indri's Reviews > Burung-Burung Manyar

Burung-Burung Manyar by Y.B. Mangunwijaya
Rate this book
Clear rating

by
1610985
's review
Aug 24, 09

bookshelves: sastra-indonesia, history, a-gift
Read in August, 2009

Ini bukan hanya tentang cinta. Ini manusia. Bahwa manusia memiliki sifat yang tergambarkan oleh judul-judul babnya dari tulisan Romo Mangun ini.

Masa transisi, masa pasca kemerdekaan. Anak harimau mengamuk. Elang-elang menyerang. Hingga burung kul mendamba. Untuk siapa Teto berjuang? Untuk negaranya kah? Bukan, ia membenci sang proklamator. Ia hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Karena ia benci Jepang, yang telah merenggut ayah dan ibunya darinya. Teto yang kehilangan keluarga, membuat dirinya menjadi pribadi yang dingin.

Kasihan Teto, diombang-ambing antara pilihannya sendiri di KNIL dan cinta platonisnya pada Atik. Dia memilih meninggalkan Atik, tapi setiap saat selalu didera akan penyesalannya. Mungkinkah ini memang kesombongan laki-laki yang sulit untuk mengakui adanya cinta? Selalu diulur dengan harapan si gadis akan kembali namun lupa kalau terulur terlalu jauh akan terputus?? Perang, perbedaan idealisme, perbedaan ideologi dapat membuat seseorang melepas cintanya. Teto tidak sendiri, Komandannya pun terjebak dengan cintanya kepada ibunya. Inilah yang membuatnya juga kuat tetap dalam perintah KNIL.

“Pendeta masa kini adalah para ahli matematika dan sarjana-sarjana dalam kedudukan-kedudukan perhitungan kunci,” jawabnya tenang, pasti, ningrat.

Teto tumbuh menjadi salah satu dari itu. Anak kolong itu, yang hidupnya terombang-ambing antara perang dan cinta, yang tidak tahu harus memilih yang mana di masa mudanya, tenggelam dalam hal-hal rasionalitasnya. Namun nasib memang bergulir sebagaimana digariskan. Hidup tidak bisa dihitung, ditebak, selalu ada tanpa batas untuk nasib. Seperti satu dibagi nol.

“Apa kau kira orang yang dipimpin itu selalu lebih lemah?” Matanya bening dan lebar penuh pertanyaan. Kuteruskan ,“Jana tidak dipimpin. Dialah yang memimpin, Atik. Hanya kau yang tidak tahu. Susahnya kau wanita terlalu pandai. Tetapi terlalu emosi juga.”
4 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Burung-Burung Manyar.
sign in »

Reading Progress

08/16/2009 page 57
17.81% "tidak semua yang diketahui harus juga dikatakan."
08/18/2009 page 164
51.25% "tidak ada gunanya mencari Papi "disini"."
08/20/2009 page 260
81.25% "atik boleh berpidato indah, tapi manusia bukan manyar"

Comments (showing 1-9 of 9) (9 new)

dateDown_arrow    newest »

Pandasurya weesss..sudah mulai mengutip2 nih kliatannya..hihihi:-p
emang ada ya kata2 itu di novelnya, dri? lupa gw :-p


Pandasurya ok2..manusia memang bukan manyar..juga bukan barang dagangan yg bisa dipajang di etalase toko dan setiap orang bisa liat dan menawar harga barang itu..siapa yg berminat dan punya uang boleh bawa barang itu..
manusia bisa menentukan nasibnya sendiri..:-)
(jadi ngelantur kieu euy..OOT:-P)

tapi akui sajah, bagian Aula Hikmah itu kereeenn bgt khaann?? :-p mirip sedikit dgn adegan Annisa cin(T)a pas di sidangnya khaan?? :-p


indri Wah kl dibilang mirip sih enggak Pan, kl adegan sidangnya Annisa sih aku ngerti banget, kalo yang ini aku baca dua kali.
Karena pola pikirku terbentuk dari perilaku manusia membentuk ruang, kalau mesti analogi ke burung-burung cukup membuatku berpikir..


message 4: by Pandasurya (last edited Aug 24, 2009 08:35PM) (new) - rated it 5 stars

Pandasurya wow 5 bintang juga rupanya..:-)
bagus ripiunya..:-) dalem juga..
tapi yg kutipan penutup itu..errr...itu spertinya..
ah gw ga tega nerusin kalimat gw...hahahaha:-D

tp novel ini emang cucok buat lo ya, dri? hihihi:-p


indri mo bilang apa, Pan? dah, bilang aja..
kenapa gw cantumin?
yah, emang dalem aja pas bagian itu.. serasa diingatkan ulang (tdnya mo nulis ditampar, tp kan sakit).. bahwa wanita tidak boleh terlalu keras, karena diciptakan selaras dengan kelembutan..


Pandasurya hahaha..:-D ampuun, bu..ampuunn..
tapi udah ya ternyata lo sendiri yg nerusin kalimat gw itu hehehe:-p
yg bagian itu gw tandain ga, dri? klo belom ntar mo gw tandain juga soalnya..hahaha:-D
yakin ga berminat pengen punya/koleksi novel keren ini?


indri nggak ada tandanya, Pan. sengaja emang gw pilih kutipan yang gak lo tandain.. kan yang baca gueee...
iya nih, gw pengen punya, kmrn sih di TB jose rizal kyknya ada..
eh, bukunya mo gw oper ke Thata yup..


nanto “Pendeta masa kini adalah para ahli matematika dan sarjana-sarjana dalam kedudukan-kedudukan perhitungan kunci,” jawabnya tenang, pasti, ningrat==> ini sebuah pernyataan peka sejarah. Kutipannya jadi membuka kesadaran akan perputaran roda jaman dan struktur sosial yang ada. Pertanyaanya ketika menyebut struktur sosial, apakah sudah terbuka? dimana mobilitas sosial dijamin dalam sebuah meritokrasi atau "norma yang pantas" lainnya?

*numpang ngelantur abis ngevote :D*


indri sumpah gw gak mudeng kata2 lo, cak..

tapi bahwa roda ekonomi juga diputar oleh kemajuan teknologi, walaupun akhirnya mereka (engineer2 ini) juga jadi kacung ekonom2 yang merasa bebas mengarahkan perdagangan dunia..


back to top