Ary Nilandari's Reviews > Harry Potter and the Deathly Hallows

Harry Potter and the Deathly Hallows by J.K. Rowling
Rate this book
Clear rating

by
291803
's review
Jan 20, 10


Silakan tertawa...akhirnya aku baca juga buku ini yang sudah nangkring lama di rak. Aku sengaja menunda-nundanya.

Pertama, karena aku terlalu takut HP berakhir, apalagi kalau berakhir tidak menyenangkan. Dengan adanya kecenderungan penurunan greget sejak buku ke-4, aku khawatir yang terburuk yang telah diramalkan orang akan terjadi. (Walaupun nggak kurang dari Stephen King yang memohon pada Rowling agar endingnya tidak terlalu buruk)
Kupikir dengan menunda membacanya...hehehe, paling tidak aku masih punya harapan, prediksi, dan sesuatu yang worth savoring. Kayak anak kecil yang menggigit kuenya sedikit-sedikit karena nggak pengen kue itu cepet abis. Bayangkan saja usahaku menghindari semua review tentang HP terakhir ini. :)

Kedua, karena aku memprioritaskan buku-buku lain dulu. Dan ketika akhir pekan lalu suamiku menghadiahiku Mister Pip (Llyod Jones) dan The Good Guy (Dean Koontz), nyaris saja HP7 kembali ke peraduannya hanya setelah beberapa halaman dibaca. Lalu aku mengeraskan hati. Sudah waktunya. You-Know-Who tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

So...dibacalah buku itu sepanjang akhir pekan lalu. Kubawa ke bengkel, kubawa ke atm, kubawa tidur. Selesai dini hari tadi.

Dan...yah begitulah.... maaf, para fans HP, aku tak bisa memberi lebih dari bintang 3 untuk intallment terakhir ini. Seri HP memang fenomenal. Rowling penulis luar biasa. It goes without saying. Tapi aku nggak heran kalau ada yang menganggap bahwa membaca lanjutannya (mungkin sejak buku-5) sekadar kewajiban untuk menuntaskan apa yang sudah dimulai. Hihihi...itu sih sama aja dengan penasaran gitu lho.

Aku sendiri, terus terang, memandang HP7 seperti koper terakhir yang oleh Rowling dijejali semua barang yang telah terlupakan untuk dimuat di koper-koper sebelumnya. Telah terlupakan...atau mungkin bahkan baru terpikirkan. Dan untuk justifikasinya dipakailah istilah "selama ini dirahasiakan", "tak pernah diketahui siapa pun", "tersembunyi begitu rapi".

Kejutan demi kejutan terasa nggak fair, menurutku, tapi yah gimana lagi...ada pembenarannya kok. Barangkali di situlah kepiawaian Rowling, menguraikan alis-alis pembaca yang berkerut. Lagipula...siapa sih yang mau membaca ulang HP dari 1 hingga 7 secara nonstop hanya untuk menemukan flaws. Sihir Harry Potter begitu kuat. Barangkali pembaca, seperti aku, terkena pula kutukan imperius atau setidaknya confundus Rowling. hehehe.

Cuma, rasanya aku ingat, 4-5 koper pertama ditata dengan demikian rapi, semua clues disebar hati-hati, saling berkait dan mendukung, beberapa clues malah dengan indahnya baru bermanfaat di buku berikutnya. Jadi terasa sekali, terutama di koper terakhir ini, semua fakta dijejalkan tanpa ampun, membuat kopernya menggelembung tak wajar. hehehe, sampe perlu diikat pake tali rafia...kali ya.

Satu lagi yang menggangguku adalah epilognya. Ouch, perlukah diceritakan 19 tahun ke depan, semua berjalan begitu mulus sehingga terasa sangat dipaksakan. Mungkin karena Rowling sayang pada pembaca-pembacanya, sehingga ingin sekali memuaskan mereka dengan happy ending.

Dan sebagai penutup dari review ini, sebelum aku diserbu oleh Laskar Harry Potter dengan tongkat teracung, aku akan bilang: Harry Potter menjadi karakter tak terlupakan, yang telah dan masih memengaruhi dunia dengan pesonanya. Dan Rowling adalah penulis hebat.

Sebaiknya aku berdissaperate sebelum ada yang memaksaku menambah bintang untuk HP7.
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Harry Potter and the Deathly Hallows.
sign in »

No comments have been added yet.