Irwan's Reviews > Hembus Angin Utara

Hembus Angin Utara by Daniel Glattauer
Rate this book
Clear rating

by
183639
's review
Nov 08, 09

Read in November, 2009

Gave it up due to the translation. So the rating is only for this edition. Still have hopes for the english edition. Just checked Amazon, I couldn't find the English edition. Hopefully available soon.

p.15
"Saya menyesalkan Anda karena telah mempertanyakan humor saya. Ini sebuah bab menyedihkan."

Duuh... kalimatnya kok mentah sekali toh??
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Hembus Angin Utara.
sign in »

Reading Progress

11/08/2009 page 17
5.54% 1 comment

Comments (showing 1-37 of 37) (37 new)

dateDown_arrow    newest »

Dani Hermanto Saya punya kesan yang sama pada halaman-halaman awal, namun menjelang pertengahan, kesan itu hilang bahkan berubah menjadi mengasyikkan. That's why I gave 4 stars for the story and for the translation.

Apa yang Anda kutip itu, mungkin bisa memulai sedikit sharing pendapat.

p.15
"Saya menyesalkan Anda karena telah mempertanyakan humor saya. Ini sebuah bab menyedihkan."

Your comment:
Duuh... kalimatnya kok mentah sekali toh??

My comment:
Lebih tepat mungking formal, bukan mentah. Namun konteksnya sepertinya menuntut itu, karena keduanya ber-Anda-Anda dan selalu berusaha menjaga jarak, kecuali di bagian akhir, ketika mereka memutuskan untuk ber-aku-kamu dan memutuskan untuk melangkahi dunia virtual untuk memasuki dunia real. It means, ungkapan baku atau formalnya memiliki rasionalitasnya sendiri.
Kalimat terakhir lebih menggelitik untuk materi diskusi kecil: "Ini sebuah bab menyedihkan". Sepertinya itu terjemahan harfiah (I wish I understood german...). Pertanyaannya: Dalam kasus seperti ini, which one is better: terjemahan konotatif dengan mengedepankan interpretasi, atau mempertahankan orisinalitas ungkapan sang pengarang? If it is really literal translation, for me it is a proper choice.



Irwan Makasih komentarnya.

Pemakaian kata "Anda" bukan sumber kementahan yang saya maksud. Kalimat bisa dibuat lebih luwes, misalnya:

"Sayang sekali Anda meragukan selera humor saya."




Dani Hermanto Trims atas respon baliknya, bung Irwan.

It seems, the sentence you suggested doesn't increase the quality of the eloquence. It just implies two sentences with same meaning. Your sentence is just more simpler and more direct, and the sentence from the translator is more sophisticated.

Saya kira saya punya persamaan dengan Anda terkait dengan kerap kali kecewa pada kualitas terjemahan bahasa Indonesia atas buku-buku yang sebetulnya bagus dalam versi orisinalnya, hingga kita jauh lebih suka membaca versi aslinya (baca: Inggrisnya). Namun saya tak urung curiga bahwa di balik itu, dalam bawah sadar atau ketaksadaran kita ada semacam inferiotas menyangkut bahasa sendiri atau pada macam penggunaannya oleh para penuturnya. Maksud saya, teks Inggris jadi dipandang secara "taken for granted" lebih bagus dan lebih mengena hanya semata karena ia berbahasa Inggris, dan bukan pada kualias artistik atau pun daya tohoknya pada medan makna.

Kembali kepada novel ini, rupanya saya tidak sendiri. tadi malam saya bertemu dengan dua orang kawan, yang seorang penulis muda nasional cukup terkenal di tanah air, kebetulan ia juga sudah membaca sampai habis novel ini. Menurut dia, ini buku terjemahan yang bagus, dia juga menyebut sebuah buku terjemahan puisi karya penerjemah yang sama, yang bahkan menurutnya luar biasa bagus (I hope I can read it soon, I'm curious). Dan yang satunya lagi eks editor buku novel di penerbit Gramedia. Setelah saya kasih lihat bukunya dan dia langsung membaca beberapa halaman darinya, dia berkomentar: "Ini baru terjemahan!" Ada tambahan komentar menarik darinya, namun mungkin untuk diskusi kita berikutnya if Anda sempat dan berminat.

