miaaa's Reviews > Shop Talk : A Writer and His Colleagues and Their Work
Shop Talk : A Writer and His Colleagues and Their Work
by Philip Roth
by Philip Roth
miaaa's review
bookshelves: ophelia-s-library, non-fictions-others
Aug 08, 09
bookshelves: ophelia-s-library, non-fictions-others
Recommended for:
lamski kikita, lita
Read in August, 2009
I'll be honest. I haven't read any of the works being discussed here, not even Roth's! Then if you asked why the heck I read this book? Here what I can tell you:
First of all, when you eager to know about how a toaster works you have two options of: go straight plug in the power socket and make a toast which at most will be overheated or you can check the manual and learn how to make a medium toast. So personally, this book provides a guidance before I read their works. Yes not enough, but at least I'm getting there.
Secondly, you'll get more insights that might help you to acknowledge the works they published under certain or should I say restricted circumstances, in this case some Jewish authors lived in various countries around the world.
Thirdly, you're allowed to fall in love with the authors beyond their works. Before this book, I only aware of Milan Kundera and his works but now -thanks to interesting conversation with Ivan Klíma- I have new works to be added onto the wishlist.
However, again being such an honest reader hehe, the interesting part of this book for me stopped once Roth had a conversation or exchanging letters with his colleagues. His engagement with Malamud dan Gaston simply confused me, and I guess rereading Saul Bellow's is beyond me.
***
Tidak ada cara lain, aku harus jujur dan mengaku. Dari semua karya sastra yang disebutkan di dalam buku ini, hingga detik ini, belum satupun aku baca. Tidak juga karya Philip Roth sendiri. Lantas jika kau bertanya untuk apa aku membacanya? Ini yang bisa aku katakan:
Pertama, katakanlah kamu memenangkan atau membeli sebuah pemanggang roti maka akan ada dua cara yang awamnya dilakukan oleh seseorang yakni langsung menyalakannya dan memanggang roti yang biasanya berakhir gosong atau kamu bisa membaca manual sambil memanggang roti untuk mendapatkan kematangan yang sempurna. Jadi secara pribadi, buku ini menjadi semacam manual bagiku sebelum membaca karya-karya mereka. Memang sih ini saja tidak cukup tapi paling tidak ini adalah awal.
Kedua, ada begitu banyak informasi lain yang bisa membantumu memahami karya-karya mereka mengingat keadaan dan situasi yang mereka alami sebagai penulis berdarah Yahudi dan hidup di berbagai negara.
Ketiga, buku ini memungkinkanmu untuk mulai menyukai sang penulis walau belum membaca karya-karyanya. Jelas sebelum aku membaca buku ini, nama Ivan Klíma belum pernah aku dengar terutama jika dibandingkan dengan Milan Kundera, tapi berkat percakapan yang luas biasa menarik antara Roth dan Klíma aku bisa menambahkan karya-karyanya ke daftar panjang literature yang ingin kubaca.
Sayangnya, bagiku daya tarik buku ini hanya sejauh percakapan atau korespondensi Roth dengan sejumlah koleganya. Entah apa pun yang dia maksudkan ketika berbicara mengenai Malamud dan Gaston, aku tidak bisa memahaminya. Dan di bab terakhir ketika Roth menawarkan kesempatan membaca ulang karya Saul Bellow, rasanya seperti masuk ke ranah asing yang begitu tidak ramah. Jadi tidak salah kan jika aku meninggalkannya begitu saja?!
First of all, when you eager to know about how a toaster works you have two options of: go straight plug in the power socket and make a toast which at most will be overheated or you can check the manual and learn how to make a medium toast. So personally, this book provides a guidance before I read their works. Yes not enough, but at least I'm getting there.
Secondly, you'll get more insights that might help you to acknowledge the works they published under certain or should I say restricted circumstances, in this case some Jewish authors lived in various countries around the world.
Thirdly, you're allowed to fall in love with the authors beyond their works. Before this book, I only aware of Milan Kundera and his works but now -thanks to interesting conversation with Ivan Klíma- I have new works to be added onto the wishlist.
