Pandasurya's Reviews > Catatan Seorang Demonstran

Catatan Seorang Demonstran by Soe Hok Gie
Rate this book
Clear rating

by
411374
Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan terlempar keluar dari system kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”
(h. xxii)

Tapi Gie, kamu tidak sendirian..

***
dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi (h. 93)

happy is the people without history, kata Dawson (h. 91)

seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua (h. 96)

apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran? (h. 111)

apakah yang lebih tidak adil selain daripada mendidik sebagian kecil anak-anak orang kaya dan membiarkan sebagian besar rakyat miskin tetap bodoh? (h. 118)

di Indonesia hanya ada 2 pilihan: menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas-batas sejauh-jauhnya (h. 171)

menghadapi kekejaman-kekejaman ini orang hanya punya 2 pilihan. Menjadi apatis atau ikut arus. Tapi syukurlah ada pilihan ketiga: menjadi manusia bebas (h. 168)

seorang yang berani melihat fakta-fakta realis mau tidak mau akan mempunyai nada yang pesimis. Freud begitu kecewa karena orang2 selalu berusaha hidup dari ilusi-ilusinya dan berusaha sekuat tenaga untuk menolak realitas kehidupan (h. 94)

dalam politik tak ada moral. Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lumpur2 yang kotor. Tetapi suatu saat di mana kita tak dapat menghindar diri lagi maka terjunlah. Kadang-kadang saat ini tiba, seperti revolusi dahulu. (h. 121)

seorang intelegensia baru bisa merasa makna hidupnya dalam situasi yang pedih. Dari sana ia akan berpikir dan bersikap heroik terhadap sejarah (h. 106)

tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa2. seseorang mau berkorban buat seseuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa? (h. 101)

***

Selasa, 1 April 1969

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidu yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau
Dekaplah mesra, lebih dekat

(lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu)

Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenangan=kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru

(h. 214-215)
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Catatan Seorang Demonstran.
sign in »

Quotes Pandasurya Liked

Soe Hok Gie
“Nobody can see the trouble I see, nobody knows my sorrow.”
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Soe Hok Gie
“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita.”
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Soe Hok Gie
“Aku kira dan bagiku itulah kesadaran sejarah. Sadar akan hidup dan kesia-siaan nilai.”
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Soe Hok Gie
“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita”
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran


No comments have been added yet.