Oh ya, saya jadi teringat pada ucapan si tokoh pria dalam novel ini kepada si tokoh wanita, kira-kira seperti ini: "Selama ini saya membaca surat-surat Anda dengan suara Marlene (eks-kekasihnya), dan bukan dengan suara Emmi (sang tokoh wanita, si penulis teks)." Mungkin, itulah juga tugas kita sebagai pembaca...


Irwan Bung Dani, memang itu poinnya. Kedua kalimat diatas tetap setia pada makna yang disampaikan teks asli. Yang saya lakukan hanyalah sedikit mengolah supaya ungkapan itu terdengar lebih alami dalam bahasa Indonesia. Kalau Anda berargumen bahwa diawal cerita kedua protagonis berkomunikasi formal, kalimat tersebut tetap formal. Untuk formal tidak harus mentah kan?

Kalau Anda curiga akan adanya "inferioritas" bahasa, cobalah simak teks Anda sendiri dan lihatlah bagaimana Anda mencampuradukkan kata bahasa Inggris dan Indonesia, bahkan ada yang dalam satu kalimat.

Saya menghargai kalau ada yang memuji karya terjemahan itu setinggi langit. Namun maaf saya sendiri belum teryakinkan. Dan saya tidak sedang berusaha meyakinkan para pemuji itu untuk berpendapat seperti saya.




Dani Hermanto Bung Irwan yang baik,

betul itu poinnya, dan di situlah pula letak masalahnya. Apa yang Anda istilahkan dengan "lebih alami", hingga taraf tertentu bisa mengarah pada penyeragaman, yakni cara bahasa yang dicoba-usahakan distandarkan. Hal semacam ini bertentangan dengan watak sastra sebagai olah kreatif berbahasa, suatu medan yang yang justru menuntut "keberlainan", atau sering disebut sebagai "kebaruan", dalam berbahasa. Bahasa bukan murni "given" (inferior? hehehe...), apa yang "given" itu justru mentahnya. Bagaimana makna dari suatu ungkapan yang umum diujarkan dalam suatu bahasa, bisa disampaikan dalam suatu cara ungkap berbeda, saya kira itulah salah satu tugas yang diemban oleh seorang sastrawan, juga oleh penerjemah karya sastra. Kasus kita di sini bisa menjadi salah satu contoh terbaik dalam hal ini. Jadi, menurut saya, ungkapan yang Anda sarankan itulah justru yang masih mentah, sebab sangat umum, bahkan cenderung naif. Sementara ungkapan yang dipilih penerjemah sudah mengalami "sophistication", meskipun barangkali berasal dari terjemahan atas ungkapan "sophisticated" dalam bahasa Jerman.

Dan saya kira di sini konteks kita bukan untuk meyakinkan orang lain, sebab masing-masing orang bebas berpendapat dan melakukan penilaian. Saya hanya ingin mengetahui argumentasi lebih mendalam dan filosofis yang menjadi dasar dari penilaian yang diberikan.


Irwan Hehehehehe....


message 7: by gieb (new)

gieb ahmad mulyadi menerjemahkan dengan puitis teks puisi adonis.

p.15
"Saya menyesalkan Anda karena telah mempertanyakan humor saya. Ini sebuah bab menyedihkan." = ini terjemahan yang puitis.

"Sayang sekali Anda meragukan selera humor saya." = ini terjemahan yang akrab.


Irwan @Gieb: Thanks. That makes more sense :-)


message 9: by Pandasurya (new) - added it

Pandasurya sayah lebih suka terjemahan yg akrab..:-)

dan sayah juga suka penjelasan jitu seperti sebuah kalimat yang ada di novel "Sang Alkemis" Paulo Coelho.
di novel itu si bocah bertanya pada majikannya soal arti kata "maktub"
dan si majikan menjawab,
"kamu harus terlahir sebagai orang arab untuk mengetahui arti kata itu. Namun artinya dalam bahasamu kira-kira 'sudah tertulis'"

dalam konteks novel ini dan juga novel terjemahan yg lain rasanya sayah setuju dgn yg dikatakan majikan si bocah..:-)


indri Nah, justru itu karena baru hal 15 maka belum terjadi 'keakraban' tersebut.