However, again being such an honest reader hehe, the interesting part of this book for me stopped once Roth had a conversation or exchanging letters with his colleagues. His engagement with Malamud dan Gaston simply confused me, and I guess rereading Saul Bellow's is beyond me.
***
Tidak ada cara lain, aku harus jujur dan mengaku. Dari semua karya sastra yang disebutkan di dalam buku ini, hingga detik ini, belum satupun aku baca. Tidak juga karya Philip Roth sendiri. Lantas jika kau bertanya untuk apa aku membacanya? Ini yang bisa aku katakan:
Pertama, katakanlah kamu memenangkan atau membeli sebuah pemanggang roti maka akan ada dua cara yang awamnya dilakukan oleh seseorang yakni langsung menyalakannya dan memanggang roti yang biasanya berakhir gosong atau kamu bisa membaca manual sambil memanggang roti untuk mendapatkan kematangan yang sempurna. Jadi secara pribadi, buku ini menjadi semacam manual bagiku sebelum membaca karya-karya mereka. Memang sih ini saja tidak cukup tapi paling tidak ini adalah awal.
Kedua, ada begitu banyak informasi lain yang bisa membantumu memahami karya-karya mereka mengingat keadaan dan situasi yang mereka alami sebagai penulis berdarah Yahudi dan hidup di berbagai negara.
Ketiga, buku ini memungkinkanmu untuk mulai menyukai sang penulis walau belum membaca karya-karyanya. Jelas sebelum aku membaca buku ini, nama Ivan Klíma belum pernah aku dengar terutama jika dibandingkan dengan Milan Kundera, tapi berkat percakapan yang luas biasa menarik antara Roth dan Klíma aku bisa menambahkan karya-karyanya ke daftar panjang literature yang ingin kubaca.
Sayangnya, bagiku daya tarik buku ini hanya sejauh percakapan atau korespondensi Roth dengan sejumlah koleganya. Entah apa pun yang dia maksudkan ketika berbicara mengenai Malamud dan Gaston, aku tidak bisa memahaminya. Dan di bab terakhir ketika Roth menawarkan kesempatan membaca ulang karya Saul Bellow, rasanya seperti masuk ke ranah asing yang begitu tidak ramah. Jadi tidak salah kan jika aku meninggalkannya begitu saja?!
Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Shop Talk .
sign in »
Reading Progress
| 07/22/2009 | page 17 |
|
9.66% | "Conversation with Primo Levi; ada yg mo minjemin the Monkey's Wrench atau karyanya yg lain? :D" 1 comment |
| 07/27/2009 | page 39 |
|
22.16% | "Conversation with Aharon Appelfeld" |
| 07/30/2009 | page 77 |
|
43.75% | "interesting conversation with Ivan Klíma, from Kafta to Kundera to Havel and to Czech authors live post the Communist totalitarian system ." |
| 07/31/2009 | page 89 |
|
50.57% | "a confusing conversation with Isaac Bashevis Singer about Bruno Schulz and Yiddish - occurred in 1976 geez I haven't even born that year!" |
| 08/03/2009 | page 100 |
|
56.82% | "a brief yet memorable conversation with Milan Kundera" |
| 08/04/2009 | page 112 |
|
63.64% | "interesting conversation with Edna O'Brien, a feminist in a way or other" |
| 08/05/2009 | page 119 |
|
67.61% | "an exchange with Mary McCarthy; anti-Semitism, Wailing Wall to Christianity hmmm authors have a different way writing letters." |
| 08/07/2009 | page 160 |
|
90.91% | "- Pictures of Malamud: confusingly interesting; - Pictures by Guston: confusingly weird; - Rereading Saul Bellow: got lost so I skipped it" |
Comments (showing 1-2 of 2) (2 new)
date
newest »
newest »
waaaaaaaaaaah mas ronny pernah ada yg bilang dirimu itu ganteng, baik hati, rajin menabung de el el? :D *jelas niat minjem karya2 klima* hahahahahapaling enak itu makan roti yang dipanggangin ama orang emang, gak usah repot mikirin di panas berapa derajat hasil panggangannya sempurna wah toaster kantor dibawa pulang aja ah hohoho

btw, how about enjoying the toast and doesn't give a damn about how toaster works? :D