Endah's Reviews > Kantor Detektif Wanita No 1

Kantor Detektif Wanita No 1 by Alexander McCall Smith
Rate this book
Clear rating

by
1597717
's review
Jul 29, 09

bookshelves: buntelan-dari-penerbit

Dari sekian banyak buku cerita detektif yang beredar, hampir seluruhnya menampilkan sosok pria sebagai sang detektif : Agatha Christie dengan Hercule Poirot, Sir Arthur Conan Doyle dengan Sherlock Holmes, Dan Brown dengan Robert Langdon, Alfred Hitchcock dengan Trio Detektif, Nury Vittachi dengan C.F.Wong, S.Mara GD dengan Gozali dan Kapten Kosasih atau Arswendo Atmowiloto dengan Imung.

Mungkin menurut para penulis itu - kecuali Agatha Christie yang juga "menciptakan" tokoh detektif wanita, Miss Jane Marple - profesi sebagai detektif (pekerjaan yang menuntut kecerdasan otak dan kekuatan fisik ini) hanya cocok bagi para lelaki. Hanya para lelakilah yang pantas menyandang tokoh hero (jagoan), memecahkan misteri, menangkap penjahat, membasmi kejahatan.

Mendobrak kecenderungan tersebut, Alexander McCall Smith, menelurkan serial kisah detektif dengan Precious Ramotswe, seorang wanita berusia tigapuluhan, sebagai detektifnya. Terbit pertama kali dalam bahasa Inggris tahun 1998, Kantor Detektif Wanita No. 1 ini menjadi buku pertama dari enam judul yang direncanakan (lima judul telah terbit, judul yang keenam akan terbit 2006)

Berbeda dengan novel-novel detektif umumnya, novel karya penulis kelahiran Zimbabwe ini, tidak semata-mata bercerita ihwal pemecahan kasus-kasus kejahatan (kriminal), tetapi juga mengetengahkan isu-isu feminisme, rasialisme, serta budaya Afrika, khususnya Bostwana.

Menjadi detektif (wanita) di sebuah negeri yang masih pekat menganut nilai-nilai patriarkhi, bagi Precious Ramotswe, tidaklah mudah. Ia harus berhadapan dengan orang-orang (umumnya para lelaki) yang meragukan kemampuannya. Namun, ia tetap bergeming. Berbekal uang warisan ayahnya, wanita gemuk yang pernah gagal dalam perkawinannya itu, membuka kantornya di Lobatse Road. Dengan dibantu seorang sekretaris, iapun memulai peruntungannya sebagai detektif swasta.

Ia menangani segala perkara : anjing yang hilang, suami selingkuh, pencurian mobil, penculikan anak, pemalsuan, penipuan, hingga pembunuhan. Perlahan tetapi pasti, Mma Ramotswe mulai dikenal sebagai detektif yang handal. Kliennya semakin banyak dengan kasus yang kian beragam.

Precious Ramotswe digambarkan sebagai seorang wanita usia tigapuluh lima bertubuh gemuk tinggi dan selalu berpenampilan menarik (Di Afrika, wanita yang cantik adalah yang gemuk) Ia juga cerdas, pemberani, berkarakter kuat, berwibawa, egaliter, serta humoris. Tetapi bukan berarti ia sosok serbabisa dan tahu segalanya. Bahkan beberapa perkara gagal ditanganinya. Kenyataan ini justru membuat tokoh tersebut jadi tampak manusiawi*)

Sejak kegagalan perkawinannya, Mma Ramotswe bertekat untuk tidak menikah lagi seumur hidupnya. Menurutnya para lelaki di seluruh dunia sama saja, selalu membuat para wanita mengeluarkan air mata. Para lelaki itu, jika menjadi suami, lalu ingin serba dilayani. Apa lagi para lelaki di negerinya ini, Bostwana, yang masih sangat konservatif. Rasanya, ia tak ingin menukar kehidupannya yang sekarang dengan perjudian sebuah perkawinan (kembali).

Kisah ini ber-setting Bostwana dan buku pertama ini memuat riwayat latar belakang kehidupan Mma Ramotswe sebelum memutuskan menjadi detektif swasta. Ia tumbuh dewasa di bawah asuhan ayahnya, seorang buruh pertambangan berlian di Johannesburg, Afrika Selatan.

Saat itu, sekitar tahun 1960-an, Afrika Selatan masih dikuasai oleh orang-orang kulit putih (Belanda) Sebagaimana negeri jajahan, nasib rakyatnyapun sangat menderita. Para pekerja (kasar) tambang datang dari segala penjuru Afrika. Mereka harus bekerja keras dengan upah kecil dan jaminan kesehatan tidak memadai, sehingga para pekerja yang umumnya orang kuit hitam itu sudah dapat dipastikan mengidap penyakit radang parau-paru akibat debu yang mereka hirup sepanjang waktu. Sedangkan orang-orang kulit putih biasanya menempati posisi mandor atau atasan orang-orang kulit hitam itu. Sebuah sikap antirasialis dan antidiskriminatif yang diperlihatkan penulisnya.

Kendati demikian, Obed Ramotswe dan putri satu-satunya itu, sangat mencintai tanah air mereka nan jelita. Mereka bangga menjadi salah seorang warganya. Kecantikan alam berikut budaya Afrika ini dipaparkan amat memesona oleh McCall Smith. Tak heran, sebab ia pernah menetap cukup lama di sana. Bahkan ikut membantu mendirikan sekolah hukum di University of Bostwana.

Sepanjang karier menulisnya lebih dari duapuluh tahun, pria yang kini tinggal di Edinburgh bersama istri dan kedua putrinya ini, telah menghasilkan lebih dari lima puluh buku, termasuk kumpulan cerpen dan buku cerita anak-anak.

Slweedit)

Like this review? yes 2 comments


new topicdiscuss this book
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Kantor Detektif Wanita No 1.
sign in »

Comments (showing 1-6 of 6) (6 new)

dateDown_arrow    newest »

message 1: by Weni (new)

Weni aku br baca buku keduanya (eh air mata jerapah buku ke-2 kan ?). yg ini malah blm baca.


Endah yup! aku sudah baca yg nomor 3 juga : Moralitas Gadis-Gadis. Aku suka Mma Ramotswe. Kok yang aku bayangkan kalau bukan Hughes ya Queen Latifah :)


message 3: by Weni (new)

Weni sama mbak, aku jg suka mma ramotswe. bener, queen latifah hahaha.


Endah kalau Oprah cocok ga, ya?


message 5: by Weni (new)

Weni lebih cocok queen latifah kayaknya hehe


Andri Wah, bintang 4 nDah ? ... tapi gw baca di review loe gak disebutin apa "bagus"nya buku ini sehingga layak dikasih 4 bintang. Ok ada penjelasan "Kecantikan alam berikut budaya Afrika ini dipaparkan amat memesona oleh McCall Smith", gw gak menuin memesonanya di mana. Gw belum menemukan kekuatan buku ini, makanya cukup 2 sajah. Karena gw heran ada temen yg kecanduan sama serial ini. Elaborate pls...

-andri-


back to top