Saya pun cenderung menggunakan kalimat baku untuk orang2 yang saya kenal, terlebih lagi kenal online, dan tidak tahu keseharian.
Jadi pilihan katanya juga menyuratkan emosi si penulisnya, emosi yang datar, atau ingin mengakrabkan.



message 11: by gieb (new)

gieb keakraban bisa terbentuk dengan cara apapun. dengan hal yang sangat puitis sekalipun.


indri vote buat gieb.
*mencoba berakrab2*

halo mas irwan..


message 13: by Irwan (new) - rated it 1 star

Irwan halo indri :-)


message 14: by Dani (new) - rated it 4 stars

Dani Hermanto Teman-teman yang budiman,

kali ini, salam kenal dulu deh..., apalagi saya anggota baru di goodreads.

Sepertinya diskusi kecil di ruang maya ini mulai mengasyikkan, tidak kalah dengan percakapannya Emmi dan Leo. Hehehe...

Bicara puitis-puitis, saya menjadi teringat pada teks-teks Goenawan Mohamad, baik puisi maupun prosanya. Tulisan prosa GM sangat puitis, di samping tentu cerdas, sementara puisinya, yang menjadi salah satu keunggulannya menurut saya adalah pemunculan kata-kata yang tak umum di sana-sini, yang sebagian bukan berasal dari bahasa Indonesia. Hingga sepertinya GM akan jauh lebih suka mempertahankan istilah "maktub", apabila teksnya menyebut kata itu, ketimbang padanannya, "tertulis", dalam teks-teksnya. Terus terang, ini bukan murni ide saya, akan tetapi saya pernah mendengarnya dari seorang penjaga rubrik puisi sebuah surat kabar nasional ketika kami memperbincangkan GM :)

Ya, mungkin benar, tulisan, atau bahkan pikiran kita, tak lain isinya kutipan, kutipan, dan kutipan.

"Menulis seperti mengecup, hanya tanpa bibir
Menulis adalah mengecup dengan pikiran."

Ya, ngutip lagi:)))






message 15: by nanto (new) - added it

nanto saya vote buat diskusinya. terimakasih. jangan bahas bahasa saya yang tak mematuhi kaidah tanda baca. males pijit kapslok aja :D

saya terlalu asyik membaca diskusi yang rancak ini sehingga ingat kepada kutipan dari antjie krog

"I'm a poet. I distrust anything that starts with a capital letter and ends with a full stop because people don't think in full, clear sentence"

sumbernya dari sini. sila dilanjut


message 16: by Nenangs (new)

Nenangs *menikmati diskusi sambil minum kopi*

tuhan,
apakah yang puitis tidak bisa dibahasakan secara akrab, dan vice versa?
haruskah dikotomi puitis dan akrab itu ada?

temans,
kesamaan tidak berarti kutipan
dan kutipan hanyalah bentuk persetujuan


message 17: by Irwan (new) - rated it 1 star

Irwan Jadi pengen ikutan ngutip nih. Saya dapat kutipan ini dari film Contact, yg dibintangi Jodie Forster, yang disebut Occam's Razor:
"when you have two competing theories that make exactly the same predictions, the simpler one is the better."

Profesor pembimbing tesis saya juga dulu mengatakan, "kalau kau tidak bisa memformulasikan suatu ide dengan kalimat yang jernih (dan/atau sederhana), coba periksa kembali apakah kau benar-benar telah memahaminya."

Kembali ke pengalaman membaca halaman2 awal novel ini. Saya merasa seperti sedang nyetir mobil dengan pedal gas dan rem diinjak bersamaan. Jadi ya terpontal-pontal gitu. Jadi hilang deh semangat untuk melanjutkan.

