Alisyah Samosir's Reviews > Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando

Sintong Panjaitan by Hendro Subroto
Rate this book
Clear rating

by
3061735
's review
Feb 18, 10

Read from February 14 to 18, 2010 — I own a copy

Sukses dalam tugas pertamanya, Sintong langsung mendapat serentetan tugas yang sama sekali belum pernah dijalaninya. Berbekal keberanian dan tekad yang memang bercita-cita menjadi tentara, Sintong berhasil menyelesaikan semua tugas yang dibebankan kepadanya.

Debut terbaik Sintong yaitu pembebasan pesawat "WOYLA" milik Garuda yang dibawa pembajak ke Bangkok. Sintong terlebih dahulu mendalami struktur tubuh pesawat, dan kemudian merancang metode pelumpuhan pembajak. Bersama anak buahnya, Sintong melakukan latihan di Jakarta, beberapa jam sebelum diberangkatkan ke Bangkok. Dalam waktu 3 menit, Sintong dan anak buahnya berhasil mengambil alih pesawat, melumpuhkan semua pembajak tanpa ada sandera (penumpang pesawat) yang terluka. Atas keberhasilan tersebut, Indonesia mendapat perhatian dunia. Sintong dan Presiden banyak menerima ucapan selamat.

Dalam menjalankan tugasnya, Sintong juga berhasil melakukan operasi teritorial di beberapa daerah seperti Papua dan Timor-Timur. Operasi teritorial merupakan pendekatan kepada masyarakat sekitar. Bergabung dengan masyarakat, membangun jalan, perumahan masyarakat, tempat ibadah, dan keperluan umum lainnya. Dengan cara demikian, masyarakat memandang positif kedatangan TNI di daerah mereka, dan secara bersama-sama ikut serta menumpas para pengacau seperti gerakan yang menginginkan kemerdekaan Papua dan Timor-Timur.

Debut lainnya, Sintong berhasil melakukan reorganisasi pada beberapa instansi yang dipercayakan untuk dipimpin olehnya. Reorganisasi pertama Sintong adalah Kopassus, dari 640-an anggota menjadi 300 orang. Dengan jumlah lebih sedikit, kemampuan Kopassus dikenal semakin baik baik di Indonesia maupun oleh internasional. Namun setelah Kopassus dipimpin Prabowo, jumlah anggotanya kembali 640-an bahkan selanjutnya menjadi 12.000-an anggota.

Petualangan Sintong dan rombongannya dalam operasi kemanusiaan di lembah yang belum terjamah oleh manusia, menjadi pengalaman tersendiri bagi mereka. Lembah yang selanjutnya dinamai Lembah X dan Lembah Y tersebut dihuni masyarakat pedalaman yang kemudian bersahabat dengan rombongan yang dipimpin Sintong. Sesuai dengan 'selera' pendekatan ala Sintong, pemimpin tersebut dengan cepat dapat berbaur dengan penduduk Lembah X. Sintong mempelajari tata hidup mereka, bahkan mengerti bahasa yang mereka gunakan. Tidak heran kalau selanjutnya banyak masyarakat yang ingin agara Sintong tidak pergi dari daerah mereka. Hal itu terjadi di Lembah X, Papua, bahkan Timor-Timur.

Pada tanggal 12 November 1991 di Dili, Timor-Timur terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh pendukung Xanana. Demonstrasi tersebut, yang dianggap TNI tidak akan berlaku brutal, ternyata terencana. Para demonstran yang jumlahnya kurang lebih 3500 orang, bersenjatakan granat dan parang. Anggota TNI yang tidak diperkenankan menggunakan senjata (pistol), menjadi keyakinan tersendiri bagi demonstran untuk tetap maju melawan TNI. Pada saat bentrokan terjadi, terdengar tembakan pistol diantara kerumunan orang. Suara tembakan tersebut memicu anggota TNI untuk menembak para demonstran. Akhir dari insiden tersebut, beberapa demonstran meninggal dunia dan banyak yang luka-luka.

