posisi. Dari sebelumnya mereka menikmati previlej yang begitu kuat karena istana memiliki kapital yang cukup untuk menyokong keberadaan mereka. menjadi pusat dalam dinamika ipoleksosbud katakanlah. namun dengan kapital yang sama, di solo malah berkembang ide yang berlawanan dari ide tradisional yang diusung istana. katakanlah, tubrukan (bifurcation) antara modernisasi dan tradisional

dalam konteks demikian muncul tipe pak bei dan pak menggung. mereka kurang lebih sama-sama bertanya, "arep opo aku ing jaman sing wis brubah iki?"


e.c.h.a berarti "Krisis Identitas" lagi dong, hal yang kalau gw perhatiin selalu muncul dalam buku-buku yang berlatar belakang masa Kemerdekaan.

Sebenernya sekarang juga masih banyak sih yang krisis identitas hehehe


message 11: by Jimmy (new)

Jimmy Kalimatnya Pak Bei begini, "mereka mengritik jawa sebelum menjadi jawa.

Mungkin dalam bahasa gaulnya, Pak Bei mau mengatakan, "Jangan sotoy dong!" :D

Atau ada yang menggunakan isu kesetaraan dalam upaya meraih kepangkatan malah?

Sepertinya isu kesetaraan digunakan sebagai alat untuk bermuka dua, demi mengamankan jabatan.


back to top