Lha wong ini teks Indonesia tapi kok ya harus memahami isinya dengan menduga-duga struktur kalimatnya dalam bahasa asing. Sayang sudah lupa pelajaran bahasa Jerman dulu: akkusativ, dativ, dll. Jadi gak bisa menebak dengan jitu apa kalimat asli dalam bahasa Jermannya.

Sayangnya saya tidak seperti Gieb yang bisa melihat puitika dalam banyak (segala?) hal. Sehingga hal yang membingungkan bisa jadi indah dengan menganggapnya puitis. Hehehe...





message 18: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname Make everything as simple as possible, but not simpler.

*eh ngutip juga* :-)

menikmati perdebatan ini, tapi tidak punya cukup kemampuan untuk ikut berpendapat. ;-)


indri ..
saya baca buku ini dan menikmatinya. saya bukan ahli berbahasa apalagi pengamat, dan saya menikmati semua emosi Emmi di buku ini, yang memang tergambarkan dengan jelas melalui kalimat2 terjemahan, ketika ia marah, ketika ia rindu, ketika ia cemburu, ketika ia bingung.
Saya membaca godaan2 Leo, kalimat2 yang menggelitik, yang jelas membuat Emmi geregetan, emosi seorang pria sok misterius.
Writing is kissing in mind menulis adalah mengecup dalam pikiran (terj. ahmad mulyadi), dan seperti kata Pandasurya di review Perahu Kertas, kita membawa pengalaman2 sebelumnya dalam membaca, maka selain bahwa saya membacanya mengosongkan pikiran dulu, juga ditambah dengan pengalaman membaca surat sahabat di masa muda yang menyiratkan emosi yang tersurat dalam kata.
bukan karena saya wanita maka saya mengepankan emosi disini, tapi karena terjemahan ini tidak menjadi masalah untuk saya. mungkin Bung Irwan terlalu peka sama terjemahan, atau kurang peka sama emosi tersurat. tidak perlu menjadi puitis untuk membaca buku ini. bagi orang yang terbiasa eksak, puitis bisa menyeimbangkan.

ps.bacalah lagi hal 154-160.

halo, met kenal bung dani!


message 20: by Pandasurya (last edited Nov 12, 2009 10:45PM) (new) - added it

Pandasurya waaww..seru2 diskusinya..:-) sangat menyenangkan dan bermanfaat sekalee..:-p
GRI tea-lah..:-) sayah juga vote buat diskusi inih..

mas Dani, klo tulisan bentuk prosa, khususnya esai, GM emang masternya yah..
dan terkait soal terjemahan, soal kata dan emosi, sayah mo ngutip GM lagi ah..

"Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki.."

(Caping 1, GM, h. 360)

-Pandasurya-
yg sangat menikmati bahasa..


message 21: by Tiwik (new)

Tiwik Ikutan vote diskusinya :)


message 22: by [deleted user] (new)

salam kenal semuanya, :)

mau ikut nimbrung sedikit. menurut saya diskusi menarik ini masih dalam taraf berandai2 karena tak satu pun pembahasnya bisa berbahasa Jerman. bung Irwan menunggu edisi Inggrisnya dan bung Dani mengatakan sendiri I wish I understood german...

sehingga sulit untuk membahas ketepatan penerjemahannya (yang dimaksud ketepatan di sini adalah ketepatan arti sekaligus nuansa/konteksnya). terjemahan yang kaku (atau menurut gieb 'puitis' itu) mungkin dalam bahasa Jermannya dimaksudkan untuk tidak 'puitis'. mungkin kalimat aslinya luwes. bila benar demikian, maka terjemahannya ya kurang baik.

saya pribadi terpesona dengan terjemahan Ahmad Mulyadi atas puisi2 Adonis, tapi karena saya tidak bisa berbahasa Arab, maka ketika saya mengatakan "ini terjemahan luar biasa", yang saya maksud bukan perbandingannya dengan bahasa aslinya, tapi bahwa terjemahannya itu ternyata enak sekali saya baca. tentang ketepatannya, saya tidak bisa berkomentar..


message 23: by [deleted user] (new)

tidak Mang, menurut saya ini bukan soal terjemahan akrab atau kaku, tapi terjemahan yang tepat sesuai keinginan penulis dlm bahasa aslinya. 'meluweskan' atau 'mengkakukan' bisa sama2 tidak tepat.

