Bunga Mawar's Reviews > Bel Canto - Kidung yang Indah

Bel Canto - Kidung yang Indah by Ann Patchett
Rate this book
Clear rating

by
1007892
's review
Jan 22, 2010

really liked it
bookshelves: translated-into-indonesian, it-s-mine, fiction
Read in January, 2010

Sinopsis pada sampul belakang buku hijau berjudul asli Bel Canto ini begitu mengundang saya mengambilnya dari bak buku obralan di TM Bookstore Detos pada akhir tahun lalu. Sinopsis itu, bagian pertamanya saya ceritakan kembali seperti ini:

Pada suatu pesta makan malam para diplomat dan usahawan di sebuah negara miskin di Amerika Selatan, sekelompok tentara gerilya menyerbu. Mereka menyandera lebih dari 200 tamu karena tidak menemukan presiden negara itu - sasaran utama untuk diculik - di antara hadirin. Yang konyol, sang presiden absen karena ingin menonton telenovela di rumah.

Sampai di sini, sudah sangat komedik sekaligus satiris sekali cerita ini akan dibawa. Satu, pesta makan malam itu diadakan sebagai hadiah ulang tahun bagi seorang asing, industrialis Jepang terkemuka agar mau berinvestasi di negeri itu. Dua, bisa dong dibayangkan negara miskin Amerika Latin itu susah payah merogoh kas mereka demi mengadakan pesta kalangan tinggi dengan ratusan tamu. Tiga, aduuuh... betapa memalukannya rakyat dunia ketiga yang begitu kekurangan hiburan! Sampai2 presidennya sendiri tidak rela ketinggalan menonton episode telenovela yang tayang striping Senin sampai Jumat malam, di mana malam itu tokoh jagoannya Maria berhasil membebaskan diri dari sekapan musuhnya. Dahsyat! Mungkin kalau AC Nielsen membuat survei, rating telenovela itu bisa mencapai 8.5.

Yang berikutnya terjadi, para gerilya penyerbu memilih menahan para sandera di tempat hingga tuntutan mereka dipenuhi pemerintah. Sambil menunggu, kita lihat sinopsis bagian dua: Para sandera perempuan kemudian dibebaskan, kecuali soprano ternama Roxane Coss dari Amerika Serikat.

Roxane malam itu mendapat tawaran honor tinggi untuk menyanyi di pesta ulang tahun Katsumi Hosokawa. Berkat status selebritanya, Roxane kemudian menjadi pengikat kehidupan di rumah dinas wakil presiden Ruben Iglesias itu. Untunglah pengarang cerita ini baik hati, menciptakan komunitas sandera itu kelompok kelas atas, para diplomat dan usahawan kakap dunia yang tidak asing pada karya Puccini, Verdi, Chopin, atau Bellini. Semua orang di sana begitu memuja cewek Chicago itu. Bayangkan kalau yang manggung malam itu Rihanna atau KD. Siapa coba, bapak2 Jepang atau Rusia atau Jerman atau Spanyol atau Yunani atau Prancis separo baya yang bisa rela berhari2 mendengarkan "Ela... ela... ela... oo...ooo.." atau "Pernah ku mencintaimu... tapi tak begini..."?

(hmm. Tunggu. Kayaknya ada salah sontrek lagi ya? Maap deh... Sengaja, hehe...)

Demikianlah. Lanjutan sinopsisnya sebagai berikut: Kelompok tentara terus menuntut penyerahan presiden dan pelepasan kawan-kawan mereka yang ditahan pemerintah, namun tak kunjung dipenuhi. Walhasil, dalam masa sandera lima setengah bulan, semua sandera dan penyanderanya mengembangkan perasaan saling tergantung.

