Sabiq Carebesth's Reviews > The Unbearable Lightness of Being

The Unbearable Lightness of Being by Milan Kundera
Rate this book
Clear rating

by
2893080
's review
Jan 12, 10

Read in January, 2010

** spoiler alert ** Tomas, seorang dokter ahli bedah yang apolitik, terjerembab cinta yang menggelora dinatara Tereza, gadis lugu yang baru di jumpai di stasiun dan Sabina, kekasih lamanya. Kisah ini di jalin di tengah kancah peristiwa "musim semi Prague" (1968,) tatkala tank-tank lapis baja tentara Rusia bergemuruh mengepung kota di bawah kuasa Alexander Dubcek. Hidup pun terasa melayang, hampa, ringan…..

Novel yang ditulis pada kurun 1975-1979 ini, di buka dengan sebuah gagasan filsafat yang di sebut Milan kundera sendiri, sebagai gagasan yang misterius dan gila; yaitu gagasan ‘perulangan abadi’ dalam khasanah pemikiran filsafat nihilistik Nietszche.

Gagasan perulangan abadi dalam khasanah nihilistic sendiri adalah pandangan mengenai imoralitas (kristen) yang mengantarkan sejarah manusia pada konteks yang di sebuat Nietszche sebagai dekandensi kebudayaan. Dengan perulangan abadi hidup berarti adalah (kentengan,) sebab kita tidak perlu mengingat apa-apa lagi

Tentu saja setiap orang mengenal Filosof yang membunuh Tuhan itu, Nietzsche. Yang gagasannya mengenai The Brith Of Tragedy, tidak saja menjadi sekedar gagasan Nietzsche muda yang gandrung dengan kaindahan; pesimisme Schopenhour dan musik Dionyysian yang memabukkan itu. Namun gagasan tragedi seorang filosof yang membuat hidup banyak pengagumnya menjadi tragik, ironis dan pesimis. Demikiankah?

Menurut Milan Kundera, masih dalam bab The UNBEARABLE LIGHTNESS of BEING ini, adalah tidak demiakian halnya.

Seperti juga kita ketahui, Nietzsche adalah filosof yang menolak metode pengetahuan aristotelian; yaitu metode yang menggunakan Analogi. Baginya metode pengetahuan adalah Metafora. Dan Milan Kundera dalam Novel ini mengetangahkan dengan kasat mata bagaimana yang membingungkan menjadi indah, yang berat menjadi ringan, ialah itu bernama Metafora. Dan dengan cara ‘yang berbobot’ namun tanpa melupakan sisi ‘keentengannya,’ Milan Kundera menunjukan cara bagaimana memahami sebuah metafora (Nietzsche-an). Metafora adalah ‘Kata-kata yang salah dimengerti’ dan sekali lagi, Milan Kundera dengan cara yang enteng lagi tidak tertahankan menjelaskan kata-kata yang salah di mengerti itu dalam keseluruhan bagian Novel ini.

YANG RINGAN DAN YANG BERAT.

Apa hubungannya gagasan ini dengan perkembangan cerita dalam Novel ini selanjutnya?

Milan Kundera ingin mengetengahkan sebuah Nostalgia. Bahwa perulangan abadi adalah sebuah perspektif—yang akan menghadirkan kembali berbagai peristiwa secara lain dari pada sebagaimana yang kita ketahui. Nostalgia kemudian berfungsi sebagai sebuah lampu pijar yang akan memberi terang cahaya ketika manusia di hadapakan pada dua kenyataan (moral; yang riangan dan yang berat.) dimana kita tidak dapat mengambil keputusan dinatara keduanya hanya dengan melandasakan diri pada moralitas.

Namun apakah beratnya hidup patut di sesalkan dan entengnya hidup itu sungguh baik?

"Beban-beban yang terberat menabrak kita, kita tenggelam dibawahnya, beban-beban itu menekan kita hingga ke bawah. Akan tetapi dalam sajak cinta sepanjang abad, wanita rindu di tekan tubuh pria. Oleh karenanya secara simultan beban terberat adalah suatu gambaran bagi pemenuhan hidup yang paling intens. Semakin berat, semakin dekat hidup kita dengan dunia, semakin nyata dan benar pula hidup itu. Sebaliknya, tiadanya beban secara absolut menyebabkan orang menjadi lebih ringan daripada udara, terbang membumbung kengkasa, meninggalakan dunia dan hakikat duniawinya, dan menjadi setengha riil, gerakannya sebebas ketakberartiannya." (Hal. 11)

Metafora itu di gunakan Milan Kundera secara simultan sebagai kronik konflik yang menggerakan alur cerita Novel ini secara keseluruhan, dalam tiap bagian-bagian dan tokoh-tokoh utamanya; Thomas, Tereza, Franz dan Sabina.