itu sebabnya ada yg disebut sebagai "translator inquiry" yang berisi daftar pertanyaan penerjemah (bisa ratusan jumlahnya untuk satu 1 buku saja) kepada penulisnya tentang maksud2 tersurat atau tersirat buku itu. Itu sebabnya penerjemah biasanya memang orang yg ahli tentang penulis yg diterjemahkannya. Alm. Giovanni Pontiero, penerjemah Saramago ke dalam bahasa Inggris, sampai membukukan "translator inquiry"-nya karena di dalamnya berisi diskusi yg luar biasa asyik tentang makna2 tersembunyi teks Saramago dan bagaimana nuansa tersebut harus dialihkan setepat2nya dalam bahasa Inggris


indri masih berandai2 saja sudah menarik diskusinya,.. sebenarnya setiap membaca karya terjemahan pun saya tertarik dengan bahasa aslinya, betapa kaya sesuatu itu sangat berarti dalam maksud dan bahasa si penulis..

*jarang mengutip karena tidak punya koleksi kutipan*

ps. terjemahan the old man and the sea by selasar itu sangat buruk, tapi saya menikmati ceritanya...



indri amang, pengen baca sih, tapi bukumu itu sekarang sedang di tangan siapa ya? seingatku dipinjam panda, echa, mery momo, trus aku ngantri habis sapa nih..?

eh, btw, panda kan baca juga terjemahan ahmad mulyadi yang 'minum kopi bersama arwah para filosof', katanya bagus kan?? *pinjem kl udah*


message 26: by Irwan (new) - rated it 1 star

Irwan Salam kenal juga Ronny!

Rasanya sih saya tidak berandai-andai. Yang saya ungkapkan sejauh ini adalah perasaan dan pengalaman saya ketika berinteraksi dengan teks ini. Saya pun menjelaskan dengan sedikit contoh apa yang saya maksudkan. Saya tidak menuntut atau memberi agenda pada penerjemah untuk begini dan begitu. Maaf kalo terkesan begitu. Apalagi meragukan kehebatannya menerjemahkan. Toh saya menyaksikan komentar2 kekaguman teman2 semua disini.

Malah saya yang "diajak" untuk jadi "sophisticated", tidak memakai kalimat yg naif, memahami sesuatu yg tidak sekedar "given" tapi punya "daya tohok pada medan makna", tidak merasa inferior bahasa atau mengosongkan pikiran dan menajamkan emosi untuk menikmati teks ini. Oh, come on... :-)

Kalau saya sih pragmatis aja, bahwa ini masalah selera. Tidak semua teks (asli atau terjemahan) cocok untuk semua orang. Misalnya, saya menikmati sekali karya seorang novelis pemenang Nobel, tapi ada juga yang sangat tidak menikmatinya (bahkan sampai mencacinya). Yah, kalau sudah gitu mau apa lagi, ya tutup saja bukunya, jangan siksa diri dengan teks yang tidak Anda suka. Dan itulah yang saya lakukan dengan buku ini. :-)

Kalau untuk berkomentar (yang tidak sekedar berandai-andai) harus menguasai bahasa Jerman dulu, seperti dalam kasus ini, ya repot juga. Berarti kita harus jago masak dulu sebelum bisa mengomentari suatu masakan :-)



Ronny wrote: "salam kenal semuanya, :)

mau ikut nimbrung sedikit. menurut saya diskusi menarik ini masih dalam taraf berandai2 karena tak satu pun pembahasnya bisa berbahasa Jerman. bung Irwan menunggu edisi In..."





message 27: by [deleted user] (new)

hehe maksud saya bukan begitu, bung. maksud saya, pembahasan soal contoh kalimat yang Anda ajukan, apakah ini seharusnya resmi/kaku atau diluweskan, hanya mungkin apabila kita tahu teks aslinya.

selama kita tidak tahu, kita hanya bisa mengomentari bahwa kalimat terjemahan di atas memang terasa tidak enak dalam bahasa Indonesia, dan saya termasuk yg sependapat dg bung bahwa kalimat itu memang terasa tidak enak dalam bahasa Indonesia.

tapi apakah maksud pengarangnya memang begitu: menunjukkan bahwa antara kedua tokohnya belum akrab--nah itu harus dirujuk dulu ke teks aslinya. baru bisa diketahui ketepatan konteks dan makna penerjemahannya.