Kondisi ini tanpa disadari terbangun atas sibuknya Gen Watanabe - aslinya adalah penerjemah Hosokawa - mondar-mandir menerjemahkan di berbagai sudut rumah itu: antara sesama sandera, antara sandera dan penyandera, serta antara penyandera dengan negosiator yang dikirim pemerintah, si orang Swiss Joachim Messner. Dari bagian ini, kita akan membaca dunia yang tersembunyi di balik partitur musik di atas piano Steinway di rumah sekapan para sandera itu. Hosokawa boleh dibilang pengagum Roxane, bahkan Roxane juga yang menjadi alasan satu-satunya hadir di perjamuan malam itu. Yang tak disangka, wakil presiden perusahaan Hosokawa sendiri, Tetsuya Kato, langsung menyingkap rahasianya sebagai pianis handal demi mengiringi Roxane. Bagaimana Fyodorov, menteri canggung dari Rusia tak bisa mengelak dari keindahan pesona lagu-lagu klasik itu membuat kita menyaksikan pernyataan cintanya yang tanpa syarat, karena tak minta dibalas. Demikian pula wapres Ruben Iglesias, yang selama ini cuma ban serep di negaranya, bisa menemukan perhatian dan cintanya pada hal2 kecil di sekitarnya, yang ternyata lebih penting dan bermakna daripada jabatan wakil presiden.

Ternyata musik yang dinyanyikan diva itu tidak hanya menyentuh para pria kaya yang sering mendatangi gedung opera. Rasanya begitu bergetar saat membaca Roxane dan nyanyiannya memenuhi hati Pastor Arguedas, pria yang telah berikrar mengabdi pada Tuhan itu untuk berbuat baik. Salah satu anggota belia pasukan penyandera, Carmen, sampai rela tiap malam tidur berjaga di lantai depan pintu kamar Roxane, dan koleganya Cesar begitu penuh perasaan menyanyikan kembali lagu2 sang soprano tanpa paham artinya. Dan betapa para "jenderal" pasukan gerilya itu bisa begitu pengertian, memaklumi semua kebutuhan sang penyanyi il bel canto itu.

Ah, ya... masa penyanderaan yang diisi dengan latihan menyanyi Roxane dan Cesar, tanding catur Hosokawa dan Jenderal Alfredo, kursus privat membaca dan menulis untuk Carmen oleh Gen, serta masak makan malam bareng itu akhirnya sukses menciptakan Sindrom Stockholm. Itu lho, sebutan bagi kondisi di mana korban penculikan atau penyekapan malah menjadi simpati pada penyekapnya. Baik para sandera maupun penyanderanya, sebagian tidak ingin kemesraan itu cepat berlalu. Mengutip lagu jadulnya Search, "Kita yang terlena, sehingga musim berubah..." dari sini cerita ini berjalan makin datar, hingga tak terasa lembar buku yang kita tahan di tangan sebelah kanan mulai menipis... menipis... dan berakhirlah kidung yang indah ini.

Berakhir dengan cara yang mungkin sudah terlintas dalam benak. Berakhir sebagai jalan yang paling mungkin terjadi, kalau kita sering membaca berita penyanderaan.

Tapi tetap saja...

Sulit sekali buat saya menerima kenyataan bahwa kidung indah ini sudah tidak mengalun lagi. Sulit juga bagi saya untuk tidak beberapa jenak memikirkan betapa banyak anak2 di belahan dunia ini telah meyandang senjata bahkan membunuh. Sebagian besar karena terpaksa, demi kepentingan yang tidak mereka pahami tujuannya. Di Myanmar. Irlandia. Israel. Gaza, Somalia. Angola. El Salvador. Di mana2. Saya tak bisa menghindar dari memikirkan kenyataan bahwa setiap ada revolusi, rakyat kecil selalu menjadi korban terbesar, bukan seorang presiden gila telenovela. Sialannya, kok saya tidak bisa tidak menuding Amerika Serikat sebagai biang kerok, nih???

Satu hal lagi terus melekat: jangan pernah menunda untuk berbuat kebaikan. Seperti saya tidak menunda membuka Embi dan mengetik review ini begitu Bel Canto ini selesai saya baca.