Keberhasilan Sintong dan Komandan Pangkolakops (kalau saya tidak salah ingat/tulis) dalam menjalankan operasi teritorial di Timor-Timur, tidak lagi mempunyai arti setelah peristiwa 12 November 1991 di Dili. Dunia internasional mengecam peristiwa berdarah tersebut. Bahkan Sintong yang sedang mengambil kuliah di Boston University, untuk kemudian dilanjutkan ke Harvard University, mendapat surat pemanggilan dari pengadilan HAM Inggris.

Pemanggilan tersebut berdasarkan pelaporan warga Malaysia (Ibu) dan Selandia Baru (Ayah) atas kematian anaknya di Dili. Sintong yang dianggap penjahat kemanusiaan oleh Internasional, tidak pernah dibela oleh Indonesia. Akhirnya Sintong tidak melanjutkan kuliahnya di Boston maupun Harvard, dan kembali ke Indonesia, karena pengeksekusian pengadilan Inggris tersebut tidak berlaku di Indonesia.

Terkait kontroversi dengan Prabowo Subianto semasa menjelang Pemilu 2009, dalam buku ini disebutkan bahwa Prabowo yang merupakan menantu Soeharto, melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan di kalangan TNI. Namun perbuatan Prabowo yang paling diherankan yaitu, Prabowo menuduh Jend. Moerdani akan melakukan kudeta terhadap Soeharto. Prabowo pun menyuruh anak buahnya dalam keadaan siap.

Namun selanjutnya, atasan langsung Prabowo, Luhut Pandjaitan, mengatakan Moerdani tidak akan melakukan kudeta sehingga keadaan aman dan anak buahnya dibubarkan. Sejak dari 'insiden' tuduhan tersebut, hubungan Prabowo terbilang tidak lagi dekat dengan beberapa anggota TNI, termasuk Moerdani, Sintong dan Luhut Pandjaitan. Selanjutnya Prabowo dikenal sebagai TNI yang melakukan berbagai tindakan terkait urusan politik.

Dalam buku ini terdapat banyak kesalahan pengetikan, baik salah urutan kata, penggunaan tanda baca seperti titik atau koma, maupun konsistensi penulisan. Misal: penulisan peristiwi PKI, terdapat tiga versi, yakni G-30S/PKI, G30S/PKI, dan Gerakan 30 September/PKI. Karena banyaknya kesalahan penulisan tersebut, mulai dari hal. 84 saya memegang pensil dan kemudian mencoret sekaligus membubuhkan kata yang benar.

Saya juga menambahkan penomoran, sehingga tercatat 161 kesalahan penulisan, mulai dari hal 84 sampai akhir. Tentunya jumlah tersebut akan bertambah jika diperiksa lagi dari halaman pertama. Semoga bisa menjadi masukan bagi para penulis atau penerbit, karena kesalahan tersebut sangat mengganggu pemahaman pembaca akan ilmu yang tertuang pada buku.

Kesalahan pengetikan itu juga yang membuat saya hanya memberikan dua bintang sebagai rating buku ini. Informasi yang tertuang sebenarnya sangat banyak. Recommended bagi kawula muda yang ingin menjadi TNI. Jadilah TNI yang cerdik dan berpendidikan, seperti Bapak Sintong Pandjaitan.
1 like · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Sintong Panjaitan.
sign in »

Reading Progress

02/14/2010 page 56
10.77% "Sintong menyarakan kepada presiden, B.J. Habibie. agar jabatan Panglima ABRI dipisahkan dari jabatan Menteri Hukum dan HAM."
02/14/2010 page 145
27.88% "Sintong dan anak buahnya berhasil menemukan dan mengangkat jenazah pahlawan korban pembunuhan PKI, di desa Lubang Buaya."
02/15/2010 page 302
58.08% "Sintong dan anak buahnya berhasil membebaskan pesawat "WOYLA" milik Garuda yang dibajak di Bangkok, dalam waktu 3 menit."

No comments have been added yet.