Pustaka Jaya misalnya, banyak dipuji karena kualitas penerjemahannya yang enak. tapi saya telah mendapati beberapa bukti, setidaknya dalam kasus buku2 sastrawan Filipina, Jose Rizal, bahwa bbrp terjemahannya tidak tepat, bahkan salah, meski dibacanya sangat enak.

jadi antara enak/tidak enak dan tepat/tidak tepat, ada bedanya :)

Review saya atas Mimpi Selalu Indah juga mencerca terjemahan bahasa Indonesia dari bahasa Jerman yang ga enak sama sekali. tapi tidak mungkin saya rujuk ke aslinya karena saya juga tidak fasih Jerman.

persis seperti tulisan bung "So the rating is only for this edition" :)


message 28: by Dani (new) - rated it 4 stars

Dani Hermanto Untuk Indry, salamku untukmu. Hehehe..., tentu juga bagi yang lain.

Tak kalah penting barangkali "passion", dengan "passion" itu, pengalaman membaca menjadi sangat menyenangkan. Kebetulan, passion itu belum tumbuh ketika bung Irwan menemukan sebuah kalimat yang tidak mampu menggetarkan hatinya secara puitis, bahkan sebaliknya, memunculkan jarak yang memperlebar ruang antara dirinya dengan pesona teks. Bila Gieb menyebut kalimat itu puitis, aku menemukan banyak sekali ungkapan di dalam novel ini yang jauh lebih puitis, meskipun kalimat itu sangat bersahaja, seperti: "Selamat malam." Yang kemudian dijawab oleh masing-masing keduanya entah berapa kali dengan ucapan yang sama: "Selamat malam." Dan terus berulang.

Terkait dengan "kaku", ada baiknya mungkin dibedakan antara "complicated" dengan "sophisticated". "Kaku" lebih berpadanan dengan "complicated", dalam konteks di sini berarti sulit dicerna makna kalimatnya karena kerumitan susunannya yang berasal dari kegagalan sang penerjemah menuangkan makna teks asli ke dalam bahasa terjemahannya. Sementara "sophisticated" melibatkan "craftmanship", di sini berarti seni atau keahlian tertentu dalam menjalin kata dan merangkainya menjadi kalimat-kalimat yang bukan hanya bertugas menyampaikan makna, akan tetapi pula bisa menimbulkan "passion" tadi pada diri pembaca oleh sebab kualitas artistik yang dimilikinya. Dan, kerap kali, kualitas artistik itu baru muncul setelah teks itu dibaca berulang kali, sebab ia terkait dengan kesiapan mental, suasana hati, dan "kecerdasan artistik" si pembaca. Hehehe...

Untuk mas Panda, kutipan smart Anda terdengar di telinga saya seperti keluar dari bibir Anda sendiri :) GM memang penulis memukau. Dan, sepertinya ia seseorang yang menempatkan "craftmanship" sejajar dengan muatan makna teks.

Dan bung Ronny, saya menjadi semakin penasaran dengan terjemahan puisi itu. Saya tentu baru bisa menanggapi setelah membacanya nanti. Tetapi satu hal sudah bisa saya katakan sekarang, yakni kembali dengan mengutip :))) ucapan seorang profesor sastra di tanah air - suatu waktu saya pernah mendengar dia berkata, dalam seminar, di surat kabar, entahlah - kira-kira seperti ini: "Tidak mungkin puisi bisa diterjemahkan!" Artinya, terjemahan harus mengkhianati teks aslinya. Sebab, bila yang hendak dicapai ketepatan, ia akan sulit menjadi puisi, ia besar kemungkinan akan menjadi prosa, prosa seutuhnya prosa.


message 29: by [deleted user] (new)

"complicated" vs. "sophisticated" = ruwet vs. pelik, mungkin?


message 30: by Irwan (new) - rated it 1 star

Irwan Ronny wrote: "hehe maksud saya bukan begitu, bung. maksud saya, pembahasan soal contoh kalimat yang Anda ajukan, apakah ini seharusnya resmi/kaku atau diluweskan, hanya mungkin apabila kita tahu teks aslinya.