Catatan tambahan:
1. saya memilih tidak menuliskan pasukan penyandera sebagai "teroris", istilah yang dipakai pengarang buku ini, karena ingat bagian dari novel Contact-nya Carl Sagan: "Jika kamu suka pada mereka, maka mereka adalah pejuang kemerdekaan; jika kamu tidak suka, mereka adalah teroris; dan jika kamu tidak bisa memutuskan menyukai mereka atau tidak, sebut saja mereka pasukan gerilya." Posisi saya adalah pembaca, bukan sandera, jadi mereka adalah gerilya.
2. saya jadi ingin mendengarkan Verdi lagi. Ada yang bersedia kirim albumnya? *ga modal*

15/01.2010
7 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Bel Canto - Kidung yang Indah.
Sign In »

Comments (showing 1-23 of 23) (23 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by [deleted user] (new)

Verdi yang mana? La traviata?


message 2: by miaaa (new)

miaaa hormat ketua. review yg keren.
abis aku kelar failed states aku tendang ke sana yah :D
di situ jelas banget terbukti amerika serikat ada di belakang setiap bencana kemanusiaan hehe


Bunga Mawar Ronny wrote: "Verdi yang mana? La traviata?"

Iyah, Il Travatore juga. Punya? Mau ngirimin? :p


message 4: by [deleted user] (new)

donlot sendiri deh: per babak hampir 10 MB :D
http://www.magazzini-sonori.it/esplor...


message 5: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname Bagus Bu Ketua.
Review yang bagus dan menghibur :-)

Aku nggak punya CD yang karyanya Verdi. Punyanya Phantom of the Opera (komplet). :-)


message 6: by Roos (last edited Jan 23, 2010 05:03PM) (new)

Roos Review mengagumkan...ternyata sama penyuka Maria Mercedes...hehehe. Keren euy.


message 7: by miaaa (new)

miaaa maria mercedes kan memang melegenda hehe


message 8: by Leli (new)

Leli jangan pernah menunda untuk berbuat kebaikan
jd inget seorang teman ngomong gini di depan loket pintu tol..
(knapa hrs pintu tol ya???)


Bunga Mawar Wirotomo wrote: "Bagus Bu Ketua.
Review yang bagus dan menghibur :-)

Aku nggak punya CD yang karyanya Verdi. Punyanya Phantom of the Opera (komplet). :-)"


Menghibur karena ada Rihanna-nya? :p

Mas Tomo, kapan2 pinjem Phantom-nya dong. Lebih baek lagi kalo dihibahkan juga, jadi bisa saya dengerin sambil baca ulang bukunya... *ngelunjak*




Bunga Mawar miaaa wrote: "maria mercedes kan memang melegenda hehe"

Jangan2 emang "maria mercedes" yah yang ditonton pak presiden? Kalo gw nontonnya "Rosalinda" dan "Betty La Fea", hehehe....



message 11: by miaaa (new)

miaaa kalo aku nontonnya 'alicia' ketua halah bernostalgia lagi hahaha


message 12: by Roos (new)

Roos Aku suka ama Wild Rose tuh...inget gak yah...Rosa Salvaje...hehehe.


message 13: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname @ Vera:
dipinjem boleh, tidak untuk dihibahkan. susah nyarinya lagi. :-)

lebih suka Si Cantik Clara hehe



Bunga Mawar ato Carita de Angel? :p


message 15: by Leli (new)

Leli bulgoso lebih seksi, hihi


Bunga Mawar mbak Leli... Bulgoso tuh apaan?


message 17: by Leli (new)

Leli anjingnya marimar ya?


Bunga Mawar huehehe... kaga tau... kirain judul film itali :p


message 19: by miaaa (new)

miaaa @vera, itu nicolas burdisso eh dia mah orang argentina yah hahaha


message 20: by ana (new) - rated it 4 stars

ana Ronny wrote: "donlot sendiri deh: per babak hampir 10 MB :D
http://www.magazzini-sonori.it/esplor..."


donlot dari situ gimana caranya yak?


Sylvia Jyah, review ini sdh ada 4 thn yl, dan gw br mnemukan buku ini di rak perpus kemaren :-) nice review and makes me wanna keep reading.


Bunga Mawar Selamat baca, ya ni uyuuut ;)


Calvin saya suka novel ini. teknik narasinya menarik sekali. pas awal2 susah berhenti baca, tapi akhirnya teknik ini (menggambarkan latar belakang tiap karakter sebelum interaksi) membuat plot jadi lambat dan saya cepat2 skim untuk melihat endingnya. novel ini bagus tapi saya rasa tidak realistis walau terinspirasi dari cerita nyata.


back to top