HIDUP DALAM KEBENARAN.

Tereza, seperti dikisahkan dalam bagian pertama Novel ini, meninggalkan ibunya dan desa kecilnya di pedalaman Ceko menuju pusat kota Praha. Meninggalakan pekerjaan rendahanya sebagai pelayan. Di Praha, ketika pertama kali menginjakan kakinya di Stasiun kereta, ia bertemu dengan sosok Thomas, seorang dokter bedah yang apolitik dan untuk Sepuluh tahun yang berlalu bercerai dengan istrinya; yang merayakan hidup membujang seperti merayakan hari pertama perkawinannya.

Sejak pertemuan di stasiun itu, keintiman dan cinta yang erotis antara Tereza dan Tomas di jalin di tengah invasi tank-tank lapis baja tentara Rusia. Itulah peristiwa "musim semi prague" ketika tank-tank itu bergemuruh mengepung penjuru kota.

Sambil terus memelihara keintiman cintanya dengan Tereza, Tomas kembali memikirkan wanita yang dianggapnya paling mengerti dirinya, Sabina. Sabina adalah seorang pelukis di Jenewa. "Alasan mengeapa saya menyukaimu" demikian yang selalu di katakan Sabina"adalah karena kamu merupakan sosok paling bertentangan dengan seni keteraturan. Dalam kerajaan seni, kau adalah moensternya."(Hal. 23)

Tokoh lain dalam Novel ini adalah Franz. Franz adalah seorang profesor di Jenewa. Jenewa , mengutip Milan Kundera dalam Novel ini, adalah sebuah pemandangan kota eropa yang tanpa demonstrasi, tanpa pawai dan tanpa karnaval seperti halnya kota Praha di Ceko yang menjadi latar utama kisah dalam Novel ini.

Kota Praha yang seperti di potret Tereza dan dilukis Sabina, adalah kota yang mengagumkan (sekaligus ironis) dari sebuah euforia Revolusi; kehidupan dalam sebuah skla besar; penuh resiko; keberanian; dan bahaya kematian. Kota yang sangat akrab dengan kata-kata; penjara, penganiayaan, buku yang dilarang, pendudukan, dan tank-tank invasi tentara Rusia. Dan bagi Franz, Sabina adalah sosok perempuan yang menjadi penyingkapan dirinya.

Sedangkan Franz, ia menikahi Marie-Claude hanya dengan rasa kasihan (ia tidak tertarik, tapi sangat menghargai cinta Marie-Claude kepadnya). Wanita itu dihargai Franz sebagai sebuah idea paltonis. Sebenarnya, bukan lantaran Franz menghargai Marie-Claude, tetapi menghargai wanita yang ada dalam diri Marie-Claude; yaitu ibunya.

Setiap tokoh dalam novel ini adalah manusia yang ambigu; pribadi-pribadi yang cemas, absurd dan janggal; yang menginginkan entengnya hidup, tapi pada saat yang sama mereka merasakan kehampaanya dan karenanya mengingkan hidup sebagai beban. Mereka mendamba harapan dan kesetiaan, namun pada saat yang sama menginginkan untuk menghianatinya. "Memiliki publik, memelihara publik di dalam pikiran adalah sama saja dengan hidup dalam kebohongan." (hlm;140)

Namun sebab ambiguitas yang tragik itulah, Milan Kundera justru berhasil mengetengahkan sebuah kronik kehidupan yang sangat manusiawi, dekat dan nyata.

DEKADENSI KEBUDAYAAN?

