Wirotomo Nofamilyname's Reviews > Harimau! Harimau!

Harimau! Harimau! by Mochtar Lubis
Rate this book
Clear rating

by
697401
's review
May 09, 2014

it was amazing
bookshelves: i-bought-it, novel-enlightment, indonesian
Recommended for: Para Pencari Tuhan :-)
Read in November, 2009 — I own a copy , read count: 1

Bagaimana jika anda adalah satu diantara 7 pengumpul damar yang sedang kembali dari hutan ke kampung halamannya?
Bagaimana jika ternyata rombongan anda diintai oleh seekor harimau tua yang kelaparan?
Bagaimana jika satu per satu anggota rombongan anda tewas dimangsa oleh harimau tersebut?
Bagaimana jika korban pertama dari rombongan anda itu tidak langsung meninggal, tapi sekarat dan terus menyerukan kepada anda semua untuk bertobat, karena serangan harimau ini pasti hukuman atas kesalahan anda semua di masa lampau?
Bagaimana jika seluruh anggota rombongan ternyata memang merasa melakukan dosa besar, apakah memang mereka harus mengakui kesalahan tersebut di depan umum agar terhindar dari hukuman melalui "cakar" harimau itu?
Bagaimana jika salah satu anggota rombongan lebih merasa terancam pada pandangan para anggota lainnya atas dirinya daripada ancaman harimau tersebut?

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas cerita ini terbentuk. Cerita memukau yang dengan lugas diceritakan melalui penuturan tokoh-tokoh di novel ini, baik dalam hati, baik sesuatu yang memang benar terjadi, baik yang baru dugaan, mengalir dengan lancar. Bahkan di satu saat sang harimau pun bisa menjadi penutur dan menceritakan mengapa dia terus mengintai dan mengejar rombongan pengumpul damar ini.

Cerita berjalan lancar, dengan tempo yang terjaga. Sehingga pembaca akan tetap merasa "penasaran" dengan akhir cerita. Mungkin bukan selera semua orang sehubungan setting cerita yang kuno, yang mungkin sekarang semakin sukar dibayangkan. Mungkin beberapa orang agak terganggu dengan cerocosan nya tokoh Pak Haji yang saat menjelang ajalnya begitu mudahnya sadar dan tiba-tiba dengan semangatnya menasehati sisa anggota kelompok tersebut. Salah satu nasihat paling ngetopnya adalah: "sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri". Nasihat luar biasa dari orang yang sudah menjelang ajal.

Bagian paling mantap dari cerita ini adalah sikap orang-orang tersebut saat issue "ini hukuman atas dosa-dosa kita" dimunculkan. Karena inilah sikap dasar manusia Indonesia selama ini. Jika ada yg tidak beres, mereka cenderung mencari-cari kesalahan yang dilakukan yang menyebabkan bencana ini terjadi. Tentu anda ingat saat gempa bumi terjadi di Padang, yang paling banyak muncul di milis-milis adalah himbauan agar kita memohon ampun atas kesalahan yang kita lakukan, bencana alam ini adalah hukuman Tuhan kepada kita, pasti akan terjadi lagi jika kita belum tobat.
Apakah mereka tidak memikirkan perasaan para korban bencana, yang sudah banyak kehilangan (harta maupun nyawa orang-orang terkasih) namun masih mendapat "tuduhan": ini hukuman atas dosa-dosamu.
Teganya.

Sepertinya Mochtar Lubis tidak sependapat mengenai soal "hukuman Tuhan" ini. Karena di cerita ini, dua anggota rombongan yang melakukan dosa paling besar, menyekutukan Allah dan zinah, justru selamat dari terkaman harimau. :-)
Menurut pendapat saya (mungkin sama dengan Mochtar Lubis :-)), kesenangan dan kesusahan, keduanya adalah cobaan dari Tuhan untuk menguji keimanan kita. Tidak pada tempatnya menempatkan kesusahan sebagai hukuman dari Tuhan. Hukuman Tuhan terutama akan dikenakan di akhirat, karena memang di situlah benar-benar tempat anda menerima hukuman atau pahala atas tindakan anda selama di dunia. Dunia hanyalah tempat ujian, bukan hukuman, untuk manusia.

Akhirnya saya merekomendasikan buku ini untuk anda baca, dan mendapatkan pengalaman 'spiritual' yang sama dengan saya saat membaca buku ini.
Semoga. :-)
11 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Harimau! Harimau!.
Sign In »

Reading Progress

03/08 marked as: read

Comments (showing 1-3 of 3) (3 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by [deleted user] (new)

iya, aku termasuk yang terganggu dengan "cerocosan Pak Haji" karena di buku2 lainnya Mochtar Lubis bisa "berceramah" soal watak manusia dan kebajikan tanpa harus jadi verbal begitu.


Wirotomo Nofamilyname Iya itu kaya'nya bagian paling tidak "menyenangkan" dari buku ini. Tapi aku masih tetep 5 sih soalnya cinta banget sama ceritanya. Pereview yang lain ada yg mangkas 1 bintang gara-gara ini. hehehe....


message 3: by Pandasurya (new) - added it

Pandasurya wah sayah jadi pengen baca buku ini euy..
ripiunyah juga baguss..:-)


back to top