..."


Oh, begitu, bung Ronny! Btw, sudah baca buku ini? Kalo belum coba deh simak. Menurut hemat saya (yang mungkin "kurang cerdas artistik" hehehe..) itu bukan satu2nya kalimat dg masalah seperti itu.

@Bung Dani: Thanks. I know how much you love this book already!!




indri Bung Dani, anda punya pengalaman yang mirip dengan novel ini ya?? hehehe...
Terkadang benar, pengalaman pribadi memberikan penilaian yang subyektif terhadap pengalaman membaca..


message 32: by Pandasurya (new) - added it

Pandasurya hihi..curcol ato curcol niih??:-p

terjemahan yg baik seharusnya tidak terasa sebagai terjemahan, katanya sih gitu..
dalam beberapa hal sayah memang setujuh..
contohnya seperti yg sayah rasakan ketika membaca terjemahan Monte Cristo-A. Dumas.
terjemahannya menurut saya bagus sekali sampe2 tidak berasa terjemahan.

tapi klo contoh kalimat spt yg ditulis mas Irwan di atas:

"p.15. Saya menyesalkan Anda karena telah mempertanyakan humor saya. Ini sebuah bab menyedihkan."

Duuh... kalimatnya kok mentah sekali toh??


sebagai orang endonesia sayah juga merasa janggal dengan kalimat seperti itu..
saya malah merasa lebih enak membaca saran dari mas Irwan:

"Sayang sekali Anda meragukan selera humor saya."

bgmn pun memang selalu ada kalimat2 asing yg sulit diterjemahkan ato dicari padanannya dalam bhs endonesia.

contohnya spt lirik yg sayah suka dari kutipan puisi Dylan Thomas:

"Hands have no tears to flow.."

lirik itu puitis sekali..tapi sulit diterjemahkan..
kalo pun dicari padanannya maka kurang lebih jadi:

"tangan kekuasaan memang tak punya hati.."







message 33: by Dani (new) - rated it 4 stars

Dani Hermanto bung ronny, pelik bukan padanan yang tepat buat sophisticated, sebab ia mencakup wisdom dan juga skill untuk mengubah sesuatu "less natural". pernah ada yang mencoba memadankannya dengan "canggih". hanya konotasi canggih sepertinya lebih untuk teknologi atau hal-hal yang bersifat material.

ndri, my own experience? more erotic, more "sophisticated", and more complicated. hehehe...

@bung irwan, thank balik for u.

@bung pandasurya, kita kembali kepada kalimat itu ya... hehehe...

bayangkan bahwa dalam bahasa asing tersebut ada kalimat sesimpel: "Sayang sekali Anda meragukan selera humor saya." Namun, sang penulis teks orisinal ternyata menggunakan kalimat berpadanan: "Saya menyesalkan Anda karena telah mempertanyakan humor saya. Ini sebuah bab menyedihkan." in this case, bila dipaksakan terjemahan simpel itu, nuansa yang ada dalam kalimat asli akan hilang, kekayaan baru yang dimunculkan oleh kalimat orisinal tersebut, yang tak dimiliki oleh kalimat versi sederhana, akan meruap. tak bisa lain memang, kita sama-sama harus ambil kursus bahasa Jerman :) biar diskusinya lebih asyik, apalagi bila penerjemahnya ikut nimbrung...

saya setuju dengan usul irwan, biar bung ronny dan teman-teman lain yang belum baca buku ini menyimaknya biar diskusinya lebih "sophisticated". hehehe...




message 34: by Irwan (new) - rated it 1 star

Irwan Dani wrote: "bung ronny, pelik bukan padanan yang tepat buat sophisticated, sebab ia mencakup wisdom dan juga skill untuk mengubah sesuatu "less natural". pernah ada yang mencoba memadankannya dengan "canggih"...."