Dalam bagian terahir novel ini, Milan Kundera menggambarkan dengan enteng sebuah metafora kota (Negara) yang berada di bawah infasi, kota yang mirip dengan sirkus ala Rusia’; karnaval, peradilan dan penahanan, kehawatiran, poster-poster, musik yang disetel keras-keras , pawai-pawai kebencian yang munafik, epigram, puisi, pidato radio yang dipaksa, sebuah kepura-puraan ketika setiap orang mengganti namanya dengan nama-nama Rusia, menempelken kofer-kofer buku idiologi di jendela flatnya. Saat gereja-gereja di alih fungsikan menjadi kandang sapi, tempat-tempat doktrinasi, dan barang-barang di dalamnya di keluarkan seperti sebuah kotoran. Namun halnya agama, ia tidak pernah mati, Tereza masih melihat gereja itu berdinamika, jamaahnya adalah mereka-mereka yang sudah jompo, yang tidak lagi memiiliki rasa takut pada moncong senjata tentara, sebab para jompo hanya takut pada ajal yang mendekat bersama waktu.

"Orang yang berpikir bahwa rezim Komunis adalah perbuatan istimewa dari para kriminal, maka orang itu mengabaikan kebenaran dasar bahwa: rezim-rezim kriminal tidak diciptakan oleh para kriminal, melainkan oleh para pengagum yang merasa yakin sekali bahwa mereka telah menemukan satu-satunya cara menuju firdaus. Mereka memperjuangkan cara itu dengan semangat penuh kepahlawanan dan karena mereka itu pecandu maka mereka juga tidak tanggung-tanggung menjadi pembunuh." (Hal. 213)

Inikah yang ingin diketengahkan Milan Kundera dengan Dekadensi Kebudayaan-nya Nietzsche?

********

Milan Kundera, dengan dua karyanya sebelum The Unbearable Lightness Of Being; yaitu Book of Laughter and Forgetting dan The Joke (1975-1978,) yang mengecam Stalinisme; tak urung segera memastikan nasibnya sebagai pengarang paling diberangus di negeri sendiri. Dan serta merta mengharuskannya kehilangan kewarganegaraan, akibat reaksi murka penguasa di tanah-airnya. Maka pada tahun 1975, ia hijrah ke Prancis selaku guru tamu di University of Rennes. Kenyataan itulah yang barangkali menjadi sangat membekas dalam Novel ini dan menjadikan Novel ini (dalam bab-bab terahirnya) terkesan sentimnetil.

Bagi penikmat sastra di negeri ini, Milan Kundera tergolong sosok baru dibandingkan dengan, misalnya; Anton Chekof, Leo Tolstoy, atau Albert Camus yang karyanya telah benyak di terjemahkan kedalam bahasa kita. Tentunya Novel ini akan menambah perbendaharaan yang kaya. Terlebih bagi masyarakat kita yang faham apa artinya hidup dalam psikis yang di-infasi oleh Rezim yang memuja kriminalitas. Lebih-lebih, secara historis, masyarakat kita begitu lama risih sekaligus tidak mengerti dengan Komunisme (Tradisi Kriminal,) yang barangkali sudah menjadi kata-kata yang disalah mengerti.

Tapi bagaimanapun, Novel ini adalah kitab metafora yang kaya dan mendalam. Walau di suguhkan beriring dengan bobot filsafat dan pengetahuan sejarah yang berat, namun Novel ini juga di sajikan dengan sintaklis dan susunan alur cerita yang tetap sederhana, cergas, namun dalam. Dan membuat siapapun untuk bisa menikmatinya dengan ringan (dan tetap merasakan bobotnya.)

Membaca novel ini, tidak hanya di suguhi sebuah cerita (picisan) yang terbang jauh dari realitas masarakatnya. Lebih dari itu, Novel The Unbearable Lightness Of Being ini menggelar sebuah ‘perayaan metafora’ dari sari-sri filsafat, politik, tradisi, sejarah, komunisme, sampai erotisme dan romantika cinta yang intim di atas ranjang. Dan semuanya di suguhkan Milan Kundera dengan metafora yang enteng dan tiada tertahankan; dengan kata-kata yang biasanya disalah mengerti.[:]
2 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Unbearable Lightness of Being.
sign in »

Comments (showing 1-3 of 3) (3 new)

dateDown_arrow    newest »

miaaa Woooow lengkap :D


message 2: by Stebby (new) - added it

Stebby Julionatan wow... mantap resensinya...


message 3: by Sabiq (new) - added it

Sabiq Carebesth hehehe trmkash...


back to top