Dari cara Anda mengungkapkan diri sejauh ini yang cenderung rumit (atau dirumit-rumitkan?) kayak gitu, saya jadi semakin mengerti kenapa terjemahan seperti itu yang Anda sukai.

Gak usahlah mendorong kursus bahasa Jerman atau mengharap penerjemahnya ikut nimbrung. Aktivitas menulis dan menerjemah itu melibatkan proses menentukan gaya apa yang mau dipilih. Dan saya menghargai pilihan itu. Sekilas saya lihat buku ini konsisten kok gayanya. Dan kebetulan gaya itu cocok untuk Bung Dani, tapi tidak untuk saya.
Bukankan kita sudah mengungkapkan dengan jelas posisi kita masing-masing?

Saya gak terlalu yakin ada makna yang "meruap" atau apa lah istilah Anda. Saya juga gak yakin kalo bahasa aslinya serumit itu. Misalnya, kata "saya" yang berulang itu pasti berbeda dalam bahasa Jerman karena yang satu kata ganti orang (Saya = Ich) dan yang satu lagi kata ganti kepunyaan (humor saya = mein(meine)...). Jadi dari segi ini saja tidak akan terjadi pengulangan kata seperti dalam terjemahan. Pengulangan itulah yang saya coba hilangkan di contoh kalimat saya.

Kalaupun seandainya bahasa aslinya serumit dan sekaku itu, ya saya tutup juga kok bukunya :-)





message 35: by Dani (new) - rated it 4 stars

Dani Hermanto untuk formal, dalam bahasa indonesia kata "saya" tak bisa diganti, dalam hal kepunyaan, dengan "ku". di sini repitisi memang diperlukan, meskipun bahasa aslinya, seperti anda katakan, tak menggunakan pengulangan. ini hanya sebagai intro.

gaya bahasa "saya" rumit? saya anggap itu suatu compliment, meskipun barangkali tujuan sebenarnya bukan sebagai pujian:) tetapi saya lebih memilih menyebutnya "sistematis" ketimbang "rumit". apa yang kita pikirkan kita (repitisi lagi, hehehe) rumuskan, formulasikan, dan sampaikan dalam bahasa. bahasa sederhana juga menunjukkan pikiran sederhana dan kurang mendalam.

bagi anda terlihat sekali betapa bahasa merupakan sesuatu yang bersifat ajeg, juga cara penggunaannya. ketika anda menemukan ungkapan yang tidak akrab bagi anda, anda merasa alergi, bila tidak sakit gigi. ruang bahasa anda jadi bermain sebatas di ruang yang anda kenal, di luar itu, yang bagi anda tentu merupakan sesuatu yang bersifat asing, ia adalah ungkapan yang mesti dijauhi, bila tidak harus dibuang.

gaya bahasa orang Indonesia zaman sekarang sangat boleh jadi akan terasa asing, atau kaku, bagi orang Indonesia sebelum kita lahir, katakanlah pra-kemerdekaan, apalagi sebelum itu. yakinkah kita bahwa cara ungkap kita, atau gaya bicara anda adalah "genuine", murni merupakan penemuan kita, atau anda, atau orang yang sezaman dengan kita?

bahasa adalah sebesar-besarnya kemungkinan, sesuatu yang bisa meledakkan pikiran. dan itu hanya bisa dimaksimalkan oleh mereka yang memperlakukan bahasa sebagai bahasa, bukan sebagai penjara.



message 36: by Irwan (new) - rated it 1 star

Irwan Dani wrote: "untuk formal, dalam bahasa indonesia kata "saya" tak bisa diganti, dalam hal kepunyaan, dengan "ku". di sini repitisi memang diperlukan, meskipun bahasa aslinya, seperti anda katakan, tak menggunak..."

hehehe... begitu sangkil dan mangkusnya....

Udahan ah, Mas Dani. It's getting lame...






indri vote buat diskusinya..
sangkil dan mangkus apa ya?? saya gak punya KBBI tuh..




back to top